Arsip Tag: yoga sutra patanjali

MATERI YOGĀSANAM PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI KELAS XI

Om Swastyastu,

Bagi Bapak/Ibu Guru yang memerlukan materi mengajar yogāsanam jenjang SMA KELAS XI, data di download berikut ini!

semoga bermanfaat.

Teruslah berbagi dan bermanfaat bagi sesama.

Yoga Sutra Patanjali : Saadhanaa Paadah (Sutra II.1-15)

Sutra II.1

tapah svaadhayaay-esvarapranidhaanaani kriyaa-yogah

“Tapah, bertapa atau mendisiplinkan diri; Svaadhyaaya, mempelajari kitab-kitab suci, atau mempelajari Sifat Diri yang sejati; dan IIsvara Praanidhaana, Penyerahan diri pada IIsvara, Ilahi yang menerangi Sanubari setiap makhluk –injlah Kriya Yoga, Yoga atau Disiplin dalam Laku atau Perbuatan.”
Sutra, II.2

samaadhi-bhaavana-arthah klesa tanuu-karana-arthas-ca

“Semua ini–seluruh Disiplin, Laku atau Kriya Yoga sebagaimana dijelaskan dalan sutra sebelumnya) bertujuan, dimaksudkan untuk mengembangkan Samaadhi Bhaavanaa, Keseimbangan, atau Pencerahan; dan (secara berangsur, bertahap) mengakhiri segala Klesa atau duka-derita, penderitaan.”
Sutra II.3

avidyaa-asmitaa-raaga-dvesa-abhinivesah klesaah

“Avidyaa atau Kebodohan, ketidaktahuan; Asmitaa atau Ke-‘aku’-an; Raaga atau Ketertarikan, Ke-‘suka’-an; Dvesa atau ketaktertarikan, ke-‘taksuka’-an, kebencian; dan Abhinivesa atau keinginan untuk Mempertahankan suatu Keadaan, termasuk kehidupan itu sendiri–semua ini adalah penyebab Klesa atau penderitaan.”
Sutra II.4

avidyaa ksetram-uttaresaam prasupta-tanu-vicchinn-odaaraanaam

“Avidyaa, kebodohan atau ketidaktahuan adalah dasar, landasan, atau sebab utama segala sebab lainnya yang menyebabkan klesa atau duka-derita (sebab-sebab lain yang dimaksud adalah asmitaa atau ke-‘aku’-an; Raaga dan dvesa atau ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak suka; dan, abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan sesuatu), terlepas dari apakah duka-derita itu dalam keadaan dormant atau tidak aktif; dalam proses sedang berkurang, lewat; sudah teratasi tapi bisa datang kembali, bisa terasa lagi sewaktu-waktu; atau sepenuhnya aktif dan sedang meluas, berkembang, bertambah.”
Sutra II.5

anityaa-asuci-duhkha-anaatmasu nitya-suci-sukha-aatmakhyaatir-avidyaa

“Avidyaa, kebodohan atau ketidaktahuan menyebabkan anggapan keliru bahwa yang tidak kekal adalah kekal; yang tidak murni atau suci adalah murni dan suci; yang menyakitkan dan menghasilkan duka adalah menyenangkan dan membawa suka; dan diri yang palsu, bukan jati diri, adalah diri yang sejati, adalah kebenaran.”
Sutra II.6

drg-darsana-saktyor-ekaatmata-ivaa-asmitaa

“Asmitaa atau Ke-aku-an adalah suatu keadaan saat kekuatan atau energi drg atau ‘kegiatan melihat’ dan darsana atau ‘apa yang terlihat’ tampak satu, sama.”
Sutra II.7

sukha-anusayii raagah

“Raaga, ketertarikan atau ke-suka-an adalah keterikatan pada suatu pengalaman yang dianggap menyenangkan.”
Sutra II.8

duhkha-anusayii dvesah

“Dvesa, ketaktertarikan atau ketaksukaan adalah keterikatan pada suatu pengalaman yabg dianggap tidak menyenangkan.”
Sutra II.9

svarasvaahi viduso’pi samaaruudho’bhinivesah

“Disebabkan oleh svarasa atau rasa terdalam sendiri seseorang, para bijak pun tertaklukkan oleh abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan suatu pengalaman, keadaan, atau hubungan–termasuk keinginan untuk bertahan hidup, untuk mempertahankan kehidupan.”
Sutra II.10

te pratiprasava-heyaah suuksmaah

Klesa atau duka-derita yang bersifat halus (berarti yang belum terungkap sepenuhnya) dapat diatasi atau dihindari dengan memahami asal-usul atau sumbernya.”
Sutra II.11

dhyaana heyaah tad-vrttayah

“Fluktuasi, modifikasi, gangguan atau vrtti yang disebabkan oleh klesa atau duka-derita, dapat diatasi, dihindari dengan dhyaana atau meditasi.”
Sutra II.12

klesa-muulah karma-asayo drsta-adrsta-janma-vedaniiyah

“Berakar pada klesa atau pengalaman duka-derita–penderitaan–, reservoir atau akumulasi karma atau perbuatan adalah sebab kelahiran atau keberadaan pada saat ini maupun masa mendatang.”
Sutra II.13

sati muule tad-vipaako jaaty-aayur-bhogaah

“Selama sumber atau akar karma atau perbuatan masih ada, masih eksis–dalam arti kata, selama klesa atau duka-derita masih ada dan tersisa–, maka berbuahnya perbuatan atau karma adalah suatu keniscayaan. Pembuahan itulah yang menyebabkan kelahiran, panjang atau pendek usia, dan beragam pengalaman kehidupan lainnya.”
Sutra II.14

te hlaada paritaapa-phalaah punya-apunya-hetutvaat

“Hasil dari karma atau perbuatan (yang berakar pada klesa atau duka-derita) dapat dijalani, dilewati dengan penuh suka cita, penuh keceriaan, dan dengan berdukacita, dengan penuh kepedihan–dalam pengertian, hasil tersebut bisa membawa dampak sukacita, bisa juga berdampak dukacita, tergantung pada alasan perbuatannya, mulia atau tidak mulia.”
Sutra II.15

parinaama taapa samskaara duhkhaih guna-vrtti-virodhaacca duhkham-eva sarvam vivekinah

“Mereka yang telah mengembangkan viveka atau kemampuan untuk memilah (antara kebahagiaan sejati yabg berasal dari Kesadaran Jiwa dan kenikmatan indrawi yang diperoleh dari badan, gugusan pikiran serta perasaan) sadar sesadar-sadarnya bahwa samskaara atau dampak, kesan, residu dari perbuatan dan segala pengalaman masa lalu pun hanya menimbulkan taapa atau rasa cemas; dan, duhkha atau penderitaan.”

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.41-51)

Sutra I.41

ksiina-vrtter-abhijaatasyeva maner-grahiitr-grahana-graahyesu tatstha-tadanjanataa samaapattih

“Keadaan citta atau benih pikiran serta perasaan; dan, manah, gugusan pikiran serta perasaan, yang sudah tidak lagi terpengaruh oleh vrtti-perubahan-perubahan yang terjadi – persis seperti permata atau kristal yang transparan, jernih. Ia tidak terganggu oleh perubahan-perubahan warna yang terjadi karana adanya Ia yang Mengalami, Pengalaman itu sendiri dan Apa yang dialami. Dengan tercapainya keadaan yang disebut samaapattih, berakhirnya segala dualitas, atau Kemanunggalan Ia yang Mengalami, Pengalaman, dan Apa yang dialami, ia (citta atau manah) hanya merefleksikan warna-warna mereka sebagaimana adanya tanpa terpengaruh kejernihannya.”
Sutra I.42

tatra sabdaartha-jnaana-vikalpaih sankiirnaa savitarkaa samaapattih

“(Adalah beberapa tahapan Kemanunggalan atau Samaapattih yang pertama adalah disebut) Savitarkaa samaapattih, di mana Pengetahuan Sejati masih terganggu oleh kata-kata, serta makna dan tujuan kata-kata tersebut. (Gangguan ini dapat diatasi dengan tarka atau pertimbangan yang inteligen).”
Sutra I.43

smrti-parisuddhau svaruupa-suunyevaarthamaatra-nirbhaasaa nirvitarkaa

“(Tahapan Kedua Samaapattih atau Kemanunggalan adalah) Nirvitarkaa Samaapattih, di mana tarka atau pertimbangan yang inteligen pun terlampaui (karena, sudah tidak dibutuhkan lagi). Demikian, gugusan pikiran dan perasaan atau mind yang sudah mencapai keadaan suunya, kasunyatan –terbersihkan dari segala memori atau kesan-kesan dari masa lalu– boleh dikata sudah tiada lagi. adalah tujuan atau maksud adanya pikiran dan perasaan saja yang tersisa, yaitu Samaadhi, Pencerahan.”
Sutra I.44

etayaiva savicaaraa nirvicaaraa ca suuksma visaya vyaalhyaataa

“Demikian pula, (Tahapan Ketiga dan Keempat Kemanunggalan atau Samaapattih) disebut –dijelaskan– sebagai savicaaraa, yang masih mengandung pemikiran halus atau refleksi; dan Nirvicaaraa, tanpa pemikiran halus atau refleksi tentang kondisi-kondisi, atau keadaan-keadaan halus (yang nyaris tak terdeteksi).”
Sutra I.45

Suuksma visayatvam calingga paryavasaanam

“Kondisi-kondisi atau keadaan-keadaan tersebut –kendati sangat halus, dan tidak selalu mewujud –tetaplah mesti dilampaui, diakhiri.”
SutraI.46

taa eva sabiijas-samaadhih

“Sebab, semua ini adalah disebut sabiijah samaadhi. (Berarti, pencerahan yang masih belum sepenuhnya bebas dari kondisi-kondisi tertentu. Pencerahan yang belum sempurna. Pencerahan seperti ini masih mengandung biijah atau biji yang bisa bertunas kapan saja dan memunculkan kondisi-kondisi lain, baik halus maupun kasar –tidak nyata, maupun nyata– yang dapat memengaruhi meditasi).”
Sutra I.47

nirvicaara vaisaaradye’dhyaatma prasaadah

“Dengan mencapai dan mempertahankan Kemanunggalan Nirvicaara yang tidak lagi terpengaruh oleh kondisi-kondisi tertentu, maka bangkitlah Kesadaran Sejati, Kesadaran Jiwa.”
Sutra I.48

rtambharaa tatra prajnaa

“(Dalam keadaan Nirvicaara Samaapattih atau Kemanunggalan tanpa kondisi) Kebijaksanaan, Pengetahuan tinggi, atau Prajnaa seseorang terpenuhi oleh rtam atau kebajikan. Dalam pengertian, seseorang yang telah mencapai keadaan tersebut selalu bertindak tepat sesuai pedoman atau nilai-nilai luhur kebajikan.”
Sutra I.49

srutaanumaana prajnaabhyaam anya visayaa visesaarthatvaat

“Prajnaa atau Pengetahuan Tinggi dan mendalam ini berlandaskan pengalaman pribadi secara langsung (yang menghasilkan kesadaran-diri dan perbuatan yang selaras dengan dharma, nilai-nilai luhur kebajikan). Pengetahuan ini berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh dari orang lain, ataupun yang berdasarkan asumsi-asumsi tertentu.”
Sutra I.50

tajjas-samskaaro’nya-samskaara pratibandhii

“Samskaarah atau Kesan yang tercipta atau timbul dari keadaan ini (keadaam Prajna atau Pengetahuan Sejati, Tinggi, dan Mendalam ini) menjadi penghalang bagi timbulnya kesan-kesan lain. (Demikian, seseorang mencapai kesempurnaan dalam Samaadhi atau Tercerahkan secara Sempurna).”
Sutra I.51

tasyaapi nirodhe sarva-nirodhaan-nirbiijah samaadhih

“Demikian berakhirnya kesan-kesan atau Samskaarah tersebut, berakhir pula segala (rintangan) lain, dan seseorang mencapai Nirbiijah Samaadhi –Pencerahan, Keseimbangan Diri, Kesadaran Murni yang Sempurna.”
Demikian Berakhirlah Bab Samaadhi Padah

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.36-40)

Sutra I.36

visokaa vaa jyotismatii

“Atau dengan memusatkan kesadaran, bermeditasi pada Sumber Cahaya di dalam diri, dan melampaui segala  duka-derita”
Sutra I.37

viita raaga visayam vaa cittam

“Atau dengan memusatkan citta, benih pikiran dan perasaan, pada seseorang yang telah bebas dari keterikatan pada objek-objek (indrawi).”
Sutra I.38

svapna-nidraa jnaana-aalambanam vaa

“Atau, dengan berpegang pada jnaana atau pengetahuan (berdasarkan pengalaman sendiri) yang diperoleh, diraih dari mimpi dan/atau saat tidur.”
Sutra I.39

yathaabhimata dhyaanaad vaa

“Atau, dengan cara bermeditasi–memusatkan kesadaran pada apa yang betul-betul dikehendaki (dan diyakini).”
Sutra I.40

paramaanu paramamahattvaanto’sya vasiikaarah

“(Demikian dengan mengendalikan citta, benih-benih pikiran serta perasaan; dan/atau manah, mind, atau gugusan pikiran dan perasaan -lewat meditasi) segala sesuatu dari bagian atom terkecil hingga (keberadaan atau semesta) yang tak terhingga, tak terbatas, dan maha luas, dapat dikuasai.”