Mengapa Kita Mempersembahkan Nasi, Serondeng, dan Wijen?

NM. Adnyani

Nasi dengan serondeng yang belum di tambahkan wijen Hitam

Dalam tradisi Hindu di Bali, mempersembahkan bukan sekadar memberi—tetapi sebuah proses spiritual yang mengajarkan kita tentang syukur, kesadaran, dan ketulusan. Di antara sekian banyak bentuk persembahan, ada satu wujud sederhana namun kaya makna: nasi, serondeng, dan wijen. Mungkin kita pernah bertanya, “Kenapa bahan-bahan itu yang dipakai?” Atau, “Bolehkah ditambah porosan dan bunga di atasnya?”

Artikel ini mencoba mengurai makna di balik kesederhanaan itu.

🍚 Nasi: Hasil Hidup dan Kesadaran yang Matang

Nasi adalah makanan pokok kita. Tapi dalam konteks persembahan, nasi lebih dari sekadar santapan—ia adalah simbol kehidupan yang telah diolah, disucikan, dan dipersembahkan kembali kepada sumber kehidupan itu sendiri.

Dalam Bhagavad Gita disebutkan:

“Mereka yang makan tanpa mempersembahkan terlebih dahulu, sesungguhnya memakan dosa.”

(Bhagavad Gita 3.13)

Dengan mempersembahkan nasi, kita belajar untuk tidak serakah. Bahwa hidup ini bukan tentang memiliki, tetapi berbagi dan menyadari siapa pemilik sejatinya.

🥥 Serondeng: Api Kesadaran dan Pengendalian Diri

Serondeng, parutan kelapa yang digoreng, bukan sekadar pelengkap. Ia adalah simbol teja, api. Api yang menyala di dalam diri manusia sebagai semangat, sebagai kendali, sebagai pemurni.

Serondeng mengingatkan kita bahwa hidup tanpa “penggorengan” tak akan matang. Kita butuh digembleng oleh ujian, oleh kesulitan, agar menjadi manusia yang lebih sadar dan bersyukur.

⚪ Wijen: Benih Kesucian dan Karma yang Murni

Wijen, atau dalam bahasa Sanskerta disebut tila, adalah simbol dari benih karma. Meski kecil, ia menyimpan energi besar. Dalam ritual Veda, wijen sering digunakan untuk pemurnian, terutama dalam pembersihan karma leluhur.

Wijen mengajarkan kita bahwa hal kecil pun bisa berarti besar jika dilakukan dengan tulus. Dalam hidup, bukan soal besar kecilnya pemberian, tapi besar kecilnya niat yang tersembunyi di baliknya.

Dalam beberapa tradisi Bali, di atas nasi, serondeng, dan wijen sering ditambahkan porosan (sirih, pinang, kapur) serta bunga. Bukan hanya sebagai pelengkap estetika, tetapi sebagai simbol kesatuan antara: Materi (nasi, serondeng, wijen), Pikiran (porosan), dan Rasa (bunga).

Porosan melambangkan Tri Guna: sattwam (kesucian), rajas (semangat), tamas (stabilitas). Sementara bunga adalah lambang bhakti dan keindahan jiwa.

Dalam Bhagavad Gita 9.26, Krishna bersabda:

“Siapa pun yang mempersembahkan kepada-Ku dengan penuh cinta sehelai daun, bunga, buah, atau air—Aku menerimanya.”

Itu artinya: bukan soal bentuknya, tapi soal hati yang mempersembahkan.

✨ Makna yang Lebih Dalam

Ketika kita menyusun nasi, serondeng, wijen, lalu meletakkan porosan dan bunga di atasnya, kita sebenarnya sedang menyusun kesadaran hidup. Kita sedang berkata:

“Ini hasil dari hidupku (nasi).

Ini pengendalian diriku (serondeng).

Ini karma dan benih kebaikanku (wijen).

Ini pikiranku yang kupersembahkan (porosan).

Ini cintaku yang tulus (bunga).”

Dan pada saat itu, semesta mendengar.

Persembahan bukan soal besar kecil, indah atau sederhana. Ia adalah cermin hati. Dan lewat secuil nasi, serondeng, dan biji wijen, kita diajak kembali ke inti hidup: bersyukur, berbagi, dan mengingat siapa kita sebenarnya.

Karena pada akhirnya, yang kita persembahkan bukanlah benda—tetapi diri kita sendiri.

Mengapa Kita Mempersembahkan Kain (Rantasan)?

NM. Adnyani

Dalam tradisi Hindu Bali, setiap unsur persembahan memiliki makna. Tidak ada yang hadir secara kebetulan—semua adalah simbol. Salah satu komponen penting dalam upakara adalah kain persembahan, yang dalam bentuk sederhana dikenal sebagai rantasan.

Rantasan bukan sekadar lembaran kain; ia adalah simbol dari pikiran manusia. Pikiran manusia bagaikan sehelai kain panjang yang dililit dan dilipat, menyimpan banyak simpul keinginan, harapan, kecemasan, dan niat. Pikiran adalah bundelan keinginan (bundle of desire)—yang tak pernah diam, selalu mengembara ke masa lalu atau masa depan, jarang tinggal di saat ini.

Ketika kita mempersembahkan kain, kita sejatinya mempersembahkan pikiran kita sendiri. Kita meletakkan segala ambisi, kekhawatiran, kelekatan, serta kehendak pribadi kepada Hyang Widhi. Itu adalah bentuk pengendalian diri dan penyucian batin.

“Kain menutupi tubuh, seperti pikiran menutupi jati diri sejati kita. Maka mempersembahkan kain adalah simbol melepas lapisan-lapisan itu, agar kita bisa kembali pada inti: kesadaran murni.”

(Terinspirasi dari ajaran Taittiriya Upanishad dan filosofi kosmologi Hindu Bali)

Dalam konteks spiritual, rantasan juga bermakna kesediaan untuk membungkus diri dengan kesucian. Seperti halnya kain yang membungkus simbol suci atau pelinggih, demikian pula kita menyelimuti niat hidup kita dengan nilai Dharma—agar hidup ini tidak telanjang tanpa arah, tetapi terlindung dalam kesadaran akan Tuhan.

Makna Simbolik Rantasan

Putih – pikiran yang jernih dan sattvika. Warna putih identik dengan sattva guna, sifat kejernihan dan kesucian pikiran (Bhagavad Gita 14.6). Kuning – kebijaksanaan dan pencerahan. Dalam tradisi Bali, warna kuning diasosiasikan dengan Dewa Mahadeva (arah barat), lambang kebijaksanaan dan kematangan spiritual. Merah – keberanian dan hasrat (rasa, rajo guna). Merah melambangkan api dan semangat hidup; namun juga harus dikendalikan agar tidak mendominasi (Bhagavad Gita 3.37–39). Hitam – kekuatan penegak dan perlindungan. Hitam di Bali dikaitkan dengan arah utara (Dewa Wisnu) dan simbol keteguhan dalam menghadapi gelapnya kebodohan.

Keempat warna ini sering dijalin dalam rantasan pelangi, menggambarkan empat arah pikiran, empat kekuatan batin. Dalam lontar Tuturan tentang Sarwa Bhuana, juga disebut bahwa warna-warna ini melambangkan harmoni dari segala unsur kehidupan (panca maha bhuta) dan kekuatan Dewa-Dewi yang menopang semesta.

Saat kita mempersembahkan rantasan, sejatinya kita tengah berkata:

“Inilah pikiranku, dengan segala keinginan dan niatnya. Aku serahkan pada-Mu. Bimbing agar pikiranku selaras dengan kehendak-Mu.”

(Lontar Dharma Prawerti mengajarkan: “Sarira ring manusia tan wenang nyidaya ring dharma tan salunglung pikayun ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa.”)

Mempersembahkan rantasan bukanlah tindakan simbolik belaka. Ia adalah latihan spiritual yang halus: mengakui bahwa pikiran kita bukan milik kita sepenuhnya, dan bahwa hanya melalui penyerahan (ishwarapranidhana) kita bisa menemukan ketenangan.

“Yoga is the cessation of the movements of the mind.”

(Yoga Sutra Patanjali 1.2 – citta vritti nirodhah)

Uttarayana: Jalan Terang Menuju Keabadian

NM. Adnyani

Dalam keyakinan Hindu, kehidupan dan kematian bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari satu perjalanan panjang menuju kesadaran tertinggi. Setiap momen dalam siklus waktu membawa kualitasnya sendiri, dan di antara dua kutub utama perjalanan matahari, terdapat satu fase yang dipandang sangat mulia: Uttarayana.

🌞 Apa Itu Uttarayana?

Uttarayana secara harfiah berarti “gerak ke utara”. Ini adalah periode enam bulan ketika matahari tampak bergerak dari selatan menuju utara (secara astronomis, dari belahan bumi selatan menuju utara), dimulai sekitar 14 Januari saat Makara Saṅkrānti, dan berakhir sekitar 21 Juni. Masa ini dianggap sebagai waktu siangnya para dewa, penuh cahaya, kesadaran, dan kemuliaan spiritual.

📖 Ajaran Kitab Suci

Bhagavad Gītā, menyatakan dengan jelas:

“Agnir jyotir ahaḥ śuklaḥ

ṣaṇ-māsā uttarāyaṇam

tatra prayātā gacchanti

brahma brahma-vido janāḥ”

(BG 8.24)

Artinya:

Mereka yang meninggal saat matahari bergerak ke utara, pada masa terang dan suci, mencapai Brahman — kesadaran tertinggi, dan tidak kembali lagi ke dunia kelahiran dan kematian.

Sloka ini menekankan bahwa kematian di masa Uttarayana bukan sekadar akhir, tapi sebuah pembebasan.

Bhīṣma: Teladan Kesadaran dalam Kematian

Kisah Bhīṣma Pitāmaha dalam Mahābhārata adalah contoh yang penuh makna. Ia memiliki anugerah icchā-mṛtyu — kemampuan untuk memilih waktu wafatnya sendiri. Dalam luka parah di medan Kurukshetra, Bhīṣma menunda kematiannya selama berminggu-minggu, berbaring di ranjang panah, menunggu Uttarayana tiba. Barulah setelah Makara Saṅkrānti, ia melepaskan napas terakhirnya. Ini bukan karena keinginan hidup, tetapi karena pemahaman spiritual mendalam bahwa kematian dalam Uttarayana membawa jiwa menuju moksha.

Doa Kita untuk Orang Terkasih

Dalam doa-doa untuk keluarga dan leluhur, panjatkanlah harapan:

“Semoga bila tiba waktunya, kami dan keluarga kami meninggal dalam terang Uttarayana.

Dalam damai, dalam kesadaran, dalam keadaan suci dan lepas dari segala keterikatan.”

Karena kematian terbaik bukan sekadar kapan tubuh berhenti bernapas, tetapi bagaimana jiwa itu lepas — dalam terang, bukan dalam gelap.

🌸 Makna Bagi Kita Hari Ini

Meskipun kita tidak bisa mengatur kapan ajal datang, kita bisa menyiapkan hidup kita agar selalu mengarah ke Uttarayana batin — hidup dalam kesadaran, terang nilai-nilai dharma, kasih, dan kedamaian. Jika kita hidup dalam terang, maka kapan pun kematian datang, ia akan menjadi jalan pulang, bukan perpisahan.

Semoga keluarga-keluarga kami yang telah berpulang atau akan berpulang, meninggal dalam terang Uttarayana, dan mencapai pembebasan yang suci.

Merayakan International Day of Yoga ke-11 bersama Bhadra Yoga Sanstha

NM. Adnyani, Pendiri Bhadra Yoga Sanstha

Sabtu pagi, 21 Juni 2025. Matahari belum sepenuhnya naik ketika halaman depan GOR PKT mulai terasa hangat oleh langkah-langkah kami yang datang dengan semangat dan niat baik. Di Hari Yoga Internasional yang ke-11 ini, saya bersama tiga sahabat—rekan seperjalanan dalam praktik spiritual dan jasmani—menghidupkan momen istimewa dengan sesi yoga outdoor yang penuh makna, sederhana namun khidmat.

Acara dimulai pukul 07.00 WITA, diiringi embusan angin lembut dan suasana kota yang masih tenang. Kami memulai dengan peregangan Pavana Mukta Asana, membangunkan tubuh perlahan dan menyambut hari dengan penuh kesadaran. Setelah tubuh siap, sesi dilanjutkan dengan rangkaian asana yang kami pilih dengan cermat untuk melibatkan seluruh elemen tubuh:

Sitting poses seperti Janusira Asana, Paschimottanasana, dan Yoga Mudra memberi ketenangan dan pelonggaran pada tulang belakang dan pusat energi. Lying poses seperti Bhujangasana (pose ular) dan Dhanurasana (pose busur) menguatkan otot punggung serta membuka dada—melambangkan keberanian untuk hidup lebih terbuka. Standing poses kami lengkapi dengan beragam gerakan yang membangkitkan keseimbangan, kekuatan, dan keharmonisan tubuh, seperti: Ustrasana (pose unta) Virabhadrasana (pose pejuang) Trikona Asana (pose segitiga) Pavitra Trikona Asana (pose segitiga suci) Tuladandasana (pose timbangan satu kaki) Natarajasan, Garudasana (pose rajawali)

Kami juga menyelaraskan energi dengan Surya Namaskara dan Chandra Namaskara, sebagai penghormatan terhadap polaritas semesta: aktif dan pasif, terang dan teduh.

Menjelang akhir sesi, kami memasuki tahap pendinginan. Makara Asana membawa tubuh kembali ke titik netral. Lalu, kami mengalirkan nafas dengan Nadi Shodhana Pranayama—pernapasan pembersih nadi yang membantu menyelaraskan sisi kanan dan kiri tubuh. Kami tutup dengan meditasi mindfulness, sebuah ruang sunyi untuk mengenali batin, hadir dalam keheningan, dan bersyukur atas momen yang telah terjadi.

Sebuah Inisiasi Kecil

Sebagai pemilik dan penggerak Bhadra Yoga Sanstha, saya merasa bersyukur bisa memulai inisiatif ini, walau dalam lingkup kecil. Yoga bukan sekadar olah tubuh, tetapi juga laku batin—jalan pulang ke dalam. Praktik pagi ini adalah pengingat bahwa kebersamaan, kesadaran, dan ketulusan bisa menjadi benih perubahan yang lebih luas, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Hari Yoga Internasional bukan hanya perayaan global. Ia adalah panggilan sunyi untuk hidup lebih utuh. Dan pagi ini, kami menjawabnya dengan tubuh, napas, dan hati.

Catatan Sunyi Tentang Cinta dan Pengabdian

NM. Adnyani

Tadi malam aku bermimpi jadi pembantu rumah tangga. Anehnya, mimpi itu tidak terasa menyedihkan. Aku justru merasa damai. Dalam mimpi itu, aku menggendong seorang anak kecil—anak dari majikanku. Tapi rasanya seperti anakku sendiri. Ia menempel padaku, menyusu pada perhatianku, tertawa di pelukanku. Aku menjaganya dengan lembut, dan ia mempercayakan dirinya sepenuhnya padaku.

Lalu majikanku memberiku baju baru. Sebuah bentuk penghargaan, katanya, karena aku merawat anaknya dengan baik. Aku merasa senang, bukan karena bajunya, tapi karena niat baik di balik pemberian itu. Setelah itu, kami pergi ke toko sepatu. Tapi di tengah perjalanan, tiba-tiba majikanku menghilang. Aku berdiri sendiri di tempat asing, memegang baju baru itu, tapi tidak tahu harus ke mana.

Mimpi itu masih lekat di kepalaku. Dan pagi ini aku duduk merenungkannya, mencoba memahami—sebab aku yakin, mimpi seperti itu bukan datang tanpa alasan.

Mungkin mimpi itu bukan soal jadi pembantu dalam arti harfiah. Tapi tentang peran yang sering aku ambil dalam hidup: menjadi penopang, pengasuh, pengatur, penenang—bagi orang-orang di sekelilingku. Entah dalam keluarga, pekerjaan, atau dalam hubungan yang lebih dalam, aku sering ada untuk orang lain. Aku menggendong beban, menjaga agar semuanya tetap berjalan baik. Dan aku melakukannya dengan cinta.

Tapi sering kali, peran itu tak terlihat. Orang hanya tahu semuanya “berjalan lancar”, tanpa tahu siapa yang berlari-lari di belakang layar.

Baju Baru: Hadiah atau Cermin Diri?

Pakaian baru dalam mimpiku terasa seperti simbol. Aku merasa dihargai. Tapi lebih dari itu, aku merasa diingatkan—bahwa dalam setiap pengabdian yang aku jalani, aku juga sedang tumbuh. Bahwa aku bukan hanya seseorang yang menjaga kehidupan orang lain tetap utuh, tapi aku juga pantas menerima sesuatu yang baru: jati diri, penghargaan, ruang untuk berkembang.

Terkadang kita perlu diberi “baju baru”—baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri—sebagai pengakuan bahwa kita telah berubah.

Bagian paling menggugah dari mimpi itu adalah saat majikanku menghilang. Aku sedang hendak membeli sepatu. Dan tiba-tiba, aku sendirian. Sepatu, dalam banyak tafsir mimpi, melambangkan arah hidup. Dan bisa jadi, mimpi itu sedang menunjukkan bahwa saatnya aku memilih langkahku sendiri.

Mungkin aku sudah cukup lama berjalan mengikuti arah hidup orang lain. Mungkin aku sudah cukup lama “menggendong”, hingga lupa bahwa aku juga perlu berjalan. Sekarang, aku berada di titik itu: memilih sepatu, memilih arah, memilih cara melangkah dengan caraku sendiri.

Yang paling membuatku tersentuh dari mimpi itu adalah perasaanku terhadap anak kecil itu. Aku tidak pernah merasa terbeban. Aku merawatnya dengan sepenuh hati, dan ia membalas dengan kedekatan yang tulus. Ada cinta yang diam, tapi kuat. Dan itulah yang sering terjadi dalam hidup—aku mencintai dalam diam, menjaga dalam senyap, memberi tanpa pamrih. Kadang aku lupa bahwa itu bukan kelemahan. Itu adalah kekuatanku.

Mimpi tadi malam mengajarkanku banyak hal—tentang bagaimana aku melihat diriku, bagaimana aku merawat orang lain, dan bagaimana aku harus mulai merawat diriku sendiri.

Kadang peran-peran yang sunyi itulah yang justru membentuk kita. Bukan dari sorotan, tapi dari ketulusan. Dan mungkin sekarang saatnya aku melihat peranku dengan mata yang berbeda. Bukan sekadar menjadi penopang, tapi juga menjadi pribadi yang layak dipeluk, dihargai, dan diberi ruang untuk tumbuh.

Aku ingin mulai memilih sepatuku sendiri. Melangkah bukan karena disuruh, tapi karena aku tahu, aku juga berhak memiliki arahku sendiri.

Pelayanan Dalam Sunyi

Catatan Sunyi Tentang Cinta dan Pengabdian

NM. Adnyani

Tadi malam aku bermimpi jadi pembantu rumah tangga. Anehnya, mimpi itu tidak terasa menyedihkan. Aku justru merasa damai. Dalam mimpi itu, aku menggendong seorang anak kecil—anak dari majikanku. Tapi rasanya seperti anakku sendiri. Ia menempel padaku, menyusu pada perhatianku, tertawa di pelukanku. Aku menjaganya dengan lembut, dan ia mempercayakan dirinya sepenuhnya padaku.

Lalu majikanku memberiku baju baru. Sebuah bentuk penghargaan, katanya, karena aku merawat anaknya dengan baik. Aku merasa senang, bukan karena bajunya, tapi karena niat baik di balik pemberian itu. Setelah itu, kami pergi ke toko sepatu. Tapi di tengah perjalanan, tiba-tiba majikanku menghilang. Aku berdiri sendiri di tempat asing, memegang baju baru itu, tapi tidak tahu harus ke mana.

Mimpi itu masih lekat di kepalaku. Dan pagi ini aku duduk merenungkannya, mencoba memahami—sebab aku yakin, mimpi seperti itu bukan datang tanpa alasan.

Mungkin mimpi itu bukan soal jadi pembantu dalam arti harfiah. Tapi tentang peran yang sering aku ambil dalam hidup: menjadi penopang, pengasuh, pengatur, penenang—bagi orang-orang di sekelilingku. Entah dalam keluarga, pekerjaan, atau dalam hubungan yang lebih dalam, aku sering ada untuk orang lain. Aku menggendong beban, menjaga agar semuanya tetap berjalan baik. Dan aku melakukannya dengan cinta.

Tapi sering kali, peran itu tak terlihat. Orang hanya tahu semuanya “berjalan lancar”, tanpa tahu siapa yang berlari-lari di belakang layar.

Baju Baru: Hadiah atau Cermin Diri?

Pakaian baru dalam mimpiku terasa seperti simbol. Aku merasa dihargai. Tapi lebih dari itu, aku merasa diingatkan—bahwa dalam setiap pengabdian yang aku jalani, aku juga sedang tumbuh. Bahwa aku bukan hanya seseorang yang menjaga kehidupan orang lain tetap utuh, tapi aku juga pantas menerima sesuatu yang baru: jati diri, penghargaan, ruang untuk berkembang.

Terkadang kita perlu diberi “baju baru”—baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri—sebagai pengakuan bahwa kita telah berubah.

Bagian paling menggugah dari mimpi itu adalah saat majikanku menghilang. Aku sedang hendak membeli sepatu. Dan tiba-tiba, aku sendirian. Sepatu, dalam banyak tafsir mimpi, melambangkan arah hidup. Dan bisa jadi, mimpi itu sedang menunjukkan bahwa saatnya aku memilih langkahku sendiri.

Mungkin aku sudah cukup lama berjalan mengikuti arah hidup orang lain. Mungkin aku sudah cukup lama “menggendong”, hingga lupa bahwa aku juga perlu berjalan. Sekarang, aku berada di titik itu: memilih sepatu, memilih arah, memilih cara melangkah dengan caraku sendiri.

Yang paling membuatku tersentuh dari mimpi itu adalah perasaanku terhadap anak kecil itu. Aku tidak pernah merasa terbeban. Aku merawatnya dengan sepenuh hati, dan ia membalas dengan kedekatan yang tulus. Ada cinta yang diam, tapi kuat. Dan itulah yang sering terjadi dalam hidup—aku mencintai dalam diam, menjaga dalam senyap, memberi tanpa pamrih. Kadang aku lupa bahwa itu bukan kelemahan. Itu adalah kekuatanku.

Mimpi tadi malam mengajarkanku banyak hal—tentang bagaimana aku melihat diriku, bagaimana aku merawat orang lain, dan bagaimana aku harus mulai merawat diriku sendiri.

Kadang peran-peran yang sunyi itulah yang justru membentuk kita. Bukan dari sorotan, tapi dari ketulusan. Dan mungkin sekarang saatnya aku melihat peranku dengan mata yang berbeda. Bukan sekadar menjadi penopang, tapi juga menjadi pribadi yang layak dipeluk, dihargai, dan diberi ruang untuk tumbuh.

Aku ingin mulai memilih sepatuku sendiri. Melangkah bukan karena disuruh, tapi karena aku tahu, aku juga berhak memiliki arahku sendiri.

Pelayanan Dalam Sunyi

SMAN 1 Bontang Gelar Cleanup Day Sambut Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia

Penulis: Az-Zahra Keisya Putri Haikal

Editor: NM. Adnyani

BONTANG — Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Se-Dunia, SMA Negeri 1 Bontang menyelenggarakan kegiatan Cleanup Day yang dilaksanakan pada hari Kamis, 12 Juni 2025. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 WITA dan berlangsung hingga selesai, dengan berlokasi di lingkungan sekolah.

Aksi bersih-bersih ini melibatkan seluruh GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) serta anggota ekstrakurikuler Go Green SMAN 1 Bontang. Dengan semangat, mereka secara bersama-sama membersihkan area sekolah, mulai dari halaman, taman, dan lingkungan sekitar. Hal tersebut juga menjadi bentuk nyata kepedulian sekolah terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan serta mengedukasi para peserta untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Cleanup Day dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran warga sekolah tentang pentingnya menjaga kebersihan dan memelihara lingkungan hidup. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan nilai gotong royong serta memperkuat peran aktif siswa-siswi dalam gerakan pelestarian lingkungan.

Kegiatan Cleanup Day berjalan lancar serta mendapat respons positif dari para peserta. Lingkungan sekolah pun menjadi asri, nyaman, dan sejuk. Rencananya, kegiatan serupa akan dijadikan agenda rutin sekolah setiap semester. Diharapkan, kegiatan ini dapat terus menginspirasi warga sekolah untuk menjaga lingkungan dan berkontribusi aktif dalam pelestarian alam, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di masyarakat secara luas.

SMA Negeri 1 Bontang Gelar Panen Hasil Belajar P5 Tahun Ajaran 2024/2025: Meriah, Kreatif, dan Sarat Nilai Kebhinekaan

NM. Adnyani

Kegiatan Pembukaan Gelar Karya Panen Hasil Belajar dihadiri oleh ketua Komite SMAN 1 Bontang

Bontang, 4 Juni 2025 — SMA Negeri 1 Bontang menggelar acara Gelar Karya Panen Hasil Belajar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan semarak dan penuh semangat inovasi. Bertempat di GOR SMA Negeri 1 Bontang, kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, 4 Juni 2025, dengan mengusung tema besar “Leading Innovation” sebagai simbol dorongan bagi peserta didik untuk menjadi pelajar Pancasila yang kreatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, Abby Mandasthana Putra dan Raden Fathiyya Gilda Salsabila, yang membacakan susunan acara dengan antusias dan terstruktur. Setelah pembacaan doa oleh Bapak Erwin Riyadi, S.Pd., dilanjutkan dengan laporan kegiatan oleh Ketua Panitia sekaligus Koordinator P5, Ibu Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd..

Laporan Ketua Panitia

Dalam laporannya, Ibu Ni Made Adnyani menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan pembelajaran co-curricular P5. Beliau juga menyampaikan refleksi atas pengalamannya sebagai ketua P5 selama tiga tahun berturut-turut, yang penuh tantangan namun membanggakan karena melihat perkembangan karakter dan kreativitas siswa dari tahun ke tahun.

Sambutan Kepala sekolah

Kegiatan kemudian secara resmi dibuka oleh Kepala SMA Negeri 1 Bontang, Ibu Sumariyah, S.Pd., M.Pd., dengan pemukulan gong sebagai tanda dimulainya panen karya. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi kerja sama semua elemen sekolah yang telah menyukseskan kegiatan ini, serta menekankan pentingnya terus memupuk semangat inovasi dan gotong royong dalam setiap projek P5.

Pemukulan Gong

Karya Seni dan Buku sebagai Wujud Kreativitas Pelajar

Persembahan Tari Dari Peserta didik Kelas X

Acara berlanjut dengan penampilan seni dari siswa-siswi kelas X yang menghadirkan kekayaan budaya Indonesia. Di antaranya adalah Tari Saman dari Kelas XC, Tari Burung Enggang dari Kelas XE, dan Tari Benuo Taka Paser (Uok Botung) dari Kelas XE, yang berhasil memukau para penonton dengan gerakan dinamis, makna mendalam, dan pesan budaya lokal yang kuat.

Peluncuran Buku P5 Tema Bhinneka Tunggal Ika

Salah satu momen istimewa adalah peluncuran buku hasil karya siswa/i kelas XI yang mengangkat tema Bhinneka Tunggal Ika. Buku-buku tersebut menjadi bentuk nyata refleksi siswa terhadap keberagaman budaya Indonesia, dengan judul-judul inspiratif seperti:

Menjaga Harmoni Dalam Keberagaman – Kelas XIA Kalimantan Timur dalam Satu Warna – Kelas XIB Eksplorasi Cita Rasa Nusantara – Kelas XIC Menggali Permata Tersembunyi di Bumi Etam – Kelas XID Seputar Kalimantan: Kebudayaan, Keyakinan, Tradisi dan Mitos – Kelas XIE Jejak Lokal: Studi Keanekaragaman Hayati dan Budaya Daerah – Kelas XIF Lentera Kebhinekaan, Cahaya Masa Depan – Kelas XIG

Peluncuran ini dilakukan secara simbolis oleh Kepala Sekolah dan mendapat sambutan hangat dari seluruh hadirin.

Penghargaan untuk Prestasi: Lomba HARDIKNAS 2025

Pembagian Hadiah Lomba HARDIKNAS

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, turut diumumkan para pemenang lomba-lomba kreatif seperti Rangking 1, Baca Puisi, Poster Digital, dan Konten Kreatif. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan prestasi siswa:

Lomba Rangking 1: Juara 1 Henny Rahma Putri (XIC) Lomba Baca Puisi: Juara 1 Bintang Maharani (XIC) Lomba Poster Digital: Juara 1 Siti Lathifa Busainah (XB) Lomba Konten Kreatif: Juara 1 Kelas XI F

Tour Pameran dan Penilaian

Setelah itu, hadirin diajak untuk mengikuti tour pameran hasil karya siswa sekaligus sesi penilaian oleh guru dan fasilitator.

Menumbuhkan Karakter Pelajar Pancasila Melalui Inovasi

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa siswa SMA Negeri 1 Bontang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga mampu menjadi pelajar berkarakter kuat, berpikir kritis, kreatif, serta mencintai budaya bangsanya. Dengan semangat “Leading Innovation”, kegiatan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan jiwa Pancasila yang kokoh.

Acara ditutup dengan penuh kebanggaan dan rasa syukur, menjadi penanda bahwa proses belajar bermakna tidak selalu terjadi di dalam kelas, namun juga melalui ruang-ruang kreatif seperti Gelar Karya P5 ini.

Refleksi dari Webinar dan Bedah Buku Benteng Penjaga Danau Batur

NM. Adnyani

Hari ini saya mengikuti sebuah webinar nasional yang mengangkat sebuah karya tulis ekologis berjudul Benteng Penjaga Danau Batur. Buku ini dibedah oleh beberapa narasumber inspiratif, dan bagi saya, dua nama pembahas yang sangat bagus adalah Ida Bagus Wika Krishna dan I Gede Suwantana. Dari paparan mereka, saya tidak hanya diajak memahami isi buku, tetapi juga menelusuri makna terdalam dari air sebagai sumber kehidupan, serta tantangan besar kita dalam menjaganya.

Paparan demi paparan membawa saya pada satu kesadaran: air bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga unsur suci yang menopang kehidupan spiritual dan budaya kita. Kita menyebut air dengan berbagai nama sakral — tirtha, toya, amrta — sebagai simbol penyucian jiwa dan raga. Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kita justru menyaksikan berbagai bentuk eksploitasi dan pengabaian terhadapnya: pencemaran sumber air, pengalihfungsian danau dan mata air untuk kepentingan pariwisata masif, serta menurunnya rasa hormat terhadap kesakralan alam.

Di sinilah Benteng Penjaga Danau Batur menjadi bukan sekadar cerita, melainkan peringatan. Bahwa ketika manusia lupa pada relasi spiritualnya dengan alam, maka yang lahir bukan lagi kemakmuran, tetapi kehancuran.

Antroposentrik Menuju Ekosentris

Salah satu hal yang menggelitik kesadaran saya adalah cara kita memaknai Tri Hita Karana. Selama ini, konsep ini kita kenal sebagai Parahyangan – hubungan manusia dengan Tuhan, Pawongan – hubungan manusia dengan sesama, Palemahan – hubungan manusia dengan alam.

Namun dalam praktiknya, pendekatan ini sering kali bersifat antroposentrik. Alam diposisikan sebagai objek yang bisa dimanfaatkan sejauh memberi keuntungan bagi manusia. Kita sering lupa bahwa palemahan bukan hanya ‘lahan’, tetapi entitas hidup yang memiliki ruh, martabat, dan peran spiritual.

Paparan dari webinar ini menyentil kesadaran saya: sudah saatnya kita menafsirkan Tri Hita Karana secara ekosentris — di mana alam tidak berada di bawah manusia, melainkan setara sebagai sesama ciptaan Tuhan. Bahkan bisa juga secara teosentris, bahwa menjaga alam adalah bagian dari bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Langkah Konkret di Dunia Pendidikan

Sebagai pendidik, saya menyadari bahwa transformasi ekologis tidak akan berarti tanpa peran dunia pendidikan. Kesadaran saja tidak cukup; perlu diikuti dengan langkah konkret. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan dalam konteks sekolah dan pembelajaran:

1. Integrasi Nilai Ekologis dalam Pembelajaran

Menghubungkan materi pelajaran dengan isu lingkungan lokal. Menjadikan danau, mata air, atau sungai sebagai objek belajar dalam berbagai mata pelajaran, baik agama, bahasa, IPS, bahkan seni.

2. Menanamkan Perspektif Ekosentris dalam Tri Hita Karana

Mengajak siswa melihat alam sebagai “sesama makhluk ciptaan”, bukan “sumber daya”. Menulis jurnal, esai, atau puisi tentang pengalaman mereka dengan alam sekitar.

3. Proyek dan Aksi Nyata

Melakukan aksi lingkungan: bersih-bersih sungai, dan menanam pohon

4. Penguatan Budaya Sekolah Ramah Lingkungan

Membentuk komunitas “Penjaga Alam” di sekolah. Membuat peraturan atau kebiasaan kelas yang mencerminkan nilai-nilai keberlanjutan. Menerapkan prinsip reduce-reuse-recycle dalam aktivitas sehari-hari.

5. Keteladanan Guru sebagai Agen Perubahan

Menampilkan gaya hidup yang sederhana, sadar lingkungan, dan spiritual. Menyisipkan pesan ekologis dalam dharma wacana atau kegiatan keagamaan sekolah. Berkolaborasi dengan komunitas lokal dalam proyek lingkungan.

Menjadi Benteng Penjaga Itu Tanggung Jawab Bersama

Benteng Penjaga Danau Batur memberi saya pelajaran penting: menjaga alam bukan tugas satu dua orang, tapi panggilan kolektif. Terutama bagi kita yang bekerja di dunia pendidikan, tanggung jawab ini menjadi bagian dari misi kita untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga arif dan welas asih terhadap alam.

Karena pada akhirnya, menjaga danau, menjaga air, menjaga alam — adalah menjaga kehidupan itu sendiri.

Merayakan Perbedaan: Ketika Kita Semua Berjalan di Jalan yang Berbeda

NM. Adnyani

“Kita hidup dalam keberagaman yang nyata—berbeda cara berpikir, berbeda cara berpakaian, berbeda harapan. Tapi jauh di dalam hati, kita semua ingin hal yang sama: dihargai, dimengerti, dan dicintai.”

Beberapa waktu lalu, aku merenung setelah melihat tiga potret yang sangat berbeda: Seorang nenek dengan kebaya tradisional yang duduk tenang dalam acara budaya, Seorang gadis muda dari komunitas adat yang tersenyum penuh percaya diri, Dan seorang perempuan muda bercadar, dengan mata yang tajam namun lembut.

Ketiganya datang dari dunia yang berbeda—budaya, keyakinan, cara pandang hidup—namun masing-masing dari mereka menyimpan cerita yang dalam tentang siapa diri mereka, bagaimana mereka memahami kehidupan, serta apa yang mereka harapkan dan takutkan.

Pada Gambar ini, Mereka adalah penjaga nilai-nilai lama. Dari raut wajah dan pakaian yang dikenakan, kita bisa merasakan kekayaan tradisi yang mereka warisi dan hidupi sepanjang hidupnya.

Ketakutan mereka bisa jadi adalah: Budaya yang perlahan hilang karena generasi muda tak lagi tertarik. Anak cucu yang tumbuh tanpa akar—tanpa tahu dari mana mereka berasal. Dunia yang bergerak terlalu cepat, hingga tak memberi ruang untuk nilai-nilai lama bertahan.

Harapan mereka mungkin: Tradisi dan budaya leluhur tetap hidup dan diteruskan. Nilai-nilai kesederhanaan, gotong royong, dan hormat pada yang tua tetap dijunjung. Generasi muda tetap mau mendengar cerita dan belajar dari masa lalu.

Pada gambar ini, Senyumnya menggambarkan kebanggaan—bahwa menjadi bagian dari komunitas adat adalah identitas, bukan beban. Ia tampil dengan percaya diri di tengah dunia yang mungkin memandangnya asing.

Ketakutan yang mungkin ia simpan: Kehilangan jati diri karena tekanan dunia luar. Diskriminasi dan tidak dihargainya budaya yang ia banggakan. Alam tempat ia hidup rusak oleh kepentingan ekonomi atau politik.

Harapan yang mungkin ada dalam hatinya: Dunia bisa menghargai keberagaman dan keindahan budaya lokal. Ia tetap bisa maju—berpendidikan, berkarya—tanpa harus melepaskan identitasnya. Suatu hari, budaya komunitasnya tidak hanya bertahan, tapi juga dikagumi.

Mata itu berbicara banyak. Di balik cadarnya, ia mungkin sedang menyuarakan keberanian untuk hidup setia pada keyakinannya, meski dunia sering kali salah paham.

Ketakutan yang bisa ia rasakan: Dicap dan dinilai hanya dari penampilan. Dibatasi atau bahkan disalahpahami oleh lingkungan sekitar. Tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan diri secara utuh.

Harapan yang mungkin ia miliki: Bisa hidup aman dan damai, bebas dari prasangka. Tetap bisa berpendidikan, berkarya, dan berkontribusi tanpa harus melepas keyakinan. Dihargai bukan karena tampilannya, tapi karena hati dan pikirannya.

Bagaimana Kita Menyikapi Semua Ini?

Perbedaan itu bukan ancaman, bukan pula alasan untuk merasa paling benar. Justru, perbedaan adalah wajah nyata dari kehidupan itu sendiri.

🌈 Maka, mari kita menyikapi perbedaan dengan:

Rasa hormat: Menghargai pilihan dan jalan hidup orang lain, meskipun tak sama.

Empati: Berusaha memahami dunia dari sudut pandang mereka.

Kesadaran: Bahwa kita pun memiliki cara pandang yang unik.

Pencarian titik temu: Karena di balik perbedaan, kita punya harapan yang sama.

Kemauan untuk belajar: Karena dunia ini terlalu kaya untuk kita pahami dari satu sudut saja.

Pada Akhirnya….

Setiap orang punya jalannya sendiri. Kita semua sedang mencari tempat, makna, dan cahaya di dunia yang luas ini. Jangan buru-buru menghakimi, jangan mudah merasa paling tahu. Mari kita saling menyapa, saling menerima, dan saling belajar. Karena dunia yang damai, bukan dibangun oleh keseragaman, tapi oleh keberagaman yang saling menghargai.

Ini Hasil Belajarku di #LKLB

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis