Neo-Cortex: Jembatan dari Insting Hewani menuju Kesadaran Ilahi

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

Limbic dan Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di-“manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka…

Lihat pos aslinya 713 kata lagi

Refleksi Bulan Maret 2017

Goodby March and welcome April. “Setiap kali “suka” berada di dalam Rumah, Maka “Duka”  juga sedang menunggu di depan pintu Rumah untuk masuk kedalam rumah”. Begitu lah hukum dari kehidupan duniawi, suka dan dukha. Ada suka pasti Ada dukha. Suka tidak akan bertahan lama berada di dalam Rumah, begitupun dukha pasti akan berlalu. Hanya ānanda yang Akan abadi. 

Sepertinya kalimat itu cocok menggambarkan betapa misteriusnya bulan Maret bagi keluarga Kami. 

Banyak sekali yang terjadi di Bulan Maret. 

Diawal maret, setelah hampir 1 Tahun tidak pernah meninggal kan anak2 untuk keperluan Dinas, akhirnya pergi meninggal kan mereka. Biasanya setiap dinas saya selalu membawa serta mereka. Kali ini tidak karena situasi tidak memungkinkan. Sebagai ibu Dengan anak2 yang masih kecil balita, tentu menguras kerinduan dan perasaan bersalah apa lagi kemudian mereka menjadi sakit (sakit Karena kangen emaknya). Sessions ini dianggap sebagai session dukha (persepsi sendiri)

Setelah session itu selesai, sessions Sukha di mulai, Sukha memasuki Rumah Dengan mengirimkan ayah pulang cuti, Anak -Anak happy, saya happy, semua happy. Tapi baru saja 5 hari sukha mampir di Rumah kami, dukha datang lagi, Bhadrika sakit dan harus di rawat di RS PKT karena thypus. Sampai ayahnya berangkat kembali ke negeri Sabah, dukha masih tinggal di dalam Rumah. Beberapa hari kemudian, sukha datang lagi, Kami sibuk dalam pelayanan dan perayaan Hari Raya Nyepi… 

Menutup bulan Maret, dukha kembali datang, sekarang sang induk, aku sendiri ngedrop Karena kelelahan dan hb rendah. Dan harus di rawat inap karena anemia. 

Entahlah, apakah pengklasifikasian pengalaman sukha dan dukha itu akan membantu dalam perjalanan kehidupan ini? 

Yang jelas, saya ingin mengingatkan diri bahwa sukha dan dukha selalu bergandengan. Mereka tidak terpisah kan. Kita sendiri yang mesti hidup dalam kesadaran bahwa ketika sukha datang, kita tidak perlu meninggikan diri, dan ketika dukha datang kita tidak perlu tenggelam dalam kesedihan. Sebagaimana Budha mengajarkan agar kita menjadi moderate, tidak ekstrim. Terlalu senang ketika pengalaman sukha datang dan terlalu sedih ketika dukha datang. 

Catatan ini hanya reminder buat diri sendiri. Hidup mesti terus berjalan, alam semesta pasti menyediakan dan merescue apa yang diperlukan… 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai