Keheningan, Keceriaan “Di Dalam” Diri

kehidupan ini penuh dengan warna. suka dan duka datang silih berganti. dan segala ketidakpastian di dunia ini. satu2nya kepastian adalah yang hidup pasti akan mati. tiada yang abadi. hanya perubahan yang abadi. jika kita tak berubah maka kita akan ditinggalkan oleh perubahan. namun jika kita terus mengikuti perubahan “diluar” diri maka tiada kedamaian. lalu apa sebenarnya. 
ikuti perubahan atau tidak? 

secara kasat mata, luaran, “diluar” kita mesti ikuti perubahan. namun “didalam” harus tetap hening, ceria. 
jangan biarkan segala sesuatu “diluar” diri merampas yang ada “didalam”. 

jangan biarkan kesedihan, kekacauan luar merampas keceriaan di dalam diri

demikianlah kira2 saya terus mengingatkan diri setiap ada suatu kejadian. saya terus bicara pada diri saya sendiri. 

jangan ambil keceriaan saya. siapa pula yang dapat mengambilnya? hanya atas ijin “saya” keceriaan saya dapat diambil. 

perdebatan sang pikiran terus mengalir. saya terus mengamatinya. tanpa mengomentarinya. 

saya menulis ini, untuk mengingatkan bahwa lekukan dan belokan terjadi “didalam” dan “diluar” diri

yuk jangan lupa bahagia. 

semuanya akan baik baik saja. Oke Mantra. 

demikianlah suara “sang Lama” dari Ladakh terngiang di telinga saya. selalu dan selalu. suaranya sederhana, simple tanpa tendensi. begitulah kebenaran. 

Happy saturday

Nanti malam minggu yaa. hehehhee

Sikap yang kita Tampilkan mewakili sifat dan kesadaran kita

Pagi ini, menemani kakak untuk mengambil darah di lab, tapi ternyata sang petugas sedang tidak ramah. di jawab sekenanya dan “semaunya”. saya mencoba menjelaskan kemudian dia mulai menunjukkan bahwa saya harus menuju ke pendaftaran terlebih dahulu. saya pun menuju ke pendaftaran. baru hendak bertanya, petugas dengan judes menjawab bahwa pendaftaran belum di buka. ia bicara sambil melemparkan bolpoint yang ia pegang. sambil melongo sayapun menjawab “oh ya” dan kemudian pergi. 
apa yang saya renungkan? 

ini adalah pelayanan publik. ini adalah tempat dimana kita punya banyak kesempatan bertemu dengan orang dan berkesempatan melayani. tapi tak semua orang dapat berpikir demikian ketika sedang dalam situasi yang mungkin tidak nyaman. dugaan saya dia masih ngantuk. kurang tidur kali ya.

selain itu, saya merenungkan bahwa sikap yang dapat dia tampilkan saat itu “dapat” menjadi gambaran bagaimana sifat dan kesadarannya. kami menahan diri bahwa kami “memang sedang membutuhkan bantuan alias membutuhkan pelayanan para petugas”. 

saya juga merenungkan, apakah ia sedang tidak suka menjelaskan ataukah dia berpikir bahwa semua orang di dunia ini sudah hafal dengan prosedur yang ada di tempat2 pelayanan umum. sementara saya tidak menemukan ada petunjuk atau minimal peta yang mengambarkan bahwa kemana kita harus pergi setelah kita membawa surat rujukan ke lab dari dokter. 

meski demikian, saya terus bersabar menghadapi mental para petugas. 

selanjutnya karena suatu keperluan. saya meninggalkan rumah sakit itu sambil berdoa semoga orang lain tidak mendapat perlakuan seperti kami. 

penampilan kakak saya memang “lusuh” itu karena ia memang belum mandi dan jaga malam. janganlah melayani orang berdasar pada penampilannya. doa2 orang2 sederhana itu membantu kita menjalani kehidupan di dunia ini. jangan sampai keluar “serapah” dari orang2 seperti mereka. 

Demikian dalam profesi apapun, sebagai guru seperti saya, saya juga terus belajar dari anak2. 

tampilkan sikap yang terbaik dari diri kita karena sikap kita mewakili sifat dan kesadaran kita. entah bagaimanaun sikap seseorang terhadap kita, upayakan agar kita tidak terpengaruh dan kita mampu menunjukkan sikap terbaik kita. 

Demikian renungan pagi ini sebagai Madyadina sevana

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai