Seminar Jurnalistik & Podcast: Speak and Write to Inspire

Taranty Shakila Balqis

Bersama Narasumber Bapak Suriadi Said

SMAN 1 Bontang menggelar Seminar Jurnalistik & Podcast pada Sabtu (16/8) di aula sekolah. Kegiatan ini mengangkat tema “Jurnalisme dan Public Speaking di Era Konten” dan bertujuan menumbuhkan kreativitas, minat, serta bakat siswa dalam menghasilkan konten yang berkualitas di era digital.

Paparan Materi Jurnalistik Asik

Acara dibuka dengan laporan dari Ketua Ekstrakurikuler Jurnalistik dan Podcast, Resti Ririn Rahmadani bersama Muhammad Fatih Faza. Selanjutnya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Ni Made Adnyani secara resmi membuka kegiatan. Suasana hangat terlihat ketika para peserta, yang merupakan anggota ekstrakurikuler jurnalistik dan podcast, menyimak materi dengan antusias dan aktif bertanya.

Materi pertama disampaikan oleh Ketua PWI Bontang, Suriadi Said, yang menekankan pentingnya kode etik dalam dunia jurnalistik. Ia mengingatkan bahwa seorang jurnalis harus selalu melakukan crosscheck untuk memastikan kebenaran berita, mengulik informasi secara mendalam, serta tidak mencampurkan opini pribadi dalam penulisan.

Sesi berikutnya diisi oleh Arya Nadim, yang membawakan materi Basic Photography. Ia memperkenalkan teknik dasar fotografi, terutama konsep rule of thirds sebagai pedoman menentukan titik fokus objek. Para peserta juga diberi kesempatan mempraktikkan langsung teknik pengambilan foto, mulai dari mengatur komposisi, pencahayaan, hingga warna.

Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta ini diharapkan dapat mengasah keterampilan sekaligus memperkaya ide dan konsep kreatif siswa, sehingga mampu menghasilkan karya jurnalistik dan podcast yang relevan dengan perkembangan zaman.

Editor: NM. Adnyani

Bukan Sekadar Tahu, Tapi Mengalami: Kisah Reflektif Ṛṣi Bhṛgu

Sumber: Taittiriya Upanisad

Di sebuah ashram yang hening dan teduh, jauh dari keramaian dunia, tinggallah seorang resi muda bernama Bhṛgu. Ia adalah putra dari resi agung Varuna, seorang guru suci yang dikenal karena kebijaksanaannya dalam mengajarkan tentang Brahman — kebenaran tertinggi dalam alam semesta.

Suatu hari, Bhṛgu, dengan penuh hormat, mendekati ayahnya dan berkata:

“Wahai Ayahanda, ajarkan padaku tentang Brahman, sumber dari segala yang ada.”

Resi Varuna tersenyum lembut. Ia tahu bahwa jawaban sejati tidak bisa hanya didengar — ia harus dialami.

“Brahman,” ujar Varuna, “adalah yang darinya semua makhluk berasal, yang menopang kehidupan, dan yang menjadi tempat kembalinya segala sesuatu setelah kematian.

Renungkanlah ini dalam tapa-mu, dan temukan jawabannya sendiri.”

Maka Bhṛgu pun pergi ke tempat sunyi dan mulai bermeditasi. Ia merenung dalam keheningan, menyatukan pikiran dan hati dalam pencarian yang tulus.

🌾 Tahap Pertama: Makanan (Anna)

Bhṛgu menyadari bahwa semua makhluk hidup dari makanan. Tanpa makanan, tidak ada kehidupan.

“Mungkin… makananlah Brahman.”

Namun ketika ia menyampaikan pemikirannya kepada ayahnya, Varuna hanya menjawab:

“Renungkan lebih dalam lagi.”

🌬️ Tahap Kedua: Prāṇa (Nafas Kehidupan)

Ia pun kembali merenung dan menyadari bahwa makanan tidak berguna tanpa prāṇa — nafas kehidupan.

“Prāṇalah Brahman,” ujarnya dalam hati.

Namun Varuna masih belum puas. Ia menyuruhnya melanjutkan pencarian.

🧠 Tahap Ketiga: Pikiran (Manas)

Bhṛgu menyadari bahwa prāṇa digerakkan oleh pikiran.

“Manas, pikiran yang mengatur dan memilih… ini pasti Brahman.”

Tapi lagi-lagi, belum cukup.

💡 Tahap Keempat: Kecerdasan (Vijñāna)

Ia kemudian melihat bahwa kecerdasan lebih tinggi dari pikiran — kecerdasan menuntun kita mengenali yang benar.

“Vijñāna… inilah Brahman.”

Namun masih ada yang lebih tinggi.

🌸 Tahap Kelima: Kebahagiaan Tertinggi (Ānanda)

Akhirnya, dalam keheningan paling dalam, Bhṛgu mengalami ānanda — kebahagiaan yang tidak berasal dari benda atau pikiran, tapi dari dalam kesadarannya sendiri.

“Inilah Brahman,” katanya.

“Brahman adalah Ānanda — sukacita murni, damai tanpa batas, dan sumber segala kehidupan.”

Varuna tersenyum. Kini, putranya tidak hanya tahu tentang Brahman, tetapi mengalami-Nya secara langsung.

🌟 Nilai Moral dari Kisah Ini:

1. Ilmu sejati tidak cukup hanya didengar — harus dialami.

2. Kebenaran tidak bisa dipaksakan, tapi ditemukan lewat ketekunan.

3. Kebahagiaan sejati bukan dari luar, tapi dari dalam.

4. Seorang guru yang bijak tidak memberi semua jawaban, tapi menuntun murid untuk menemukan sendiri.

5. Tapa (disiplin batin dan perenungan) adalah jalan menuju pencerahan.

❓ Pertanyaan Reflektif

1. Pernahkah kalian merasa bahwa apa yang kalian tahu belum tentu kalian alami? Contohnya?

2. Apa arti “mencari kebenaran” dalam hidup kalian sebagai remaja?

3. Bagaimana kalian dapat melatih disiplin batin (tapa) di tengah kesibukan sekolah dan media sosial?

4. Seberapa penting peran guru dalam hidup kalian, dan bagaimana kalian menyikapi nasihat mereka?

5. Menurut kalian, apakah benar bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam? Mengapa?

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai