Pemberdayaan Diri: Meninggalkan alam Ego dan Kembali ke Alam Jiwa

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā,

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

uddhared ātmanātmānam nātmānam avasādayet

ātmaiva hy ātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanah

Bhagavad Gītā, 6.5

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan, tidak membiarkannya terjerumus oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, “diri”-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.”

Ini adalah puncak dari ayat-ayat pemberdayaan diri, di mana Krsna jelas sekali. Diri atau Ātmā dalam ayat ini adalah Diri-Sejati; Sang Jiwa yang merupakan percikan dari Jiwa Agung atau Paramātmā.

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaran kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; Dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan Sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya.

Dalam alam Jiwa kita semua bersatu – karena “setiap” Jiwa adalah percikan dari Sang Jiwa Agung yang satu dan Sama.

Dalam alam Ego, kita beragam, berbeda – walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen Alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda, wajah anda tidak Sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara berpikir kita beda. Perasaan kita beda!

Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…”

Konflik adalah hasil dari Salah identifikasi. Ketika kita mempercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” Tanpa memiliki atau menguasai sesuatu – maka kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri – karena sesungguhnya Jiwa Bebas adanya, Ia tidak mau terikat – tapi Ia terpengaruh oleh keinginan – keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan “tidak” terhadap kekuasaan ego.

Maka terjadilah kekecewaan – karena, bagaimanapun juga kita Tak akan pernah bisa menguasai dunia-benda sepenuhnya. Penguasaan kita sudah pasti bersifat terbatas. Sementara itu, Jiwa adalah percikan Hyang Tak Terbatas.

Sebagai contoh:

Cinta adalah sifat Jiwa, sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan Waktu.

Kemudian, Cinta yang tak terbatas ini kita aplikasikan terhadap “se”-seorang “yang” kita cintai. Mencintai “se”-seorang adalah terbatas, sebatas “se”-seorang.

Selanjutnya, kita menikahi “orang” tersebut. Selama beberapa bulan atau beberapa Tahun, masih oke. Namun, tidak untuk selamanya. Cinta yang Tak Terbatas itu ingin bebas dari penjara-nafsu buatkan ego. Saat itu, kita mesti berhati-hati…

Jika Cinta berkuasa – dalam pengertian Jiwa berkuasa – maka kita menyadari kesalahan kita. Tidak perlu juga menceraikan pasangan kita. Tinggal membiarkan cinta berekspansi untuk meliputi, merangkul semua termasuk pasangan kita pun ikut terangkul.

Ingat, ini Bukan urusan nafsu birahi. Ini perkara Cinta. Nafsu birahi mengantar kita ke atas ranjang. Cinta melampaui ranjang nafsu, meninggalkannya, untuk merangkul semesta…

Skenario kedua adalah – dan ini yang paling sering terjadi:

Ketika kita kecewa dengan pasangan kita, maka kita mencari pasangan yang lain. Demikian, kita jatuh ke dalam lubang yang Sama.

Kita tidak Sadar bahwa “rasa kecewa” yang kita Alami bukanlah “Karena pasangan” kita – sebejat atau sekurangajar apa pun pasangan kita. Rasa kecewa yang kita alami, sesungguhnya adalah kekecewaan Jiwa yang merasa terkungkung. Untuk itu, ganti pasangan bukanlah solusi. Ganti pasangan adalah Sama dengan keluar dari mulut buaya, masuk ke dalam mulut singa. Menjadi sarapan buaya, atau Makan-Siang singa – Sami mawon. Di kedua kemungkinan itu, kita binasa! Saat itu, menurut Krsna, kita telah menjerumuskan diri sendiri. Kita menjadi musuh bagi diri kita sendiri. Kita membiarkan ego yang menciptakan perpisahan dan perbedaan itu berkuasa. Kita pikir dengan cara berpisah dari pasangan lama dan berganti pasangan – persoalan terselesaikan. Tidak, tidak bisa. Persoalan hidup tidak terselesaikan dengan cara berpindah penjara. Persoalan hidup hanyalah terselesaikan ketika kita keluar dari penjara ego, dan hidup bebas dalam kesadaran Jiwa.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 29/12/2017-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK halaman 248-249

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s