Sikap yang kita Tampilkan mewakili sifat dan kesadaran kita

Pagi ini, menemani kakak untuk mengambil darah di lab, tapi ternyata sang petugas sedang tidak ramah. di jawab sekenanya dan “semaunya”. saya mencoba menjelaskan kemudian dia mulai menunjukkan bahwa saya harus menuju ke pendaftaran terlebih dahulu. saya pun menuju ke pendaftaran. baru hendak bertanya, petugas dengan judes menjawab bahwa pendaftaran belum di buka. ia bicara sambil melemparkan bolpoint yang ia pegang. sambil melongo sayapun menjawab “oh ya” dan kemudian pergi. 
apa yang saya renungkan? 

ini adalah pelayanan publik. ini adalah tempat dimana kita punya banyak kesempatan bertemu dengan orang dan berkesempatan melayani. tapi tak semua orang dapat berpikir demikian ketika sedang dalam situasi yang mungkin tidak nyaman. dugaan saya dia masih ngantuk. kurang tidur kali ya.

selain itu, saya merenungkan bahwa sikap yang dapat dia tampilkan saat itu “dapat” menjadi gambaran bagaimana sifat dan kesadarannya. kami menahan diri bahwa kami “memang sedang membutuhkan bantuan alias membutuhkan pelayanan para petugas”. 

saya juga merenungkan, apakah ia sedang tidak suka menjelaskan ataukah dia berpikir bahwa semua orang di dunia ini sudah hafal dengan prosedur yang ada di tempat2 pelayanan umum. sementara saya tidak menemukan ada petunjuk atau minimal peta yang mengambarkan bahwa kemana kita harus pergi setelah kita membawa surat rujukan ke lab dari dokter. 

meski demikian, saya terus bersabar menghadapi mental para petugas. 

selanjutnya karena suatu keperluan. saya meninggalkan rumah sakit itu sambil berdoa semoga orang lain tidak mendapat perlakuan seperti kami. 

penampilan kakak saya memang “lusuh” itu karena ia memang belum mandi dan jaga malam. janganlah melayani orang berdasar pada penampilannya. doa2 orang2 sederhana itu membantu kita menjalani kehidupan di dunia ini. jangan sampai keluar “serapah” dari orang2 seperti mereka. 

Demikian dalam profesi apapun, sebagai guru seperti saya, saya juga terus belajar dari anak2. 

tampilkan sikap yang terbaik dari diri kita karena sikap kita mewakili sifat dan kesadaran kita. entah bagaimanaun sikap seseorang terhadap kita, upayakan agar kita tidak terpengaruh dan kita mampu menunjukkan sikap terbaik kita. 

Demikian renungan pagi ini sebagai Madyadina sevana

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s