Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana– 8

Sloka 8

kaakoluuka-grdhra-syena-kangka-kokila-suucikaah

kiira-sukaasca saarikaah sarvamacoksamaamsakam

Non-edible too are the meats of all birds, for instance the meats of crows, owls, wild goose; as also water creatures and etcetera, and etcetera.

Juga tidak untuk dimakan adalah daging segala jenis burung, seperti gagak, burung hantu, angsa liar; serta segala jenis hewan yang tinggal di dalam air, dan lain sebagainya.

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.21-30)

Sutra I.21

tiivra-samvegaanaam-aasannah

“Mereka yang intensif berupaya sekuat tenaga; tentu lebih cepat mencapai (tujuannya, yakni Samaadhi, Keseimbangan Diri atau Pencerahan).”
Sutra I.22

mrdu-madhya-adhimaatratvaat-tati’pi visesah

“Berdasarkan intensitas, kecepatan, dan tenaga itulah, ada perbedaan antara mereka yang cepat mencapai tujuan mereka; ada yang butuh waktu; ada pula yang lamban.”
Sutra I.23

IIsvara-pranidhaanaad-vaa

“Atau (dalam pengertian, Samaadhi juga dapat dicapai) dengan berserah diri pada IIsvara, Tuhan Hyang Bersemayam dalam diri, sanubari setiap makhluk, sekaligus meliputinya.”
Sutra I.24

klesa karma vipaaka-aasayaih-aparaamrstah purusa-visesa IIsvarah

“IIsvara adalah Purusa atau Gugusan Jiva Individu, yang tidak tersentuh oleh ‘duka-derita’; juga oleh segala kegiatan (jasmani, mental serta emosional, intelektual dan sebagainya. Sebab itu, Ia pun tidak menanggung) hasil perbuatan, maupun kesan-kesan yang tersisa akibat suatu perbuatan.”
Sutra I.25

tatra niratisayam sarvajna-biijam

“Di dalam-Nya (dalam Hyang Mahatinggi, Paramaatmaa atau Dang Jiwa Agung–Penyebab Tunggal adanya Purusa, Energi atau Jiwa; dan Prakrti, Materi, Alam Benda) adalah benih kemahatahuan yang tak tertandingi oleh apapun juga.”
Sutra I.26

sa puurvesaam-api-guruh kaalenaanavacchedaat

“Karena Tak Terbatasi oleh Waktu, maka Ia (Hyang Maha Kuasa, Paramaatmaa atay Sang Jiwa Agung, Sebab Tunggal Purusa atau Energi dan Prakrti atau Materi) adalah Guru (Sejati, Hyang bahkan, telah Memandu) para leluhur sejak zaman dahulu.”
Sutra I.27

tasya vaacakah pranavah

“Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya (Ungkapan Verbal Tuhan, Paramaatmaa, Sang Jiwa Agung).”
Sutra I.28

taj-japah tad-artha-bhaavanam

“Dengan mengulangi-Nya (Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang meraih atau merealisasi makna dan tujuannya.”
Sutra I.29

tatah pratyak-cetanaadhigamo’pyantaraayaa bhaavas-ca

“Demikian, seseorang meraih Pratyak Cetanaa atau Kesadaran Jiwa, dan segala rintangan (untuk mencapainya) teratasi.”
Sutra I.30

vyaadhi styaana samsaya pramaadaalasyaavirati bhraantidarsanaalabdha

bhuumikatvaanavasthitatvaani citta viksepaaste antaraayaah

“Rintangan-rintangan yang mengacaukan citta atau benih-pikiran adalah Vyaadhi atau Penyakit; Styaana atau Ketumpulan (Mental); Samsaya atau Kebimbangan, Keragu-raguan; Pramaada atau Sifat Tidak Peduli, Kecerobohan yang muncul dari ego, mementingkan diri sendiri saja; Aalasya atau Kemalasam; Avirati atau Keterlibatan dengan segala Kenikmatan Indra; Bhraanti-Darsana atau Pandangan yang Terkondisi/Salah, Kebingungan, Ilusi; Alabdha-Bhuumikatva atau Tidak Membumi, Tidak Realistis; dan Anavasthitatvaani atau Ketidakstabilan.”

Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana– 6-7

Sloka 6

graahasca kumbhiiro naktro maarjaaro muusikastathaa

nakulo manduuko vyaalah sarvamacoksamaamsakam

Again (other meat) not to be eaten are those of crocodile and other sea creatures, cat, of rats/mouses/mice, mongoose, tigercat, all types of frogs, and all type of snakes.

Yang juga tidak boleh dimakan adalah daging buaya dan hewan laut, kucing, tikus, musang, kucing hutan, segala jenis kodok, dan segala jenis ular.
Sloka 7

bhuukrimi-bhuukita-mamsam sarvalokaavahelitam

praaninaam ruupabhedaasca sarva kanisthamaamsakam

Also not edible are all the lowest creatures such as ant, worms, maggots, leeches, scorpions, lizards, and etcetera, both living under or above the ground. Indeed, if one develops or can develop a foul feeling, a natural disinclination toward all kinds of meats, then one should shun them all.

juga tidak untuk dimakan adalah segala jenis makhluk terendah seperti semut, cacing, belatung, lintah, kalajengking, kadal, dan lain sebagainya, baik yang hidup diatas atau dibawah tanah. Bahkan jika seseorang dapat mengembangkan perasaan tidak enak, atau keengganan alami terhadap segala jenis daging, maka ia harus menghindari semuanya.

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.16 – 20)

Sutra I.16

tatparam purusa-khyaateh guna-vaitrsnyam

“(Pengetahuan sejati adalah tentang) Purusa, gugusan Jiwa yang tidak terpengaruh oleh guna atau sifat-sifat kebendaan; tidak terikat padanya; dan tidak merindukannya (ini pula yang disebut pelepasan diri atau Vairaagya yang sesungguhnya).”
Sutra I.17

vitarka-vicaara-aananda-asmitaa-rupa-anugamaat-samprajnaatah

“Samprajnaatah atau Kesadaran (yang masih belum sepenuhnya melampaui dualitas) adalah yang berlandaskan pada Vitarka atau Pertimbangan, Penilaian, dan Penyimpulan yang Tepat; Vicaara atau Perenungan yang Tepat; Aananda atau Kebahagiaan Sejati yang bersumber dari diri sendiri, tidak tergantung pada sesuatu apapun di luar diri; Asmitaa atau Kesadaran Aku yang sejati (sebagai Jivaatma atau Jiwa Individu atau Percikan Sinar Purusa atau Gugusan Jiwa, Hyang adalah bagian tidak terpisahkan dari Paramaatmaa atau Jiwa Agung).”
Sutra I.18

Viraama-pratyaya-abhyaasa-puurvah samskaara-seso’nyah

“Keadaan lain (Asamprajnaatah atau Samaadhi, Pencerahan yang bebas dari dualitas, namun masih) mengandung muatan Puurva samskaara atau sisa impresi, kesan-kesan dari masa lalu, yabg dapat dieliminasi, dihabisi, dihapuskan dengan niat yang kuat dan upaya terus menerus untuk tujuan mengeliminasinya.”
Sutra I.19

bhava-pratyayo videha-prakrti-layaanam

“Kendati sudah Videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan Prakrti atau alam-benda — kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.”
Sutra I.20

sraddhaa-viirya-smrti samaadhi-prajnaa-puurvaka itaresaam

“Sebagian (di antara mereka yang mengalami kelahiran ulang seperti itu) mencapai Samaadhi, Keseimbangan Diri atau Pencerahan berkat Prajnaa puurvakah atau Pengetahuan sejati yang pernah diraihnya pada masa lalu, dan (upaya sungguh-sungguh pada masa kini) dengan penuh Sraddha atau keyakinan; Viirya atau keberanian dan kekuatan; dan smrti, ingatan atau perhatian (terhadap tujuan Jiwa, yaitu Manunggal dengan Jiwa Agung).”

Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana– 5

Sloka 5

naravaanaragovyaaghraa gajaasvasvaanagardabhaah

kukkutasuukarasimhaah sarvamacoksamaamsakam

Human, monkey, cow, tiger, elephant, horse, dog, donkey, domestic fowl and that of lion – these are meats not to be eaten

Daging manusia, monyet, sapi, harimau, gajah, kuda, anjing, keledai, ayam peliharaan dan singa – tidak untuk dimakan

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.11-15)

Sutra I.11

anu-bhuuta-visaya-asampramosah smrtih

“ingatan membuat (Jivaatmaa atau Jiva Individu) tidak bisa lepas dari pengalaman-pengalaman masa lalu.”
Sutra I.12

abhyaasa-vairaagya-aabhyaam tan-nirodhah

“Nirodha, Penghentian atau Pengendalian terhadap Citta atau Benih Pikiran dan Perasaan dapat terjadi dengan Abhyaasa atau usaha intensif secara Terus-Menerus; dan Vairaagya atau Pelepasan Diru dari segala hal yang menciptakan keterikatan.”
Sutra I.13

Tatra sthitau yatno’bhyaasah

“Abhyaasa atau Upaya secara Terus-Menerus Membutuhkan Yatna, Kerja Keras; dan Sthiti atau Ketetapan Hati.”
Sutra I.14

sa tu diirghakaala nairantarya satkaara-aasevito drdhabhuumih

“Dengan upaya terus-menerus tanpa henti dan penuh devosi, atau penuh perhatian tanpa merasa terbebani, tercapailah kemantapan (dalam hal pengendalian citta, benih pikiran dan perasaan, inilah abhyaasa)
Sutra I.15

drsta-anusravika-visaya-vitrsnasya vasiikaara-samjnaa vairaagyam

“(Demikian seseorang mencapai) Vairaagya atau Pelepasan Diri yang sempurna-tiada lagi keterikatan dan kerinduan terhadap visaya, benda-benda, maupun keadaan-keadaan tertentu di luar, baik yang dilihatnya maupun yang didengarnya. Kemudian ia meraih Samjnaa atau Pengetahuan Sejati (yang bersifat sam atau tanpa konflik, tanpa pertentangan yang disebabkan oleh dualitas).”

Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana– 4

Sloka 4

akrodha gurususruusaa soucamaahaaralaaghavam

apramaadasca pancaite niyamaah parikiirtitah

“Akrodha or Not Carried Away by Anger; Gurususruusaa or Serving the Spiritual Guide or Mentor wholeheartedly, thereby proving one’s commitment as well as humility and eligibility to receive the spiritual instructions; Souca or Keeping Oneself clean at all times – not just the physical cleanliness, but also the mental purity and emotional stability by practicing various self-development methods such as meditation, chanting, and etcetera; Aahaara-laaghava or Dietary Discipline, not stuffing oneself with just about anything; and Apramaada or Non-Negligence and Not Being Egoistic on account of one’s learning. These are Five Niyamas or Five Rightful Actions as glorified by the Lord.”

Akrodha atau Tidak Terbawa Amarah; Gurususruusaa atau Berbakti sepenuh hati pada Pemandu atau Guru Spiritual, yang membuktikan komitmen serta kerendahan-hati dan kelayakan seseorang untuk menerima panduan spiritual; Souca atau senantiasa Menjaga Kebersihan Diri – tidak hanya kebersihan fisik, tetapi juga kemurnian mental dan kestabilan emosi dengan mempraktekkan berbagai metode pemberdayaan-diri, seperti meditasi, japa atau zikir, dan lain sebagainya; Aahaara-laaghava atau Disiplin dalam Diet/Pola Makan, tidak asal makan apa saja; dan Apramaada atau Tidak Abai dan Tidak Egois karena pengetahuan yang dimiliki. Inilah Lima Niyama atau Perilaku yang Tepat yang diagungkan oleh Gusti.”

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.6-10)

Sutra I.6

Pramaana viparyaya vikalpa nidraa smrtyah

“Pramana atau Pengetahuan yang Benar; Viparyaya atau Pengetahuan yang Tidak Benar; Vikalpa atau Khayalan; Nidra atau Tidur; dan Smrti atau Ingatan – inilah lima macam Vrtti, perubahan, fluktuasi, atau modifikasi – yang bisa menyebabkan duka-derita atau tidak menyebabkannya.”

Sutra I.7

pratyaksa-anumaana-aagamaah pramaanaani

“Pramaana atau Pengetahuan yabg Benar bersumber, atau berlandaskan pada tiga hal: Pratyaksa atau Pengalaman Pribadi secara Langsung; Anumaana atau Asumsi; dan Aagamah atau kata-kata para Bijak yang dapat dipercayai.”

Sutra I.8

Viparyayo mithyaa-jnaanam-atadruupa pratistham

“Viparyaya atau Pengetahuan Yang Tidak Benar atau Salah tiada memiliki wujud landasan apapun.”

Sutra I.9

Sabda-jnaana-anupaatii vastu-suunyo vikalpah

“Pengetahuan dan Ucapan Kosong – Tidak Berlandaskan sesuatu – adalah Vikalpa atau Khayalan.”

Sutra I.10

abhaava-pratyaya-aalambanaa vrttir-nidraa

“Perubahan yang Terjadi Saat Tidur atau Nidra Tidak berlandaskan Sesuatu.”

Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana– 3

Sloka 3

Ahimsaa brahmacaryanca satyamavyaavahaarikam

astainyamiti pancaite yamaa rudrena bhaasitaah

“Ahimsaa or Non-Injury; Brahmacarya or Restraint on One’s Sexual Conduct in order to use the preserved energy for more creative purposes; Satya or Truth; Avyaavahaarika – Non-Materialism or not being a materialistic person; and Asteya – Non-Stealing or not depriving one of his/her right – these are the fibe Yamas, the Five Disciplines stated by Rudra, the Roaring Brilliant-Lord Siva, the All-Auspicious.”

Ahimsaa atau Tanpa-Kekerasan; Brahmacarya atau Pengendalian Hasrat Seksual agar energi yang terhematkan dapat digunakan untuk kegiatan yang lebih kreatif; Satya atau Kebenaran; Avyaavahaarika – Non-Materialisme atau tidak menjadi orang yang materialistis; dan Asteya – Tidak Mencuri atau merampas hak orang lain – inilah Lima Yama, Lima Disiplin yang dikumandangkan oleh Rudra, Siva, Hyang Maha Membahagiakan, Maha Cemerlang Bersuara Lantang.”

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.1-5)

Sutra I.1

Atha yoga-anusaasanam

“Demikian, Disiplin itulah Yoga.”
Sutra I.2

yogas-citta-vrtti-nirodhah

“Yoga adalah Penghentian/Pengendalian Citta Vrtti atau perubahan-perubahan yang terjadi pada benih-benih pikiran dan perasaan.”
Sutra I.3

tadaa drastuh svaruupe’vasthaanam

“Saat itu, Sang Saksi (Jivaatmaa atau Jiva individu) berada dalam Kesejatian Wujudnya.”

Sutra I.4

vrtti Saaruupyam-itaratra

“Di luar itu (jika citta tidak terkendali, maka), terjadilah Keselarasan dengan Perubahan-Perubahan (Sang Jiwa Individu mengidentifikasikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut).”
Sutra I.5

vrttayah pancatayyah klistaaklistaah

“Adalah lima macam Perubahan atau Veitti, baik yang menyebabkan Duka-Derita maupun yang tidak.”

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis