Memuja Tuhan Yang Berwujud

Ye tu sarvāni karmāni mayi samnyasya mat-parah

Ananyenaiva yogena mām dhyāyanta upāsate

Tesām aham samuddhartā mrtyu-samsāra-sāgarāt

Bhvāmi na cirāt pārtha mayy āvesita-cetasām

(Bhagavad Gita, 12. 6-7 )

“Sebaliknya, Mereka yang senantiasa berkarya dengan semangat persembahan pada-Ku; memuja-Ku sebagai Hyang Maha Mewujud; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku tanpa terganggu oleh sesuatu; wahai Pārtha (Putra Prthā-sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna), niscayalah Ku-bantu menyebrangi lautan samsāra, kelahiran dan kematian yang berulang-ulang ini”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Memuja-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud berarti melayani setiap wujud, mencintai, menyayangi, mengasihi setiap wujud.

Pemuja berhala adalah kita yang melihat-Nya dalam satu wujud saja, dalam satu kitab saja, dalam satu kepercayaan saja, dalam sesosok anutan kita saja; dan memberhalakan wujud-wujud-Nya, kitab-kitab-Nya yang lain.

Jika memang demikian, maka kita tergolong “orang-orang yang tidak percaya” – tidak percaya bahwa Hyang Tak Berwujud adalah Maha Esa, Maha Kuasa, dan bisa saja mewujud. Kenapa tidak? Itu kekuasaan dan kehendak Dia. Kita tidak bisa menentukan bagi Dia.

Mereka yang sungguh-sungguh percaya pada Hyang Tak Berwujud – Umumnya menyingkir dari panggung dunia. Mereka menjadi pertapa.

Mereka menyendiri, menyepi sepanjang hidup. Tak Ada yang Salah dengan diri mereka. Mereka menjadi reservoir energi dunia. Mereka pun dibutuhkan. Namun tidak semua orang mesti menjadi seperti mereka. Tidak semua orang menjadi reservoir. Tidak semua orang perlu menjadi reservoir.

Lebih banyak orang memang mesti menjadi pemanfaat “reservoir-reservoir” tersebut. Dunia ini membutuhkan kedua-duanya, Mereka yang melayani-Nya sebagai Maha Wujud dan Mereka yang memuja-Nya sebagai Hyang Tak Berwujud. Namun proporsi Mereka mesti beda. Demi kelestarian alam, dunia membutuhkan Lebih banyak orang yang melayani-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud.

Mereka yang menyadari-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud, barulah dapat melayani sesama dengan semangat panembahan. Merekalah yang menjadi guardian atau wali bagi dunia ini. Merekalah para the spiritual yang sedang melayani yatim piatu, para janda, para papa, dina dan nista, tanpa pamrih, Bukan untuk pamer. Bukan Karena dibayar untuk itu.

Diantara merekalah, kita dapat menemukan anutan kita – siapa pun dia – yang sedang merangkul seorang penderita penyakit menular atau membersihkan lukanya

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Kesadaran Badaniah

Kleśo’dhikataras tesām avyaktāsakta-cetasām

Avyaktā hi gatir duhkham dehavadbhir avāpyate

Bhagavad Gīta, 12.5

“Pemusatan diri pada Hyang Tak Berwujud, dan mencapai kemanunggalan dengan-Nya, memang lebih berat selama jiwa masih Berwujud dan berkesadaran badaniah;”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Mayoritas diantara kita masih berkesadaran badaniah. Kesadaran badaniah adalah konsekuensi dari badan ini. Sulit membebaskan kesadaran badaniah sepanjang hari, sepanjang malam, sebab itu meraih kemanunggalan dengan Hyang Tak Berwujud menjadi sulit pula.

Hyang Maha Mewujud, Hyang Tanpa Wujud…. sebagian di antara kita yang “merasa” sudah bisa berhubungan dengan Hyang Tak Berwujud, menganggap rendah orang – orang yang masih memuja Gusti Sebagai Hyang Maha Mewujud. Mereka mencap orang-orang tersebut Sebagai pemuja berhala. Padahal, seperti yang telah kita bahas sebelumnya, mereka yang mengaku sudah tidak “membutuhkan wujud untuk pemusatan diri” pun sesungguhnya memiliki wujud-wujud lain, sarana-sarana lain untuk memfasilitasi Pemusatan Diri.

Aksara-aksara tertentu, tulisan-tulisan tertentu, kitab-kitab suci, bangunan-bangunan dan tempat-tempat Suci, bahkan sosok dan/atau sifat Para anutan – semuanya adalah Wujud.

Dalam tradisi Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo – nāma dan Guna – nama dan sifat – dua-duanya adalah penjabaran atau perpanjangan dari rūpa atau wujud.

Apa yang “kita” rasakan ketika Ada yang mengkritisi Anutan “Kita”, kitab Suci “kita” atau kepercayaan “kita”? Kitab Suci “kita”, kepercayaan “kita” dan Anutan “Kita”; dan kitab Suci “mereka”, kepercayaan “Mereka”, Anutan “Mereka” – Kita dan Mereka – semua ini adalah permainan wujud.

Illusi-perbedaan antara “kita” dan “mereka” disebabkan oleh wujud. Semuanya muncul dari kesadaran badaniah. Selama masih berkesadaran demikian, kita boleh saja menganggap diri sudah hebat dan bisa memuja Hyang Tak Berwujud. Padahal kita hanya memuja-Nya dalam “Wujud yang beda” dari wujud yang mereka Puja.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Samarinda, 09122017-MA

Di tulis ulang Dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK

Hyang Tak Berwujud di balik Hyang Berwujud

Ye tv aksaram anirdeśyam avyaktam paryupāsate

Sarvatra-gam acintyam ca kūta-stham acalam dhruvam

Sanniyamyendriya-grāmam sarvatra Sama-buddhayah

Te prāpnuvanti mām eva sarva-bhūta-hite ratāh

Bhagavad Gita, 12.3-4

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Kedua ayat ini mesti digabung, dan ayat keempat diterjemahkan lebih dahulu, supaya esensi, makna yang tersirat, inti dari kedua ayat ini tidak hilang.

Intinya: Mereka yang senantiasa berkarya demi kesejahteraan sesama mahkluk pun menyatu dengan-Nya. Mereka pun mengalami kemanunggalan yang Sama asal……

Ya disini Krsna memberikan syarat.

Seorang aktivis sosial bisa mengalami kemanunggalan yang Sama, Persis seperti yang dialami oleh seorang panembah, asal Ia melayani dengan semangat manembah.

Guru saya Selalu mengingatkan, “Yang membedakan seorang panembah dengan aktivis sosial adalah semangatnya. Seorang panembah melayani dengan semangat mengabdi kepada Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi Jagad Raya. Seorang aktivis sosial melayani dengan semangat membantu sesama. Kegiatan mereka Sama tetapi niat dibaliknya beda. Sebab itu hasilnya pun beda.

Seorang aktivis sosial meraih penghargaan dari dunia, dari Masyarakat, dari pemerintah, Dari lembaga-lembaga sosial, institusi-institusi kepercayaan, perusahaan-perusahaan besar, dan lain sebagainya.

Seorang penembah mendapatkan penghargaan dari Gusti Pangeran, berupa “kemanunggalan” dengan-Nya.

Krsna juga menjelaskan beberapa sifat Tuhan yang mesti melandasi semangat pelayanan, pengabdian, dan panembahan kita:

Sesama mahkluk adalah “Wujud Nyata” dari Ia Hyang:

1. Melampaui gugusan pikiran dan perasaan. Kita tidak dapat menjelaskan-Nya lewat pikiran, lewat logika, intelek dan rasio.

2. Maha Ada. Ada dimana-mana. Tidak Ada satu pun tempat dimana Ia tidak Ada. Apa mungkin? Ya mungkin. Perhatikan space, ruang alam semesta. Ia adalah “Ibarra” Ruang Abadi itu, Hyang Ada dimana-mana.

3. Tidak Pernah Punah. Keluarkan segala isi alam Dari Ruang semesta, seperti mengeluarkan perabot dari ruangan. Tanpa perabot pun Rumah tetap Ada.

4. Tak Terjelaskan. Kita dapat menjelaskan “isi” alam semesta , galaksi, multiverses, Apa saja – tetapi sebatas itu saja, sebatas isi yang Berwujud saja. Hyang Tak Berwujud dan menopang semuanya tidak dapat di jelaskan Karena Ia….

5. Abadi. Isi atau wujud berubah-ubah – Ruang yang menopangnya tidak berubah. Yang berubah – datang dan pergi adalah awan. Perubahan itu memberi kesan seolah langit sedang berubah, padahal tidak. Langit tidak pernah berubah. Dan Ia adalah Maha Langit di atas langit di atas langit di atas langit…. Langit abadi yang melampaui Segala langit…

6. Tak Tergoyahkan. Pola awan yang berubah-ubah tidak mempengaruhi langit. Ia tak tergoyahkan oleh segala macam guncangan dan perubahan.

7. Melampaui segala wujud. Sebab, semua wujud terkesan Sebagai wujud karena Dia. awan tidak bisa bereksistensi tanpa langit. Ada langit maka awan pun Ada. Awan berubah, tapi langit tetap Sama.

8. Tak berubah!

Sifat – sifat ini mesti dikembangkan, di dalam diri seorang panembah, barulah Ia manunggal dengan-Nya. Atau menunggal dulu dan sifat-sifat ini akan mewarnai hidupnya.

Jadilah panembah dan Anda menjadi Aktivis spiritual, Bukan sekedar aktivis. Atau jadilah seorang aktivis spiritual dan Anda akan manunggal. Demikian kiranya nasehat Krsna. Dalam satu kalimat: mengembangkan sifat-sifat tersebut di atas berarti “menghadapi segala keadaan dan tantangan dengan penuh kesadaran bila semuanya Ibarat awan yang sedang berlalu”

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 08122017 – MA

Ditulis ulang dari buku Bhagavad Gīta oleh AK

Tiga Yuktā (Perbuatan Utama) seorang Yogī

Kutipan Sloka berikut ini adalah Jawaban Krsna terhadap pertanyaan cerdas Arjuna pada ulasan sebelumnya

Baca ulang: https://adnyaninatha.com/2017/12/06/pertanyaan-arjuna-tentang-hyang-berwujud-dan-hyang-tak-berwujud/

Srī-bhagavān uvāca

Mayy āveśya mano ye mām nitya-yuktā upāsate

Śraddhayā parayopetāh te me yuktatamā matāh

Bhagavad Gita, 12.2

Śrī Bhagavān (Krsna Hyang Maha Berkah) menjawab:

“Mereka yang berkeyakinan penuh dan senantiasa menyadari kemanunggalannya dengan-Ku, memuja-Ku dengan pikirannya terpusatkan pada-Ku, adalah para Yogī utama, Demikian Anggapan-Ku.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

“Demikian anggapan-Ku”. Disini, dalam kalimat pendek ini, lewat pertanyaan yang jujur ini, Krsna menempatkan diri-Nya sebagai mitra Arjuna. Ia bukanlah seorang penyelamat atau pembawa pesan dari langit. Ia adalah kesadaran Arjuna sendiri.

Tidak Ada paksaan bagi Arjuna untuk mengikuti pendapat-Nya. Arjuna tetap bebas untuk memilih. Krsna hanyalah memberi pendapat-Nya. Itu saja.

Namun, dalam Penggalan awal ayat ini, Krsna juga menempatkan diri-Nya sebagai Kesadaran yang tertinggi. “Aku” Krsna dalam penggalan awal adalah Aku-Universal yang Meliputi langit, bumi, semesta. Aku-Universal yang tidak terbagi antara langit dan bumi. Aku-Universal yang utuh, tidak separuh-paruh.

Seorang Yogī utama: istilah yang digunakan dalam ayat ini adalah “Yukta” – Perbuatan Utama. Jadi, Yoga dalam Hal ini adalah esensi dari segala perbuatan-sejak bangun tidur setiap pagi hingga tidur lagi setiap malam. Bahkan, segala “kegiatan pikiran” dalam bentuk “mimpi” yang “terjadi” saat tidur.

Tidak berarti segala perbuatan adalah Yoga. Hanyalah “Perbuatan-perbuatan utama” yang bisa disebut Yoga

Pertama: berkeyakinan penuh. Tanpa keyakinan, seorang Anak manusia menjadi layangan yang Putus-terlihat dinamis di langit sana, tapi tanpa arah. Keyakinan, dalam Hal ini bukanlah keyakinan pada sesuatu di luar diri. Bukan pada Arus dan kekuatan angin. Tetapi, pada diri yang dapat melawan Arus angin. Disinilah letak perbedaan antara manusia dan layangan. Kemudian, perlawanan yang dimaksud dalam Hal ini, dijelaskan lewat sifat utama kedua Seorang Yogī Utama;

Kedua: senantiasa menyadari kemanunggalannya. Berarti Ia tidak menempatkan diri sebagai kacung dunia. Dunia bukanlah majikannya. Ia berada di dunia ini, namun hanyalah sebagai pengunjung. Sebagai penonton untuk menonton pagelaran kebendaan. Ia menyadari asal-usulnya. Ia adalah percikan Sang Jiwa Agung. Percikan yang tak terpisahkan dari-Nya.

Sebab itu Ia tidak bergantung pada dunia. Ia menyayangi dunia tanpa keterikatan. Ia pun menyadari sifat kebendaan Alam-Benda. Maka, tidak Ada alasan baginya untuk bergantung pada Dunia Benda. Ketergantungan seperti ini, justru dapat menciptakan ilusi perpisahan Hyang Tunggal. Dengan menyadari kemanunggalannya, kemudian:

Ketiga: Memuja denga segenap pikiran terpusatkan pada-Nya. Manunggal namun tetap memuja, inilah kemanunggalan sejati. Kemanunggalan intelektual yang dirasakan oleh Mereka yang tak pernah berhenti pamer, “Aku adalah Kebenaran Sejati”- adalah kemanunggalan khayalan yang tidak berarti apa-apa. Kemanunggalan seperti itu, justru menjadi beban bagi Jiwa. Kemudian, mau-tak-mau mesti dimuntahkan lewat pernyataan, walau Hal itu tidak membantu juga.

Kemanunggalan sejati ialah ketika jiwa yang sudah mengalaminya, melayani jiwa-jiwa lain. Melayani sesama mahkluk Karena Ia Sadar bila dirinya tidak terpisah dari butir-butir pasir di bawah telapak kakinya dan bintang terjauh di galaksi terjauh. Itulah pemujaan yang dimaksud oleh Krsna.

Pelayanan aktif dan dinamis. Bukan membunyikan lonceng di tempat ibadah- tetapi mendengarkan rintihan dan ratapan setiap mahkluk yang sedang menderita Karena ketidaksadarannya. Kemudian, membantu mereka supaya mereka pun menyadari jati diri mereka. Itulah pemujaan yang dimaksud.

“Dengan segenap pikirannya terpusatkan pada-Ku” berarti tidak sekedar melayani dan membantu tetapi memuja, memuja Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi setiap mahkluk, bahkan semesta. Melayani dengan kesadaran Jiwa seperti itulah pemujaan, yang dimaksud Krsna.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 07122017 – MA

Ditulis ulang dari Bhagavad Gita hal 574-576 Oleh AK

Pertanyaan Arjuna tentang Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud

Arjuna uvāca

Evam satata-yuktā ye bhaktās tvām paryupāsate

Ye cāpy aksaram avyaktam tesām ke yoga-vittamāh

Bhagavad Gita, 12.1

Arjuna bertanya

Siapakah di antara para panembah yang sungguh memahami Yoga? Mereka yang senantiasa menyembah-Mu sebagai Hyang berwujud, ataukah Mereka yang menyembah-Mu sebagai Hyang Tak Berwujud dan Tak Pernah Punah

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pertanyaan Arjuna adalah mewakili persoalan yang dihadapi sejak dahulu kala. Diantara mereka yang menyembah Tuhan sebagai Hyang Tak Berwujud dan Hyang Berwujud – siapakah yang lebih utama? Siapa kah yang lebih tahu? Siapakah yang lebih memahami Yoga?

Pertanyaan Arjuna bukanlah pertanyaan bodoh – Ia tidak bertanya, “Siapakah yang benar? Siapa yang Salah?” Tidak, Arjuna tidak mempertanyakan soal benar atau salah. Ia bertanya “Siapakah yang lebih memahami-Mu, Wahai Krishna?” Siapakah yang lebih memahami, lebih dekat dengan Yoga? Dalam pengertian, siapa yang lebih sadar akan kemanunggalan dirinya dengan Hyang Maha Tunggal?

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, dulu ketika “lagu-lagu rohani” dalam bentuk Bhajan, yang bersifat bebas ritual belum populer di Indonesia – banyak Pemuka kepercayaan menerjemahkan Bhajan sebagai Bhakti Yoga dan Bhakti Yoga dianggap yang paling rendah. Cocok bagi Mereka yang belum bisa menempuh jalur pengetahuan Jñāna; atau analysis Diri, Sāmkhya.

Krsna tidak memahaminya Demikian- Bhakti adalah Warna Dasar setiap Yoga, Demikianlah pemahaman Krsna yang disampaikannya lewat Bhagavad Gītā.

Arjuna pun memahami maksud Krsna. Ia sudah tidak bicara tentang mana yang benar dan mana yang salah, tapi mana yang lebih tepat untuk meraih kemanunggalan? Itulah pertanyaan Arjuna. Mana yang lebih mudah untuk mencapai kemanunggalan tersebut?

Kembali pada Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud….

Kendati “mengaku” percaya pada Hyang Tak Berwujud, sesungguhnya banyak panembah masih saja mengaitkan wujud-wujud tertentu dengan-Nya.

Wujud tak Selalu terkait dengan patung, ada pula sujud dalam bentuk Tulisan, kaligrafi; juga dalam bentuk bangunan yang disucikan; atau dalam bentuk kitab suci. Kemudian kita juga mengaitkan sifat-sifat tertentu dengan-Nya. Misalnya Ia Maha Baik – bukan Maha Jahat. Ia Maha Esa – bukan Maha Lemah. Tetap ada dualitas – tetap Ada perbedaan antara yang kita Anggap Maha Tepat bagi sosok Tuhan dalam benak kita dan yang tidak tepat.

Kita menentukan sifat-sifat tertentu bagi Tuhan. Dan, menolak sifat-sifat lain yang ditentukan oleh kelompok lain. Perselisihan pendapat inilah yang menyebabkan pertikaian, permusuhan, dan pertengkaran bahkan perang. Masing-masing kelompok yang beda pendapat dan pemahaman, menganggap – walau mereka tidak Selalu mengakui Hal ini – seolah Tuhan “mereka” dan Tuhan “kelompok lain” adalah beda. Seolah ada banyak Versi Tuhan.

Tidak Demikian dengan Arjuna- Ia tetap percaya pada Kemahatunggalan Tuhan. Ia tidak mengatakan bahwa Hyang Berwujud adalah lain atau beda dari Hyang Tak Berwujud.

Arjuna memahami “Hyang Berwujud” dan “Hyang Tak Berwujud” sebagai dua cara untuk mendekati Tuhan yang Satu dan Sama.

Pertanyaan Arjuna sungguh sangat cerdas. “Di antara kedua kelompok yang memuja- Mu sebagai Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud – siapakah yang lebih mudah, lebih cepat mencapai-Mu dan manunggal dengan-Mu?”

Pertanyaan Arjuna tidaklah ber sifat filosofis. Pertanyaan Arjuna bersifat praktis dan teknis. Ia bukanlah seseorang yang sedang mencari kepuasan intelek. Ia ingin tahu jalan mana, jalur mana yang terbaik bagi dirinya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang,06122017-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gita oleh AK

Jangan Murung — Tuhan sebagai Tujuan Tertinggi hidup Manusia

Gatir bhartā prabhuh sāksī nivasāh śaranam suhrt

Prabhavah pralayah sthānam nidhānam bījam avyam

Bhagavad Gita, 9.18

Akulah Tujuan tertinggi; Hyang Maha Memelihara, Menguasai, dan menyaksikan; keadaan atau tempat abadi (yang dapat digapai), Pelindung Tunggal, sahabat setia, Awal-Mula dan Akhir dari segala- segalanya; Kepada-Ku semuanya berpulang saat kiamat atau Pralaya, dan aku pula benih kehidupan yang tak pernah punah

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Hidup ini Bukan tanpa tujuan. Ketika kita bertamasya ke Disney Land, Wonder Land, Dunia Fantasi atau tempat lain serupa – apa yang menjadi tujuan kita? Bukankah tujuan utama kita adalah hiburan? Barangkali kita berdalih, “Oh Saya hanya mengantar Anak saya.” Baik, perhatikan Anak -Anak kita. Mereka sepenuhnya terlibat dalam Permainan di sana dan sedang menikmati seluruh atraksi yang disajikan.

Sekarang Mari kita menentukan sendiri…

Peran kita dalam Dunia Fantasi ini – mau menikmati permainan seperti Anak-Anak yang sedang bermain bebas; kemudian pulang tanpa beraduh-aduh, Karena Sadar bila Dunia fantasy bukanlah Rumah kita. Atau menjadi orang Dewasa yang sedang menyaksikan Anak-anaknya menikmati segala permainan.

Sebagai saksipun, saat menyaksikan anak-anak kita bermain girang, jelas kita ikut bersuka cita. Kita ikut menikmati dan terhibur juga.

Mau menjadi seorang Anak yang sepenuhnya terlibat dalam permainan; atau menjadi seorang Dewasa yang sedang menyaksikan dan menikmati apa yang disaksikannya. Terserah kita masing-masing. Yang penting adalah tidak murung! Dunia fantasi ini tidak digelar untuk bermurung- murungan. Dunia fantasi ini di gelar sebagai kawasan untuk hiburan, arena hiburan. Nikmati dan saat mesti pulang- tinggalkan tempat ini tanpa bermurung Muka pula.

Menjadi Anak dan menikmati permainan dunia adalah jalan seorang RamaKrishna Paramahamsa, para Avadhūta – Mereka yang tidak lagi memikirkan Baik buruk segala. Bagi mereka semuanya adalah permainanan. Dan mereka tau orang tua mereka sedang mengawasi mereka. Lari kemanapun, mau mencoba atraksi apapun, mereka yakin tak akan pernah terpisahkan Dari orang tua yang sedang mengawasi.

Sebab itu, bagi Para Avadhūta seperti Ramakrishna Paramahamsa, Tuhan- Gusti Pangeran- Sang Pengawas adalah Ibu. Bunda Ilahi tak mungkin meninggalkan mereka – Demikian keyakinan para Anak-Anak yang berjiwa Ramakrishna, para avadhūta.

Kesadaran Saksi adalah kesadaran Para vivekananda, Shankaracharya. Kendati Demikian, setelah sepanjang hidup berkesadaran sebagai saksi, menjelang akhir hidup, mereka menyerah juga. Vivekananda dan Shankaracharya – dua-dua2nya kembali ke pangkuan Bunda Ilahi. “Cukup sudah pekerjaan yang membosankan sebagai saksi segala. Sekarang biarlah aku bermain-main dan istirahat di Pangkuan-Mu, wahai Kāli, Bhavānī, Bunda Ilahi”

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Hidup dan Saling Menghidupi

Evam pravartitam cakram nanuvartayatiha yah

Aghayur indriyaramo mogham partha sa jivati

BG. 3.16

“Demikianlah, Roda kehidupan ber putar terus, dengan mahkluk-makhluk hidup saling menghidupi dan berbagi

Seseorang yang tidak melakukan Hal itu Partha (Putra Prtha- sebut an lain bagi Kunti, ibu Arjuna) dan hidup untuk memenuhi nafsu-Indriyanya saja, sesungguhnya hidup dalam kesia-siaan ”

Roda kehidupan digerakkan oleh energi sharing, berbagi; saling memberi, saling menunjang, saling peduli. Seseorang yang tidak melakukan Hal itu sesungguhnya merugikan dirinya sendiri.

Berbagi berarti menjadi Bagian Dari kehidupan Agung. Menjadi Bagian Dari pesta Raya kehidupan. Sungguh merugilah orang yang datang ke pesta, tapi duduk bengong di satu pojok. Atau seperti seorang pedagang yang datang ke pasar untuk berbelanja tapi tidak Jadi. Ia malah menunggu di luar pasar sambil berulang-ulang menghitung uang di kantongnya dan berpikir terus, tidak bisa menentukan mau beli apa untuk dijual kembali.

Jadikah Bagian Dari pesta Raya kehidupan, jadikah pedagang yang cerdas dan bijak. Berkarya lah dengan semangat manembah. Hidup dan saling menghidupi! Nikmati lah keberadaan kita di dunia ini. Persinggahan kita di dunia ini hanya lah untuk sesaat saja, manfaatkanlah setiap saat.

(BG. AK)

Mengembangkan Kasih 

Setiap orang terlahir dalam keadaan “belum mengenal kasih”. Banyak diantara kita terlahir dalam kondisi kasih yang belum berkembang. Karena itu, lingkungan, pendidikan, kebiasaan dan segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mengembangkan kasih didalam diri kita. 
Seorang Anak, belum mengenal kasih. 

Kecenderungan anak-Anak menampilkan sifat2 bawaannya atau apa yang disebut dengan sancita Karma. Selain itu, mereka cenderung sulit memahami orang lain, sulit memahami dirinya sendiri dan bahkan tidak bisa. 
Sebuah contoh misalnya, seorang bayi ketika haus, Ia menangis dan memanggil Ibunya, padahal mungkin Ibunya sedang sangat kelelahan karena begadang di malam hari, setelah Ia beranjak agak besar, kadang-kadang Anak-Anak juga sulit memahami kondisi orang tuanya, cenderung membandingkan, cenderung komplin, dan menuntut banyak Hal. Terlebih pada anak2 yang merokok dan atau kenakalan lainnya. 
Setelah menjadi orang tua, Barulah mereka akan berlatih untuk mengembangkan kasih, berlatih untuk memahami anak-Anak yang kasihnya belum berkembang, berlatih untuk mengalah, berlatih untuk “melenyapkan” kepentingan pribadi nya demi kebahagiaan Anak-Anak. Demi cintanya. Demi kasihnya pada keluarga. 
Anak-Anak Kadang-kadang, dan bahkan seharusnya lebih banyak dididik untuk memahami peran orang tua. Memahami pengembangan kasih. 
Saya melihat di sekitar saya bagaimana Anak-Anak yang kasihnya belum berkembang dengan baik, Ia tidak hanya menyusahkan orang tuanya, keluarganya, sekolah, masyarakat serta Bangsa dan negara bahkan Ia merusak dirinya sendiri, dengan tumbuh menjadi Anak-Anak yang arogant, acuh dan kehilangan sense of belonging. 
Saya sering menemui anak-Anak yang tidak mau mengerti keadaan… 
Bhagavan… 

bimbing lah Selalu… 

Semoga Anak-Anak Kami menyadari perannya, menyadari visi jiwanya sehingga tidak menghanguskan energynya sendiri untuk Hal Hal yang ber sifat semu.
Menjadi orang tua tidak mudah, menjadi ibu tidak sangat sulit. Hanya perlu skill, dan mengembangkan kasih perlu latihan. 
Anak-Anak adalah tempat dimana orang tua harus belajar tentang kasih. Kepada Anak-Anak yang “sulit dan arrogant” orang tua harus extra, guru harus telaten, guru harus berkorban… 
Semua dari kita saling mengisi. Anak-Anak “mengisi” orang tua dan orang tua “mengisi” Anak-Anak. 

Dalam proses “isi-mengisi” ini, isilah dengan kasih. Apapun yang kita lakukan mesti atas nama kasih. 
Salam Rahayu 🙏
#mengembangkankasih

#melihatkedalamdiri

#senimempelajaridiri 

#scienceofSelf 

#Lesson 

#tobeparent

Jenis Pewintenan 

  1. Pewintenan Saraswati (Mulai Mempelajari Agama)
  2. Pewintenan Bunga (Pewintenan setelah berumah tangga)
  3. Pewintenan Sari (Mulai mempelajari kitab Suci Veda atau cakepan Lontar)
  4. Pewintenan Gede (Menjadi pemangku atau Jro Mangku yang lazim disebut Pinandita).
Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis