Tawur Kesanga 2025 di Bontang: Penyucian Jagat Menuju Keheningan Nyepi

NM. Adnyani

Bontang — Sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947, umat Hindu Kota Bontang melaksanakan upacara Tawur Kesanga. Tawur Kesanga merupakan salah satu rangkaian penting dalam tradisi Hindu Dharma sebagai bentuk penyucian jagat raya secara sekala (nampak) dan niskala (tak nampak).

Upacara Tawur Kesanga di Bontang dilaksanakan pada hari ini, Jumat, 28 Maret 2025, bertempat di halaman depan Pura Buana Agung Bontang. Meskipun berlangsung secara sederhana, pelaksanaan tetap mengedepankan makna spiritual. Tidak ada arak-arakan ogoh-ogoh seperti tahun-tahun sebelumnya, namun esensi penyucian tetap dilakukan melalui persembahan caru Panca Sato.

Caru Panca Sato merupakan jenis caru yang menggunakan lima jenis hewan sebagai simbol unsur alam, disertai berbagai sarana upakara lain seperti tetabuhan, dan banten. Umat yang hadir melaksanakan persembahyangan bersama untuk memohon agar seluruh kekuatan alam kembali harmonis.

Setelah pelaksanaan caru, umat Hindu melanjutkan dengan persembahyangan Tilem Kesanga. Kemudian, ulaman caru dibagikan kepada keluarga-keluarga untuk dipergunakan dalam ritual ngerupuk di rumah masing-masing pada sore hari. Ngerupuk dilakukan dengan mempersembahkan segehan 108 di pekarangan rumah, serta membunyikan kentongan, meniup terompet kerang (sangka), menyalakan dupa dan obor, sebagai simbol pengusiran energi negatif dari lingkungan sekitar.

Menurut Lontar Sundari Gama, Tawur Kesanga merupakan momen untuk menyucikan rumah dari pengaruh empat jenis kala, yaitu:

1. Bhuta Raja: Melambangkan ego dan keakuan yang berlebihan

2. Kala Raja: Simbol rasa takut terhadap perubahan

3. Bhuta Kala: Nafsu dan kemarahan yang tidak terkendali

4. Kala Bala: Rasa malas, iri, dan energi negatif lainnya

Keempat kala ini diyakini berada di sekitar manusia sepanjang tahun, dan perlu dibersihkan dan atau diseimbangkan melalui persembahan dan kesadaran spiritual.

Dengan selesainya upacara Tawur Kesanga, umat Hindu di Bontang kini bersiap untuk menyambut Hari Raya Nyepi dengan hati yang bersih dan lingkungan yang suci. Nyepi bukan sekadar hari tanpa aktivitas fisik, tetapi juga momen untuk refleksi batin dan perenungan spiritual.

Sebagaimana tertulis dalam Atharva Veda:

“Pṛthivī śāntāḥ śivāṁ kurmahe”

“Semoga bumi menjadi damai dan penuh kesejahteraan.”

Semoga pelaksanaan Nyepi tahun ini membawa ketenangan dan keseimbangan bagi seluruh umat, serta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi Wasa.

Melasti Umat Hindu Kota Bontang Tahun 2025: Pembersihan Menyongsong Kesucian

NM. Adnyani

Bontang, 23 Maret 2025 – Umat Hindu Kota Bontang melaksanakan Upacara Melasti sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947. Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Minggu ini dipusatkan di kawasan konservasi Mangrove Park Saleba, setelah mendapat izin resmi dari pengelola kawasan. Upacara dimulai sejak pukul 06.00 WITA dan berakhir sekitar pukul 11.00 WITA.

Prosesi dimulai dari Pura Buna Agung, tempat umat berkumpul untuk melakukan persiapan awal. Selanjutnya, dengan membawa sarana-sarana upacara suci seperti pratima (arca suci), pralingga, tedung, sesajen, dan tirta (air suci), umat berjalan kaki menuju Mangrove Park Saleba sebagai lokasi pelaksanaan upacara pembersihan.

Dalam Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa upacara Melasti bertujuan untuk “mapeninggalin mala” – meninggalkan segala bentuk kekotoran, penderitaan, dan lara duniawi, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Melasti menjadi momentum penting untuk menyucikan pratima dan seluruh sarana sakral dari pura, agar siap digunakan dalam rangkaian Hari Raya Nyepi. Namun lebih dari itu, Melasti merupakan kesempatan umat untuk melakukan introspeksi dan penyucian batin.

Lontar ini juga menjelaskan bahwa Melasti harus dilakukan di segara (laut) atau sumber air suci lainnya, karena air merupakan lambang tirtha amerta – air kehidupan – yang membersihkan dan menghidupkan kembali jiwa manusia dan alam semesta.

Lebih dalam lagi, Upacara Melasti dapat dimaknai sebagai simbol dari proses spiritual penyucian tubuh halus manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Vṛhaspati Tattwa. Ajaran ini menguraikan bahwa tubuh manusia bukan hanya tersusun atas unsur fisik, tetapi juga terdiri atas jaringan nāḍī (saluran energi) yang menjadi tempat mengalirnya 10 jenis prāṇa, yaitu:

1. Prāṇa – napas masuk, pusat di dada

2. Apāna – pembuangan, pusat di perut bawah

3. Samāna – pencernaan, pusat di pusar

4. Udāna – energi bicara dan ekspresi, di tenggorokan

5. Vyāna – distribusi energi ke seluruh tubuh

6. Nāga – sendawa

7. Kūrma – gerakan kelopak mata

8. Kṛkara – bersin

9. Devadatta – menguap

10. Dhanamjaya – bertahan hingga setelah kematian

Dalam kondisi sehari-hari, nāḍī dan aliran prāṇa ini bisa menjadi “terkotori” oleh pikiran negatif, emosi buruk, atau perilaku yang tidak selaras dengan dharma. Prosesi Melasti, dengan aktivitas jalan kaki ke alam terbuka, pemusatan pikiran dalam puja, serta percikan tirta, sesungguhnya menjadi praktik penyucian dan pelurusan kembali aliran nāḍī dan prāṇa dalam tubuh.

Air laut sebagai simbol amerta dalam ajaran tattwa, menghanyutkan kekotoran bukan hanya di dunia luar, tetapi juga dalam diri manusia. Maka, Melasti menjadi praktik nyata Yoga Bhakti kolektif – di mana tubuh, pikiran, dan jiwa bersatu dalam kesucian bersama alam semesta.

Pelaksanaan Melasti Umat Hindu Kota Bontang tahun 2025 bukan hanya menjadi ritual tahunan menjelang Nyepi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pembersihan diri adalah bagian penting dalam setiap langkah spiritual. Dari laut yang tenang, umat diajak untuk mengenali gelombang dalam dirinya – lalu dengan tulus menyerahkan semuanya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar hidup kembali bersinar dalam kesucian dan keseimbangan.

Om Tat Sat

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai