Renungan Diri: Berpegang pada Yama, Disiplin Pengendalian Diri dan Niyama, Pedoman Hidup Berkesadaran

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

|| 2 ||

yamāṁśca niyamāṁścaiva yadā rakṣennu paṇditaḥ

teṣāṁ saṁrakṣitenaiva buddhirasya na cālyate

One must always adhere to Yama or the Disciplinary Codes,

and Niyama, the Rightful Course of Actions in order to check one’s buddhi or purified mind

(the Intelligent Body or Domain of our being).

Following are the Yama, the Disciplinary Codes.

By doing so, the Paṇḍit, the Wise, the Truly Learned Knowledgable

keep it – keep his buddhi – ever unwavered.

Seseorang harus senantiasa berpegang pada Yama, Disiplin atau Pengendalian Diri.

dan Niyama, Pedoman Perilaku untuk Hidup Berkesadaran

untuk senantiasa menjaga buddhi atau mind yang telah dimurnikan

(Badan, Wujud, atau Fakultas Inteligensia dalam diri kita).

Berikut adalah Yama, Pedoman Disiplin atau Pengendalian Diri.

 

Dengan demikian, seorang Pandit, seorang Bijak, Ia yang Berpengetahuan Sejati

senantiasa menjaga buddhi-nya, supaya tak tergoyahkan.

Vrati Sasana ayat 2 dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra

Lihat pos aslinya 702 kata lagi

Renungan Diri: Tiada Hubungan Abadi dengan Siapapun? Dengan Badan Sendiri pun Tidak Abadi?

Dari satu masa kehidupan sampai masa kehidupan berikutnya, berapa banyak ibu dan ayah yang telah meninggalkan kita; demikian pula dengan anak dan pendamping yang ditinggal dalam setiap masa kehidupan. Sungguh tak terhitung jumlah mereka. Sekarang mereka milik siapa — menjadi keluarga siapa? Dan, di manakah kita, menjadi keluarga siapa, milik siapa?
Untuk direnungkan: kita menangisi duka perpisahan yang terjadi dalam satu masa kehidupan, Masa kini saja. Padahal, entah berapa banyak kelahiran dan kematian yang telah kita lalui.
Tiada hubungan abadi dengan siapapun juga. Hubungan dengan badan sendiri pun tidak abadi, suatu ketika Jiwa mesti meninggalkannya, Apalagi dengan orang ataupun sesuatu yang lain!
Segala sesuatu yang kau peroleh adalah bersumber dari yang tak terlihat. Dan akan kembali ke sumber yang sama, tak terlihat. Tiada sesuatu atau seorang pun yang menjadi milikmu. Demikian pula engkau bukanlah milik mereka. Lalu untuk apa rnerintih, untuk siapa menangis?
Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)
………………….
“Harta benda, pendamping, anak, orangtua – semuanya adalah untuk sesaat saja?”
“Tiada hubungan maupun kepemilikan yang langgeng”?
Kita dapat mengatasi?
atau setidaknya secara bertahap?
Dan itu akan mengurangi duka-derita kita?
Silakan simak sloka 492-501 dari Sara Samuccaya pada Tautan di bawah ini:

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies), Bab Sara Samuccaya. Terjemahan dalam bahasa Sunda dan Inggris tidak dikutip.

Sara Samuccaya ayat 492

Matapitrsahasrani putradarasatani ca

yuge yuge vyatitani kasya te kasya vi vayam

Thousands of mothers and fathers, hundreds of children and wives

have passed away in the ages gone by.

Who do they belong to now, and who do we belong to?

Dari satu masa kehidupan sampai masa kehidupan berikutnya,

berapa banyak ibu dan ayah yang telah meninggalkan kita;

demikian pula dengan anak dan pendamping yang ditinggal dalam setiap masa kehidupan.

Sungguh tak terhitung jumlah mereka. Sekarang mereka milik siapa — menjadi keluarga siapa?

Dan, di manakah kita, menjadi keluarga siapa, milik…

Lihat pos aslinya 468 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai