NM. Adnyani

“Aku melihat kucing duduk di jendela. Diam. Tenang. Tapi matanya tajam, seolah tahu segalanya. Lalu aku bertanya pada diriku: apakah aku bisa seperti itu?”
Tentang Kebebasan
Kucing tidak memaksakan diri untuk menjadi seperti yang diinginkan orang lain. Ia datang ketika ingin, pergi ketika perlu. Ia hadir dengan utuh, tanpa topeng.
🌿 Sudahkah aku memberi ruang untuk menjadi diriku sendiri?
🌿 Ataukah aku terus-menerus mengejar pengakuan dari luar, dan kehilangan jati diriku sendiri?
Tentang Hadir Penuh
Kucing tidak makan sambil tergesa. Tidak bermain sambil berpikir tentang hal lain. Ia sepenuhnya ada di momen itu.
🌿 Sudahkah aku benar-benar hadir hari ini?
🌿 Apakah aku mendengarkan orang lain, atau hanya menunggu giliran bicara?
Tentang Diam
Kucing bisa duduk berjam-jam, menatap satu titik, tanpa merasa bersalah karena tidak produktif.
🌿 Kapan terakhir kali aku benar-benar diam?
🌿 Bukan sekadar diam secara suara, tapi diam di dalam pikiran dan hati.
Tentang Merawat Diri
Kucing selalu membersihkan dirinya. Ia tahu tubuhnya berharga. Ia tahu kapan tidur, kapan bergerak.
🌿 Sudahkah aku memperlakukan tubuhku dengan hormat?
🌿 Ataukah aku memaksa tubuh ini berjalan terus, padahal ia lelah dan minta jeda?
Tentang Batas
Kucing tahu kapan harus mendekat, dan kapan harus pergi. Ia tidak memaksa kedekatan. Ia ajarkan kita tentang batas sehat dalam hubungan.
🌿 Apakah aku menjaga batas dengan orang lain — dan dengan diriku sendiri?
🌿 Apakah aku berani berkata cukup, ketika hati ini sebenarnya ingin berhenti?
Tentang Ketangguhan yang Diam
Kucing mungkin tampak tenang, bahkan manja. Tapi ia gesit saat dibutuhkan. Ia tidak selalu menunjukkan kekuatannya, tapi ia siap.
🌿 Apakah aku menyadari kekuatan dalam diriku, meskipun dunia tidak melihatnya?
🌿 Bisakah aku menjadi kuat tanpa menjadi keras?
🌙 Merenung Bersama Kucing
Kita hidup di dunia yang bising. Dunia yang menuntut kita cepat, sibuk, sempurna.
Tapi kucing mengajarkan kita pelan-pelan…
…bahwa ada kebijaksanaan dalam diam,
…ada cinta dalam menjaga jarak,
…dan ada kekuatan dalam tidak selalu terlihat.
“Tidak apa-apa jika aku tidak selalu ada di garis depan.
Tidak apa-apa jika aku butuh waktu sendiri.
Tidak apa-apa jika aku memilih diam.
Karena dalam diam itulah aku mendengar siapa diriku.”


