Jnana dan Vijnana 

Apa ya perbedaan jnana dan vijnana? Kedua kata ini seolah satu paket yang tidak dapat dipisahkan.  Kita akan memperlajarinya.  Secara Khusus kita akan merujuk kepada Bhagavad Gita Karen  dalam Bhagavad Gita di ulas pada bab ke 7 atau percakapan ke 7. 

Mari kita baca ulasan Bapak Ānand Krishna berikut ini yang di kutip Dari Buku Bhagavad Gita, Hal 294 – 295 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Veda dan Dharma, 2014


Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bhagavad Gita, 7.2 : 

Jnanam te ham sa-Vijnanam idam vaksyamy asesatah,

Yaj jnatva neha bhuyo’nyaj jnatavyam avasisyate 

Terjemahan : 

“Akan Ku-jelaskan padamu dengan sejelas-jelasnya Jnana – Pengetahuan Sejati (tentang Hyang Maha Gaib) serta Vijnana – Ilmu (tentang wujud-Nya yang Nyata) – tiada sesuatu lagi yang perlu kau ketahui setelah mengetahui Hal ini.”

Jnana adalah “Pengetahuan Sejati” – yang mesti dialami sendiri. Jnana adalah knowingness – bukan knowledge, Bukan ilmu pengetahuan. Jnana mengantarkan kita pada pengalaman tertinggi, dimana kita  melihat wajahnya-Nya dimana – mana. Ia berada dalam setiap mahkluk. 

Vijnana adalah ilmu, dalam pengertian Sains; mengajarkan kita untuk menerjemahkan pengetahuan sejati yang telah kita peroleh, telah kita Alami – kedalam bahasa keseharian hidup. 

Ia Hyang Maha Gaib, Absolut, Tak Berwujud adalah pengalaman jiwa tanpa suara. Setelah mengalaminya jiwa menjadi hening, damai, Tenang. Namun bagaimanapun juga – selama badan masih ada- pengalaman yang telah diperoleh itu mesti diterapkan, dilakoni, Bukan sekedar dirasakan saja. Untuk menerapkan inilah, dibutuhkan Sains, ilmu terapan. Inilah Vijnana 

Tanpa mengalami jnana dan menguasai Vijnana, kita akan selalu terjebak dalam perdebatan tanpa ujung dan tanpa pangkal, “apakah Tuhan berwujud atau tidak?” Jika Tuhan “tidak berwujud saja”, dan kita menganggap wujud semesta berada diluar diri-Nya, maka kita menciptakan dualitas. Dan dualitas inilah sumber segala konflik. 

Untuk mengakhiri konflik ini, Krishna mengatakan bahwa Tuhan adalah kedua – duanya. 

Ia adalah Maha Gaib dan Maha Nyata. Memang kita sudah sering membaca pernyataan -pernyataan seperti ini – tapi apakah kita memahaminya? 

Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang berkepercayaan pada Hyang Maha Gaib, tidak mampu melihatnya dalam ikon -ikon, simbol – simbol dalam kepercayaan lain, dimana Tuhan bukanlah abstrak saja. Tapi “bisa” berwujud – Ia “dapat”, dan sesungguhnya “sudah” mewujud. Segala wujud adalah wujud-Nya. 

Kekerasan hati dan karakter yang muncul dalam masyarakat adalah disebabkan oleh pemahaman “paruh” tentang kebenaran. Ketika kita menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang tidak nyata dan hanya dapat dirasakan saja, dialami saja – maka kita memisahkan pengalaman itu dari kehidupan kita sehari-hari. Pencarian Tuhan Hyang Maha Gaib menjadi sesuatu yang Khusus, khas – sementara kehidupan adalah sesuatu yang terpisah. Perpisahan ini membuat kita super lembut dalam pengertian “emosional” – penuh tangisan dan rintihan- ketika berada dalam “mode” mencari Tuhan. Dan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, kasar, ketika menghadapi kenyataan hidup. 

Kelembutan kita menjadi sesuatu yang tidak nyata pula. Sementara yang tampak di permukaan adalah kekerasan. Inilah tragedi sejarah selama beberapa millennium terakhir. Walau kita mengatakan bahwa Tuhan Maha Gaib dan Maha Nyata, wajah-Nya dimana – mana, tapi kita tidak mempercayai hal itu. Kita hanya berbasa-basi. Maka, mudah sekali bagi kita untuk menghancurkan ikon-ikon, simbol -simbol yang merayakan kemuliaan-Nya sebagai Hyang Maha mewujud. 

Hari ini menghancurkan ikon- ikon yang terbuat dari tanah, Batu  dan metal. Besok menghancurkan kehidupan. Lalu merusak lingkungan. Esoknya lagi menyembelih sesama mahkluk hidup. Lalu membunuh sesama  manusia. Mudah bagi kita – Karena kita tidak melihat wajah-Nya, Wujud-Nya, dalam ikon – ikon itu; kita tidak merasakan kehadiran-Nya di dalam diri sesama mahkluk hidup dan sesama manusia. 

Selama ini barangkali kita Baru memiliki “pengetahuan” tentang “Pengetahuan Sejati” – kita belum mengalaminya. Maka, kita masih memisahkan Hyang Maha Gaib dan Hyang Maha Nyata. Kemudian, Karena belum Ada “pengalaman pribadi” – apa pula yang mau diterapkan dalam kesehatian hidup? Vijnana tidak dibutuhkan lagi. 

Lebih celaka lagi, jika kita menganggap Vijnana sebagai Jnana. Ilmu pengetahuan yang bisa saja di peroleh Dari buku, lewat pengalaman orang lain, kita sejajarkan dengan pengalaman pribadi yang belum pernah kita peroleh. Ini menciptakan ilusi, “aku tahu segalanya”. Baik,  tahu tentang nasi goreng, tapi apakah pengetahuan saja dapat mengenyangkan perut kita? Jelas tidak bisa. 

Jnana dan Vijnana inilah sumber segala dualitas dan konflik. Dan, ini pula solusi untuk mengakhiri segala konflik. Saat kita memahami perbedaan sekaligus hubungan antara keduanya – konflik berakhir. 

Jnana mengantar kita pada “pengalaman pribadi” – sehingga tidak Ada lagi keraguan tentang sesuatu. Dan Vijnana menjelaskan cara  untuk menerapkan pengalaman tersebut dalam keseharian hidup. 

Krishna mengatakan, “wahai Arjuna, setelah menguasai, memahami, mengalami keduanya ini – tiada lagi sesuatu yang perlu kau ketahui.”

Hasil dari  Jnana atau Pengetahuan Sejati adalah Kesadaran Diri, Kesejatian Diri, memahami Jiwa sebagai percikan dari Sang Jiwa Agung. Dan, hasil dari Vijnana adalah melayani sesama, mencintai sesama dan kepedulian terhadap sesama. Berbagi berkah dengan sesama. Duo inilah yang disebut “tertinggi” oleh Krishna, yang mana jika sudah diketahui, dialami dan dilakoni- tiada lagi yang perlu di ketahui, dialami ataupun dilakoni. Inilah Pengalaman sekaligus Ilmu tertinggi. 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; 

Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. 

Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Mengelola Kemarahan lewat Latihan Meditasi di Anand Ashram #Meditasi #Yoga

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku-meditasi-gadis-marah

Saat seseorang marah, ia mengaktifkan beberapa kelenjar dalam tubuhnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelimpahan adrenalin dan beberapa hormon stres yang lain, dengan efek-efek yang nyata pada fisik Anda. Wajah menjadi merah, tekanan darah semakin tinggi, nada suara kita menjadi tinggi, pernafasan kita menjadi cepat, detak jantung tidak teratur dan otot-otot kaki maupun tangan mulai tegang. Seluruh tubuh kita merasakan perubahan semacam ini. Apabila seseorang sering marah, keadaan itu akan berulang terus dan pada akhirnya dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan yang serius. Situasi seperti ini dapat menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit seperti tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung, maag, dan lain sebagainya. Karena itu, demi kebaikan Anda sendiri, hendaknya Anda mengendalikan emosi kemarahan ini.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kadang kita tidak menyukai suasana tertentu seperti yang kita harapkan, misalnya seseorang menyakiti kita baik sengaja maupun tanpa menyadari kata-katanya menyakiti…

Lihat pos aslinya 422 kata lagi

Tyaga 

Tapa berasal dari kata tyaga. Tyaga berarti melepaskan. Apa yang mesti di lepaskan? Harta benda? Atau apa? 
Tyaga is renouncing the fruit 

Tyaga adalah melepaskan segala phala, segala buah, segala hasil Dari setiap perbuatan. Melepaskan disini berarti menyerahkan hasilnya sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa.

“Engkaulah yang menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kusedahkan kepada-Mu. 
(BG, 18.2) 
#yoga

#renounciation

Mohon Diajari Cara Menghidupkan Orang Mati #Kisah Masnawi

Yang penting adalah kesadaran jiwa nya. Bisa kah kita menyadarinya

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

http://art.bathnes.gov.uk/ow23/collections/voir.xsp?id=00101-17&qid=sdx_q0&n=13&e= The Raising of Jairus' Daughter Oil Painting :: 1889 :: Long , Edwin Longsden Height (cm) : 162.6 Width (cm) : 182.9

Seorang sahabat Yesus melihat tumpukan tulang. Dalam ketidaksadarannya, dia memohon kepada Sang Nabi, “Sahabatku, ajari aku cara untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati ini.”

Seorang master, seorang nabi, seorang guru, seorang avatar, seorang mesias, seorang buddha akan selalu menganggap para muridnya sebagai “sahabat”. Demikianlah kebesaran jiwa mereka. Tetapi, para murid sering kali menyalahartikan kebesaran jiwa sang mursyid. Baru belajar jalan sedikit, mereka sudah mau lari seperti sang mursyid. Mereka tidak sadar bahwa sang mursyid justru tengah melangkah lamban, agar bisa diikuti oleh para murid.

Jika seorang mursyid seperti Isa menghidupkan kembali seseorang, itu dilakukan bukan untuk memamerkan kesaktiannya. Ada tujuan lain. Jika setiap orang yang mati bisa dan harus dihidupkan kembali, apa gunanya ada “lembaga kematian”? Dihapus saja, supaya yang ada hanyalah “lembaga kelahiran” dan sekali lahir, setiap makhluk hidup untuk selama-lamanya.

Yesus bersabda, “Itu bukanlah tugasmu. Untuk melakukan hal itu, engkau membutuhkan jiwa yang lebih bersih…

Lihat pos aslinya 611 kata lagi

Penyamaran Nasuh, Sang Pencuci Rambut Kaum Hawa Kisah #Masnawi

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

buku-masnawi-5-nasuha

Untuk memperoleh pekerjaan sebagai pencuci rambut bagi kaum Hawa, Nasuh harus menyamar sebagai wanita. Wajah dan bentuk badannya memang sangat Feminin, sehingga tidak sulit menyembunyikan ke-“pria”-annya.

Selama bertahun—tahun, tak seorang pun menyangka bahwa Nasuh bukanlah seorang wanita. Nasuh pun menikmati pekerjaannya. Setiap kali menyentuh badan wanita yang sedang dicuci rambutnya, dia merasakan kepuasan birahi.

Kadang-kadang bila suara kecil nurani terdengar, dia juga merasa bersalah. Pada saat-saat seperti itu, dia menyadari kesalahannya.

Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang Wali. seorang suci. “Ingat aku dalam doamu,” kata Nasuh kepada Sang Wali.

Mata batin Sang Wali sudah terbuka. Dia tahu betul apa yang disembunyikan oleh Nasuh. Kendati demikian, dia mengiyakan permintaannya: “Ya, Nak. Aku akan mengingat kamu. Aku akan berdoa untukmu.”

Nasuh bukanlah orang yang tidak sadar. Dia sadar. Dia menyadari kesalahannya, tetapi “merasa” tidak berdaya untuk memperbaiki diri. Tarikan “daging” masih kuat sekali. Api “napsu” masih membara. Di dalam diri dia sedang…

Lihat pos aslinya 509 kata lagi

SRIMAD BHAGAVATHAM : DHURVA CHARITRAM, MENGUBAH LUKA MENJADI KASIH

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu:

Saha vīryam karavāvahai;

Tejasvi nāvadhītamastu;

Mā vidviṣāvahai.

Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Krishna Yajurveda Taittiriya Upanishad (2.2.2)

 

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama, belajar bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

dhruva-vishnu-and-garuda-thumb

Raja Uttanapadan adalah putra dari Swayambhuva Manu. Dia memiliki dua istri bernama Suniti dan Suruchi. Suniti sangat bijaksana dan penuh dengan kebaikan sedangkan Suruchi adalah permaisuri kesayangan raja. Suniti memiliki putra bernama Dhurvan dan Suruchi memiliki putra bernama Uttaman.

Suatu hari Dhurvan yang baru berusia lima tahun berlari ke istana raja. Dia melihat Uttaman bermain di pangkuan raja. Ratu Suruchi berdiri di samping raja mengagumi anaknya Uttaman. Dhurvan juga menginginkan untuk dapat duduk di pangkuan ayahnya. Dia bergegas naik ke pangkuan ayahnya dan berkata “’Biarkan aku duduk di pangkuan Anda juga!

‘Berhenti!’ Ratu Suruchi memerintahkan. “Anda tidak memiliki kualifikasi untuk duduk di pangkuan Raja!” Katanya sambil menyeret Dhurvan ke bawah.

Raja melihat kesedihan di wajah Dhurvan, tetapi masih menahan diri untuk membelanya karena dia tidak ingin berdebat dengan istrinya.

Ratu Suruchi berkata : “Anda hanya bisa duduk di pangkuan raja jika Anda anakku! Pergi ke hutan, bertapa  kepada Tuhan dan mencari anugerah untuk mengambil kelahiran sebagai anakku”

Dhurvan merasa marah dan terhina. Dia merasa sedih, bahkan ayahnya tidak membelanya. Dia berlari untuk menemui ibunya Suniti dengan air mata berlinang. Suniti mengangkat Dhurvan ke pangkuannya dan menghiburnya.

Ibu Suniti berkata : “Ibu tiri Anda benar,” katanya sambil mengguncang anak dalam pelukannya. “Kau harus pergi ke hutan untuk bertapa  pada Tuhan tetapi mengabaikan bagian kedua dari sarannya. Jika Tuhan senang denganmu dan muncul di depanmu, kamu bisa bermain di pangkuan Tuhan, lalu apakah kamu masih memiliki kebutuhan untuk lahir kembali sebagai anak Suruchi agar dapat bermain di pangkuan raja? Bila kamu telah memperoleh Tuhan sendiri, tidak perlu bagimu untuk mencari kasih sayang dari ayahmu. ”

Dengan demikian, Suniti menyuruh anaknya ke hutan. Dhurvan yang baru berusia lima tahun berjalan ke hutan dengan tekad yang kuat. Raja khawatir ketika mendengar tentang perjalanan anaknya ke hutan tetapi Ia tidak menghentikannya.

Dewa Wisnu melihat Dhurvan berjalan menuju hutan. Tuhan memandang Dhurvan dengan belas kasih dan meminta Rsi Narada untuk mencegah Dhurvan bertapa  di hutan.

Dhurvan bertemu dengan Rsi Narada. Rsi Narada berkata “Mau Kemana anakku? Apakah semua orang di rumah baik-baik saja? Bagaimana dengan orangtuamu? Mengapa kamu marah?” sebelumnya Dhurvan telah banyak belajar dari Para Rsi yang mengunjungi istana untuk menyampaikan Dharma. Dhurvan menjawab : ‘Terimalah hormat saya, “kata Dhurvan. “Hal ini tidak perlu saya memberitahukan Anda tentang apa-apa karena Anda sudah mengetahui tentang segala sesuatu.”

Narada menjawab :  ‘Ya, Saya mengetahui tentang segala sesuatu seperti yang Anda katakan, “kata Rsi Narada. ‘Kembali ke rumah. Saya akan berbicara dengan ayahmu dan memintanya untuk memperlakukanmu dengan baik. Ibumu akan membuat makanan yang lezat untukmu karena dia akan sangat senang kamu berada di rumah yang aman dan sehat. Rsi Narada ingin menguji tekad Dhurvan untuk bertapa dan mencapai Tuhan.

“Saya tidak lagi tertarik pada mainan atau makanan. Yang saya inginkan adalah untuk mendapatkan kasih karunia Tuhan. ‘

‘Saya setuju dengan Anda, tapi itu tidak benar untuk meninggalkan rumah tanpa persetujuan dari orang tuamu.’

Ibu tiri yang menyuruh saya untuk bertapa dan mencari Tuhan. Ibu saya sendiri setuju dengan dia dan ayah saya tidak keberatan. Saya punya izin mereka untuk melanjutkan perjalanan ini!’

Nak, lupakan kemarahan dan penghinaanmu. Kembalilah pada ayahmu. kamuseorang anak dan kamu tidak perlu merasa malu. Anak-anak dan seorang Yogi adalah sama karena mereka tidak perlu merasa malu, “kata Rsi

Dhurvan bersujud kepada Rsi Narada dan berkata, ‘tolong jangan meminta saya untuk kembali! Saya ingin bertemu Tuhan. Mohon menunjukkan saya jalan untuk mendapatkan kasih karunia Tuhan. Aku tidak akan bertemu Tuhan, jika engkau tidak memberkatiku. Jangan tinggalkan aku tapi tunjukkan jalan untuk mencapai kaki Tuhan dengan mudah. ”

Merasa senang dengan tekad Dhurvan, Rsi Narada memberikan Dhurvan Mantram Dwadakshari. ‘Carilah tempat yang damai di hutan dan bertapalah dengan mengucapkan “Om namo Bhagavate Vâsudevâya'”. Tuhan akan muncul di depanmu memakai mahkota tinggi dihiasi dengan permata paling berharga, mengenakan sutra kuning, Dia akan mengenakan karangan bunga besar terdiri dari melati segar, kelopak mawar, kelopak bunga teratai, Spanyol Cherry (Magizham poo), Screwpine (Thazham poo), Ylang Ylang (manoranjitham), India Magnolia (shenbagappoo) dan kemangi suci (Tulasi), Dia akan memakai ornamen yang indah, kalung, ikat pinggang emas, kalung dan gelang. Pakaian kuning akan pujian kulit hitam yang cantik. Dia akan memegang chakra Sudarsana, terompet kerang-Nya, gada dan bunga Lotus di masing-masing empat tangan-Nya sebagai ornamen. Visualisasikan bentuk Tuhan dan lantunkan Mantra tersebut.

Rsi Narada kemudian meninggalkannya dan pergi untuk bertemu dengan Raja Uttanapada memastikan bahwa raja tidak mengirim anak buahnya untuk memanggil Dhurvan kembali ke istana. Rsi Narada ingin Dhurvan berhasil dengan tapanya.

Raja Uttanapada menyambut Sang Rsi.

‘Apakah semuanya baik-baik saja? Anda tampaknya tertekan? “Tanya Rsi Narada.

“Putraku berusia lima tahun telah pergi. Ibunya memberitahu saya bahwa dia telah pergi ke hutan. Saya merasa khawatir. Satu-satunya hal yang Dhurvan inginkan adalah untuk duduk di pangkuanku tetapi Ratu Suruchi mencegahnya.  Aku melihat kesedihan di wajah Dhurvan ketika aku tidak membelanya. Itulah terakhir kali saya melihat anak saya! Akankah saya melihat anak saya lagi? Di mana saya harus mencari dia?

“Jangan khawatir. Anda tidak menghargai Dhurvan ketika ia berada di sini tetapi Anda merindukannya sekarang karena ia telah meninggalkan rumah. Jangan khawatir tentang keselamatannya. Anda berpikir bahwa Anda sebagai orangtua melindungi dia tapi pelindung yang sebenarnya adalah Tuhan yang melindungi Dhurvan sejak Dhurvan berada di rahim ibunya. Dia akan segera kembali ke rumah; oleh karena itu, jangan khawatir tentang Dhurvan. Setelah mendapat petunjuk dari Rsi  Narada, Dhurvan menemukan tempat yang damai di hutan. Dia duduk di bawah pohon. Dia berdiri dengan satu kaki ketika bertapa. Tapa Dhurvan ini begitu kuat hingga Bumi menjadi miring ke arah kaki Dhurvan yang menyentuh tanah. Dan ketika Dhurvan mengganti kakinya, Bumi terbalik kemiringannya ke arah kaki Dhurvan yang lain. Selama satu bulan pertama ia makan buah setiap tiga hari. Bulan kedua ia mengurangi makanannya dan hanya makan daun setiap enam hari. Bulan ketiga ia hanya meminum setetes air setiap sembilan hari. Bulan keempat ia hanya makan dari udara. Pada bulan kelima ia mampu mengendalikan rasa laparnya secara utuh. Selama bulan keenam panas yang dihasilkan dari intensitas tapa Dhurvan membuat para Dewa cemas. Deva Indra mendekati Vishnu karena merasa cemas Dhurvan sedang bertapa  untuk menjadi Indra. “mohon bantu kami untuk menghentikan tapanya. Indra memohon. Engkau dapat melakukannya sendiri.  Anda sendiri telah berhasil menggagalkan tapa dari resi besar mengapa Anda membutuhkan bantuan saya sekarang? “jawab Vishnu. ‘Kita tidak dapat melakukan apa-apa dengan anak ini! ” Apakah Anda tahu mengapa usaha Anda tidak berhasil?” Tidak, jawab para Dewa sambil membungkukkan kepala. ‘Itu karena Aku bersemayam  dari dalam hati Dhurvan. Anda tidak pernah bisa merusak tapaku, jawab Vishnu. Mengapa kamu bertapa?’ ‘Jika lebih penting bagi Dhurvan untuk bertemu saya maka ia harus bertapa  pada saya tapi sepertinya saya juga rindu untuk melihat Dhurvan, maka saya bertapa  dari dalam hatinya ! pemuja kesayanganku hanya seorang anak dan tidak tahu bagaimana cara bertapa  pada saya. sebagaimana seorang ibu membimbing tangan anak saat mengajarinya bagaimana menulis, saya membimbing Dhurvan dari dalam dan saya mengajarinya seni meditasi. Anda tidak perlu khawatir, “jawab Vishnu, ‘bahkan jika Anda pergi dan menampakkan diri di depan Dhurvan, dia tidak akan menerimanya. Dia sedang menjalani tapa yang berat untuk bertemu saya! Saya sedang menunggu Anda untuk datang ke saya agar saya dapat mengungkapkan kualitas Dhurvan untuk Anda! ‘Vishnu memutuskan untuk memberikan dharshan kepada Dhurvan. Ketika Dhurvan asyik dalam meditasi dengan pikirannya tertuju pada bentuk indah dari Tuhan yang berada di dalam hatinya, Vishnu menampakkan diri di depan Dhurvan. Segera Dhurvan membuka matanya dan melihat Tuhan di atas vahana Garuda berdiri di depannya. Tuhan datang dengan kendaraan Garuda untuk menunjukkan kasih-Nya bagi Dhurvan. Dia dapat berwujud dari sebuah pohon, rumput atau bahkan jantung Dhurvan ataupun wujud lain. Rsi  Narada tidak  mengatakan kepada Dhurvan bahwa Tuhan akan datang di atas Garuda, maka Dhurvan menutup matanya kembali dan berpikir bahwa itu adalah Dewa lain yang berdiri di depannya untuk mengganggu tapanya. Tuan memahami kebingungan Dhurvan, Ia kemudian meminta Garuda untuk berdiri di pinggir dan sekali lagi memberi dharshan kepada Dhurvan. Anak itu dipenuhi dengan air mata kebahagiaan. Dia merasakan cintanya kepada Tuhan dan berharap bahwa ia memiliki pengetahuan untuk menulis Slokas menyanyikan kemuliaan Tuhan. Tuhan menyentuh pipi Dhurvan dengan terompet kerang Panchajanyam-Nya. Terompet keang Panchajanyam adalah kursi Agung Pengetahuan (Vedam); bahkan terlihat seperti aksara “Om”. Begitu Tuhan menyentuh pipi Dhurvan, Dhurvan memperoleh pengetahuan dan mulai menyanyikan pujian kepada Tuhan. Seseorang yang telah membangunkan saya dan membuat saya berbicara. Untuk orang yang mengendalikan inderanya dan memusatkannya pada-Ku, kepadanya saya bersembah sujud! Saya menyadari bahwa segala sesuatu terjadi karena Sankalpam (Tapa Brata) Anda. Anda mengarahkan ibu tiri saya, sehingga is menyuruh saya untuk bertapa dan memuja Anda. Anugrah Anda membuat orang tua saya membiarkan saya datang ke sini untuk bertrapa dan merenungkan Anda karena kalau tidak, mereka tidak akan pernah mengizinkan saya keluar dari pandangan mereka! Biasanya aku bahkan tidak bisa menahan lapar selama beberapa menit tapi aku bisa mengontrol rasa lapar saya selama enam bulan bukan karena usaha saya tetapi karena Anda bertapa  dari dalam diri saya! Anda melakukan semua ini untuk membuat saya mencari kaki ilahi Anda! Bahkan yogi dan resi tidak dapat melihat Anda setelah melakukan penebusan dosa selama ribuan tahun tetapi karena kasih sayang Anda, saya telah memperoleh Darshan Anda dengan sangat mudah! “” Aku tahu apa yang Anda inginkan, ‘kata Tuhan. “Kau ingin datang kepadaKu tetapi Aku idak bisa memenuhi keinginan Anda. Jika saya lakukan, orang akan mengatakan bahwa saya mengambil anak berusia lima tahun dari dunia ini. Sebaliknya, saya akan memenuhi keinginan Anda setelah setiap orang di dunia ini mendengar tentang sejarah Anda dan akan termotivasi untuk menjadi Pemuja setia seperti Anda dan dengan demikian Anda akan menjadi seorang raja yang agung. Setelah hidup Anda di sini selesai, Anda akan mencapai Dhurvasthanam bersama dengan ibumu dan Saptha Resi akan mengelilingi Anda. Setelah tinggal di sana untuk sementara waktu Anda akan datang kepada saya. ibu tiri Anda Suruchi akan sangat sayang kepada Anda. Uttaman kakakmu akan mati saat berburu di hutan. Dia akan dibunuh oleh seorang pelayan Kubera. Anda akan berperang melawan Kubera tetapi akan berhenti berperang setelah disarankan oleh kakekmu Swayambhuva Manu. ‘Tuhan memberkati Dhurvan dan memintanya untuk kembali ke istana ayahnya. ‘Ayahmu mencarimu. Engkau akan disambut dengan cinta oleh orang tuamu termasuk ibu tirimu. Engkau akan memerintah kerajaan ayahmu. Setelah menyelesaikan waktumu di bumi, Engkau akan mencapai planet yang disebut “Dhruva padam” dan tinggal menetap di sana selama bertahun-tahun. Setelah Anda menyelesaikan waktu Anda di sana, Anda akhirnya akan mencapai tempat tinggalku. Setelah itu Tuhan lenyap dari pandangan Dhurvan. Dhurva akhirnya kembali ke rumah. Dhurvan tidak senang karena Tuhan telah menipu dia dengan memberinya kekayaan materi bukan dirinya. Sebagaimana Tuhan sampaikan Ia disambut oleh orang tuanya serta ibu tiri dengan cinta dan kasih sayang. Setelah menyelesaikan waktunya di bumi, ia pergi ke planet dan di jemput oleh Wisnu Dhuta, Nandan dan Sunandan. Sebagaimana dikatakan oleh Tuhan ia akan tinggal sebagai bintang yang bersinar. Sebelum Dhurvan naik vimanam (Kapal terbang) untuk pergi ke Dhruvasthanam seorang pria mendekatinya dan berkata, ‘mohon letakkan kaki Anda di kepala saya, Siapa Kau? ‘tanya Dhurvan. ‘Aku adalah Yama penguasa kematian; Anda telah mengalahkan saya. ‘Bahkan setelah bertemu Tuhan, Dhurvan tidak meminta Moksha, ia tidak menerima Mukthi saat itu juga. Jadi kita diajarkan untuk melayani kaki Padma Tuhan dan hanya mencari-Nya dengan demikian pada akhirnya kita juga akan mencapai Moksha.

dhurva-and-vishnu

Makna Esoteris :

Uttanapadan mengacu pada “Tempat Mulia” yang merupakan “Vishnu Padam” atau alam Vishnu. Tempat seperti ini hanya tersedia untuk jiwa yang telah sadar akan jati dirinya. Uttaman berarti ” Ia yang tercerahkan” dan dia memenuhi syarat untuk tinggal di Vishnu Padam. Dhurvan berarti stabil. Dhurvan bertekad untuk mendapatkan Wisnu Padam dan mencoba untuk duduk di pangkuan Uttanapadan. Ibu tirinya, Suruchi meminta dia untuk pergi karena dia tidak memenuhi syarat untuk duduk di pangkuan raja. Suruchi berarti “good taste” dan juga berarti “orang yang mengucapkan kata-kata yang baik” atau “orang yang menunjukkan jalan yang benar”. Jadi Suruchi menunjukan Dhurvan ke jalan yang benar untuk memperoleh Vishnu padam karena dia adalah orang pertama yang memerintahkan Dhurvan untuk bertapa  kepada Tuhan. Suniti berarti “Pengetahuan yang baik/benar”; dia juga nasehati Dhurvan mengikuti saran Suruchi dan untuk bertapa  kepada Tuhan. Dhurvan bertemu dengan Rsi Narada.

Jadi kita semua terlahir ke dunia ini untuk mengetahui tentang pentingnya seorang “Guru” atau Acharya yang akan memandu dan memberikan kita “mantropadesam” mantra yang sesuai dengan diri kita untuk dapat mencapai Tuhan. Sesuai saran dari Rsi Narada, Dhurvan memilih tempat yang damai di hutan dan dengan mengucapkan mantram dengan benar ia mencapai Tuhan. Dhurvan disambut oleh Uttanapadan karena ia telah menjadi berkualitas; dan tercerahkan. Dhurvan dituntun untuk dapat bersinar di langit sebagai bintang kutub dan membuktikan bahwa dengan ketekunan ia telah mencapai keabadian di Vishnu Padam.

 

Phala Shruthi:

Siapapun yang mendengarkan Kisah ini akan mendapatkan ketenaran, umur panjang, kemurnian, kualitas hidup yang baik, akan selalu aman, dan akan memiliki kepribadian yang hebat. Karena ini adalah sejarah Vishnu dan pemuja-Nya, dengan mendengarkan kisah ini seseorang akan tetap tenang, hidup bahagia dan semua dosa-dosanya dihancurkan. Orang yang mendengarkan / membaca kisah ini dengan kesadaran penuh akan menjadi seorang bhakta sejati

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ;

Sarve santu nirāmayāḥ;

Sarve bhadrāṇi paśyantu;

Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet;

Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

 

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Di terjemahkan oleh Ni Made Adnyani, S.Ag

Sumber : http://thoughtsonsanathanadharma.blogspot.co.id/2013/06/srimadh-bagawatham-dhruva-charitram.html

SHIVARATRI : MERAIH ANUGRAH DAN PEMBEBASAN

 

images-1

Om Swastyastu

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu:

Saha vīryam karavāvahai;

Tejasvi nāvadhītamastu;

Mā vidviṣāvahai.

Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Krishna Yajurveda Taittiriya Upanishad (2.2.2)

 (Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama, belajar bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Sembah sujud kepada Guru alam semesta, pada hari yang berbahagia ini ijinkan saya merangkum dan menulis ulang pemahaman tentang hari Shivaratri untuk meraih anugrah dan pembebasan. Sebelum mengulas tentang Sivaratri, mengapa pemujaan Shiva adalah yang terpenting di Indonesia? Kitab mana yang menunjukkan pemujaan Shiva?

Dalam Catur Veda (Rg Veda, Yayur Veda, Sama Veda, Atharva Veda), tidak ada disebutkan tentang Dewa Shiva. Dewa yang populer dalam Catur Veda adalah Agni, Marut, Varuna dan Indra. Namun secara periodenisasi, Catur Veda digunakan oleh kaum arya dan Kitab Shiva digunakan oleh kaum Dravida. Sebagaimana diketahui bahwa kaum Dravida adalah suku asli yang berada di lembah sungai Sindhu. Peradaban tertua umat manusia. Sehingga Shivaistik jauh lebih tua dari pada Catur Veda. Dalam penelitian antropologi, pemujaan Shiva pernah populer di Perancis (Parameswara) dan arab (Arvasthan). Shivaistik adalah agama yang dianut oleh kaum Dravida. Dalam pengelompokan Deva Vedik dan Deva puranik, Shiva adalah kelompok Deva Puranik. Karena itu Shivaratri atau malam Shiva banyak ditemukan dalam kitab – kitab Purana.

Pada jaman Krta Yuga digunakan kitab Catur Veda, Treta Yuga menggunakan Manawa Dharmasastra, Dvapara Yuga menggunakan Itihasa dan Purana sedangkan pada Jaman Kali Yuga mengguanakan kitab – kitab agama seperti Shivagama. Di Indonesia menurut Ghoris terdapat 9 aliran atau sekte. Dan yang terbesar adalah sekte Shiva Sidanta. Karena itu, pemujaan kepada Shiva adalah yang terpenting. Sebagai contoh Tri Murti, secara Theologi, dalam paham shivaistik di Indonesia, Brahma, Vishnu dan Rudra adalah subordinasi daripada Shiva.

Shivaratri dirayakan pada Panglong ke-14 bulan ketujuh dalam sistem kalender saka yang digunakan di Indonesia. Perayaan Shivatari yang kita rayakan hari ini, 26 Januari 2017 adalah merujuk kepada Kakawin Shivaratri Kalpa (Bagian dari Utarakanda dalam Padma Purana) yang ditulis oleh Mpu Tanakung adalah karya sastra berbahasa Jawa Kuno yang dibentuk dari 20 Wirama serta 232 bait. Kakawin Shivaratri Kalpa ini adalah kakawin yang sangat unik dimana dalam karya sastranya menggunakan manusia biasa dan bahkan manusia “papa” sebagai tokoh yang mampu mencapai pembebasan. Kakawin yang sarat dengan kisah perjalanan sang Lubdaka (Lubdaka artinya Pemburu), seorang pemburu yang menemukan pembebasannya dengan melakukan pemujaan pada malam yang tergelap ini.

Sumber lain yang menjadi rujukan perayaan Shivaratri adalah 4 sumber sastra yaitu Padma Purana, Garuda Purana, Shiva Purana, dan Skanda Purana. Di Bali, dapat kita temukan sumber sastra yaitu Lontar Lubdaka Carita (milik Fakultas sastra unud no. 774) dan Lubdaka Gending (nomor 775) dan ada juga Lontar Aji Brata (milik gedong Kritya Singaraja).

Sesungguhnya banyak kisah – kisah serupa yang bertema pembebasan yang dimuat dalam kitab suci Veda yang nilainya serupa dengan kisah Lubdaka. Diantaranya :

  1. Dalam Garuda Purana (dalam percakapan antara Shiva dan Parwati) dikisahkan seorang Raja dari para Nisadha bernama Sundarasena yang membawa anjingnya untuk pergi berburu ke dalam hutan, akan tetapi ia tidak mendapatkan satu buruanpun. Kemudian tuan dan anjingnyapun kelaparan dan kehausan. Ditengah hutan mereka menemukan Shiva Lingga dibawah pohon Bila. Ketika ia memasuki semak – semak, daun pohon Bila berjatuhan dan menimpa shiva linggam, secara tidak sengaja sebuah anak panah jatuh dari tangan Sundarasena, dan ketika hendak mengambil anak panah itu, ia menyentuh Linggam. Kemudian Sundarasena pulang dengan tidak membawa satu buruan pun. Setelah beberapa waktu, Sundarasena meninggal dunia dan oleh pengawal Shiva dibawa ke Shiva loka karena telah melakukan pemujaan pada malam Shiva dan jivanya mencapai pembebasan.
  2. Dalam Shiva Purana (dalam percakapan Suta dengan seorang Rsi) dikisahkan tentang seorang vangsa Nishada bernama Rurudruha pergi ke hutan untuk berburu dan tidak mendapat 1 buruanpun. Lalu ia pergi mencari sumber air, jika mungkin akan ada binatang yang minum air di malam hari. Disamping sumber air ada pohon. Rurudruha naik keatas pohon, lalu ada seekor kijang betina mau minum air, dan Rurudruha melihat kijang itu lalu bersiap memanah kijang tersebut. Kijang betina itupun melihat Rurudruha diatas pohon, lalu berbicaralah sang kijang: “wahai manusia, janganlah kau bunuh aku sekarang, berikan aku air, lalu ijinkan aku untuk pulang dan meminta ijin kepada anak dan suamiku, setelah itu aku akan kembali dan kau boleh membunuhku. Rurudruha sangat terkejut melihat seekor kijang bisa berbicara seperti manusia. Ia membiarkan kijang pergi. Beberapa saat kemudian kijang datang bersama anak dan suaminya dan berkata kami siap dibunuh. Saat itu Rurudruha terenyuh dan tumbuh kasih sayang di dalam dirinya. Kijang tidak jadi dibunuh. Kemudian ketika ia akan pulang, tiba – tiba kijang berubah menjadi Vidyadara dan Vidyadari, datang kereta dari kahyangan menjemput kijang. Sejak saat itu, Rurudruha berhenti membunuh dan terus menumbuhkan kasih di dalam dirinya. Setelah meninggal, atmannya memasuki sorga.
  3. Dalam Skanda Purana yaitu percakapan antara Lomasa dengan para Rsi yang menceritakan si Chanda yang jahat, pembunuh para Brahmana namun akhirnya ia mencapai pengetahuan dan mengerti tentang kebenaran

Merujuk kepada Kakawin Shivaratri Kalpa, rangkaian perayaan Shivaratri di Indonesia dilaksanakan berupa persembahyangan dan praktik Sadhana berupa Mona, Upavasa dan Jagra. Mona dan Upavasa dilakukan selama 24 jam yaitu pagi hari pada panglong ke 14 sampai dengan pagi hari pada panglong ke 15 (pagi hari tanggal 26 januari sampai pagi hari tanggal 27 januari 2017). Sedangkan Jagra dilakukan selama 36 jam yaitu pagi hari pada panglong ke 14 sampai sore hari pada panglong ke 15 (pagi hari tanggal 26 januari sampai sore hari pada tanggal 27 januari 2017). 36 jam juga bermakna 3 + 6 = 9 yaitu 9 lubang (2 mata, 2 telinga, 2 hidung, 1 mulut dan 2 alat pelepasan). Men-Jagra-kan 9 lubang. Menjadikannya sadar akan keterbatasan indra – indra tersebut.

Pada tingkatan utama, para sadhaka atau para bhakta dapat mempraktekkan ketiganya (Mona, Upavasa, dan Jagra). Pada tingkatan Madya, sadhana yang dilakukan yaitu upavasa dan jagra. Sedangkan pada tingkatan nista para sadhaka  cukup mempraktekkan jagra yaitu tidak tidur selama 36 jam. Kegiatan yang dapat dilakukan selama jagra adalah chanting, japa, nama smaranam dan Sadhana lainnya. Semua sadhana dilakukan sesuai dengan kemampuan masing – masing individu. Kualitas dari pada sadhana, ada pada apa yang dirasakan setelah bersadhana, apakah tumbuh kasih, atau yang lainnya?

Sebutan Shivaratri sungguh unik. Selain bermakna malam shiva juga memiliki makna lain dalam memahami kehidupan yang pada intinya, Mpu Tanakung mengajak kita untuk mempelajari dan membedah persoalan hidup yang berasal dari dualitas, dua hal yang saling bersebrangan tetapi berpasangan yaitu suka-duka, lahir mati, sehat sakit, siang malam  dan lainnya yang kesemuanya adalah tentang Shiva dan Ratri. Shiva adalah representasi dari siang, kesadaran, cinta kasih, kebajikan, kebenaran, tanpa kekerasan, kedamaian, kebahagiaan dan segala yang dipandang sebagai nilai luhur. Sedangkan ratri adalah malam, kealpaan, kegelapan, kebencian, kekerasan, kebiadaban dan segala yang bernilai rendah lainnya. Sehingga shivaratri adalah realitas hidup. Shivaratri adalah hari dimana kita merenungkan dan atau memaknai ketidakabadian atau kesementaraan daripada dualitas untuk kemudian kita mencari pembebasan, meraih anugrahNya. Demikianlah budaya leluhur mengajarkan kita.

Sebagai perbandingan, kita akan mengenal Shivaratri di India. Mahashivaratri akan dirayakan pada 24 February 2017. Penetapan tanggal ini berdasarkan kalender Hindu India selatan dan India Utara. Menurut kalender India Selatan, Mahashivaratri jatuh pada Chaturdasi Krishna Paksa pada bulan Magha, sedangkan menurut Kalender India Utara jatuh pada Bulan Phalguna. Meski berbeda bulan, namun mereka merayakan Mahashivaratri pada hari yang sama yang jatuh antara bulan Februari dan Maret. (http://www.drikpanchang.com/festivals/maha-shivaratri/maha-shivaratri-date-time.html)

Mahashivaratri diyakini sebagai hari kasih sayang dan penuh karunia yang merupakan simbol hari pernikahan (wedding day) Shiva dan Parwati. Sehingga disebut sebagai festival shiva shakti. Banyak orang meyakini bahwa pada hari Mahashivaratri, Shiva sedang menarikan Tandava Nritya yaitu sebuah Tarian kuno tentang penciptaan, pemeliharaan dan sekaligus peleburan.

Pada hari Mahashivaratri, masyarakat India melakukan beberapa sadhana yaitu makan hanya 1 kali pada sehari sebelum Mahashivaratri, lalu pada hari Mahashivaratri para bhakta melakukan Sankalpa yaitu puasa penuh selama 36 jam. Selama perayaan, masyarakat India akan melakukan pemujaan di kuil Shiva dan menyucikan Linggam dengan pancagavya yaitu susu, yogurt, ghee/mentega, dung/gomaya, dan Madu. Kemudian mereka juga akan melakukan persembahan berupa daun Bilva yang merupakan perwujudan dari laksmi, daun keberuntungan. Para gadis akan melakukan pemujaan kepada Parwati yang disebut sebagai Gaura untuk mendapatkan suami yang baik, pernikahan yang ideal dan kebahagiaan dalam rumah tangga (http://www.mahashivratri.org/when-is-shivaratri.html)

download

Perayaan Shivaratri di India maupun di Indonesia memiliki spirit yang sama yaitu pemujaan kepada Shiva, Perwujudan Tuhan sebagai Pendaur Ulang energy negatif. Shiva sebagai Nilakantha, yang berleher biru karena meminum air yang terkontaminasi toxin atau racun, memberi inspirasi bahwa manusia mesti berkarya melampaui ego dan menjadi berkah bagi semuanya.

Manusia lahir dalam kegelapan, Shivaratri hadir untuk menghapus kegelapan. Inilah berita baiknya. Kita semua adalah para Lubdaka (pemburu) di jaman modern. Jaman dimana kita setiap hari bertarung untuk memenangkan sifat – sifat baik dan mulia (Suri/Daivi Sampad) terhadap sifat – sifat buruk (Asuri Sampad) yang ada di dalam diri. Kita tidak lagi pergi ke hutan, melainkan kita harus memahami hutan belantara pikiran. Tubuh hadir untuk melayani pikiran dan pikiran hadir untuk melayani jiwa. Dalam hutan belantara pikiran, terdapat binatang buas yaitu kebuasan nafsu berupa kama, krodha dan lobha seperti diuraikan dalam Bhagavad Gita, 16.21 :

tri-vidhaḿ narakasyedaḿ dvāraḿ nāśanam ātmanaḥ

kāmaḥ krodhas tathā lobhas tasmād etat trayaḿ tyajet

Terjemahan :

Hawa nafsu, amarah dan lobha, ini semua adalah tiga jenis pintu gerbang masuk ke neraka, yang menyebabkan sang roh semakin mengalami kejatuhan. Oleh karena itu, tinggalkanlah segera ketiga jenis sifat – sifat tidak terpuji itu

Untuk menghindari 3 pintu gerbang neraka, marilah tumbuhkan kasih sayang dalam diri kita masing – masing dengan cara terus mempraktikkan Sadhana, mengendalikan indria dan mempraktikkan Yoga dalam hidup sehari – hari.

Selamat hari Kasih Sayang, hari Shivaratri.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ;

Sarve santu nirāmayāḥ;

Sarve bhadrāṇi paśyantu;

Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet;

Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Bacalah Bhagavad Gita, Hyang Widhi akan sangat MengasihiMu

“Barangsiapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku lewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) – demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70 Bagi Krsna, menghaturkan sesajen tidaklah mesti dalam bentuk bunga, air, dupa, dan sebagainya. Sembahyang tidak harus dalam bentuk ritus tertentu. Persembahan juga bisa dalam bentuk studi. Mempelajari sesuatu yang membantu Kesadaran Jiwa, adalah […]

melalui Pembaca Gita adalah Seseorang yang Dikasihi-Nya #BhagavadGita — Gita Kehidupan Sepasang Pejalan

SANG KÃLA (SANG WAKTU)

Kita semua dilahirkan pada waktu tertentu. Matipun pada waktu tertentu. Diantara titik kelahiran dan kematianpun kita memiliki waktu tertentu. Ada keterbatasan dalam apa yang kita miliki. Karena itu kita sering mengatakan, waktu kita terbatas. Dan bahkan setiap hari kita merasa dikejar oleh sang Waktu? Mengapa? Siapakah Sang Waktu? Mengapa waktu dapat mengejar kita?

Hari – hari terakhir di penghujung tahun, begitu terasa bahwa tahun ini akan segera berakhir. Lalu kita akan memasuki kembali tahun yang baru, awal yang baru. Pada moment tutup tahun inilah kita perlu merenungkan tentang waktu. Kita sudah menggunakan waktu kita untuk apa saja, dan bagaimana kita menggunakan waktu.

Dalam kehidupan ini, kita memiliki rencana – rencana dan harapan – harapan. Ketika sebuah rencana berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka kita akan bahagia dan apabila suatu rencana tidak berjalan sesuai dengan rencana maka kita akan kecewa yang kemudian kita akan menganalisa atau mengevaluasi serta menemukan kelemahan – kelemahan. Dalam banyak situasi, kita sering menyimpulkan bahwa persiapan belum baik, waktu terbatas dan lain sebagainya.

Definisi Waktu Dalam Filsafat Timur

Waktu dapat diukur, seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad dan seterusnya. 1 jam adalah 60 menit. Semua orang memiliki waktu yang sama. tetapi selalu ada perbedaan dalam menjalaninya. Misalnya 1 jam dalam kemacetan berbeda dengan 1 jam bersama kekasih. Inilah konsep waktu yang sangat subyektif.

Di Barat, menurut Kant, Waktu ada dalam pikiran manusia. Tidak terpisahkan dari pikiran manusia. Dan pikiran eksis dalam ruang. Sehingga waktu dan ruang tidak di pisahkan. Demikian juga menurut Albert Einstein, Ia menyebutkan sebuah konsep ruang-waktu.

Di Timur (peradaban India – Veda), konsep waktu sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Sejak veda turun, konsep waktu sudah ada. Diketahui dalam Jyotisa (ilmu Perbintangan) bahwa satuan waktu terkecil adalah 1 Nimesa atau 1 kerlipan mata. Waktu menurut filsafat Timur adalah persepsi manusia yang tidak dipisahkan dari manusia itu sendiri. Sehingga lahirlah pemahaman Waktu adalah Aku dan Aku adalah Waktu. Ini memiliki makna yang sangat dalam.

Jika barat mempopulerkan waktu adalah uang atau waktu adalah peluang/kesempatan, maka lahirlah generasi hedonis dan materialis. Pandangan waktu sebagai sesuatu yang lurus dan terbatas layaknya sumber daya inilah yang membuat kita merasa dikejar oleh Waktu. Muncul berbagai kegelisahan. Ini tidaklah universal.

Tetapi timur, waktu adalah aku. Aku dan waktu tak terpisahkan. Aku tak dikejar oleh waktu, aku bahagia dalam waktu dalam kekinian bhatin. Sehingga tolak ukurnya adalah bahagia atau tidak.

Secara universal, waktu dipandang sebagai sebuah lingkaran, tidak terpisahkan, tidak ada batas yang jelas antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Waktu adalah kontinuitas. Segala sesuatunya berjalan, mengalir…

Merujuk kepada Bhagavad Gita, 

Waktu disebut kan dalam Sloka Bhagavadgita X.30 menyatakan Tuhan adalah Sang Waktu; juga sloka Bhagavadgita X,33 menyatakan Tuhan adalah Sang Waktu yang Kekal Abadi; dan sloka Bhagavadgita XI.32 menyatakan juga bahwa Tuhan adalah Sang Waktu yang Maha Perkasa. Waktu adalah Tuhan, Tuhan adalah Waktu. 

Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Secara alamiah, ketika kita memikirkan masa lalu, kita akan merasa cemas. Ada rasa penyesalan dan lain sebagainya. Dan ketika kita memikirkan masa depan, kita juga memikirkan rencana – rencana atau ambisi – ambisi yang kita belum tahu bagaimana memulainya, apakah bisa atau tidak. Dan muncul pula kecemasan. Masa lalu dan masa depan sesungguhnya tidak ada. Keduanya hanya datang dan pergi dalam pikiran. Muncul dan lenyap dalam pikiran. Yang eksis sesungguhnya hanyalah masa kini. Jika yang ada hanyalah masa kini, maka aku adalah waktu, aku dan waktu adalah satu. Waktu yang sesungguhnya amat sangat bergantung pada cara kita menjalani hidup ini.

Dalam menjalani kehidupan ini, jika kita memilih untuk menjalani hidup dengan pikiran – pikiran akan masa lalu maka masa kini kita akan lenyap  dan kita hidup dalam penindasan oleh masa lalu kita sendiri. Sedangkan jika kita memilih untuk menjalani hidup dengan pikiran – pikiran di masa depan maka kita akan dibebani oleh ambisi dan rencana. Kita akan kehilangan masa kini. Sepanjang hari kita akan bergulat dengan rencana dan ambisi, ketegangan dan kecemasan menguasai hidup kita. inilah yang disebut sebagai membuang – buang waktu berharga kita. mengabaikan masa kini kita.

Masa lalu dan masa depan sungguh dapat menciptakan penderitaan dalam bhatin kita. lalu bagaimana seharusnya? Menjadi alamiah. Lakukan yang terbaik disini dan saat ini. Tanpa beban masa lalu dan ambisi masa depan. Kita punya ingatan masa lalu tetapi tidak dijajah oleh masa lalu dan kita punya harapan masa depan tetapi tidak hidup dalam bayang – bayang.

Mengutif dari apa yang disampaikan oleh S. Radhakrishnan :

Learn from the past without regret. Plan for the future without anxiety. Live in the present in full conciousness.

Belajarlah dari masa lalu tanpa penyesalan. Rencanakan masa depan tanpa kekhawatiran. Hiduplah di masa kini dengan penuh kesadaran. This moment is your moment.

Pesan – pesan ini untuk kita renungkan bersama dalam mengarungi hari dalam penutupan tahun ini. Demikian pula dalam menyambut acara metatah bersama ini, kita gunakan moment ini dengan sebaik – baiknya. Kita fokuskan kesadaran pada kesakralan acara ini. Kita bersatu padu dalam satu energy yang sama untuk kesuksesan acara kita nanti.

GIITAA MAHATMYA

Sloka 1

Dharo’vaacha:

Bhagavan parameshaana bhaktiravyabhichaarinee;

Praarabdham bhujyamaanasya katham bhavati he prabho.

 

Bhumi, Ibu Pertiwi berkata : Oh Tuhan, O Yang Maha Kuasa! Mohon menjelaskan kepada hamba, bagaimanakah seseorang dapat mengembangkan rasa cinta kasih bhakti yang tidak tergoyahkan kepada Anda, sementara ia sibuk dalam berbagai kegiatan di dunia material ini?

 

Sloka 2

Sri Vishnur uvaacha:

Praarabdham bhujyamaano hi geetaabhyaasa-ratah sadaa;

Sa muktah sa sukhi loke

karmanaa nopalipyate.

 

Srii Vishnu bersabda : walaupun seseorang sibuk dalam berbagai kegiatan duniawi, tetapi dengan teratur membaca kitab suci Bhagavad Gita ia dibebaskan. Ia adalah makhluk yang paling berbahagia di dunia ini sebab ia tidak terikat oleh karma atau reaksi perbuatan.

 

Sloka 3

Mahaa-paapaadi paapaani giitaadhyaanam karoti chet;

Kvachit sparsham na kurvanti

nalinii-dalam ambuvat.

 

Seperti halnya daun teratai yang tidak terbasahi oleh air, demikian pula seseorang yang tekun membaca kitab suci Bhagavad Gita dengan teratur tidak akan ternodai oleh dosa – dosa termasuk dosa maha besar

Sloka 4

Giitaayaah pustakam yatra

yatra paathah pravartate;

Tatra sarvaani tiirthaani

prayaagaadiini tatra vai.

 

Seluruh tempat suci yang ada di dunia ini seperti Prayaaga dan lain – lain, akan bersemayam dimana kitab suci Bhagavad Gita disimpan dan dibaca

Sloka 5

Sarve devaash ca rishayo

yoginah pannagaash ca ye;

Gopaalaa-gopikaa vaapi naarado’ddhava paarshadaih.

 

Semua dewa – dewi, para rsi agung, para yogi, para naga agung, gopala, gopika (sahabat dan penyembah Sri Krishna), Narada, Uddhava, dan lain- lain juga bersemayam disana

Sloka 6

Sahaayo jaayate shiighram

yatra giitaa pravartate;

Yatra giitaa vichaarash ca

pathanam paathanam shrtam;

Tatraaham nishchitam prithvi nivasaami sadaiva hi.

 

Pertolongan segera datang dimana sloka – sloka suci Bhagavad Gita dibaca. Wahai Bhumi, secara pasti Aku tinggal selamanya dimana kitab suci Bhagavad Gita dibaca, dibacakan dan direnungkan

 

 

 

 

Sloka 7

Giitaashraye’ham tishthaami

giitaa me chottamam griham;

Giitaajnaanam upaashritya

trimllokaan paalayaamy aham.

 

Aku sendiri berlindung pada Bhagavad Gita, karena Bhagavad gita adalah tempat tinggal-Ku. Aku menjaga dan melindungi ketiga dunia dengan pengetahuan Bhagavad Gita

Sloka 8

Giitaa me paramaa vidyaa

brahma rupaa na samshayah;

Ardha-maatraaksharaa nityaa svaanirvaachya-padaatmikaa.

 

Bhagavad Gita adalah ilmu Pengetahuan-Ku yang tertinggi, tidak dapat diragukan lagi, Ia adalah bentuk Brahman yang kekal, Ardhamaatraa dari aksara suci OM, keagungan dan kemegahan yang dimiliki oleh sang roh.

 

Sloka 9

Chidaanandena krishnena

proktaa svamukhato’rjunam;

Veda-trayii paraanandaa

tatvaartha-jnaanasamyutaa.

Bhagavad gita disabdakan sendiri oleh Srii Krishna, Beliau Yang Maha Mengetahui, dari Bibir Padma-Nya kepada Arjuna. Ia berisikan intisari dari ajaran – ajaran Veda Trayi (Rg, Yayur dan Sama Veda), pengetahuan sejati yang penuh kebahagiaan.

 

Sloka 10

Yo’shtaadasa japo nityam

naro nishchalamaanasah;

Jnaanasiddhim sa labhate

tato yaati param padam.

 

Ia yang melafalkan 18 Bab Bhagavad Gita setiap hari, dengan penuh ketulusan dan ketetapan hati, pikirannya mantap dan tidak tergoyahkan, mencapai pengetahuan sempurna, dan tujuan yang tertinggi.

 

Sloka 11

Paat he’asamarthah sampurne tato’rdham paat hamaacharet;

Tadaa godaanajam punyam

labhate naatra samshayah.

 

Jika tidak memungkinkan untuk membaca keseluruhan sloka Bhagavad Gita, maka membaca setengahnya saja akan memberikan seseorang berkah sama dengan berkah yang didapatkan dari menyumbahkan seekor sapi

 

Sloka 12

Tribhaagam pat hamaanastu ganggaasnaanaphalam labhet;

Sadam sam japamaanastu somayaagaphalam labhet.

 

Ia yang membaca sepertiga dari sloka – sloka suci Bhagavad Gita kan memperoleh berkah yang sama seperti mandi di sungai Suci Gangga dan ia yang membaca seperenamnya akan mendapatkan berkah seperti melakukan persembahan soma

 

Sloka 13

Ekaadhyaayam tu yo nityam pathate bhaktisam yuta;

Rudralokam avaapnoti

Gan o bhutvaa vasecchiram.

 

Orang yang membaca satu bab Bhagavad Gita dengan penuh rasa bhakti akan mencapai tempat tinggal Rudra dan menjadi pelayan Shiva. Ia tinggal disana selama bertahun – tahun

Sloka 14

Adhyaayam shlokapaadam vaa nityam yah pathate narah;

Sa yaati narataam yaavan

manwantaram vasundhare.

 

Wahai Bhumi, jika seseorang membaca seperempat dari sloka – sloka suci Bhagavad Gita maka ia akan mendapatkan badan manusia hingga akhir perputaran jaman

Sloka 15 – 16

Giitaayaah shlokadasakam sapta pancha chatushtayam;

Dvau triinekam tadardham vaa shlokaanaam yah pathennarah.

Chandralokam avaapnoti varshaanaamayutam dhruvam;

Giitaapaathasamaayukto

mrito maanush ataam vrajet.

 

Ia yang membaca berulang – ulang sepuluh, tujuh, lima, empat, tiga, dua atau bahkan satu atau setengah sloka akan mencapai planet bulan dan tinggal disana selama sepuluh ribu tahun. Dengan membiasakan diri mempelajari kitab suci Bhagavad Gita setiap hari, maka orang yang sedang sekarat sekalipun akan bangkit dan segar bugar kembali

Sloka 17

Geetaabhyaasam punah kritvaa labhate muktim-uttamaam;

Giitetyucchaarasam yukto mriyamaano gatim labhet.

 

Dengan mempelajari ajaran – ajaran suci Bhagavad Gita secara tekun seseorang mencapai pembebasan. Mengucapkan sloka suci Bhagavad Gita pada saat menjelang ajal akan membawa seseorang pada pembebasan.

 

Sloka 18

Giitaarthashravanaasakto mahaapaapayuto’pi vaa;

Vaikuntham samavaapnoti vishnunaa saha modate.

 

 

Walaupun seseorang itu penuh dosa, namun jika ia tekun dan mantap mendengarkan ajaran – ajaran suci Bhagavad Gita maka ia akan mencapai kerajaan Tuhan dan menikmati pelayanan pada Sriii Visnu

Sloka 19

Giitaartham dhyaayate nityam kritvaa karmaani bhurishah;

Jiivanmuktah sa vijneyo dehaante paramam padam.

 

Ia yang dengan tekun bermeditasi pada ajaran – ajaran suci Bhagavad Gita, setelah melakukan banyak kegiatan – kegiatan mulia, maka ia akan mencapai tujuan tertinggi setelah meninggalkan badannya. Orang seperti itu disebut Jivanmukta, yaitu orang yang mencapai pembebasan semasih hidup

Sloka 20

Giitaamaashritya bahavo bhubhujo janakaadayah;

Nirdhutakalmashaa loke

giitaayaataah param padam.

 

Ada banyak roh – roh agung seperti Janaka yang telah mencapai kesempurnaan, terbebas dari segala dosa di dunia ini dengan berlindung pada kitab suci Bhagavad Gita.

Sloka 21

Giitaayaah pathanam kritvaa maahaatmyam naiva yah pathet;

Vrithaa paatho bhavet tasya shrama eva hyudaahritah.

 

Ia yang tidak membaca keagungan Bhagavad Gita, setelah membaca kitab suci Bhagavad Gita, kehilangan segala berkah yang seharusnya dicapainya.

 

 

 

Sloka 22

Etan maahaatmya-samyuktam giitaabhyaasam karoti yah;

Sa tat-phalam avaapnoti durlabhaam gatim aapnuyaat.

 

Ia yang mempelajari ajaran – ajaran suci Bhagavad Gita dan pada saat yang bersamaan juga mempelajari keagungan Bhagavad Gita, maka ia akan mencapai segala berkah yang telah disebutkan diatas yang sesungguhnya sangat sulit untuk dicapai.

 

Sloka 23

Suta Uvaacha:

Maahaatmyam etad giitaayaa mayaa proktam sanaatanam;

Giitaante cha pathed yas tu yaduktam tat-phalam labhet.

 

Rsi Suta Bersabda: Keagungan kitab Bhagavad Gita yang kekal ini, hendaknya dibaca setelah seseorang membaca sloka – sloka suci Bhagavad Gita, maka ia mencapai tujuan – tujuan seperti yang sudah aku jelaskan

Iti srivaraahapuraane srigiitaamaahaatmyam sampurnam.

 

Om Shanti, Shanti, Shanti!

Demikian keagungan Bhagavad Gita dalam Kitab Sri Varaha Purana

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis