Kesadaran Diri Sebagai Jiwa: Menciptakan Kebahagiaan

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yatroparamate cittam niruddham yoga-sevayā

yatra caivātmanātmānam paśyann ātmani tusyati

Bhagavad Gītā, 6.20

“Dalam keadaaan “diri” atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya Sebagai Jiwa; Demikian, Ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga”

Dalam keadaan citta atau batin Tenang – Jiwa menyadari dirinya Sebagai Jiwa. Ia Bukan badan; Ia Bukan energi; Ia Bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia Bukan inteligensia; ia Bukan ini, dan Bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu Ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai……..

Kesadaran Jiwa, keadaannya persis seperti seorang putra raja yang di culik oleh gerombolan perampok. Ia dibesarkan oleh mereka. Maka, Ia memiliki identitas Palsu. Identitas Palsu Sebagai putra perampok, Sebagai perampok. Identitas palsu ini Karena “pergaulannya” dengan gerombolan perampok. Karena keberadaannya di tengah mereka. Karena terlupakannya identitas asli yang sebenarnya.

Menjalani peran palsu itu – peran yang sesungguhnya bukanlah peran dia – terjadi konflik batin dalam diri sang pangeran. Dia tidak puas dengan perannya sebagai perampok.

Ketika Ia di culik, usianya baru 3-4 Tahun. Ia masih balita. Sebab itu, Ia pun tidak mengingat persis “masa lalunya” – identitas aslinya. Tapi, bagaimana pun juga – rekaman tentang kehidupan di Istana sebagai pangeran, tidak pernah hilang juga. Rekaman itu masih Ada. Walau buyar dan tidak jelas, Ia masih melihat gambar-gambar, bayang-bayang dari masa malunya- Baik dalam keadaan jaga, maupun tidur – dalam mimpi.

IA TIDAK MENYADARI SEBAB KEGELISAHANNYA – tapi Ia tetap gelisah. Kehidupan perampok bukanlah kehidupannya. Ia tidak puas dengan pola-hidup yang sedang dijalaninya

Kemudian, suatu ketika seorang mentri yang bijak, menemukan si pangeran yang hilang itu. Ia mengenal tanda-tanda yang Ada di badannya. Sekarang, anda boleh menambahkan factor DNA Test. Jelas dia Bukan putra perampok. Dia seorang pangeran.

Maka, Kesadaran Baru yang sesungguhnya adalah kesadaran awalnya, kesejatian dirinya, seketika membahagiakan sang pangeran. Ia tidak perlu merampok lagi. Ia seorang pangeran. Mereka, yang selama ini dirampoknya, adalah warganya, rakyatnya.

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa yang dialami oleh pangeran dalam kisah ini – seperti itulah pengalaman kita ketika Sadar akan diri kita Sebagai Jiwa. Jiwa adalah penonton – mereka yang sedang beraksi diatas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan Apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan – tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya Sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu – Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya Sebagai Jiwa – terbebaskan dari segala dukha. Bahkan dari Segala dualitas suka dan duka. Ia meraih Kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar Teve adalah proyeksi dari console yang pengendaliannya Ada di tangan dia sendiri.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 18/01/2018 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 262-263

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s