Menghapus Kata ‘Toxic’ dari Pikiran: Sebuah Refleksi

NM.Adnyani

Dulu, aku tidak benar-benar memahami apa itu toxic relationship—baik dalam keluarga, pertemanan, maupun pasangan. Seiring waktu, aku mulai mengenali pola-pola yang merugikan, energi yang melelahkan, serta hubungan yang lebih banyak menyakiti daripada memberi makna. Aku menyadari bahwa lingkungan yang toxic hanya akan menghambat pertumbuhan, dan karena itu, aku mulai berusaha menghindari orang-orang yang membawa dampak negatif dalam hidupku.

Namun, sesuatu yang tidak kusadari terjadi dalam proses ini. Aku merasa lebih cuek, bahkan terkadang tampak arogan. Ada perasaan superioritas yang muncul, seolah-olah aku telah terbebas dari sesuatu yang menjebak, sementara orang lain masih terperangkap dalam pusaran toxic mereka sendiri. Aku takut kembali ke dalam lingkungan yang toxic, takut bertemu pasangan yang toxic, takut berhadapan dengan pertemanan yang tidak sehat. Perlahan, ketakutan ini menjelma menjadi pola pikir yang membatasi diriku sendiri. Aku menjadi pengecut—bukan hanya karena aku menjauhi yang toxic, tetapi karena aku membiarkan diriku dikendalikan oleh rasa takut itu sendiri.

Dalam perenungan panjang, aku sampai pada satu kesadaran: Aku perlu menghapus kata toxic dari pikiranku. Kata ini bukan lagi sekadar label bagi orang lain, tetapi juga telah menjadi belenggu yang membatasi pemahamanku terhadap mereka. Jika kita menganggap sesuatu sebagai toxic, maka respons pertama yang muncul adalah menjauh, bukan memahami. Padahal, bukankah segala sesuatu yang toxic itu seperti penyakit? Dan jika itu penyakit, mengapa kita harus serta-merta menghindari mereka yang sakit? Bukankah seharusnya kita berempati, mendoakan, dan membantu mereka agar bisa sembuh dari luka dan kebingungan yang mereka alami?

Mungkin orang-orang yang disebut toxic ini mengalami defisiensi dalam kebijaksanaan (wisdom), kecerdasan (intelligence), spiritualitas (divinity), atau pengetahuan. Mungkin mereka tenggelam dalam kebodohan yang tidak mereka sadari. Jika demikian, bukankah tugas kita bukan sekadar menjauh, tetapi juga memahami, mengarahkan, atau setidaknya tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita?

Aku menyadari bahwa toxicity tidak ada bedanya dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Jika aku bisa keluar dari lingkaran KDRT, maka aku pasti bisa keluar dari belenggu pemikiran tentang toxicity. Tidak dengan cara melarikan diri selamanya, tetapi dengan keberanian untuk menghadapi dan menyikapinya dengan bijaksana. Aku tidak ingin lagi hidup dalam ketakutan, apalagi membiarkan konsep toxic menjadi tembok yang membatasi pemahamanku terhadap sesama.

Kini, aku memilih jalan lain—bukan sekadar menghindari, tetapi memahami. Bukan sekadar menjauh, tetapi juga memberikan ruang bagi empati dan kesadaran. Harapanku dengan cara itu, aku benar-benar merasa bebas.

Aku juga mencoba membuat langkah langkah sederhana untuk membantu Siapapun yang aku temui mengalami toxicity. Pertama, Mendengarkan dengan Empati Sebelum menilai atau menghindari seseorang, cobalah untuk mendengarkan mereka dengan hati yang terbuka. Sering kali, orang-orang yang dianggap toxic memiliki luka batin yang belum mereka selesaikan. Dengan mendengar tanpa menghakimi, kita memberi mereka ruang untuk menyadari perasaan mereka sendiri. Pemahaman mendengarkan dengan empati Ini, aku dapatkan dari Pendidikan Guru Penggerak. Kedua, Menjadi Cermin Kesadaran Sering kali, mereka yang toxic tidak menyadari pola negatif dalam diri mereka. Dengan menunjukkan perilaku yang sehat, tegas, dan penuh kesadaran, kita dapat menjadi contoh bagaimana berinteraksi secara lebih sehat dan berdaya. Langkah ini aku dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Menawarkan Perspektif Baru Alih-alih langsung mengkritik atau menghindari mereka, kita bisa mencoba menawarkan sudut pandang lain. Keempat, Menjaga Batasan Diri dengan Tegas Membantu seseorang bukan berarti membiarkan diri kita terluka. Kita tetap perlu menetapkan batasan yang jelas, misalnya dengan mengatakan, “Aku peduli padamu, tetapi aku tidak bisa membiarkan diriku terseret dalam emosi negatif ini.” Tips Ini aku dapatkan dalam sebuah hubungan dengan seseorang. Kelima, Mendoakan dan Mengirimkan Energi Positif Jika tidak memungkinkan untuk membantu secara langsung, kita tetap bisa mendoakan mereka atau mengirimkan niat baik agar mereka mendapatkan kesadaran dan kebijaksanaan yang mereka butuhkan. Keenan, Mengarahkan ke Sumber Bantuan Profesional Jika seseorang yang kita kenal benar-benar terjebak dalam pola destruktif yang serius, mengarahkan mereka ke psikolog, konselor, atau mentor spiritual bisa menjadi langkah yang sangat berarti.

Membantu seseorang keluar dari toxicity bukan tentang mengubah mereka secara paksa, tetapi tentang menciptakan lingkungan yang memungkinkan perubahan terjadi. Dengan kesabaran, kasih sayang, dan kesadaran diri, kita bisa berkontribusi dalam menyembuhkan bukan hanya diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita.

Kesaksian Bisu Si Kayu Batu

Arif Supriyadi

Aku, di masa itu, biasa orang menjulukiku “Si Kayu Batu” Ukuran tubuh dan kekokohanku lah pencetus nama itu. Berkat besar dan menjulangnya tinggiku, nelayan dan para awak kapal di masa awal tumbuhnya perkampungan Bontang menjadikanku sebagai penanda arah perjalanan mereka di lautan. Mudah memang melihatku dari kejauhan, yang mengisyaratkan bahwa mereka telah mendekati pesisir Bontang yang sungguh kaya akan sumber daya ikan. Aku tidak mengada-ngada tentang kekayaan laut ini. Coba bayangkan, nelayan Bontang saat itu seringkali mendapati belat (sejenis perangkap ikan terbuat dari rangkaian kayu yang dipasang di jalur migrasi ikan) mereka jebol karena tidak sanggup menampung banyaknya ikan yang terjebak masuk. Saking melimpahnya ikan-ikan di pinggiran laut Bontang kala itu, berbekal serok saja sudah cukup untuk menangkapi ikan. Pun demikian, nama sejumlah wilayah pesisir di perkampungan Bontang juga menggambarkan limpahan kekayaan ini. Selambai contohnya, wilayah perkampungan ini sering disambangi seorang Nelayan Mandar bernama “Si Lambai” yang selalu panen ikan hasil menjaring di sebuah teluk kecil yang berada di sana. Nama “Si Lambai” akhirnya diabadikan sebagai nama perkampungan di sekitar tempat Nelayan Mandar itu menjaring ikan.

Sejujurnya, Aku merasa betul-betul beruntung memiliki tubuh yang besar dan tinggi, sehingga bukan hanya bisa melihat Pesisir Bontang yang kaya akan ikan, tetapi juga menyaksikan kenangan kekayaan daratan Bontang masa lalu. Aku menyebut daratan Bontang saat itu sebagai etalase koleksi kekayaan yang luar biasa. Di sisi utara penglihatanku misalnya, Aku biasa menyaksikan orang-orang di sana beraktivitas menghanyutkan batang-batang kayu besar (log) ke tengah lautan. Entah dibawa ke mana kayu-kayu itu. Ribuan log ini pula yang nampak hilir mudik menghidupi perkampungan kecil di sana. Menariknya, karena log-log itu dimiliki seorang Tuan Jepang yang seringkali datang ke lokasi penghanyutan, perkampungan itu kemudian dinamai warga setempat sebagai Loktuan, sebuah plesetan dari kata “log milik tuan”.

Dari utara yang bergelimang kayu, Aku sering mengalihkan pandanganku ke arah barat. Di titik mata angin ini terhampar luas ribuan pohon aren dengan tinggi sedang dan berbuah matang. Bau manis getah aren kerap menggoda arah penglihatanku ke sana. Warga yang hidup di sekitar hamparan pohon aren biasa menyadap air aren untuk dijadikan gula sebagai pekerjaan yang mereka lakoni sehari-hari. Nampaknya, harum manis getah aren menginspirasi warga penyadap aren menamai lokasi mereka tinggal sebagai Perkampungan Gunung Sari. Nama yang pantas, pikirku hingga sekarang.

Dari pesisir timur yang berlimpah ikan, dari utara yang kaya akan kayu, serta dari barat yang manis oleh mengalirnya getah aren, saatnya bercerita tentang wilayah selatan Bontang tempat di mana Aku bertumbuh. Wilayah ini, sesungguhnya cukup bergantung padaku. Di mana di bawah bayang-bayangku yang teduh, nelayan membuat permukiman kecil yang lambat laun perkampungan itu disebut seperti namaku: Kampung Kayu Batu. Dari kampung ini pula, bertumbuh pemukiman-pemukiman pesisir di wilayah Selatan Bontang yang di masa itu saling terpisah oleh lebatnya hutan. Rimbun hutan di sekitarku bukannyatanpa cerita. Hutan ini sungguh diberkahi Tuhan dengan gelimang buah-buahan yang melimpah. Lebih-lebih pada musim buah, para pemetik buah sampai kewalahan mengambil ribuan wanyi, dopar, elai, juga jambu yang berjatuhan. Saking banyaknya, buah-buahan itu akhirnya dibiarkan berserak begitu saja. Oleh warga Suku Mamuju yang biasa hilir mudik di dalam areal hutan, wilayah itu dijuluki Mara’bas yang memiliki arti “berguguran”. Mara’bas ini pula yang kemudian menjadi cikal bakal penyebutan Berbas sebagai salah satu tempat tumbuhnya buah-buahan yang berlimpah ini.

Cerita tentang gelimang ikan di lautan, limpahan kayu di Loktuan, legit aren di Gunung Sari serta lebat buah di Berbas nyatanya tidak berlangsung lama. Bontang yang terus tumbuh dan berkembang mendesak alam hingga berujung pada pengrusakan. Di laut, nelayan yang tak puas dengan hanya menjaring dan memancing, mulai menggunakan alat-alat/bahan berbahaya untuk menangguk ikan sebanyak-banyaknya. Penggunaan bom, juga racun ikan perlahan mulai merusak karang dan ekosistem lautan. Ikan-ikan mulai berkurang dan kekayaan lautan itu kini tinggal kenangan. Nasib wilayah daratan tak begitu jauh berbeda, bertumbuhnya pemukiman di wilayah hutan terus menggerus pohon-pohon aren di Kampung Gunung Sari, Kayu juga makin habis di Loktuan hingga makin sempitnya luasan hutan buah di areal Berbas. Hingga tiba suatu hari, tubuhku yang besar dan kekar bergoyang oleh pukulan kampak para penebang kayu. Aku sungguh kaget, karena selama ini keberadaanku dianggap sakral dan keramat oleh penduduk yang selama ini bernaung di bawahku. Mungkin, keinginan mereka membangun pemukiman yang lebih luas terganggu oleh tubuh raksasaku. Hingga kemudian, robohlah Aku sebagai simbol keagungan alam Bontang di masa lampau. Sisa tubuhku turut dibakar bersamaan dengan hilangnya memori-memori Kekayaan Bontang di masa itu. Walau demikian, Aku masih merasa sangat beruntung karena warga setempat masih membiarkan namaku tercatat sebagai nama dusun tempat mereka tinggal. Ya, Dusun Kayu Batu.

Namun sayang seribu sayang, semua itu juga tak berlangsung lama. Di masa kepemimpinan seorang petinggi dusun, nama Kayu Batu diusulkan diubah menjadi nama lain. Sang petinggi dusun menganggap bahwa selama ini warga Dusun Kayu Batu cenderung berwatak keras kepala dan susah diajak bicara seperti personifikasi yang melekat pada namaku: kayu dan batu. Dengan perubahan nama, Beliau berharap adanya perubahan karakter pada warga lokal yang bermukim di sekitar Dusun Kayu Batu di masa itu. Hingga kemudian, usulan tersebut disetujui oleh petinggi kampung setempat dan mulailah daerah itu beralih nama menjadi Dusun Pelabuhan di bawah pemerintahan Kampung Tanjung Laut. Dengan perubahan nama ini, hilanglah sudah keberadaanku dalam khazanah pengetahuan warga Bontang saat ini. Nama besarku dulu, hanya diingat dan diketahui segelintir orang. Ya, hanya segelintir yang mengingatnya, seperti kesaksian bisuku akan kekayaan alam hutan juga kekayaan lautan Bontang yang luar biasa di masa lalu. Bagiku, Bontang adalah etalase keagungan Tuhan yang memberi wilayah ini beragam rejeki hingga sekarang. Karena itulah, Aku berpesan kepada generasi penerus Bontang agar menjaga dan terus memelihara Bontang, bukan hanya karena kekayaannya tetapi juga karena rasa memiliki Kita terhadap Kota yang luar biasa ini.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai