Jiwa sebagai Pengendali Badan

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā,

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

bandhur ātmātmanas tasya yenātmaivātmanā jitah,

anātmanas tu śatrutve vartetātmaiva śatru-vat

Bhagavad Gītā, 6.6

“Ketika kesadaran rendah (yang disebabkan karena identifikasj dengan badan, indra, dan gugusan pikiran serta Perasaan) telah tertaklukkan oleh Jiwa, maka Ia menjadi sahabat bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, Jika kesadaran rendah tidak tertaklukkan, maka Ia menjadi musuh bagi diri sendiri.”

Dalam ayat itu, Krsna menegaskan dan menjelaskan apa yang dimaksud-Nya dalam ayat sebelumnya.

“Jiwa yang telah menaklukkan kesadaran rendah” adalah Jiwa yang menyadari dirinya Sebagai pengemudi kendaraan badan, indra, serta gugusan pikiran dan perasaan (mind). Jiwa Sebagai pemegang Kendali adalah “diri” yang Sadar. Sebaliknya, Jiwa yang sedang “mengantuk” – sehingga, badan, indra, gugusan pikiran serta perasaannya sudah tidak terkendali lagi, tidak dalam pengendaliannya – adalah “diri” yang tidak sadar.

Sampai di tujuan dengan Selamat adalah hasil dari kesadaran diri. Dan, kecelakaan adalah hasil dari ketidaksadaran diri.

Sloka selanjutnya,

jitātmanah praśāntasya paramātmā samāhitah

śītosna-sukha-duhkhesu tathā mānāpamānayoh

Bhagavad Gītā, 6.7

“Seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya, meraih pengetahuan Sejati tentang Sang Jiwa Agung, Paramātma atau Brahman – Selalu tenang menghadapi dualitas panas-dingin; suka-dukha; pujian-cacian; dan sebagainya.”

Yang merasakan ketenangan itu siapa? Ya, gugusan pikiran dan perasaan (mind) juga. Ibarat kendaraan yang dikendalikan oleh seorang pengemudi yang cakap, awas, dan Sadar. Perjalanan hidup menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Perjalanan hidup menjadi sebuah perayaan – piknik, wisata tamasya… kendaraan badan dan indra pun melewati Segala pengalaman Tanpa terganggu oleh sesuatu. Saat itu, kita seolah memiliki kendaraan yang di lengkapi dengan pengatur cuaca; sehingga, sepanas atau sedingin apa pun cuaca di luar, kita tidak terpengaruh olehnya.

Pengatur cuaca yang dimaksud ialah Pengetahuan Sejati tentang Paramātmā, Brahman, atau Sang Jiwa Agung. Jiwa menyadari bila dirinya hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Ia tidak memiliki eksistensi di luar Sang Jiwa Agung. Kesadaran itu, Pengetahuan Sejati itulah pengatur cuaca yang dimaksud.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 30/12/2017-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gita oleh AK halaman 249-250

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s