Miskonsepsi tentang Pembelajaran Berdiferensiasi

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.

PERUBAHAN PARADIGMA

Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita. Pembahasan disiplin kali ini akan meninjau teori yang dikemukakan oleh Diane Gossen. Sebelum kita gali lebih lanjut tentang teori Disiplin Restitusi dari Diane Gossen, mari menyamakan model berpikir kita tentang disiplin itu sendiri. Lazimnya disiplin dikaitkan dengan kontrol. Dalam hal ini kontrol guru dalam menghadapi murid.

Di bawah ini adalah paparan Dr. William Glasser dalam Control Theory, untuk meluruskan berapa miskonsepsi tentang kontrol:

Ilusi guru mengontrol murid.

Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu

jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun

tampaknya kita sedang mengontrol perilaku murid tersebut, hal ini

karena murid tersebut sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu

bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid

tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki

tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai.

Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.

Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala

usaha untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku

tertentu, adalah suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam

jangka waktu tertentu, kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya

dan mencoba untuk menolak bujukan kita, atau bisa jadi murid tersebut

menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.

Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat

menguatkan karakter.

Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju

pada identitas gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri

mereka. Mereka mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang

kala sulit bagi guru untuk mengidentifikasi bahwa mereka melakukan

perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan suara halus

untuk menyampaikan pesan negatif.

Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.

Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung

jawab untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun

yang dilakukan dapat diterima, selama ada sebuah kemajuan

berdasarkan sebuah pengukuran kinerja. Pada saat itu pula, orang

dewasa akan menyadari bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif

untuk jangka waktu panjang, dan sebuah hubungan permusuhan akan

terbentuk.

Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada

pendekatan teori Kontrol? Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership,

1991) mengatakan bahwa,

“..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap

atau perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita,

maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda

melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah

paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu

tentang realitas”.

%d blogger menyukai ini: