THE ART OF YOGA: The Art of Being Happy

NM. Adnyani

Pendahuluan

Kebahagiaan adalah dambaan setiap manusia. Namun, di era modern yang serba cepat ini, banyak orang terjebak dalam siklus stres, tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, dan kesepian emosional. Menurut data WHO (2023), lebih dari 970 juta orang di dunia mengalami gangguan mental, dengan depresi dan kecemasan sebagai kasus terbanyak. Fakta ini menunjukkan bahwa meski kemajuan teknologi semakin pesat kebahagiaan sejati justru semakin sulit dicapai.

Yoga hadir sebagai seni sekaligus ilmu kehidupan. Bukan hanya tentang gerakan tubuh, tetapi sebuah perjalanan menuju keseimbangan batin dan kebahagiaan sejati. Itulah mengapa yoga sering disebut “the art of being happy”—sebuah seni untuk menemukan kebahagiaan melalui harmoni tubuh, pikiran, dan jiwa.

Masalah yang Dihadapi Manusia Modern

1. Stres kronis – pekerjaan, target hidup, dan persaingan yang tiada henti.

2. Ketidakbahagiaan batin – sering kali orang memiliki materi cukup, tapi merasa kosong di dalam.

3. Gaya hidup tidak seimbang – kurang tidur, makanan instan, jarang bergerak.

4. Keterputusan spiritual – lupa menyambungkan diri dengan nilai-nilai kebijaksanaan dan Tuhan.

Akibatnya, lahir fenomena “unhappy success”: seseorang terlihat sukses secara materi, tetapi jauh dari rasa damai dan bahagia.

Solusi: Yoga sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

Yoga bukan sekadar olahraga atau meditasi, melainkan sebuah filosofi hidup. Dalam Yoga Sutra Patanjali, terdapat delapan tahapan yoga (Ashtanga Yoga) yang menjadi jalan menuju ananda (kebahagiaan sejati).

Delapan Tahapan Yoga

1. Yama – Etika Universal

Yama adalah fondasi moral:

• Ahimsa: tanpa kekerasan, baik dalam ucapan maupun tindakan.

• Satya: kejujuran pada diri sendiri dan orang lain.

• Asteya: tidak mengambil yang bukan hak kita, termasuk waktu orang lain.

• Brahmacharya: hidup seimbang, tidak berlebihan.

• Aparigraha: tidak serakah, tahu arti cukup.

Aplikasi modern: tidak menyakiti lewat komentar negatif di media sosial, jujur dalam pekerjaan, dan hidup sederhana di tengah budaya konsumtif.

2. Niyama – Disiplin Diri

Prinsip perawatan diri:

• Sauca: kebersihan tubuh dan pikiran.

• Santosha: rasa cukup dan syukur.

• Tapa: disiplin menghadapi kesulitan.

• Svadhyaya: refleksi diri dan belajar.

• Isvara pranidhana: penyerahan kepada Tuhan.

Aplikasi modern: rajin olahraga, menjaga pola makan, menulis jurnal syukur, dan tidak selalu melawan segala sesuatu—belajar ikhlas.

3. Asana – Postur Tubuh

Gerakan tubuh yang tidak hanya melatih fisik, tetapi juga melatih kesadaran.

Aplikasi modern: melakukan peregangan di sela kerja, yoga ringan untuk meredakan nyeri punggung akibat duduk lama.

4. Pranayama – Pengendalian Napas

Napas adalah energi hidup. Mengatur napas berarti mengatur emosi.

Aplikasi modern: ketika panik, berhenti sejenak, tarik napas dalam 4 hitungan, tahan 4 hitungan, hembuskan perlahan. Teknik sederhana ini terbukti menurunkan stres.

5. Pratyahara – Pengendalian Indra

Belajar menarik diri dari godaan luar yang melelahkan.

Aplikasi modern: berani mengambil digital detox, membatasi notifikasi, memilih konten yang menyehatkan jiwa.

6. Dharana – Konsentrasi

Fokus pada satu hal, bukan multitasking.

Aplikasi modern: mengerjakan tugas satu per satu, bukan membuka 10 tab sekaligus.

7. Dhyana – Meditasi

Ketenangan batin yang dalam.

Aplikasi modern: duduk 10 menit hening sebelum tidur, merasakan napas tanpa terganggu pikiran.

8. Samadhi – Kesatuan Jiwa

Puncak yoga: kesadaran menyatu dengan Yang Maha Esa.

Aplikasi modern: merasakan bahwa kita adalah bagian dari semesta, bahagia bukan karena memiliki, tetapi karena menjadi.

Benefit Yoga bagi Kehidupan Sehari-hari

• Kesehatan fisik: meningkatkan fleksibilitas, kekuatan, dan sistem imun.

• Kesehatan mental: mengurangi kecemasan, depresi, dan stres.

• Hubungan sosial lebih harmonis: karena melatih empati, kesabaran, dan kejujuran.

• Spiritualitas mendalam: menghadirkan rasa syukur dan damai.

• Kebahagiaan sejati: lahir bukan dari hal luar, melainkan dari kesadaran batin.

Fakta dan Data Pendukung

1. Menurut American Psychological Association, 37% orang dewasa di dunia menggunakan yoga dan meditasi untuk mengurangi stres.

2. Penelitian dari National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) mencatat bahwa yoga efektif dalam mengurangi kecemasan pada 70% praktisinya.

3. Di India, program yoga massal pada International Yoga Day terbukti membantu masyarakat menemukan community happiness melalui latihan kolektif.

4. Harvard Medical School (2018): yoga menurunkan hormon stres kortisol hingga 50%.

5. American Psychological Association (2020): latihan yoga 3 kali seminggu menurunkan kecemasan hingga 43%.

6. Journal of Psychiatric Practice (2020): terapi yoga efektif untuk pasien depresi ringan hingga sedang.

7. Global Wellness Institute (2022): lebih dari 300 juta orang di dunia mempraktikkan yoga.

8. Studi Harvard (2020) menunjukkan bahwa 20 menit yoga per hari dapat menurunkan kadar kortisol (hormon stres) hingga 30%, meningkatkan kualitas tidur, dan memperbaiki suasana hati.

Yoga dalam Kehidupan Modern

• Di Pendidikan: Yoga membantu siswa fokus belajar, mengurangi kecemasan ujian, dan meningkatkan kepercayaan diri.

• Di Dunia Kerja: Banyak perusahaan global menyediakan kelas yoga untuk karyawan sebagai bagian dari program well-being.

• Dalam Keluarga: Yoga bisa menjadi aktivitas bersama untuk mempererat ikatan emosional.

• Untuk Generasi Muda: Yoga memberi alternatif sehat dibanding pelarian pada game berlebihan atau media sosial.

Call to Action: Mulailah The Art of Being Happy dengan Yoga Sederhana

Tidak perlu menunggu memiliki matras khusus atau waktu panjang. Kita bisa memulai dengan latihan yoga sederhana di rumah:

1. Tadasana – berdiri tegak, tarik napas dalam, rasakan tubuh rileks.

2. Balasana – duduk berlutut, tundukkan tubuh ke depan, rasakan ketenangan.

3. Nadi Shodhana (Pernapasan Alternatif) – tutup satu lubang hidung, tarik dan buang napas bergantian. Menenangkan pikiran.

4. Meditasi 5 menit – duduk diam, pejamkan mata, fokus pada napas.

Dan bila ingin energi lebih:

Surya Namaskara

Lakukan 6–12 putaran setiap pagi. Gerakan ini menyatukan napas, tubuh, dan pikiran, sekaligus membangkitkan semangat positif untuk menjalani hari.

Penutup

Yoga adalah seni hidup—the art of yoga is truly the art of being happy. Yoga mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan dicari di luar, melainkan ditemukan di dalam diri melalui kesadaran, kedamaian, dan penyatuan dengan Sang Sumber Kehidupan.

Di tengah dunia yang penuh tekanan, mari berhenti sejenak, tarik napas panjang, dan izinkan yoga membimbing kita menuju hidup yang lebih sehat, damai, dan bahagia.

Mulailah hari ini. Bahagialah dari dalam. Karena kebahagiaan adalah seni yang bisa kita latih, dan yoga adalah jalannya.

Disampaikan dalam Agenda Rutin Pembinaan Rohani Agama Hindu bagi POLRI seluruh Indonesia, Kamis, 28 Agustus 2025 | 07.00 – 08.00 WIB Via Zoom Cloud Meeting

Too Much Attention Makes a Donkey Think He is a Lion

NM. Adnyani

Ada kalimat sederhana namun sarat makna: “Too much attention makes a donkey think he is a lion.”

Ungkapan ini mengingatkan kita pada bahaya perhatian dan pujian yang berlebihan. Seekor keledai tetaplah keledai, tetapi jika terlalu banyak disanjung, ia bisa merasa dirinya singa.

Fenomena serupa sering kita jumpai dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang terlalu dimanja oleh sorak-sorai, ia mudah terjebak dalam ilusi kebesaran. Padahal, kebesaran sejati tidak lahir dari sanjungan, melainkan dari kualitas batin, kerja keras, dan ketulusan.

Pujian: Ujian yang Terselubung

Banyak orang memahami penderitaan sebagai ujian, tetapi tidak semua menyadari bahwa pujian juga adalah ujian. Bahkan, pujian bisa menjadi ujian yang lebih berat. Saat dikritik, manusia cenderung mawas diri. Tetapi saat dipuji, ia bisa terlena. Rasa percaya diri memang tumbuh, tetapi jika tidak dijaga, ia menjelma menjadi kesombongan.

Sanjungan yang berlebihan bagaikan racun manis. Ia tidak menyakiti dengan cepat, tetapi perlahan membuat seseorang kehilangan pijakan. Ia mulai mengira bahwa keberhasilannya hanya karena dirinya sendiri, lupa bahwa ada orang lain yang ikut berperan, dan lupa bahwa kehidupan selalu berubah.

Bahaya Ilusi Kebesaran

Ketika keledai merasa dirinya singa, ia sesungguhnya sedang hidup dalam kebohongan. Demikian pula manusia yang terbuai oleh tepuk tangan. Ia mungkin merasa kuat, padahal rapuh. Ia merasa berkuasa, padahal hanya bergantung pada pengakuan orang lain.

Ilusi kebesaran ini berbahaya, sebab membuat manusia berhenti belajar. Mengapa harus belajar, kalau ia merasa sudah menjadi yang paling hebat? Mengapa harus mendengar orang lain, kalau ia mengira dirinya selalu benar? Dari sinilah awal kejatuhan dimulai.

Seni Menyikapi Pujian

Lalu, bagaimana kita seharusnya bersikap?

Bukan berarti pujian harus ditolak, sebab pujian bisa menjadi energi positif. Namun, pujian harus diterima dengan kesadaran.

Sambutlah dengan syukur, tetapi jangan berlama-lama menikmatinya. Jadikanlah pujian sebagai pengingat untuk tetap berbuat lebih baik, bukan alasan untuk berhenti berkembang. Yang paling penting, jangan pernah menggantungkan nilai diri pada sorak-sorai orang lain.

Kebesaran sejati lahir dari keheningan batin—dari kemampuan untuk tetap teguh, bahkan ketika dunia tidak memberi tepuk tangan.

Menjadi Singa Sejati

Singa sejati tidak membutuhkan sorak-sorai untuk mengetahui keberaniannya. Ia tahu siapa dirinya, apa yang menjadi kekuatannya, dan di mana tempatnya berdiri. Begitu pula manusia bijak: ia tidak mengukur dirinya dari sanjungan, melainkan dari kejujuran hati dan konsistensi dalam berbuat.

Maka, berhati-hatilah dengan pujian. Jangan sampai kita hanya menjadi “keledai yang mengira dirinya singa.” Lebih baik kita menjadi manusia yang tetap sederhana, meski banyak dipuji; tetap belajar, meski sudah dianggap berhasil; dan tetap teguh, meski dunia sunyi dari perhatian.

Sebab pada akhirnya, kebesaran bukanlah tentang seberapa banyak orang menyanjung, melainkan seberapa jujur kita pada diri sendiri.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai