KARYA SISWA JILID 2

Om swastyastu,

apa yang dapat saya lukiskan dari perasaan saya yang nano – nano, ketika murid saya sudah menjalani Ujian Nasional, saya akan berpisah dengan mereka. hati saya bergetar, bahwa waktu kami untuk belajar bersama telah habis. saya akan sangat merindukan mereka. bagaimanapun, saya akan mengabadikan apa yang kami kerjakan bersama, belajar bersama.

karakter mereka yang mengagumkan membuat saya merasa bermakna menjadi guru. kepatuhan, kesetiaan dan antusias yang mereka miliki membuat saya tersentuh dan terhayut dalam lamunan bahwa mereka harus saya lepas untuk ke jenjang berikutnya.

ketika mereka juga menuliskan sebuah pesan bahwa mereka akan meridukan saya membuat saya merasa “berhasil” mengajar mereka. ah… ini hanya ungkapan kegagapan saya, saya belum apa – apa, bagaimana saya dapat menyebut diri berhasil jika masih ada kegelisahan di hati saya ketika melihat masih ada murid saya yang tidak masuk sekolah, dan tidak gembira ketika bertemu dengan saya.

buat anak – anakku yang mengagumkan, berikut adalah Karya Kalian yang saya abadikan untuk menjadi motivasi bagi adik – adik kelasmu kelak.

  1. membuat gambar Asanas Yoga Pada Kertas Kanvas

    2. Membuat Lingga Shiva

    3. Membuat Komik atau cerita bergambar dari kisah – kisah spiritualimg_4170.jpg4. Praktik Yoga Asanas

    5. Melakukan AgnihotraIMG_19406. Melakukan Tirta Yatra dan Dana Punia

    masih ada kegiatan lain yang akan di posting pada kesempatan lain. matur suksme

Yoga Sutra Patanjali : Saadhanaa Paadah (Sutra II.16-35)

Sutra II.16

heyam duhkham-anaagatam

“Duka-derita pada masa mendatang dapat, dan mesti dihindari”.

 

Sutra II.17

drastr-drsyayoh samyogo heyaketuh

“Sebab (dari penderitaan) yang bisa, dan mesti dihindari adalah kebingungan yang muncul dari samyoga atau pertemuan, hubungan antara drsya atau yang terlihat dengan drastr, yang melihat”.

 

Sutra II.18

 

 

 

 

 

 

Om Sri Ganeshaaya Namaha

Om Sri Krishnaaya Namaha

 

1 Sloka 1

Dharo’vaacha:
Bhagavan parameshaana bhaktiravyabhichaarinee;
Praarabdham bhujyamaanasya katham bhavati he prabho.

 

 

Bhumi, Ibu Pertiwi berkata : Oh Tuhan, O Yang Maha Kuasa! Mohon menjelaskan kepada hamba, bagaimanakah seseorang dapat mengembangkan rasa cinta kasih bhakti yang tidak tergoyahkan kepada Anda, sementara ia sibuk dalam berbagai kegiatan di dunia material ini?

 

2 Sloka 2

Sri Vishnur uvaacha:
Praarabdham bhujyamaano hi geetaabhyaasa-ratah sadaa;
Sa muktah sa sukhi loke

karmanaa nopalipyate.

 

 

Srii Vishnu bersabda : walaupun seseorang sibuk dalam berbagai kegiatan duniawi, tetapi dengan teratur membaca kitab suci Bhagavad Gita ia dibebaskan. Ia adalah makhluk yang paling berbahagia di dunia ini sebab ia tidak terikat oleh karma atau reaksi perbuatan.

 

3 Sloka 3

Mahaa-paapaadi paapaani giitaadhyaanam karoti chet;
Kvachit sparsham na kurvanti

nalinii-dalam ambuvat.

 

 

Seperti halnya daun teratai yang tidak terbasahi oleh air, demikian pula seseorang yang tekun membaca kitab suci Bhagavad Gita dengan teratur tidak akan ternodai oleh dosa – dosa termasuk dosa maha besar

4 Sloka 4

Giitaayaah pustakam yatra

yatra paathah pravartate;
Tatra sarvaani tiirthaani

prayaagaadiini tatra vai.

 

 

Seluruh tempat suci yang ada di dunia ini seperti Prayaaga dan lain – lain, akan bersemayam dimana kitab suci Bhagavad Gita disimpan dan dibaca

5 Sloka 5

Sarve devaash ca rishayo

yoginah pannagaash ca ye;
Gopaalaa-gopikaa vaapi naarado’ddhava paarshadaih.

 

 

Semua dewa – dewi, para rsi agung, para yogi, para naga agung, gopala, gopika (sahabat dan penyembah Sri Krishna), Narada, Uddhava, dan lain- lain juga bersemayam disana

6 Sloka 6

Sahaayo jaayate shiighram

yatra giitaa pravartate;
Yatra giitaa vichaarash ca

pathanam paathanam shrtam;
Tatraaham nishchitam prithvi nivasaami sadaiva hi.

 

 

Pertolongan segera datang dimana sloka – sloka suci Bhagavad Gita dibaca. Wahai Bhumi, secara pasti Aku tinggal selamanya dimana kitab suci Bhagavad Gita dibaca, dibacakan dan direnungkan

 

 

 

 

7 Sloka 7

Giitaashraye’ham tishthaami

giitaa me chottamam griham;
Giitaajnaanam upaashritya

trimllokaan paalayaamy aham.

 

 

Aku sendiri berlindung pada Bhagavad Gita, karena Bhagavad gita adalah tempat tinggal-Ku. Aku menjaga dan melindungi ketiga dunia dengan pengetahuan Bhagavad Gita

8 Sloka 8

Giitaa me paramaa vidyaa

brahma rupaa na samshayah;
Ardha-maatraaksharaa nityaa svaanirvaachya-padaatmikaa.

 

 

Bhagavad Gita adalah ilmu Pengetahuan-Ku yang tertinggi, tidak dapat diragukan lagi, Ia adalah bentuk Brahman yang kekal, Ardhamaatraa dari aksara suci OM, keagungan dan kemegahan yang dimiliki oleh sang roh.

 

9 Sloka 9

Chidaanandena krishnena

proktaa svamukhato’rjunam;
Veda-trayii paraanandaa

 tatvaartha-jnaanasamyutaa.

 

Bhagavad gita disabdakan sendiri oleh Srii Krishna, Beliau Yang Maha Mengetahui, dari Bibir Padma-Nya kepada Arjuna. Ia berisikan intisari dari ajaran – ajaran Veda Trayi (Rg, Yayur dan Sama Veda), pengetahuan sejati yang penuh kebahagiaan.

 

10 Sloka 10

Yo’shtaadasa japo nityam

naro nishchalamaanasah;
Jnaanasiddhim sa labhate

tato yaati param padam.

 

 

Ia yang melafalkan 18 Bab Bhagavad Gita setiap hari, dengan penuh ketulusan dan ketetapan hati, pikirannya mantap dan tidak tergoyahkan, mencapai pengetahuan sempurna, dan tujuan yang tertinggi.

 

11 Sloka 11

Paat he’asamarthah sampurne tato’rdham paat hamaacharet;
Tadaa godaanajam punyam

labhate naatra samshayah.

 

 

Jika tidak memungkinkan untuk membaca keseluruhan sloka Bhagavad Gita, maka membaca setengahnya saja akan memberikan seseorang berkah sama dengan berkah yang didapatkan dari menyumbahkan seekor sapi

 

12 Sloka 12

Tribhaagam pat hamaanastu ganggaasnaanaphalam labhet;
Sadam sam japamaanastu somayaagaphalam labhet.

 

 

Ia yang membaca sepertiga dari sloka – sloka suci Bhagavad Gita kan memperoleh berkah yang sama seperti mandi di sungai Suci Gangga dan ia yang membaca seperenamnya akan mendapatkan berkah seperti melakukan persembahan soma

 

13 Sloka 13

Ekaadhyaayam tu yo nityam pathate bhaktisam yuta;
Rudralokam avaapnoti

Gan o bhutvaa vasecchiram.

 

 

Orang yang membaca satu bab Bhagavad Gita dengan penuh rasa bhakti akan mencapai tempat tinggal Rudra dan menjadi pelayan Shiva. Ia tinggal disana selama bertahun – tahun

14 Sloka 14

Adhyaayam shlokapaadam vaa nityam yah pathate narah;
Sa yaati narataam yaavan

manwantaram vasundhare.

 

 

Wahai Bhumi, jika seseorang membaca seperempat dari sloka – sloka suci Bhagavad Gita maka ia akan mendapatkan badan manusia hingga akhir perputaran jaman

15 – 16 Sloka 15 – 16

Giitaayaah shlokadasakam sapta pancha chatushtayam;
Dvau triinekam tadardham vaa shlokaanaam yah pathennarah.

Chandralokam avaapnoti varshaanaamayutam dhruvam;
Giitaapaathasamaayukto

mrito maanush ataam vrajet.

 

 

Ia yang membaca berulang – ulang sepuluh, tujuh, lima, empat, tiga, dua atau bahkan satu atau setengah sloka akan mencapai planet bulan dan tinggal disana selama sepuluh ribu tahun. Dengan membiasakan diri mempelajari kitab suci Bhagavad Gita setiap hari, maka orang yang sedang sekarat sekalipun akan bangkit dan segar bugar kembali

17 Sloka 17

Geetaabhyaasam punah kritvaa labhate muktim-uttamaam;
Giitetyucchaarasam yukto mriyamaano gatim labhet.

 

 

Dengan mempelajari ajaran – ajaran suci Bhagavad Gita secara tekun seseorang mencapai pembebasan. Mengucapkan sloka suci Bhagavad Gita pada saat menjelang ajal akan membawa seseorang pada pembebasan.

 

18 Sloka 18

Giitaarthashravanaasakto mahaapaapayuto’pi vaa;
Vaikuntham samavaapnoti vishnunaa saha modate.

 

 

Walaupun seseorang itu penuh dosa, namun jika ia tekun dan mantap mendengarkan ajaran – ajaran suci Bhagavad Gita maka ia akan mencapai kerajaan Tuhan dan menikmati pelayanan pada Sriii Visnu

19 Sloka 19

Giitaartham dhyaayate nityam kritvaa karmaani bhurishah;
Jiivanmuktah sa vijneyo dehaante paramam padam.

 

 

Ia yang dengan tekun bermeditasi pada ajaran – ajaran suci Bhagavad Gita, setelah melakukan banyak kegiatan – kegiatan mulia, maka ia akan mencapai tujuan tertinggi setelah meninggalkan badannya. Orang seperti itu disebut Jivanmukta, yaitu orang yang mencapai pembebasan semasih hidup

20 Sloka 20

Giitaamaashritya bahavo bhubhujo janakaadayah;
Nirdhutakalmashaa loke

giitaayaataah param padam.

 

 

Ada banyak roh – roh agung seperti Janaka yang telah mencapai kesempurnaan, terbebas dari segala dosa di dunia ini dengan berlindung pada kitab suci Bhagavad Gita.

21 Sloka 21

Giitaayaah pathanam kritvaa maahaatmyam naiva yah pathet;
Vrithaa paatho bhavet tasya shrama eva hyudaahritah.

 

 

Ia yang tidak membaca keagungan Bhagavad Gita, setelah membaca kitab suci Bhagavad Gita, kehilangan segala berkah yang seharusnya dicapainya.

 

 

 

22 Sloka 22

Etan maahaatmya-samyuktam giitaabhyaasam karoti yah;
Sa tat-phalam avaapnoti durlabhaam gatim aapnuyaat.

 

 

Ia yang mempelajari ajaran – ajaran suci Bhagavad Gita dan pada saat yang bersamaan juga mempelajari keagungan Bhagavad Gita, maka ia akan mencapai segala berkah yang telah disebutkan diatas yang sesungguhnya sangat sulit untuk dicapai.

 

23 Sloka 23

Suta Uvaacha:
Maahaatmyam etad giitaayaa mayaa proktam sanaatanam;
Giitaante cha pathed yas tu yaduktam tat-phalam labhet.

 

 

Rsi Suta Bersabda: Keagungan kitab Bhagavad Gita yang kekal ini, hendaknya dibaca setelah seseorang membaca sloka – sloka suci Bhagavad Gita, maka ia mencapai tujuan – tujuan seperti yang sudah aku jelaskan

  Iti srivaraahapuraane srigiitaamaahaatmyam sampurnam.


Om Shanti, Shanti, Shanti!

 

Demikian keagungan Bhagavad Gita dalam Kitab Sri Varaha Purana

 

 

 

 

Saraswatī Puja

Di dalam tradisi  – tradisi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu, Hindu, Indo, Indonesia, pengetahuan di wujudkan dalam bentuk Dewi Saraswati. Dewi Bukan Dewa. Berarti aspek feminim yang ditonjolkan. Bukan aspek maskulin. 

Apa saja yang diwakili oleh Dewi Saraswati yang Feminim itu, yang lembut itu, yang cantik itu, yang penuh welas asih itu? Apakah Ilmu pengetahuan saja yang diwakilinya?  Aspek kemuliaan apa, Ketuhanan  apa yang sesungguhnya Ia wakili? 

Perhatikan wujud Saraswati, sebagaimana Ia telah divisualisasikan sejak ribuan tahun. Pertama, Ia membawa Sitar atau Vina. Alat musik ini mewakili lagu, nyanyian, tarian, seni. Keindahan – Sundaram. Ekspresi Budaya yang terindah adalah seni. Seni bukanlah pertunjukkan diatas panggung saja. Seni adalah “sikap” dalam hidup. Melakoni hidup pun merupakan seni. Seni adalah sikap hidup yang indah, yang mengindahkan, yang memperindah. 

Yang kedua, Ditangan lain Dewi Saraswati, kita melihat Genitri, Japa Mala, 108 manikam dalam satu untaian yang Indah. Banyak manikam, banyak permata, namun disatukan oleh benang yang tak terlihat. Ini adalah sifat Shivam. Sifat Ketuhanan, sifat kebenaran, sumber kebahagiaan, kedamaian, kesehatan dan kesejahteraan. 

Beda, banyak- tapi satu, Bhineka Tunggal Ika, inilah sifat Saraswati. “Jenis” pengetahuan yang diwakili Saraswati selalu mempersatukan, Ia tidak pernah memisahkan atau menyebabkan perpisahan. 

Pada beberapa gambar atau simbol, Dewi Saraswati juga memegang sekuntum bunga, ini pula bermakna Sama yaitu Shivam, sumber kebahagiaan dan kedamaian,  bahwa banyak kelopak, semuanya Indah dan merupakan Bagian Dari sekuntum bunga yang Sama. 

Ketiga, Saraswati juga memegang sebuah lontar. Lontar ini mewakili Veda, sumber segala macam pengetahuan.  Veda adalah kebenaran yang diungkapkan lewat tulisan, lewat kata -kata. Inilah Satyam- kebenaran hakiki, kebenaran tertinggi, kebenaran yang utuh. 

Saraswati adalah wujud kesempurnaan, Ia adalah cerminan diri seorang manusia yang sempurna, Satyam-Shivam-Sundaram. Seseorang yang memiliki ketiga sifat utama Saraswati ini disebut sebagai seorang Guru. 

Peringatan hari Saraswati atau Saraswati Puja juga disebut Guru Purnima. Seorang guru bagaikan bulan Purnama, menerangi hidup kita dengan pengetahuan sejati. Ia adalah wujud nyata dari kebenaran,  kemuliaan dan keindahan.

Memuja Saraswati berarti menghadirkan kebenaran dalam hidup kita. Hendaknya Hari Raya Saraswati, atau pemujaan kepada Dewi Saraswati dijadikan hari untuk merenung, hari untuk meniti jalan kedalam diri. Hari untuk melakukan instropeksi diri. Hari untuk melakukan studi, untuk memahami dan menghayati isi Kitab- kitab suci. 

Bekali hidupmu dengan kebenaran, kemuliaan dan keindahan, Satyam-Shivam-Sundaram, Maka hidupmu pasti berwarna. Maka kau akan merasakan kehadiran Dewi Saraswati dalam hidupmu. Maka kau akan menjadi lebih lembut, lebih peduli terhadap sesama, lingkungan dan alam. 

Ketiga sifat utama Saraswati itu lah pendamping setia manusia. Saraswati mewakili segala sesuatu yang bermakna dalam hidup ini. 

Saraswati adalah sintesa antara pengetahuan dan seni. Saraswati adalah pertemuan antara otak kanan dan otak kiri – maskulin dan feminim. Sebab itu, Saraswati utuh adanya. Ia lengkap, Ia sempurna. 

Temukan keutuhan itu di dalam hidupmu. Temukan kelengkapan dan kesempurnaan itu di dalam hidupmu. Dan kau akan merasakan kehadiran Saraswati. Kau akan memahami arti Saraswati Puja. Kau akan menemukan makna Guru Purnima. Semoga….

 

Om shanti, Shanti, Shanti Om 

Neo-Cortex: Jembatan dari Insting Hewani menuju Kesadaran Ilahi

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

Limbic dan Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di-“manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka…

Lihat pos aslinya 713 kata lagi

Refleksi Bulan Maret 2017

Goodby March and welcome April. “Setiap kali “suka” berada di dalam Rumah, Maka “Duka”  juga sedang menunggu di depan pintu Rumah untuk masuk kedalam rumah”. Begitu lah hukum dari kehidupan duniawi, suka dan dukha. Ada suka pasti Ada dukha. Suka tidak akan bertahan lama berada di dalam Rumah, begitupun dukha pasti akan berlalu. Hanya ānanda yang Akan abadi. 

Sepertinya kalimat itu cocok menggambarkan betapa misteriusnya bulan Maret bagi keluarga Kami. 

Banyak sekali yang terjadi di Bulan Maret. 

Diawal maret, setelah hampir 1 Tahun tidak pernah meninggal kan anak2 untuk keperluan Dinas, akhirnya pergi meninggal kan mereka. Biasanya setiap dinas saya selalu membawa serta mereka. Kali ini tidak karena situasi tidak memungkinkan. Sebagai ibu Dengan anak2 yang masih kecil balita, tentu menguras kerinduan dan perasaan bersalah apa lagi kemudian mereka menjadi sakit (sakit Karena kangen emaknya). Sessions ini dianggap sebagai session dukha (persepsi sendiri)

Setelah session itu selesai, sessions Sukha di mulai, Sukha memasuki Rumah Dengan mengirimkan ayah pulang cuti, Anak -Anak happy, saya happy, semua happy. Tapi baru saja 5 hari sukha mampir di Rumah kami, dukha datang lagi, Bhadrika sakit dan harus di rawat di RS PKT karena thypus. Sampai ayahnya berangkat kembali ke negeri Sabah, dukha masih tinggal di dalam Rumah. Beberapa hari kemudian, sukha datang lagi, Kami sibuk dalam pelayanan dan perayaan Hari Raya Nyepi… 

Menutup bulan Maret, dukha kembali datang, sekarang sang induk, aku sendiri ngedrop Karena kelelahan dan hb rendah. Dan harus di rawat inap karena anemia. 

Entahlah, apakah pengklasifikasian pengalaman sukha dan dukha itu akan membantu dalam perjalanan kehidupan ini? 

Yang jelas, saya ingin mengingatkan diri bahwa sukha dan dukha selalu bergandengan. Mereka tidak terpisah kan. Kita sendiri yang mesti hidup dalam kesadaran bahwa ketika sukha datang, kita tidak perlu meninggikan diri, dan ketika dukha datang kita tidak perlu tenggelam dalam kesedihan. Sebagaimana Budha mengajarkan agar kita menjadi moderate, tidak ekstrim. Terlalu senang ketika pengalaman sukha datang dan terlalu sedih ketika dukha datang. 

Catatan ini hanya reminder buat diri sendiri. Hidup mesti terus berjalan, alam semesta pasti menyediakan dan merescue apa yang diperlukan… 

Catur Varna : Right Man on The Right Place 

Konsep inilah yang kemudian diadopsi oleh perusahaan2 ternama untuk menempatkan seseorang sesuai bakatnya. 

Tergelitik rasanya ingin menuliskan ini, mengingat banyak sekali orang dengan sengaja menanamkan pemahaman bahwa konsep ini sangat usang dan kuno bahkan menciptakan kesenjangan. 

Konsep ini pula di politisasi Demi menguntungkan sang penulis sejarah. 
Merujuk kepada Bhagavad Gita, 4.13 yang disampaikan sendiri oleh Krishna sebagai Awatara (Turunnya Wisnu) ke dunia ini bahwa Catur varna ini (Brahmana, Ksatria, Waisya dan sudra) diciptakan berdasarkan Guna dan Karma) 
Guna adalah pengetahuan, keterampilan, sumber Daya Manusia 
Karma adalah bakat, kecenderungan, kebiasaan, perilaku. 

Menempatkan seseorang pada posisi yang sesuai dengan bakatnya, Maka organisasi atau perusahaan atau mencapai tujuannya. Itu lah mengapa perlu Fit and Proper Test. 
Seorang Brahmana adalah dia yang mempunyai bakat sebagai pendidik, guru, pelatih, pendeta, orang-orang berbakat dan menyukai filsafat, Para mentor; 
Seorang Ksatriya : Ia yang berbakat pada bidang beladiri, kepolisian, Tentara, pelayan masyarakat, PNS dan sejenisnya 
Seorang Waisya adalah Ia yang berbakat mengelola perdagangan, Pertanian, perkebunan, pembisnis, perusahaan, dan semua professi yang membangun perekonomian masyarakat. 
Seorang Sudra adalah Ia yang bekerja sebagai pelayan, pembantu, buruh, pekerjaan serabutan, tukang bangunan 
Keempat pembagian tersebut adalah satu kesatuan dalam mencapai tujuan. Seluruh nya membutuhkan keterampilan sesuai bakatnya. 
So menempatkan seseorang pada posisi dan tempat yang sesuai dengan bakatnya adalah jiwa dari Catur Varna. 
Terimakasih 

#jangantakutbicara

#menolakhegemoni

#bebasberpendapat

#belajarlagi

Jñāna Yajña

1.

Adhyesyate ca ya imam 

dharmyam samvādam āvayoh 

Jñāna yajñena tenāham 

Istah syām iti me matih 

Bhagavad Gita, 18.70

Terjemahan : 

Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku lewat penembahan dalam bentuk pengetahuan sejati (Jñāna Yajña) – Demikian keniscayaan-Ku

2.

Śraddhāvān anasūyaś ca

śrnuyād api yo narah 

So’pi muktah śubhāl lokān

Prāpnuyāt punya-karmanām

Bhagavad Gita, 18.71

Terjemahan:

Barang siapa mendengarkan ajarin ini dengan penuh keyakinan dan tanpa celaan; niscaya meraih kebebasan mutlak dan kebahagiaan sejati yang diraih para bijak yang berbuat mulia 
2 kutipan sloka Bhagavad Gita diatas disampaikan sendiri oleh Krishna di Medan perang kuruksetra. Jadi jangan ragù untuk mempelajari Bhagavad Gita. Mempelajari nya dapat dengan cara membacanya, merenungkannya, ataupun dengan mendiskusikannya. Tetapi tidak lupa untuk mempraktekkannya dengan penuh dedikasi (bhakti) dan vairagya 

Jada Bharata: #Reinkarnasi dalam Keluarga Saleh dan Sejahtera #SrimadBhagavatam

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalahengkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

Tulisan ini sebagai reminder tentang kewaspadaan. Upeksha

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kelahiran kembali di keluarga yang menunjang kesadaran

Krsna menjelaskan Jiwa yang telah berupaya untuk mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum mencapainya, dan keburu “meninggal”. Jika itu yang terjadi, maka, karena ia telah “bertindak secara bijak” dengan mengupayakan pencapaian kesempurnaan dalam Yoga, ia akan menikmati “kenikmatan alam-alam surgawi”……………

Dan hikmah dari pengalaman seseorang yang hendak mencapai kesempurnaan dalam Yoga – mengundang reaksi alam. Semesta membantunya dengan memfasilitasi “kelahiran ulang” dalam keluarga yang saleh dan berkecukupan – sejahtera dalam pengertian yang sesungguhnya – sehingga ia dapat meneruskan perjalaanannya. Bhagavad Gita 6:41 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bharata adalah putra Raja Rsabha yang hampir mencapai Narayana, akan tetapi dia harus menuntaskan karma yang telah dilakukan pada kehidupan sebelumnya, sehingga dia harus melewati kelahiran sebagai seekor rusa. Kini, untuk menyelesaikan obsesi yang belum dilakukannya, dia dilahirkan kembali sebagai putra seorang Brahmana bernama…

Lihat pos aslinya 862 kata lagi

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis