Dharma Sādhana: Pekan Religi Siswa Hindu Tingkat SMA

NM. Adnyani

Saat mentari pagi menyapu langit Bontang, sekelompok siswa Hindu dari berbagai sekolah berkumpul di Pura Buana Agung. Ada yang datang dari SMA Vidatra, SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3. Mereka datang dengan semangat, membawa tas berisi kitab suci, japa mala, serta harapan untuk lebih mendekatkan diri pada ajaran dharma.

Inilah Dharma Sādhana, pekan religi yang sudah menjadi tradisi tahunan bagi para siswa Hindu. Namun, tahun ini terasa lebih istimewa. Untuk pertama kalinya, kami mendapatkan dukungan dana dari SMA Vidatra, sekolah yang sangat menjunjung tinggi keberagaman agama. Walaupun jumlah siswa Hindu di sana hanya dua orang, mereka tetap memberikan ruang bagi kami semua untuk belajar dan bertumbuh bersama.

Tema kegiatan tahun ini adalah “Atra sthitau yatno’bhyāsaḥ”, yang berarti Di sinilah usaha dan latihan yang berkelanjutan dibutuhkan. Sebuah kalimat yang begitu sederhana, namun sarat makna.

Dalam kehidupan modern yang penuh distraksi, konsistensi dalam sādhana—latihan spiritual—bukanlah hal yang mudah. Membaca śloka Bhagavad Gītā, bermeditasi, Latihan Yoga, atau berjapa sering kali dilakukan hanya saat ada dorongan eksternal, bukan sebagai kebiasaan yang melekat dalam diri. Oleh karena itu, pekan religi ini bertujuan menanamkan kebiasaan baik tersebut, bukan sebagai ritual musiman, tetapi sebagai jalan hidup.

Hari pertama dimulai dengan sesi pemahaman kitab suci. Kami membahas pokok-pokok ajaran Āyurveda, Yoga Sūtra Patañjali, Widhi Tattwa serta konsep Vairāgya (pelepasan) dan Abhyāsa (latihan berulang). Diskusi mengalir hangat, meskipun sebagian besar peserta awalnya masih ragu untuk berbicara.

Namun, suasana berubah saat sesi praktik dimulai. Ketika suara sloka Bhagavad Gītā menggema, mata-mata yang semula mengantuk berubah penuh perhatian. Seorang siswa dari SMAN 1, Ni Putu Dyah, mengaku ini pertama kalinya ia benar-benar memahami makna di balik śloka yang sering ia lafalkan.

“Saya baru menyadari bahwa śloka-śloka ini bukan sekadar bacaan, tetapi panduan hidup,” katanya dengan mata berbinar.

Hari kedua menjadi titik balik bagi banyak peserta. Setelah sesi Pūjā Tri Sandhyā di pagi hari, kami diajak untuk melakukan Japa Nāma Smaraṇam—pengulangan nama suci Tuhan—dilanjutkan dengan meditasi atman.

Tidak ada suara. Hanya tarikan dan hembusan napas yang terdengar. Waktu seolah melambat.

Beberapa peserta awalnya gelisah. Duduk diam dalam keheningan selama 30 menit bukan hal yang mudah. Namun, seiring berjalannya waktu, ketenangan mulai menyelimuti ruangan.

Kadek Dyah Novita Ayu, salah satu peserta dari SMAN 3, berkata setelah sesi meditasi, “Saya tidak pernah merasa setenang ini sebelumnya. Rasanya seperti menemukan ruang sunyi di dalam diri sendiri.”

Kesadaran itu yang ingin kami bangun: bahwa keheningan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan ruang untuk bertemu dengan diri sendiri.

Selain kajian dan praktik spiritual, pekan religi ini juga diisi dengan kegiatan kreatif. Peserta diajak membuat Kwangen, salah satu perlengkapan upacara Hindu yang melambangkan ketulusan dalam sembahyang.

Tangan-tangan kecil yang belum terbiasa merangkai janur berusaha mengikuti instruksi. Beberapa terlihat frustrasi, tetapi tak sedikit yang menikmati prosesnya.

Di sesi lain, ada sesi menulis aksara Devanāgarī. Menggoreskan huruf-huruf suci ini di atas kertas memberikan pengalaman unik bagi para peserta. Mereka tidak sekadar belajar menulis, tetapi juga memahami makna di balik aksara yang digunakan dalam kitab suci Hindu.

Ketika pekan religi ini berakhir, ada rasa haru yang menyelimuti. Tiga hari terasa begitu singkat, namun meninggalkan kesan yang mendalam.

Bagi sebagian besar siswa, ini bukan sekadar kegiatan tahunan. Ini adalah perjalanan untuk mengenal diri, menemukan makna, dan memahami bahwa spiritualitas bukan sesuatu yang jauh di luar sana—ia ada dalam keseharian, dalam kebiasaan kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

Mungkin, tidak semua dari mereka akan langsung menerapkan sādhana dalam kehidupan sehari-hari. Namun, setidaknya, benih telah ditanam. Benih kesadaran bahwa latihan spiritual bukanlah kewajiban, tetapi kebutuhan.

Sebagaimana tema yang kami usung: Atra sthitau yatno’bhyāsaḥ. Di sinilah, di jalan ini, latihan dan usaha berkelanjutan menjadi kunci.

Tangki Cinta

NM. Adnyani

Mengapa Kita Sering Merasa Kurang Dicintai? Konsep Tangki Cinta (Love Tank) diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman dalam bukunya The 5 Love Languages. Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki “tangki cinta” yang harus diisi agar merasa aman, bahagia, dan dicintai. Jika love tank ini kosong, seseorang bisa merasa tidak dihargai, tidak diinginkan, atau bahkan terjebak dalam pola hubungan yang tidak sehat.

Menariknya, ada hubungan erat antara kemelekatan (attachment) dan tangki cinta (love tank): Jika seseorang memiliki secure attachment, ia lebih mungkin merasa love tank-nya penuh. Ia bisa menikmati hubungan tanpa rasa takut kehilangan atau kurang dicintai. Sedangkan jika seseorang memiliki anxious attachment, ia sering merasa love tank-nya kosong, selalu mencari perhatian dan validasi. Sementara Jika seseorang memiliki avoidant attachment, ia mungkin menutup diri dari cinta, merasa tidak perlu mengisi atau menerima love tank dari orang lain. Terlebih lagi Jika seseorang memiliki disorganized attachment, ia mengalami ketidakpastian dalam mengisi dan menerima cinta, membuat hubungan terasa naik-turun secara emosional.

Lalu, bagaimana cara mengatasi pola ini agar kita tidak terus-menerus merasa kurang dicintai? Salah satu solusi untuk mengatasi pola kemelekatan yang tidak sehat adalah belajar mengisi love tank kita sendiri. Artinya, kita tidak hanya bergantung pada orang lain untuk merasa bahagia, tetapi juga menemukan sumber cinta dari dalam diri kita sendiri. Beberapa cara untuk melakukannya. Pertama, Membangun kesadaran diri (self-awareness) dengan cara mengenali pola kemelekatan kita dan memahami bagaimana hal itu memengaruhi hubungan. Kedua, berlatih penerimaan diri (self-acceptance), yaitu dengan cara Mencintai diri sendiri tanpa menunggu validasi dari orang lain. Ketiga, Mengembangkan cinta tanpa pamrih (selfless love) dengan cara memberi cinta bukan untuk mendapatkan balasan, tetapi karena kita sudah penuh dengan cinta itu sendiri. Keempat, menjalani hubungan dengan mindfulness yaitu Menghargai kehadiran orang lain tanpa terobsesi untuk “memiliki” atau “mengendalikan” mereka.

Ketika kita belajar untuk memberi tanpa mengharapkan balasan, kita mulai memahami bahwa cinta sejati tidak selalu tentang soul bonding yang mengikat, tetapi tentang membebaskan jiwa—baik jiwa kita maupun jiwa orang yang kita cintai. Pada akhirnya, apakah kita ingin terus mencari cinta di luar diri kita, atau mulai mengisi love tank dari dalam dan berbagi cinta dengan lebih bebas?

Jika cinta adalah sesuatu yang harus dimiliki dan dikendalikan, maka kita akan terus hidup dalam ketakutan akan kehilangan. Tetapi jika cinta adalah sesuatu yang kita bagikan dengan tulus, tanpa pamrih, dan tanpa ego, maka cinta itu akan tumbuh dan mengisi hidup kita bahkan tanpa harus terikat pada siapa pun.

Cinta sejati bukanlah soal memiliki, melainkan soal memberi dengan penuh kesadaran. Dan ketika kita memahami ini, kita akan menemukan bahwa tangki cinta kita tidak pernah benar-benar kosong—karena sumber cinta yang sejati selalu ada di dalam diri kita sendiri.

– Renungan diri –

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai