Meninggalkan Kenyamanan dalam Mencari Ilmu: Sebuah Perjalanan

NM. Adnyani

Dalam perjalanan hidup, ada saat-saat ketika kita harus meninggalkan sesuatu yang kita anggap nyaman demi mengejar sesuatu yang lebih besar. Konsep ini sudah lama tertanam dalam berbagai ajaran kebijaksanaan, termasuk dalam sebuah Subhāṣita Sanskerta yang berbunyi:

“Kāka-dṛṣṭiḥ bakā-dhyānam,

śvāna-nidrā tathāiva ca

Alpāhāram jīrṇavastram,

etad vidyārthilakṣaṇam.”

Dalam barisan kata-kata sederhana ini tersembunyi sebuah filosofi mendalam tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup sebagai pencari ilmu. Seorang vidyārthī—seseorang yang berkomitmen untuk belajar—harus memiliki mata yang tajam seperti gagak, fokus mendalam seperti bangau, tidur ringan seperti anjing, makan secukupnya, dan mengenakan pakaian sederhana. Versi lain dari Subhāṣita ini menyebutkan bahwa seorang pencari ilmu harus berani meninggalkan rumah (gṛha-tyāgī), melepaskan zona nyaman demi mengejar pemahaman yang lebih tinggi.

Gagasan tentang meninggalkan rumah ini bukan sekadar tentang perjalanan fisik, tetapi juga melambangkan keberanian untuk melepaskan hal-hal yang membuat kita merasa aman dan nyaman. Dalam kisah-kisah kuno, para Rsi dan Rsikash meninggalkan kehidupan duniawi untuk hidup di hutan, mengabdikan diri sepenuhnya pada pencarian kebenaran. Namun, dalam dunia modern, meninggalkan rumah tidak selalu berarti berpindah tempat secara fisik. Lebih sering, itu berarti berani menantang batasan-batasan yang telah kita bangun dalam pikiran kita sendiri.

Ada suatu masa ketika saya merasakan sendiri bagaimana ilmu sering kali menuntut pengorbanan. Dalam perjalanan akademik, saya sering kali harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama, melepaskan pola pikir yang sudah terbentuk, bahkan terkadang mengorbankan kenyamanan demi memahami sesuatu yang lebih dalam. Ilmu bukan hanya tentang menghafal teori atau membaca buku, tetapi juga tentang berani keluar dari batasan diri sendiri, menghadapi tantangan baru, dan bersedia berjalan di jalur yang tidak selalu mudah.

Saat kita benar-benar ingin belajar, kita harus siap untuk merasa tidak nyaman. Seperti burung gagak yang selalu waspada terhadap lingkungannya, kita harus memiliki kepekaan untuk menangkap setiap kesempatan belajar yang muncul. Seperti bangau yang berdiri diam dalam waktu yang lama menunggu mangsanya, kita harus mengembangkan kesabaran dan ketekunan. Seperti anjing yang tidur dengan satu telinga tetap terjaga, kita harus tetap sigap terhadap pengetahuan yang datang kapan saja. Dan seperti seorang pertapa yang meninggalkan rumahnya, kita harus bersedia meninggalkan kenyamanan, baik secara fisik maupun mental, agar dapat mencapai pemahaman yang lebih tinggi.

Dalam dunia yang semakin sibuk ini, begitu banyak hal yang dapat mengalihkan perhatian kita dari esensi sejati dalam belajar. Kenyamanan teknologi, hiburan tanpa batas, dan rutinitas sehari-hari sering kali menjadi ‘rumah’ yang sulit kita tinggalkan. Namun, jika kita benar-benar ingin berkembang, kita perlu berani melangkah keluar dari kebiasaan lama dan membuka diri terhadap dunia yang lebih luas.

Barangkali, pada akhirnya, perjalanan dalam mencari ilmu bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana kita membentuk diri kita sendiri dalam prosesnya. Kita bukan hanya belajar tentang dunia, tetapi juga tentang siapa diri kita sebenarnya. Dan untuk itu, kita harus siap meninggalkan apa yang nyaman—karena hanya dengan begitu, kita benar-benar dapat menemukan apa yang bernilai.

Mungkin inilah saatnya bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah cukup berani untuk meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang lebih besar?

#pertimbangan #kuliahS3

Menerima Sepi, Menemukan Kebebasan

NM.Adnyani

Aku berbaring di ranjang rumah sakit, menatap langit-langit putih yang dingin. Ini bukan kali pertama ia menjalani operasi, dan seperti sebelumnya, ia sendirian. Ia datang sendiri, menunggu sendiri, dan akan pulang sendiri. Tidak ada tangan yang menggenggam jemarinya, tidak ada suara yang menenangkannya sebelum anestesi bekerja.

Dulu, di saat-saat seperti ini, ada dorongan dalam dirinya untuk menghubungi seseorang yang bisa mengisi celah sepinya. Karena ia ingin ada seseorang, meski hanya di layar ponsel. Itu caranya menghindari kenyataan bahwa ia sendiri.

Tetapi kali ini berbeda. Ketika dokter bedah berkata bahwa jantungku berdetak stabil di angka 50, aku terkejut. Aku hampir bertanya ulang, seolah tak percaya bahwa tubuhnya bisa seimbang seperti itu. Seumur hidup, aku selalu merasa gelisah, selalu merasa dikejar-kejar oleh kesendirian. Namun tubuhku berkata lain—jantung tetap tenang, meski aku sendiri. Refleksi itu datang tiba-tiba. Mungkin selama ini pikirannya yang menolak sepi, tetapi tubuh sudah lebih dulu menerimanya.

Ia mulai mengingat bagaimana dulu setiap detik kesendirian terasa seperti beban. Saat pulang kerja dan mendapati rumah kosong, aku akan segera mencari seseorang untuk diajak berbicara, meski hanya basa-basi. Saat sakit, aku ingin ada seseorang yang sekadar duduk di sampingku. Saat menjalani operasi sebelumnya, aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang—kehadiran orang lain, perhatian, atau sekadar pesan singkat yang menunjukkan bahwa seseorang memikirkanku.

Tetapi sekarang, aku hanya diam. Aku tidak menghubungi siapa pun. Tidak ada pesan yang ku kirim, tidak ada panggilan yang ku buat. Sebagai gantinya, aku memilih menonton drama di ponselku, membiarkan diriku terhanyut dalam cerita yang tidak menuntut apa-apa.

Lalu, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya terjadi—aku bermimpi saat dibius total. Tiga kali operasi, dan baru kali ini aku bermimpi. Aku tidak mengingat detailnya, hanya kesan yang tertinggal. Kuat, mendalam, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh alam bawah sadar.

Ketika aku terbangun, tidak ada ketakutan, tidak ada kesepian yang menghimpit. Hanya perasaan baru yang perlahan mengakar: aku menerima ini. Aku menerima sepi.

Bukan karena aku menyerah, tetapi karena aku akhirnya memahami bahwa sepi bukan musuh. Sepi adalah ruang yang selama ini aku hindari, tetapi di sanalah aku akhirnya bertemu dengan diri sendiri.

Aku menyadari sesuatu yang lebih besar—kesendirian bisa menjadi kebebasan.

Bebas dari perasaan menuntut orang lain untuk selalu ada. Bebas dari perasaan takut menghadapi diri sendiri. Bebas dari keterikatan pada sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan.

Aku tidak tahu apa langkah berikutnya, dan itu tidak masalah. Yang aku tahu, hari ini aku telah berubah. Dan perubahan itu adalah kebebasan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai