Ada dua tipe manusia yang terlihat sangat berbeda, namun keduanya menyimpan kecemasan yang sama. Yang pertama, menganggap dirinya penuh dosa, tak layak, dan selalu merasa bersalah. Yang kedua, merasa dirinya mulia, berbudi, dan sering membanggakan pencapaiannya. Sekilas bertolak belakang, namun keduanya terjebak dalam jerat pikiran sendiri. Mereka cemas, gelisah, dan jauh dari damai.
Mengapa demikian?
Karena keduanya hidup di dalam penghakiman. Yang satu menghukum diri, yang lain memuja diri. Keduanya tidak benar-benar melihat diri apa adanya, melainkan melalui lensa mental yang bias dan penuh beban. Keduanya membutuhkan hal yang sama: kepuasan mental. Dan itu tidak datang dari penilaian, pujian, atau penyesalan. Itu hanya bisa ditemukan dalam keheningan batin—dalam meditasi.
Sathya Sai Baba mengatakan bahwa pemahaman akan tumbuh dari meditasi, dan dari pemahaman itu lahir kebijaksanaan. Tetapi meditasi bukan sesuatu yang bisa diraih hanya karena tahu bahwa itu penting. Harus ada keinginan yang menyala. Keinginan itu harus kuat, lebih kuat dari kemalasan, lebih besar dari keraguan, dan lebih tahan dari segala bentuk godaan untuk lari.
Keinginan untuk berubah adalah benih dari usaha. Tanpa keinginan, tidak ada gerak. Tanpa usaha, keinginan tetap angan. Maka dalam setiap langkah meditasi, kita sesungguhnya sedang menjawab pertanyaan terdalam dari hidup: siapkah aku mengenali diriku sendiri, tanpa topeng dosa dan tanpa bayang mulia?
Meditasi tidak menuntut kita menjadi orang lain. Ia hanya meminta kita diam, jujur, dan hadir. Di situlah pemahaman lahir, bukan karena kita diberi tahu, tapi karena kita melihat sendiri.
Dan ketika kita mulai melihat, kecemasan pun memudar.
Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk mengalami kedamaian. Kita hanya perlu hadir sepenuhnya dalam keheningan, dalam keinginan tulus untuk mengerti diri.
Bontang — Suasana Aula SMA Negeri 1 Bontang dipenuhi semangat dan antusiasme siswa kelas X pada Selasa, 29 April 2025. Kegiatan Guru Tamu kali ini menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia dalam program literasi keuangan bertajuk “Cinta Rupiah”, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah kepada generasi muda.
Dua narasumber dari Bank Indonesia, Bapak Erwin Firman Jaya dan Bapak Mahardika Wicaksono Putra, hadir sebagai pemateri utama. Keduanya menjabat sebagai Administrator Perkasaan di Bank Indonesia. Acara difasilitasi oleh Ibu Ni Made Adnyani dengan dukungan dari para guru dan tim jurnalistik SMANSA yang turut mendokumentasikan kegiatan.
Sesi pembuka menghadirkan pengenalan mendalam mengenai peran strategis Bank Indonesia dalam pengelolaan mata uang Rupiah, mencakup proses perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan, penarikan, hingga pemusnahan uang yang sudah tidak layak edar.
Fokus utama kegiatan adalah pengenalan konsep CBP Rupiah (Cinta, Bangga, Paham Rupiah):
Cinta Rupiah, diwujudkan dengan mengenali keaslian uang dan merawatnya agar tetap layak edar. Bangga Rupiah, ditanamkan sebagai bentuk penghargaan terhadap Rupiah sebagai simbol kedaulatan dan pemersatu bangsa. Paham Rupiah, mengajak siswa memahami fungsi uang dalam sistem ekonomi nasional.
Narasumber juga memaparkan prestasi membanggakan, yaitu Uang Rupiah Tahun Emisi 2022 yang meraih penghargaan Best New Banknote Series dalam IACA Awards 2023. Rupiah TE 2022 berhasil unggul dari berbagai nominasi internasional berkat inovasi unsur pengaman, integrasi nilai sejarah dan budaya, serta estetika desain uang kertas.
Edukasi dilanjutkan dengan kampanye “5J” untuk menjaga kualitas uang Rupiah: Jangan Dilipat, Jangan Dicoret-coret, Jangan Diremas, Jangan Distapler, dan Jangan Dibasahi. Para siswa juga dikenalkan pada ciri-ciri uang palsu serta prosedur penukaran uang rusak sesuai ketentuan Bank Indonesia.
Sesi berlangsung semakin menarik ketika narasumber membagikan lampu ultraviolet kepada siswa untuk memeriksa keaslian uang kertas. Fitur keamanan yang tersembunyi pada uang Rupiah terlihat jelas, menumbuhkan rasa kagum dan bangga para peserta.
Sebagai penutup, diputar film pendek produksi Bank Indonesia yang menggambarkan nilai-nilai penting dari Rupiah. Sesi tanya jawab berlangsung aktif dan apresiatif; siswa yang berani bertanya mendapatkan suvenir menarik dari narasumber. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi keuangan siswa serta menumbuhkan kebanggaan terhadap Rupiah sebagai bagian dari identitas bangsa.
Bontang, 26 April 2025 – SMA Negeri 1 Bontang kembali menggelar Smansa Youth Competition (SYC) ke-9 di aula sekolah pada Sabtu, 26 April 2025. Acara dimulai pukul 08.00 WITA, dibuka dengan sambutan dari pembawa acara, Aisyah, yang menyapa tamu undangan, termasuk perwakilan PMI Kota Bontang, Kepala SMA Negeri 1 Bontang, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Humas, para pembina PMR, serta pendamping dari masing-masing peserta. Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PMI, dilanjutkan pembacaan 7 Prinsip PMR dan Tribakti Palang Merah sebagai penguatan nilai kemanusiaan.
Dalam laporan ketua panitia, disampaikan bahwa SYC ke-9 mengangkat tema “Beyond Boundaries, Adventure of Giving”, mencerminkan semangat kepedulian dan kolaborasi. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 26–27 April 2025, diikuti oleh 20 sekolah tingkat Madya dan Wira, dengan delapan jenis perlombaan. Ketua panitia berharap SYC menjadi sarana pengembangan diri sekaligus mempererat persahabatan antaranggota PMR.
Sekretaris PMI Kota Bontang, Bapak Lukman, dalam sambutannya mewakili Ketua PMI Kota Bontang, mengapresiasi konsistensi SMA Negeri 1 Bontang dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, PMR berperan penting dalam membina karakter generasi muda yang cerdas, tangguh, dan berjiwa kemanusiaan.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Bontang dalam sambutannya menegaskan bahwa SYC merupakan agenda tahunan sekolah yang telah memasuki tahun ke-9. Tahun ini, kegiatan diikuti oleh 9 tim tingkat Wira dan 11 tim tingkat Madya. Beliau menekankan bahwa SYC bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari upaya membangun karakter siswa, khususnya dalam menghadapi situasi kemanusiaan seperti bencana.
Beliau juga menegaskan pentingnya disiplin dan kejujuran sebagai fondasi utama karakter. “Tidak cukup hanya pintar secara akademik. Disiplin dan jujur adalah kunci. Dua karakter ini, jika diterapkan dengan sungguh-sungguh, akan membentuk karakter positif lainnya,” tegasnya.
Acara ditutup dengan penyematan tanda peserta secara simbolis oleh Kepala Sekolah, diikuti pembacaan doa.
Sudah lebih dari satu tahun sejak kepergianmu, sejak dunia ini kehilangan sosok yang bagiku adalah cahaya dan pelindung. Tapi hari ini, aku merasakan rindu itu datang kembali… dengan deras, dengan dalam, dan dengan air mata yang tidak bisa kutahan.
Rindu ini datang tanpa alasan yang jelas. Hanya tiba-tiba memenuhi dada, seolah hatiku memanggilmu, memohon untuk dipeluk sekali saja oleh hadirmu yang kini hanya bisa kurasakan dalam kenangan.
Aku masih ingat betul—satu momen yang hangat, yang selalu tinggal di ingatanku. Saat aku pulang ke kampung, Ayah menyambutku dengan kegembiraan yang begitu tulus. Kau meneleponku berkali-kali, memastikan aku benar-benar datang. Suaramu waktu itu… penuh harap, penuh rindu. Dan ketika aku sampai, kau memasak sesuatu yang khusus untukku. Sederhana mungkin bagi dunia, tapi bagiku—itu adalah bentuk cinta paling murni yang pernah kurasakan.
Namun, ayah…
Ada satu hal yang terus mengganjal di hatiku. Saat itu, aku malah tidur di rumah mertua. Mungkin karena alasan waktu dan keadaan, tapi tetap saja aku menyesal. Aku tahu, kau pasti menunggu. Mungkin menatap pintu, berharap aku akan datang, duduk bersamamu, mengobrol seperti dulu. Tapi malam itu berlalu tanpa aku hadir di sisi tempatmu. Dan waktu tak pernah memberikan kesempatan kedua.
Ayah,
Kau wafat pada 18 Agustus 2022—bulan yang sama saat aku dilahirkan. Mungkin semesta sedang berbicara lewat waktu. Mungkin agar aku tak pernah lupa, bahwa ada cinta yang mengiringi langkah hidupku sejak awal, dan akan tetap bersamaku sampai akhir.
Hari ini, aku hanya bisa menulis… karena kata-kata adalah satu-satunya jembatan yang kutemukan antara dunia ini dan dunia tempatmu berada sekarang.
Aku ingin berkata:
Maaf, Ayah… atas waktu yang tak sempat kuberikan.
Terima kasih… atas cinta dan pengorbananmu yang tak pernah meminta imbalan.
Dan aku mencintaimu… lebih dari yang sempat terucap selama hidupmu.
Kini, aku hidup dengan rindu yang tak akan pernah selesai. Tapi aku tahu, dalam setiap langkahku, dalam setiap keputusan penting yang kuambil, dalam setiap doa yang kuucap—ada namamu, ada cintamu, ada doa-doamu yang diam-diam masih menuntunku.
Damailah di sana, Ayah.
Di sini, anakmu masih terus berjalan… membawa cintamu sebagai cahaya di setiap lorong hidup yang gelap.
Minggu pagi, 13 April 2025. Halaman parkir DPMPTSP—eks Kantor Wali Kota Bontang—berubah menjadi ruang batin yang hening dan hangat. Dari tempat yang biasanya dipadati kendaraan, kini tergelar matras-matras yoga yang menanti tubuh-tubuh hadir, jiwa-jiwa diam, dan nafas-nafas menyatu. Di sinilah Saka Yoga Festival digelar, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 yang juga merupakan agenda nasional panitia Nyepi, dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia.
Festival ini mengusung tema Manawasewa, Madhawasewa—pelayanan kepada sesama sebagai bentuk tertinggi dari pelayanan kepada Tuhan. Di Kota Bontang, kegiatan ini dilaksanakan dengan penuh semangat kolaborasi oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Bontang, didukung oleh WHDI, PERADAH, Pasraman Widya Buana, Paruman Walaka, dan Paruman Pinandita.
Sebanyak 77 peserta dari berbagai usia dan latar belakang hadir—anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, laki-laki maupun perempuan. Di bawah bimbingan instruktur Ni Made Adnyani dari Bhadra Yoga Sanstha, latihan yoga berlangsung dengan ritme lembut dan penuh kesadaran. Gerakan demi gerakan mengalir seperti doa, nafas menjadi pusat perhatian, dan tubuh menjadi wahana pelayanan—bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama dan semesta.
Dalam sambutannya, Ketua PHDI Bontang, dr. I Wayan Santika menegaskan bahwa yoga adalah bentuk Sadhana—latihan spiritual yang menyucikan pikiran dan raga, sekaligus mendekatkan manusia pada kebijaksanaan hidup. Yoga, katanya, bukan sekadar gerak tubuh, tapi jalan sunyi menuju kedamaian batin.
Yang paling mengesankan dari festival ini adalah antusiasme para peserta. Sejak pagi, mereka berdatangan dengan penuh semangat. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang datang sendiri namun tak merasa sendiri. Di antara gerakan yang pelan dan hening, terasa denyut kebersamaan yang kuat. Tidak ada kompetisi, tidak ada perbandingan—yang ada hanya kehadiran utuh dan kerendahan hati untuk belajar, menerima, dan berbagi.
Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan pembagian doorprize yang disiapkan oleh ibu-ibu WHDI. Tawa dan kehangatan mengalir, menambah rasa syukur atas pagi yang sederhana namun penuh makna.
Saka Yoga Festival di Bontang adalah ruang kontemplatif sekaligus komunitatif. Sebuah momen untuk menyadari bahwa pelayanan bisa dimulai dari hal-hal yang tampak kecil: dari hadir sepenuh hati, dari satu tarikan nafas yang sadar, dari tubuh yang bersedia bergerak dalam doa. Yoga tak hanya menyehatkan, tetapi juga menyadarkan—bahwa pelayanan suci bisa dimulai dari dalam diri.
Bontang, 10 April 2025 — Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai kegiatan pelepasan siswa-siswi kelas XII SMAN 1 Bontang tahun pelajaran 2024/2025 yang digelar pada Kamis, 10 April 2025, pukul 08.00–12.00 WITA di GOR SMAN 1 Bontang. Sebanyak 240 siswa mengikuti prosesi pelepasan sebagai penanda berakhirnya masa studi mereka di jenjang SMA.
Acara ini dibuka dengan persembahan tari daerah dari siswa kelas XII, disusul dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Smansa yang menambah nuansa khidmat dan semangat nasionalisme. Pembacaan tilawah dan doa turut mengiringi keberkahan acara ini sejak awal.
Laporan kegiatan disampaikan oleh ketua panitia pelaksana, Pabim, yang juga merupakan siswa kelas XII. Dalam laporannya, Pabim mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan ini serta menyampaikan harapan terbaik bagi rekan-rekannya yang akan melangkah ke jenjang berikutnya.
Kepala SMAN 1 Bontang, Sumariyah, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan pencapaian para siswa. Ia juga memberikan pesan agar lulusan SMAN 1 Bontang terus membawa semangat belajar, karakter unggul, serta mampu berkontribusi bagi masyarakat. “Pelepasan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan panjang kalian untuk meraih masa depan yang gemilang,” ujarnya.
Salah satu momen istimewa dalam kegiatan ini adalah penyerahan peserta didik secara simbolis dari pihak sekolah kepada orang tua. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada siswa berprestasi di bidang akademik dan non-akademik, serta kepada para ketua ekstrakurikuler sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka selama bersekolah.
Prosesi wisuda menjadi inti dari kegiatan ini, di mana seluruh siswa kelas XII dipanggil satu per satu untuk menerima simbol pelepasan secara resmi. Rangkaian acara dilanjutkan dengan penyampaian pesan dan kesan yang menyentuh dari perwakilan siswa kelas X dan XI oleh Ketua OSIS 2024/2025, serta dari siswa kelas XII yang diwakili oleh Ketua OSIS 2023/2024.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama yang menjadi penanda berakhirnya momen pelepasan ini. Kegiatan berlangsung tertib, penuh semangat, dan menjadi kenangan tak terlupakan bagi para siswa, guru, serta orang tua yang hadir.
Setelah libur Hari Raya Idulfitri, keluarga besar SMAN 1 Bontang kembali berkumpul dalam suasana penuh kehangatan dan harapan baru. Pada Rabu, 9 April 2025, sekolah mengadakan kegiatan apel pagi spesial bertajuk “Merajut Ulang Kebersamaan: Momen Pascalebaran di Sekolah”, yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Kegiatan diawali dengan apel pagi di lapangan sekolah. Kepala SMAN 1 Bontang, Ibu Sumariyah, S.Pd., M.Pd dalam sambutannya menyampaikan pesan-pesan inspiratif tentang pentingnya menjaga semangat belajar pascalebaran serta memperkuat hubungan antarsesama. Beliau menekankan bahwa Idulfitri bukan hanya momen keagamaan, tetapi juga ruang untuk menyegarkan kembali hati dan pikiran, mempererat tali silaturahmi, serta memperbaiki relasi yang mungkin sempat renggang.
“Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar ilmu, tetapi juga tempat untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik. Melalui momen ini, mari kita tumbuhkan kembali semangat saling menghargai, saling mendukung, dan saling memaafkan,” ujar beliau di hadapan seluruh peserta apel.
Setelah apel, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi berjabat tangan. Siswa membentuk barisan panjang, bergiliran bersalaman dengan guru dan sesama teman, dalam suasana yang hangat, sederhana, dan penuh ketulusan. Meskipun tanpa hiasan mewah atau dekorasi khusus, suasana pagi itu dipenuhi senyum, tawa, dan harapan baru. Terlihat beberapa siswa saling memeluk dengan sahabat dekat mereka, menghapus kesalahpahaman yang pernah terjadi, dan memilih memulai ulang dengan hati yang lebih lapang.
Salah satu siswa kelas XI, Ririn, mengungkapkan bahwa momen ini sangat berarti baginya.
“Kadang kita sibuk sendiri, jarang punya waktu untuk menyapa apalagi meminta maaf. Tapi hari ini, kami bisa saling menatap dan berkata ‘maaf ya’ secara langsung. Rasanya ringan sekali,” tuturnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata pendidikan karakter yang diupayakan sekolah. Tanpa harus menyebut istilah tertentu, nilai-nilai luhur seperti kasih sayang, pengampunan, penghargaan, dan keikhlasan ditanamkan melalui tindakan sederhana namun bermakna. Di tengah rutinitas akademik, sekolah tetap memberi ruang bagi praktik nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan momen ini, SMAN 1 Bontang berharap seluruh siswa dan warga sekolah dapat kembali melangkah dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang menyala—siap menghadapi tantangan pembelajaran dengan sikap saling mendukung dan saling menguatkan.
Terima kasih kepada Tim Jurnalistik yang mendokumentasikan kegiatan ini.
Ada momen dalam hidup yang terasa seperti dunia runtuh perlahan, bukan dengan ledakan, tetapi dengan keheningan yang memilukan: saat kita mengetahui bahwa seseorang yang kita cintai telah mencintai orang lain.
Dan dari sekian banyak reaksi emosional yang bisa muncul, satu yang paling sering terjadi adalah kita lebih mudah menyalahkan orang ketiga daripada pasangan kita sendiri.
Mengapa?
Mungkin karena jauh di dalam hati, masih ada cinta yang belum selesai. Masih ada harapan, bahwa ini hanya sementara, bahwa pasangan kita hanya tersesat, bukan sungguh-sungguh berpaling. Maka kita mencari sosok yang bisa dituduh, seseorang di luar hubungan ini yang bisa kita anggap sebagai penyebab keretakan.
Padahal…
Luka Terbesar Sering Datang dari yang Terdekat
Ada benturan hebat yang terjadi di dalam batin. Kepercayaan lama yang berkata, “Pasanganku mencintaiku dan tak akan berpaling,” tiba-tiba bertabrakan dengan kenyataan baru: “Pasanganku ternyata bisa mencintai orang lain.” Dan di sanalah lahir ketegangan yang disebut cognitivedissonance—sebuah konflik batin yang membuat kita goyah di dalam, namun tetap harus tampak tegar di luar.
Menunjuk orang luar sebagai penyebab, kadang adalah cara paling sederhana untuk menyelamatkan diri dari kepedihan yang lebih dalam. Kita tidak perlu langsung membenci pasangan, kita tidak perlu runtuh sepenuhnya. Cukup dengan berkata, “Ada orang lain yang datang dan merusak semuanya.”
Cinta, Harga Diri, dan Rasa Tak Cukup
Menyalahkan orang ketiga juga kadang lahir dari kebutuhan untuk menjaga harga diri. Kita tak ingin melihat diri sendiri sebagai seseorang yang dikhianati, tidak cukup menarik, atau kalah bersaing. Maka kita membuat narasi yang bisa menghibur ego kita: bahwa kita masih cukup baik, hanya saja ada yang datang dan mencuri perhatian pasangan.
Namun, sering kali itu hanyalah ilusi. Karena orang ketiga tidak datang tanpa celah. Ia hadir karena ada ruang yang tidak dijaga. Dan itu bukan hanya tentang salah siapa, tapi tentang apa yang telah lama tidak dibicarakan, tidak dipeluk, tidak dijaga.
Apa yang Ingin Kita Pertahankan?
Kadang kita menyalahkan orang luar bukan karena benar-benar percaya bahwa orang luar sepenuhnya bersalah, tetapi karena kita belum siap kehilangan. Kita masih ingin percaya bahwa hubungan ini bisa diselamatkan jika gangguan di luar berhasil disingkirkan. Padahal mungkin, luka sebenarnya sudah tumbuh jauh sebelum orang ketiga datang.
Dan mungkin… bukan tentang siapa yang salah, tetapi tentang apa yang telah hilang.
Keberanian untuk Melihat ke Dalam
Menyalahkan orang ketiga memang terasa lebih mudah. Tapi keberanian sejati adalah saat kita mampu melihat ke dalam diri dan hubungan kita sendiri, tanpa ilusi, tanpa pelarian.
Cinta dewasa tak lagi mencari kambing hitam. Ia belajar menerima kenyataan dengan hati yang lapang, meski perih. Ia tahu bahwa kehilangan kadang adalah awal dari kejujuran.
Dan mungkin, dari reruntuhan rasa percaya itulah, kita akan membangun sesuatu yang lebih jujur—entah bersama, atau sendiri.
Tulisan Ini aku susun berdasarkan pengalaman pribadiku, aku berhasil membebaskan diri dari upaya menyalahkan orang lain (baca orang ketiga). Aku lebih memilih melihat kenyataan Sebenarnya. Kejadian seperti ini terjadi juga di kehidupan Sekarang di masa lampau, tapi gaya berpikirku Tetap sama, memilih melihat kenyataan Sebenarnya yang ada di “dalam”
Aku juga terus menunggu dan menunggu sampai ku temukan yang paling tulus. Yang tidak Gaduh dengan dirinya sendiri.
Kepada Para Pembaca, Terima kasih sudah membaca tulisan ini, tulisan Ini mungkin tidak sejalan dengan pemikiran banyak orang, tapi Itulah yang aku alami dan lakukan. Aku lebih sering “membongkar” yang di dalam ketimbang “memaki” yang di luar
Di rumah adik, di daerah trans Baru, nama jalannya jalan Terkini
Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur – Kalimantan Timur
Perjalanan ke Kaliorang awal April ini tidak dimulai dengan kesiapan, melainkan dengan keraguan. Tanggal 1 April 2025, aku bangun terlambat, masih menggantung antara jadi berangkat atau tidak. Isu keamanan perjalanan dengan travel membuatku cemas, dan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya fit membuat suamiku melarangku membawa kendaraan sendiri. Tapi anak-anak—dengan semangat mereka yang polos dan jujur—membuatku luluh. Mereka begitu bersemangat untuk pulang kampung, dan semangat itu menular.
Akhirnya, meski tanpa rencana yang matang, kami berangkat. Semua barang bawaan sudah disiapkan sebelumnya. Tepat pukul 12 siang, kami melaju, menyusuri jalan panjang menuju Kaliorang. Kali ini, dua kucing kesayangan kami, Koyen dan Krim, juga ikut dalam perjalanan. Dalam waktu lima jam tanpa henti, kami tiba. Jalanan sepi, dan mungkin itu yang mempercepat laju kami. Ini adalah kali kedua aku menyetir sendiri ke Kaliorang—perjalanan yang menuntut keberanian, namun juga membawa ketenangan.
Seperti biasa, aku membawa oleh-oleh: boneka-boneka untuk anak-anak di kampung, sepiring telur, bahan sayuran, dan empek-empek ikan tenggiri khas Bontang. Pulang ke kampung selalu terasa belum lengkap tanpa membawa sesuatu untuk dibagikan. Mungkin karena bagiku, memberi adalah bagian dari upaya menjaga hubungan—dengan keluarga, dengan kampung halaman, juga dengan diri sendiri.
Selama di Kaliorang, hari-hariku kuisi dengan mengunjungi rumah kakak, adik, paman, dan ipar. Di antara pertemuan itu, aku juga menyiapkan sesajen di rumah dan mengikuti rutinitas yang kini menjadi bagian dari identitasku—melakukan homa setiap sore bersama Ibu. Api yang kami nyalakan di altar bukan sekadar nyala fisik, tapi juga simbol cahaya batin, harapan, dan penghormatan.
Mereka lagi sangkep, para kelian banjar masyarakat bocil
Bagi anak-anakku, Kaliorang adalah dunia kecil yang penuh warna. Saat sepupu-sepupu mereka datang dan menginap, rumah berubah menjadi ruang riuh penuh tawa dan cerita. Namun menariknya, setiap pertemuan selalu diawali dengan keheningan yang canggung—tidak ada sapa, hanya diam dan pandang-pandangan malu-malu. Tapi satu atau dua jam kemudian, suasana mencair. Mereka bermain, tertawa, dan berbagi cerita hingga larut malam, seperti tidak pernah berpisah.
Salah satu momen paling berkesan bagi mereka adalah kegiatan Bhajan setiap hari Kamis di Ashram. Di sana, mereka menyanyikan lagu-lagu pujian untuk Guru dan Dewi, mengikuti alunan musik spiritual yang membawa kedamaian. Dalam rangkaian Bhajan itu, selalu ada meditasi cahaya—sebuah jeda hening yang menyatukan batin dalam keheningan kolektif. Ditutup dengan permohonan vibhuti, kegiatan ini menjadi pengalaman spiritual yang sangat berharga. Komunitas Bhajan seperti ini hanya ada di Kaliorang—sebuah oase rohani di tengah Kalimantan Timur.
Kaliorang bukan hanya tempat. Ia adalah ruang dalam diriku yang selalu mengingatkan akan akar, akan api, akan cinta yang tidak banyak bicara tapi terus menyala. Di sana, pulang bukan soal kembali ke lokasi, tapi soal kembali pada diri sendiri.
Dan dalam setiap perjalanan pulang, aku belajar lagi arti sederhana dari kehidupan: rumah yang menerima tanpa syarat, rindu yang menyambut diam-diam, dan ritual yang menjaga nyala jiwa tetap hidup.
Terima kasih telah menyempatkan waktu membaca catatan perjalananku ke Kaliorang—sebuah perjalanan yang mungkin sederhana, tapi menyimpan banyak makna bagi jiwa. Mungkin kamu juga punya kampung halaman yang memanggilmu diam-diam, atau punya kenangan akan ritual dan kebersamaan yang menghangatkan hati. Tulisan ini adalah undangan untuk kita semua: untuk pulang, ke tempat yang menenangkan, ke orang-orang yang mencintai kita, dan ke sisi batin yang sering kita abaikan di tengah hiruk pikuk dunia.
Jika kamu punya cerita pulangmu sendiri, aku akan senang sekali jika kamu membaginya. Karena setiap cerita tentang pulang, pada akhirnya adalah cerita tentang menjadi manusia.