MAHKOTA YANG MENGHILANGKAN AKAL

NM. Adnyani

Di sebuah hutan lebat, hiduplah seekor singa yang dikenal buas dan berkuasa. Suatu hari, singa itu merasa lapar, namun ia malas berburu. Ia menatap seekor rubah yang sedang lewat, lalu mengaum keras:

“Rubah! Bawakan aku makanan. Jika tidak, aku akan membunuhmu!”

Rubah, yang licik sekaligus cerdas, tidak ingin menjadi santapan singa. Ia segera mencari cara untuk menyelamatkan diri. Tak lama, ia melihat seekor keledai yang polos dan sederhana.

“Temanku keledai,” kata rubah dengan manis, “kau sungguh beruntung! Raja singa sedang mencarimu. Ia ingin menjadikanmu raja di sisinya. Ikutlah bersamaku, aku akan membawamu menghadap.”

Keledai, yang polos dan penuh harapan, percaya begitu saja. Ia membayangkan betapa agungnya duduk di singgasana bersama singa. Dengan langkah penuh kebanggaan, ia mengikuti rubah.

Namun, begitu tiba di hadapan singa, raja hutan itu langsung menerkam. Dalam sekejap, telinga keledai robek. Ia menjerit kesakitan dan berhasil melarikan diri.

“Rubah!” seru keledai, “kau menipuku! Aku hampir saja mati, dan kini aku kehilangan telingaku!”

Namun rubah tak kehabisan akal. Dengan wajah tenang ia menjawab,

“Ah, sahabatku. Justru kehilangan telingamu adalah tanda takdir. Bagaimana mungkin kau bisa memakai mahkota raja jika telingamu masih panjang dan menjuntai? Kini kepalamu cocok untuk dimahkotai. Kau harus datang lagi menemui singa.”

Keledai, yang hatinya buta oleh mimpi, percaya sekali lagi. Ia kembali datang. Kali ini, singa mencakar dan merobek ekornya.

Dengan penuh duka ia kembali menemui rubah. “Aku kehilangan ekorku! Bagaimana mungkin aku masih bisa menjadi raja?”

Rubah kembali berkata manis,

“Sahabatku, justru kehilangan ekormu membuatmu bisa duduk nyaman di kursi kerajaan. Kau sungguh dekat dengan takdirmu. Percayalah, datanglah sekali lagi.”

Maka keledai, dalam kebodohannya, kembali ke hadapan singa. Dan kali ini, tidak ada lagi kesempatan untuk lari. Dengan auman mengerikan, singa menerkam dan membunuhnya.

Rubah lalu mengumpulkan tubuh keledai itu dan membawanya kepada singa. Namun, ia tidak membawa otaknya.

Ketika singa bertanya, “Mengapa otaknya tidak ada?” Rubah menjawab dengan tenang,

“Raja, andai saja keledai itu punya otak, ia tidak akan datang kepadamu berkali-kali setelah hampir mati sebelumnya.”

Kisah ini mengajarkan kita beberapa hal penting:

1. Kecerdikan tanpa kebaikan bisa berbahaya. Rubah memang cerdas, tetapi kecerdasannya digunakan untuk menipu dan menyelamatkan diri dengan mengorbankan yang lain.

2. Kebodohan dan terlalu mudah percaya bisa membawa kehancuran. Keledai terlalu polos, tidak belajar dari pengalaman pahitnya, hingga akhirnya kehilangan segalanya.

3. Singa sebagai simbol kekuasaan menggambarkan sifat serakah yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Kehidupan menuntut kita untuk bijaksana. Kepercayaan itu baik, tetapi kepercayaan tanpa kebijaksanaan dapat membawa bencana.

Seperti keledai, manusia sering kali buta oleh mimpi dan janji-janji manis, lalu lupa menggunakan akalnya. Padahal, akal dan hati adalah mahkota sejati yang seharusnya dijaga agar tidak hilang.

Bukan Hilang, Hanya Usai

NM. Adnyani

Kadang, hidup mempertemukan kita dengan seseorang yang seolah memberi warna baru. Kehadirannya membawa senyum, percakapan sederhana terasa hangat, dan hati pun berani bermimpi. Namun, tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk bertahan. Ada kisah yang hadir hanya sebentar, sekadar mengajarkan sesuatu, lalu pergi meninggalkan jejak.

Ada sebuah pertemuan yang terasa begitu hangat. Dua jiwa berpapasan, lalu berjalan bersama dalam waktu yang singkat. Percakapan, perhatian, dan rasa yang tumbuh diam-diam, membuat hari-hari terasa berbeda. Namun, seperti angin yang datang lalu pergi, tidak semua cerita bertahan sebagaimana awalnya.

Ada satu masa, di mana hati ini begitu berat. Malam terasa panjang, siang dipenuhi air mata, dan tubuh seperti kehilangan tenaga untuk sekadar menikmati makanan. Perasaan yang tumbuh besar justru berubah menjadi luka, karena ekspektasi tidak pernah bertemu dengan kenyataan.

Pada akhirnya, keberanian itu lahir. Bukan untuk memaksa orang lain tetap tinggal, tapi untuk memilih diri sendiri. Dengan tenang, pesan terakhir disampaikan: bahwa sudah cukup. Bahwa langkah ini harus berhenti. Bukan dalam diam, bukan pula dengan menghilang tiba-tiba, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa sesuatu telah selesai.

Dan meski ada sakit yang masih menyisakan jejak, ada pula rasa lega yang perlahan mengisi ruang hati. Karena aku tahu, aku tidak kehilangan. Aku hanya belajar melepaskan.

Setiap perjumpaan punya makna, entah sebentar atau lama. Ada yang datang untuk tinggal, ada yang datang hanya untuk mengajarkan kita tentang arti mencintai, dan lebih dari itu: arti mencintai diri sendiri.

Kini aku melangkah lebih ringan. Tidak lagi menunggu, tidak lagi berharap, hanya menyimpan kenangan secukupnya. Sebab pada akhirnya, aku sadar—

Bukan hilang, hanya usai.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai