Berpegang Pada Kebenaran, Kita Tidak Dapat Berdusta

Banyak diantara Kita mengeluhkan kondisi masyarakat kita sendiri. banyak orang tidak sesuai antara kata-kata dan tindakannya. tidak ada keselarasan. kita sendiri hanya “berkomentar” pada kondisi itu, kita tidak menjadi “ksatriya” untuk menjadi contoh yang memiliki keselarasan itu. kita mesti berusaha dengan pertama-tama berpegang pada kebenaran, berpegang pada kejujuran, berpegang pada Satya

YOGA SUTRA PATANJALI, II, 36

Satya-pratisthayam kriya phala asrayatvam

Hasil segala tindakan atau perbuatan seseorang yang berpegang teguh pada satya atau kebenaran, niscaya selaras dengan perbuatannya, tindakannya

Simply put, sederhananya, kebenaran tidak pernah menghasilkan dusta. Tiada kekhawatiran bagi seorang yogi yang berada pada jalur yang benar. Walau diterpa angin kencang, badai, topan, ia akan tetap survive berkat kekuatan kebenaran itu sendiri.

Ya, kebenaran atau satya adalah kekuatan, kejujuran adalah energi, integritas diri adalah kesaktian yang sesungguhnya. Apa arti pemberdayaan diri? Sesungguhnya pemberdayaan diri adalah kata lain dari laku kebenaran. Tanpa kebenaran dan kejujuran, seseorang tak akan mampu memberdayakan dirinya. Tanp[a kebenaran dan kejujuran, seseorang tidak dapat mengenali dirinya, tidak dapat mengetahui potensinya, kemudian bagaimana pula ia dapat memberdayakan diri? Memberdayakan diri dengan nilai-nilai apa?

Betul, memberdayakan diri dengan nilai-nilai apa? Persis seperti hola, banyak diantara kita yang menyalah artikan pemberdayaan diri sebagai penolakan terhadap segala macam nilai-nilai. Pokoknya aku mau memberdayakan diri saja., demikian pincangnya pemahaman hola. Aku tidak  berurusan dengan nilai-nilai yoga patanjali segala. Cukup aku dan diriku. Pemberdayaan diri tidak membutuhkan patanjali.

Banyak diantara kita yang lupa bahwa untuk memberdayakan diri pun kita butuh alat, sarana, untuk menyapu pekarangan saja kita butuh sapu. Adakah cara menyapu tanpa sapu?

Ada, sahut Hola, kaki dan tanganku sendiri kujadikan sapu. Aku tidak perlu sapu

Betul sekali, kaki tangan pun mesti di-jadi-kan sapu. Tetap saja ada sarana, ada alat, lalu apa salahnya jika patanjali menawarkan sapu? Kaki tangan kaki dan tangan bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih penting.

Menolak alat bantu sapu hanya karena menyalahartikan istilah pemberdayaan diri adalah kekonyolan. Tidak cerdas

Kembali pada satya atau kebenaran, banyak pengusaha, banyak industrialis “tanggung” sedemikian yakinnya bahwa dalam menjalankan usaha mereka, profesi mereka, seseorang tidak bisa 100% jujur, tidak bisa sepenuhnya bersandar pada kebenaran.

Sebelumnya saya selalu mengatakan bisa, sekarang saya mesti sedikit memperbaiki pernyataan saya, Bisa selama anda tidak serakah. Selama anda masih bisa menolak tawaran-tawaran untuk mendapatkan uang gampang.

Dalam hal ini kiranya sutra patanjali sudah amat sangat jelas. Seseorang yang berpegang teguh pada kebenaran, memang mesti ada upaya. Mesti ada kesiapsediaan untuk menghadapi tantangan seberat apapun, dan tetap tak tergoyahkan dalam keyakinannya. Tanpa pertahanan diri seperti itu, tantangan atau godaan ringan pun bisa membuat seseorang pindah haluan.

Keteguhan hati adalah syarat mutlak, khususnya bagi para yogi yang telah menentukan, memastikan tujuan hidupnya yaitu pencerahan

 

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di Apresiasi Buku, Materi Pelajaran, My Life Note, Pendidikan agama Hindu dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s