PM: Menanam Padi Organik, Proses Bertumbuh Alami dan Penuh Makna

NM. Adnyani

Pembelajaran mendalam ibarat menanam padi secara organik. Tidak tergesa, tidak sekadar mengejar hasil, tetapi menghargai setiap tahap pertumbuhan sebagai bagian dari proses yang utuh dan penuh makna. Dalam dunia pertanian organik, petani tidak hanya menabur benih dan menunggu hasil. Ia hadir sepenuhnya — membaca tanah, memahami musim, merawat dengan cinta, dan bersabar hingga panen tiba. Demikian pula guru dan peserta didik dalam pembelajaran mendalam: tumbuh bersama dalam kesadaran, keterlibatan, dan rasa syukur akan proses.

1. Berkesadaran: Mengenali Tanah, Musim, dan Benih

Petani organik tahu bahwa keberhasilan panen dimulai dari pemahaman. Ia tidak sembarang menanam. Ia menyatu dengan alam — mengenali tekstur tanah, mencermati cuaca, dan memilih benih terbaik untuk ditanam.

Dalam pembelajaran, guru yang sadar akan potensi dan latar belakang peserta didik akan mampu merancang pengalaman belajar yang tepat. Ia tidak menganggap semua anak sama, melainkan memahami bahwa setiap peserta didik adalah ladang unik yang memerlukan pendekatan berbeda.

2. Bermakna: Setiap Tahap Ada Tujuan

Menyemai benih, memindahkan bibit, membersihkan gulma, hingga menunggu masa panen — semuanya dilakukan dengan tujuan jelas. Tidak ada proses yang dilompati.

Demikian juga dalam PM, setiap langkah pembelajaran dirancang agar peserta didik mengerti mengapa mereka belajar, untuk apa, dan apa hubungannya dengan kehidupan nyata. Pembelajaran menjadi pengalaman bermakna, bukan sekadar rutinitas.

3. Menggembirakan: Sukacita dari Proses dan Hasil

Menanam padi memang melelahkan, tapi ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat tanaman mulai tumbuh. Saat panen tiba, sukacita pun mekar bersama bulir-bulir padi yang menguning.

Dalam PM, kebahagiaan tumbuh dari dalam — bukan karena nilai, tetapi karena peserta didik merasa dilibatkan, didengar, dan diberi ruang untuk mencoba. Kegembiraan itu muncul saat mereka berhasil menyelesaikan proyek, mengatasi tantangan, dan menyadari bahwa mereka telah bertumbuh.

4. Olah Pikir, Olah Raga, Olah Rasa

Olah pikir: Seperti petani merancang pola tanam dan irigasi, peserta didik diajak berpikir kritis, menyusun strategi, dan mengevaluasi hasil.

Olah raga: Proses menanam itu fisik — mencangkul, menanam, menyiram. Dalam PM, peserta didik juga aktif secara fisik melalui kegiatan proyek, praktik lapangan, atau kolaborasi nyata.

Olah rasa: Tanaman tumbuh subur karena dirawat dengan cinta dan perhatian. Begitu pula peserta didik: hati mereka perlu disentuh agar belajar menjadi pengalaman yang menyentuh batin, menumbuhkan empati, dan nilai-nilai kehidupan.

5. Panen: Bukan Sekadar Hasil, tapi Kehidupan

Panen padi organik tidak instan. Tapi hasilnya sehat, alami, dan memberi kehidupan lebih luas. Begitu pula hasil PM tidak langsung terlihat dari angka semata, tapi dari cara peserta didik berpikir, bersikap, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Seperti padi yang tumbuh tunduk karena berat isi, peserta didik yang ditempa dalam proses pembelajaran mendalam akan tumbuh rendah hati, bijak, dan siap menjadi insan yang utuh.

“Belajar bukan sekadar menabur ilmu, tetapi menanam kehidupan — perlahan, penuh perhatian, dan bermakna.”

SIMULASI INKUIRI KOLABORATIF

Studi Kasus berikutnya Ini disusun bersama pada saat BIMTEK FASILITAOR PM Jenjang SMA oleh kelompok Kreatif yang terdiri dari Ibu Hamsinah, Ibu NM. Adnyani, Ibu Hidayah, Ibu Neneng Qomariana, Bapak Supriyanto, Bapak Rozalli dan Bapak Suharyono

Ibu Neneng Qomariana (FISIKA), Ibu Hamsinah (Kimia), Ibu NM. Adnyani (Pend. Agama), Ibu Hidayah (Matematika), Bapak Rozalli (Bahasa), Bapak Supriyanto (Pend. Agama) dan Bapak Suharyono (pengawas sekolah)

Studi Kasus Naratif: “Merangkai Atom, Menyulam Makna”

Di suatu pagi yang tenang di ruang guru, Bu Hamsi—guru Kimia yang dikenal penuh semangat—merenung dalam diam. Ia merasa pembelajaran di kelasnya belum menyentuh inti yang ia harapkan. Peserta didiknya tampak pasif, kurang terlibat dalam kerja kelompok, dan sering kali mengandalkan instruksi tanpa inisiatif. Padahal, ilmu Kimia adalah ilmu yang begitu hidup, menyatu dalam keseharian. Tapi mengapa anak-anak justru tidak merasakan getarannya?

Permasalahan yang ia temukan bukan hanya soal rendahnya kemampuan berpikir kritis, tetapi juga lemahnya kolaborasi antarpeserta didik, refleksi diri yang minim, serta karakter yang belum terbentuk kuat. Bahkan dalam praktik pengukuran yang menjadi bagian penting dalam eksperimen, para siswa terlihat kurang teliti dan tidak percaya diri.

Bu Hamsi pun memutuskan untuk tidak menyerah. Ia mulai menyusun strategi pembelajaran yang tak lagi berjalan sendiri. Ia ingin membangun jembatan dengan rekan sejawat, membuka ruang untuk kolaborasi lintas mata pelajaran. Ia mengundang guru Fisika, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Agama untuk bersama-sama menyusun sebuah proyek pembelajaran yang utuh dan mendalam.

“Bagaimana kalau kita membuat proyek membangun model atom?” usul Bu Hamsi dalam rapat kecil mereka. “Tapi bukan sekadar membuat, melainkan meneliti, mengukur, menjelaskan, menyampaikan, dan merenungkan.”

Guru Fisika pun antusias. Ia melihat peluang untuk menguatkan pemahaman siswa tentang radioaktivitas. Guru Matematika tertarik untuk menekankan aspek pengukuran, proporsi, dan presisi. Guru Bahasa Indonesia melihat potensi dalam membangun kemampuan komunikasi ilmiah melalui penulisan laporan dan presentasi. Sementara itu, guru Pendidikan Agama menyambut baik rencana ini untuk menumbuhkan nilai spiritualitas dan kesadaran akan keterhubungan antarmanusia, alam, dan semesta.

Bersama-sama, mereka merancang rencana proyek kolaboratif: mulai dari jadwal, alur kegiatan, rubrik penilaian, hingga pembagian peran antar siswa. Pembelajaran ini akan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dengan penggalian masalah, eksplorasi konsep lintas disiplin, hingga pembuatan model atom dan presentasi ilmiah.

Setiap kelompok siswa diberi ruang untuk merancang model atom sesuai hasil diskusi dan kajian. Mereka harus menjelaskan pilihan desainnya secara ilmiah, melakukan pengukuran massa relatif partikel penyusunnya, dan mempresentasikan hasil temuannya dalam forum terbuka. Tak hanya itu, mereka juga diminta untuk menulis refleksi pribadi: tentang proses belajar, tantangan yang dihadapi, dan perubahan cara pandang yang mereka alami.

Refleksi ini menjadi momen penting. Beberapa siswa mengaku awalnya merasa tak yakin bisa berkontribusi dalam tim. Namun, seiring waktu, mereka belajar untuk percaya, mendengarkan, dan berani bertanya. Ada yang menyadari bahwa belajar tak hanya soal hasil akhir, tapi juga proses dan kebersamaan. Bahkan, beberapa siswa mulai melihat sains bukan sebagai kumpulan rumus yang kaku, melainkan sebagai jendela untuk memahami kehidupan.

Di akhir proyek, Bu Hamsi tersenyum bangga. Ia melihat kelasnya berubah. Siswa tak hanya berhasil membuat model atom yang indah dan akurat, tetapi juga menampilkan kekuatan lain: keberanian untuk berpikir, kemampuan untuk bekerja sama, dan kesadaran akan nilai-nilai hidup.

Dari satu proyek sederhana, tumbuhlah pembelajaran yang bermakna. Dan dari sinilah, pembelajaran mendalam dan kolaboratif itu menemukan rumahnya—di hati para guru yang mau berkolaborasi, dan di jiwa anak-anak yang sedang bertumbuh.

Hotel Mega Lestari Balikpapan, 6 Juli 2025

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai