Panduan untuk Menghadapinya dengan Senyuman 


Buku favorit saya, yang sudah saya baca berulang kali dan tidak bosan membacanya. 

Setiap kali membacanya Saya merasa senang dan pemahaman saya berkembang.  

Ini catatan saya saat membaca yang kedua kalinya pada 11 maret 2016 

Setelah membaca buku ini untuk kedua kalinya, pemahamanku menjadi berbeda. Aku berusaha memahami kematian lewat buku ini. Aku ingin membacakan buku ini  untuk orang – orang yang aku kasihi. Semoga terwujud. 

Jika waktu kematian tiba, ingatkan aku bahwa Waktu ku sudah tiba, tidak Ada tugas yang belum selesai, tidak Ada keinginan yang belum tercapai, aku tidak perlu cemas, aku harus menerimanya. Menerima keadaan ini. 

Jika apapun yang aku kerjakan tidak selesai, pasti Ada orang lain yang Akan menyelesaikannya. Jika tidak Ada yang menyelesaikannya, berarti tugas itu memang tidak boleh selesai. 

Nikmati lah saat ini. 

No where, now here! 

Ānandam 🙏

P A G E R W E S I  : Momentum Memagari Diri Dari Hoax

pagerwesi

Selamat hari suci Pagerwesi, semoga kita senantiasa di tuntun agar selalu berada di jalan dharma.

Masih dalam suasana hari kemerdekaan yaa… Bulan “kemenangan dan kebebasan”. Kebebasan dari penjajahan fisik. Tetapi tidak dengan penjajahan dalam bentuk lain. Seperti penjajahan Budaya, Narkoba, dan tentu juga penjajahan dari Hoax. Hari Pagerwesi juga dapat kita maknai sebagai hari kebebasan kita terhadap penjajahan dan kebodohan dengan memuja Tuhan dalam perwujudannya sebagai Guru alam semesta.

Momentum pagerwesi sangat tepat apabila kita maknai dengan renungan tentang “memagari diri” sebagaimana pagerwesi secara harfiah diartikan sebagai “pagar dari besi”. Saat ini kita tidak perlu pagar besi lagi, pagar yang kita butuhkan kini lebih “soft” dan tak terlihat. Mengapa kita memerlukan “pagar diri”? apakah kita begitu lemah dan tak berdaya sehingga perlu dipagari?

Manusia pada umumnya atau kebanyakan dari kita memang berada pada zona yang “lemah” mudah terpengaruh, kita sangat fluktuatif, naik – turun, pasang surut. Kesadaran kita sangat fluktuatif… kita belum atau tepatnya dalam proses untuk belajar menjadi manusia yang teguh dan kokoh terhadap kebenaran (manusia Stitha Prajna). Sehingga kita perlu memagari diri, sebagaimana pagar atau pelindung diri diperlukan oleh tanaman yang masih kecil dan baru tumbuh, demikian juga kita yang baru “belajar” ke arah “keteguhan hati dan kesadaran yang hakiki. Pagar diri ini juga diperlukan untuk menghadapi penjajahan seperti yang disebutkan diatas.

Pagerwesi juga adalah hari penghormatan terhadap guru agung. Guru semesta. Parambrahman sebagai Guru tertinggi. Dalam berguru kita mesti menyadari dan melakukan proses belajar sepanjang hayat. Apalagi dengan arus informasi yang mengalir begitu deras. Segala sesuatu dapat diakses dengan mudah. Jika kita tidak cukup jeli, maka kita akan sulit membedakan informasi yang benar dan informasi yang tidak benar atau Hoax.

hoax

Hari gini masih tertipu dengan berita – berita tidak bertanggungjawab? Masih suka kemakan hoax? Pakai smart phone tapi tidak menjadi smart people… hehehhehe

Banyak netizen yang kurang memperhatikan konten – konten yang tidak bertanggungjawab beredar di media sosial. Misalnya seseorang memiliki minimal 4 media sosial saja, dengan followers ribuan orang, maka sekali reshare, berita atau informasi tersebut memiliki peluang dibaca dan di reshare oleh ribuan followers tersebuit. Tak butuh waktu lama, satu konten (berita) bisa menjadi viral di sosial media. Efeknya, berita Hoax bisa menimbulkan kerugian yang besar dan berdampak signifikan terhadap kestabilan ekonomi, dan mengganggu kondusifitas masyarakat. Dan tidak sedikit dalam beberapa kasus, berita Hoax menjadi sumber pemecah belah masyarakat. Nah kejadian ini, memberi kesadaran baru bagi para netizen untuk bergerak dan melawan hoax.

Di banyak daerah di Indonesia mulai terbentuk komunitas yang – bukan hanya memagari – tetapi justru memerangi konten – konten yang diangap hoax. Masyarakat internet juga berkumpul dan mendeklarasikan semangat anti hoax. Banyak juga sekolah – sekolah yang bergerak dan mengadakan seminar atau kampanye anti hoax.

Bagaimana cara memagari diri dari berita hoax? Sederhananya, kita mulai dari diri sendiri. Kita mulai dari akun pribadi kita. Ada beberapa hal kongkret yang bisa kita lakukan:

  1. Melakukan Klarifikasi yaitu dengan meninjau kembali berita tersebut terkait isu yang disampaikan seperti subjeknya, lokasi, atau sumber yang dijadikan rujukan.
  2. Memanfaatkan media sosial dengan positif yaitu dengan mengobarkan kembali semangat positif. Dewasa ini, semangat nasionalisme perlu ditingkatkan melalui konten – konten yang kita share.
  3. Menyebarkan kebenaran yaitu dengan memenuhi sosial media kita dengan kebenaran yang menjadi pegangan dalam hidup kita.

Dalam perspektif agama Hindu, disampaikan bahwa menyebarkan kebenaran adalah dharma.

Yajurveda XXVI.2

Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah,

Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya

Ca svaya caranaya ca

Artinya

‘Hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, cendekiawan-rohaniawan, raja/pemerintahan/masyarakat. Para pedagang , petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku dan kepada orang asing sekalipun’.

Selain hal – hal kongkret tersebut diatas, sebagai umat Hindu kita perlu menjadikan beberapa konsep ajaran Hindu berikut ini untuk dijadikan pedoman dalam menghadapi konten – konten yang tidak bertanggung jawab atau konten – konten hoax

  1. Konsep Tri Semaya, yaitu konsep waktu yang terdiri dari Athita (masa lampau), anaghata (Masa yang akan datang / masa depan) dan warthamana (masa kini). Apakah konten yang kita dapatkan atau yang kita temui adalah benar berdasarkan waktu lampau, apakah mengandung fakta sejarah? Apakah konten tersebut bermanfaat bagi kita di masa sekarang dan apakah konten tersebut menunjang kehidupan kita dimasa depan?
  2. Konsep Tri Pramana, yaitu Pratyaksa Pramana (Pengalaman langsung), anumana Pramana (berdasarkan kesimpulan yang logis) dan Sabda Pramana (berdasarkan sumber – sumber sastra yang terpercaya). Kita dapat menyaring berita atau konten dengan menggunakan konsep ini, apakah berita ini merupakan pengalaman langsung sang penulis? Ataukan berdasarkan analisa yang logis ataukah berdasarkan sumber – sumber yang terpercaya dan kredibel.

Kita perlu memadumadankan kedua konsep tersebut diatas dalam hal melawan hoax.

Selanjutnya, kita juga perlu memahami ilmu komunikasi, bagaimana berkomunikasi secara efektif sehingga informasi yang kita teruskan atau yang kita sampaikan dapat dipahami dan tidak terjadi “misinterpretasi”. Kita perlu belajar dari Dewi Saraswati sebagai guru Agung alam semesta, Dewi ilmu pengetahuan. Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA mengemukakan konsep Dewi komunikasi yang menjadikan Dewi Saraswati sebagai Dewi tertinggi ilmu komunikasi Hindu. Kata saraswati berarti mengalir. Komunikasi itu mengalir, oleh karena itu ada istilah kata – kata yang mengalir. Sehingga Dewi saraswati juga disebut sebagai Dewi kata – kata atau Dewi Percakapan. Seseorang yang memahami atau menguasai suatu bidang tertentu, akan menyampaikan sesuatu dengan mengalir. Disini dimaksudkan bahwa jika seseorang ingin memiliki kata – kata yang mengalir, maka ia mesti memiliki pengetahuan yang memadai dan menguasai bidang tersebut. Memahaminya dengan dalam. Demikian sebaliknya jika kita tidak dapat berkomunikasi dengan efektif, atau komunikasi kita “macet” maka masalah terjadi.

Selanjutnya, memagari diri juga perlu dilakukan dengan menanamkan konsep kearifan lokal orang bali yaitu metilesang rage (insropeksi diri) dan nawang lek (tahu malu). Kita perlu melakukan instropeksi diri sebelum menyebarkan informasi. Kemudian kita juga perlu memiliki rasa tau diri, malu akan diri sendiri jika kita akan menyebarkan informasi yang tidak benar.

Lebih jauh, dalam komunikasi Hindu, sebagai upaya menyebarkan informasi yang bermanfaat seseorang mesti menggunakan komunikasi dengan model Sadharanikaran, yang disampaikan oleh Dr. Nirmala Mani Adhikari dimana komunikasi ditekankan pada hal – hal yang berorientasi pada kebaikan masyarakat, berorientasi pada kesatuan dan bukan pemecah belah.

Pada akhirnya kita mesti belajar sepanjang hayat, mampu bersikap kritis untuk mencegah penyebaran informasi yang bersifat hoax. Berguru dan menjadi smart adalah cara kita memaknai hari Pagerwesi. Hari Pemujaan terhadap Guru alam semesta. Semoga para guru menuntun kita senantiasa berada pada jalan dharma.

Om shanti

Krishna Masuk Ashram: Hubungan Darah, Air dan Jiwa #SrimadBhagavatam

Beruntung lah Ian yang selalu membaca kisah dan percakapan Krishna

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

Kecuali kita lahir kembali dalam kesadaran ruhani, kita tidak bisa memasuki kerajaan-Nya. Maksud Yesus apa? Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. “Bagaimana pun juga,” kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri.” Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air.”

Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air.” Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga-“ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa.

Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi “kesadaran murni yang luar biasa”.Catatan dari pesan-pesan Bapak Anand Krishna, 2012.

Hubungan darah adalah hubungan terkait fisik lewat genetika. Hewan pun demikian juga mempunyai ikatan erat antara induk dan anaknya. Hubungan erat dalam kelompok manusia pun juga dilakukan oleh hewan.

Lihat pos aslinya 722 kata lagi

“Nedunang” Sang Hyang Aji Saraswati: Piodalan Pura Buana Agung Bontang (1) 

Minggu ini terasa sangat istimewa bagi umat Hindu di Kota Bontang, dimana dalam suasana kemerdekaan, Masyarakat juga menyiapkan sarana-sarana untuk pemujaan dan pembersihan serta penguatan energi pada Piodalan Saraswati kali ini yang jatuh Pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, Sabtu, 19 Agustus 2017

Pada hari ini, Sukra kliwon wuku Watugunung Jumat, 18/08/2017 agenda piodalan dimulai dengan upacara ngelud dan mecaru (Upacara Butha Yajna) dimana dimaksudkan sebagai pembersihan atau menetralkan energi-energi negatif yang telah berkembang seiring dengan perubahan Waktu dan pengaruh planet serta dampak perilaku manusia. Hal ini semacam upaya recycle atau daur ulang “sesuatu” yang sudah usang, menjadi sesuatu yang Baru, energi Baru. Inilah keunikan dari pada sistem pemujaan dengan konsep Rwabhinneda. Bahwa setelah menyadari Ada energi negatif yang bekerja kemudian kita juga memiliki kemampuan untuk menetralisir energi itu, dengan  media banten yaitu upacara ngelud dan mecaru. 


Selanjutnya setelah media, dan mandala (area) menjadi “bersih” dan “baru” maka di turunkanlah “Murti” atau Pratima Saraswati yang berstana di Pura Buana Agung ini. 

Tuhan yang Maha Kuasa dengan kekuasaannya juga berada disegala bentuk, disegala media, meresapi segala tempat dan segala media.  dalam wujud Sang Mahadewi Cantik, Dewi Saraswati, Dewi Ilmu pengetahuan, kini “ditedunkan” atau “diturunkan” untuk dirawat, “Dimuliakan” diPuja, di Sanjung oleh Para Bhakta di wilayah Kota Bontang Ini. Sebagaimana layaknya Tuhan yang berwujud, dengan segala keterbatasan pikiran, manusia “memperlakukan” murti itu sebagaimana layaknya seorang Raja. Beliau akan “Dimandikan” disuguhi “makanan”, dan dipuja puji. Seluruh Bhakta meyakini dengan keyakinan yang utuh bahwa “Beliau” telah hadir dan bersama-Sama. Inilah keberkahan, anugrah yang melimpah… cinta yang mencerahkan. Kesadaran Baru bagi manusia baru. 

Jika setiap dari para Bhakta yang hadir, memahami proses “memanusiakan” Tuhan ini, maka tiada kalimat bahwa Tuhan sangat Jauh. 

Dengan menyadari proses ini secara utuh, kita akan merasakan bahwa Tuhan sangat Dekat, memberi berkahnya secara melimpah, penuh kasih sayang… 

Penumbuhan batin inilah proses pendidikan yang berkembang dalam tradisi dan upacara yang Luhur ini. Tanpa keterbukaan diri untuk menerima ajaran “memanusiakan” Tuhan ini, kita akan menjadi manusia yang “kering” dan arogan. 

Selamat melaksanakan Piodalan Saraswati 

Om Aim Saraswati ya namah svaha 🙏

Bersambung…

Komunitas Hindu di Kota Bontang ikuti Gerakan 171717 untuk Indonesia Lebih Kasih Sayang 

Dalam suasana memperingati kemerdekaan RI yang Ke -72, Kodim 0908 Kota Bontang, menyelenggarakan gerakan 171717 untuk Indonesia Lebih Kasih sayang, gerakan ini di kemas dalam bentuk Doa bersama pada tanggal 17 Agustus 2017, pukul 17.00 serentak di seluruh Rumah Ibadah. Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh umat beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu. 

Kodim 0908 Bontang yang menjadi inisiator kegiatan ini, mengajak Anggota POLRI juga bersama -Sama masyarakat komunitas Hindu yang Ada di Kota Bontang, dibawah naungan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Bontang, kegiatan dipusatkan di Pura Buana Agung Kota Bontang, jalan Cut Nyak Dien Kelurahan Bontang Baru kecamatan Bontang Utara. 


Dalam kegiatan Doa bersama ini, juga diselipkan agenda Pembinaan berupa Dharma Wacana bertemakan “Mengisi kemerdekaan dengan membangun Kasih Sayang” 

Tema ini sangat sesuai dengan realitas masyarakat kini, dimana terjadi pergeseran nilai, toleransi dan penghormatan terhadap kebhinekaan. Upaya – upaya untuk memperkuat Bangsa ini juga mesti dibangun dengan pendekatan semacam ini. 

Marilah kita bangun negeri ini menjadi negeri yang berbudaya Luhur, Budaya yang memanusiakan manusia, Budaya yang menghormati kebhinekaan. 

Salam Rahayu 

PBNU tetap jaya 

Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 

Mengeluhkan Kehidupan? Renungan Dialog Karna dan Krishna 

Ya, tidak sedikit Dari kita sering mengeluh, mencari kambing hitam. Mengapa Ia begitu padaku? Mengapa hidupku tak Adil? Mengapa orang memperlakukan aku dengan tidak Adil? Dan seterusnya dan sebagai nya. 

Berikut kita bisa membaca Dialog singkat antara Karna dan Krishna, percakapan ini akan menyadarkan kita bahwa kesulitan-kesulitan dalam hidup ini adalah vitamin terbaik untuk menjadikan diri kita memiliki  jiwa mulia seperti Krishna. Kita semua, tidak terkecuali berasal dari sumber yang Sama. Krishna Selalu bersemayam di dalam diri semua orang, Ia akan hadir untuk membuat kita bangkit dari mind (pikiran dan perasaan) yang mengeluhkan kehidupan ini. 

Penggalan cerita terbaik dari Mahabharata

Karna bertanya pada krishna “Ibu Kunti meninggalkan saya ketika saya dilahirkan. Apakah itu adalah kesalahan saya sehingga dilahirkan sebagai anak tidak sah?

Saya ditolak menjadi murid Dhronācharya karena dianggap bukan berasal dari kalangan ksatriya.

Parasurama mengajar saya namun kemudian mengutuk saya untuk melupakan semua yang pernah dia ajarkan sejak mengetahui bahwa saya adalah seorang ksatriya.

Seekor sapi secara tak sengaja terkena oleh anak panah saya dan pemiliknya mengutuk saya atas kesalahan tersebut yang bukan merupakan perbuatan saya.

Saya dipermalukan pada sayembara draupadi.

Bahkan Ibu kunti akhirnya memberitahukan kebenaran bahwa saya adalah putranya, hanya untuk menyelamatkan anaknya yang lain (baca: pandawa)

Semua yang saya peroleh berasal dari kemurahan hati/kebaikan Duryodana. Jadi apakah saya bersalah jika berada di pihaknya (baca: membela Duryodana)


Krishna menjawab, “Karna, Saya dilahirkan di dalam penjara.

Kematian telah menunggu saya bahkan sebelum saya dilahirkan.

Pada malam kelahiran saya, saya dipisahkan dari orangtua kandung saya.

Masa kecilmu terbiasa dengan suara-suara pedang, kereta perang, kuda, busur dan anak panah.

Sedangkan saya akrab dengan kawanan sapi, kotoran sapi dan beberapa percobaan pembunuhan bahkan sebelum saya dapat berjalan!

Tidak ada pasukan (baca: angkatan perang), tidak ada pendidikam.

Saya dapat mendengar banyak orang yang mengatakan bahwa sayalah penyebab dari masalah-masalah yang mereka hadapi.

Ketika kalian semua mendapatkan pujian dari guru kalian, saya tidak memperolehnya

Saya belajar di gurukula Rishi Sandipani pada usia 16 tahun

Kau menikahi wanita pilihanmu. Sedangkan saya tidak pernah menikahi gadis yang saya cintai dan akhirnya menikahi mereka yang menginginkan saya atau mereka-mereka yang telah saya selamatkan dari para asura.

Saya harus memindahkan rakyat saya dari bantaran sungai yamuna ke daerah di tepi laut, untuk menyelamatkan mereka dari Jarasandha. Karenanya saya disebut sebagai pengecut karena dianggap melarikan diri.

Jika Duryodana memenangkan perang ini maka kau akan memperoleh banyak pujian. Sebaliknya jika Dharmaraja (baca Yudisthira) memenangkan perang ini maka saya yang akan disalahkan karena dianggap sebagai penyebab perang dan semua masalah-masalah lainnya.

Ingatlah satu hal Karna….

Setiap orang menghadapi tantangan di dalam hidupnya.

*KEHIDUPAN TIDAK FAIR KEPADA SETIAP ORANG..*

Duryodana melakukan banyak ketidakbenaran dalam kehidupannya demikian juga halnya Yudisthira.

Tetapi apakah arti kebenaran (dharma) bagimu (baca: menurut pemikiranmu/kesadaranmu)….

Yang terpenting bukanlah seberapa banyak perlakuan tidak adil yang kita alami, seberapa banyak kita tidak dihormati/dihina, seberapa sering kita dipersalahkan. Yang terpenting adalah bagaimana REAKSIMU atas semua hal itu…

Berhentilah merengek Karna.

Jika kehidupan tak adil kepadamu bukan berarti kau berhak untuk menempuh jalan yang tidak benar.

Semoga kita senantiasa berjalan dijalan yang benar. 

Salam Rahayu🙏🙏🙏

Selamat Menyambut Hari Raya Saraswati 

Happy Krishna Janmashtami ❤️🌸

Diterjemahkan oleh Ādnyaninatha 

Best story in Mahabharata 👌🏼👌🏼👌🏼

Karna asks Krishna – “My mother left me the moment I was born.

Is it my fault I was born an illegitimate child?

 I did not get education from Dhronacharya because I was considered a non Kshatriya.

 Parshuram taught me but then gave me the curse to forget everything since I was a kshatriya.

A cow was accidentally hit by my arrow & its owner cursed me for no fault of mine.

 I was disgraced in Draupadi’s swayamvar.

 Even Kunti finally told me the truth only to save her other sons.

Whatever I received was through Dhuryodhana’s charity. So how am I wrong in taking his side?”
Krishna replies,

 “Karna, I was born in a jail.

 Death was waiting for me even before my birth.

 The night I was born I was separated from my birth parents. 

From childhood you grew up hearing the noise of swords, chariots, horses, bow and arrows.

 I got only cow herd’s shed, dung and multiple attempts on my life even before I could walk!

No army, no education.

 I could hear people saying I am the reason for all their problems. 

When all of you were being appreciated for your valour by your teachers, I had not even received any education.

 I joined gurukula of Rishi Sandipani only at the age of 16!

You are married to a girl of your choice.

I didn’t get the girl I loved & rather ended up marrying those who wanted me or the ones I rescued from demons.

I had to move my whole community from the banks of Yamuna to far off Sea shore, to save them from Jarasandh. I was called a coward for running away.

If Dhuryodhana wins the war you will get lot of credit.

 What do I get if Dharmaraja wins the war? Only the blame for the war and all related problems.

Remember one thing Karna….

 Everybody has challenges in life.

*LIFE IS NOT FAIR ON ANYBODY..*

 Dhuryodhan also has a lot of unfairness in life and so has Yudhishthir. 

But what is Right (Dharma) is known to your Mind (Conscience)….

No matter how much unfairness we got, how many times we were disgraced, how many times we were denied what was due to us, what is important is how you REACTED at that time…

Stop whining Karna.

Life’s unfairness does not give you license to walk the wrong path of *अधर्म.*

🙏🙏🙏

TRI HITA KARANA : HARMONISASI DIRI DI ERA DIGITAL

Semua dari kita telah mengenal istilah Tri Hita karana. Namun saya akan mencoba menyegarkan ingatan kita kembali. Tri Hita Karana merupakan salah satu dari 5 prinsip ajaran hindu. Kelima prinsip tersebut (1) Brahman yang absolute, (2) Atman pada setiap Mahkluk, (3) Tat Twam Asi, (4) Tri Hita Karana, (5) Gangga, Gita, dan Gayatri. Tri Hita karana merupakan prinsip yang ke empat. Sekali lagi saya sampaikan, Tri Hita karana bukanlah ideology, bukanlah doktrin ataupun dogma. Tri hita karana adalah prinsip untuk menjalani kehidupan ini.

Tri hita karana secara leksikal atau gabungan kata terdiri dari tri, hita, dan karana. Tri berarti tiga. Angka ini banyak digunakan dalam dunia spiritual maupun dunia material, seperti (1) Tri Loka (3 alam) : bhur, bwah, swah (2) Tri Aksara (3 huruf) : A,U,M, (3) Tri Murti (3 perwujudan Tuhan) : Brahma, Wisnu, Siwa dan  masih banyak lagi penggunaan  angka 3 ini dalam kehidupan. Ini artinya angka 3 merupakan salah satu angka yang memiliki arti perting.

Selanjutnya kata yang kedua yaitu hita yang berarti kebahagiaan. Kata ini yang menjadi titik pembahasan dalam kehidupan didunia ini. Kata kebahagiaaan memiliki arti yang sangat luas, bergantung dari obyek maupun subyeknya. Setiap orang memiliki definisi tersendiri mengenai apa itu bahagia? Bagaimana cara mencapainya? Dan berbagai indicator yang lain. Sehingga kebahagiaan tidak memiliki parameter standar untuk menyatakan bahwa seseorang itu bahagia atau tidak.

Sebuah contoh : seorang anak balita bernama putri, ia menyiapkan sebuah kado istimewa untuk ayahnya. Putri segera meminta ayahnya untuk membuka kado istimewa tersebut. Namun setelah dibuka,  ternyata kotak tersebut kosong, lalu ayahnya menyampaikan bahwa kotak tersebut tidak ada isinya dan mengeluhkan anaknya yang telah membuang – buang kertas kado yang sangat mahal. Kemudian putrinya menjawab bahwa kotak tersebut telah diisi dengan banyak ciuman untuk ayahnya. Segera ayahnya terharu, mengangkat putrinya untuk dipeluk dan dicium seraya mengatakan bahwa ayah tidak pernah menerima kado seindah ini. Ayah akan selalu menyimpan kotak ini, jika perlu ayah akan membawanya ke kantor sehingga ketika ayah membutuhkan ciuman dari putri, maka ayah akan mengambilnya satu. Ayahnya juga berpesan, jika kotaknya telah kosong, ayah meminta putri untuk mengisinya kembali.

Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tiba – tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Kendatipun kotak tersebut memiliki nilai yang begitu tinggi bagi sang ayah, mungkin saja bagi orang lain tidak memiliki nilai apapun selain sebuah kotak kosong. Kosong bagi seseorang bisa berarti penuh bagi orang lain, demikian sebaliknya. Sama halnya dengan kebahagiaan. Inilah perlunya kita untuk toleran dan menghindari sikap apriori sekaligus menjustifikasi seseorang.

Kata yang terakhir dari Tri Hita Karana adalah kata karana yang memiliki arti sebab atau karena. Kata karena disini merupakan kata penghubung antara  tri dan hita.

Dengan demikian, Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kebahagiaan. Konsep ini dirumuskan oleh Mpu Kuturan yang datang ke Bali pada abad ke-11 atas permintaan Raja Udayana dan Gunapriadharmapatni. Ajaran Tri Hita Karana sungguh amat luar biasa. Mpu Kuturan mengkonsepkan Trihitakarana dengan mengambil peranan manusia sebagai sentral atau penentu terwujudnya kebaikan dan kesejahteraan. Jika kita ingat bahwa tujuan hidup adalah untuk mencapai jagadhita dan moksa, maka kebahagiaan dan kebebasan yang sejatipun dapat kita wujudkan dalam hidup ini. Caranya adalah dengan mengisi kotak kosong tadi dengan arti dan makna. Hidup menjadi berarti dan bermakna karena kita memberikan arti dan makna pada kehidupan. Demikian sebaliknya, kehidupan akan memberikan arti dan maknanya sendiri pada hidup kita. Bagi mereka yang tidak memberikan arti dan makna pada kehidupannya, maka hidupnya ibarat lembaran kertas kosong.

Mario teguh, maupun Rhonda Bryne dalam bukunya yang berjudul “The Secret”, dan masih banyak lagi motivator ulung yang lain yang menyatakan bahwa kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada diri kita.  Bahkan ratusan tahun sebelumnya, Mpu Tantular telah meletakkan manusia sebagai sentral penyebab kebahagiaan yaitu dengan memberikan arti dan makna dalam hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan manusia (Pawongan) dan manusia dengan alam (Palemahan).

Parahyangan mengajarkan tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bentuk hubungan tersebut dapat saya gambarkan seperti yang diuraikan dalam Brhadaranyaka upanisad, upanisad dari Yayur Weda yaitu : Aham Brahma Asmi.  Aku adalah Brahman. Aku disini adalah Atman yang juga memiliki sifat – sifat Brahman. Sehingga dalam konsep parahyangan ini, dimaksudkan kenalilah sifat – sifat ketuhanan dalam diri kita dan kembangkanlah sifat – sifat ketuhanan tersebut. Maka hal ini akan memberikan makna dalam hubungan kita sebagai manusia dengan Tuhan

Menyebut nama suci Tuhan adalah salah satu cara untuk menemukan sifat Tuhan. “Om Nama Siwaya” adalah mantram untuk menumbuhkan sifat – sifat siwa didalam diri kita. Siwa adalah pelebur. Segala sesuatu yang negative dapat kita lebur menjadi sesuatu yang positif. Jika hal ini dapat kita terapkan dalam kehidupan ini maka dampaknya akan sangat luar biasa. Contohnya adalah Pak Sumantra menerima kenyataan yang negative namun ia mampu meleburnya dan mengubahnya menjadi kenyataan yang positif. Ini adalah karakter siwa dalam diri manusia.

Parahyangan bukan sekedar formalitas, tetapi harus dipraktekkan. Rajin sembahyang, rajin ke pura, rajin berpunia namun korupsi. Ini yang saya maksud sebagai formalitas belaka. Sembahyang, ke pura, punia dan menyebut nama suci Tuhan seharusnya mengantarkan kita menuju sifat – sifat ketuhanan itu sendiri.

Parahyanganlah yang sesungguhnya dikehendaki oleh sila pertama Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama ini menghendaki masyarakat yang berketuhanan artinya masyarakat yang memiliki sifat – sifat ketuhanan di dalam diri masing – masing dan menerapkan sifat – sifat ketuhanan tersebut didalam kehidupannya  sehari – hari. Sekali lagi saya tekankan disini, Parahyangan adalah mengembangkan sifat – sifat Tuhan dalam diri. Sebuah studi kasus yaitu anggota DPR dari PKS yang menonton film porno.

Hidup dalam ketuhanan adalah hidup yang penuh kasih. Dengan kasih, kita mewujudkannya dengan perilaku asah (menghargai), asih (mengasihi) dan asuh (Menghormati). Dengan demikian sekalipun teknologi semakin canggih, namun tidak menjadikan jiwa kita kering karena keangkuhan dan kesombongan. Kita tetap hidup sejalan dengan zaman dengan tetap berada pada ketenangan diri yang mendalam dengan tetap eling, mawas diri, waspada dan penuh kasih sehingga menumbuhkan kesadaran budhi.

Falsafah yang kedua dari Tri Hita karana adalah pawongan. Pawongan adalah hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia. Konsep ini juga mengandung pengertian, saling menolong dan gotong royong. Sikap kepedulian kepada sesama ini menjadikan kita pribadi yang menyadari diri sebagai mahkluk social dan tidak individualistic. Kepedulian terhadap sesama atau social care dalam Hindu di sebut sebagai praja wahini. Sikap ini dapat diwujudkan dengan ahimsa (tidak membunuh/menyakiti), Asih (mengasihi), punia, dan Bhakti. Namun di era digital ini, bahkan kita tidak membutuhkan lagi waktu untuk bertemu dan berbicara karena semua dapat dilakukan melalui HP, surat elektronik atau email, Facebook, twitter ataupun BBM. Sebagai contoh, sepasang suami istri yang keduanya adalah pekerja atau menggeluti karier, tidak memiliki waktu untuk bertemu dan berbicara. Mereka hanya bertemu dimalam hari dengan keadaan yang sama – sama lelah. Mereka berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Karena keduanya orang yang sangat sibuk sehingga  mereka berdua tetap sibuk dengan Blackberry di tangan. Ternyata mereka BBM-an di meja makan. Karena jarang bertemu  untuk berbicara muncullah kesenjangan. Nah ini masalah. Bagaimana mewujudkan asih dalam kondisi ini? Maka dibutuhkan kesiapan individu untuk dapat selalu mengedepankan kualitas hubungan, kualitas waktu dengan sikap dan sifat asih. Hal ini tentu membutuhkan latihan yang tekun. Latihan mengasihi yang paling mudah adalah Madurya : menyapa, tersenyum, ramah dan  terbuka.

Contoh lain dari masalah social pada aspek pawongan yaitu: kriminalitas yang meningkat, pecandu naskoba, HIV/AIDS, PMS, prostitusi dan seks bebas bertebaran dimana-mana, apalagi di kota – kota industry, masalah ini dapat dijumpai secara mudah. Lalu apa yang dapat membantu kita, anak- anak muda dan cucu kita kelak agar tidak terpengaruh dengan lingkungan seperti ini?  Maka diperlukan pendidikan yang tepat sasaran secara dini. Bagaimana konsep pendidikan dalam Hindu?

Dalam Hindu, hakikat pendidikan adalah mengembangkan berbagai potensi dalam diri manusia. Pengembangan potensi itu agar senantiasa berfungsi sesuai dengan posisinya. Pertama-tama carilah ilmu pada Tuhan sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Dengan penyerahan diri secara tulus pada Tuhan kita mohon agar ilmu pengetahuan kebenaran dialirkan pada diri manusia. Hal ini diuraikan dalam Bhagawad Gita IV. 34

Tad viddhi pranipatena, Pariprasnena sevaya

Upadeksyanti te jnanam, jnaninas tattvadarsinah

Artinya:

Belajarlah dengan sikap hormat yang dalam, dengan bertanya dan pelayanan, Orang suci yang telah melihat kebenaran akan mengajarkanmu pengetahuan.

 

Sejalan dengan makna yang terkandung dalam arahan Bhagawad Gita IV.34 tersebut Swami Satya Narayana menyatakan pendidikan itu hendaknya diawali dengan pengembangan Sraddha kemudian baru pengembangan kesadaran budhi selanjutnya barulah mengembangkan meta atau bakat pembawaan.

Mengembangkan Sradha

Sebagai langkah awal pendidikan, pertama-tama mesti menanamkan Sradha (keyakinan) diri sedalam-dalamnya pada peserta didik, agar memiliki sikap hidup yang kuat akan keyakinan dirinya dalam melaksanakan dan membela kebenaran (dharma). Penguatan sraddha yaitu penguatan keyakinan diri dengan pendekatan diri pada Tuhan melalui sraddha dan bhakti yang mendalam. Artinya, sraddha dan bhakti tidak sekadar percaya dan berbakti pada Tuhan yang bersifat formalistik. Sraddha dan bhakti itu berdaya guna menguatkan keyakinan bahwa Tuhan itu bergelar Prabhu sakti (Mahakuasa), wibhu sakti (Maha Ada), Jnana Sakti (Maha Mengetahui) dan Kriya sakti (Maha Karya).

Namun kita tidak cukup dengan berhenti sampai di penguatan sradha, karena jika orang hanya yakin (sradha) maka ia akan akan menjadi orang militan yang tanpa nurani, karena itulah kita perlu mengembangkan kesadaran budhi.

Mengembangkan kesadaran budhi

Pendidikan harus dijalani dengan mencerahkan kesadaran budhi untuk membangun karakter mulia. Dengan karakter mulia seseorang tidak mudah terpancing emosi dalam dinamika hidup bersama. Dengan pengembangan kesadaran hati nurani, dinamika jiwa senantiasa cerah terkendali. Pendidikan kesadaran budhi nurani adalah pendidikan yang menyangkut pembangkitan kesadaran jiwa bukan kecerdasan intelektual semata. Pendidikan membangun kesadaran jiwa membutuhkan berbagai pengembangan kebiasaan hidup. Pengembangan kebiasaan hidup itu dari kebiasaan makan, gaya hidup dan kebiasaan membangun sistem kesehatan jasmani dan rohani.

Kesadaran budhi nurani akan semakin kuat apabila SDM bersangkutan sudah mantap mengomsumsi makanan yang satvika sebagaimana diajarkan dalam Bhagawad Gita.XVII.8. Demikian juga kesadaran rohani sulit dicapai kalau masih hidup dengan gaya hidup yang hedonis : mengutamakan kenikmatan indriya lepas dari kontrol kecerdasan pikiran.

Mengembangkan meta (bakat)

Tujuan pengembangan bakat ini untuk membangun SDM yang terampil dan ahli. Mengapa Swami Satya Narayana menyatakan pengembangan meta atau bakat ini menjadi urutan ketiga. Karena orang yang terampil apalagi ahli bisa membuat orang mabuk kalau tanpa karakter. Sebaliknya keterampilan apalagi keahlian dapat membuat orang mabuk/lupa diri kalau tidak kuat keyakinan dan hati nuraninya. Kalau keterampilan dan keahlian itu dimiliki oleh SDM yang memiliki keyakinan yang kuat serta kesadaran budhi yang cerah maka keterampilan dan keahlian itu tidak membuat orang mabuk atau gelap hati.

Oleh karenanya, hubungan manusia dengan sesama manusia (pawongan) di era digital ini harus dapat mengembangkan ketiganya yaitu sradha, budhi dan meta. Itulah hakekat pendidikan Hindu.

Konsep yang terakhir dari Tri Hita Karana adalah palemahan. Palemahan adalah hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Jauh sebelum PBB dan institusi lainnya membicarakan tentang perubahan iklim dan dampaknya bagi manusia, jauh sebelum global warming menjadi hot issue, nenek moyang kita dan para Rsi telah menyampaikan kepada kita cara hidup damai dengan alam atau mencintai alam. Hal ini dibuktikan dengan doa pujian yang sangat indah berupa santih pata dalam Yayur Weda, 5.36. 17 :

Om Dyauh santir antariksam santih prthiwi santir, apah santir, ausadayah santih vanaspatayah santih visve dewah santir, brahma santih, sarwam santih santireva santih samasantire dhi

Artinya :

Ya Tuhan, semoga damai di langit, damai di udara, damai di bumi, semoga air, tumbuh – tumbuhan obat menjadi sumber kedamaian untuk semuanya. Semoga Brahman dan para dewa menganugrahkan kepada kami kedamaian. Ya tuhan semoga segalanya damai.

Mantram ini menyuratkan bahwa kita semestinya hidup selaras dengan alam karena alam adalah tempat dimana kita hidup sehingga kedamaian di dalam diri juga harus memberi dampak atau energy kedamaian kepada alam. Sehingga hubungan timbal balik ini akan membawa kedamaian (santih) dan ketenangan (santa).

Sementara kita tengok alam kita sekarang ini, gempa, banjir, hutan gundul, illegal loging dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan alam maupun bencana – bencana alam lainnya. Ditambah lagi dengan meningkatnya suhu di bumi atau global warming dan perubahan iklim. Tentu masalah ini menghawatirkan kita. Semestinya teknologi yang memberi kebaikan bagi manusia namun justru manusia telah mengeksploitasi alam melebihi kesadaran memelihara alam itu sendiri. Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kondisi ini? Terutama implementasi konsep Palemahan ini, bagaimana mewujudkan kedamaian di setiap aspek alam ini baik langit, udara, bumi, air, tumbuhan dan lain sebagainya? Maka mulailah dari hal terkecil dalam diri, lalu keluarga kemudian masyarakat. Sebagai pribadi, tumbuhkan sikap kepedulian terhadap alam dengan gerakan go green seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak merokok, menggunakan produk – produk daur ulang, menghemat listrik, air dan lain sebagainya. Banyak hal yang dapat kita lakukan, selama kita konsisten melaksanakannya. Hal ini membutuhkan kesadaran penuh dari manusia. Kesadaran dapat dibangun dengan menumbuhkan keyakinan yang kuat bahwa semua ini adalah Brahman. Seperti diuraikan dalam Chandogya Upanisad yaitu upanisad dari Sama Weda yang berbunyi : Sarwa Khalvidam Brahman. Semua ini adalah Brahman. Mantram ini memberi pengertian bahwa alam ini adalah Brahman. Kita mencintai dan memelihara alam ini haruslah sebanding dengan mencintai Tuhan itu sendiri. Lokasamgraha adalah tindakan pemeliharaan alam. Lokasamgraha ada untuk menyatukan dunia, kesalingterikatan antara masyarakat dengan alam. Hal ini tentu sejalan dengan konsep pembangunan ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bentuk nyata pelaksanaan Tri Hita Karana adalah mencapai sifat – sifat ketuhanan di dalam diri (Parahyangan) dengan perilaku asah, asih dan asuh, sehingga dapat memperkuat sradha, menghaluskan budhi dan mengembangkan meta atau pengalaman dalam tindakan yang mencerminkan Lokasamgraha atau memelihara alam (Pawongan dan Palemahan). Ketiganya dibutuhkan dalam membangun diri dan dunia di era digital ini. Sehingga apa yang diwahyukan kitab suci (Pranipata srawana), apa yang dipikirkan pikiran (Pariprasna-manana) dan apa yang disadari jiwa melalui kerja dan meditasi (seva-nididhyasana) harus selaras.

Demikian yang dapat saya wacanakan, tidak lupa saya memohon maaf atas kekeliruan kata – kata yang saya sengaja ataupun tidak disengaja. Semoga apa yang telah saya wacanakan bermanfaat bagi anda semua. Trimakasih, semoga kita selalu dalam kasih Tuhan. Sebagai akhir dari dharma wacana ini, saya akan melantunkan mantra berikut :

Om Sarvavai sukhinah santu, sarve santu niramyah, sarve badrani pashyantu, ma kascid Dukha bhag bhavet  Om santih, santih, santih Om

Ya Tuhan semoga semua menjadi bahagia, semua menjadi sehat, semoga semua penuh energy, semoga tidak ada kedukaan yang menimpa siapapun. Semoga Damai di hati, damai di dunia, dan damai

SUMBER HUKUM HINDU

OM swastyastu,

berikut adalah materi tentang sumber hukum hindu, silahkan di download jika para sahabat membutuhkannya. terimakasih

SUMBER HUKUM AGAMA HINDU

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis