Krishna Masuk Ashram: Hubungan Darah, Air dan Jiwa #SrimadBhagavatam

Beruntung lah Ian yang selalu membaca kisah dan percakapan Krishna

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

Kecuali kita lahir kembali dalam kesadaran ruhani, kita tidak bisa memasuki kerajaan-Nya. Maksud Yesus apa? Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. “Bagaimana pun juga,” kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri.” Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air.”

Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air.” Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga-“ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa.

Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi “kesadaran murni yang luar biasa”.Catatan dari pesan-pesan Bapak Anand Krishna, 2012.

Hubungan darah adalah hubungan terkait fisik lewat genetika. Hewan pun demikian juga mempunyai ikatan erat antara induk dan anaknya. Hubungan erat dalam kelompok manusia pun juga dilakukan oleh hewan.

Lihat pos aslinya 722 kata lagi

“Nedunang” Sang Hyang Aji Saraswati: Piodalan Pura Buana Agung Bontang (1) 

Minggu ini terasa sangat istimewa bagi umat Hindu di Kota Bontang, dimana dalam suasana kemerdekaan, Masyarakat juga menyiapkan sarana-sarana untuk pemujaan dan pembersihan serta penguatan energi pada Piodalan Saraswati kali ini yang jatuh Pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, Sabtu, 19 Agustus 2017

Pada hari ini, Sukra kliwon wuku Watugunung Jumat, 18/08/2017 agenda piodalan dimulai dengan upacara ngelud dan mecaru (Upacara Butha Yajna) dimana dimaksudkan sebagai pembersihan atau menetralkan energi-energi negatif yang telah berkembang seiring dengan perubahan Waktu dan pengaruh planet serta dampak perilaku manusia. Hal ini semacam upaya recycle atau daur ulang “sesuatu” yang sudah usang, menjadi sesuatu yang Baru, energi Baru. Inilah keunikan dari pada sistem pemujaan dengan konsep Rwabhinneda. Bahwa setelah menyadari Ada energi negatif yang bekerja kemudian kita juga memiliki kemampuan untuk menetralisir energi itu, dengan  media banten yaitu upacara ngelud dan mecaru. 


Selanjutnya setelah media, dan mandala (area) menjadi “bersih” dan “baru” maka di turunkanlah “Murti” atau Pratima Saraswati yang berstana di Pura Buana Agung ini. 

Tuhan yang Maha Kuasa dengan kekuasaannya juga berada disegala bentuk, disegala media, meresapi segala tempat dan segala media.  dalam wujud Sang Mahadewi Cantik, Dewi Saraswati, Dewi Ilmu pengetahuan, kini “ditedunkan” atau “diturunkan” untuk dirawat, “Dimuliakan” diPuja, di Sanjung oleh Para Bhakta di wilayah Kota Bontang Ini. Sebagaimana layaknya Tuhan yang berwujud, dengan segala keterbatasan pikiran, manusia “memperlakukan” murti itu sebagaimana layaknya seorang Raja. Beliau akan “Dimandikan” disuguhi “makanan”, dan dipuja puji. Seluruh Bhakta meyakini dengan keyakinan yang utuh bahwa “Beliau” telah hadir dan bersama-Sama. Inilah keberkahan, anugrah yang melimpah… cinta yang mencerahkan. Kesadaran Baru bagi manusia baru. 

Jika setiap dari para Bhakta yang hadir, memahami proses “memanusiakan” Tuhan ini, maka tiada kalimat bahwa Tuhan sangat Jauh. 

Dengan menyadari proses ini secara utuh, kita akan merasakan bahwa Tuhan sangat Dekat, memberi berkahnya secara melimpah, penuh kasih sayang… 

Penumbuhan batin inilah proses pendidikan yang berkembang dalam tradisi dan upacara yang Luhur ini. Tanpa keterbukaan diri untuk menerima ajaran “memanusiakan” Tuhan ini, kita akan menjadi manusia yang “kering” dan arogan. 

Selamat melaksanakan Piodalan Saraswati 

Om Aim Saraswati ya namah svaha 🙏

Bersambung…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai