Kepada seluruh umat Hindu di kota Bontang
Saya menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya karena karena keterlambatan saya datang ke pura. Disebabkan karena saya terjebak macet di area pisangan, setelah terjadi kebakaran di area panorama dulu…..
Jalur di alihkan ke hop dan melewati pisangan. Sementara di pisangan macet total. Kendaraan saya ga bergerak.
Saya sudah menyampaikan kepada pengurus atas kemacetan yang saya alami. Saya telah pula memasrahkan diri bahwa saya tidak dapat melaksanakan tugas yang diamanatkan oleh pengurus kepada saya. (bertugas sebagai pemberi pengantar sembahyang yang dilakukan sebelum persembahyanga di mulai).
Mungkin keberadaan tidak mengijinkannya. Demikian pikir saya. Saya manut kehendak alam.
Setelah terbebas dari macet, saya pun tetap ke pura krn sudah niat.
Sesampainya di pura saya baru tau, ternyata pengurus memutuskan untuk persembahyangan di mulai saja dan pengantar sembahyang di berikan setelah persembahyangan selesai.
Dan sayapun akhirnya menyampaikan apa yang telah saya siapkan 2 minggu yang lalu.
Setelah selesai, saya sungguh merenungi semua kejadian tadi. Saya belajar pada bapak ibu umat hindu bontang, mereka sangat rendah hati, mereka sangat mendengarkan, Menghormati para pemimpin mereka. Mereka mampu untuk tetap duduk dan mendengarkan ocehan saya. Terimakasih bapak ibu umat sedharma. Semua ini atas kebaikan bapak ibu. Sembah sujud saya pada Keberadaan yang ada pada diri bapak dan ibu. Salam kasih saya. Karena bapak ibu saya bertumbuh dan belajar…
Salam rahayu…
Om shanti…
Renungan Diri: Mendidik Anak demi Obsesi Mimpi Orangtua atau Mimpi Anak Sendiri?
Untung baca artikel ini, saya sebagai orang tua yang masih muda, keluarga muda, semoga tidak demikian menuntut…
Gita Kehidupan Sepasang Pejalan
Cover Buku Kehidupan
“Anda kirimkan anak-anak ke sekolah. Tidak ada salahnya, tetapi tujuan Anda untuk mengirimkan mereka ke sekolah itu yang salah. Anda mendambakan gelar bagi mereka. Anda mempunyai harapan sendiri. Anda punya mimpi-mimpi Anda sendiri yang tidak terwujud. Sekarang Anda berharap bahwa mereka akan mewujudkannya. Harapan-harapan Anda yang tidak terpenuhi, Anda harapkan agar mereka penuhi.
“Mungkin saja, sewaktu kecil Anda pernah bermimpi untuk menjadi dokter. Mungkin situasi saat itu tidak menunjang dan impian Anda tidak terwujud. Sekarang Anda ingin anak Anda menjadi dokter. Mungkin saja, ia lebih tertarik pada seni; mungkin ia ingin menjadi seniman. Tetapi Anda tidak akan memperbolehkannya. Dia harus hidup untuk mewujudkan impian Anda, hanya untuk memenuhi ego Anda. Betapa bodohnya, betapa lucunya, betapa kejamnya!
“Anda lupa bahwa anak-anak Anda memiliki mimpi-mimpi sendiri. Mereka memiliki kehidupan sendiri. Tidak. Anda tidak bisa mengatakan itu cinta. Paksaan dan cinta tidak dapat jalan bersama. Anda juga tidak dapat menyembunyikan…
Lihat pos aslinya 435 kata lagi

