Life is about choice

Life is about choice
Hanya ada 2 pilihan dalam hidup kita, preya dan shreya
preya adalah pilihan2 yang menyenangkan

shreya adalah pilihan2 yang memuliakan
bagaimana mengenali kedua hal ini? 

preya (yang menyenangkan) adalah sesuatu yang “tampak” hanya untuk memenuhi keinginan2 dan memuaskan nafsu. 

shreya (yang memuliakan) adalah sesuatu yang mulia, tidak merugikan siapapun, yang adalah wujud kasih. yang ibarat obat. ia pahit namun menyembuhkan. 
contoh dari kedua hal ini misalnya 

kita akan mengikuti sebuah lomba atau kompetisi apapun. demi sebuah ambisi juara, kita kemudian menggunakan berbagai cara untuk memenangkannya, seperti melakukan kecurangan. sebuah karya yang dibuatkan. dan seterusnya dan sebagainya
pilihan menjadi pemenang adalah pilihan preya, pilihan yang menyenangkan. menjadi pemenang sangat menyenangkan tetapi pengalaman menang dengan cara yang “curang” ini adalah pengalaman emosi dan bukan pengalaman jiwa. ini adalah ambisi.

dalam hal ini, kita akan melupakan proses, upaya, kesungguhan dan kejujuran. 
Tetapi dalam shreya, kita mengikuti kompetisi dengan kejujuran, ketekunan, dan berupaya serta berproses, maka kemenangan akan menjadi hadiah dari kesungguhan dan kejujuran. jikapun tidak menang, kita tidak akan bersedih, kita akan bahagia karena menempatkan kejujuran, menempatkan pengalamn jiwa diatas pengalaman emosi dan gengsi. kita akan mendengar suara nurani kita. 
demikian, kehidupan kita adalah tentang pilihan2. ada begitu banyak pilihan. akan tetapi hanya ada 2 kualitas yaitu preya dan shreya. 

kemampuan kita untuk memilih diantara keduanya sangat dipengaruhi oleh “cuaca”, lingkungan. cuaca dan lingkungan ini adalah “pergaulan” kita. 

penting bagi kita untuk bergaul dengan siapa dan bagaimana. pergaulan yang menunjang kesadaran adalah yang diperlukan oleh jiwa. 
tentang pergaulan, akan di tulis kemudian. 

semoga ini menjadi renungan kita, terutama bagi kita yang berperan sebagai pendidik. 
Om Sarve bhavantu sukhinah, sarve santu niramayah, sarve bhadrani pasyantu, ma kascit dukha bhag bhavet

Om shanti, shanti, shanti Om

Ketidakwarasan Kita

Ketidakwarasan Kita
Merefleksi diri, bahwa bangsa kita pernah di jajah oleh kaum penjajah. kejadiannya mungkin bukan karena para “penjajah” itu sangat jahat, tapi karena kita menerima dan terbuka dan siap serta rela untuk di jajah, masyarakat pada zaman itu banyak yang menjadi “prajurit” yang di bayar untuk menjajah bangsanya sendiri. seorang anak bangsa menjajah bangsanya sendiri, begitulah sejujurnya yang terjadi, namun di perhalus bahasanya agar “tidak malu” mereka di sebut prajurit dari negara penjajah, padahal ya rakyat “pribumi” yang di bayar. 
apa yang ingin saya tulis dengan merefleksikan cerita di atas, bahwa secara genetis kita mewarisi juga “kebodohan” itu, mudah di perdaya, mudah di bayar. 

sebuah kisah atau contoh dalam kehidupan sehari2…
seorang “ibu” mengasuh anak saya dan mengajarinya dengan cara “membodohinya” yaa namanya anak2 ya manut manut saja. saya terus mengamatinya meskipun saya tidak setuju dengan “caranya”. 

saya mengamatinya untuk keperluan “penelitian” kecil kecilan. 

hehehehe

kalo bukan, saya dan anak saya yang bereksperiment soal pengalaman seperti itu, bagaimana kami tau. hanya baca buku? itu hanya pengetahuan di kepala
begini kisahnya, 

si “ibu” ingin agar anak saya tinggal di rumah, tidak selalu ikut saya, mungkin karena kasihan saya terlihat “rempong”, maka dia berusaha dengan “merayu” anak saya, memberinya mainan kesukaannya, lalu saya di minta pergi diam2. 

contoh lain, saya diminta mengiyakan seluruh permintaan anak saya agar dia “diam” padahal dia di bohongi, semua kata iya itu tidak pernah terpenuhi. 

saya tidak setuju cara-cara seperti itu. itu membuat anak2 hidup dalam “hayalan”. membuatnya mendapat janji semu. saya tidak setuju gaya seperti itu

meskipun saya bukan orang tua yang berpengalaman dan di tambah saya adalah orang tua “baru”, tapi saya terus terbuka untuk belajar. 

bagi saya, ada metode lain yang memang terasa sulit dan berat namun akan memberinya pelajaran, memberinya “karakter”

metode itu adalah, saya mengajaknya bicara, menjelaskan padanya bahwa anak2 tidak boleh ikut ibunya bekerja dan seterusnya dan sebagainya. dia memang akan menangis dan tidak setuju dengan penjelasan kita, dia akan meronta2. saya akan membiarkannya menangis. wajar bagi anak kecil menangis ketika keinginannya tidak terpenuhi. saya kemudian akan terus mengulanginya setiap hari. bicara dengan anak kecil tidak seperti bicara dengan orang dewasa. sekali bicara sudah cukup. kalo dengan anak2. kita mesti melakukan “pengulangan”. karena kita sedang “memprogramnya”. memprogram ini bukan untuk membentuk anak – anak seperti yang kita inginkan, namun untuk memberinya pemahaman tentang situasi tertentu. 

saya juga mendengarkan kemauan mereka, saya juga memenuhi keinginannya. namun ada keinginan2 tertentu yang tidak boleh di penuhi. seperti kebanyakan makan coklat, selain menyebabkan radang, coklat juga berpotensi menggelisahkan anak2. sehingga sulit menenangkan diri. untuk kasus seperti ini tentu saya sebagai orang tua harus ekstra sabar dan tidak bosan melakukan pengulangan dan afirmasi.
pengulangan dan afirmasi ini saya berikan ketika selesai puja pagi, mereka akan menyentuh kaki saya, dan bersujud, dengan di lantunkan sebuah mantra. saya mengamati pada keadaan ini, anak2 akan menunggu sebuah pesan dan doa dari ibunya. anak2 manggut- manggut dan menunjukkan kesediaan dengan sukarela tanpa paksaan. buktikan sendiri!
nah untuk kejadian pertama itu di atas, kini anak saya tidak mau lagi di rayu, di kasi mainan kesukaan agar dia lupa bahwa ibunya akan berangkat kerja. dia tau itu “pembodohan dan kebohongan”

nah terbukti khan. 

anak saya menolak pemograman seperti itu. saya tau, anak- anak saya memiliki jiwa seperti saya, menyukai “kebebasan”. tidak suka banyak peraturan.
sebetulnya mengasuh anak tidak susah2 amat, tapi juga tidak gampang amat. 

saya hanya mengamati bahwa ketika anak semakin banyak di larang, dia akan semakin berontak. ini seperti menjadi hukum alamiah.

tapi sejak usia dini. dia harus tau dengan tegas bahwa prinsip2 dasar harus di lakukan. seperti puja atau sembahyang adalah prinsip dasar. membuat atau membentuk agar memiliki mood untuk sembahyang atau puja itu tidak mudah lho, anak2 harus di latih sejak dini. 
Mengapa saya kaitkan dengan “penjajahan”? karena ada perbedaan besar antara model pendidikan “orang zaman dulu” dengan zaman kini. mereka cenderung bermodel seperti pada zaman penjajahan. 

semoga saya tidak salah “menilai” ini. 
Ketika kita tidak belajar dari kejadian sehari2 maka itulah dimulainya Ketidakwarasan kita. kita hanya bernafas, dan belum benar – benar “menikmati” hidup ini
Selamat hari Pendidikan Nasional 

#longlifeeducation

#loveindonesia
jadikan setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, setiap buku adalah ilmu dan setiap waktu adalah kesempatan untuk belajar

Ki Hajar Dewantara

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai