Renungan Diri: Tiada Hubungan Abadi dengan Siapapun? Dengan Badan Sendiri pun Tidak Abadi?

Dari satu masa kehidupan sampai masa kehidupan berikutnya, berapa banyak ibu dan ayah yang telah meninggalkan kita; demikian pula dengan anak dan pendamping yang ditinggal dalam setiap masa kehidupan. Sungguh tak terhitung jumlah mereka. Sekarang mereka milik siapa — menjadi keluarga siapa? Dan, di manakah kita, menjadi keluarga siapa, milik siapa?
Untuk direnungkan: kita menangisi duka perpisahan yang terjadi dalam satu masa kehidupan, Masa kini saja. Padahal, entah berapa banyak kelahiran dan kematian yang telah kita lalui.
Tiada hubungan abadi dengan siapapun juga. Hubungan dengan badan sendiri pun tidak abadi, suatu ketika Jiwa mesti meninggalkannya, Apalagi dengan orang ataupun sesuatu yang lain!
Segala sesuatu yang kau peroleh adalah bersumber dari yang tak terlihat. Dan akan kembali ke sumber yang sama, tak terlihat. Tiada sesuatu atau seorang pun yang menjadi milikmu. Demikian pula engkau bukanlah milik mereka. Lalu untuk apa rnerintih, untuk siapa menangis?
Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)
………………….
“Harta benda, pendamping, anak, orangtua – semuanya adalah untuk sesaat saja?”
“Tiada hubungan maupun kepemilikan yang langgeng”?
Kita dapat mengatasi?
atau setidaknya secara bertahap?
Dan itu akan mengurangi duka-derita kita?
Silakan simak sloka 492-501 dari Sara Samuccaya pada Tautan di bawah ini:

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies), Bab Sara Samuccaya. Terjemahan dalam bahasa Sunda dan Inggris tidak dikutip.

Sara Samuccaya ayat 492

Matapitrsahasrani putradarasatani ca

yuge yuge vyatitani kasya te kasya vi vayam

Thousands of mothers and fathers, hundreds of children and wives

have passed away in the ages gone by.

Who do they belong to now, and who do we belong to?

Dari satu masa kehidupan sampai masa kehidupan berikutnya,

berapa banyak ibu dan ayah yang telah meninggalkan kita;

demikian pula dengan anak dan pendamping yang ditinggal dalam setiap masa kehidupan.

Sungguh tak terhitung jumlah mereka. Sekarang mereka milik siapa — menjadi keluarga siapa?

Dan, di manakah kita, menjadi keluarga siapa, milik…

Lihat pos aslinya 468 kata lagi

Yoga dan Meditasi Untuk menghadapi masalah dan tantangan Hidup

sejak beberapa hari lalu saya sudah meniatkan diri akan menulis tentang pengalaman ini. tetapi belum kesampaian

hari ini, saya sedang terbaring lemah secara fisik tetapi semangat saya masih sama seperti kemaren. 

kemarin hujan turun sepanjang hari, suasana adem dan enak buat tidur. lalu sayapun tidur 2 jam di siang hari. sesuatu yang tidak biasa saya lakukan. alhasil malam harinya saya tidak bisa tidur. saya pun mengambil buku yang baru saya beli yaitu Dvipantara Yoga Sastra. bacaan asik dan saya sangat menyukai gaya bahasanya yang pas dan mudah dipahami. saya membaca hingga larut malam. (kapan-kapan akan saya share pemahaman saya tentang buku luar biasa itu. terimakasih Bapak AK) melewati tengah malam dan saya juga belum mengantuk. mengingat besok saya akan masuk kerja saya pun tidur menjelang dini hari. 

seperti biasa sayapun bangun pagi2 dan akan melakukan morning puja Brahma muhurta. ketika saya beranjak bangun tiba2 kepala saya pusing berputar putar. di tambah dengan muntah2 yang banyak. sampai 2 jam kemudian saya baru bisa membuka mata namun badan masih lemas dan bergetar. saya meraih handphone dan mengabari teman2 kerja bahwa saya tidak bisa bekerja.

saya tidur sepanjang jam pagi sampai siang. kemudian saya teringat dengan yeguran seorang sahabat, praktisi yoga dan meditasi kok sakit. bagaimana itu? 

pertanyaan atau pernyataan itu dilontarkannya beberapa kali hingga masuk kebawah sadar saya. sayapun merenung. apakah saya tidak boleh sakit setelah melakukan yoga dan meditasi? apakah yoga dan meditasi membuat seseorang bebas dari masalah, tekanan, penyakit dan tidak butuh dokter? 

inilah sebuah pandangan yang keliru. 

Yoga dan meditasi membantu seseorang untuk mampu menghadapi segala masalah, tantangan dan penyakit. badan fisik kita ini diikat oleh hukum alam. adalah alamiah selama berbadan manusia kita akan mengalami sakit. adalah manusiawi dalam hidup kita menemukan masalah. hidup menjadi bermakna ketika kita menemukan tantangan. hidup bukan sesuatu yang datar… 

cara pandang, pengetahuan dan kebijaksanaanlah yang menentukan bagaimana kita merespon suatu masalah, tantangan dan penyakit. apakah kita memilih untuk mengeluh, mengaduh aduh atau justru tenang dan bahagia. 

yoga dan meditasi mengajarkan hal ini. membawa seseorang pada inner power. meski badan lemah. semangat dan keceriaan selalu ada. tidak pergi. 

inilah yang menjadi pengalaman hari ini. serta menjawab berbagai pertanyaan di atas. saya mengalaminya. badan saya perlu rehat. perlu tambahan suplemen. perlu istirahat. tapi pikiran saya tidak kacau. tidak jelimet. mungkin ini baru pengalaman yang belum apa2 bagi praktisi seperti saya. tetapi setidaknya saya merasa sangat terbantu oleh yoga dan meditasi. saya menerima manfaatnya. 

terimakasih…

yogas citta vriti nirodha

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai