Doa Pulang dari Luka

(untuk diriku yang ingin dicintai seutuhnya)

NM.Adnyani

Ya Jiwa,

bimbing aku pulang

dari pelukan yang hampa,

dari sentuhan yang hanya menyapa kulit

tapi tak pernah mengetuk hatiku.

Bimbing aku keluar

dari ruang-ruang yang menjadikan tubuhku

sebagai tempat singgah

bukan rumah.

Tolong,

lepaskan jejak-jejak yang menempel di kulit

tapi tak pernah tinggal di kasih.

Lepaskan bisikan yang mengaku cinta

tapi tak membawa pelukan,

tak membawa cium pada luka.

Aku berjalan di jalan pulang—

dan kutemui kematian kecil:

penjaja manis yang terjatuh,

meninggalkan nampan rasa

yang tak lagi disentuh siapa-siapa.

Aku menangisi itu,

bukan karena ia mati,

tapi karena aku tahu—

aku pernah seperti itu:

menawarkan cinta

saat diriku sendiri hampir tak hidup lagi.

Ya Jiwa,

hidupkan kembali bagian dalam diriku

yang ingin mencintai dengan tenang,

yang ingin dicintai tanpa syarat,

yang ingin disentuh tanpa takut kehilangan harga diri.

Biarkan yang lama terkubur dengan lembut.

Aku siap menjadi tanah baru.

Tempat di mana kasih bisa tumbuh,

bukan hanya datang dan pergi.

Hari ini,

aku memilih pulang.

Ke dalam pelukanku sendiri.

Ke dalam tubuhku yang kudekap sepenuh kasih.

Ke dalam jiwaku yang tak lagi meminta—

tapi menerima, dan merayakan keutuhan.

Om Śāntiḥ.

Aku Pulang.

Catatan Hati untuk Ayah yang Telah Tiada

Ketika Rindu Tak Pernah Selesai

Ayah,

Ida Pandita Agni Satya Dharma Laksana.

Sudah lebih dari satu tahun sejak kepergianmu, sejak dunia ini kehilangan sosok yang bagiku adalah cahaya dan pelindung. Tapi hari ini, aku merasakan rindu itu datang kembali… dengan deras, dengan dalam, dan dengan air mata yang tidak bisa kutahan.

Rindu ini datang tanpa alasan yang jelas. Hanya tiba-tiba memenuhi dada, seolah hatiku memanggilmu, memohon untuk dipeluk sekali saja oleh hadirmu yang kini hanya bisa kurasakan dalam kenangan.

Aku masih ingat betul—satu momen yang hangat, yang selalu tinggal di ingatanku. Saat aku pulang ke kampung, Ayah menyambutku dengan kegembiraan yang begitu tulus. Kau meneleponku berkali-kali, memastikan aku benar-benar datang. Suaramu waktu itu… penuh harap, penuh rindu. Dan ketika aku sampai, kau memasak sesuatu yang khusus untukku. Sederhana mungkin bagi dunia, tapi bagiku—itu adalah bentuk cinta paling murni yang pernah kurasakan.

Namun, ayah…

Ada satu hal yang terus mengganjal di hatiku. Saat itu, aku malah tidur di rumah mertua. Mungkin karena alasan waktu dan keadaan, tapi tetap saja aku menyesal. Aku tahu, kau pasti menunggu. Mungkin menatap pintu, berharap aku akan datang, duduk bersamamu, mengobrol seperti dulu. Tapi malam itu berlalu tanpa aku hadir di sisi tempatmu. Dan waktu tak pernah memberikan kesempatan kedua.

Ayah,

Kau wafat pada 18 Agustus 2022—bulan yang sama saat aku dilahirkan. Mungkin semesta sedang berbicara lewat waktu. Mungkin agar aku tak pernah lupa, bahwa ada cinta yang mengiringi langkah hidupku sejak awal, dan akan tetap bersamaku sampai akhir.

Hari ini, aku hanya bisa menulis… karena kata-kata adalah satu-satunya jembatan yang kutemukan antara dunia ini dan dunia tempatmu berada sekarang.

Aku ingin berkata:

Maaf, Ayah… atas waktu yang tak sempat kuberikan.

Terima kasih… atas cinta dan pengorbananmu yang tak pernah meminta imbalan.

Dan aku mencintaimu… lebih dari yang sempat terucap selama hidupmu.

Kini, aku hidup dengan rindu yang tak akan pernah selesai. Tapi aku tahu, dalam setiap langkahku, dalam setiap keputusan penting yang kuambil, dalam setiap doa yang kuucap—ada namamu, ada cintamu, ada doa-doamu yang diam-diam masih menuntunku.

Damailah di sana, Ayah.

Di sini, anakmu masih terus berjalan… membawa cintamu sebagai cahaya di setiap lorong hidup yang gelap.

—Anakmu,

yang selalu merindukan pulang

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai