Keberuntungan: Mitos atau Kenyataan?

Keberuntungan adalah konsep yang telah menginspirasi, dan bahkan membagi pendapat manusia sepanjang sejarah. Bagi sebagian orang, keberuntungan adalah kekuatan gaib yang tidak dapat dijelaskan, sementara bagi yang lain, keberuntungan hanyalah hasil dari persiapan, kesempatan, dan kerja keras. Artikel ini akan menjelajahi pandangan-pandangan berbeda tentang keberuntungan serta mencoba memecahkan misteri di balik fenomena ini.

Sebagian orang meyakini bahwa keberuntungan adalah hasil dari takdir atau nasib yang sudah ditetapkan sejak lahir. Mereka percaya bahwa ada orang yang lahir dengan “bintang baik” atau “tangan keberuntungan” yang membuat mereka selalu sukses dalam segala hal yang mereka lakukan. Namun, pandangan ini sering kali bertentangan dengan pemikiran ilmiah dan rasional yang cenderung mengaitkan keberhasilan dengan persiapan yang matang, kesempatan yang tepat, dan kemampuan untuk memanfaatkan situasi yang ada.

Di sisi lain, psikolog dan peneliti telah melakukan studi yang menunjukkan bahwa persepsi terhadap keberuntungan bisa mempengaruhi kinerja seseorang. Orang yang percaya mereka berada dalam keberuntungan cenderung lebih percaya diri dan berani mengambil risiko, yang pada gilirannya dapat meningkatkan peluang mereka untuk berhasil. Ini menunjukkan bahwa keberuntungan mungkin memiliki dimensi psikologis yang lebih dalam daripada sekadar faktor kebetulan semata.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menemui kisah-kisah di mana seseorang tampaknya mendapatkan keuntungan besar secara tiba-tiba, tanpa persiapan yang khusus atau usaha yang ekstra. Fenomena ini sering kali menggugah rasa ingin tahu kita akan peran kebetulan dalam kehidupan manusia.

Jadi, apakah keberuntungan hanyalah mitos? Ataukah ada elemen dari kebetulan yang tidak dapat kita jelaskan sepenuhnya dengan akal sehat? Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban yang pasti. Yang pasti, sikap terbuka dan sikap percaya diri dalam menghadapi peluang hidup bisa membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih positif dan optimis.

Dalam akhirnya, mungkin cara terbaik untuk mendekati keberuntungan adalah dengan sikap yang seimbang: bersiaplah sebaik mungkin, manfaatkan peluang yang ada, dan percayalah bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menciptakan keberuntungan mereka sendiri dalam hidup mereka.

Belajar dari Aliran Sungai

Sahabat, Sang Buddha Gautama (563-483 SM) mengatakan: “Belajarlah dari (aliran) sungai-2 pada celah-2 dangkal dan alur sempit: arus di kanal kecil dan dangkal suaranya bising, arus yg besar lebih tenang. Apapun yg tidak penuh akan bising. Apapun yang penuh akan tenang.” Pengetahuan dan kebijaksanaan yg dimiliki seseorang ikut memengaruhi karakter dan perilakunya. Semakin luas dan mendalam pengetahuan dan kebijaksanaan seseorang, maka ia akan semakin berhati-hati, bersikap tenang, dan tampil tanpa dibuat-buat. Orang-2 besar spt Mahatma Gandhi, misalnya, begitu sederhana dan ‘biasa’; demikian juga Nelson Mandela, Mohamad Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan Gus Dur. mereka semua adalah tipe ‘air tenang menghanyutkan’. Bukan tipe ‘air beriak tanda tak dalam’.

Kutipan dari Sang Buddha Gautama mengenai aliran sungai memberikan perumpamaan tentang bagaimana kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan dapat memengaruhi karakter seseorang. Beliau mengajarkan bahwa dalam aliran sungai yang dangkal dan alur sempit, airnya bersuara bising karena terhambur di berbagai arah. Namun, dalam aliran yang lebih besar dan lebih dalam, airnya mengalir tenang dan stabil.

Hal ini dapat diterapkan dalam konteks kehidupan manusia. Orang yang memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam cenderung memiliki sikap yang lebih tenang dan bijaksana. Mereka tidak tergesa-gesa atau bergejolak dalam tindakan atau perkataan mereka karena mereka memiliki pemahaman yang dalam tentang banyak hal. Mereka mampu menanggapi situasi dengan penuh pertimbangan, tanpa terbawa arus emosi atau situasi yang tidak penting.

Contoh dari tokoh-tokoh seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Mohamad Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan Gus Dur menunjukkan karakter “air tenang yang menghanyutkan”. Mereka adalah pemimpin yang sederhana, tampil tanpa pretensi, dan lebih condong kepada kebijaksanaan daripada penonjolan diri. Mereka menggambarkan bahwa kebesaran seseorang tidak terletak pada kehebohan atau tindakan dramatis, tetapi pada kedalaman nilai-nilai yang mereka anut dan kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat.

Dengan demikian, pelajaran dari kutipan ini adalah bahwa ketenangan, kesederhanaan, dan kedalaman pengetahuan serta kebijaksanaan adalah ciri-ciri yang mendefinisikan kebesaran sejati dalam kepemimpinan dan kehidupan.

Reminder untuk Diri Sendiri

Bukan hanya di kolom komentar, Ketika saya berbagi di seminar ada orang yg suka dengan apa yg saya katakan bahkan memuji setinggi langit tapi pada saat yg sama ada yg tidak suka dan mengkritik keras walau di dalam hati.

Jadi, apa yg saya sampaikan baik atau buruk?

Jawabanya saya bukan baik juga bukan buruk, saya adalah saya , saya jadi baik atau buruk sangat terggantung program yg tertanam di kepala orang yg melihat saya.

kalau apa yang saya sampaikan cocok dengan apa yang sudah tertanam di dalam dirinya maka saya baik, dan sebaliknya juga berlaku.

jadi sadari, ini bukan masalah baik atau buruk tapi cocok atau tidak

Kalau anda menggunakan lensa kacamata kuning pasti melihat saya berwana kuning , kalau teman anda menggunakan hijau maka saya hijau.

Apakah saya kuning atau hijau? 

tentu bukan keduanya 

dan yang menarik adalah bagaimana kita menanggapi kritik, 
kalau di kolom komentar ada puluhan pujian dan satu kritikan, kita cenderung melekat dan tergganggu oleh kritikan tersebut.

dulu kritikan selalu menganggu sekali sekarang sekali sekali saja, namun banyaknya malah membuat saya lebih berpikir lebih dalam, makanya saya selalu menambahkan “like” atau “love” pada kritikan tersebut.

karena bagaimanapun bagi sudut pandang pengkritik , apa yang di lontarkan adalah benar baginya.

dan satu hal lagi, sudah lama saya melepaskan pengertian “lawan” , yang selama ini dipercaya banyak orang, seperti lawan benar adalah salah, bagi saya lawan benar itu adalah benar yang lain.

kalau saya lahir dan besar di Irak saya akan memandang amerika musuh tapi kalau saya lahir di prancis maka amerika adalah teman.

lagi-lagi, benar salah yang kita pahami sangat terggantung program yang tertanam.

Dan untuk kehidupan yang lebih baik, sadari bahwa kebencian dan kemarahan kita pada sebuah kaum atau seseorang seringkali bukan karena realitas tapi karena program-program yang tertanam yang tak kita sadari

Tulisan Ini di susun setelah membaca sebuah buku

PELEPASAN KONTINGEN PROVINSI KALTIM DALAM AGENDA UTSAWA DHARMA GITA TINGKAT NASIONAL KE XV

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur melepas Kontingen Provinsi Kaltim menuju perhelatanan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional ke XV tahun 2024 di solo, Jawa Tengah, 8-12 Juli 2024

Kontingen Bontang
Peserta UDG ke XV Tahun 2024
WHDI

Dalam Diam, Rinduku Bergema

Pemandangan dari Perbatasan Kota Bontang

Di setiap malam yang sunyi
Rinduku terbang mencari
Bayangmu hadir dalam mimpi
Mendekap hati yang sepi

Langit malam bertabur bintang
Setiap sinarnya mengingatkan
Akan senyummu yang menawan
Menghapus segala kegundahan

Angin malam berbisik pelan
Menyampaikan salam kerinduan
Dari hati yang tak tertahan
Hanya untukmu, kekasih idaman

Waktu berlalu tanpa suara
Detik demi detik terasa lama
Tanpamu di sisiku, cinta
Segalanya hampa, tak bermakna

Namun dalam sabar kutunggu
Saat kita bertemu, menyatu
Dalam pelukan hangat dan syahdu
Menghapus rindu yang membiru

Kekasih, dengarlah doaku
Setiap hari dan malam, kuucap namamu
Semoga segera tiba waktu itu
Kita bersama, selamanya satu

Puisi Ini lahir saat senja

Modul Ajar Kelas X

Modul Ajar Dharmasastra

Modul Ajar Punarbhawa

Modul Ajar Catur Varna

Modul Ajar Yajña dalam Ramayana

Modul Ajar Sejarah

Narasumber Workshop

Mengawali juni, aku bertugas lagi.

Tujuan dari Workshop Ini adalah

1. Meningkatkan Kompetensi Guru
2. Pengembangan Materi yang Relevan dan Kontekstual
3. Inovasi dan Kreativitas dalam Pengajaran
4. Peningkatan Kualitas Pembelajaran
5. Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan
6. Kolaborasi dan Berbagi Pengetahuan

Tidak ada cara lain untuk bermartabat kecuali dengan berbagi (yajna)

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis