Tahapan-Tahapan Hidup Meditatif

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Sankalpa-prabhavān kāmāms tyaktvā sarvān aśesatah

manasaivendriya-grāmam viniyamya samantatah

Bhagavad Gītā, 6.24

“Dengan melepaskan segala keinginan duniawi dan mengendalikan seluruh Indra dengan menggunakan gugusan pikiran dan perasaan (manah atau mind yang sudah terkendali lewat Meditasi”

Krsna menjelaskan tahapan-tahapan dalam Meditasi. Sebelum mengendalikan hawa nafsu – keinginan-keinginan duniawi dan kenikmatan indra – gugusan pikiran serta perasaan mesti terkendali terlebih dahulu.

BANYAK KISAH, BANYAK CERITA tentang kegagalan Mereka yang sudah berusaha mati-matian, tapi tetap gagal mengendalikan hawa nafsu, mengatasi godaan indra, dan Sebagainya. Sebabnya adalah, gugusan pikiran serta perasaan mereka (mind) belum Terkendali.

Para rahib yang menjadi pedofil; para pemimpin yang tidak mampu mengendalikan hawa-nafsu; Para pendeta dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam tindakan-tindakan asosial; Para politisi, pejabat, dan wakil rakyat korup yang tergiur oleh gratifikasi seks – banyak cerita, banyak kisah. Karena belum meditatif, mereka tidak bisa melaksanakan tugas mereka dengan baik.

Mind dulu – gugusan pikiran dan perasaan dulu – setelah itu terkendali, barulah mengurusi badan, indra, keinginan-keinginan, hawa-nafsu, dan lain-lain.

MEREKA YANG TIDAK MEMAHAMI HAL INI, dan tidak bisa mengendalikan hawa-nafsunya, nafsu-birahinya – memproyeksikan ketidakmampuannya di atas Kanvas Kehidupan. Ia berpikir setiap orang adalah Sama seperti dirinya. Bahwasannya, tidak seorang pun mampu mengendalikan nafsunya. Ini adalah cara berpikir yang keliru.

Karena saya lemah, tidak berarti setiap orang lemah. Nafsu bisa di kendalikan, tapi mesti mengikuti tahapannya – secara urut, teratur. Mind dulu, Baru passion – gugusan pikiran dan perasaan dulu, Baru nafsu

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 06/02/2018-MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 265-266

Sadhana Saat Gerhana Bulan

1516935359133_6e8qk_geklau

Ketika Matahari, Bulan dan Bumi berada dalam satu garis, ada pola energi kosmik yang berbeda sedang terjadi dan ini disebut “gerhana”. Gerhana ada 2 yaitu gerhana bulan dan gerhana matahari. Pada Hari Rabu, 31 januari 2018, di prediksi akan terjadi gerhana Bulan. Gerhana Bulan adalah waktu yang sangat tepat untuk mempraktikkan Sadhana, olah spiritual untuk meningkatkan kualitas diri. Apa saja yang dapat kita lakukan saat gerhana Bulan? Yuk simak ulasan berikut!

Pikiran dan perasaan terhubung dengan Bulan; tubuh terhubung dengan Bumi; dan Matahari terhubung dengan keduanya. Ketika ketiganya berada dalam satu garis lurus (gerhana), hal ini mempengaruhi tubuh, pikiran dan perasaan. Untuk menjaga kestabilan tubuh, pikiran dan perasaan, maka sangat baik saat gerhana kita melakukan praktik spiritual. Dalam literature Veda di sebutkan ada beberapa hal yang dapat di praktikkan sebagai Sadhana:

  • Mempraktikkan meditasi dan japa ataupun chanting (melagukan sloka/mantra kitab suci Veda). Meditasi, japa dan chanting berfungsi untuk mengurangi fluktuasi pikiran dan perasaan sehingga gelombang-gelombang pikiran dan perasaan dapat diminimalkan. Jika memilih melakukan japa, sebaiknya japa dilakukan dengan menggunakan mantra khusus untuk gerhana bulan, seperti AUM AIM KLEEM SOMAAYA NAMAH… jika mantra ini diucapkan dalam satu putaran mala (108 kali) maka kekuatannya disebutkan dalam Veda menjadi 1000 kali lipat. Hal ini terjadi karena di perkuat oleh efek gerhana. Wow…
  • Mempraktikkan Upavasa (puasa) saat gerhana Bulan untuk kesehatan tubuh. Puasa berfungsi untuk menyelaraskan tubuh (menyiapkan tubuh bagi penyelarasan pikiran dan perasaan). Ketika gerhana bulan terjadi, volume air di laut mengalami pasang, sehingga hal tersebut mempengaruhi kondisi atau volume air di dalam tubuh meningkat, oleh karenanya kondisi ini secara mental menyebabkan kegelisahan karena air di dalam tubuh adalah representasi dari keinginan dan hasrat. Kegelisahan ini mesti di netralisir dengan upavasa (puasa) agar konsumsi makanan dan minuman yang masuk berkurang, sehingga dapat melatih menjernihkan pikiran. Jika anda tidak mampu melakukan upavasa penuh dikarenakan kondisi tubuh tidak memungkikan, anda dapat tidak makan dalam waktu 1-2 jam sebelum puncak gerhana. Sehingga pada saat puncak gerhana, perut anda tidak terlalu penuh (kenyang) dan tidak lapar. Hal ini akan membantu anda dapat melakukan meditasi dengan baik.
  • Melakukan dana punia. Menurut kitab slokantara 17, menyebutkan bahwa Dana Punia yang dilakukan saat gerhana Bulan memberikan phala 100 kali lipat.

Gerhana bulan merupakan fase terakhir Dakshinayana, atau sadhana pada sistem yoga. Selama Dakshinayana, matahari menuju ke belahan bumi selatan. Sedangakn selama Uttarayana, matahari menuju ke belahan bumi utara. Dalam tradisi yoga, Dakshinayana dipandang sebagai periode sadhana. Uttarayana dilihat sebagai periode pencerahan, dan bukan kebetulan bahwa begitu banyak yogi mencapai pencerahan mereka pada awal fase ini. Yang paling terkenal adalah Bhishma, yang menunggu hari kematiannya dari tempat tidur anak panahnya sehingga ia bisa melepaskan tubuhnya pada saat Uttarayana.

Semoga bermanfaat…

Salam Rahayu

Bontang, 31 Januari 2018 – MA

Supermoonblueblood4567778.jpeg

 

 

 

 

Yoga Mengantarkan Kita Pada keadaan Viyoga – Berpisah dari segala duka-derita

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yam labdhvā cāparam lābham manyate nādhikam tatah

Yasmin sthito na duhkhena gurunāpi vicālyate

Bhagavad Gītā, 6.22

“Setelah memperoleh kebahagiaan sejati, Jiwa tersadarkan bila perolehannya itu melebihi segala perolehan lain; Maka, menghadapi pengalaman duka seberat apa pun – Ia tetap Tak Tergoyahkan.”

Komitmen kita pada kebenaran, pada kebajikan – Satya dan Dharma – Selalu Tergoyahkan karena kita belum mencapai keadaan meditatif. Kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Kita belum merasakan kebahagiaan sejati yang dirasakan seorang Yogī. Sebab itu, duka-derita pun Selalu menyelimuti Jiwa…..

BARU DITANTANG SEDIKIT, Baru dihadapkam pada sedikit penderitaan – kita kalang kabut, mencari tiang penyangga, mencari sandaran, mencari dukungan di luar diri. Kita lupa menoleh ke dalam diri. Kenapa?

Karena, saat tidak Ada tantangan, kita tidak melatih diri dalam Yoga untuk membangun self-defence, pertahanan diri yang tangguh. Kemudian, saat tantangan di depan mata, kita kehilangan arah, kehilangan pandangan yang jernih. Kita tidak tahu mesti melakukan Apa!

Pertahanan-diri mesti dibangun Dari sekarang. Saat terjadi banjir, Kita Baru membangun tanggul – ya tidak bisa. Inilah saatnya untuk membangun pertahanan diri – supaya saat menghadapi tantangan nanti – kita sudah siap.

Kita lanjutkan pada sloka berikutnya:

tam vidyād duhkha-samyoga-viyogam yoga-samjñitam

sa niscayena yoktavyo yogo’nirvinna-cetasā

Bhagavad Gītā, 6.23

“Yoga membebaskan diri dari segala duka dan derita (termasuk dari kelahiran dan kematian berulang-ulang). Sebab itu, lakonilah hidup dalam Kesadaran yoga dengan gugusan pikiran dan perasaan yang mantap, tidak mengenal lelah; keteguhan hati; dan keyakinan.”

Yoga – sebagaimana dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah keadaan viyoga – berpisah dari duhkha atau duka

Yoga memisahkan kita dari keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan duka dan derita. Viyoga berarti “berpisah dari” – Jadi kalau punya Anak, jangan diberi nama Viyoga – perpisahan- berilah nama Yoga – Pertemuan 🙂

SEDIKIT SELINGAN… banyak nama kita yang menggunakan akar bahasa Sanskrit secara salah. Misalnya, seperti nama Wiyoga yang cukup populer di Jawa.

Selain itu juga Merta, yang artinya adalah “Mati”. Mungkin, maksudnya adalah Amrta, yang semestinya Amerta dalam ejaan Jawa – Kekal, abadi.

Ada yang mengatakan, apa arti sebuah nama?!? Tergantung sang penanya. Jika mau diartikan, Maka dia akan punya arti. Jika tidak, ya tidak punya arti.

KEMBALI PADA TOPIK KITA… Latihan – latihan, pola hidup, pola Makan, bahkan pola-tidur Yoga – semuanya mengantar kita pada suatu keadaan viyoga – keadaan saat kita berpisah dari Segala macam duka dan derita

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ<<<
moga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 23/01/2018-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 264-265

<<<
><<
p>

Berpegang Teguh Pada Kebenaran dan Tak Tergoyahkan oleh Tantangan Berat

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

sukham ātyantikam yat tad buddhi-grāhyam atīndriyam

vetti yatra na caivāyam sthitaś calati tattvatah

Bhagavad Gītā, 6.21

“Ketika Jiwa mengalami kebahagiaan tertinggi yang (berasal dari dirinya sendiri, dan) melampaui segala kenikmatan Indra, bahkan segala kenikmatan yang dapat diperolehnya lewat intelek, Maka Ia akan berpegang teguh pada kebenaran, dan tak tergoyahkan lagi oleh tantangan Seberat apa pun!”

Ketika sang pangeran dalam kisah sebelumnya telah menemukan jati dirinya, Maka Ia tidak akan pernah membiarkan Kesadaran itu “terlupakan lagi”.

Ia tidak akan pernah Meninggalkan atau melepaskan “kebenaran” dirinya Sebagai pangeran. Ia bukanlah seorang perampok.

SEORANG YOGI YABG SUDAH MENYADARI dirinya Sebagai Jiwa tak akan terperangkap oleh identitas-identitas palsu rekaan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, maupun inteligensia.

Jiwa yang sudah merasakan kebahagiaan tertinggi ibarat pangeran yang “sudah kembali ke istananya”. Ia tidak tertarik lagi dengan kenikmatan-kenikmatan Indra yang diperolehnya dalam “Kesadaran palsu” sebagai perampok.

Ia tidak merampok lagi, Karena menyadari dirinya Sebagai pangeran. Jika kita Sadar bahwa panggung sandiwara adalah Untuk menghibur, maka kita akan menikmati segala pertunjukan diatas panggung – tapi tidak mengidentifikasikan diri dengan cerita di atas panggung.

Kita penonton! Tidak perlu membawa pulang panggung atau peran di atas panggung. Nikmati – dan kembalilah ke Istana – ke tempat asal kita!

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 22/01/2018-MA

ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 263-264

Video Bahan Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Tingkat SMA/SMK

Saya menyimpan file Video pembelajarannya berikut ini!

Kesadaran Diri Sebagai Jiwa: Menciptakan Kebahagiaan

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yatroparamate cittam niruddham yoga-sevayā

yatra caivātmanātmānam paśyann ātmani tusyati

Bhagavad Gītā, 6.20

“Dalam keadaaan “diri” atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya Sebagai Jiwa; Demikian, Ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga”

Dalam keadaan citta atau batin Tenang – Jiwa menyadari dirinya Sebagai Jiwa. Ia Bukan badan; Ia Bukan energi; Ia Bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia Bukan inteligensia; ia Bukan ini, dan Bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu Ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai……..

Kesadaran Jiwa, keadaannya persis seperti seorang putra raja yang di culik oleh gerombolan perampok. Ia dibesarkan oleh mereka. Maka, Ia memiliki identitas Palsu. Identitas Palsu Sebagai putra perampok, Sebagai perampok. Identitas palsu ini Karena “pergaulannya” dengan gerombolan perampok. Karena keberadaannya di tengah mereka. Karena terlupakannya identitas asli yang sebenarnya.

Menjalani peran palsu itu – peran yang sesungguhnya bukanlah peran dia – terjadi konflik batin dalam diri sang pangeran. Dia tidak puas dengan perannya sebagai perampok.

Ketika Ia di culik, usianya baru 3-4 Tahun. Ia masih balita. Sebab itu, Ia pun tidak mengingat persis “masa lalunya” – identitas aslinya. Tapi, bagaimana pun juga – rekaman tentang kehidupan di Istana sebagai pangeran, tidak pernah hilang juga. Rekaman itu masih Ada. Walau buyar dan tidak jelas, Ia masih melihat gambar-gambar, bayang-bayang dari masa malunya- Baik dalam keadaan jaga, maupun tidur – dalam mimpi.

IA TIDAK MENYADARI SEBAB KEGELISAHANNYA – tapi Ia tetap gelisah. Kehidupan perampok bukanlah kehidupannya. Ia tidak puas dengan pola-hidup yang sedang dijalaninya

Kemudian, suatu ketika seorang mentri yang bijak, menemukan si pangeran yang hilang itu. Ia mengenal tanda-tanda yang Ada di badannya. Sekarang, anda boleh menambahkan factor DNA Test. Jelas dia Bukan putra perampok. Dia seorang pangeran.

Maka, Kesadaran Baru yang sesungguhnya adalah kesadaran awalnya, kesejatian dirinya, seketika membahagiakan sang pangeran. Ia tidak perlu merampok lagi. Ia seorang pangeran. Mereka, yang selama ini dirampoknya, adalah warganya, rakyatnya.

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa yang dialami oleh pangeran dalam kisah ini – seperti itulah pengalaman kita ketika Sadar akan diri kita Sebagai Jiwa. Jiwa adalah penonton – mereka yang sedang beraksi diatas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan Apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan – tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya Sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu – Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya Sebagai Jiwa – terbebaskan dari segala dukha. Bahkan dari Segala dualitas suka dan duka. Ia meraih Kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar Teve adalah proyeksi dari console yang pengendaliannya Ada di tangan dia sendiri.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 18/01/2018 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 262-263

Shiva Nataraja: Shiva Sang Penari Kosmis

Sumber gambar:

NATRAJ, INDIAN CLASSICAL DANCE, A DANCE OF LIFE CYCLE

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Menurut agama Hindu, kita memahami Tuhan sebagai penari. Kita tidak bisa memisahkan tarian dan penarinya. Tuhan adalah Nataraja, penari dari semua penari atau Raja Penari. Penari dan Tariannya tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melekat.  Jika ada tarian, maka ada penarinya, tarian tidak memiliki eksistensi yang lain selain dari penarinya. Dan ketika penari berada dalam tariannya, ia tidak dapat dipisahkan dari tariannya. Sang penari larut ke dalam tariannya.

Shiva natharaja atau Tarian Dewa shiva ini adalah sebuah tarian yang mewakili penciptaan sekaligus peleburan. Shiva nataraja merupakan gerak tari Lasya (Tari dengan makna penciptaan – sering disebut Shiva Lasya) dan Tandava (gerak tari dengan makna peleburan atau penghancuran – sering disebut Shiva Tandava). Sehingga tarian ini merupakan tarian proses Daur Ulang. Dimana sesuatu yang sudah usang dihancurkan atau dilebur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi sesuatu yang baru.

Sebagaimana Krishna dalam Kitab Bhagavad Gita menyatakan puncak dari Veda adalah Sama Veda, artinya, puncak dari pengetahuan adalah seni. Dan tarian ini adalah seni pendaur ulang kehidupan. Seni mengubah sesuatu yang usang menjadi sesuatu yang baru. Dalam ulasan khusus menyambut Siwaratri pada Hari ini, Senin, 15 Januari 2018, ingin sekali rasanya mengupas tentang penggambaran Shiva Nataraja. Berikut diuraikan symbol-simbol yang ada dalam lukisan yang menggambarkan Tarian Kosmis, Shiva Nataraja:

  1. Damaru atau drum berukuran kecil yang letaknya selalu menyatu dengan Tri Sula Dewa Shiva adalah symbol dari getaran ritmis dari penciptaan atau OM. Dalam memaknai Siwaratri, kita mengupayakan mengucapkan Om, Om yang di ucapkan dengan m yang panjang dapat memberi getaran yang dapat membersihkan energy kotor dalam diri. Suara Om juga adalah password singkat yang dapat mengakses keheningan diri. Om dapat duicapkan sebanyak 3 kali, 7 kali, 9 kali ataupun 108 kali. Tidak penting berapa banyak hitungannya, tetapi lebih kepada “konsentrasi dan keheningan dalam menciptakan getaran Om yang di keluarkan oleh mulut kita. Om adalah juga simbol suara alam semesta. Selain bermakna sebagai getaran kosmis Om, Damaru juga adalah symbol dari menciptaan kembali yang merupakan merepresentasikan Yoni atau proses reproduksi. Dalam proses reproduksi, terjadi perluasan (pengembangan) sekaligus peleburan untuk didaur ulang guna menciptakan sesuatu yang baru, demikian halnya, kita mendaur-ulang diri, mendaur ulang kebiasaan-kebiasaan atau pelilaku-perilaku yang lama menjadi sesuatu yang baru, yang segar dan sesuai dengan kehidupan masa kini.
  2. Ular. Ular yang melingkar 3 kali di leher Dewa Shiva adalah symbol Masa Lalu, Masa kini dan masa depan. Hidup kita saat ini adalah buah dari apa yang kita lakukan dimasa lalu, dan masa kini adalah “kekuatan” penuh yang dapat kita gunakan untuk menciptakan masa depan seperti yang telah kita “setting” saat ini. Hal ini juga adalah symbol dari Shakti Power. Shakti adalah energy, sumber energy. Energy yang kita gunakan saat ini untuk menciptakan hidup yang damai di masa kini dan hidup berkualitas di masa depan. Ular juga adalah symbol dari kewaspadaan. Waspada terhadap pemicu-pemicu diri baik yang berasal dari dalam diri maupun pemicu luaran yang dapat menurunkan kesadaran kita, yang dapat menjerumuskan kita menuju kegelisahan diri. Dalam Perayaan Siwaratri, kita menjaga kewaspadaan dan kewarasan diri agar tidak terjerumus dalam ketidaksadaran dan kegelisahan diri
  3. Abhaya Mudra. Tangan dalam posture “Abhaya Mudra” adalah symbol dari penghancuran rasa takut atau tanpa rasa takut, dapat juga diartikan tanpa kekhawatiran, dalam menghadapi dualitas kehidupan seperti panas, dingin, suka-dukha. Tanpa kekhawatiran ini diungkapkan dalam bentuk sikap yang penuh dengan ketenangan dalam menghadapi dualitas. Pada moment Siwaratri juga, kita mesti mengupayakan pemberdayaan diri untuk memahami rasa takut dan rasa khawtir yang muncul dari dalam diri. Ketidak percayaan pada diri sendiri maupun ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri, juga adalah representasi dari rasa takut. Karenanya, self empowerment mesti diupayakan untuk membangun rasa percaya diri. Rasa percaya diri ini, tidak cukup di bangun dengan mendengarkan atau membaca teks atau buku, percaya diri mesti dibangun melalui latihan atau sadhana (olah spiritual). Dalam moment Siwaratri ini, lakukanlah Sadhana, Olah spiritual untuk memahami apa itu rasa Khawatir dan Rasa Takut. Sadhana itu dapat berupa melakukan beberapa teknik Yoga dapat dilakukan untuk membangun rasa percaya diri.
  4. Api yang muncul dalam tarian kosmic ini adalah symbol dari peleburan dan penghancuran. Hidupkanlah api “peleburan” atau enengi yang dapat digunakan untuk merenungi diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
  5. Bulan sabit. Bulan sabit adalah symbol dari lingkaran waktu, dimana penciptaan berada dalam “waktu” tertentu. Bahwa sesuatu diciptakan dan dibatasi oleh waktu, dimana segala sesuatu yang ada ini tidak abadi dan akan mengalami perubahan. Karenanya memerlukan proses pendaur-ulang. Bulan sabit ini juga adalah symbol dari sesuatu yang “terbuka” artinya perubahan dapat dilakukan kapan saja. Perbaikan diri dapat dilaksakan kapan saja tidak menunggu masa tertentu. Tidak menunggu hanya pada moment siwaratri saja kita melakukan perubahan atau perbaikan diri. Kita melakukan perbaikan diri secara terus menerus, 24/7. Inilah kekuatan daripada bulan sabit. Kemurahan hati daripada S
  6. Air suci gangga mengalir dari surga melalui kepala Shiva. Ini adalah symbol dari pada pembersihan diri. Penyucian diri. Dan proses pembersihan diri secara fisik dapat berupa mandi air suci gangga, menerima air suci atau Tirtha dan secara mental emosional pembersihan diri dapat berupa penghancuran kebodohan atau avidya. Bacalah literature –literature Shiva pada moment Shiva ratri, kita akan terbawa pada suasana pikiran yang dipenuhi oleh kebijakan-kebijakan dari Shiva. Hal ini dapat membangkitkan pemurnian diri melalui perenungan pengetahuan

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 15 Januari 2018 – MA

ditulis dari berbagai sumber dalam Rangka merenungi Sang Shiva. Selamat Hari Shivaratri

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis