Meraih Keseimbangan Diri: Bebas dari Dualitas, dan Fokus pada “Kemuliaan” Diri

Samah śatrau ca mitre ca tathā mānāpamānayoh

Śītosna-sukha-dukhesu samah sangavivarjitah

Tulya-nindā-stutir maunī santusto yena kenacit

Aniketah sthira-matir bhaktimān me priyo narah

Bhagavad Gīta, 12.18-19

“Ia yang bersikap Sama terhadap kawan dan lawan; Sama terhadap penghormatan dan penghinaan, panas dan dingin, senang dan susah; dan Segala pengalaman lainnya yang bersifat saling bertentangan; bebas dari keterikatan;”

Tidak terpengaruh oleh pujian dan cacian; senantiasa dalam keadaan eling, dan puas dengan apa yang diperolehnya demi keberlangsungn hidup; bebas dari rasa kepemilikan terhadap tempat hunian; penuh dengan semangat panembahan adalah yang sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Dualitas penghormatan-penghinaan, kawan-lawan, panas-dingin, senang-susah, pujian-cacian, dan sebagainya adalah fenomena luaran.

Selama kita masih percaya hal-hal di luar diri, kita akan Selalu terbawa oleh arus. Keseimbangan diri menjadi sesuatu yang hampir mustahil. Sebab itu, Para mistik Selalu mengajak kita untuk “berbalik” – metanoia – Vipaśyanā – teshuva – taubat – fokuskan kesadaran pada diri. Itulah cara untuk bebas dari Segala keterikatan, ketergantungan, dan untuk meraih keseimbangan diri. Ketika keseimbangan diri terjadi, maka kepuasan diri dan kebahagiaan sejati pun ikut menyusul. Jadilah mandiri dalam arti kata yang sebenarnya. Berdikari – berdiri di atas kaki sendiri – tidak bergantung pada siapa-siapa. Tidak bersandar pada siapa-siapa.

Penghormatan dan penghinaan, pujian dan cacian dari luar adalah berdasarkan persepsi orang lain, orang-orang di luar sana. Mereka senang ketika kita melakukan sesuatu yang membuat mereka senang. Dan mereka gusar ketika tindakan kita tidak sesuai dengan harapan mereka.

Jika kita ingin hidup “sesuai” dengan harapan setiap orang di luar sana, maka sungguh menjadi amat sangat sulit bagi kita untuk maju selangkah pun. Karena, setiap langkah kita bisa menimbulkan reaksi yang saling bertentangan. Sudah pasti ada yang menerima dn senang, dan ada yang tidak menerima dan gusar.

Berjujurlah dengan diri sendiri. Ingatlah “kemuliaan diri” dan bertindaklah sesuai dengan kemuliaan itu. Tidak perlu bertindak sesuai dengan harapan setiap orang di luar. Harapan siapa saja yang mesti kita penuhi? Kita tidak bisa memenuhi harapan setiap orang.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 20/12/2017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 592-593

Semangat Seorang Panembah: Pengalaman Suka Maupun Duka “ini pun pasti berlalu”

Yo na hrsyati na dvesti na śocati na kānksati

Śubhāśubha-parityāgī bhaktimān yah sa me priyah

Bhagavad Gīta, 12.17

“Ia yang telah melampaui kesenangan semu, kebencian, duka, dan segala keinginan; tidak terpengaruh oleh dualitas Baik-buruk; serta memiliki semangat panembahan adalah sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Seorang panembah tidak terikat pada apa pun. Ini yang di maksud Srī Krsna. Ia telah melampaui dualitas suka-duka, Baik-buruk, dan Sebagainya.

Tidak berarti Ia tidak “ber”suka-cita – dan tidak pula berarti Ia tidak pernah “ber”duka. Tidak berarti Ia tidak “ber”Buat sesuatu. Ia menjalani hidupnya persis seperti kita. Ia tetap bersuka-cita, berduka-cita, dan berbuat sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Namun, Ia tidak “terikat” pada sesuatu.

Ketika pengalaman suka berlalu, dan Ia berada dalam keadaan duka – maka Ia menjalani pengalaman duka dengan semangat “ini pun pasti berlalu”. Ia tidak beraduh-aduh. Pun demikian saat bersuka-cita, Ia tidak terbawa oleh pengalaman tersebut dan “kemasukan angin”, dalam pengertian, menganggap pengalaman suka sebagai sesuatu yang langgeng dan tak akan pernah berakhir. Dalam keadaan suka maupun duka, Ia selalu mengingat, “ini pun pasti berlalu”.

Pun demikian saat berkarya, saat bertindak – Ia menjalani tugasnya “dengan baik”, sesuai tuntutan profesinya, tanpa keterikatan pada hasilnya.

Seorang panembah di medan perang mesti melawan musuh yang mengancam kedaulatan Bangsanya. Ia tidak bisa memikirkan apakah “pembunuhan” itu Baik atau buruk. Itu adalah tugas Para filsuf, Bukan tugas seorang prajurit di medan perang “yang sedang menjalani tugas demi kedaulatan bangsanya”.

Ya, perkara tugas ini mesti jelas. Seorang prajurit tidak perlu berjuang demi “keinginan seorang penguasa untuk menjarah dan merampas kedaulatan Bangsa lain”. Jika Ia menjadi prajurit untuk berperang dengan niat yang tidak mulia seperti itu – maka Ia merendahkan martabatnya. Ia bukanlah seorang prajurit, seorang Kesatria lagi. Ia adalah sekadar pembunuh bayaran. Kemudian Ia pun mesti menanggung segala akibat dari perbuatannya.

Setiap kata Śrī Krsna dalam dialog mulia ini mesti dipahami secara utuh. Jika tidak, maka kita tidak bisa memahami maksud-Nya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 19/12/2017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 591

Sifat Seorang Panembah: Memahami Keinginan

Anapeksah śucir daksa udāsīno gata-vyathah

Sarvārambha-parityāgī yo mad-bhaktah sa me priyah

Bhagavad Gīta, 12.16

“Ia yang tidak menginginkan sesuatu, berhati Suci tanpa kemunafikan; cerdas, cermat – penuh kebijaksanaan, bebas dari keberpihakan dan kegelisahan – seorang panembah yang berkarya tanpa ke’-aku’-an seperti itulah yang sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Keinginan muncul dari pikiran yang serba terbatas. Keinginan adalah buah persepsi manusia berdasarkan keadaan sesaat. Dalam keadaan tertentu kita menginginkan sesuatu. Namun, Tak lama kemudian keadaan berubah – dan Kendati kita telah memiliki, telah memperoleh apa yang diinginkan, tetap saja kita tidak puas, tidak bahagia.

Ketika masih Muda, “pacaran” dan “pacar” Ada dua Hal yang seolah-olah menjadi segala-galanya. Demi apa yang kita anggap “cinta”, kita rela mengorbankan segala-galanya. Keduanya berada di urutan teratas daftar prioritas kita. Keinginan kita.

Ketika pacar sudah menjadi pendamping, timbullah rasa kecewa. Ternyata, cinta tempo doeloe sudah berubah, entah menjadi apa. Pacar yang Sama, tetapi sudah berubah peran Sebagai “pendamping” tidak lagi membahagiakan seperti tempo doeloe. Malah menyebabkan kegelisahan dan kekecewaan.

Seorang panembah menyadari hal ini – maka, Ia berupaya untuk melampaui keinginan-keinginan seperti itu.

Bukan Sekadar membersihkan badannya setiap hari. Seorang panembah juga menjaga kebersihan hati. Inilah pertanda seorang panembah yang bijak. Inilah kebijakan yang membuat seorang panembah senantiasa manunggal dalam kesadaran Ilahi.

Ia tidak terpengaruh oleh keadaan-keadaan di luar diri, yang senantiasa berubah. Ia tidak pilih Kasih, bebas dari dualitas favorit dan tidak-favorit. Ia melewati semua pengalaman tanpa terikat dengan satu pun.

Seseorang mengindolakan Gandhi – saat itu ia baru mengenal Gandhi sebagai pelopor ahimsā – perjuangan tanpa kekerasan. Namun, ketika ia menyelami kehidupan Gandhi dan mulai mengenal sisi lain dari sosok Gandhi, khususnya yang terkait dengan spiritualitas ala Gandhi, maka ia “kecewa” – kok begini yah!

Dari idola, Gandhi Sekarang menjadi objek kritikannya. Termasuk sisi ahimsā Gandhi yang sebelumnya diagung-agungkannya memudar. Dari santo, Gandhi menjadi setan baginya.

Banyak orang yang sebelumnya mengidolakan seorang artis sekaliber Michael Jackson pun terpengaruh oleh publisitas miring oleh media. Dan MJ pun berubah menjadi momok bagi mereka. Favoritism kita ditentukan oleh publisitas, oleh penilaian di luar, dan oleh persepsi kita terhadap apa yang disajikan itu. Kita tidak menggunakan fakultas kesadaran saat menentukan favorit dan tidak favorit, hanyalah pikiran kita yang berjalan. Kemudian pikiran itu pula mengecewakan kita. Yang Demikian itu bukanlah sifat seorang panembah.

Yang terakhir dalam ayat ini adalah tentang Ke-“aku”-an terkait dengan doership – aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah Sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tidak akan pernah Bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu ketika otak mengalami gangguan, Apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. Ia digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

Reasoning seperti ini, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukan Purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti Selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku-“mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada Penyerahan diri dimana kita Sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah Segala-galanya. Dialah semua. Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 18/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 589-590

Bebaskan Diri dari Berbagai Rasa yang Membebani

yasmān nodvijate loko lokān nodvijate ca yah

harsāmarsa-bhayodvegair mukto yah sa ca me priyah

Bhagavad Gīta, 12.15

“Ia yang tidak menggelisahkan, mengganggu sesama makhluk: dan juga tidak merasa terganggu, tergelisahkan oleh siapa pun; bebas dari rasa kesenangan semu (yang diperoleh dari kenikmatan indra), rasa iri, khawatir, dan rasa takut – adalah sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Jangankan manusia, ketika hewan di Rumah potong hewan atau di pasar merasa gelisah karena kehadiran kita, Karena kebiasaan kita mengkonsumsi mereka demi kenikmatan sesaat, maka kita bukanlah kesayangan-Nya.

Kita boleh menggunakan gelar dalam bahasa apa pun yang dapat diartikan sebagai “kesayangan-Nya” – tetapi tidak – kita tidak pernah menjadi kesayangan-Nya, selama masih menyebabkan kegelisahan dan penderitaan bagi sesama makhluk.

Sesungguhnya, menjadi kesayangan-Nya, berarti menjadi kesayangan “diri” kita sendiri. Seorang pemakan “bangkai hewan” yang biasa disebut “daging” sungguh tidak menyayangi “badan”nya. Ia sedang merusak badannya dengan mengonsumsi “daging”. Belum lagi dampak terhadap pikiran dan perasaannya; intelegensia dan kemampuan untuk memilah antara yang mulia dan yang sekadar menyenangkan.

Paham ahimsā atau tanpa kekerasan bukanlah “sekedar tidak membunuh”, tetapi “tidak menyakiti ” – tidak merugikan – bahkan tidak “menggelisahkan” sesama makhluk.

Paham ahimsā ini mesti di pakai secara betul dan komprehensif. Misalnya, menyangkut “diri” kita sendiri – ahimsā berarti, tidak menyakiti diri, tidak meracuni badan, tidak mengacaukan pikiran sendiri, tidak menimbulkan perasaan-perasaan yang membuat diri menjadi gelisah, khawatir, was-was, takut, iri, tersinggung, dan merasa Selalu disakiti oleh “orang lain”.

“Orang lain” itu tidak Ada. Yang “lain” itu pun hanyalah manifestasi dari Sang Pribadi Tunggal, Sang Jiwa Agung, sebagaimana “Diri Kita Sendiri”.

Jika kita “merasa” disakiti oleh orang lain, maka persoalannya mesti dipersempit dan dilihat dari perspektif yang benar. Adalah “perasaan” kita sendiri yang menggelisahkan diri kita. Berhenti mengurusi orang lain, urusi diri kita dulu. Urusi “perasaan” diri dulu. Keadaan di luar mesti dihadapi. Seperti halnya pekarangan Rumah yang berdebu mesti di sapu, dibersihkan – tetapi untuk itu mesti Ada sapu di tangan kita. Kita tidak bisa membersihkan pekarangan dengan pedang dan senapan. Mari membersihkan pekarangan Rumah Jiwa yang kotor dengan hati ringan, dengan penuh keceriaan. Kita tidak bisa membersihkannya dengan rasa berat, terbebani dan tidak enak.

Para pejagal di luar adalah orang-orang bodoh yang tidak Sadar bila “profesi” mereka, pada akhirnya akan merugikan mereka sendiri. Para pejagal Ada dimana-mana, Bukan di Rumah potong hewan saja. Mereka Ada di tengah pasar dunia, sibuk menjagal dengan berbagai cara. Mereka dapat ditemukan dalam setiap profesi. Mereka berjas, berdasi, berpakaian rapi. Kadang sulit mengenal mereka.

Mereka bodoh adanya, dan orang bodoh itu seperti langkah kita sendiri yang kadang salah, kaki kita yang kadang secara tidak sengaja menginjak najis, kotoran. Lalu apa yang kita lakukan? Bersihkan kaki. Tidak perlu membenci kaki, tidak perlu mencaci kotoran. Tindakan yang tepat hanya satu – membersihkan kaki yang kotor.

Tentunya, kotoran pun mesti dibiarkan larut bersama air bersih yang kita gunakan. Tidak perlu eman-eman, atau mengasihani “kotoran”. Kotoran bukanlah sesuatu yang “berguna” bagi kita.

Kotoran, barangkali “berguna” bagi “cacing” – itu makanan mereka. Ya, kotoran yang kita buang dan biarkan larut itu menjadi Makan siang atau Makan malam bagi cacing-cacing di selokan, tikus dan hewan lainnya. Tidak perlu membenci kotoran, tetapi juga tidak perlu di pelihara. Biarlah Sang Jiwa Agung di dalam cacing-cacing dan tikus-tikus itu menikmatinya. Ingat, kita semua adalah percikan-Nya. Tikus dan cacing pun hidup Karena kehadiran-Nya di dalam diri mereka.

Bebas dari berbagai rasa yang membebani… seperti rasa iri, kekhawatiran, dan kesenangan semu yang diperoleh dari kenikmatan indra dan kenyamanan materi. Dan lagi-lagi Krsna mengingatkan bila seorang panembah bebas dari rasa takut.

Rasa takut adalah “sebab utama” kelahiran kita di dunia ini. Selama hampir 10 bulan dalam rahim ibu, di mana 2-3 bulan terakhir Jiwa sudah sepenuhnya mengidentifikasikan dirinya dengan rahim yang mengandungnya – kita mengalami rasa takut. Takut sepi, sendiri – maka “terjadilah” kelahiran. Tidak semua, tetapi banyak kasus keguguran terjadi ketika Jiwa “tidak merasa takut” dan kemudian “kelahiran” menjadi tidak penting lagi.

Persis seperti itu, Jika selagi masih hidup kita terbebaskan dari rasa takut – maka bebaslah kita dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 17/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 587-589

Enam Sikap Positif Terhadap Semua Makhluk

Advestā sarva-bhūtānām maitrah Karuna eva ca

Nirmamo nirahankārah Sama-duhkha-sukhah ksamī

Santustah satatam yogī yatātmā drdha-niścayah

Mayy arpita-mano-buddhir yo mad-bhaktah sa me priyah

Bhagavad Gīta, 12. 13-14

“Bebas dari rasa benci terhadap sesama mahkluk; bersahabat dengan semua, penuh welas asih; bebas dari ke-‘aku’-an dan rasa kepemilikan; Sama dan seimbang dalam suka dan duka; penuh ketabahan, mudah memaafkan;”

“Puas dengan apa yang diraihnya, dan terkendali dirinya, senantiasa mengenang-Ku, manunggal dengan-Ku; pikiran, Perasaan, serta intelegensinya terpusat pada-Ku; seorang panembah yang teguh dalam keyakinannya seperti itu sungguh sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Inilah cara untuk mencapai kemanunggalan dengan semesta. Dengan cara ini seseorang merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta. Krsna mengajak Arjuna untuk mengembangkan sifat-sifat mulia, sebagaimana dijelaskan-Nya, untuk meraih kemanunggalan abadi.

Pertama: bebas dari rasa benci – berarti bebas dari rasa dendam, bebas dari kekecewaan, ketersinggungan dan lain Sebagainya. Karena benci adalah produk dari perasaan-perasaan tersebut. Awalnya sekedar kecewa, tersinggung – kemudian marah, dendam dan benci. Ini adalah api yang membakar diri kita. Rasa benci adalah api neraka. Untungnya kita dapat menghindarinya.

Namun, bebas dari rasa benci pun tidak cukup. Krsna mengajak Arjuna untuk mengembangkan sikap positif – positive attitude – terhadap semua makhluk.

Kedua: Bersahabat dengan semua – Bersahabat di atas landasan Welas-Asih. Bukan bersahabat Karena Ada “mau”nya; Ada keperluan materi, duniawi, atau keperluan lain Apa pun.

Kadang kita membungkus kepentingan duniawi murni dengan pembungkus rohani, “saya mencintai jiwamu, Bukan badanmu” – ujung-ujungnya tetap juga kita menginginkan raganya.

Bukan, Bukan persahabatan seperti itu, tetapi persahabatan tanpa kepentingan Apa pun. Dan Hal itu hanyalah mungkin Jika kita mengembangkan sifat…

Ketiga: Tanpa Ke-“aku”-an dan rasa kepemilikan – ini punya-ku, itu milik-mu; aku begini, dia begitu. Semuanya ini merupakan kendala bagi seorang panembah.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari aku menuju kita dan akhirnya mencapai “Dia” – hanya Dia.

Kemudian, bagi seorang panembah yang telah melampaui kepentingan diri, langkah berikutnya; sifat-sifat berikutnya menjadi mudah untuk ditempuh….

Keempat: Sama dan seimbang dalam keadaan suka dan duka – tampak susah, sulit, tetapi sesungguhnya menjadi mudah ketika kita sudah mengembangkan 3 sifat sebelumnya. Khususnya Jika kita sudah melampaui ke-“aku-an dan kepemilikan.

Kecewa, benci, dan lain sebagainya muncul karena “aku” merasa dirugikan, dizalimi, diperlakukan secara tidak adil. Jika “aku” telah terlampaui, maka rasa benci dan sebagainya pun gugur sendiri.

Kemudian, Apa pun yang kita lakukan, termasuk perlawanan terhadap ketidakadilan bukanlah Karena “urusan-ku”, tetapi Karena urusan yang lebih tinggi, lebih mulia – Karena urusan sesama makhluk hidup, urusan semesta, urusan Dharma – kebajikan.

Kelima: Ketabahan dan Pemaafan. Sifat-sifat sebelumnya membuka hati kita, diri kita, bagi ketabahan dan pemaafan. Sesungguhnya ketabahan dan Pemaafan adalah sifat yang saling terkait. Tanpa ketabahan, seseorang tidak mampu memaafkan. Sifat “gampang memaafkan” adalah buah dari ketabahan, yang membuat kita menjadi sabar.

Maafkan Mereka yang “dalam ketidaktahuan dan kebodohannya” menyakiti kita, Karena sesungguhnya mereka sedang menggali lubang bagi diri sendiri. Betapa bodohnya! Seorang bodoh patut dikasihani, kesalahannya dimaafkan. Dan Jika memang membuka diri, maka perlu diberi pelajaran supaya tidak bodoh untuk selamanya.

Keenan: Kepuasan-Diri – Tanpa kepuasan diri, kita Selalu mengeluh, Selalu merasa “kurang”. Kepuasan-Diri adalah “kekuatan”, energi yang dapat menyuntiki kita dengan semangat untuk senantiasa berkarya to the best of our ability – kemudian leave the rest to God.

Seorang yang telah mengembangkan sifat-sifat tersebut, menurut Krsna, adalah panembah yang sudah “kuat” tekadnya untuk mempersembahkan dirinya bagi kebaikan sesama.

Ia telah menemukan dirinya yang sejati – dan diri itu ternyata Sama dengan diri setiap makhluk. Tidak Ada satu pun makhluk, satu pun jiwa, yang tidak tersinari, tidak mendapatkan aliran kehidupan dari Sang Maha Diri Hyang Tunggal adanya. Sang Jiwa Agung.

Seorang panembah seperti itu akan “membersihkan” diri dari daki adharma, kezaliman, ketidakadilan dan Sebagainya dengan semangat penyucian diri, Bukan dengan semangat membenci. Untuk apa membenci daki?

Kekotoran di dunia ini, debu dan sampah – daki dan bau tidak sedap – semuanya dapat dibersihkan. Seorang panembah tidak hanya berkarya tanpa henti untuk membersihkan dirinya; tetapi juga berkontribusi kepada kebersihan Bumi, kelestarian Alam.

Hendaknya Kita tidak kecewa Jika besok pagi menemukan lapisan debu yang Baru di pekarangan gugusan serta Perasaan kita. Inilah konsekuensi keberadaan kita di dunia ini. Bersihkan badan, bersihkan gugusan pikiran serta perasaan, dan jaga pula kesucian kesadaran-Jiwa. Setiap hari, dari hari ke hari. Inilah nasehat Srī Krsna. Ini yang mesti kita lakukan untuk meraih kemanunggalan.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 16122017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 585 – 587

Śreya dan Preya “Laku yang Memuliakan dan laku yang sekedar menyenangkan”

Śreyo hi jñanām abhyāsāj jñanād dhyānam viśisyate

Dhyānāt Karma-phala-tyāgas tyāgāc chāntir anantaram

Bhagavad Gīta, 12.12

“Pengetahuan sejati lebih Mulia daripada laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; Meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan melepaskan diri dari keterikatan pada hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Jika diterjemahkan secara harfiah tanpa memahami idiom dalam bahasa Sanskrit – maksud ayat ini bisa sangat membingungkan, bahkan menyestkan. Seolah Krsna menempatkan pengetahuan di “atas” laku dan sebagainya, dan seterusnya. Apakah Krsna menganggap yang satu “lebih Baik” dari yang lain.

Krsna menggunakan istilah Śreya, yang berarti, “lebih mulia” Bukan lebih Baik, atau diatas yang lain. Dengan menggunakan istilah śreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan Śreya dan Preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan dalam konteks lebih baik dan kurang Baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak. Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, raihlah terlebih dahulu pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan, mana yang tidak. Berarti jangan asal “berkarya” – jangan asal “berbuat”, jangan asal “Makan”. Jangan asal “hidup”. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa Karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh bagi lingkungan, bagi masyarakat.

Di Anak tangga berikutnya adalah Meditasi – senantiasa menyadari kesadaran Ilahi di dalam diri itulah Meditasi. Pemusatan kesadaran pada Ilahi, itulah Meditasi. Meditasi, berarti hidup berkesadaran. Melakoni hidup secara Meditatif.

Jadi, Apa yang dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah langkah-langkah progresif. Setiap langkah mengantar kita pada langkah berikut yang lebih mulia dan memuliakan. Pengetahuan Sejati pun tidak berarti Apa-Apa jika tidak dihayati. Bukan sekedar “tahu” tetapi Menghayati Pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa “dihidupi”, akan menjadi basi, tidak berguna.

“Hayat” dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti “hidup”. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah Meditasi yang sebenarnya. Inilah Meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada “laku” – ya, kembali pada laku. Tetapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

“Laku” di Anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakan; laku yang mediatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan Segala atribut tambahan tersebut, laku di Anak tangga itu sudah Bukan laku biasa. Tidak seperti laku di Anak tangga awal.

Laku di Anak tangga ini adalah laku seorang Panembah, laku dengan semangat manembah. Dan bukanlah sekedar itu, laku di Anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna “renunciation” atau “tyāga”.

Berarti, Bukan sekedar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dan memuliakan.

Dalam tradisi Hindia kuno, seorang Anak menyerahkan seluruh penghasilannya kepada orang tua. Kemudian orang tua yang mengatur seluruh keuangan keluarga, termasuk untuk kebutuhan pribadi Anak itu sendiri. Ketika terjadi keperluan di luar dugaan, maka orang tua pula yang berkewajiban menutupinya. Si Anak bebas dari segala tanggung jawab, Karena ia telah menyerahkan seluruh penghasilannya.

Jika kita bisa menghaturkan buah perbuatan kita kepada Hyang Maha Kuasa, maka Ia akan mengatur hidup kita. As simple as that, memang membutuhkan iman, keyakinan yang kuat, Penyerahan diri yang sempurna.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 15122017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK halaman 584-585

Kesempurnaan Diri dapat tercapai dengan Pengendalian Diri dan menyerahkan hasil perbuatan

Athaitad apy aśakto’si kartum mad-yogam āśritah

Sarva-Karma-phala-tyāgam tatah kuru yatātmavān

Bhagavad Gīta, 12.11

“Namun, jika itu pun tak mampu aku lakukan, maka dengan penuh devosi pada-Ku, kendalikanlah dirimu dan serahkan segala hasil perbuatanmu pada-Ku.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pikiran, Perasaan, Intelek, indra, semuanya memiliki agenda masing-masing. Indra membutuhkan kenikmatan sesaat dan tidak peduli apakah kenikmatan itu Baik bagi tubuh atau tidak.

Sebagai contoh: pola Makan yang Salah, tanpa memikirkan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Demikian pula dengan Gugusan Pikiran dan Perasaan – memikirkan Hal-Hal yang tidak penting, Pikiran berjalan terus, sehingga muncullah rasa was-was, rasa khawatir, kecewa, takut, dan Sebagainya.

Anjuran Krsna untuk pengendalian diri, berarti mengendalikan semua komponen-diri. Kemudian, berkarya dan menghaturkan hasilnya kepada Sang Aku Sejati. Berarti tidak mengkhawatirkan hasil dari hasil perbuatan. Serahkan hasilnya kepada Hyang Maha Bijak. Biarlah Ia menentukan segalanya. Yakinlah kebijakan-Nya. Dengan cara itu pun, kita dapat mencapai kemanunggalan dengan-Nya. Dengan cara itu pun, kesempurnaan diri tercapai

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 14122017-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 583

Kesempurnaan Diri dapat di capai dengan “Berkaryalah Untuk-Ku”

abhyāse’py asamartho’si mat-karma-paramo bhava

Mad-artham api karmāni kurvan siddhim avāpsyasi

Bhagavad Gita, 12.10

“Jika kau tidak dapat melakoni Yoga, maka berkaryalah untuk-Ku; Demikian dengan cara itu pun, kau dapat meraih kesempurnaan diri.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

“Krsna memberikan banyak pilihan” – barangkali Demikian kesimpulan kita. Ya, memang “tampak” banyak pilihan. Tetapi di balik semua pilihan-pilihan itu, tujuan-Nya hanyalah satu – yaitu pemusatan kesadaran pada “Aku”; pada “jiwa”; pada diri sendiri, yang adalah percikan dari “Aku Sejati”, dari “Sang Jiwa Agung”, dari Gusti Pangeran.

Apa pun yang kita lakukan, lewat jalan mana pun kita menuju-Nya – tujuan tidak pernah berubah. Tujuannya satu, Sama, tunggal – “Aku”!

Berkarya bagi-Nya, berkarya untuk-Nya – berarti berkarya Demi kepentingan semua mahkluk yang adalah percikan-Nya. Tidak berkarya demi kepentingan diri saja.

Berarti, Sebagai pengusaha, politisi, atau professional dalam bidang Apa pun – kita tidak mencari keuntungan dengan merugikan orang lain. Kejujuran dalam Hal berusaha; kebijaksanaan dalam Hal memimpin organisasi Apa saja, termasuk pemerintahan; berempati dalam Hal menjalankan professi kita masing-masing – dengan bekerja seperti ini pu, kita dapat mencapai kesempurnaan diri – Demikian janji Krsna.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 13122017-MA

Di tulis ulang Dari Buku Bhagavad Gita oleh AK Hal 582-583

Abhyāsa Yoga: Membiasakan diri untuk hidup secara Meditatif

Atha cittam samādhātum na saknosi mayi sthiram

Abhyāsa-yogena tato mām ichāptum dhanañjaya

Bhagavad Gita, 12.9

“Jika kau tidak mampu memusatkan kesadaranmu pada-Ku; maka raihlah kemanunggalan dengan-Ku dengan melakoni Yoga; wahai Dhanañjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan).”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Kata “melakoni” dalam ayat ini adalah terjemahan gagap dari kata “abhyāsa”. Abhyāsa, sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, berarti praktek-praktek yang dilakukan secara terus menerus. Praktek secara intensif dan repetitif, diulangi terus.

Inilah cara untuk mengubah suatu kondisi – Kesadaran kita, yang saat ini masih mengalir keluar, mesti dibelokkan ke dalam diri. Untuk itu;

Pertama, jangan mencari pembenaran di luar. Temukan kebenaran di dalam diri. Kebenaran diri adalah potensi diri. Inilah yang penting. Support Dari luar hanyalah penunjang. Jangan mengandalkan “Support” luaran. Ada oke, tidak Ada pun oke. Yang penting adalah kekuatan diri sendiri. Berdayakanlah diri!

Kedua; jadilah detektif bagi diri sendiri. Ketika kesadaran mulai mengalir keluar, cepat-cepat carilah simbol, ikon, kitab Suci, tempat Suci, atau apa saja yang dapat mengingatkan tentang kesucian, kemuliaan, dan kekuatan diri.

Jika kita memiliki seorang sadguru, seorang pemandu rohani, atau kita menjadi Bagian Dari padepokan spiritual, maka adalah sangat tepat bagi kita untuk mengunjunginya dari Waktu ke Waktu. Jangan membiarkan Kesadaran mengalir keluar secara terus menerus, dan terbiasa berada di luar. Sebelum Hal itu terjadi, kita sudah berada di suatu tempat dan/atau bersama seorang Sadguru yang dapat dijadikan perisai atau tameng.

Inilah Abhyāsa – suatu praktek yang dilakukan secara intensif dan repetitif. Abhyāsa berarti tidak bertindak seperti pasien bandel, yang begitu sembuh dari penyakitnya, langsung mengulangi kembali segala sesuatu yang membuatnya sakit. Kendati sudah sembuh, tetaplah merawat diri. Pola hidup, pola Makan, pola tidur, dan pola bangun yang sudah terkoreksi mesti dilanjutkan. Janganlah kembali pada pola hidup yang lama. Abhyāsa adalah laku yang konstan, praktek yang tidak putus.

Kemudian dalam ayat ini, Abhyāsa dikaitkan dengan Yoga, dalam Hal ini yang dimaksud Krsna adalah laku spiritual untuk meraih kemanunggalan dengan-Nya; dengan Jiwa Agung. Berarti melakoni Yoga Sebagai pola hidup. Membiasakan diri untuk hidup secara meditatif, dalam kesahajaan, dengan mengatur kebiasaan Makan, dan pola tidur. Pun, menjaga pergaulan, mempelajari literatur yang menunjang kesadaran, dan sebagainya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 12122017-MA

Di tulis ulang Dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 581-582

Pusatkan segenap kesadaran diri pada-Nya untuk meraih Kebahagiaan

Mayy eva mana ādhatsva mayi buddhim nivesaya

Nivasisyasi mayy eva ata ūrdhvam na samsayah

Bhagavad Gita, 12.8

“Sebab itu, pusatkan segenap pikiran, perasaan dan buddhi, intelegensiamu pada-Ku; demikian, niscayalah aku akan Selalu bersama-Ku, tiada yang perlu aku ragukan dalam Hal ini.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bukan saja memusatkan segenap pikiran serta perasaan, tetapi juga segenap intelegensia. Berarti memusatkan seluruh kesadaran pada-Nya.

Mind atau Manah memang senantiasa kacau dan mengacaukan. Kita menerjemahkan mind atau manah sebagai Gugusan Pikiran serta perasaan. Sebab itu, memusatkan manah pada-Nya berarti mengendalikan kekacauan pikiran dan gejolak emosi

Krsna juga menyebut Buddhi atau intelegensia. Berarti,

  1. Menggunakan intelegensia untuk mengarahkan Gugusan Pikiran dan Perasaan supaya terpusat kepada-Nya. Inilah penggunaan intelegensia yang paling utama.
  2. Kemudian, setelah terjadi pemusatan, intelegensia pun di-drop; diserahkan kepada-Nya. Berarti, membiarkan Dia menjadi Sais Kereta Kehidupan tanpa keraguan dan kebimbangan.

Untuk Selalu diingat, “Aku” Sri Krsna adalah “Aku” Arjuna -“aku” saya, “aku” Anda, “aku” mereka, “aku” kita semua. Krsna mengajak Arjuna untuk memperhatikan “diri”nya sendiri. Untuk memusatkan seluruh kesadarannya pada diri – pada “aku”. Tidak pada Hal-Hal di luar diri. Inilah tindakan yang paling inteligen. Inilah langkah jitu, langkah paling tepat, untuk meraih keberhasilan dalam hidup.

Kita ingin sukses – dan mengukur tingkat sukses, tingkat keberhasilan kita dengan membandingkan diri dengan orang lain yang kita anggap sudah cukup berhasil. Padahal, potensi setiap orang lain. Lain potensi saya, lain potensi anda. Barangkali, dengan potensi kita, keberhasilan yang dapat kita raih melebihi keberhasilan yang dapat diraih orang lain. Tetapi, dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, kita malah menutup diri terhadap kemungkinan itu. Kita sudah menganggap keberhasilan orang itu Sebagai “plafon” yang dapat dicapai. Demikian, kita merugikan diri sendiri. Kita tidak akan berjuang untuk melebihi keberhasilannya.

Sebaliknya, jika nilai keberhasilan orang yang kita jadikan anutan adalah berbeda dengan nilai kita – maka kita akan kecewa sendiri.

Baginya, barangkali ketenaran adalah nilai keberhasilan tertinggi. Bagi kita, hubungan dan rela si adalah nilai keberhasilan tertinggi. Orang lain barangkali mengukur keberhasilan dengan harta-Benda yang dimilikinya. Jelas, penilaiannya, tolak ukurnya sudah beda. Jika kita membandingkan diri dengan orang lain – maka, hanya kekecewaan yang Akan kita peroleh.

Seorang pejabat yang telah mengabdi selama belasan tahun, “terjebak” dalam Permainan Tritunggal ekonomi-politik-diskriminasi. Ia dijebloskan dalam penjara untuk menyelamatkan atasannya. Di dalam penjara Ia bertemu dengan seorang pengusaha yang sukses dalam Hal materi. Masih Muda, tapi hartanya sudah berlalu-kali lipat dari pejabat tersebut.

Sang pejabat “kecewa”, “saya mengabdi selama belasan tahun, masuk penjara dan tabungan saya tidak sampai 5% Dari kekayaannya. Saya dipenjara sekian tahun, Ia pun sama.” Demikian Ia mengacaukan pikirannya sendiri.

Saat menjadi pejabat – nilai keberhasilannya lain. Sekarang dengan membandingkan dirinya dengan orang lain, nilai keberhasilannya berubah. Dalam perubahan itu, Ia lupa mengevaluasi diri apakah Ia memiliki potensi sebagai “pengusaha”. Apakah Ia berjiwa entrepreneur? Jawabannya; jelas tidak.

Seorang berjiwa entrepreneur tak akan menghabiskan lebih dari 20 tahun masa hidupnya untuk bekerja di salah satu kantor pemerintahan, sebagai PNS atau Pegawai Negeri Sipil.

Dia pun tahu bila dirinya sudah mentok. Dia tidak mungkin mendapatkan jabatan yang lebih tinggi Karena masih adanya “diakriminasi” yang dilandaskan pada suku, kepercayaan dan Sebagainya. Dia adalah korban “politik antar pejabat”. Dia terkalahkan oleh orang lain, yang menginginkan jabatannya; seseorang yang latar belakang suku dan kepercayaannya lebih menguntungkan.

Jika Ia ingin bahagia, maka hendaknya tidak mengubah nilai kebahagiaannya. Harta-Benda penting, tetapi bukanlah segalanya. Bukanlah faktor utama kebahagiaan.

Dengan mengubah nilai kebahagiaannya; dengan memindahkan fokus Dari diri sendiri kepada orang lain, Ia hanyalah menyusahkan dirinya. Dalam usianya yang boleh dikatakan sudah memasuki Senja kehidupan – Ia hanyalah memunculkan kekecewaan Baru bagi dirinya. Lebih-lebih lagi, Hal itu terjadi ketika Ia berada dalam penjara.

Sebab itu, anjuran Krsna adalah sangat penting untuk didengarkan dan diikuti, diindahkan: “Pusatkan segenap kesadaran pada-Ku, pada “Sang Aku” yang bersemayam di dalam setiap diri. Jika aku melakukan Hal itu, maka kau pun dapat meraih kebahagiaan sejati – sebagaimana telah Ku-raih!”

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Senin, 11122017-MA

Di tulis ulang Dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 580-581

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis