Yogī: Seseorang Yang Memahami Jñāna dan Vijñāna

Marilah Kita berdoa sebelum membaca sloka Bhagavad Gita Berikut:

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Jñāna-vijñāna-trptātmā kūtastho vijitendriyah

yukta ity ucyate yogī sama-lostāśma-kāñcanah

Bhagavad Gītā, 6.8

“Dengan Pengetahuan Sejati (jñāna) tentang Diri (Jiwa) dan pengetahuan tentang alam benda (vijñāna) yang dimilikinya, seorang Yogī tidak tergoyahkan oleh keadaan-keadaan di luar diri. Dengan segenap indranya terkendali – bagi dia, tanah, Batu, dan logam mulia adalah Sama. Demikian, Ia mencapai kesempurnaan diri.”

Menyadari kehadiran Gusti Pangeran di dalam setiap diri, bahkan di dalam bebatuan, pepohonan, di laut dan di udara – dimana-mana – inilah Kesadaran tertinggi, inilah kesempurnaan diri. Inilah Yoga.

Tidak berarti seorang Yogī menjadi buta-harga – Batu tetap Batu, dan emas tetap emas. Ia Sadar akan perbedaan harga diantaranya. Namun, Ia pun Sadar bila perbedaan itu hanyalah Karena urusan supply and demand. Suatu ketika, Jika emas sudah bisa di produksi dengan biaya rendah, maka seperti mutiara yang Sekarang banyak di budidayakan, Ia akan kehilangan pamornya Sebagai Logam Mulia.

Pada dasarnya, seorang Yogī Sadar betul bila seluruh keberadaan adalah carbon-based. Semuanya adalah permainan karbon dalam bentuk yang beda, dengan kepadatan yang beda. Pada dasarnya, dunia benda pun adalah manifestasi yang tampak beda dari keberadaan yang satu dan Sama.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 31/12/2017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 251

Jiwa sebagai Pengendali Badan

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā,

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

bandhur ātmātmanas tasya yenātmaivātmanā jitah,

anātmanas tu śatrutve vartetātmaiva śatru-vat

Bhagavad Gītā, 6.6

“Ketika kesadaran rendah (yang disebabkan karena identifikasj dengan badan, indra, dan gugusan pikiran serta Perasaan) telah tertaklukkan oleh Jiwa, maka Ia menjadi sahabat bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, Jika kesadaran rendah tidak tertaklukkan, maka Ia menjadi musuh bagi diri sendiri.”

Dalam ayat itu, Krsna menegaskan dan menjelaskan apa yang dimaksud-Nya dalam ayat sebelumnya.

“Jiwa yang telah menaklukkan kesadaran rendah” adalah Jiwa yang menyadari dirinya Sebagai pengemudi kendaraan badan, indra, serta gugusan pikiran dan perasaan (mind). Jiwa Sebagai pemegang Kendali adalah “diri” yang Sadar. Sebaliknya, Jiwa yang sedang “mengantuk” – sehingga, badan, indra, gugusan pikiran serta perasaannya sudah tidak terkendali lagi, tidak dalam pengendaliannya – adalah “diri” yang tidak sadar.

Sampai di tujuan dengan Selamat adalah hasil dari kesadaran diri. Dan, kecelakaan adalah hasil dari ketidaksadaran diri.

Sloka selanjutnya,

jitātmanah praśāntasya paramātmā samāhitah

śītosna-sukha-duhkhesu tathā mānāpamānayoh

Bhagavad Gītā, 6.7

“Seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya, meraih pengetahuan Sejati tentang Sang Jiwa Agung, Paramātma atau Brahman – Selalu tenang menghadapi dualitas panas-dingin; suka-dukha; pujian-cacian; dan sebagainya.”

Yang merasakan ketenangan itu siapa? Ya, gugusan pikiran dan perasaan (mind) juga. Ibarat kendaraan yang dikendalikan oleh seorang pengemudi yang cakap, awas, dan Sadar. Perjalanan hidup menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Perjalanan hidup menjadi sebuah perayaan – piknik, wisata tamasya… kendaraan badan dan indra pun melewati Segala pengalaman Tanpa terganggu oleh sesuatu. Saat itu, kita seolah memiliki kendaraan yang di lengkapi dengan pengatur cuaca; sehingga, sepanas atau sedingin apa pun cuaca di luar, kita tidak terpengaruh olehnya.

Pengatur cuaca yang dimaksud ialah Pengetahuan Sejati tentang Paramātmā, Brahman, atau Sang Jiwa Agung. Jiwa menyadari bila dirinya hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Ia tidak memiliki eksistensi di luar Sang Jiwa Agung. Kesadaran itu, Pengetahuan Sejati itulah pengatur cuaca yang dimaksud.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 30/12/2017-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gita oleh AK halaman 249-250

Pemberdayaan Diri: Meninggalkan alam Ego dan Kembali ke Alam Jiwa

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā,

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

uddhared ātmanātmānam nātmānam avasādayet

ātmaiva hy ātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanah

Bhagavad Gītā, 6.5

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan, tidak membiarkannya terjerumus oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, “diri”-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.”

Ini adalah puncak dari ayat-ayat pemberdayaan diri, di mana Krsna jelas sekali. Diri atau Ātmā dalam ayat ini adalah Diri-Sejati; Sang Jiwa yang merupakan percikan dari Jiwa Agung atau Paramātmā.

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaran kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; Dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan Sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya.

Dalam alam Jiwa kita semua bersatu – karena “setiap” Jiwa adalah percikan dari Sang Jiwa Agung yang satu dan Sama.

Dalam alam Ego, kita beragam, berbeda – walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen Alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda, wajah anda tidak Sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara berpikir kita beda. Perasaan kita beda!

Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…”

Konflik adalah hasil dari Salah identifikasi. Ketika kita mempercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” Tanpa memiliki atau menguasai sesuatu – maka kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri – karena sesungguhnya Jiwa Bebas adanya, Ia tidak mau terikat – tapi Ia terpengaruh oleh keinginan – keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan “tidak” terhadap kekuasaan ego.

Maka terjadilah kekecewaan – karena, bagaimanapun juga kita Tak akan pernah bisa menguasai dunia-benda sepenuhnya. Penguasaan kita sudah pasti bersifat terbatas. Sementara itu, Jiwa adalah percikan Hyang Tak Terbatas.

Sebagai contoh:

Cinta adalah sifat Jiwa, sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan Waktu.

Kemudian, Cinta yang tak terbatas ini kita aplikasikan terhadap “se”-seorang “yang” kita cintai. Mencintai “se”-seorang adalah terbatas, sebatas “se”-seorang.

Selanjutnya, kita menikahi “orang” tersebut. Selama beberapa bulan atau beberapa Tahun, masih oke. Namun, tidak untuk selamanya. Cinta yang Tak Terbatas itu ingin bebas dari penjara-nafsu buatkan ego. Saat itu, kita mesti berhati-hati…

Jika Cinta berkuasa – dalam pengertian Jiwa berkuasa – maka kita menyadari kesalahan kita. Tidak perlu juga menceraikan pasangan kita. Tinggal membiarkan cinta berekspansi untuk meliputi, merangkul semua termasuk pasangan kita pun ikut terangkul.

Ingat, ini Bukan urusan nafsu birahi. Ini perkara Cinta. Nafsu birahi mengantar kita ke atas ranjang. Cinta melampaui ranjang nafsu, meninggalkannya, untuk merangkul semesta…

Skenario kedua adalah – dan ini yang paling sering terjadi:

Ketika kita kecewa dengan pasangan kita, maka kita mencari pasangan yang lain. Demikian, kita jatuh ke dalam lubang yang Sama.

Kita tidak Sadar bahwa “rasa kecewa” yang kita Alami bukanlah “Karena pasangan” kita – sebejat atau sekurangajar apa pun pasangan kita. Rasa kecewa yang kita alami, sesungguhnya adalah kekecewaan Jiwa yang merasa terkungkung. Untuk itu, ganti pasangan bukanlah solusi. Ganti pasangan adalah Sama dengan keluar dari mulut buaya, masuk ke dalam mulut singa. Menjadi sarapan buaya, atau Makan-Siang singa – Sami mawon. Di kedua kemungkinan itu, kita binasa! Saat itu, menurut Krsna, kita telah menjerumuskan diri sendiri. Kita menjadi musuh bagi diri kita sendiri. Kita membiarkan ego yang menciptakan perpisahan dan perbedaan itu berkuasa. Kita pikir dengan cara berpisah dari pasangan lama dan berganti pasangan – persoalan terselesaikan. Tidak, tidak bisa. Persoalan hidup tidak terselesaikan dengan cara berpindah penjara. Persoalan hidup hanyalah terselesaikan ketika kita keluar dari penjara ego, dan hidup bebas dalam kesadaran Jiwa.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 29/12/2017-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK halaman 248-249

Jangan Terprovokasi oleh Mind (Pikiran dan Perasaan) Yang Kacau

Mari kita berdoa sebelum membaca sloka Bhagavad Gīta untuk hari ini.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yadā hi nendriyārthesu na karmasv anusajjate

Sarva-sankalpa-Samnyāsī yogārūdhas tadocyate

Bhagavad Gītā, 6.4

“Ketika seseorang tidak lagi terikat dengan pemicu-pemicu bagi indra, tidak bertindak oleh Karenanya, dan telah bebas dari Segala macam keinginan duniawi, bahkan dari segala pikiran tentang keduniawian – saat itulah Ia di sebut telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga.”

Maksud Krsna ialah “tidak terprovokasi, tidak tergoda, tidak terpicu untuk bertindak, karena keterikatan dengan dunia-benda, karena suatu keinginan duniawi.”

Jadi, “Bukan tidak bertindak”, tapi “tidak bertindak karena terprovokasi oleh Hal-Hal di luar diri”. Berarti “bertindak sesuai dengan kehendak diri yang sejati” – sesuai dengan apa yang hendak di alami oleh Jiwa.

Ayat-ayat ini adalah untuk pemberdayaan diri, Bukan untuk melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab. Arjuna hendak melarikan diri dari tugasnya Sebagai seorang ksatria pembela keadilan. Ia hendak melarikan diri dari tanggung jawabnya terhadap kebenaran dan kebajikan.

Bagi seorang kesatria… melawan ketidakadilan dan menegakkan kembali keadilan adalah perannya di atas panggung sandiwara kehidupan. Krsna menasehati dia supaya menyelesaikan perannya dengan baik. Tidak tergoda oleh pikiran yang kacau, tidak terbawa oleh rasa takut yang semuanya hendak menarik dirinya keluar dari medan perang.

Ketika seseorang berhasil mengendalikan dirinya terhadap provokasi oleh Indra, oleh pikiran, dan perasaan – tidak lagi memikirkan keuntungan atau kerugian materi – tapi tetap memainkan perannya dengan baik – saat itu Ia telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga.

Yoga adalah “Keselarasan Agung” -gugusan pikiran dan perasaan (mind); indra; badan; ucapan; tindakan – semuanya selaras dengan peran di atas panggung sandiwara kehidupan. Yoga adalah ketika kita memainkan peran kita dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan raga.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 27/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 247

Sāmkhya Yoga untuk orang dengan kecenderungan Introvert dan juga extrovert

Mari kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

āruruksor muner yogam Karma kāranam ucyate

yogārūdhasya tasyaiva śamah kāranam ucyate

Bhagavad Gītā, 6.3

“Seseorang yang berkecenderungan sebagai muni atau petapa, lebih banyak berdiam diri – dapat mencapai kesempurnaan dalam Yoga dengan cara berkarya tanpa pamrih. Demikian pula dengan Mereka yang sudah mendalami Yoga, kesempurnaan atau kemuliaan dapat dicapai lewat pembebasan diri dari keinginan-keinginan duniawi.”

Ayat ini menjelaskan “jenis” manusia berdasarkan kecenderungan atau orientasinya. Mereka yang berorientasi ke dalam diri – introvert – biasanya menjadi petapa. Mereka lebih menyukai keheningan. Tentunya, Jika seorang introvert itu sedang berupaya untuk menemukan jati-dirinya.

Jika seorang introvert tidak berada dalam posisi itu – tidak “sedang” mencari jati-diri – maka, Ia menjadi pendiam, kurang bergaul, susah menjalin komunikasi, sehingga sudah pasti gagal dalam keseharian hidupnya. Satu-satunya profesi yang cocok bagi dirinya adalah Sebagai filsuf, pemikir, saintis atau ilmuan – yang juga merupakan Bagian Dari filsafat – dimana mereka tidak perlu banyak berhubungan dengan dunia luar.

“Jenis” kedua adalah manusia extrovert – berorientasi ke luar diri. Mayoritas berada dalam kelompok ini.

Dari sudut pandang spiritual, umumnya jenis pertama adalah penganut paham Sāmkhya, dan lebih cocok menjadi Samnyāsi atau muni – pertapa yang lebih banyak berdiam diri.

Dan, jenis kedua lebih cocok dengan Ajaran Yoga – tetap berada di tengah kegaduhan dunia, namun bergaya hidup Sebagai Yogī.

Krsna menjelaskan bila:

Itu saja tidak cukup. Bagi seorang Muni atau Samnyāsi, menarik diri dari keramaian dunia Sama tidak lengkapnya, sebagaimana bagi seorang Yogī yang sekadar melakukan latihan-latihan Yoga – Tanpa bergaya hidup Sebagai Yogī dan tanpa menghayati tujuan Yoga.

Seorang Samnyāsi atau Muni mesti tetap berkarya – berkarya tanpa pamrih – sehingga Ia menjadi Muni-Yogī, Samnyāsi-Yogī, Sāmkhya Yogī. Sifat introvert tidak boleh menjadi Kendala baginya untuk melayani sesama tanpa pamrih.

Pun demikian dengan para Yogī – latihan Yoga dan bergaya hidup seperti Yogī saja tidaklah cukup. Mereka mesti memeriksa diri – apakah masih memiliki keinginan – keinginan duniawi? Apakah masih mengejar dunia benda? Apakah masih berambisi untuk membangun bisnis Yoga dengan cara “menyesuaikan” Yoga dengan permintaan pasar, termasuk mem-bonsai-nya, untuk menjaga supaya tidak diberi label haram?

Yoga tidak terpengaruh oleh label haram atau halal – adalah orang yang sedang “menjual Yoga” demi keuntungan materi, yang kena dampaknya. Padahal, sesungguhnya label haram bagi Yoga bisa menjadi sebuah berkah. Yoga akan dibersihkan dari elemen-elemen non-Yoga yang saat ini sudah melekat pada dirinya. Mereka yang betul-betul “butuh” dan “tertarik” dengan gaya hidup Yoga – percayalah tidak akan pernah terkecoh oleh label pemberian kelompok-kelompok tertentu. Mereka akan tetap mencarinya, mendalaminya, dan melakoninya. Seorang Yogī yang seperti itulah, menurut Krsna patut disebut Sāmkhya-Karma-Yogī, Yogī-Muni atau Yogī-Samnyāsi – two in one!

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 26/12/2017 – MA

ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 246-247

Menjadi Yogī: melepaskan Pola hidup “lama”

Mari kita berdoa sebelum membaca pesan-pesan dari Bhagavad gītā,

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yam samnyāsam iti prāhur yogam tam viddhi pāndava

na hy asamnyasta-sankalpo yogī bhavati kascana

Bhagavad Gīta, 6.2

“Ketahuilah bila yang disebut Samnyās atau pelepasan itu Sama dengan Yoga – laku untuk mencapai kesempurnaan diri. Wahai Pāndava (Arjuna, Putra Pāndu), sesungguhnya tak seorang pun bisa menjadi Yogī Tanpa melepaskan diri dari keinginan-keinginan duniawi.”

Beberapa Waktu yang lalu terjadi debat sengit antara kubu yang menganggap Yoga Sebagai Ilmu, maka bersifat universal, dan bisa dipraktekkan oleh siapa saja, dari golongan kepercayaan Apa saja – dan, kubu yang menganggap Yoga Sebagai Bagian Dari kepercayaan tertentu, maka prakteknya haram bagi penganut agama atau kepercayaan lain.

Saat itu, saya memilih untuk berpihak pada kubu pertama – Karena Yoga memang merupakan sebuah pola hidup – falsafah dan gaya hidup. Namun sesungguhnya pilihan saya berada dalam kubu tersebut pun semata untuk tidak menambah kubu Baru.

Yoga Bukan sekedar “Latihan-Latihan” atau “Ilmu”, sebagaimana diyakini oleh kubu pertama dan sebagaimana di pahami secara populer baik di Barat, maupun di Timur, termasuk Indonesia.

Mempraktekkan Yoga berarti merombak total gaya hidup kita. Kita tidak bisa bergaya hidup Sama seperti dulu dan menganggap diri kita sudah menjadi Yogī Karena setiap hari melakukan gerakan-gerakan āsana, sebagaimana diajarkan dalam Yoga.

Kita tidak bisa lagi makan daging, membiarkan sesama makhluk di sembelih demi kenikmatan diri kita. Kita tidak bisa lagi menjadi pengusaha atau pejabat korup. Kita tidak bisa lagi membiarkan hawa-nafsu mengendalikan diri kita. Semuanya mesti di ubah. Bukan sekadar melakukan gerakan āsana.

Berapa banyak Fasilitator Yoga yang menjelaskan nilai-nilai spiritual sebagaimana terkandung dalam Gītā kepada para peserta latihan-latihan yang difasilitasinya?

Bahkan, Ada juga aliran Yoga yang dimulai oleh seorang asal India – tapi menjadi “besar” di Barat – yang justru “mengharamkan” pembahasan Gītā dan Hal-hal lain yang bersifat spiritual. Dia tidak mau berpolemik dalam bisnis. Bagi dia Yoga adalah bisnis – B untuk bisnis. Yoga adalah bisnis franchise, sementara itu ajaran Gītā tidak bisa di-franchise-kan. Ajaran Gītā mesti di hayati, dilakoni dan dibagikan. Keinginan yang membara untuk membangun bisnis Yoga, jelas melanggar prinsip Yoga. Maka, mereka yang memadati studio-studio pelatihan Yoga seperti itu – tidak akan memperoleh manfaat Yoga.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 25 Desember 2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 245

Berkarya Tanpa Pamrih adalah Karakter Seorang Samnyāsi sekaligus Yogī di zaman Modern

Marilah kita Berdoa sebelum membaca Sabda dari Śrī Krsna

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Śrī-bhagavān uvāca

anāśritah karma-phalam kāryam karma karoti yah

Sa samnyāsi ca yogī ca na niragnir na cākriyah

Bhagavad Gīta, 6.1

Śrī Bhagavān (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Ia yang berkarya menunaikan kewajibannya Tanpa mengharapkan hasil, tanpa pamrih – adalah Samnyāsi sekaligus Yogī.

Samnyāsi bukanlah seseorang yang melepaskan segala kewajibannya – termasuk persembahan; dan Yogī bukanlah seseorang yang meninggalkan Segala aktivitas.”

Sebelumnya, para Samnyāsi dibedakan dari para Yogī. Para Samnyāsi adalah Mereka yang melepaskan segala kewajiban – menyepi jauh dari keramaian, dan bahkan melepaskan juga Segala ritus-ritus yang dianggapnya tidak membantu dalam pencarian jati diri. Sebab itu, Samnyāsi dikaitkan dengan ajaran Sāmkhya.

Sementara itu Yogī masih bisa berada di tengah keramaian dunia – tapi dia pun tidak “begitu” tertarik dengan segala kegiatan duniawi. Seluruh waktunya nyaris terhabiskan untuk meraih pencerahan.

Krsna adalah sebuah revolusi – Ia tidak hanya mendefinisikan Samnyāsi dan Yogī dengan cara yang beda, tapi juga mempertemukan kedua-duanya. Inilah jawaban bagi manusia modern – yang masih berada di tengah kegaduhan dan kebisingan dunia, namun ingin tetap mencapai kesempurnaan diri. Jawabannya, solusinya adalah:

Berkarya tanpa Pamrih! Menunaikan Segala tugas-kewajiban; menjalankan usaha – melakukan segala Hal – tapi tidak pamrih, dalam pengertian tidak memikirkan kepentingan diri. Nah orang seperti itu – manusia yang berkarya tanpa pamrih seperti itu – adalah kedua-duanya, Yogī dan Samnyāsi.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 24 Desember 2017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 244

7 Sifat “Keperempuanan/Feminine” Yang Memanusiakan Manusia: Sapta-Tunggal untuk Refleksi Hari Ibu

Mrtyuh sarva-haraś cāham udbhavaś ca bhavisyatām

Kīrtih śrīr vāk ca nārīnām smrtir medhā dhrtih ksamā

Bhagavad Gīta, 10.34

“Akulah maut yang memisahkan semua, Aku pula Asal-Usul – Awal-Mula bagi kelahiran baru. Diantara para perempuan atau sifat-sifat Keperempuanan/Feminin, para Dewi, Akulah Kīrti, Śrī, Vāk, Smrti, Medhā, Dhrti dan Ksamā – Kemuliaan, Kesejahteraan, Kemampuan berbicara dengan baik, Daya Ingat, Kebijaksanaan, Keteguhan, dan Ketabahan atau Pemaafan.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Maskulin, Feminin, jender ketiga – Semuanya adalah Dia. Kematian, kelahiran – semuanya berasal dari-Nya.

Akulah maut, sekaligus Pemberi Kehidupan. Jadi bukan sekadar memusnahkan, tetapi memusnahkan supaya dapat mendaur-ulang kembali. Mematikan, memusnahkan, dan menghidupkan kembali.

Segala sesuatu yang sudah lama, sudah usang – mesti musnah supaya dapat didaur-ulang dan dihidupkan kembali. Sang Jiwa Agung meliputi kebenaran dan keberadaan seutuhnya. Tidak separuh-separuh. Kedua sisi kehidupan, kelahiran dan kematian – adalah Dia.

Penggalan berikut dari ayat ini lain dari yang lain. Jika selama ini, Krsna mengaitkan Sang Jiwa Agung dengan “Salah satu” sifat yang tertinggi, yang utama; dengan Salah satu manifestasi utama dari masing-masing kelompok – maka dalam Hal ini Ada 7 sifat yang diakui-Nya, Sama-Sama utama…

Sapta Tunggal! Menerjemahkan ketujuh sifat feminin atau Keperempuanan Sebagai Dewi, atau malaikat adalah sangat menyederhanakan maksud Krsna.

Perhatikan – setiap sifat ini adalah sifat utama yang membedakan manusia dari hewan-hewan jenis lain. Dan, semua sifat ini adalah feminin. Berarti yang memanusiakan manusia adalah sifat-sifat Keperempuanan ini.

Bukan saja memanusiakan perempuan, tetapi juga memanusiakan kaum pria. Sifat-sifat Kepriaaan, kejantanan, yang sering dibanggakan Sebagai sifat lelaki, antara lain; otot, kekuatan fisik, dinamika, semangat dan Sebagainya – sesungguhnya terkait dengan energi. Dan lagi-lagi Energi atau Śhakti adalah Feminine juga. Sifat “jantan” atau kejantanan, tidak seberapa terkait dengan lapisan-lapisan Kesadaran mental serta emosional, intelegensia, dan Sebagainya.

Apa yang kita sering banggakan sebagai sifat-sifat jantan itu adalah dimiliki juga oleh berbagai hewan jenis lain. Bahkan, mereka, barangkali lebih “jantan” dari kita.

Masukkan seorang manusia berotot ke dalam kandang singa yang sedang lapar. Bayangkan apa yang terjadi! Siapa yang menang…???

Keberanian?

Kadang seorang pemberani yang bisa melawan sistem dan pemerintahan korup pun bisa di buat takut oleh seekor kecoa!?! Mau bilang apa…???

Jadi, adalah sifat-sifat Keperempuanan yang justru membuat manusia menjadi manusia. Pria mau pun Wanita – dua-duanya butuh sifat-sifat ini.

Celakanya, seringkali seorang perempuan pun – yang semestinya memiliki “semua” sifat ini dari sono-nya, sudah embedded, sudah terprogram demikian – tidak menunjukkan, tidak mengungkapkan, atau Lebih tepatnya, tidak memanfaatkan sifat-sifat tersebut.

Jadi, urusannya bukanlah kalau sudah jadi perempuan, sudah memiliki sifat-sifat ini, maka perkara selesai. Tidak. Walau memilikinya, tidak semua perempuan memanfaatkannya. Pun, tidak semua pria tidak memiliki sifat-sifat ini. Ada pula pria yang, persis seperti perempuan, lahir dengan sifat-sifat ini sudah ter-install dalam dirinya. Ia tidak perlu mengembangkan. Tinggal menjalankan, run! Tidak perlu di-install lagi. Tidak perlu re-formatting.

Krsna tidak berurusan dengan frasa-frasa seperti “Wanita adalah kaum lemah yang mesti dilindungi”; “bagaimanapun juga kodratnya sebagai perempuan”; maupun dengan frasa yang tampak, terdengar sangat elegan, padahal merupakan penghinaan terhadap kaum perempuan, yaitu “kesetaraan jender”.

Kesetaraan Jender macam apa? Memberi otot kepada perempuan, menghapuskan ketujuh sifat di atas Karena ketujuh sifat itu bukanlah sifat-sifat lelaki. Apa itu maksudnya? Definisi kita tentang kesetaraan jender adalah sangat membingungkan, karena…

Tolok ukur kita selalu pria – Jadi, ketika seorang aktivis Hak-Hak perempuan pun merasa sedang berjuang untuk kesetaraan jender, sesungguhnya Ia terjebak dalam suatu pemahaman yang keliru.

Perempuan dengan memiliki ketujuh sifat di atas, yang seorang pria belum tentu memilikinya, sesungguhnya sudah lebih manusiawi daripada seorang pria. Lalu apa yang mesti disetarakan?

Mau mengganti rok perempuan dengan celana? Mau memendekkan rambutnya? Atau mau menutup seluruh badannya? Mau meng-apa-kan perempuan demi kesetaraan?

Ingat, seorang pria “belum tentu” memiliki ketujuh sifat ini sebagai bagian dari programming dasar di dalam dirinya. Ia mesti mengembangkannya. Potensinya Ada tetapi mesti dikembangkan.

Di pihak lain, setiap perempuan “sudah” memiliki ketujuh sifat ini Sebagai bagian dari programming dasarnya.

Celakanya, sebagian perempuan – seperti Hind dalam sejarah Islam, yang merobek dada Hamzah untuk memakan jantungnya; Salome dalam tradisi Kristiani, yang menjadi penyebab pembunuhan Nabi Yahya atau Yohanes, Sang Pembaptis; Zulaikha dalam tradisi Yahudi, Kristiani, maupun Islam, yang ingin mencelakakan Nabi Yusuf atau Joseph; Śūrpanakhā dalam Epos Rāmāyana yang menjadi penyebab penculikan Sītā – dan masih banyak perempuan-perempuan lain, di setiap zaman, dari zaman ke zaman – yang malah “mematikan” program dasar mereka, dan menghapus ketujuh sifat di atas. Perempuan-perempuan seperti inilah, kemudian, disebut setara dengan kaum pria. Berdarah dingin!

Apakah kesetaraan seperti itu yang dimaksud? Jika ya, maka tidak perlu menunggu hari kiamat. Silahkan setarakan setiap perempuan. Dan kiamat terjadi sekarang dan saat ini juga. Tidak perlu menunggu perang dunia ketiga. Tidak perlu senjata nuklir. Tidak perlu tsunami. Tidak perlu pemanasan global. Tidak perlu apa-apa. Setiap rumah, setiap rumah tangga, setiap keluarga akan mengalami disintegrasi. Semuanya akan hancur-lebur dalam sekejap!

Saatnya kita menolak kebencian – dan menyapa setiap Dewi yang disebut namanya oleh Krsna.

  1. Kīrti atau Kemuliaan; otot tidak bisa memuliakan kita. Muhammad Ali akan dikenang bukan karena ototnya yang sekarang terkalahkan oleh penyakit Parkinson. Ia akan di kenang karena berbagai kegiatan amal yang dilakukannya. Perhatikan Gandhi, Teresa – tidak punya otot. Bahkan, orang – orang sebesar Gandhi atau Tolstoy tidak pernah mengharapkan dan mengejar Penghargaan Nobel segala. Namun, mereka mulia. Hidup mereka mulia. Mereka dikenang sepanjang masa karena kemuliaan mereka.
  2. Śrī atau kesejahteraan; Dewi Sri, Laksmi, Berkah, Kemakmuran, Keberlimpahan… urusannya bukanlah “duit” saja. Urusannya adalah kesejahteraan secara holistik – general well being. Apa arti uang tanpa kesehatan, ketenangan batin, kebahagiaan sejati, dan kedamaian hati? Śrī mewakili kesejahteraan dalam pengertian yang seluas-luasnya. Kita boleh memiliki banyak uang, jika tetap tidak puas, tidak memiliki kepuasan hati – kita seorang miskin. Sebaliknya,  kita boleh tidak menjadi Rockefeller, tapi memiliki kesehatan, berkecukupan, bahagia, tenang, damai, dan di atas segalanya memiliki kepuasan hati – maka, kita sejahtera dalam pengertian yang sebenarnya.
  3. Vāk atau Kemampuan Berbicara; kemampuan untuk menyampaikan sesuatu dengan baik. Kemampuan untuk mempresentasikan sesuatu secara efektif dan meyakinkan. Vāk, dikaitkan dengan Dewi Saraswati – Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni. Ya, betul – tapi membebani otak dengan pengetahuan saja tidak cukup. Swami Vivekananda Mengatakan, “Janganlah membuat otakmu menjadi perpustakaan saja.” tidak berguna. Adalah penting bahwa pengetahuan yang kita miliki dapat digunakan, diaplikasikan, disebarluaskan, dibagikan dengan cara yang baik. Untuk itu kita membutuhkan Vāk – kemampuan, kebolehan, kecakapan untuk menyampaiakan sesuatu, baik secara lisan, maupun secara tertulis.
  4. Smrti atau Daya Ingat; Komputer otak kita boleh saja memiliki segudang informasi, apa gunanya jika file-file yang tersimpan itu tidak bisa di-retrive? Tidak bisa dibuka, tidak bisa diakses. Ini penyakit utama kita. Kita sudah memiliki segudang pengalaman, segudang hikmah dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Celakanya, kita tidak ingat. Maka kita mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama. Seperti lari di tempat saja. Kita berulang kali mati, lahir, mati, lahir untuk mengurusi hal-hal yang sama. Kenapa? Karena kita tidak tahu mau apa lagi. Tidak ingat. Tidak mampu menentukan arah yang mesti dituju.
  5. Medhā atau Kebijaksanaan; bukan sekadar pengetahuan tapi kebijaksanaan. Ini ibarat processor komputer, processor yang canggih. Tanpa processor, kita boleh punya segala macam data, tidak bisa memprosesnya. Tidak bisa komputasi.
  6. Dhrti atau Keteguhan; seringkali kita menyalahartikan keteguhan hati sebagai “keteguhan tanpa kompromi”. Berkepala batu atau beton, berotak beton, tidak sama dengan keteguhan hati. Keteguhan hati adalah sesuatu yang inteligen. Sesuatu yang dinamis. Sesuatu yang dapat berkembang. Sesuatu yang progresif. Keteguhan hati tidak berarti “Aku sudah begini dari sononya”. Itu keras kepala, stubbornness. Bukan keteguhan hati. Keteguhan hati ini merupakan bagian dari Sapta-Tungal. Seperti juga sifat-sifat lainnya, ia tidak berdiri sendiri. Keteguhan hati tanpa kebijaksanaan, ya itu, kepala batu. Bukan keteguhan hati. Sekarang terakhir…
  7. Ksamā atau Ketabahan/Kemampuan untuk Memaafkan; Kesabaran adalah bagian dari kemampuan ini.

Ketujuh sifat ini adalah Śhakti – kemampuan, strength, power, force. Tujuh kemampuan yang diawali dengan Kīrti atau Kemuliaan dan berakhir dengan Ksamā yang berarti Ketabahan atau pemaafan – adalah ibarat 7 kelopak dari bunga yang satu dan sama.

Ketujuh sifat ini adalah tunggal – seven-in-one. Tidak bisa memisahkan yang satu dari yang lain. Jika kita mengejar kemasyhuran atau ketenaran belaka, maka cukup mencari media. Kita tidak butuh Kīrti  atau Kemuliaan. Sebejat apa pun kita, punya fulus, punya dukungan politik, punya dukungan media – maka kita bisa menjadi tenar dalam sekejap.

Bukan, Kīrti bukan sekadar ketenaran atau Kemasyhuran. Demikian pula Śrī bukan sekedar tabungan, tapi kesejahteraan secara holistik. Dan, Ksamā bukan barteran. “Aku memaafkan kamu, asal…”. Ksamā adalah ketabahan dan kemampuan untuk memaafkan tanpa embel-embel, tanpa syarat. Jika kita sudah memiliki keenam sifat sebelumnya – maka mudah memaafkan! Jika belum, maka marilah kita mengembangkan dulu keenam sifat sebelumnya. Jadilah Krsna!

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 23 Desember 2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 488-492

Seorang Panembah Sejati: Teguh dalam Devosi dan Tidak Terjebak dalam Permainan Pikiran

ye tu dharmyāmrtam idam yathoktam paryupāsate

Śraddadhānā mat-paramā bhaktās te’tīva me priyāh

Bhagavad Gīta, 12.20

“Mereka yang menerima kebijakan luhur yang telah kusampaikan; teguh dalam devosinya pada-Ku; dan, menganggap diri-Ku Sebagai Tujuan Tertinggi adalah panembah, yang sangat Kusayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Segala sifat sebelumnya terkalahkan oleh penerimaan seorang panembah tanpa keraguan. Oleh kasih tanpa syarat dan tanpa kondisi.

Krsna pernah menguji Arjuna – “Arjuna, lihat, lihat di atas pohon itu – burung “koyal” yang bersuara merdu atau burung gagak?”

Kedua-duanya berwarna hitam. Tapi Koyal berbadan lebih kecil. Arjuna tidak salah, ketika Ia menjawab, “itu gagak, Krsna…” belum selesai menjawab, burung di atas pohon itu terbang, dan, ternyata “koyal”!

Arjuna tercengang, lalu tersenyum.

Ia memahami maksud Krsna. Sesaat lagi, “Arjuna, Sekarang ini sudah hampir sore ya? Saatnya matahari terbenam, atau masih lama?”

Arjuna tidak mau terjebak lagi, “Krsna, suka-sukamu, Jika kau mengatakan sore, maka sore. Jika kau berkata belum, maka belum!”

Seorang panembah Sejati tidak terjebak dalam permainan pikiran, persepsi, dan Sebagainya. Dia menempatkan devosinya, panembahannya di atas rasio dan intelek.

Ini bukanlah soal “percaya buta”, “perbudakan” , atau pun “pengultusan”. Sama sekali tidak. Sebab, Krsna adalah kesadaran Sejati Arjuna sendiri. Krsna adalah kesadaran Sejati Kita semua. Mengalahkan pikiran dan intelek demi kesadaran Sejati menguntungkan kita sendiri; Bukan perbudakan, Bukan pengultusan, dan Bukan percaya-buta.

Devosi atau panembahan mendekatkan kita dengan Ilahi, dengan diri kita yang sejati – dengan potensi diri yang tak terbatas, dengan intuisi, dengan kemampuan mengubah gagak-diri menjadi koyal bersuara merdu. Sementara itu, pikiran, akal-Budi, intelek, pengetahuan – semuanya mengantar kita ke luar diri.

Untuk berinteraksi dengan dunia luar – silahkan menggunakan pikiran, akal-Budi dan Sebagainya. Namun, untuk mengakses diri sendiri, kita mesti drop semuanya dan mesti jalan ke dalam diri dengan bekal keyakinan penuh dan devosi tanpa syarat. Bekal lain tidak berguna.

Topeng-topeng yang kita pakai sepanjang hari “barangkali” berguna untuk berhubungan dengan dunia luar. Namun Sama sekali tidak berguna untuk diri sendiri.

Intelek, gelar, kedudukan – semuanya adalah atribut-atribut luaran dan berguna untuk dunia luar. Untuk alam di dalam diri, kita tidak membutuhkan semua itu.

Saat tidur saja, kita sepenuhnya berada dengan diri sendiri. Saat itu, kita tidak memakai jas, dasi dan Sebagainya. Saat itu kita tidak berpakaian rapi.

Makin longgar dan sedikit pakaian kita, makin nyenyaknya tidur kita, banyak penderita insomnia – susah tidur – akhirnya sembuh setelah dianjurkan oleh seorang ahli psikologi untuk tidur dalam keadaan telanjang, tanpa busana. Mereka sembuh tanpa sebutir obat apa pun! Tentunya, setelah sembuh, mereka Boleh saja tidur dengan memakai piyama atau busana-tidur lainnya.

Ayat ini mengajak kita untuk menjadi “diri sendiri”. Untuk berpaling pada Sang Aku Sejati, pada Pribadi Tunggal, pada Sumber Segala Sesuatu yang “percikan-Nya” adalah diri kita – pada Jiwa Agung.

Demikian berakhirlah BAB ke keduabelas dari Bhagavad Gīta.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 21/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 593-594

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis