Pada pelajaran Kali ini kita akan mempelajari tentang Dhyana, Swadhyaya, Upasthanigraha dan Bratha. jangan lupa di beri komentar yaa
Yama Bratha
UJIAN PRAKTIK TERBUKA PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI TINGKAT SMA/SMK TAHUN 2018
NYEPI & TAHUN BARU SAKA 1940: MEMBANGUN PERSAUDARAAN MELALUI KREATIVITAS Sebuah Refleksi Pawai Ogoh-Ogoh dan Budaya Nusantara Tahun 2018

Sumber gambar: FG_MA
We must live together as brothers or perish together as fool, Kita harus hidup bersama sebagai saudara atau binasa bersama sebagai orang bodoh. Demikian Martin Lutter King mengungkapkan. Ungkapan ini memberi makna pentingnya hidup bersama sebagai saudara agar kita tidak tercerai berai dan binasa bersama. Persaudaraan kita mesti dibangun diatas landasan kasih sayang dan bukan pada landasan kepentingan. Persaudaraan yang didasari kasih sayang membawa persaudaraan menjadi penuh warna keindahan dan keunikan. Sementara persaudaraan yang dibangun diatas landasan kepentingan akan memunculkan perpecahan, dan kekecewaan. Ketika tiada kepentingan maka tiada pula persaudaraan.
Persaudaraan tidak dapat dibangun diatas kata-kata dan konsep. Persaudaraan mesti diwujudnyatakan. Umat Hindu Kota Bontang bergerak dan merancang sebuah agenda ritun tahunan berupa Pawai Ogoh-ogoh dan Budaya Nusantara. Sebagai masyarakat pendatang umat Hindu ingin hadir sebagai anugrah yang mampu menjadi pelopor persatuan umat manusia.

Sumber gambar: FG_MA
Pawai Ogoh-ogoh dan Budaya nusantara yang dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Maret 2018 ini bertujuan melestarikan Budaya Nusantara yang ada di Kota Bontang, membangun sinergi atar komunitas, menciptakan rasa persaudaraan, dan meningkatkan kreatifitas. Beberapa komunitas yang terlibat diantaranya Bontang Ontel Community, JBI (motor custom), Paguyuban Wahyu Budoyo, Paguyuban Kesenian Arema, Paguyuban Bojonegoro, Kuda Lumping Ryo Manggolo Putro, Paguyuban Warga Kediri, Turonggo Galih Saputro, Putra Birawa, Ika Pakarti, Paguyuban Wargi Sunda, Duta Peduli Sampah dan di tutup dengan arak-arakan Ogoh-ogoh dan Bleganjur Umat Hindu Bontang. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Walikota Bontang, Bapak Basri Rase yang kemudian dirangkai dengan deklarasi “Anti Hoax”. Dalam sambutannya Wawali berbangga atas tolerasi dan silodaritas yang dibangun oleh umat Hindu Kota Bontang dan komunitas budaya lainnya. Dalam situasi politik seperti saat ini upaya memperkuat persatuan dan tolerasi sangat penting. Deklarasi Hoax bertujuan mengajak para peserta pawai untuk terus waspada terhadap berita-berita yang tidak benar dan menggiring pada perpecahan.
Ogoh-ogoh diperkirakan dikenal sejak jaman Dalem Balingkang. Dimana pada saat itu ogoh-ogoh digunakan dalam upacara Pitra Yajna, upacara penghormatan kepada leluhur. Sumber lain juga menyebutkan bahwa ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari Tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan Barong Landung yang merupakan perwujudan dari Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) merupakan cikal-bakal dari munculnya ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini.
Ogoh – ogoh biasanya berbentuk patung yang besar dan menyeramkan dan di buat dari bahan yang ringan seperti gabus atau stereofoam. Pembuatan ogoh-ogoh inilah mempererat persatuan antar pemuda serta menciptakan kreatifitas. Ogoh-Ogoh memiliki peranan sebagai penetralisir kekuatan-kekuatan negative atau kekuatan Bhuta (kekuatan Alam) termasuk sifat-sifat negative pada diri manusia. Ogoh-ogoh diarak keliling desa untuk mengingatkan masyarakat bahwa negativitas seperti penyakit masyarakat mesti dihindari bersama-sama.
Kegiatan yang di prakarsai oleh PHDI Kota Bontang melalui organisasi Pemuda Hindu (Peradah Kota Bontang) ini adalah kegiatan swadaya masyarakat. Keterlibatan setiap komunitas didorong oleh rasa persaudaraan dan kecintaan terhadap budaya serta ajang menunjukkan kreatifitas. Agenda rutin ini juga dalam rangka memperingati perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1940 yang jatuh pada Sabtu, 17 Maret 2018. Dimana Nyepi di sebut sebagai Silent Day. Hari yang sepi. Masyarakat Hindu menyepi. Mereka melaksanakan catur Brata Penyepian yaitu Tidak Bekerja, Tidak Bepergian, Tidak menyalakan Api/Lampu, dan tidak menikmati hiburan sebagai mana biasanya. Satu hari dalam setahun, masyarakat Hindu nusantara melakukan refleksi, perenungan dan instrokpeksi diri. Nyepi juga di sebut sebagai hari untuk mempraktikkan kotemplasi dan meditasi. Dimana pada hari ini resolusi baru diciptakan dalam keadaan Deep Silent. Dalam keadaan sepi dan sunyi yang mendalam.
Mengapa resolusi mesti diciptakan dalam keadaan sepi dan sunyi? Sebagaimana Lao Tzu mengatakan bahwa Silent is a source of great Strength. Sunyi/sepi adalah sebuah sumber kekuatan yang besar. Di dalam sepi dan sunyi inilah seluruh konflik melebur, seluruh konflik di temukan solusinya. Dalam sunyi, segala perbedaan menghilang. Lao Tzu mengajak kita untuk melakukan inner transformation (Transformasi di dalam diri). Lao tzu memahami bahwa dua hal yang tidak pernah bertemu di dalam diri kita adalah kata-kata dan perbuatan. Tetapi kata-kata dan perbuatan dapat bertemu dalam keadaan silent. Kebisingan di dalam diri pecah dan menyatu dalam kesunyian. Selamat menyambut Tahun Baru Saka 1940 kepada umat Hindu seluruh Nusantara.
Salam Rahayu….
Bontang, 11 Maret 2018_MA
Di awali Dengan Ketidaktahuan dan Di Akhiri Dengan Ketidakpastian
Siang itu Jumat, 9 maret 2018. Setelah pulang dari kantor, aku bergegas menuju kota Samarinda. Setiap Jumat aku memang wirawiri bontang-samarinda dan sebaliknya.
Sebelumnya aku sering kali ngeri membayangkan bagaimana aku bolak balik di kedua Kota ini sejak aku memutuskan untuk melanjutkan studi S2ku. Kini terasa dekat. Sebelumnya aku biasa berangkat subuh jam 4 atau paling telat berangkat jam 7 Pagi. Kini aku bisa berangkat Setelah pulang kerja 11.30 an. Keberanian ku kini bertumbuh. Banyak informasi Baru, pengetahuan Baru, Dosen Baru, teman Baru… semuanya unik dan membuat pola berpikirku berubah.
Hari itu aku bersemangat akan mengikuti perkuliahan filsafat. Salah satu mata kuliah favorit sejak studi S1 dulu. Filsafat itu seolah membawa ku berpikir bebas… dan memberi jawaban-jawaban “radikal” atas pertanyaan ku yang rasional maupun irasional. Aku menyukai ungkapan-ungkapan filsafat yang membutuhkan perenungan, yang terdengar aneh namun mengandung kebenaran.
Para Dosen filsafat juga cenderung sepuh, bahagia, teduh dan menyenangkan. Mereka berpikir mendalam. Rata-rata Beliau adalah Para Professor. Rasanya aku tidak ingin ketinggalan mata kuliah ini. Hingga aku rela bolak-balik bontang – samarinda.
Hari itu ketika aku sudah di dalam Kelas dan mendengarkan penjelasan Dosen ku, Dosen meminta kami untuk merenungkan sebuah kalimat “Diawali Dengan Ketidaktahuan dan diakhiri Dengan ketidakpastian”
Dengan memberi banyak contoh, saya pribadi mulai memahami dan menerima kebenaran kalimat itu.
Pernyataan ini seolah-olah, merobohkan keangkuhan kecerdasan. Keangkuhan rasionalitas. Apapun yang engkau capai adalah pencapaian dari keterbatasan: keterbatasan tenaga, keterbatasan Pikiran, keterbatasan Waktu dan lain Sebagainya. Dengan segala keterbatasan itu kita memperoleh kebenaran yang juga terbatas. Kebenaran yang tidak pasti.
Sebagai contoh, seseorang menyusun skripsi, tesis, desertasi Dengan susah payah… Dengan banyak pengorbanan, namun pada akhirnya kebenarannya hanya terbatas pada istrument penelitian yang digunakan. Bisa jadi kebenaran yang ditemukan hanya bertahan pada Waktu tertentu. Tidak untuk selamanya.
Dengan memahami Ini Bukan berarti kita tidak perlu menyusun skripsi, tesis, desertasi Dengan serius, namun ini mengajarkan kita bahwa Waktu terus berjalan dan perubahan akan selalu mengikuti Sang Waktu. Kita akan mengisi Waktu dan hari-Hari kita Dengan “Cinta”. Cinta pada kebenaran. Hal ini membutuhkan latihan, membutuhkan kesabaran dan keuletan dalam menemukan makna cinta dari sesuatu yang tidak pasti.
Meski sudah mengetahui bahwa hasil akhir dari skripsi, tesis Dan desertasi adalah ketidakpastian kita akan mendapat “lesson”nya. Kita akan menemukan cinta dalam prosesnya.
Kita mesti memenggal ego dan arogansi ketika kita sedang dalam proses bimbingan untuk menyusun skripsi, tesis dan desertasi itu. Meskipun kita mengetahui bahwa Segala sesuatunya serba tidak pasti. Yang pasti hanyalah ketika kita berbuat. Ketika kita berbuat yang terbaik, Maka pasti akan Ada hasil. Lebih Baik berbuat dari pada tidak sama sekali.
Saya kemudian menjadi paham mengapa mata kuliah filsafat diajarkan pada setiap disiplin Ilmu. Filsafat dapat mengimbangi keangkuhan rasionalitas. Filsafat adalah “Mother of knowledge”. IBu dari Ilmu pengetahuan. Sebagai ibu, filsafat akan membimbing kita pada “kasih” pada penemuan “cinta”
Mari merenungi diri… tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan esensial dari hidup kita. Siapakah Aku? Mengapa aku Disini? Apa misi hidup ku? Dan seterusnya dan Sebagainya.
Terimakasih Prof. Amir dan DR. S. Devung
I Love Filsafat
Bontang, 10/03/2018-MA
Salam Rahayu


Umat Hindu Bontang Bersinergi Membangun Sumber Daya Manusia yang Produktif dan Kompeten

Kebebasan berorganisasi dan berkegiatan adalah hak asasi setiap orang. Undang – Undang Dasar (UUD) negara Republik Indonesia memberikan jaminan kepada seluruh warga negara untuk berkumpul dan mendirikan organisasi. Dalam UUD 1945 pasal 28 dan 28E ayat 3 memberi hak kepada kita untuk menggunakan kemerdekaan berserikat dan berkumpul dengan mengeluarkan pendapat secara lisan dan tertulis maupun dalam bentuk kegiatan untuk tujuan yang jelas dan mulia. Organisasi Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) adalah majelis tertinggi yang mewadahi umat Hindu seluruh Indonesia untuk dapat menyalurkan kebebasan berpendapatnya, tentu dengan pakem khas ala Hindu Indonesia. Sejalan dengan tujuan organisasi yaitu menyiapkan sumber daya manusia melalui peningkatan pemahaman tattwa, etika dan upacara umat Hindu, maka dilakukan upaya-upaya melaksanakan workshop dan sejenisnya.
PHDI Kota Bontang melaksanakan Workshop Tattwa dan Upacara sebagai upaya melaksanakan hasil Keputusan Loka Sabha VII PHDI Kota Bontang Nomor: 006/KEP/LS-VI/PHDI-BTG/2017 tentang Pokok-Pokok Pikiran, dan Rekomendasi PHDI Kota Bontang Masa Bhakti 2017-2022; dan sebagai bentuk menjalankan program kerja kepengurusan sebagaimana Surat Keputusan PHDI Provinsi Kalimantan Timur Nomor: 03/SK/PHDI-KALTIM/III/2017 tentang Pengesahan Susunan dan Personalia Pengurus PHDI Kota Bontang Masa Bhakti 2017-2022.
Pada hari Jumat, 16 Februari 2018 dilaksanakan rapat pengurus organisasi Agama dan keagamaan yaitu PHDI Bontang, WHDI Bontang, Pasraman Widya Buana, ISD Kota Bontang, Peradah Kota Bontang, dan Sanggar Seni Gayatri. Rapat ini bertujuan untuk mempersiapkan rangkaian kegiatan Workshop Tattwa dan Upacara dan membentuk panitia pelaksana kegiatan. Para panitia kemudian bekerja dan berkoordinasi dengan perguruan tinggi Hindu yang dapat membantu merealisasikan program ini. Melalui surat permohonan pengabdian masyarakat kepada Rektor IHDN Denpasar nomor 38/PHDI-BTG/XI/2017 tanggal 6 November 2017 tentang permohonan pengabdian masyarakat yang direvisi dengan surat permohonan narasumber nomor 01/PHDI-BTG/I/2018 tanggal 12 Januari 2018 tentang Permohonan Narasumber Workshop. IHDN Denpasar merespon surat permohonan panitia melalui program pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan masyarakat dan surat balasan berupa Surat Tugas Nomor: 572/Ihn.01/1/Kp.02.3/02/2018 sebagai penugasan kepada para Narasumber kegiatan Workshop Tattwa dan Upacara.

Adapun Tujuan dilaksanakannya workshop ini adalah untuk melaksanakan hasil keputusan Loka Sabha PHDI kota Bontang tahun 2017; Melaksakan program kerja PHDI Bontang periode 2017-2022 bidang Keagamaan; Meningkatkan pemahaman Tattwa dan Upacara bagi umat Hindu Kota Bontang; Penyegaran pemahaman guru-guru pasraman Widya Buana Kota Bontang; Memberikan keterampilan teknis kepada para pemangku yang baru melaksanakan pawintenan pemangku; Memberikan keterampilan teknis kepada para pengurus ISD untuk dapat melaksanakan perawatan jenasah; dan terus bersinergi antar organisasi agama dan keagamaan untuk membangun sumber daya manusia yang produktif dan kompeten di bidang masing-masing.
Target/output dari workshop ini adalah meningkatnya pemahaman tattwa dan Upacara bagi umat Hindu Kota Bontang, dan adanya panduan tetap tentang Perawatan Jenasah bagi umat Hindu Kota Bontang yang dapat digunakan secara terus menerus dalam bentuk Buku Saku. Selain target tersebut, diharapkan para pemangku dan para pengurus ISD memiliki keterampilan teknis dalam melaksanakan tugasnya; serta adanya pemahaman yang lebih mantap dari guru-guru Pasraman dalam melaksakan tugas pengajaran di Pasraman.
Dalam Workshop Tattwa dan Upacara ini, terdapat sub kegiatan diantaranya Dharma Tula dengan seluruh Umat Hindu dengan Tema Sumber Daya Manusia Hindu Modern; Dharma Tula WHDI Kota bontang dengan tema Peran Wanita Hindu dalam membentuk Keluarga Sukhinah; Dharma Tula Peradah Bontang dengan tema Peran Pemuda dalam meningkatkan eksistensi Hindu; Workshop Guru Pasraman, Workshop Kepemangkuan dan Workshop Perawatan jenasah. Workshop kepemangkuan adalah workshop yang rutin di laksanakan setiap periode. Namun workshop Guru Pasraman dan Workshop perawatan jenasah adalah yang pertama kalinya. Antusiasme umat Hindu kota Bontang sangat tinggi terhadap workshop perawatan jenasah ini.
Dalam kegiatan Dharma Tula, para peserta mendapatkan pengalaman belajar melalui diskusi sesuai dengan tema. Sedangkan dalam Workshop perawatan jenasah, para peserta mendapatkan materi tentang Wariga Panca Yajna, Sawa Prateka, Praktek Memandikan Jenasah, dan Banten Pranawa. Workshop kepemangkuan, peserta mendapatkan materi tentang Sesana Pemangku, Tattwa, Mantra dan Mudra, Pengantar Darsana, dan Implementasi Acara Agama Hindu sesuai Drsta. Sementara dalam Workshop Guru pasraman diberikan materi Pemantapan Penguatan Pendidikan Karakter Agama Hindu di abad 21 dan Modalitas Belajar Agama Hindu
Workshop yang diperuntukkan bagi seluruh Umat Hindu Kota Bontang ini dihadiri oleh 140 orang peserta dari berbagai elemen, baik Pinandita, Walaka, Pengurus Organisasi dan seluruh umat Hindu di kota Bontang dan disekitarnya seperti perwakilan dari kabupaten Kutai Timur. Workshop yang dilaksanakan selama 4 hari, yaitu dari hari Kamis-Minggu, 22-25 Februari 2018, bertempat di Pura Buana Agung Kota Bontang menghadirkan Narasumber DR. I Wayan Miarta, M.Ag (Ida Pandita Sri Mpu Acarya Nanda); DR. Made Sri Putri Purnamawati, M.A.,M.Erg; DR. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., MPhil.H.; DR. I Gede Sutarya, M.Ag; dan DR. Kadek Aria Prima Dewi.
Pengetahuan teknis tentang merawat jenasah sangat diperlukan oleh setiap orang. Seharusnya pengetahuan teknis ini sudah didapatkan oleh anak-anak kita sejak di bangku SMA, namun faktanya kurikulum kita belum mengakomodir kemampuan tentang merawat jenasah. Sehingga terobosan-terobosan berupa wokshop seperti ini wajib diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk anak-anak setingkat SMA. Kita mesti menumbuhkan kesadaran bahwa merawat jenasah adalah kebutuhan setiap orang. Setiap dari kita pasti akan menjadi jenasah karena kematian adalah suatu keniscayaan. Para orang tua, para guru, dan seluruh lapisan masyarakat mesti mengetahui bagaimana merawat jenasah. Perawatan jenasah bukan hanya tugas para pinandita atau tokoh masyarakat. Tetapi adalah tugas kita bersama.
Membangun sumber daya manusia tidak dapat dilaksanakan secara sendiri tetapi mesti bersinergi antar individu dan antar organisasi. Organisasi keumatan akan melemah manakala mengedepankan konflik. Untuk itu sinergi diperlukan. Dengan anggaran yang sangat minim, kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan lancar atas bantuan yang diberikan oleh WHDI Kota Bontang dalam bentuk gotong royong menyiapkan dan membawa konsumsi umat dari rumah masing-masing. Pasraman Widya Buana Kota Bontang dan ISD Kota Bontang menyiapkan doorprize untuk para peserta yang hadir. Peradah Kota Bontang membantu mendekorasi tempat kegiatan dan tentu Kaos Botex sebagai designer spanduk kegiatan.

Menjadi Yogi yang Tak Tercemar oleh Noda dan Dosa
Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā
Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ
(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
praśānta-manasam hy enam yoginam sukham uttamam
upaiti śānta-rajasam brahma-bhūtam akalmasam
Bhagavad Gītā, 6.27
“Bagi seorang Yogī yang Tenang serta terkendali gugusan pikiran dan perasaan, pun nafsunya – maka, tiada lagi ia tercemar oleh noda dosa-kekhilafan, dan dengan mudah ia bersatu dengan Hyang Agung, serta meraih kebahagiaan tertinggi.”
Terkendalinya gugusan pikiran dan perasaan berakibatkan diri Kita tidak tergoda lagi oleh objek-objek Dari luar diri yang umumnya memberi angin pada api hawa nafsu.
BERARTI, JIKA GIGUSAN PIKIRAN DAN PERASAAN belum terkendali, maka hawa nafsu pun tidak dapat di kendalikan. Seorang Boleh bersumpah telah atau akan “menahan nafsu” – Jika pikiran/perasaannya belum terkendali, sumpahnya tidak berarti Apa-Apa.
Semuanya ini langkah-langkah yang bersifat sangat teknis, dan menjelaskan alasan kegagalan kita selama ini. Mau langsung mengingat Tuhan, berjapa, mau langsung mengendalikan nafsu – tidak bisa. Mesti mengikuti tahap an-tahapan sebagaimana dijelaskan disini.
Penjelasan Krsna membuktikan bila Ia memahami betul kinerja Mind dan psikologi manusia. Ia tahu persis bagaimana seorang manusia dapat mengalami kedamaian Sejati dan kebahagiaan total. Ia bukanlah seorang ahli yang asal-asalan atau asal bunyi. Kedamaian Sejati dan kebahagiaan abadi tidak bisa di peroleh dari Hal-Hal duniawi yang bersifat tidak abadi. Pengalaman itu hanya dapat di peroleh Jika seseorang berada dalam Kesadaran abadi, dalam keabadian. Ketika Jiwa menyadari hakikatnya Sebagai percikan dari Jiwa Agung.
Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ
(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
Bontang, 15/02/18-MA
Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK

Meditasi dan Japa: Langkah-Langkah dalam Pengendalian Mind (Pikiran dan Perasaan) yang Liar

Sumber gambar: google
Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā
Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ
(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
yato yato niścarati manaś cañcalam asthiram
tatas tato niyamyaitad ātmany eva vaśam nayet
Bhagavad Gītā, 6.26
“Dengan menarik gugusan pikiran serta perasaan – yang senantiasa liar dan bergejolak – dari segala objek maupun keadaan di luar yang dapat menggodanya, hendaknya seorang Yogī memusatkan seluruh Kesadaran pada dirinya sendiri (Kesadaran Jiwa sebagai percikan Sang Jiwa Agung).”
Fokus pada dirimu sendiri, pada Jiwa, pada percikan Sang Jiwa Agung, Jiwa Abadi, Jiwa Sejati yang bersemayam di dalam diri. Inilah Meditasi.
JIKA SULIT MEMUSATKAN KESADARAN pada diri sendiri, Maka bisa menggunakan sarana japa pada Hyang Maha Kuasa. Jika sulit merasakan kehadiran-Nya di dalam diri, maka pusatkan kesadaran pada Dia Sebagai Penguasa Tunggal Alam Semesta.
Sesungguhnya menuju Tuhan di luar diri adalah lebih sulit dan membuang waktu. Namun, Jika memang conditioning kita sejak kecil adalah Tuhan Sebagai Penguasa Surga dan berada di lapisan langit tertinggi, jauh di atas sana, maka Apa Boleh Buat?
Silahkan memusatkan kesadaran pada Tuhan yang berada di luar diri yang meliputi semesta termasuk diri kita. Pada suatu ketika, setelah mengelilingi entah berapa banyak konstelasi perbintangan dan menjelajahi sebagian dari semesta yang Maha luas – kita akan lelah sendiri – dan mulai mencari-Nya di dalam diri. Ini adalah suatu keniscayaan.
MENGHARAMKAN PEMICU DI LUAR DIRI malah menambah godaan. Budaya yang menahan hasrat seks misalnya, malah melahirkan kebiasaan-kebiasaan seksual yang tidak normal. Pun demikian dengan arak.
Dengan mengharamkannya, kita hanya menyuburkan black-marketing dan memberi peluang bagi Para pedagang untuk menjualnya secara sembunyi-sembunyi.
Sebab itu kita mesti menarik diri dari segala pemicu – objek, orang, maupun keadaan – dengan “kesadaran sendiri” – sehingga tidak Ada yang dapat menggoda kita lagi.
Jika pemicu-pemicu tersebut diharamkan, Maka…
“PENARIKAN DIRI” PUN IKUT TERHARAMKAN – kita malah tidak bisa menarik diri. Seseorang yang diharamkan mengkonsumsi arak di negerinya, menjadi mabuk tak tanggung-tanggung ketika Baru naik pesawat menuju negara lain. Dalihnya, “saya sudah melewati kawasan udara dan batas negeri yang mengharamkan arak. Disini tidak lagi.” Maka Ia pun meminum arak Tanpa Kendali, seolah hendak balas dendam atas puasa-arak selama Ia berada di negerinya.
Menarik diri dari godaan-godaan di luar, berarti…
ADA ARAK, TAPI SAYA TIDAK TERGODA OLEHNYA – Ada segala macam pemicu di luar – tapi Saya tidak terangsang. Namun, itu Baru langkah pertama. Setelah menarik diri, pikiran serta perasaan, seluruh kesadaran mesti diarahkan, dibelokkan ke diri sendiri, kepada Jiwa yang adalah percikan Sang Jiwa Agung.
Langkah kedua ini tidak kalah penting, sehingga gugusan pikiran serta perasaan yang sudah di Tarik itu memiliki pekerjaan lain, supaya Ia tidak liar kembali.
Banyak yang menganjurkan langkah kedua Tanpa mewajibkan langkah pertama. Inilah alasan utama kegagalan dalam Hal pengendalian diri. Kemudian Mereka yang sedang berupaya demikian, malah menjadi munafik. Japamala di tangan, ucapan-ucapan Suci di bibir – tapi api nafsu membara di dalam diri.
Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ
(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
Bontang, 13/02/2018-MA
Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK

Kesadaran ‘Diri’ Tidak Terjadi Secara Instan
Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā
Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ
(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
śanaih śanair uparamed buddhyā dhrti-grhītayā
ātma-samstham manah krtvā na kiñcid api cintayet
Bhagavad Gītā, 6.25
“Dengan menggunakan akal-budi – Inteligensia – seorang Yogī memusatkan seluruh kesadarannya pada ‘Diri’ – Jiwa yang adalah percikan Sang Jiwa Agung – Demikian secara perlahan tapi pasti, dan dengan keteguhan hati, Ia mencapai kesempurnaan diri”
Tidak Ada jaminan “Instant Meditation” atau “Pencerahan Instan”. Mereka yang menawarkan dan memasang iklan seperti itu, tidak memahami Meditasi. Bahkan, tidak memahami kinerja Mind – gugusan pikiran dan perasaan. Mereka tidak, atau, belum mampu menyelami diri.
SEORANG PELARI SEHEBAT APA PUN, masih tetap membutuhkan pemanasan diri. Dengan perkembangan Teknologi sehebat saat ini, seorang Anak yang lahir sebelum waktunya, masih tetap membutuhkan “rahim-buatan” berupa inkubator.
Pencerahan terjadi “secara instan” – tapi dibutuhkan Waktu untuk menuju instant itu. Sesungguhnya, proses menuju pencerahan itu Sama pentingnya dengan “instant pencerahan”. Apa yang di jelaskan dalam Kamasutra tentang foreplay, sanggama, dan afterplay – juga berlaku bagi proses Meditasi; pra-pencerahan, pencerahan, dn pasca-pencerahan. Demikian juga Yoga Sebagai latihan, Yoga Sebagai Tujuan, dan Yoga Sebagai pola hidup selanjutnya. Dan,
KESEMPURNAAN DALAM YOGA, ATAU KESEMPURNAAN-DIRI mesti diupayakan secara perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Untuk merasakan hasil Yoga, kita membutuhkan “minimal” 9 Tahun, dan ujian awal Semester Pertama dari keberadaan di mana keteguhan kita, kesabaran kita akan di uji.
Masa berikutnya – 9 Tahun berikutnya – diakhiri dengan ujian menengah semester Kedua untuk menguji kesadaran kita, apakah Tergoyahkan oleh Tantangan-tantangan hidup atau tidak.
Ujian terakhir – setelah masa 9 Tahun yang ketiga – adalah ujian Semester Ketiga sebelum masuk Istana Gusti Pangeran!
MUNGKIN ADA YANG BERTANYA: SETELAH ITU? Setelah masa 27 Tahun? Setelah lulus ujian terakhir dan memasuki Istana Gusti Pangeran? Tidak perlu memikirkan Apa yang dilakukan oleh seorang Ph.D Sebagai Researcher. Raihlah Ph.D anda, dan anda akan tahu sendiri bagaimana memanfaatkan Ilmu Anda sebagai ahli riset!
Seperti apakah kebahagiaan sejati, kedamaian Sejati, dan kesadaran murni yang kita Alami – bukanlah sesuatu yang dapat di bahas. Mesti dirasakan sendiri, dialami sendiri!
Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ
(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
Bontang, 07/02/2018-MA
Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 266-267

Buku Literasi Munti Gunung
Buku Karya mba Restika Dewi ini luar biasa. Saya berjanji akan memberikan sekelumit pendapat saya soal buku ini. Nah Kali ini Baru sempat saya sampaikan karena baru selesai membacanya.
Buku ini saya terima sebelum tahun baru tepatnya 30 Desember 2017… dan Ada ucapan Selamat Tahun dari Mba Restika… Terimakasih Mba…
Sebelum menulis pendapat saya soal buku ini, Saya mau cerita dulu perkenalan saya dengan mba Restika… Kami bertemu ketika Kami Sama-Sama Sebagai peserta Lomba Dharma Wacana Berbahasa Inggris Dewasa Putri Utsawa Dharma Gita (UGD) Nasional yang di selenggarakan di Palembang pada Juli 2017 lalu. Mba Dewi panggilan saya, mewakili propinsi Bali dan saya sendiri mewakili propinsi Kalimantan Timur. Kereeen khan… hahahhahaha
Setelah perkenalan singkat itu, tidak menyangka saya akan membaca tulisan kakak yang smart ini. Ketika di posting di fb Karya Beliau. Saya pun langsung memesannya. Setelah sampai buku ini saya simpan karena belum sempat membaca. Dan hari ini saya sudah membacanya. Saya tertawa ketika membacanya Karena bahasanya Gaul dan memang di Buat dalam kemasan bacaan ringan
Buku ini bercerita tentang hidup Mba Dewi. Perjuangannya, jatuh bangun nya… keindahan dan prestasi. Saya menyukai tulisannya. Ketika saya membaca, saya sangat menikmatinya, hingga lupa waktu. Wow pokoknya.
Bagian yang Jadi inspirasinya adalah bahwa keadaan mba Dewi serupa seperti yang saya Alami… ketika Mba Dewi mendapat dukungan penuh dari orang tuanya yang berprofesi sebagai pendidik. Saya malah sebaliknya. Ibu saya Buta Huruf. Dan memiliki cara berpikir yang Sama seperti pendapat masyarakat munti gunung. Perempuan tidak perlu sekolah. Kerja saja juga bisa hidup. Sekolah itu menghabiskan uang. Kalau Kerja malah dapat uang. Dan seterusnya dan Sebagainya. Kebayankan gimana saya berjuang. Seperti Drama deh hahahhaha
Di kampung saya di daerah transmigran sana, saya juga tidak menikmati listrik. Sekolah jalan kaki 7km. Nonton rame2 di tempat orang yang punya TV juga pernah mba. Sampai Sekarang kampung itu belum Ada PLN masuk desa. Masih menikmati disel swadaya masyarakat.
Mungkin dari angkatan sekolah saya Waktu SD, di kalangan orang Bali, saya adalah sarjana perempuan pertama di kampung itu. Angkatan Saya Ada 4 orang Bali (Hindu) dan saya adalah sarjana satu-satunya. Kereen khan. Boleh dong Bangga…. hehehhehe padahal biasa Aja ya khan…. hihihi
Sekarang sudah banyak yang mau sekolah. Dan banyak sarjana di kampung. Bangga dengan perubahan yang terjadi.
Apa yang ingin saya sampaikan? Bahwa kondisi di tulisan itu, mengambarkan Apa yang saya alami sendiri. Sehingga seperti sedang membaca tulisan tentang diri sendiri jadinya. Kegelisahan mba Dewi untuk memperbaiki generasi Sama dengan kegelisahan saya. Tapi saya melihat mba Dewi sangat beruntung sehingga bisa kembali membangun kampungnya dan bahkan telah menulis buku. Salut mba…
Dan ini menginspirasi saya.
Satu lagi yang Sama, skripsi Saya pun tentang “Gepeng” mba… hehehhe
Intinya saya Bangga Mba. Dan adalah sebuah anugrah kenalan Sama mba Dewi
Salam Rahayu Mba… Semoga sehat, bahagia dan terus berkarya. Salam buat ayah Ibunya yaa… kapan-kapan main Ke Kalimantan Timur. Rumah saya terbuka untuk Mba Dewi dan keluarga
🌸🌸🌸🙏


