Yoga Sutra Patanjali : Saadhanaa Paadah (Sutra II.1-15)

Sutra II.1

tapah svaadhayaay-esvarapranidhaanaani kriyaa-yogah

“Tapah, bertapa atau mendisiplinkan diri; Svaadhyaaya, mempelajari kitab-kitab suci, atau mempelajari Sifat Diri yang sejati; dan IIsvara Praanidhaana, Penyerahan diri pada IIsvara, Ilahi yang menerangi Sanubari setiap makhluk –injlah Kriya Yoga, Yoga atau Disiplin dalam Laku atau Perbuatan.”
Sutra, II.2

samaadhi-bhaavana-arthah klesa tanuu-karana-arthas-ca

“Semua ini–seluruh Disiplin, Laku atau Kriya Yoga sebagaimana dijelaskan dalan sutra sebelumnya) bertujuan, dimaksudkan untuk mengembangkan Samaadhi Bhaavanaa, Keseimbangan, atau Pencerahan; dan (secara berangsur, bertahap) mengakhiri segala Klesa atau duka-derita, penderitaan.”
Sutra II.3

avidyaa-asmitaa-raaga-dvesa-abhinivesah klesaah

“Avidyaa atau Kebodohan, ketidaktahuan; Asmitaa atau Ke-‘aku’-an; Raaga atau Ketertarikan, Ke-‘suka’-an; Dvesa atau ketaktertarikan, ke-‘taksuka’-an, kebencian; dan Abhinivesa atau keinginan untuk Mempertahankan suatu Keadaan, termasuk kehidupan itu sendiri–semua ini adalah penyebab Klesa atau penderitaan.”
Sutra II.4

avidyaa ksetram-uttaresaam prasupta-tanu-vicchinn-odaaraanaam

“Avidyaa, kebodohan atau ketidaktahuan adalah dasar, landasan, atau sebab utama segala sebab lainnya yang menyebabkan klesa atau duka-derita (sebab-sebab lain yang dimaksud adalah asmitaa atau ke-‘aku’-an; Raaga dan dvesa atau ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak suka; dan, abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan sesuatu), terlepas dari apakah duka-derita itu dalam keadaan dormant atau tidak aktif; dalam proses sedang berkurang, lewat; sudah teratasi tapi bisa datang kembali, bisa terasa lagi sewaktu-waktu; atau sepenuhnya aktif dan sedang meluas, berkembang, bertambah.”
Sutra II.5

anityaa-asuci-duhkha-anaatmasu nitya-suci-sukha-aatmakhyaatir-avidyaa

“Avidyaa, kebodohan atau ketidaktahuan menyebabkan anggapan keliru bahwa yang tidak kekal adalah kekal; yang tidak murni atau suci adalah murni dan suci; yang menyakitkan dan menghasilkan duka adalah menyenangkan dan membawa suka; dan diri yang palsu, bukan jati diri, adalah diri yang sejati, adalah kebenaran.”
Sutra II.6

drg-darsana-saktyor-ekaatmata-ivaa-asmitaa

“Asmitaa atau Ke-aku-an adalah suatu keadaan saat kekuatan atau energi drg atau ‘kegiatan melihat’ dan darsana atau ‘apa yang terlihat’ tampak satu, sama.”
Sutra II.7

sukha-anusayii raagah

“Raaga, ketertarikan atau ke-suka-an adalah keterikatan pada suatu pengalaman yang dianggap menyenangkan.”
Sutra II.8

duhkha-anusayii dvesah

“Dvesa, ketaktertarikan atau ketaksukaan adalah keterikatan pada suatu pengalaman yabg dianggap tidak menyenangkan.”
Sutra II.9

svarasvaahi viduso’pi samaaruudho’bhinivesah

“Disebabkan oleh svarasa atau rasa terdalam sendiri seseorang, para bijak pun tertaklukkan oleh abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan suatu pengalaman, keadaan, atau hubungan–termasuk keinginan untuk bertahan hidup, untuk mempertahankan kehidupan.”
Sutra II.10

te pratiprasava-heyaah suuksmaah

Klesa atau duka-derita yang bersifat halus (berarti yang belum terungkap sepenuhnya) dapat diatasi atau dihindari dengan memahami asal-usul atau sumbernya.”
Sutra II.11

dhyaana heyaah tad-vrttayah

“Fluktuasi, modifikasi, gangguan atau vrtti yang disebabkan oleh klesa atau duka-derita, dapat diatasi, dihindari dengan dhyaana atau meditasi.”
Sutra II.12

klesa-muulah karma-asayo drsta-adrsta-janma-vedaniiyah

“Berakar pada klesa atau pengalaman duka-derita–penderitaan–, reservoir atau akumulasi karma atau perbuatan adalah sebab kelahiran atau keberadaan pada saat ini maupun masa mendatang.”
Sutra II.13

sati muule tad-vipaako jaaty-aayur-bhogaah

“Selama sumber atau akar karma atau perbuatan masih ada, masih eksis–dalam arti kata, selama klesa atau duka-derita masih ada dan tersisa–, maka berbuahnya perbuatan atau karma adalah suatu keniscayaan. Pembuahan itulah yang menyebabkan kelahiran, panjang atau pendek usia, dan beragam pengalaman kehidupan lainnya.”
Sutra II.14

te hlaada paritaapa-phalaah punya-apunya-hetutvaat

“Hasil dari karma atau perbuatan (yang berakar pada klesa atau duka-derita) dapat dijalani, dilewati dengan penuh suka cita, penuh keceriaan, dan dengan berdukacita, dengan penuh kepedihan–dalam pengertian, hasil tersebut bisa membawa dampak sukacita, bisa juga berdampak dukacita, tergantung pada alasan perbuatannya, mulia atau tidak mulia.”
Sutra II.15

parinaama taapa samskaara duhkhaih guna-vrtti-virodhaacca duhkham-eva sarvam vivekinah

“Mereka yang telah mengembangkan viveka atau kemampuan untuk memilah (antara kebahagiaan sejati yabg berasal dari Kesadaran Jiwa dan kenikmatan indrawi yang diperoleh dari badan, gugusan pikiran serta perasaan) sadar sesadar-sadarnya bahwa samskaara atau dampak, kesan, residu dari perbuatan dan segala pengalaman masa lalu pun hanya menimbulkan taapa atau rasa cemas; dan, duhkha atau penderitaan.”

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di Apresiasi Buku, yoga sutra patanjali dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s