Yang Sadar Jumlahnya Bertambah! Yang Tidak Sadar Meningkat Lebih Banyak? Terkait Evolusi?

lepaskan Konsep. mengalirlah bagaikan sungai gangga

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku rahasia alam one earth retret

Masyarakat berubah bila indiividu berubah. Ya, saya yakin masyarakat sedang berubah dan perubahan itu terjadi, karena anda sekalian telah berubah.

Tanya: Tapi Pak, jumlah mereka yang tidak sadar pun kian bertambah.

Jawab: Ya, tapi jumlah hewan berkurang terus. Setiap hari, sekian banyak jenis cacing, ikan, burung dan hewan-hewan lain punah. Yang Bapak sebut manusia tidak atau belum sadar itu sesungguhnya hewan yang baru jadi manusia. Dalam diri mereka instink-instink dan naluri hewani masih sangat menentukan. Namun demikian, sesungguhnya mereka sudah berevolusi. Setidaknya fisik mereka sudah bukan fisik hewan lagi. Mereka sudah berbadan manusia.

buku rahasia-alam-500x500

Cover Buku Rahasia Alam Alam Rahasia

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Silakan ikuti…

Lihat pos aslinya 894 kata lagi

Setiap orang ingin Bahagia, Kebahagiaan adalah keinginan tunggal manusia

Catatan ini dibuat sebagai resume dari seminar “Tips Sehat pada masa Lansia” oleh Bapak Dokter Made Tirtayasa yang dilaksanakan hari ini, minggu 14 agustus 2016 di Pura Bhuana agung. 

Kegiatan ini digelar untuk mengisi arisan bulanan WHDI Kota Bontang. 
Sebagaimana Lebah akan mengambil madu dari setiap bunga yang dihinggapinya, lebah tidak mengambil kelopaknya, lebah mengambil madunya. Demikian pula kita sebagai manusia, kita mesti mengambil yang manis, yang mulia, yang berguna dari setiap peristiwa, setiap pelajaran yang kita terima. lalu kemudian kita menyebarkannya. Demikianlah kita menggunakan waktu-waktu terbaik kita.
ada beberapa hal penting yang dapat di serap dari seminar ini yaitu bahwa setiap orang menginginkan kebahagiaan dalam hidup ini. kebahagiaan itulah keinginan tunggal dari manusia. dalam usia senja, lansia ataupun ULAMA (Usia lanjut masih aktif) setiap orang mendambakan kebahagiaan. untuk mencapai bahagia itulah seseorang perlu memahami proses menua, baik secara fisik dan psikologi. 
uraian beliau sangat detail, karena beliau memang seorang dokter yang disiplin keilmuannya memahami seluk beluk fisik dn psikologis manusia. bagaimana penyakit mudah menyerang para Lansia. 

untuk itu Beliau juga memberikan beberapa tips bagaimana tetap ceria dalam kehidupan lansia. Dari sekian banyak tips yang beliau sampaikan, yang paling saya ingat adalah pola hidup sehat, pola makan sehat, pola gerak/ olah tubuh, dan olah mental. hasil penelitian yang banyak berkembang di barat, menjadi referensi Beliau. ada banyak nilai-nilai universal yang bisa dipetik yaitu bahwa setiap orang lansia hidupnya bahagia karena mereka memahami proses menua, mereka mandiri, santai dan ceria. 
bagaimana dengan Dunia Timur? adakah referensi untuk hidup bahagia dimasa lansia? 

saya mencoba menguraikannya sedikit. hal ini bukan berarti saya anti impor. saya hanya mencoba berbagi bahwa dunia timur juga memiliki referensinya. dan bahkan barat mesti merujuk india untuk mendapatkan kesehatan secara utuh. secara holistik. kini barat secara terbuka menerima yoga dan meditasi dan menggunakannya sebagai gaya hidup. ada banyak penelitian tentang meditasi, salah satunya yang menggemparkan dunia barat bahwa “gen dapat diperbaiki”, Gen dapat diregenerasi ulang melalui meditasi. karena itu di banyak sekolah populer seperti harvard, menerapkan meditasi sebelum pelajaran dimulai.
di dunia Timur khususnya India dengan peradaban lembah sungai indus, banyak bereksperimen tentang manusia baik pada usia produktif maupun usia lansia, Para leluhur, para Rsi kita menuliskan hasil eksperimen itu. 
contohnya, Maharsi Patanjali. Beliau adalah seorang ahli “bengkel manusia”. Beliau memahami seluk beluk bagaimana manusia bisa mencapai Kebahagiaan itu. karya terbesar beliau adalah Yoga Sutra Patanjali yang menjadi rujukan manusia modern untuk mempraktekkan Yoga. 
astangga yoga atau 8 batang tubuh yoga ini, mewaliki seluruh eksperimen Beliau untuk mewujudkan agar manusia melewati berbagai fase dengan kebahagiaan. dari tahapan mental, nafas, olah tubuh, dan olah pikiran dengan meditasi. 
Yoga adalah anak kandung dari ayur veda, ilmu kesehatan. atau dapat juga disebut ayur veda adalah ibu kandung dari yoga. 
ayur veda adalah kitab veda yang berisi bagaimana agar seseorang berumur panjang, ayur, ayuh. tentu saja berumur panjang yang sehat, ceria dan berbahagia. Bhisma adalah contoh manusia dengan umur yang sangat panjang yang ada pada zaman Mahabharata. 
Sistem astangga yoga, dan catur ashrama adalah panduan yang lahir dari peradaban Veda yang menuntun manusia untuk hidup bahagia. dalam catur ashrama, masa vanaprastha adalah masa pensiun dan setelah itu masa lansia adalah masa usia lanjut masih aktif. keaktifan yang dimaksud adalah keaktifan dalam pelayanan sosial, dimana pelayanan ini menjadi kegiatan purna tugas sebagai titik fokusnya. dimasa lansia inilah keterikatan di kurangi. hidup hanya untuk mewujudkan Cinta dan kebahagiaan, juga berbagi. 
Demikian renungan hari ini

14082016
Om Sarve Bhavantu Sukhinah

Setiap Orang Ingin Bahagia? Kisah Anak Sapi dan Para Gopi Sri Krishna

Setiap orang menginginkan Kebahagiaan

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

buku narada bhakti sutra anand ashram ubud

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Ada kisah menarik tentang Krishna. Diceritakan bahwa beliau memiliki 16,000 pacar, para Gopi. Sesungguhnya hubungan Krishna dengan para Gopi adalah hubungan Kasih. Saat itu, Krishna…

Lihat pos aslinya 1.048 kata lagi

Pelajaran Meditasi Bagi Anak Usia Dini

saya tertarik untuk menulis tentang hal ini. Bagaimana jika meditasi diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini? apakah bisa? 

pertanyaan ini membuat saya menggali, ingin mencari tau. Selain itu, saya juga menemukan banyak sekali orang yang memiliki pemahaman yang kurang tepat tentang pelajaran meditasi kepada anak-anak usia dini. 

beberapa orang yang saya temui menganggap bahwa bermeditasi adalah kegiatan orang-orang dewasa, orang-orang tua yang sudah banyak penyakit, banyak stres dan memerlukan ketenangan. ada juga orang yang berpendapat bahwa batasan umur tertentu, barulah boleh diajarkan bermeditasi, misalnya usia 9 tahun dan seterusnya. pendapat ini kemudian didukung oleh opini bahwa anak-anak pada usia dini 3 – 8 tahun harus banyak bergerak, mereka harus aktif sehingga perkembangan otaknya menjadi sempurna. demikianlah opini itu dibangun. sehingga jika ada program meditasi diajarkan pada anak usia dini, orang-orang ini ketakutan kalau-kalau anaknya menjadi kalem dan tidak aktif lagi. demikiankah? 

mari kita ulas…

Pertama Meditasi bisa diajarkan pada anak usia dini. pelajaran ini dapat diberikan, dapat dikenalkan.  Hal ini dikarenakan meditasi membuat setiap orang menemukan pola “alami” dari “tubuh” nya. mereka juga akan memiliki Perkembangan mental yang baik, kecerdasan emosional yang juga baik. anak-anak usia dini justru lebih mudah bermeditasi, ketika pikiran mereka belum berkembang, meditasi akan membantunya berkembang. banyak bukti bahwa meditasi dapat menurunkan kegelisahan. bagi anak-anak yang cenderung gelisah, meditasi membantunya menjadi lebih teratur. 

mengajarkannya duduk hening untuk beberapa saat adalah pelajaran meditasi paling alami untuk anak-anak. untuk itu, dengan keyakinan penuh dan beberapa bukti otentik dapat saya pastikan bahwa meditasi dapat diajarkan kepada anak-anak usia dini. tidak hanya meditasi, chanting, japa juga sangat baik diajarkan sejak anak usia dini. taruhlah kita mengajarkannya bermeditasi 5 menit sehari, maka sang anak memiliki kemampuan menstabilkan emosinya, menyembuhkan dirinya dan menata kembali pernafasan yang kurang teratur. 

Kedua, apakah meditasi akan menghilangkan “waktu” anak-anak untuk bergerak sehingga menjadi tidak aktif dan tidak kreatif?  pertanyaan ini menunjukkan bahwa kita hanya melihat “keaktifan” dan “kreatifitas” hanya ada dalam “gerak”. ini adalah pemahaman yang belum lengkap. 

sebagai gambaran, dalam shiva Purana, ada penggambaran mithologi tentang penciptaan dituliskan  bahwa Dewa Shiva menciptakan alam semesta ini dalam keadaan meditasi, artinya semesta yang luas ini diciptakan melalui meditasi. meditasi adalah pekerjaan atau kegiatan yang justru menumbuhkan kreatifitas. bukan menghilangkannya. meditasi membuatnya memiliki energi yang terpusat untuk mewujudkan kreatifitasnya. hal ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Krishna melalui bhagavad gita “Tidak bekerja tetapi sesungguhnya Bekerja”. Meditasi memang tampak sebagai kegiatan duduk diam. tetapi duduk diam ini bukanlah tidak bekerja, nafasnya bekerja dan bahkan lebih teratur ketika bermeditasi. pikirannya bekerja, memilah pikiran-pikiran yang tidak perlu, sampah-sampah emosi akan dilepaskan. hal ini adalah sebuah kegiatan yang terjadi “didalam” diri. 

sedangkan kegiatan yang sifatnya “liar” dan tidak terarah, justru menggambarkan kekacauan nafasnya. nafas yang kacau menunjukkan pikiran yang kacau dan perasaan gelisah. selain itu, pada anak-anak usia dini, usia di antara 3-5 tahun, justru secara alami menunjukkan Sanchita (kecenderungan-kecenderungan bawaan kehidupan masa lampaunya). pada usia ini akan terlihat sangat jelas. untuk itu, melatihnya bermeditasi akan membantu anak-anak menemukan potensi terbaiknya. kecenderungan-kecenderungan yang membantunya menemukan dan melanjutkan perjalanannya. menemukan “karma bhumi” yang harus diselesaikannya. untuk itu, jangan hawatir mengajarkan meditasi pada anak-anak usia dini. tentu saja sebelum mengajarkannya kita sendiri sebagai orang tua harus menjadi meditator terlebih dahulu. sebagaimana Krishna, Patanjali dan banyak Maharsi lainnya. mereka adalah seorang meditator, mereka mempraktekkannya terlebih dahulu baru mereka mengajarkannya, mereka memberikan contoh, menjadi bukti diri bahwa bermeditasi melahirkan kreatifitas yang luar biasa. kreatifitas apalagi yang lebih hebat dari pada kreatifitas untuk memperbaiki diri, mentransformasi diri. sebab siapalagi yang akan menolong diri kita selain kita sendiri. 

mari bermeditasi 24/7. 24 jam sehari 7 hari seminggu. hidup berkesadaran itulah yang disebut sebagai meditasi 24/7.

sebelum mencapai itu. tentu bermeditasi secara rutin 20 menit sehari setiap pagi dan sore adalah sangat efektif untuk mengatasi berbagai masalah dalam pertumbuhan bhatin dan membantu mengembangkan kesadaran diri. 

salam

Renungan 07082016

Makna Doa/ucapan Panjang Umur

Memasuki hari pertama di usia ke 32 Tahun ini, saya mencoba merenungkan kata “panjang umur” dalam doa yang di sampaikan oleh banyak sahabat saya ketika berulang tahun. begitu juga saya sendiri sering menggunakan kata ini untuk sahabat saya yang sedang berulang Tahun. 
Panjang umur yaitu sebuah doa yang berarti umur atau usia seseorang yang didoakan itu akan menjadi panjang, kadang-kadang kata ini juga diganti dengan “Long Life”

jika direnungkan bahwa setiap orang yang lahir sudah membawa “paket” waktu kematiannya, apakah sebuah doa dapat mengubahnya menjadi lebih panjang? jawaban untuk pertanyaan ini bisa beberapa : 

pertama, Tentu bisa “berubah” lebih panjang usia hidup seseorang karena doa-doa yang dikirimkan, sebab kekuatan doa sangat dasyat. bahkan Sang Mahatma Gandhi mengatakan, “Doa dapat memindajkan sebuah gunung”. jika gunung saja bisa “pindah” karena kekuatan doa, sangat mudah Bagi yang Maha Kuasa untuk mengubah umur seseorang menjadi lebih panjang dari waktu yang telah ditentukan. 

Kedua, Panjang umur, “Umur” yang dimaksud disini tentu bukan “umur dari Badan” tetapi adalah “umur” dari kebaikkan yang telah dilakukan oleh seseorang. agar Kebaikannya itu “dirasakan lebih lama” manfaatnya oleh orang banyak. kebaikannya mengalir, berlipat ganda. sebagai contoh adalah Senyum, 

satu orang yang tersenyum, senyum itu akan menular, bisa banyak senyum yang bersambung, kebaikan dari tersenyum tidak pernah putus. 

contoh lain juga masih banyak. saya pernah menonton video “real” bahwa ketika seseorang membayarkan bensin full tank untuk orang dibelakangnya, maka orang juga akan melakukan hal yang sama kepada orang lain, seperti itulah, kebaikan mengalir terus. “kebaikan” secara alami memiliki “umur” yang panjang. 
Demikianlah renungan singkat ini. 

semoga kebaikan terus mengalir dan mengisi setiap langkah kita
Terimakasih untuk Doa Panjang “umurnya”
sarve bhavantu sukhinah

Semoga semua mahkluk berbahagia 🙏
Selamat hari Rabu

Rahajeng Rahina Tilem 🙏
03082016
bersama Wayan Sanbudinatha

Yoga Sutra Patanjali : Saadhanaa Paadah (Sutra II.1-15)

Sutra II.1

tapah svaadhayaay-esvarapranidhaanaani kriyaa-yogah

“Tapah, bertapa atau mendisiplinkan diri; Svaadhyaaya, mempelajari kitab-kitab suci, atau mempelajari Sifat Diri yang sejati; dan IIsvara Praanidhaana, Penyerahan diri pada IIsvara, Ilahi yang menerangi Sanubari setiap makhluk –injlah Kriya Yoga, Yoga atau Disiplin dalam Laku atau Perbuatan.”
Sutra, II.2

samaadhi-bhaavana-arthah klesa tanuu-karana-arthas-ca

“Semua ini–seluruh Disiplin, Laku atau Kriya Yoga sebagaimana dijelaskan dalan sutra sebelumnya) bertujuan, dimaksudkan untuk mengembangkan Samaadhi Bhaavanaa, Keseimbangan, atau Pencerahan; dan (secara berangsur, bertahap) mengakhiri segala Klesa atau duka-derita, penderitaan.”
Sutra II.3

avidyaa-asmitaa-raaga-dvesa-abhinivesah klesaah

“Avidyaa atau Kebodohan, ketidaktahuan; Asmitaa atau Ke-‘aku’-an; Raaga atau Ketertarikan, Ke-‘suka’-an; Dvesa atau ketaktertarikan, ke-‘taksuka’-an, kebencian; dan Abhinivesa atau keinginan untuk Mempertahankan suatu Keadaan, termasuk kehidupan itu sendiri–semua ini adalah penyebab Klesa atau penderitaan.”
Sutra II.4

avidyaa ksetram-uttaresaam prasupta-tanu-vicchinn-odaaraanaam

“Avidyaa, kebodohan atau ketidaktahuan adalah dasar, landasan, atau sebab utama segala sebab lainnya yang menyebabkan klesa atau duka-derita (sebab-sebab lain yang dimaksud adalah asmitaa atau ke-‘aku’-an; Raaga dan dvesa atau ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak suka; dan, abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan sesuatu), terlepas dari apakah duka-derita itu dalam keadaan dormant atau tidak aktif; dalam proses sedang berkurang, lewat; sudah teratasi tapi bisa datang kembali, bisa terasa lagi sewaktu-waktu; atau sepenuhnya aktif dan sedang meluas, berkembang, bertambah.”
Sutra II.5

anityaa-asuci-duhkha-anaatmasu nitya-suci-sukha-aatmakhyaatir-avidyaa

“Avidyaa, kebodohan atau ketidaktahuan menyebabkan anggapan keliru bahwa yang tidak kekal adalah kekal; yang tidak murni atau suci adalah murni dan suci; yang menyakitkan dan menghasilkan duka adalah menyenangkan dan membawa suka; dan diri yang palsu, bukan jati diri, adalah diri yang sejati, adalah kebenaran.”
Sutra II.6

drg-darsana-saktyor-ekaatmata-ivaa-asmitaa

“Asmitaa atau Ke-aku-an adalah suatu keadaan saat kekuatan atau energi drg atau ‘kegiatan melihat’ dan darsana atau ‘apa yang terlihat’ tampak satu, sama.”
Sutra II.7

sukha-anusayii raagah

“Raaga, ketertarikan atau ke-suka-an adalah keterikatan pada suatu pengalaman yang dianggap menyenangkan.”
Sutra II.8

duhkha-anusayii dvesah

“Dvesa, ketaktertarikan atau ketaksukaan adalah keterikatan pada suatu pengalaman yabg dianggap tidak menyenangkan.”
Sutra II.9

svarasvaahi viduso’pi samaaruudho’bhinivesah

“Disebabkan oleh svarasa atau rasa terdalam sendiri seseorang, para bijak pun tertaklukkan oleh abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan suatu pengalaman, keadaan, atau hubungan–termasuk keinginan untuk bertahan hidup, untuk mempertahankan kehidupan.”
Sutra II.10

te pratiprasava-heyaah suuksmaah

“Klesa atau duka-derita yang bersifat halus (berarti yang belum terungkap sepenuhnya) dapat diatasi atau dihindari dengan memahami asal-usul atau sumbernya.”
Sutra II.11

dhyaana heyaah tad-vrttayah

“Fluktuasi, modifikasi, gangguan atau vrtti yang disebabkan oleh klesa atau duka-derita, dapat diatasi, dihindari dengan dhyaana atau meditasi.”
Sutra II.12

klesa-muulah karma-asayo drsta-adrsta-janma-vedaniiyah

“Berakar pada klesa atau pengalaman duka-derita–penderitaan–, reservoir atau akumulasi karma atau perbuatan adalah sebab kelahiran atau keberadaan pada saat ini maupun masa mendatang.”
Sutra II.13

sati muule tad-vipaako jaaty-aayur-bhogaah

“Selama sumber atau akar karma atau perbuatan masih ada, masih eksis–dalam arti kata, selama klesa atau duka-derita masih ada dan tersisa–, maka berbuahnya perbuatan atau karma adalah suatu keniscayaan. Pembuahan itulah yang menyebabkan kelahiran, panjang atau pendek usia, dan beragam pengalaman kehidupan lainnya.”
Sutra II.14

te hlaada paritaapa-phalaah punya-apunya-hetutvaat

“Hasil dari karma atau perbuatan (yang berakar pada klesa atau duka-derita) dapat dijalani, dilewati dengan penuh suka cita, penuh keceriaan, dan dengan berdukacita, dengan penuh kepedihan–dalam pengertian, hasil tersebut bisa membawa dampak sukacita, bisa juga berdampak dukacita, tergantung pada alasan perbuatannya, mulia atau tidak mulia.”
Sutra II.15

parinaama taapa samskaara duhkhaih guna-vrtti-virodhaacca duhkham-eva sarvam vivekinah

“Mereka yang telah mengembangkan viveka atau kemampuan untuk memilah (antara kebahagiaan sejati yabg berasal dari Kesadaran Jiwa dan kenikmatan indrawi yang diperoleh dari badan, gugusan pikiran serta perasaan) sadar sesadar-sadarnya bahwa samskaara atau dampak, kesan, residu dari perbuatan dan segala pengalaman masa lalu pun hanya menimbulkan taapa atau rasa cemas; dan, duhkha atau penderitaan.”

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.41-51)

Sutra I.41

ksiina-vrtter-abhijaatasyeva maner-grahiitr-grahana-graahyesu tatstha-tadanjanataa samaapattih

“Keadaan citta atau benih pikiran serta perasaan; dan, manah, gugusan pikiran serta perasaan, yang sudah tidak lagi terpengaruh oleh vrtti-perubahan-perubahan yang terjadi – persis seperti permata atau kristal yang transparan, jernih. Ia tidak terganggu oleh perubahan-perubahan warna yang terjadi karana adanya Ia yang Mengalami, Pengalaman itu sendiri dan Apa yang dialami. Dengan tercapainya keadaan yang disebut samaapattih, berakhirnya segala dualitas, atau Kemanunggalan Ia yang Mengalami, Pengalaman, dan Apa yang dialami, ia (citta atau manah) hanya merefleksikan warna-warna mereka sebagaimana adanya tanpa terpengaruh kejernihannya.”
Sutra I.42

tatra sabdaartha-jnaana-vikalpaih sankiirnaa savitarkaa samaapattih

“(Adalah beberapa tahapan Kemanunggalan atau Samaapattih yang pertama adalah disebut) Savitarkaa samaapattih, di mana Pengetahuan Sejati masih terganggu oleh kata-kata, serta makna dan tujuan kata-kata tersebut. (Gangguan ini dapat diatasi dengan tarka atau pertimbangan yang inteligen).”
Sutra I.43

smrti-parisuddhau svaruupa-suunyevaarthamaatra-nirbhaasaa nirvitarkaa

“(Tahapan Kedua Samaapattih atau Kemanunggalan adalah) Nirvitarkaa Samaapattih, di mana tarka atau pertimbangan yang inteligen pun terlampaui (karena, sudah tidak dibutuhkan lagi). Demikian, gugusan pikiran dan perasaan atau mind yang sudah mencapai keadaan suunya, kasunyatan –terbersihkan dari segala memori atau kesan-kesan dari masa lalu– boleh dikata sudah tiada lagi. adalah tujuan atau maksud adanya pikiran dan perasaan saja yang tersisa, yaitu Samaadhi, Pencerahan.”
Sutra I.44

etayaiva savicaaraa nirvicaaraa ca suuksma visaya vyaalhyaataa

“Demikian pula, (Tahapan Ketiga dan Keempat Kemanunggalan atau Samaapattih) disebut –dijelaskan– sebagai savicaaraa, yang masih mengandung pemikiran halus atau refleksi; dan Nirvicaaraa, tanpa pemikiran halus atau refleksi tentang kondisi-kondisi, atau keadaan-keadaan halus (yang nyaris tak terdeteksi).”
Sutra I.45

Suuksma visayatvam calingga paryavasaanam

“Kondisi-kondisi atau keadaan-keadaan tersebut –kendati sangat halus, dan tidak selalu mewujud –tetaplah mesti dilampaui, diakhiri.”
SutraI.46

taa eva sabiijas-samaadhih

“Sebab, semua ini adalah disebut sabiijah samaadhi. (Berarti, pencerahan yang masih belum sepenuhnya bebas dari kondisi-kondisi tertentu. Pencerahan yang belum sempurna. Pencerahan seperti ini masih mengandung biijah atau biji yang bisa bertunas kapan saja dan memunculkan kondisi-kondisi lain, baik halus maupun kasar –tidak nyata, maupun nyata– yang dapat memengaruhi meditasi).”
Sutra I.47

nirvicaara vaisaaradye’dhyaatma prasaadah

“Dengan mencapai dan mempertahankan Kemanunggalan Nirvicaara yang tidak lagi terpengaruh oleh kondisi-kondisi tertentu, maka bangkitlah Kesadaran Sejati, Kesadaran Jiwa.”
Sutra I.48

rtambharaa tatra prajnaa

“(Dalam keadaan Nirvicaara Samaapattih atau Kemanunggalan tanpa kondisi) Kebijaksanaan, Pengetahuan tinggi, atau Prajnaa seseorang terpenuhi oleh rtam atau kebajikan. Dalam pengertian, seseorang yang telah mencapai keadaan tersebut selalu bertindak tepat sesuai pedoman atau nilai-nilai luhur kebajikan.”
Sutra I.49

srutaanumaana prajnaabhyaam anya visayaa visesaarthatvaat

“Prajnaa atau Pengetahuan Tinggi dan mendalam ini berlandaskan pengalaman pribadi secara langsung (yang menghasilkan kesadaran-diri dan perbuatan yang selaras dengan dharma, nilai-nilai luhur kebajikan). Pengetahuan ini berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh dari orang lain, ataupun yang berdasarkan asumsi-asumsi tertentu.”
Sutra I.50

tajjas-samskaaro’nya-samskaara pratibandhii

“Samskaarah atau Kesan yang tercipta atau timbul dari keadaan ini (keadaam Prajna atau Pengetahuan Sejati, Tinggi, dan Mendalam ini) menjadi penghalang bagi timbulnya kesan-kesan lain. (Demikian, seseorang mencapai kesempurnaan dalam Samaadhi atau Tercerahkan secara Sempurna).”
Sutra I.51

tasyaapi nirodhe sarva-nirodhaan-nirbiijah samaadhih

“Demikian berakhirnya kesan-kesan atau Samskaarah tersebut, berakhir pula segala (rintangan) lain, dan seseorang mencapai Nirbiijah Samaadhi –Pencerahan, Keseimbangan Diri, Kesadaran Murni yang Sempurna.”
Demikian Berakhirlah Bab Samaadhi Padah

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.36-40)

Sutra I.36

visokaa vaa jyotismatii

“Atau dengan memusatkan kesadaran, bermeditasi pada Sumber Cahaya di dalam diri, dan melampaui segala  duka-derita”
Sutra I.37

viita raaga visayam vaa cittam

“Atau dengan memusatkan citta, benih pikiran dan perasaan, pada seseorang yang telah bebas dari keterikatan pada objek-objek (indrawi).”
Sutra I.38

svapna-nidraa jnaana-aalambanam vaa

“Atau, dengan berpegang pada jnaana atau pengetahuan (berdasarkan pengalaman sendiri) yang diperoleh, diraih dari mimpi dan/atau saat tidur.”
Sutra I.39

yathaabhimata dhyaanaad vaa

“Atau, dengan cara bermeditasi–memusatkan kesadaran pada apa yang betul-betul dikehendaki (dan diyakini).”
Sutra I.40

paramaanu paramamahattvaanto’sya vasiikaarah

“(Demikian dengan mengendalikan citta, benih-benih pikiran serta perasaan; dan/atau manah, mind, atau gugusan pikiran dan perasaan -lewat meditasi) segala sesuatu dari bagian atom terkecil hingga (keberadaan atau semesta) yang tak terhingga, tak terbatas, dan maha luas, dapat dikuasai.”

Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana– 9-10

Sloka 9

Sikhaa-jihvaa-sivadvaaram striisuutaih suudrabaalakaih

savakavyam na bhaksyam ca savasamsparsanam bhavet

One striving to the live in a disciplined manner should never allow anything that may contaminate his/her hand, tongue (mouth), and Sivadvaara or tha Door of Siva (Genitals, Psychic Heart, and/or the Crown Cakra or Center of Energy on the top of the head). He/she should also not expect anything from a woman while she is menstruating; and receive no gift from the underprivileged, the destitutes – the Suudra or the working class who must already exert themselves to make their both end meet.

One should also refrain from exploiting the dead (manipulating a deed, a mortgage, or the like – thinking that the dead would not be able to testify anything) or expect anything from the mourning

Seseorang yang berupaya hidup teratur hendaknya tidak membiarkan apapun yang bisa mencemari tangan, lidah (mulut), dan Sivadvaara atau Pintu Siva (Alat Kelamin, Hati Psikis, dan/atau Cakra atau Pusat Energi ke-7 diatas kepala). Hendaknya ia juga tidak mengharapkan apapun dari seorang perempuan yang sedang menstruasi; dan tidak menerima hadiah dari mereka yang kurang berkecukupan -dari Suudra atau kelas pekerja yang sudah harus bekerja keras untuk hidup layak.

Ia juga harus menjauhi tindakan mengeksploitasi mereka yang sudah wafat (memanipulasi dokumen hukum, surat gadai, dan sejenisnya – karena beranggapan bahwa mendiang tidak akan mungkin bersaksi), atau mengharapkan apapun dari mereka yang sedang berduka.
Sloka 10

naasti vidyaasamam mitram naastu krodhasamo ripuh

na caapatyasamah sneeho na ca daivaat param balam

There is no companion, no friend greater than knowledge; there is no enemy greater than anger; there is no sneha or love (can imply attachment-based one) greater than love for one’s children; and, there is no power, no strength, no force – greater than the Divine one.

Tiada sahabat yang lebih hebat dari pengetahuan; tiada musuh yang lebih hebat daripada amarah; tiada sneha tau cinta (secara tersirat berarti keterikatan) yang lebih hebat dari pada cinta pada anak; dan, tiada kekuatan, tiada daya – yang lebih hebat daripada kekuatan Hyang Ilahi.

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.31-35)

Sutra I.31

duhkha-daurmanasyaanggamejayatva-svaasa prasvaasaah viksepa sahabhuvah

“Kekacauan Mental seperti itu juga dibarengi oleh Duhkha atau Duka-Derita, perasaan hampa; Daurmanasya atau Depresi; Anggam dan Svaasa-Prasvaasaah Ejayatva atau Bergemetarnya anggota badan dan Ketidakteraturan Nafas.”
Sutra I.32

tat-pratisedha-artham-eka-tattva-abhyasah

“Untuk menghadapi segala rintangan dan kekacauan pikiran, satu-satunya cara adalah melatih diri secara intensif dan repetitif – sekuat tenaga dan tanpa henti-dalam laku-laku berikut.”
Sutra I.33

Maitrii karunaa mudito-peksaanaam-sukha-duhkha punya-apunya-visayaanaam bhaavanaatah citta-prasaadanam

Maitrii, Menumbuhkembangkan Persahabatan; Karunaa, Kasih; Muditaa, keceriaan; serta Upeksaa atau Tidak Membedakan dan tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang saling bertentangan, seperti  suka-duka, kebaikan-kebatilan, dan sebagainya. Dengan cara inilah citta atau benih-benih pikiran serta perasaan menjadi jernih, dan  tidak terganggu lagi oleh segala pemicu di luar maupun di dalam diri.”
Sutra I.34

pracchardana-vidhaaranaabhyaam va praanasya

“Atau, dengan cara menghembuskan dan menahan Praana atau Energi Kehidupan (dengan mengatur nafas).”
Sutra I.35

visayavatii vaa pravtttir-utpannaa manasah sthiti nibandhinii

“Manah atau Gugusan Pikiran serta Perasaan juga dapat ditenangkan dengan memperhatikan persepsi-persepsi Indrawi (yang muncul saat indra berhubungan dengan benda-benda, kondisi-kondisi tertentu, atau pemicu-pemicu lain).”

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis