SMA Negeri 1 Bontang Hadirkan Sosialisasi FKIP Unmul untuk Siswa Kelas XII

Gadisa Fatimatu Azzahra

Bontang, 1 Agustus 2025 — Dalam rangka memberikan informasi dan motivasi kepada siswa kelas XII yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, SMA Negeri 1 Bontang menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman (Unmul). Kegiatan ini berlangsung pada Jumat pagi, 1 Agustus 2025, bertempat di aula sekolah dan diikuti oleh seluruh siswa kelas XII.

Sosialisasi menghadirkan narasumber Sukemi, S.Pd., M.Sc., yang merupakan perwakilan dari FKIP Unmul. Dalam pemaparannya, beliau memaparkan sejarah pendirian FKIP Unmul yang berawal dari Presidium IKIP Samarinda sejak tahun 1972, kemudian resmi menjadi bagian dari Universitas Mulawarman berdasarkan pengukuhan oleh Gubernur Kalimantan Timur saat itu, A. Wahab Syahranie.

FKIP Unmul saat ini memiliki 17 program studi jenjang sarjana (S1), 1 program magister (S2), dan 1 program doktor (S3). Beberapa jurusan telah mengantongi akreditasi internasional, dan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris sedang dalam proses pengajuan akreditasi serupa.

Sukemi juga menjelaskan berbagai jalur penerimaan mahasiswa baru, yaitu SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi), SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes), dan SMMPTN (Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Tak kalah penting, disampaikan pula informasi terkait berbagai jenis beasiswa, antara lain Beasiswa Gratispol Kaltim, Beasiswa Bank Indonesia, Beasiswa BRI, dan beasiswa prestasi lainnya.

Salah satu informasi yang cukup menarik perhatian para siswa adalah sistem kelulusan tanpa skripsi di beberapa program studi FKIP Unmul, yang menurut Sukemi bertujuan untuk menyesuaikan dengan kurikulum berbasis praktik dan kebutuhan dunia kerja. Ia juga berbagi kisah inspiratif tentang pengalaman magangnya di luar negeri, termasuk kunjungan akademik ke universitas di Thailand melalui program beasiswa internasional.

Kegiatan ini berlangsung interaktif, dengan para siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama sesi tanya jawab. Banyak dari mereka yang mengajukan pertanyaan tentang program studi, peluang beasiswa, serta kehidupan kampus secara umum.

Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 1 Bontang, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam mendampingi siswa menentukan pilihan masa depan.

“Kami ingin siswa tidak hanya fokus pada kelulusan, tetapi juga siap menentukan arah pendidikan tinggi dengan bekal informasi yang memadai. Sosialisasi seperti ini penting untuk membuka wawasan mereka tentang peluang studi, baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Adnyani.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan serupa akan terus diadakan bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi guna memperluas referensi siswa dalam memilih kampus yang sesuai dengan minat dan potensi mereka.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bontang semakin termotivasi dan siap melangkah menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sesuai dengan visi sekolah dalam mencetak lulusan yang unggul, mandiri, dan berdaya saing.

Editor: NM. Adnyani

Dokumentasi: Nizam – Tim Jurnalistik SMAN 1 Bontang

Nachiketa dan Pintu Rahasia Kehidupan

Katha Upanishad (1.1 – 2.3)

Bagian 1: Yajña dan Pertanyaan Seorang Anak

Di sebuah desa yang sunyi, ketika kabut pagi masih bergelayut di antara ladang dan hutan, seorang brahmana terkemuka bernama Vajasravas tengah bersiap melaksanakan yajña besar. Ia ingin mempersembahkan hartanya demi mencapai kebajikan dan surga.

Di halaman rumahnya yang luas, sapi-sapi tua berjalan perlahan. Tubuh mereka kurus, gigi mereka ompong, dan tak lagi bisa menghasilkan susu. Tapi sapi-sapi itulah yang akan ia persembahkan dalam ritual suci.

Anaknya, Nachiketa, remaja cerdas dan jujur, menyaksikan hal itu dari kejauhan. Hatinya terusik. Ia tahu, yajña bukan hanya soal ritual, tapi soal ketulusan dan kejujuran dalam memberi.

Ia mendekati ayahnya perlahan.

“Ayah, apakah sapi-sapi tua ini akan benar-benar membawa engkau ke surga?”

Ayahnya hanya melirik tajam, menahan kesal.

“Ayah,” lanjut Nachiketa lagi, “kepada siapa Ayah akan menyerahkan aku jika semua sudah diberikan?”

“Diam, anak kecil! Jangan banyak bertanya!”

Namun Nachiketa tetap berdiri di sana, tak gentar, mengulang pertanyaannya hingga tiga kali. Akhirnya sang ayah, terbakar oleh rasa malu dan emosi, menjawab:

“Aku menyerahkanmu kepada Yama, Dewa Kematian!”

Hening. Udara seperti membeku. Nachiketa tidak menangis. Ia justru membungkuk hormat kepada ayahnya.

“Jika itu kehendak Ayah, aku akan pergi.”

Bagian 2: Langkah Kecil Menuju Dunia Kematian

Tanpa air mata, tanpa dendam, Nachiketa berjalan sendirian menuju gerbang dunia kematian. Jalan yang dilaluinya sunyi. Ia tidak tahu bagaimana caranya bertemu Dewa Yama, tapi keyakinan dalam hatinya menjadi cahaya penuntun.

Setelah menyeberangi lembah dan hutan metaforis, ia sampai di depan gerbang kerajaan Yama. Gerbang besar dari batu hitam berdiri megah, dijaga, suasana hening dan aura gaib. Tapi Yama sedang tak berada di istananya.

Nachiketa duduk di depan pintu. Hari berganti malam. Malam berganti pagi. Tiga hari dan tiga malam ia menunggu. Tidak makan. Tidak minum. Tapi tidak juga berkeluh kesah.

Bagian 3: Yama dan Tiga Permintaan

Saat Yama kembali, para pelayan memberitahu bahwa seorang anak suci telah menanti di depan pintu selama tiga hari.

Yama segera keluar. Ia menatap Nachiketa dengan takjub—seorang anak muda duduk tenang dalam cahaya batinnya sendiri.

“Wahai anak suci,” kata Yama, “karena engkau telah menunggu selama tiga malam tanpa disambut, aku merasa bersalah. Dalam tradisi dharma, tamu adalah seperti dewa. Maka, aku berikan tiga anugerah. Mintalah tiga permintaan.”

Nachiketa membungkuk hormat.

✨ Permintaan Pertama: Cinta Keluarga

“Semoga saat aku kembali ke dunia, Ayahku tak lagi marah, dan ia menerimaku kembali dengan penuh kasih.”

Yama mengangguk.

“Ayahmu akan tidur dengan tenang malam ini. Saat engkau kembali, ia akan memelukmu dengan cinta.”

🔥 Permintaan Kedua: Api Surga

“Ajarkan kepadaku rahasia api suci (agni vidya) yang bisa membawa jiwa menuju surga.”

Yama tersenyum.

“Permintaanmu tidak egois. Baik, akan kuajarkan.”

Yama lalu mengajarkan rahasia api pengorbanan, simbol energi ilahi yang membimbing jiwa menuju moksha. Api itu diberi nama Nachiketa Agni, sebagai penghormatan.

❓ Permintaan Ketiga: Misteri Kematian

Nachiketa menatap mata Dewa Kematian.

“Aku ingin tahu: apa yang terjadi setelah kematian? Apakah jiwa tetap ada, atau lenyap begitu saja?”

Yama terdiam.

“Bahkan para dewa pun tak paham soal ini. Pertanyaan ini berat, terlalu dalam. Jangan minta ini, Nachiketa. Minta yang lain saja.”

Tapi Nachiketa tidak gentar.

“Engkau bisa memberiku kerajaan, kuda, gajah, emas, umur panjang—tapi semua itu akan berlalu. Apa artinya semua itu, jika aku tetap tak tahu kebenaran sejati?”

Yama menatapnya dalam-dalam. Ia melihat tidak hanya keberanian dalam diri anak itu, tetapi juga ketulusan spiritual.

🌌 Bagian 4: Pengetahuan Tertinggi

Yama akhirnya membuka rahasia Atman:

“Atman adalah jiwa sejati dalam dirimu. Ia tidak lahir, tidak mati, tidak bisa dibakar oleh api, tidak bisa dibasahi oleh air. Ia tidak pernah tua, tidak pernah hancur.”

“Ia adalah Brahman—hakikat segala sesuatu. Mengetahui Atman adalah bebas dari kelahiran dan kematian.”

Nachiketa mendengarkan dengan hati terbuka. Ia menyerap pengetahuan itu seperti bumi menyerap hujan. Ia telah mendapat apa yang bahkan para pertapa pun belum tentu bisa capai.

Yama tersenyum.

“Engkau telah memilih jalan kebenaran, bukan kesenangan. Maka, engkau akan mencapai kemuliaan abadi.”

🌺 Bagian 5: Kembali sebagai Jiwa Baru

Nachiketa pun kembali ke dunia. Ayahnya memeluknya dengan penuh cinta dan penyesalan. Tapi Nachiketa telah berubah. Ia bukan lagi anak biasa. Ia telah menjadi penyala cahaya pengetahuan, pembawa pesan tentang keberanian spiritual dan pencarian kebenaran.

🪞 Renungan untukmu, Pelajar Hindu

✨ Berani Bertanya, Berani Mencari

Kadang, pertanyaan kita dianggap terlalu sulit atau tak pantas. Tapi, seperti Nachiketa, keberanian untuk bertanya bisa membuka pintu kebenaran.

✨ Jangan Mudah Tergoda Dunia

Harta, pujian, kekuasaan—semua bisa memesona. Tapi hanya pengetahuan sejati yang membuat jiwa bebas.

✨ Jadilah Siswa Abadi

Belajarlah bukan hanya dari buku, tapi dari hidup. Setiap pilihan yang kita ambil adalah bagian dari perjalanan menuju dharma.

🪞 Refleksi untuk Pelajar

1. Apakah kamu pernah mempertanyakan kebenaran di sekitarmu, walau orang dewasa berkata “diam saja”?

2. Apa makna kesenangan dunia bagimu—dan apa yang kamu anggap sebagai “kebenaran”?

3. Nachiketa menolak kekayaan demi jawaban yang lebih tinggi. Apakah kamu siap menolak sesuatu yang menyenangkan demi sesuatu yang lebih bermakna?

4. Atman tidak bisa mati. Apa makna itu bagimu sebagai pelajar Hindu di zaman modern?

Guru SMAN 1 Bontang Diperkuat dengan Growth Mindset, Pembelajaran Mendalam, dan Asesmen Autentik melalui IHT

Aisyah Al Khumaira – Pers dan Jurnalistik SMANSA

Bontang, 30 Juli – 2 Agustus 2025 — Menyambut Tahun Pembelajaran 2025/2026, guru-guru SMA Negeri 1 Bontang mengikuti In House Training (IHT) bertema “Peningkatan Rapor Pendidikan: Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Asesmen Pembelajaran yang Autentik”. Kegiatan berlangsung selama empat hari penuh di Aula SMAN 1 Bontang, dari pukul 08.00 hingga 16.00 WITA.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala SMAN 1 Bontang, Sumariyah, S.Pd., M.Pd., dan dihadiri oleh Pengawas Pembina, Drs. Sudirman, M.Pd. beserta seluruh guru. Dalam sambutannya, kepala sekolah menegaskan bahwa IHT ini merupakan bagian dari strategi peningkatan rapor mutu pendidikan sekolah, khususnya pada komponen kualitas pembelajaran.

“Melalui pelatihan ini, kita ingin memperkuat posisi guru sebagai pembelajar sejati, agar mampu merancang pembelajaran yang mendalam, autentik, dan relevan bagi siswa kita di era perubahan yang cepat ini,” ujar Sumariyah.

Fokus pada Transformasi Mindset dan Inovasi Pembelajaran

IHT menghadirkan dua narasumber utama: Muhammad Fajrin Arifah, M.Pd. (BGTK Provinsi Kalimantan Timur) Suharman, M.Pd. (BPMP Provinsi Kalimantan Timur)

Selama pelatihan, guru diperkuat dalam tiga aspek penting: Growth Mindset Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Asesmen Autentik dan Reflektif

Growth Mindset menjadi pondasi transformasi. Guru diajak memahami bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui proses belajar, usaha, dan refleksi. Pendekatan ini dilatih melalui strategi seperti: Memberikan apresiasi terhadap proses belajar, bukan hanya hasil Membangun kebiasaan “The Power of Yet” Mengadopsi konsep productive failure, di mana kegagalan menjadi bagian dari proses belajar

Membangun Pembelajaran Mendalam

Pelatihan membekali guru dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang mengutamakan: Pemahaman konseptual yang kuat Keterkaitan antarmateri Pengalaman belajar yang aktif dan kolaboratif

Guru dilatih untuk merancang pembelajaran berbasis proyek, mengintegrasikan literasi digital, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, inklusif, dan bermakna.

Asesmen Autentik: Menilai Proses dan Capaian

Dalam hal penilaian, guru diperkenalkan pada asesmen yang mencerminkan kemampuan riil siswa, meliputi: Asesmen awal: untuk memetakan kesiapan belajar Asesmen proses (kondisional): untuk memantau perkembangan Asesmen akhir: berupa proyek, portofolio, atau presentasi sebagai bukti capaian belajar

Praktik Media Presentasi dan Penyusunan RPM

Ketua panitia IHT, Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang dengan target konkret:

“Target dari IHT ini adalah tersusunnya RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam) untuk setiap mata pelajaran, lengkap dengan asesmen pembelajaran dan media presentasi dalam bentuk PowerPoint yang dirancang menggunakan Canva,” jelasnya.

Pada hari ketiga, peserta fokus mengikuti pelatihan pembuatan media presentasi di Canva, sementara hari keempat didedikasikan untuk penyelesaian perangkat pembelajaran, meliputi RPM, asesmen, dan media pendukung.

Menuju Pendidikan yang Reflektif dan Transformatif

Dengan pelatihan ini, guru SMAN 1 Bontang diposisikan tidak hanya sebagai pengajar, melainkan sebagai fasilitator pembelajaran mendalam dan agen perubahan pendidikan.

“Harapan kami, lulusan SMAN 1 Bontang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga tangguh, kolaboratif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan,” tutup Sumariyah.

Editor: NM. Adnyani

Dokumentasi: Tim Jurnalistik SMAN 1 Bontang (Andi Bhilkhair)

Cinta yang Tidak Lagi Ingin Memiliki”

NM. Adnyani

Dalam sunyi keterbatasan,

aku menemukan kelegaan:

Bahwa aku tak harus sempurna

untuk bisa mencintai.

Aku tidak punya segalanya,

tapi hatiku tidak kosong.

Aku tidak memiliki dirimu,

tapi aku tak kehilangan cinta.

Karena cinta bukan menggenggam,

tapi mengizinkan hati bernapas.

Bukan menuntut tempat,

tapi memberi ruang.

Kini aku tahu—

mencintai tanpa ingin memiliki,

adalah bentuk kebebasan

yang hanya bisa lahir dari kejujuran

pada diriku sendiri.

Perjalanan Paling Indah Adalah Kembali ke Diri Sendiri

NM. Adnyani

Aku pernah melarikan diri. Bukan dari masalah besar. Bukan dari kerumunan. Tapi dari… seseorang.

Seseorang yang pernah membuat hatiku berdetak tanpa aba-aba.

Hari itu biasa saja. Aku duduk di dalam mobil, mungkin sedikit lelah, mungkin sedikit acak-acakan. Lalu, tanpa rencana, dia lewat. Sosok yang dulu sempat memenuhi pikiranku. Aku mengenalnya. Jantungku langsung bereaksi.

Apa yang kulakukan? Aku menunduk. Aku tidak menyapa. Bahkan rasanya aku pura-pura tidak ada di sana. Seolah dengan menahan napas, aku bisa menghapus eksistensiku dari semesta untuk beberapa detik.

Dulu, aku mungkin akan kesal. Kenapa aku tidak lebih siap? Kenapa aku tidak menyapa? Kenapa aku masih begini?

Tapi hari itu berbeda. Aku tertawa. Bukan tertawa mengejek, tapi tertawa yang penuh kasih. Tawa yang muncul dari seseorang yang akhirnya bisa berkata pada dirinya sendiri:

“Nggak apa-apa, kamu lucu aja, Tapi kamu juga luar biasa.”

Momen itu, yang dulu bisa membuatku malu setengah mati, kini menjadi kenangan hangat. Sebab aku sudah tidak lagi menjadi hakim bagi diriku sendiri. Aku adalah sahabat. Aku adalah pelindung. Aku adalah rumah.

Dan rumah itu tak pernah mengusir penghuninya hanya karena ia kadang gugup atau canggung. Rumah itu memahami bahwa keberanian tidak selalu datang saat dibutuhkan. Tapi ia tumbuh, perlahan, bersamaan dengan penerimaan.

Kita terlalu sering mendikte diri sendiri untuk selalu kuat, selalu siap, selalu anggun. Tapi kadang, tubuh kita hanya ingin… pergi. Hati kita hanya ingin… diam. Dan pikiran kita butuh waktu untuk memahami semuanya.

Aku hanya sedang menunggu momen untuk memahami bahwa pertemuan paling penting bukanlah dengan dia, tetapi dengan diriku sendiri.

Aku yang Sekarang Adalah Versi yang Kupilih

Yang paling aku syukuri hari ini bukanlah karena aku sudah berani menyapa dia—karena mungkin aku masih belum. Tapi karena aku sudah berani menyapa aku yang sebenarnya.

Aku yang kadang lari, kadang tertawa sendiri, kadang memeluk perasaan dengan pelan-pelan. Aku yang tidak sempurna, tapi sungguh layak dicintai. Aku yang mungkin tidak terlalu kuat, tapi tidak pernah menyerah.

Aku suka menjadi aku yang sekarang. Aku suka senyum yang muncul saat mengingat versi diriku yang dulu. Aku suka cara diriku tumbuh, tidak dengan teriakan atau sorakan, tapi dengan penerimaan yang sunyi namun dalam.

Cinta Sejati Itu Dimulai dari Sini

Sekarang aku tahu: Perjalanan paling indah bukanlah menuju cinta dari orang lain, tapi menuju cinta pada diri sendiri.

Sebab saat aku bisa mencintai diriku dalam segala versinya—yang gugup, yang malu, yang diam, yang tertawa sendiri—aku tidak lagi takut bertemu siapa pun. Bahkan bila suatu hari aku bertemu dia lagi, aku tahu siapa yang akan kusapa lebih dulu: Diriku sendiri.

Adnyani: Sebuah Nama, Sebuah Makna, Sebuah Jalan Kehidupan

NM. Adnyani

Dalam setiap nama, tersimpan cerita. Dalam setiap suku kata, bersemayam doa dan harapan. Begitu pula dengan namaku — Adnyani — sebuah nama yang telah menemaniku menapaki berbagai jejak kehidupan, dari kelahiran hingga pencarian makna diri.

Tapi… apa sebenarnya arti dari nama ini?

📖 Asal-usul Nama “Adnyani”

Nama Adnyani berakar dari bahasa Sanskerta, bahasa kuno yang menjadi sumber dari banyak istilah suci dan filosofis dalam tradisi Hindu. Kata dasarnya adalah “jñāna” (ज्ञान) yang berarti pengetahuan sejati, kebijaksanaan, atau kesadaran spiritual. Dari akar kata ini, lahirlah banyak bentuk turunan yang menunjukkan hubungan manusia dengan ilmu, kebijaksanaan, dan pencerahan batin.

Namun, dalam struktur bahasa Bali — yang mengadopsi dan menyesuaikan bahasa Sanskerta — “Adnyani” telah menjadi bentuk utuh yang merujuk pada seorang perempuan yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan. Nama ini bukan berarti “tidak tahu” (meskipun awalan a- dalam Sanskerta bisa berarti tidak atau tanpa), melainkan sudah menjadi istilah yang mengandung makna positif dan luhur dalam tradisi Bali.

🌸 Adnyani: Lebih dari Sekadar Nama

Ketika aku menyebut namaku, aku menyebut sekaligus sebuah identitas: perempuan yang belajar, mencari, dan mencintai kebijaksanaan. Bukan hanya dalam konteks akademik atau pengetahuan duniawi, tapi juga dalam perjalanan batin — memahami diri, dunia, dan Tuhan.

Namaku menjadi pengingat bahwa aku dipanggil untuk tidak sekadar hidup, tapi menjadi sadar dalam hidup. Menyadari apa yang aku pikirkan, rasakan, dan lakukan. Menjadi pribadi yang terus bertumbuh dalam kebijaksanaan — bahkan dari luka, kehilangan, dan ketidaksempurnaan.

🌿 Dalam Tradisi dan Harapan

Dalam tradisi Bali, nama seperti Adnyani diberikan bukan sembarangan. Ia adalah warisan budaya, doa dari para leluhur, dan sekaligus harapan orang tua agar anak perempuannya kelak tumbuh menjadi sosok yang cerdas, bijak, dan berkarakter luhur.

Dan hari ini, aku ingin menyambut nama itu sepenuhnya — bukan sekadar sebagai label, tapi sebagai jalan hidup. Aku ingin menjadi layak menyandangnya, bukan karena aku sudah sempurna, tapi karena aku terus belajar.

✨ Adnyani di Cermin Diriku

Ada hari-hari di mana aku merasa tidak cukup pintar. Tidak cukup kuat. Tidak cukup baik. Tapi dalam sunyi, aku sering mengulang namaku dalam hati: “Aku adalah Adnyani. Aku adalah pembelajar. Aku dicipta untuk mencari cahaya.”

Dan pelan-pelan, aku kembali ingat bahwa nama bukan sekadar pemberian, tapi panggilan. Panggilan untuk menjadi versi terbaik dari diriku, dengan kebijaksanaan sebagai cahaya penuntun.

Karena itu, bagi siapa pun yang memanggilku Adnyani, ketahuilah: namaku adalah doa. Dan aku sedang berjalan menuju maknanya. 🌺

Mrigari, Pemburu yang Berubah Menjadi Bhakta

Garuda Purana, Narada Bhakti Sutra

Dahulu kala, di tepi hutan Vindhya, hidup seorang pemburu bernama Mrigari. Namanya berarti “Pembunuh Hewan”. Ia tidak hanya membunuh untuk bertahan hidup, tapi juga menikmati melihat hewan-hewan itu menderita.

Ia akan melukai rusa, burung, dan kelinci, lalu membiarkannya mati perlahan-lahan. Ia tersenyum saat melihat hewan-hewan itu menggeliat kesakitan.

Suatu hari, seorang resi agung bernama Narada Muni melintasi hutan itu. Saat melihat jejak-jejak penderitaan hewan di sepanjang jalan, hatinya terenyuh. Ia tahu ini bukan ulah alam, tapi manusia.

Narada pun mencari pelakunya dan bertemu Mrigari yang tengah bersiap membidik rusa.

“Wahai pemburu,” kata Narada lembut,

“Mengapa engkau tidak membunuh hewan itu langsung? Mengapa menyiksanya lebih dulu?”

Mrigari menjawab santai,

“Aku suka melihat mereka meronta. Rasanya menyenangkan.”

Narada terdiam sejenak, lalu bertanya dengan penuh kebijaksanaan,

“Apakah keluargamu bersedia menerima akibat dosa dari perbuatanmu?”

Pertanyaan itu menghentikan tawa Mrigari. Ia tidak pernah memikirkannya. Narada menyuruhnya pulang dan bertanya langsung pada istri dan anaknya.

Keesokan harinya, Mrigari kembali dengan wajah gelisah.

“Mereka tidak mau… Mereka bilang aku yang berdosa, aku yang menanggung,” katanya pelan.

Narada tersenyum. Ia tahu inilah momen kebangkitan jiwa.

“Kalau begitu,” kata Narada,

“Buanglah senjatamu. Duduklah di bawah pohon. Ucapkanlah Nama Suci Narayana, ulangi terus setiap hari. Jangan sakiti siapa pun lagi.”

Mrigari, yang hatinya mulai berubah, menurut. Ia meletakkan panah, duduk di bawah pohon, dan mulai mengucap nama Tuhan:

“Narayana… Narayana…”

Hari demi hari, minggu demi minggu, ia terus menyebut nama itu. Tubuhnya ditumbuhi semak dan sarang semut, tapi ia tetap diam, tenggelam dalam cinta suci kepada Tuhan.

Lama kelamaan, ia berubah. Ia tidak lagi membenci atau menyakiti makhluk hidup. Ia menjadi lembut. Bahkan, ia menangis saat seekor semut tak sengaja ia injak.

Tahun-tahun berlalu. Ketika Narada kembali ke hutan itu, ia melihat sosok bersinar duduk damai di bawah pohon. Hewan-hewan berkumpul di sekitarnya, tanpa rasa takut. Itulah Mrigari — si pemburu yang telah menjadi bhakta sejati.

Nilai Moral

1. Tidak ada manusia yang terlalu jahat untuk berubah.

2. Ketulusan dan pengucapan Nama Tuhan (Japa) bisa menyucikan hati.

3. Bhakti membuka jalan dari kegelapan menuju cahaya. Menyakiti makhluk hidup berarti menumpuk karma buruk.

Kaitan dengan Ajaran Hindu

1. Dalam Bhakti Yoga, pengucapan nama Tuhan adalah sarana spiritual utama untuk menyucikan diri.

2. Ahimsa (tidak menyakiti makhluk hidup) adalah prinsip utama dalam ajaran Dharma.

3. Karma Phala mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan kembali pada pelakunya. Transformasi batin merupakan tujuan sejati dalam hidup spiritual.

Pertanyaan Reflektif

1. Apa yang membuat Mrigari akhirnya berubah?

2. Bagaimana pengaruh Narada terhadap perubahan Mrigari?

3. Apa makna pengucapan Nama Suci dalam kehidupan spiritual?

4. Pernahkah kalian merasa ingin berubah dari kebiasaan buruk? Apa yang memotivasimu?

5. Bagaimana kamu menerapkan prinsip ahimsa dalam kehidupan sehari-hari?

Prahlada: Anak yang Dicintai Tuhan

Bhagavata Purana, Skanda 7

Pada suatu zaman di bumi ini, hiduplah seorang raja raksasa yang sangat kuat. Namanya Hiranyakashipu. Ia memiliki istana megah, tentara yang banyak, dan kekuasaan atas seluruh dunia. Tapi ada satu hal yang sangat ia inginkan lebih dari segalanya.

“Aku ingin semua makhluk menyembahku sebagai Tuhan!” katanya dengan mata menyala-nyala.

Ia pun pergi bertapa lama sekali hingga Dewa Brahma muncul dan memberi anugerah: tak ada yang bisa membunuhnya—bukan manusia, bukan binatang, bukan di siang atau malam, bukan di dalam atau di luar rumah, bukan di darat, air, atau udara. Dengan merasa tak terkalahkan, Hiranyakashipu jadi sombong dan melarang siapa pun menyembah Tuhan Vishnu.

Tapi… Tuhan punya rencana yang berbeda.

Kelahiran Prahlada

Di istana Hiranyakashipu, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil yang diberi nama Prahlada. Ia tumbuh menjadi anak yang ramah, bijak, dan penuh kasih. Sejak dalam kandungan, ibunya pernah tinggal di asrama seorang resi bijak bernama Narada Muni, yang mengajarkan tentang cinta kepada Tuhan Vishnu.

Itulah sebabnya, sejak kecil, Prahlada sangat mencintai Tuhan Vishnu. Ia suka duduk tenang dan menyanyikan nama Tuhan:

“Om Namo Narayanaya… Om Namo Narayanaya…”

Ia tahu, Tuhan ada di mana-mana. Di bunga, di udara, di hati setiap makhluk, bahkan di dalam dirinya sendiri.

Raja yang Murka

Ketika ayahnya tahu bahwa Prahlada menyembah Tuhan Vishnu, ia sangat marah.

“Kenapa kau menyembah musuhku? Aku ini rajamu, ayahmu, dan Tuhammu!” teriak Hiranyakashipu.

Tapi Prahlada menjawab lembut:

“Ayah, Tuhan Vishnu bukan musuh. Ia adalah sahabat semua makhluk. Ia juga Tuhan ayah.”

Hiranyakashipu gemetar karena amarah. Ia memerintahkan pasukan untuk menghukum Prahlada agar berhenti mencintai Vishnu.

Ujian-ujian Ajaib

Tapi sesuatu yang aneh terjadi…

Ketika Prahlada dilempar ke dalam api, api tak membakarnya. Api justru menjilat bibi Holika yang jahat, sementara Prahlada duduk tenang sambil menyebut nama Tuhan. Ketika gajah besar menginjaknya, gajah itu malah berlutut dan memeluk Prahlada. Ketika ular berbisa mengelilinginya, ular-ular itu tidur tenang seolah mendengar nyanyian yang menenangkan. Ketika diracun, racun itu berubah menjadi manis seperti air kelapa.

Setiap kali Prahlada disiksa, ia tidak pernah menangis. Ia hanya tersenyum dan berdoa, karena ia tahu Tuhan selalu ada di sisinya.

Pilar dan Keajaiban

Suatu hari, Hiranyakashipu semakin tidak sabar.

“Kalau Tuhanmu memang ada di mana-mana,” katanya, “apakah Dia ada di dalam pilar ini?”

Prahlada mengangguk yakin. “Ya, Ayah. Tuhan ada di mana saja. Bahkan di pilar ini.”

Dengan amarah membara, Hiranyakashipu memukul pilar itu sekuat tenaga. Dan… BRAAAKK!

Dari dalam pilar muncul cahaya besar, lalu suara menggelegar:

“AUMMMM!!!”

Keluar dari pilar itu sosok menakjubkan—setengah manusia, setengah singa—dialah Narasimha, perwujudan Tuhan Vishnu!

Tuhan Memeluk Prahlada

Dengan kekuatan dahsyat, Narasimha mengangkat Hiranyakashipu, membaringkannya di ambang pintu (bukan di dalam atau luar), saat senja (bukan siang atau malam), dan membunuhnya dengan cakarnya (bukan senjata).

Tapi setelah itu, Tuhan Narasimha masih sangat marah.

Tak ada satu dewa pun yang berani mendekat… kecuali Prahlada.

Anak kecil itu mendekat perlahan, menatap wajah singa Tuhan dengan penuh cinta, lalu bersujud.

“Tuhan… Aku tidak takut pada ayahku. Aku hanya takut melupakan-Mu.”

Mendengar itu, Narasimha tersenyum dan memeluk Prahlada. Amarah-Nya pun mereda. Tuhan berkata:

“Engkau adalah anak-Ku yang sejati. Kau telah menunjukkan bahwa cinta dan kepercayaan bisa mengalahkan kekuatan paling jahat sekalipun.”

Prahlada Sang Raja Bijak

Setelah itu, Prahlada diangkat menjadi raja. Tapi ia tak pernah sombong. Ia tetap sederhana, ramah, dan penuh kasih. Ia mengajarkan kepada semua orang untuk berdoa, jujur, dan tidak takut mencintai Tuhan, bahkan dalam keadaan sulit.

🌼 Pesan untuk Anak-anak:

Seperti Prahlada, kalau kita setia pada kebaikan, berani mencintai Tuhan, dan tidak membalas kejahatan dengan kebencian… maka Tuhan pun akan selalu melindungi dan memeluk kita dalam kasih-Nya yang luas tak terhingga.

Sesi II Seminar Penguatan Karakter SMAN 1 Bontang: Tanamkan Nasionalisme dan Kebhinekaan di Kalangan Siswa

Sahira Prameswari Putri

Bontang, 25 Juli 2025 – Sesi kedua dari rangkaian Seminar Penguatan Karakter di SMAN 1 Bontang sukses digelar pada Kamis, 24 Juli 2025, mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WITA, bertempat di Aula sekolah. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan Rapor Mutu Sekolah, khususnya pada indikator iklim keamanan dan iklim kebhinekaan, serta bertujuan menumbuhkan karakter siswa yang nasionalis, toleran, dan bertanggung jawab.

Nasionalisme sebagai Fondasi Kebhinekaan

Materi dalam sesi kedua ini disampaikan oleh narasumber dari Babinsa Bontang Utara, yaitu Peltu Humam, yang mengangkat tema “Kebhinekaan dan Nasionalisme: Pilar Bangsa yang Tangguh”.

Dalam pemaparannya, Peltu Humam menekankan pentingnya membangun sikap toleransi dan semangat kebangsaan sejak dini, terutama di lingkungan sekolah yang majemuk.

“Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari satu kelompok saja. Ia lahir karena semangat persatuan dalam keberagaman. Kita harus terus menjaga itu,” ujarnya.

Beliau juga mengajak siswa untuk menyadari bahwa nasionalisme tidak sekadar simbolik, tetapi harus tercermin dalam sikap menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Suasana Patriotik dan Partisipatif

Kegiatan berlangsung interaktif dan inspiratif. Para siswa menyambut materi dengan antusias, terutama saat sesi menyanyikan lagu-lagu nasional dan pembacaan Sumpah Pemuda yang dipandu bersama narasumber.

Beberapa siswa pun memberikan tanggapan dan refleksi pribadi mereka:

🔹 Prameswari (XI) menyampaikan,

“Saya bangga bisa menjadi bagian dari Indonesia yang beragam. Materi ini membuat saya lebih paham bahwa menjaga persatuan dimulai dari diri sendiri.”

🔹 Chalika (XI) juga menambahkan,

“Sesi ini membekali kami untuk menjadi pelajar yang tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter kuat dan menghargai perbedaan.”

Penyerahan Sertifikat Apresiasi

Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dalam menyukseskan seminar ini, panitia memberikan sertifikat apresiasi kepada narasumber, Peltu Humam. Sertifikat diserahkan langsung oleh Ibu Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan juga Ketua Panitia Seminar Penguatan Karakter.

Dalam sambutannya, Ibu Adnyani menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini adalah bagian dari proses membangun generasi yang sadar Kebhinekaan

“Kami ingin siswa SMAN 1 Bontang menjadi generasi yang bukan hanya unggul secara akademis, tetapi juga bijak bersikap dalam keberagaman. Nasionalisme itu harus hidup dalam tindakan,” tegasnya.

Langkah Nyata Menuju Sekolah yang Aman dan Inklusi

Seminar Penguatan Karakter ini menjadi langkah nyata SMAN 1 Bontang dalam menciptakan iklim sekolah yang ramah, aman, dan mendukung keberagaman. Melalui sesi kedua ini, diharapkan para siswa tidak hanya menyerap pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap positif yang memperkuat persatuan dan membangun budaya sekolah yang toleran dan inklusif.

📝 Editor: NM. Adnyani

📸 Dokumentasi oleh Jurnalistik SMANSA dan Mahasiswa KKN Universitas Mulawarman

Seminar Penguatan Karakter di SMAN 1 Bontang: Membangun Iklim Sekolah yang Aman dan Inklusif dalam Kebhinekaan

Rihana Aura Chalika

Bontang, 24 Juli 2025 – SMA Negeri 1 Bontang sukses menggelar Seminar Penguatan Karakter bertema “Membangun Iklim Sekolah yang Aman dan Inklusif dalam Kebhinekaan”, bertempat di Aula sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas XI dan menjadi bagian dari upaya strategis sekolah dalam menanamkan nilai-nilai karakter, memperkuat kesadaran akan hak-hak anak, serta mencegah segala bentuk perundungan (bullying) dan kekerasan berbasis gender.

Pembukaan yang Penuh Semangat dan Edukasi

Seminar dimulai pukul 07.30 WITA dengan nuansa penuh semangat. Lagu “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” membuka acara, dipandu langsung oleh Ibu Made Adnyani, S.Ag., M.Pd., selaku koordinator kegiatan sekaligus Ketua Panitia Pelaksana. Beliau didampingi oleh mahasiswa KKN dari Universitas Mulawarman yang turut aktif dalam kegiatan.

Acara dibuka secara resmi oleh MC Kak Vey, yang mengajak seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Bapak Erwin Riyadi, S.Pd.

Ibu Made Adnyani kemudian menyampaikan laporan kegiatan sebagai ketua panitia, disusul sambutan dari Kepala SMA Negeri 1 Bontang, Ibu Sumariyah, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu karakter siswa, terutama menjelang pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).

Sesi I: Edukasi Perlindungan Anak dan Bahaya Perundungan

Materi pertama dibawakan oleh Ibu Trully Tisna Milasari, S.Psi., narasumber dari DP3AKB Kota Bontang. Beliau memaparkan materi bertajuk:

“Tolak Segala Bentuk Perundungan dan Kekerasan Berbasis Gender Online”.

Dalam paparannya, Ibu Trully menjelaskan tentang UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002, yang menyebutkan bahwa anak adalah individu di bawah usia 18 tahun, termasuk janin dalam kandungan. Empat hak dasar anak—hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi—dibahas secara mendalam.

Untuk menyegarkan suasana, seluruh siswa diajak melakukan “Tepuk Tangan Hak Anak” yang dipimpin oleh Ibu Made Adnyani.

Selain hak, kewajiban anak juga dibahas, seperti belajar, membantu orang tua, menghormati guru, dan mencintai bangsa. Ibu Trully memaparkan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, termasuk:

Fisik: mencubit, menendang, menjambak, dsb. Psikis: mengejek, menghina, membandingkan. Seksual: menyentuh atau memperlihatkan organ tubuh yang sensitif. Perundungan: bullying kelompok secara terus-menerus. Pengabaian: penelantaran kebutuhan dasar anak. Eksploitasi: pemaksaan kerja/aktivitas oleh orang dewasa demi kepentingan tertentu.

Lagu “Aku Istimewa” dinyanyikan bersama, menciptakan suasana empati dan kebersamaan.

Menggali Isu Perundungan Lebih Dalam

Ibu Trully mengajak siswa berdiskusi mengenai perbedaan antara bercanda dan membully, serta menjelaskan lima peran dalam kasus perundungan:

Pelaku utama Pelaku pendukung/asisten Reinforcer (penonton yang ikut tertawa atau menyemangati pelaku) Korban Outsider (pihak yang memilih diam atau tidak peduli)

Dengan tegas, beliau menyampaikan pesan,

“Para korban tidak butuh disalahkan. Mereka hanya butuh didengar dan teman cerita. Hati-hati, kadang tanpa sadar kita bisa menjadi pembunuh karakter teman kita sendiri.”

Materi diperkuat dengan pemutaran video animasi edukatif tentang korban perundungan, sesi ice breaking dance dan nyanyian, serta pembagian nomor layanan hotline Kota Bontang:

📞 0811-5940-777 / 0811-5413-355.

Pesan penutup dari Ibu Trully begitu menggugah:

“Perundungan akan terus terjadi jika kita membiarkannya. Jangan bela pelaku. Bela korban.”

Dokumentasi dan Rangkaian Kegiatan Lanjutan

Seluruh rangkaian seminar terdokumentasi dengan baik oleh Tim Jurnalistik Sekolah bersama mahasiswa KKN Universitas Mulawarman, sebagai bentuk pelaporan kegiatan dan pembelajaran kolaboratif.

Setelah sesi istirahat siang, seminar akan dilanjutkan dengan Sesi II pukul 13.00–16.00 WITA bersama narasumber kedua, yaitu Bapak Peltu Humam dari Babinsa Bontang Utara, yang akan membahas topik terkait disiplin, ketahanan mental, dan bela negara dalam konteks pelajar.

Kegiatan Seminar Penguatan Karakter ini menjadi langkah konkret SMAN 1 Bontang dalam menumbuhkan kesadaran, empati, dan ketangguhan karakter siswa di tengah tantangan sosial masa kini. Diharapkan, seluruh peserta mampu meneruskan nilai-nilai kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat luas.

📝 Editor: NM. Adnyani

📸 Dokumentasi oleh Jurnalistik SMANSA dan Mahasiswa KKN FKIP Universitas Mulawarman

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis