SMA Negeri 1 Bontang Gelar Panen Hasil Belajar P5 Tahun Ajaran 2024/2025: Meriah, Kreatif, dan Sarat Nilai Kebhinekaan

NM. Adnyani

Kegiatan Pembukaan Gelar Karya Panen Hasil Belajar dihadiri oleh ketua Komite SMAN 1 Bontang

Bontang, 4 Juni 2025 — SMA Negeri 1 Bontang menggelar acara Gelar Karya Panen Hasil Belajar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan semarak dan penuh semangat inovasi. Bertempat di GOR SMA Negeri 1 Bontang, kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, 4 Juni 2025, dengan mengusung tema besar “Leading Innovation” sebagai simbol dorongan bagi peserta didik untuk menjadi pelajar Pancasila yang kreatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, Abby Mandasthana Putra dan Raden Fathiyya Gilda Salsabila, yang membacakan susunan acara dengan antusias dan terstruktur. Setelah pembacaan doa oleh Bapak Erwin Riyadi, S.Pd., dilanjutkan dengan laporan kegiatan oleh Ketua Panitia sekaligus Koordinator P5, Ibu Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd..

Laporan Ketua Panitia

Dalam laporannya, Ibu Ni Made Adnyani menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan pembelajaran co-curricular P5. Beliau juga menyampaikan refleksi atas pengalamannya sebagai ketua P5 selama tiga tahun berturut-turut, yang penuh tantangan namun membanggakan karena melihat perkembangan karakter dan kreativitas siswa dari tahun ke tahun.

Sambutan Kepala sekolah

Kegiatan kemudian secara resmi dibuka oleh Kepala SMA Negeri 1 Bontang, Ibu Sumariyah, S.Pd., M.Pd., dengan pemukulan gong sebagai tanda dimulainya panen karya. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi kerja sama semua elemen sekolah yang telah menyukseskan kegiatan ini, serta menekankan pentingnya terus memupuk semangat inovasi dan gotong royong dalam setiap projek P5.

Pemukulan Gong

Karya Seni dan Buku sebagai Wujud Kreativitas Pelajar

Persembahan Tari Dari Peserta didik Kelas X

Acara berlanjut dengan penampilan seni dari siswa-siswi kelas X yang menghadirkan kekayaan budaya Indonesia. Di antaranya adalah Tari Saman dari Kelas XC, Tari Burung Enggang dari Kelas XE, dan Tari Benuo Taka Paser (Uok Botung) dari Kelas XE, yang berhasil memukau para penonton dengan gerakan dinamis, makna mendalam, dan pesan budaya lokal yang kuat.

Peluncuran Buku P5 Tema Bhinneka Tunggal Ika

Salah satu momen istimewa adalah peluncuran buku hasil karya siswa/i kelas XI yang mengangkat tema Bhinneka Tunggal Ika. Buku-buku tersebut menjadi bentuk nyata refleksi siswa terhadap keberagaman budaya Indonesia, dengan judul-judul inspiratif seperti:

Menjaga Harmoni Dalam Keberagaman – Kelas XIA Kalimantan Timur dalam Satu Warna – Kelas XIB Eksplorasi Cita Rasa Nusantara – Kelas XIC Menggali Permata Tersembunyi di Bumi Etam – Kelas XID Seputar Kalimantan: Kebudayaan, Keyakinan, Tradisi dan Mitos – Kelas XIE Jejak Lokal: Studi Keanekaragaman Hayati dan Budaya Daerah – Kelas XIF Lentera Kebhinekaan, Cahaya Masa Depan – Kelas XIG

Peluncuran ini dilakukan secara simbolis oleh Kepala Sekolah dan mendapat sambutan hangat dari seluruh hadirin.

Penghargaan untuk Prestasi: Lomba HARDIKNAS 2025

Pembagian Hadiah Lomba HARDIKNAS

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, turut diumumkan para pemenang lomba-lomba kreatif seperti Rangking 1, Baca Puisi, Poster Digital, dan Konten Kreatif. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan prestasi siswa:

Lomba Rangking 1: Juara 1 Henny Rahma Putri (XIC) Lomba Baca Puisi: Juara 1 Bintang Maharani (XIC) Lomba Poster Digital: Juara 1 Siti Lathifa Busainah (XB) Lomba Konten Kreatif: Juara 1 Kelas XI F

Tour Pameran dan Penilaian

Setelah itu, hadirin diajak untuk mengikuti tour pameran hasil karya siswa sekaligus sesi penilaian oleh guru dan fasilitator.

Menumbuhkan Karakter Pelajar Pancasila Melalui Inovasi

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa siswa SMA Negeri 1 Bontang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga mampu menjadi pelajar berkarakter kuat, berpikir kritis, kreatif, serta mencintai budaya bangsanya. Dengan semangat “Leading Innovation”, kegiatan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan jiwa Pancasila yang kokoh.

Acara ditutup dengan penuh kebanggaan dan rasa syukur, menjadi penanda bahwa proses belajar bermakna tidak selalu terjadi di dalam kelas, namun juga melalui ruang-ruang kreatif seperti Gelar Karya P5 ini.

Refleksi dari Webinar dan Bedah Buku Benteng Penjaga Danau Batur

NM. Adnyani

Hari ini saya mengikuti sebuah webinar nasional yang mengangkat sebuah karya tulis ekologis berjudul Benteng Penjaga Danau Batur. Buku ini dibedah oleh beberapa narasumber inspiratif, dan bagi saya, dua nama pembahas yang sangat bagus adalah Ida Bagus Wika Krishna dan I Gede Suwantana. Dari paparan mereka, saya tidak hanya diajak memahami isi buku, tetapi juga menelusuri makna terdalam dari air sebagai sumber kehidupan, serta tantangan besar kita dalam menjaganya.

Paparan demi paparan membawa saya pada satu kesadaran: air bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga unsur suci yang menopang kehidupan spiritual dan budaya kita. Kita menyebut air dengan berbagai nama sakral — tirtha, toya, amrta — sebagai simbol penyucian jiwa dan raga. Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kita justru menyaksikan berbagai bentuk eksploitasi dan pengabaian terhadapnya: pencemaran sumber air, pengalihfungsian danau dan mata air untuk kepentingan pariwisata masif, serta menurunnya rasa hormat terhadap kesakralan alam.

Di sinilah Benteng Penjaga Danau Batur menjadi bukan sekadar cerita, melainkan peringatan. Bahwa ketika manusia lupa pada relasi spiritualnya dengan alam, maka yang lahir bukan lagi kemakmuran, tetapi kehancuran.

Antroposentrik Menuju Ekosentris

Salah satu hal yang menggelitik kesadaran saya adalah cara kita memaknai Tri Hita Karana. Selama ini, konsep ini kita kenal sebagai Parahyangan – hubungan manusia dengan Tuhan, Pawongan – hubungan manusia dengan sesama, Palemahan – hubungan manusia dengan alam.

Namun dalam praktiknya, pendekatan ini sering kali bersifat antroposentrik. Alam diposisikan sebagai objek yang bisa dimanfaatkan sejauh memberi keuntungan bagi manusia. Kita sering lupa bahwa palemahan bukan hanya ‘lahan’, tetapi entitas hidup yang memiliki ruh, martabat, dan peran spiritual.

Paparan dari webinar ini menyentil kesadaran saya: sudah saatnya kita menafsirkan Tri Hita Karana secara ekosentris — di mana alam tidak berada di bawah manusia, melainkan setara sebagai sesama ciptaan Tuhan. Bahkan bisa juga secara teosentris, bahwa menjaga alam adalah bagian dari bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Langkah Konkret di Dunia Pendidikan

Sebagai pendidik, saya menyadari bahwa transformasi ekologis tidak akan berarti tanpa peran dunia pendidikan. Kesadaran saja tidak cukup; perlu diikuti dengan langkah konkret. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan dalam konteks sekolah dan pembelajaran:

1. Integrasi Nilai Ekologis dalam Pembelajaran

Menghubungkan materi pelajaran dengan isu lingkungan lokal. Menjadikan danau, mata air, atau sungai sebagai objek belajar dalam berbagai mata pelajaran, baik agama, bahasa, IPS, bahkan seni.

2. Menanamkan Perspektif Ekosentris dalam Tri Hita Karana

Mengajak siswa melihat alam sebagai “sesama makhluk ciptaan”, bukan “sumber daya”. Menulis jurnal, esai, atau puisi tentang pengalaman mereka dengan alam sekitar.

3. Proyek dan Aksi Nyata

Melakukan aksi lingkungan: bersih-bersih sungai, dan menanam pohon

4. Penguatan Budaya Sekolah Ramah Lingkungan

Membentuk komunitas “Penjaga Alam” di sekolah. Membuat peraturan atau kebiasaan kelas yang mencerminkan nilai-nilai keberlanjutan. Menerapkan prinsip reduce-reuse-recycle dalam aktivitas sehari-hari.

5. Keteladanan Guru sebagai Agen Perubahan

Menampilkan gaya hidup yang sederhana, sadar lingkungan, dan spiritual. Menyisipkan pesan ekologis dalam dharma wacana atau kegiatan keagamaan sekolah. Berkolaborasi dengan komunitas lokal dalam proyek lingkungan.

Menjadi Benteng Penjaga Itu Tanggung Jawab Bersama

Benteng Penjaga Danau Batur memberi saya pelajaran penting: menjaga alam bukan tugas satu dua orang, tapi panggilan kolektif. Terutama bagi kita yang bekerja di dunia pendidikan, tanggung jawab ini menjadi bagian dari misi kita untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga arif dan welas asih terhadap alam.

Karena pada akhirnya, menjaga danau, menjaga air, menjaga alam — adalah menjaga kehidupan itu sendiri.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai