Jangan Terprovokasi oleh Mind (Pikiran dan Perasaan) Yang Kacau

Mari kita berdoa sebelum membaca sloka Bhagavad Gīta untuk hari ini.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yadā hi nendriyārthesu na karmasv anusajjate

Sarva-sankalpa-Samnyāsī yogārūdhas tadocyate

Bhagavad Gītā, 6.4

“Ketika seseorang tidak lagi terikat dengan pemicu-pemicu bagi indra, tidak bertindak oleh Karenanya, dan telah bebas dari Segala macam keinginan duniawi, bahkan dari segala pikiran tentang keduniawian – saat itulah Ia di sebut telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga.”

Maksud Krsna ialah “tidak terprovokasi, tidak tergoda, tidak terpicu untuk bertindak, karena keterikatan dengan dunia-benda, karena suatu keinginan duniawi.”

Jadi, “Bukan tidak bertindak”, tapi “tidak bertindak karena terprovokasi oleh Hal-Hal di luar diri”. Berarti “bertindak sesuai dengan kehendak diri yang sejati” – sesuai dengan apa yang hendak di alami oleh Jiwa.

Ayat-ayat ini adalah untuk pemberdayaan diri, Bukan untuk melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab. Arjuna hendak melarikan diri dari tugasnya Sebagai seorang ksatria pembela keadilan. Ia hendak melarikan diri dari tanggung jawabnya terhadap kebenaran dan kebajikan.

Bagi seorang kesatria… melawan ketidakadilan dan menegakkan kembali keadilan adalah perannya di atas panggung sandiwara kehidupan. Krsna menasehati dia supaya menyelesaikan perannya dengan baik. Tidak tergoda oleh pikiran yang kacau, tidak terbawa oleh rasa takut yang semuanya hendak menarik dirinya keluar dari medan perang.

Ketika seseorang berhasil mengendalikan dirinya terhadap provokasi oleh Indra, oleh pikiran, dan perasaan – tidak lagi memikirkan keuntungan atau kerugian materi – tapi tetap memainkan perannya dengan baik – saat itu Ia telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga.

Yoga adalah “Keselarasan Agung” -gugusan pikiran dan perasaan (mind); indra; badan; ucapan; tindakan – semuanya selaras dengan peran di atas panggung sandiwara kehidupan. Yoga adalah ketika kita memainkan peran kita dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan raga.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 27/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 247

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s