7 Sifat “Keperempuanan/Feminine” Yang Memanusiakan Manusia: Sapta-Tunggal untuk Refleksi Hari Ibu

Mrtyuh sarva-haraś cāham udbhavaś ca bhavisyatām

Kīrtih śrīr vāk ca nārīnām smrtir medhā dhrtih ksamā

Bhagavad Gīta, 10.34

“Akulah maut yang memisahkan semua, Aku pula Asal-Usul – Awal-Mula bagi kelahiran baru. Diantara para perempuan atau sifat-sifat Keperempuanan/Feminin, para Dewi, Akulah Kīrti, Śrī, Vāk, Smrti, Medhā, Dhrti dan Ksamā – Kemuliaan, Kesejahteraan, Kemampuan berbicara dengan baik, Daya Ingat, Kebijaksanaan, Keteguhan, dan Ketabahan atau Pemaafan.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Maskulin, Feminin, jender ketiga – Semuanya adalah Dia. Kematian, kelahiran – semuanya berasal dari-Nya.

Akulah maut, sekaligus Pemberi Kehidupan. Jadi bukan sekadar memusnahkan, tetapi memusnahkan supaya dapat mendaur-ulang kembali. Mematikan, memusnahkan, dan menghidupkan kembali.

Segala sesuatu yang sudah lama, sudah usang – mesti musnah supaya dapat didaur-ulang dan dihidupkan kembali. Sang Jiwa Agung meliputi kebenaran dan keberadaan seutuhnya. Tidak separuh-separuh. Kedua sisi kehidupan, kelahiran dan kematian – adalah Dia.

Penggalan berikut dari ayat ini lain dari yang lain. Jika selama ini, Krsna mengaitkan Sang Jiwa Agung dengan “Salah satu” sifat yang tertinggi, yang utama; dengan Salah satu manifestasi utama dari masing-masing kelompok – maka dalam Hal ini Ada 7 sifat yang diakui-Nya, Sama-Sama utama…

Sapta Tunggal! Menerjemahkan ketujuh sifat feminin atau Keperempuanan Sebagai Dewi, atau malaikat adalah sangat menyederhanakan maksud Krsna.

Perhatikan – setiap sifat ini adalah sifat utama yang membedakan manusia dari hewan-hewan jenis lain. Dan, semua sifat ini adalah feminin. Berarti yang memanusiakan manusia adalah sifat-sifat Keperempuanan ini.

Bukan saja memanusiakan perempuan, tetapi juga memanusiakan kaum pria. Sifat-sifat Kepriaaan, kejantanan, yang sering dibanggakan Sebagai sifat lelaki, antara lain; otot, kekuatan fisik, dinamika, semangat dan Sebagainya – sesungguhnya terkait dengan energi. Dan lagi-lagi Energi atau Śhakti adalah Feminine juga. Sifat “jantan” atau kejantanan, tidak seberapa terkait dengan lapisan-lapisan Kesadaran mental serta emosional, intelegensia, dan Sebagainya.

Apa yang kita sering banggakan sebagai sifat-sifat jantan itu adalah dimiliki juga oleh berbagai hewan jenis lain. Bahkan, mereka, barangkali lebih “jantan” dari kita.

Masukkan seorang manusia berotot ke dalam kandang singa yang sedang lapar. Bayangkan apa yang terjadi! Siapa yang menang…???

Keberanian?

Kadang seorang pemberani yang bisa melawan sistem dan pemerintahan korup pun bisa di buat takut oleh seekor kecoa!?! Mau bilang apa…???

Jadi, adalah sifat-sifat Keperempuanan yang justru membuat manusia menjadi manusia. Pria mau pun Wanita – dua-duanya butuh sifat-sifat ini.

Celakanya, seringkali seorang perempuan pun – yang semestinya memiliki “semua” sifat ini dari sono-nya, sudah embedded, sudah terprogram demikian – tidak menunjukkan, tidak mengungkapkan, atau Lebih tepatnya, tidak memanfaatkan sifat-sifat tersebut.

Jadi, urusannya bukanlah kalau sudah jadi perempuan, sudah memiliki sifat-sifat ini, maka perkara selesai. Tidak. Walau memilikinya, tidak semua perempuan memanfaatkannya. Pun, tidak semua pria tidak memiliki sifat-sifat ini. Ada pula pria yang, persis seperti perempuan, lahir dengan sifat-sifat ini sudah ter-install dalam dirinya. Ia tidak perlu mengembangkan. Tinggal menjalankan, run! Tidak perlu di-install lagi. Tidak perlu re-formatting.

Krsna tidak berurusan dengan frasa-frasa seperti “Wanita adalah kaum lemah yang mesti dilindungi”; “bagaimanapun juga kodratnya sebagai perempuan”; maupun dengan frasa yang tampak, terdengar sangat elegan, padahal merupakan penghinaan terhadap kaum perempuan, yaitu “kesetaraan jender”.

Kesetaraan Jender macam apa? Memberi otot kepada perempuan, menghapuskan ketujuh sifat di atas Karena ketujuh sifat itu bukanlah sifat-sifat lelaki. Apa itu maksudnya? Definisi kita tentang kesetaraan jender adalah sangat membingungkan, karena…

Tolok ukur kita selalu pria – Jadi, ketika seorang aktivis Hak-Hak perempuan pun merasa sedang berjuang untuk kesetaraan jender, sesungguhnya Ia terjebak dalam suatu pemahaman yang keliru.

Perempuan dengan memiliki ketujuh sifat di atas, yang seorang pria belum tentu memilikinya, sesungguhnya sudah lebih manusiawi daripada seorang pria. Lalu apa yang mesti disetarakan?

Mau mengganti rok perempuan dengan celana? Mau memendekkan rambutnya? Atau mau menutup seluruh badannya? Mau meng-apa-kan perempuan demi kesetaraan?

Ingat, seorang pria “belum tentu” memiliki ketujuh sifat ini sebagai bagian dari programming dasar di dalam dirinya. Ia mesti mengembangkannya. Potensinya Ada tetapi mesti dikembangkan.

Di pihak lain, setiap perempuan “sudah” memiliki ketujuh sifat ini Sebagai bagian dari programming dasarnya.

Celakanya, sebagian perempuan – seperti Hind dalam sejarah Islam, yang merobek dada Hamzah untuk memakan jantungnya; Salome dalam tradisi Kristiani, yang menjadi penyebab pembunuhan Nabi Yahya atau Yohanes, Sang Pembaptis; Zulaikha dalam tradisi Yahudi, Kristiani, maupun Islam, yang ingin mencelakakan Nabi Yusuf atau Joseph; Śūrpanakhā dalam Epos Rāmāyana yang menjadi penyebab penculikan Sītā – dan masih banyak perempuan-perempuan lain, di setiap zaman, dari zaman ke zaman – yang malah “mematikan” program dasar mereka, dan menghapus ketujuh sifat di atas. Perempuan-perempuan seperti inilah, kemudian, disebut setara dengan kaum pria. Berdarah dingin!

Apakah kesetaraan seperti itu yang dimaksud? Jika ya, maka tidak perlu menunggu hari kiamat. Silahkan setarakan setiap perempuan. Dan kiamat terjadi sekarang dan saat ini juga. Tidak perlu menunggu perang dunia ketiga. Tidak perlu senjata nuklir. Tidak perlu tsunami. Tidak perlu pemanasan global. Tidak perlu apa-apa. Setiap rumah, setiap rumah tangga, setiap keluarga akan mengalami disintegrasi. Semuanya akan hancur-lebur dalam sekejap!

Saatnya kita menolak kebencian – dan menyapa setiap Dewi yang disebut namanya oleh Krsna.

  1. Kīrti atau Kemuliaan; otot tidak bisa memuliakan kita. Muhammad Ali akan dikenang bukan karena ototnya yang sekarang terkalahkan oleh penyakit Parkinson. Ia akan di kenang karena berbagai kegiatan amal yang dilakukannya. Perhatikan Gandhi, Teresa – tidak punya otot. Bahkan, orang – orang sebesar Gandhi atau Tolstoy tidak pernah mengharapkan dan mengejar Penghargaan Nobel segala. Namun, mereka mulia. Hidup mereka mulia. Mereka dikenang sepanjang masa karena kemuliaan mereka.
  2. Śrī atau kesejahteraan; Dewi Sri, Laksmi, Berkah, Kemakmuran, Keberlimpahan… urusannya bukanlah “duit” saja. Urusannya adalah kesejahteraan secara holistik – general well being. Apa arti uang tanpa kesehatan, ketenangan batin, kebahagiaan sejati, dan kedamaian hati? Śrī mewakili kesejahteraan dalam pengertian yang seluas-luasnya. Kita boleh memiliki banyak uang, jika tetap tidak puas, tidak memiliki kepuasan hati – kita seorang miskin. Sebaliknya,  kita boleh tidak menjadi Rockefeller, tapi memiliki kesehatan, berkecukupan, bahagia, tenang, damai, dan di atas segalanya memiliki kepuasan hati – maka, kita sejahtera dalam pengertian yang sebenarnya.
  3. Vāk atau Kemampuan Berbicara; kemampuan untuk menyampaikan sesuatu dengan baik. Kemampuan untuk mempresentasikan sesuatu secara efektif dan meyakinkan. Vāk, dikaitkan dengan Dewi Saraswati – Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni. Ya, betul – tapi membebani otak dengan pengetahuan saja tidak cukup. Swami Vivekananda Mengatakan, “Janganlah membuat otakmu menjadi perpustakaan saja.” tidak berguna. Adalah penting bahwa pengetahuan yang kita miliki dapat digunakan, diaplikasikan, disebarluaskan, dibagikan dengan cara yang baik. Untuk itu kita membutuhkan Vāk – kemampuan, kebolehan, kecakapan untuk menyampaiakan sesuatu, baik secara lisan, maupun secara tertulis.
  4. Smrti atau Daya Ingat; Komputer otak kita boleh saja memiliki segudang informasi, apa gunanya jika file-file yang tersimpan itu tidak bisa di-retrive? Tidak bisa dibuka, tidak bisa diakses. Ini penyakit utama kita. Kita sudah memiliki segudang pengalaman, segudang hikmah dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Celakanya, kita tidak ingat. Maka kita mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama. Seperti lari di tempat saja. Kita berulang kali mati, lahir, mati, lahir untuk mengurusi hal-hal yang sama. Kenapa? Karena kita tidak tahu mau apa lagi. Tidak ingat. Tidak mampu menentukan arah yang mesti dituju.
  5. Medhā atau Kebijaksanaan; bukan sekadar pengetahuan tapi kebijaksanaan. Ini ibarat processor komputer, processor yang canggih. Tanpa processor, kita boleh punya segala macam data, tidak bisa memprosesnya. Tidak bisa komputasi.
  6. Dhrti atau Keteguhan; seringkali kita menyalahartikan keteguhan hati sebagai “keteguhan tanpa kompromi”. Berkepala batu atau beton, berotak beton, tidak sama dengan keteguhan hati. Keteguhan hati adalah sesuatu yang inteligen. Sesuatu yang dinamis. Sesuatu yang dapat berkembang. Sesuatu yang progresif. Keteguhan hati tidak berarti “Aku sudah begini dari sononya”. Itu keras kepala, stubbornness. Bukan keteguhan hati. Keteguhan hati ini merupakan bagian dari Sapta-Tungal. Seperti juga sifat-sifat lainnya, ia tidak berdiri sendiri. Keteguhan hati tanpa kebijaksanaan, ya itu, kepala batu. Bukan keteguhan hati. Sekarang terakhir…
  7. Ksamā atau Ketabahan/Kemampuan untuk Memaafkan; Kesabaran adalah bagian dari kemampuan ini.

Ketujuh sifat ini adalah Śhakti – kemampuan, strength, power, force. Tujuh kemampuan yang diawali dengan Kīrti atau Kemuliaan dan berakhir dengan Ksamā yang berarti Ketabahan atau pemaafan – adalah ibarat 7 kelopak dari bunga yang satu dan sama.

Ketujuh sifat ini adalah tunggal – seven-in-one. Tidak bisa memisahkan yang satu dari yang lain. Jika kita mengejar kemasyhuran atau ketenaran belaka, maka cukup mencari media. Kita tidak butuh Kīrti  atau Kemuliaan. Sebejat apa pun kita, punya fulus, punya dukungan politik, punya dukungan media – maka kita bisa menjadi tenar dalam sekejap.

Bukan, Kīrti bukan sekadar ketenaran atau Kemasyhuran. Demikian pula Śrī bukan sekedar tabungan, tapi kesejahteraan secara holistik. Dan, Ksamā bukan barteran. “Aku memaafkan kamu, asal…”. Ksamā adalah ketabahan dan kemampuan untuk memaafkan tanpa embel-embel, tanpa syarat. Jika kita sudah memiliki keenam sifat sebelumnya – maka mudah memaafkan! Jika belum, maka marilah kita mengembangkan dulu keenam sifat sebelumnya. Jadilah Krsna!

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 23 Desember 2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 488-492

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s