Tiga Yuktā (Perbuatan Utama) seorang Yogī

Kutipan Sloka berikut ini adalah Jawaban Krsna terhadap pertanyaan cerdas Arjuna pada ulasan sebelumnya

Baca ulang: https://adnyaninatha.com/2017/12/06/pertanyaan-arjuna-tentang-hyang-berwujud-dan-hyang-tak-berwujud/

Srī-bhagavān uvāca

Mayy āveśya mano ye mām nitya-yuktā upāsate

Śraddhayā parayopetāh te me yuktatamā matāh

Bhagavad Gita, 12.2

Śrī Bhagavān (Krsna Hyang Maha Berkah) menjawab:

“Mereka yang berkeyakinan penuh dan senantiasa menyadari kemanunggalannya dengan-Ku, memuja-Ku dengan pikirannya terpusatkan pada-Ku, adalah para Yogī utama, Demikian Anggapan-Ku.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

“Demikian anggapan-Ku”. Disini, dalam kalimat pendek ini, lewat pertanyaan yang jujur ini, Krsna menempatkan diri-Nya sebagai mitra Arjuna. Ia bukanlah seorang penyelamat atau pembawa pesan dari langit. Ia adalah kesadaran Arjuna sendiri.

Tidak Ada paksaan bagi Arjuna untuk mengikuti pendapat-Nya. Arjuna tetap bebas untuk memilih. Krsna hanyalah memberi pendapat-Nya. Itu saja.

Namun, dalam Penggalan awal ayat ini, Krsna juga menempatkan diri-Nya sebagai Kesadaran yang tertinggi. “Aku” Krsna dalam penggalan awal adalah Aku-Universal yang Meliputi langit, bumi, semesta. Aku-Universal yang tidak terbagi antara langit dan bumi. Aku-Universal yang utuh, tidak separuh-paruh.

Seorang Yogī utama: istilah yang digunakan dalam ayat ini adalah “Yukta” – Perbuatan Utama. Jadi, Yoga dalam Hal ini adalah esensi dari segala perbuatan-sejak bangun tidur setiap pagi hingga tidur lagi setiap malam. Bahkan, segala “kegiatan pikiran” dalam bentuk “mimpi” yang “terjadi” saat tidur.

Tidak berarti segala perbuatan adalah Yoga. Hanyalah “Perbuatan-perbuatan utama” yang bisa disebut Yoga

Pertama: berkeyakinan penuh. Tanpa keyakinan, seorang Anak manusia menjadi layangan yang Putus-terlihat dinamis di langit sana, tapi tanpa arah. Keyakinan, dalam Hal ini bukanlah keyakinan pada sesuatu di luar diri. Bukan pada Arus dan kekuatan angin. Tetapi, pada diri yang dapat melawan Arus angin. Disinilah letak perbedaan antara manusia dan layangan. Kemudian, perlawanan yang dimaksud dalam Hal ini, dijelaskan lewat sifat utama kedua Seorang Yogī Utama;

Kedua: senantiasa menyadari kemanunggalannya. Berarti Ia tidak menempatkan diri sebagai kacung dunia. Dunia bukanlah majikannya. Ia berada di dunia ini, namun hanyalah sebagai pengunjung. Sebagai penonton untuk menonton pagelaran kebendaan. Ia menyadari asal-usulnya. Ia adalah percikan Sang Jiwa Agung. Percikan yang tak terpisahkan dari-Nya.

Sebab itu Ia tidak bergantung pada dunia. Ia menyayangi dunia tanpa keterikatan. Ia pun menyadari sifat kebendaan Alam-Benda. Maka, tidak Ada alasan baginya untuk bergantung pada Dunia Benda. Ketergantungan seperti ini, justru dapat menciptakan ilusi perpisahan Hyang Tunggal. Dengan menyadari kemanunggalannya, kemudian:

Ketiga: Memuja denga segenap pikiran terpusatkan pada-Nya. Manunggal namun tetap memuja, inilah kemanunggalan sejati. Kemanunggalan intelektual yang dirasakan oleh Mereka yang tak pernah berhenti pamer, “Aku adalah Kebenaran Sejati”- adalah kemanunggalan khayalan yang tidak berarti apa-apa. Kemanunggalan seperti itu, justru menjadi beban bagi Jiwa. Kemudian, mau-tak-mau mesti dimuntahkan lewat pernyataan, walau Hal itu tidak membantu juga.

Kemanunggalan sejati ialah ketika jiwa yang sudah mengalaminya, melayani jiwa-jiwa lain. Melayani sesama mahkluk Karena Ia Sadar bila dirinya tidak terpisah dari butir-butir pasir di bawah telapak kakinya dan bintang terjauh di galaksi terjauh. Itulah pemujaan yang dimaksud oleh Krsna.

Pelayanan aktif dan dinamis. Bukan membunyikan lonceng di tempat ibadah- tetapi mendengarkan rintihan dan ratapan setiap mahkluk yang sedang menderita Karena ketidaksadarannya. Kemudian, membantu mereka supaya mereka pun menyadari jati diri mereka. Itulah pemujaan yang dimaksud.

“Dengan segenap pikirannya terpusatkan pada-Ku” berarti tidak sekedar melayani dan membantu tetapi memuja, memuja Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi setiap mahkluk, bahkan semesta. Melayani dengan kesadaran Jiwa seperti itulah pemujaan, yang dimaksud Krsna.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 07122017 – MA

Ditulis ulang dari Bhagavad Gita hal 574-576 Oleh AK

Pertanyaan Arjuna tentang Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud

Arjuna uvāca

Evam satata-yuktā ye bhaktās tvām paryupāsate

Ye cāpy aksaram avyaktam tesām ke yoga-vittamāh

Bhagavad Gita, 12.1

Arjuna bertanya

Siapakah di antara para panembah yang sungguh memahami Yoga? Mereka yang senantiasa menyembah-Mu sebagai Hyang berwujud, ataukah Mereka yang menyembah-Mu sebagai Hyang Tak Berwujud dan Tak Pernah Punah

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pertanyaan Arjuna adalah mewakili persoalan yang dihadapi sejak dahulu kala. Diantara mereka yang menyembah Tuhan sebagai Hyang Tak Berwujud dan Hyang Berwujud – siapakah yang lebih utama? Siapa kah yang lebih tahu? Siapakah yang lebih memahami Yoga?

Pertanyaan Arjuna bukanlah pertanyaan bodoh – Ia tidak bertanya, “Siapakah yang benar? Siapa yang Salah?” Tidak, Arjuna tidak mempertanyakan soal benar atau salah. Ia bertanya “Siapakah yang lebih memahami-Mu, Wahai Krishna?” Siapakah yang lebih memahami, lebih dekat dengan Yoga? Dalam pengertian, siapa yang lebih sadar akan kemanunggalan dirinya dengan Hyang Maha Tunggal?

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, dulu ketika “lagu-lagu rohani” dalam bentuk Bhajan, yang bersifat bebas ritual belum populer di Indonesia – banyak Pemuka kepercayaan menerjemahkan Bhajan sebagai Bhakti Yoga dan Bhakti Yoga dianggap yang paling rendah. Cocok bagi Mereka yang belum bisa menempuh jalur pengetahuan Jñāna; atau analysis Diri, Sāmkhya.

Krsna tidak memahaminya Demikian- Bhakti adalah Warna Dasar setiap Yoga, Demikianlah pemahaman Krsna yang disampaikannya lewat Bhagavad Gītā.

Arjuna pun memahami maksud Krsna. Ia sudah tidak bicara tentang mana yang benar dan mana yang salah, tapi mana yang lebih tepat untuk meraih kemanunggalan? Itulah pertanyaan Arjuna. Mana yang lebih mudah untuk mencapai kemanunggalan tersebut?

Kembali pada Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud….

Kendati “mengaku” percaya pada Hyang Tak Berwujud, sesungguhnya banyak panembah masih saja mengaitkan wujud-wujud tertentu dengan-Nya.

Wujud tak Selalu terkait dengan patung, ada pula sujud dalam bentuk Tulisan, kaligrafi; juga dalam bentuk bangunan yang disucikan; atau dalam bentuk kitab suci. Kemudian kita juga mengaitkan sifat-sifat tertentu dengan-Nya. Misalnya Ia Maha Baik – bukan Maha Jahat. Ia Maha Esa – bukan Maha Lemah. Tetap ada dualitas – tetap Ada perbedaan antara yang kita Anggap Maha Tepat bagi sosok Tuhan dalam benak kita dan yang tidak tepat.

Kita menentukan sifat-sifat tertentu bagi Tuhan. Dan, menolak sifat-sifat lain yang ditentukan oleh kelompok lain. Perselisihan pendapat inilah yang menyebabkan pertikaian, permusuhan, dan pertengkaran bahkan perang. Masing-masing kelompok yang beda pendapat dan pemahaman, menganggap – walau mereka tidak Selalu mengakui Hal ini – seolah Tuhan “mereka” dan Tuhan “kelompok lain” adalah beda. Seolah ada banyak Versi Tuhan.

Tidak Demikian dengan Arjuna- Ia tetap percaya pada Kemahatunggalan Tuhan. Ia tidak mengatakan bahwa Hyang Berwujud adalah lain atau beda dari Hyang Tak Berwujud.

Arjuna memahami “Hyang Berwujud” dan “Hyang Tak Berwujud” sebagai dua cara untuk mendekati Tuhan yang Satu dan Sama.

Pertanyaan Arjuna sungguh sangat cerdas. “Di antara kedua kelompok yang memuja- Mu sebagai Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud – siapakah yang lebih mudah, lebih cepat mencapai-Mu dan manunggal dengan-Mu?”

Pertanyaan Arjuna tidaklah ber sifat filosofis. Pertanyaan Arjuna bersifat praktis dan teknis. Ia bukanlah seseorang yang sedang mencari kepuasan intelek. Ia ingin tahu jalan mana, jalur mana yang terbaik bagi dirinya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang,06122017-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gita oleh AK

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai