Melihat Masa Depan Bersama Anak-Anakku: Refleksi Perjalanan ke IKN

NM.Adnyani

Saat di Taman Kusuma Bangsa, kami di guyur Hujan. Jadi hujan-hujanan di sana dengan seru. Persis ala film India yang menari nari di bawah hujan

6 April 2025 menjadi tanggal yang akan selalu aku kenang sebagai momen sederhana namun bermakna. Hari itu, aku mengajak anak-anakku ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Bukan sekadar kunjungan wisata, tapi perjalanan yang penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Mereka belum pernah ke sana sebelumnya, sementara aku sudah dua kali. Namun perjalanan kali ini terasa sangat berbeda—karena aku melihat IKN bukan dari mataku sendiri, tapi dari mata anak-anakku.

Perjalanan kami dimulai dari Kota Bontang. Untuk pertama kalinya, kami naik bus menuju Balikpapan. Biasanya, aku selalu menyetir mobil sendiri, tapi kali ini kami mencoba cara berbeda. Naik bus ternyata menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi kami sekeluarga. Anak-anak terlihat antusias, mungkin karena rasanya seperti “petualangan kecil” bagi mereka.

Setibanya di Balikpapan, kami melanjutkan perjalanan ke IKN menggunakan mobil pribadi yang memang biasa digunakan suamiku. Ia bekerja di Balikpapan, jadi kami memang menyimpan satu mobil di sana. Perjalanan darat ke IKN cukup lancar, dan perlahan-lahan pemandangan kota masa depan mulai terlihat di depan mata.

Kami menyusuri Sumbu Kebangsaan, berjalan di Taman Kusuma Bangsa, dan menikmati setiap sudut IKN yang kini sedang bertransformasi menjadi pusat pemerintahan Indonesia. Anak-anak terlihat terpukau. Salah satu dari mereka berseru, “Bund, ini kayak di Cina! Keren banget!” Aku tertawa kecil. Ya, bahkan anak-anak bisa merasakan nuansa megah dan modernnya kota ini.

Di tengah kekaguman itu, anak sulungku menatapku dan berkata dengan yakin, “Aku mau jadi dokter di IKN nanti.” Aku tersenyum haru. Tak ada kalimat panjang, hanya sebuah jawaban tulus dari hatiku, “Pasti akan ada pada masanya nanti. Tetaplah belajar.”

Perjalanan ini bukan sekadar menyaksikan bangunan tinggi, taman kota, atau deretan alat berat yang bekerja siang malam. Lebih dari itu, ini tentang harapan. Tentang memperlihatkan kepada anak-anak bahwa masa depan itu nyata, dan mereka punya tempat di dalamnya.

Sebagai ibu, aku merasa bahagia. Karena hari itu, aku tidak hanya mendampingi mereka melihat IKN—aku juga menjadi saksi tumbuhnya mimpi-mimpi kecil yang mungkin suatu saat akan menjadi nyata. Mungkin kelak, anakku benar-benar akan mengenakan jas dokter dan berjalan di jalanan kota ini, tak lagi sebagai pengunjung, tapi sebagai bagian dari penggeraknya.

Dan hari itu, dalam langkah-langkah kecil dan tawa kami, aku tahu: aku telah berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat—menemani mereka saat benih mimpi itu mulai tumbuh.

Terima kasih sudah membaca kisah kecil kami hari ini. Kadang, refleksi terbesar datang dari momen paling sederhana. Pernahkah kamu juga mengalami perjalanan yang membuka makna baru dalam hidupmu? Ceritakan di kolom komentar atau tulis kisahmu sendiri. Kita semua sedang menyusuri versi masing-masing dari “masa depan.”

“Kakak/Kakanda, Sebuah Sapaan Penuh Makna dalam Hubungan”

NM. Adnyani

Perayaan Nyepi selalu menjadi momen istimewa bagi siapa pun yang ingin menemukan makna dalam keheningan. Dalam ketenangan tanpa suara, kita sering kali lebih memahami pentingnya setiap kata yang pernah kita ucapkan.

Di tengah suasana Nyepi, saya merenungkan bagaimana bahasa memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk hubungan. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana dalam Kakawin Ramayana, Dewi Sita memanggil Rama dengan sebutan “kakanda.” Sebutan ini tampaknya sederhana, tetapi jika kita melihat lebih dalam, ia menyimpan filosofi yang menarik tentang cinta, penghormatan, dan kehangatan dalam hubungan.

Panggilan yang Berbeda di India dan Nusantara

Dalam Ramayana versi India, baik yang ditulis oleh Maharṣi Vālmīki maupun dalam adaptasi daerah seperti Kamban Ramayana (Tamil) dan Ramcharitmanas (Hindi), Sita tidak pernah memanggil Rama dengan sebutan “kakak” atau “kakanda.” Sebaliknya, ia menggunakan sapaan seperti “Aryaputra” (आार्यपुत्र) yang berarti “putra seorang bangsawan” atau “yang mulia.”

Panggilan ini mencerminkan hubungan mereka yang penuh hormat tetapi tetap romantis dalam tradisi India. Sita tidak hanya melihat Rama sebagai suaminya tetapi juga sebagai seseorang yang memiliki kebajikan tinggi dan layak dihormati.

Namun, ketika Ramayana diadaptasi dalam sastra Jawa dan Bali, terjadi pergeseran dalam cara Sita menyapa Rama. Sebutan “kakanda” atau “kakak” lebih sering digunakan, menyesuaikan dengan norma sosial dan bahasa sastra yang berkembang di Nusantara.

Mengapa Sita Memanggil Rama “Kakanda” di Nusantara?

1. Pengaruh Struktur Sosial Jawa dan Bali

Dalam budaya Jawa dan Bali, pasangan sering menggunakan panggilan yang mencerminkan hubungan hierarkis tetapi tetap lembut. Seorang istri bisa memanggil suaminya dengan “kakanda” sebagai bentuk penghormatan, bukan hanya berdasarkan usia tetapi juga status sosial dalam rumah tangga.

2. Konsep Hierarki dalam Pasangan

Dalam ajaran Hindu di Nusantara, suami sering dipandang sebagai pemimpin rumah tangga (gṛhastha). Panggilan “kakanda” mencerminkan bahwa Sita melihat Rama sebagai pelindung dan pemimpinnya, mirip dengan bagaimana seorang adik menghormati kakaknya.

3. Gaya Bahasa dalam Kakawin

Kakawin merupakan puisi klasik yang menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno) dengan pengaruh dari Sanskrit. Dalam sastra klasik, panggilan seperti “kakanda” memiliki nuansa kehalusan dan estetika sastra yang lebih romantis dan lembut.

4. Makna Simbolis dalam Hubungan Rama-Sita

Rama dan Sita adalah simbol ideal pasangan suami-istri dalam ajaran Hindu. Penggunaan panggilan “kakanda” menekankan bahwa hubungan mereka tidak hanya bersifat duniawi tetapi juga spiritual—di mana Sita menghormati Rama sebagai pelindung dan penuntunnya.

Menariknya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak pasangan di Nusantara juga menggunakan panggilan “kakak” dalam hubungan mereka. Panggilan seperti “mas” di Jawa, “abang” di Sumatra, atau “kakanda” dalam bahasa sastra, semuanya mencerminkan rasa hormat dalam hubungan yang sejajar tetapi tetap mengandung kehangatan.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cara kita membentuk hubungan. Panggilan “kakak” membawa nuansa perlindungan, kedekatan, dan rasa hormat yang manis. Dalam hubungan rumah tangga, sapaan ini bisa menjadi pengingat bahwa cinta sejati adalah tentang merawat dan saling menguatkan, bukan hanya tentang kepemilikan.

Kisah Sita dan Rama sering kali dilihat sebagai gambaran ideal hubungan yang penuh kepercayaan dan kesetiaan. Dalam versi Nusantara, panggilan “kakanda” yang digunakan Sita kepada Rama mencerminkan keyakinan bahwa suaminya adalah tempatnya bernaung, tanpa mengurangi kepribadian dan keberanian Sita sendiri.

Di dunia modern, mungkin kita tidak selalu menggunakan panggilan klasik seperti “kakanda,” tetapi esensi dari penghormatan dalam hubungan tetap sama. Sebutan-sebutan yang kita pilih untuk pasangan kita memiliki kekuatan untuk memperkuat kedekatan atau justru merenggangkannya.

Saat Nyepi, kita menjalankan Catur Brata Penyepian, di mana salah satu aspek penting adalah mona brata—berdiam diri atau mengurangi bicara. Dalam keheningan ini, kita disadarkan bahwa setiap kata yang kita ucapkan memiliki makna. Kata bisa menyembuhkan, bisa mempererat hubungan, tetapi juga bisa melukai.

Dalam hubungan, panggilan kecil yang kita ucapkan sehari-hari bisa menjadi doa yang menghangatkan. Dalam satu kata, kita bisa menyampaikan penghormatan, kasih sayang, dan kepercayaan.

Seperti halnya Sita yang dengan lembut memanggil Rama sebagai “kakanda,” kita pun bisa memilih kata-kata yang menjadikan hubungan kita lebih bermakna.

Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang merasa memiliki, tetapi tentang bagaimana kita saling menyapa—dengan kelembutan, penghormatan, dan kasih yang tulus.

Om Tat Sat

Orang Tua sebagai Orang Suci: Menyucikan Anak Lewat Nasehat, Sentuhan, dan Cinta

NM. Adnyani

Hari ini aku ingin menuliskan sesuatu yang datang dari perenungan, sekaligus penguatan bagi diriku sendiri sebagai orang tua. Aku bukan orang tua yang sempurna. Seperti banyak orang tua lainnya, aku juga masih sering belajar dari kesalahan, memperbaiki niat, dan berusaha untuk hadir secara utuh bagi anak-anakku.

Tapi dalam proses belajar itu, aku menemukan bahwa dalam ajaran Hindu, ada kedudukan yang sangat mulia bagi orang tua: Guru Rupaka—orang tua sebagai guru pertama yang menyucikan anak, bahkan sebelum sang anak mengenal dunia luar. Dan ini membuatku merenung lebih dalam: bagaimana sesungguhnya orang tua bisa menyucikan anaknya?

Ternyata jawabannya sederhana dan indah: dengan bicara, mendengar, menyentuh, dan mencintai anak secara utuh. Karena dalam dharma, ada empat cara menyucikan diri melalui orang suci:

1. Srawanam – mendengarkan orang suci,

2. Dharmatula – berdialog dengan orang suci,

3. Sparśanam – menyentuh orang suci, dan

4. Sevanam – melayani orang suci.

Jika orang tua adalah bentuk pertama dari orang suci dalam hidup seorang anak, maka keempat hal itu dapat dimulai di rumah—di ruang paling suci bernama keluarga.

1. Srawanam: Anak Menjadi Suci Melalui Nasehat Orang Tua

Seorang anak yang duduk diam mendengarkan orang tuanya bercerita, menasihati dengan lembut, atau bahkan membacakan cerita sebelum tidur, sedang menjalani proses srawanam—proses penyucian melalui mendengarkan.

Aku percaya, kata-kata orang tua yang dilandasi cinta, keikhlasan, dan pengalaman hidup, punya kekuatan jauh lebih besar daripada seribu ceramah formal.

Nasehat seperti:

• “Berbuat baik itu tak perlu ditonton orang lain.”

• “Kalau hatimu gelisah setelah menyakiti orang lain, itu pertanda dharma-mu terganggu.”

Kalimat-kalimat seperti itu akan hidup lama di hati anak. Bahkan ketika orang tuanya sudah tidak ada, kata-kata itu tetap bergaung dalam batinnya. Itulah kekuatan srawanam.

2. Dharmatula: Percakapan Sehari-hari yang Membawa Pencerahan

Bercakap-cakap dengan anak—baik tentang hal-hal sederhana maupun yang mendalam—adalah bentuk lain dari menyucikan. Ini bukan tentang memberi ceramah panjang lebar, tapi dialog yang penuh kehangatan. Mendengarkan pendapat mereka, bertanya tentang perasaan mereka, dan saling bertukar cerita.

Percakapan yang paling sederhana sekalipun, jika dilandasi kasih dan ketulusan, bisa membuka hati anak pada nilai-nilai dharma:

• “Apa yang kamu rasakan waktu dimarahi temanmu?”

• “Apa yang menurutmu bisa membuatmu lebih tenang?”

Itulah bentuk dharmatula—percakapan dharma antara dua jiwa, dalam keluarga.

3. Sparśanam: Sentuhan Cinta yang Menyucikan

Kadang, tanpa kata-kata pun, seorang anak bisa merasakan getaran cinta orang tuanya. Pelukan di pagi hari, belaian di kepala saat anak sedang lelah, genggaman tangan saat ia cemas, atau sekadar duduk berdekatan tanpa bicara. Sentuhan itu menyentuh bukan hanya tubuh, tetapi jiwa.

Dalam tradisi Hindu, sparśanam—menyentuh orang suci—dianggap sebagai bentuk menerima vibrasi positif dari mereka. Maka, ketika orang tua menyentuh anaknya dengan cinta, sebenarnya mereka sedang menyalurkan getaran kasih suci yang menyucikan.

4. Sevanam: Melayani Orang Tua dan Anak sebagai Jalan Bhakti

Sebaliknya, anak yang mulai tumbuh dan melayani orang tuanya dengan ketulusan—mengambilkan air, memijat saat kelelahan, atau sekadar membantu menyapu rumah—sedang menjalani proses sevanam. Tapi hal ini juga berlaku sebaliknya.

Orang tua yang merawat, mengasuh, bahkan bangun tengah malam demi anaknya, juga sedang mengabdi pada dharma keluarga. Di sana ada bhakti, dan bhakti adalah jalan menuju penyucian diri.

Sebagaimana sloka berikut

mātṛ devo bhava, pitṛ devo bhava, ācārya devo bhava, atithi devo bhava

(Taittirīya Upaniṣad 1.11.2)

“Jadikanlah ibumu sebagai dewa. Jadikanlah ayahmu sebagai dewa. Jadikanlah gurumu sebagai dewa. Jadikanlah tamumu sebagai dewa.”

Sloka ini bukan hanya mengajarkan penghormatan anak pada orang tua, tapi juga menjadi pengingat bagi para orang tua untuk terus menjaga kesucian dalam perilaku mereka, karena mereka tengah memainkan peran suci dalam kehidupan anak-anaknya.

Sebagai orang tua, aku tahu aku tak sempurna. Kadang suaraku meninggi, kadang aku kelelahan, kadang aku lalai memahami batin anakku. Tapi aku percaya, selama aku terus kembali pada niat baik dan belajar dari cinta, maka setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi “orang suci” bagi anak-anakku.

Menyucikan diri dan menyucikan anak bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus menyalakan cahaya kecil dalam rumah tangga kita—dengan kata-kata yang baik, pelukan yang tulus, percakapan yang penuh perhatian, dan tindakan kasih yang sederhana.

Itulah dharma keluarga. Itulah tirtha pertama dalam hidup seorang manusia. Dan itulah jalan penyucian yang paling dekat: di rumah kita sendiri.

Om Tat Sat

Orang Suci, Tempat Suci, dan Kitab Suci: Tiga Jalan Menyucikan Diri di Hari Ngembak Geni

NM.Adnyani

Pagi ini, saat umat Hindu merayakan Ngembak Geni sebagai momen penyucian diri setelah Catur Brata Penyepian, saya diminta secara mendadak untuk menyampaikan dharmawacana. Dalam ketenangan batin yang masih terasa selepas Nyepi, muncul topik yang begitu selaras dengan suasana: Orang Suci, Tempat Suci, dan Kitab Suci, tiga sarana utama dalam menyucikan diri menurut ajaran Hindu.

Ngembak Geni adalah waktu yang istimewa, di mana umat saling bersilaturahmi, memohon maaf, dan mempererat hubungan—sebuah praktik nyata dari ajaran dharma santosha, karuna, dan maitri. Dalam suasana penuh kasih itu, marilah kita renungkan kembali bagaimana ketiga aspek suci ini menjadi jalan bagi penyucian diri yang sesungguhnya.

1. Orang Suci (Guru Suci)

Orang suci (sadhu) adalah mereka yang telah menyucikan dirinya melalui disiplin spiritual dan mengabdikan hidupnya untuk membimbing sesama menuju kebajikan dan pembebasan (moksha). Dalam ajaran Hindu, dikenal empat jenis guru suci (Catur Guru), yaitu:

1. Guru Rupaka – orang tua yang memberi kehidupan dan membesarkan

2. Guru Pengajian – guru yang memberikan ilmu pengetahuan

3. Guru Wisesa – pemimpin atau pemerintah yang menjaga ketertiban

4. Guru Swadyaya – rohaniwan seperti Pandita dan Pinandita yang membimbing secara spiritual

Empat cara utama menyucikan diri melalui hubungan dengan orang suci adalah:

1. Srawanam – mendengarkan ajaran mereka dengan penuh perhatian

2. Dharmatula – bercakap-cakap atau berdiskusi ringan tentang dharma

3. Sparśanam – menyentuh secara Fisik, misalnya mencium tangan, mencium kaki guru atau melakukan namaskara dengan hati tulus

4. Sevanam – melayani mereka dengan kerendahan hati dan ketulusan

Sebagaimana di sampaikan pada Sloka berikut

tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā

upadekṣyanti te jñānaṁ jñāninas tattva-darśinaḥ

(Bhagavad Gītā 4.34)

“Ketahuilah kebenaran itu dengan jalan tunduk hormat, bertanya dengan rendah hati, dan melayani. Orang bijaksana yang telah melihat kebenaran akan mengajarimu pengetahuan tersebut.”

2. Tempat Suci (Tirtha)

Tempat suci adalah ruang yang dipenuhi oleh vibrasi spiritual, yang menjadi jembatan antara manusia dan kekuatan Ilahi. Dalam Hindu, tempat suci terbagi dua:

a. Tempat Suci Alami (Swabhawika Tirtha)

Tempat-tempat ini memiliki kesucian dari alam karena menjadi titik pertemuan energi spiritual tertentu. Misalnya:

• Pertemuan tiga sungai (Tri Veni Sangam)

• Pertemuan sungai dan laut (Muara Tirtha)

• Gunung dan danau yang dianggap sakral, seperti Gunung Agung atau Danau Batur

b. Tempat Suci Buatan (Naimittika Tirtha)

Ini adalah tempat suci yang dibangun berdasarkan kesepakatan kolektif dan berdasarkan aturan sastra, seperti:

• Pura (tempat pemujaan komunitas)

• Padmasana (simbol tempat bersemayam Tuhan)

• Lingga-Yoni, Merajan, Sanggah, dan bentuk-bentuk lain tempat pemujaan

Datang ke tempat suci dengan niat suci, pikiran yang jernih, dan hati yang terbuka adalah cara menyucikan diri secara lahir dan batin.

tirthi-kurvanti tirthāni svāntaḥ-sthena gadābhṛtā

(Bhāgavata Purāṇa 1.13.10)

“Orang suci menjadikan tempat itu suci karena Tuhan bersemayam dalam hatinya.”

3. Kitab Suci (Śāstra Suci)

Kitab suci adalah wahyu Tuhan yang membimbing manusia untuk mencapai hidup yang benar, bahagia, dan bermakna. Kitab-kitab seperti Veda, Upanishad, Bhagavad Gītā, Itihasa (Ramayana & Mahabharata), dan Purana adalah sumber nilai luhur yang tak lekang oleh zaman.

Kitab suci baru memberi penyucian sejati jika:

• Dipelajari dengan saksama (svādhyāya)

• Diresapi maknanya (manana)

• Dipraktikkan dalam hidup nyata (nidhidhyāsana)

Tanpa praktik, kitab hanyalah tumpukan huruf; dengan praktik, ia menjadi jalan terang.

svādhyāyo ’dhyetavyo jñātvā dharmam anusthānam

(Taittirīya Upaniṣad 1.9)

“Kitab suci harus dipelajari, dan setelah mengetahui dharma, hendaknya dipraktikkan dalam kehidupan.”

Menyucikan Diri di Hari Ngembak Geni

Ngembak Geni bukan sekadar tradisi sosial, tetapi momen spiritual untuk mengaktifkan kembali kesucian dalam diri. Melalui hubungan yang tulus dengan orang suci, kunjungan penuh bhakti ke tempat suci, dan perenungan mendalam atas ajaran suci, kita menyatu dengan jati diri yang murni.

Menyucikan diri bukan proses sekali jadi, melainkan laku seumur hidup. Namun, setiap langkah yang kita tempuh hari ini—dalam suasana penuh damai pasca-Nyepi—adalah awal yang baik.

Om Śānti Śānti Śāntiḥ

Membersihkan Rumah Jiwa: Renungan Menjelang Nyepi

NM.Adnyani

Setahun telah berlalu. Banyak hal terjadi. Beberapa membawa tawa, beberapa menyisakan luka. Tapi semuanya menumpuk, tinggal di antara dinding-dinding rumah. Dinding yang tak hanya menahan angin dan hujan, tapi juga menyimpan bisu jejak-jejak emosi, suara tinggi yang pernah terucap, kesedihan yang dipendam dalam diam, dan rasa-rasa yang tak selesai.

Hari ini, sehari sebelum Nyepi, kami umat Hindu melaksanakan Tawur Kesanga. Sebuah upacara yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga spiritual. Melalui caru Panca Sato, kami mempersembahkan bagian terbaik dari alam—padi, daging, api, air, bunga—kepada Bhuta Kala, energi-energi liar yang menjadi bagian dari siklus hidup ini.

Tapi bagiku, caru bukan hanya untuk mereka yang tak kasat mata. Caru juga untuk diriku. Untuk bagian-bagian dalam jiwa yang selama ini mungkin terlupakan.

Dalam lontar Sundari Gama, disebut empat jenis Kala: Bhuta Raja, Kala Raja, Bhuta Kala, dan Kala Bala. Dahulu aku pikir itu hanya nama-nama makhluk astral, tapi kini aku mulai paham bahwa mereka juga hidup dalam diriku.

• Bhuta Raja adalah ego—saat aku merasa paling benar, paling tahu, paling berhak.

• Kala Raja adalah ketakutanku pada perubahan—pada kehilangan, pada akhir.

• Bhuta Kala adalah amarahku yang tak tertahankan, nafsu yang tak tersalurkan dengan baik.

• Kala Bala adalah bisikan-bisikan kecil dalam pikiran: rasa iri, rasa malas, rasa tidak cukup.

Keempatnya, bila dibiarkan, mengendap. Menjadi beban. Menjadi racun yang tak kasat mata, tapi nyata dalam dampaknya. Maka kami bersihkan semuanya hari ini. Tidak hanya lantai dan halaman rumah, tetapi juga sudut-sudut batin yang berdebu.

Kami haturkan segehan 108, kami nyalakan obor, kami bunyikan kentongan dan sangka. Bukan untuk menakuti para makhluk halus, tapi mungkin—untuk membangunkan kesadaran kami sendiri. Bahwa rumah ini harus dirawat. Jiwa ini harus disucikan.

Kami “ngerupuk”, bukan hanya mengusir, tapi juga mengakui: bahwa dalam rumah ini, dan dalam diri ini, pernah ada gelap yang perlu diberi cahaya. Besok, kami akan hening. Tidak ada lampu, tidak ada suara TV, tidak ada kendaraan. Tapi lebih dari itu—semoga tidak ada juga amarah, keluhan, atau penghakiman dalam pikiran.

Nyepi bukan hanya tentang diam, tapi tentang mendengar—mendengar yang sejati dari dalam. Dan Tawur hari ini adalah persiapan untuk itu: membersihkan ruang jiwa agar pantas ditinggali oleh keheningan. Karena kadang, yang paling suci adalah ketika kita tak berkata apa-apa, namun hati kita berbicara dalam diamnya terang.

#Renungan Diri

Tawur Kesanga 2025 di Bontang: Penyucian Jagat Menuju Keheningan Nyepi

NM. Adnyani

Bontang — Sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947, umat Hindu Kota Bontang melaksanakan upacara Tawur Kesanga. Tawur Kesanga merupakan salah satu rangkaian penting dalam tradisi Hindu Dharma sebagai bentuk penyucian jagat raya secara sekala (nampak) dan niskala (tak nampak).

Upacara Tawur Kesanga di Bontang dilaksanakan pada hari ini, Jumat, 28 Maret 2025, bertempat di halaman depan Pura Buana Agung Bontang. Meskipun berlangsung secara sederhana, pelaksanaan tetap mengedepankan makna spiritual. Tidak ada arak-arakan ogoh-ogoh seperti tahun-tahun sebelumnya, namun esensi penyucian tetap dilakukan melalui persembahan caru Panca Sato.

Caru Panca Sato merupakan jenis caru yang menggunakan lima jenis hewan sebagai simbol unsur alam, disertai berbagai sarana upakara lain seperti tetabuhan, dan banten. Umat yang hadir melaksanakan persembahyangan bersama untuk memohon agar seluruh kekuatan alam kembali harmonis.

Setelah pelaksanaan caru, umat Hindu melanjutkan dengan persembahyangan Tilem Kesanga. Kemudian, ulaman caru dibagikan kepada keluarga-keluarga untuk dipergunakan dalam ritual ngerupuk di rumah masing-masing pada sore hari. Ngerupuk dilakukan dengan mempersembahkan segehan 108 di pekarangan rumah, serta membunyikan kentongan, meniup terompet kerang (sangka), menyalakan dupa dan obor, sebagai simbol pengusiran energi negatif dari lingkungan sekitar.

Menurut Lontar Sundari Gama, Tawur Kesanga merupakan momen untuk menyucikan rumah dari pengaruh empat jenis kala, yaitu:

1. Bhuta Raja: Melambangkan ego dan keakuan yang berlebihan

2. Kala Raja: Simbol rasa takut terhadap perubahan

3. Bhuta Kala: Nafsu dan kemarahan yang tidak terkendali

4. Kala Bala: Rasa malas, iri, dan energi negatif lainnya

Keempat kala ini diyakini berada di sekitar manusia sepanjang tahun, dan perlu dibersihkan dan atau diseimbangkan melalui persembahan dan kesadaran spiritual.

Dengan selesainya upacara Tawur Kesanga, umat Hindu di Bontang kini bersiap untuk menyambut Hari Raya Nyepi dengan hati yang bersih dan lingkungan yang suci. Nyepi bukan sekadar hari tanpa aktivitas fisik, tetapi juga momen untuk refleksi batin dan perenungan spiritual.

Sebagaimana tertulis dalam Atharva Veda:

“Pṛthivī śāntāḥ śivāṁ kurmahe”

“Semoga bumi menjadi damai dan penuh kesejahteraan.”

Semoga pelaksanaan Nyepi tahun ini membawa ketenangan dan keseimbangan bagi seluruh umat, serta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi Wasa.

Melasti Umat Hindu Kota Bontang Tahun 2025: Pembersihan Menyongsong Kesucian

NM. Adnyani

Bontang, 23 Maret 2025 – Umat Hindu Kota Bontang melaksanakan Upacara Melasti sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947. Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Minggu ini dipusatkan di kawasan konservasi Mangrove Park Saleba, setelah mendapat izin resmi dari pengelola kawasan. Upacara dimulai sejak pukul 06.00 WITA dan berakhir sekitar pukul 11.00 WITA.

Prosesi dimulai dari Pura Buna Agung, tempat umat berkumpul untuk melakukan persiapan awal. Selanjutnya, dengan membawa sarana-sarana upacara suci seperti pratima (arca suci), pralingga, tedung, sesajen, dan tirta (air suci), umat berjalan kaki menuju Mangrove Park Saleba sebagai lokasi pelaksanaan upacara pembersihan.

Dalam Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa upacara Melasti bertujuan untuk “mapeninggalin mala” – meninggalkan segala bentuk kekotoran, penderitaan, dan lara duniawi, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Melasti menjadi momentum penting untuk menyucikan pratima dan seluruh sarana sakral dari pura, agar siap digunakan dalam rangkaian Hari Raya Nyepi. Namun lebih dari itu, Melasti merupakan kesempatan umat untuk melakukan introspeksi dan penyucian batin.

Lontar ini juga menjelaskan bahwa Melasti harus dilakukan di segara (laut) atau sumber air suci lainnya, karena air merupakan lambang tirtha amerta – air kehidupan – yang membersihkan dan menghidupkan kembali jiwa manusia dan alam semesta.

Lebih dalam lagi, Upacara Melasti dapat dimaknai sebagai simbol dari proses spiritual penyucian tubuh halus manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Vṛhaspati Tattwa. Ajaran ini menguraikan bahwa tubuh manusia bukan hanya tersusun atas unsur fisik, tetapi juga terdiri atas jaringan nāḍī (saluran energi) yang menjadi tempat mengalirnya 10 jenis prāṇa, yaitu:

1. Prāṇa – napas masuk, pusat di dada

2. Apāna – pembuangan, pusat di perut bawah

3. Samāna – pencernaan, pusat di pusar

4. Udāna – energi bicara dan ekspresi, di tenggorokan

5. Vyāna – distribusi energi ke seluruh tubuh

6. Nāga – sendawa

7. Kūrma – gerakan kelopak mata

8. Kṛkara – bersin

9. Devadatta – menguap

10. Dhanamjaya – bertahan hingga setelah kematian

Dalam kondisi sehari-hari, nāḍī dan aliran prāṇa ini bisa menjadi “terkotori” oleh pikiran negatif, emosi buruk, atau perilaku yang tidak selaras dengan dharma. Prosesi Melasti, dengan aktivitas jalan kaki ke alam terbuka, pemusatan pikiran dalam puja, serta percikan tirta, sesungguhnya menjadi praktik penyucian dan pelurusan kembali aliran nāḍī dan prāṇa dalam tubuh.

Air laut sebagai simbol amerta dalam ajaran tattwa, menghanyutkan kekotoran bukan hanya di dunia luar, tetapi juga dalam diri manusia. Maka, Melasti menjadi praktik nyata Yoga Bhakti kolektif – di mana tubuh, pikiran, dan jiwa bersatu dalam kesucian bersama alam semesta.

Pelaksanaan Melasti Umat Hindu Kota Bontang tahun 2025 bukan hanya menjadi ritual tahunan menjelang Nyepi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pembersihan diri adalah bagian penting dalam setiap langkah spiritual. Dari laut yang tenang, umat diajak untuk mengenali gelombang dalam dirinya – lalu dengan tulus menyerahkan semuanya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar hidup kembali bersinar dalam kesucian dan keseimbangan.

Om Tat Sat

Meninggalkan Kenyamanan dalam Mencari Ilmu: Sebuah Perjalanan

NM. Adnyani

Dalam perjalanan hidup, ada saat-saat ketika kita harus meninggalkan sesuatu yang kita anggap nyaman demi mengejar sesuatu yang lebih besar. Konsep ini sudah lama tertanam dalam berbagai ajaran kebijaksanaan, termasuk dalam sebuah Subhāṣita Sanskerta yang berbunyi:

“Kāka-dṛṣṭiḥ bakā-dhyānam,

śvāna-nidrā tathāiva ca

Alpāhāram jīrṇavastram,

etad vidyārthilakṣaṇam.”

Dalam barisan kata-kata sederhana ini tersembunyi sebuah filosofi mendalam tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup sebagai pencari ilmu. Seorang vidyārthī—seseorang yang berkomitmen untuk belajar—harus memiliki mata yang tajam seperti gagak, fokus mendalam seperti bangau, tidur ringan seperti anjing, makan secukupnya, dan mengenakan pakaian sederhana. Versi lain dari Subhāṣita ini menyebutkan bahwa seorang pencari ilmu harus berani meninggalkan rumah (gṛha-tyāgī), melepaskan zona nyaman demi mengejar pemahaman yang lebih tinggi.

Gagasan tentang meninggalkan rumah ini bukan sekadar tentang perjalanan fisik, tetapi juga melambangkan keberanian untuk melepaskan hal-hal yang membuat kita merasa aman dan nyaman. Dalam kisah-kisah kuno, para Rsi dan Rsikash meninggalkan kehidupan duniawi untuk hidup di hutan, mengabdikan diri sepenuhnya pada pencarian kebenaran. Namun, dalam dunia modern, meninggalkan rumah tidak selalu berarti berpindah tempat secara fisik. Lebih sering, itu berarti berani menantang batasan-batasan yang telah kita bangun dalam pikiran kita sendiri.

Ada suatu masa ketika saya merasakan sendiri bagaimana ilmu sering kali menuntut pengorbanan. Dalam perjalanan akademik, saya sering kali harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama, melepaskan pola pikir yang sudah terbentuk, bahkan terkadang mengorbankan kenyamanan demi memahami sesuatu yang lebih dalam. Ilmu bukan hanya tentang menghafal teori atau membaca buku, tetapi juga tentang berani keluar dari batasan diri sendiri, menghadapi tantangan baru, dan bersedia berjalan di jalur yang tidak selalu mudah.

Saat kita benar-benar ingin belajar, kita harus siap untuk merasa tidak nyaman. Seperti burung gagak yang selalu waspada terhadap lingkungannya, kita harus memiliki kepekaan untuk menangkap setiap kesempatan belajar yang muncul. Seperti bangau yang berdiri diam dalam waktu yang lama menunggu mangsanya, kita harus mengembangkan kesabaran dan ketekunan. Seperti anjing yang tidur dengan satu telinga tetap terjaga, kita harus tetap sigap terhadap pengetahuan yang datang kapan saja. Dan seperti seorang pertapa yang meninggalkan rumahnya, kita harus bersedia meninggalkan kenyamanan, baik secara fisik maupun mental, agar dapat mencapai pemahaman yang lebih tinggi.

Dalam dunia yang semakin sibuk ini, begitu banyak hal yang dapat mengalihkan perhatian kita dari esensi sejati dalam belajar. Kenyamanan teknologi, hiburan tanpa batas, dan rutinitas sehari-hari sering kali menjadi ‘rumah’ yang sulit kita tinggalkan. Namun, jika kita benar-benar ingin berkembang, kita perlu berani melangkah keluar dari kebiasaan lama dan membuka diri terhadap dunia yang lebih luas.

Barangkali, pada akhirnya, perjalanan dalam mencari ilmu bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana kita membentuk diri kita sendiri dalam prosesnya. Kita bukan hanya belajar tentang dunia, tetapi juga tentang siapa diri kita sebenarnya. Dan untuk itu, kita harus siap meninggalkan apa yang nyaman—karena hanya dengan begitu, kita benar-benar dapat menemukan apa yang bernilai.

Mungkin inilah saatnya bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah cukup berani untuk meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang lebih besar?

#pertimbangan #kuliahS3

Menerima Sepi, Menemukan Kebebasan

NM.Adnyani

Aku berbaring di ranjang rumah sakit, menatap langit-langit putih yang dingin. Ini bukan kali pertama ia menjalani operasi, dan seperti sebelumnya, ia sendirian. Ia datang sendiri, menunggu sendiri, dan akan pulang sendiri. Tidak ada tangan yang menggenggam jemarinya, tidak ada suara yang menenangkannya sebelum anestesi bekerja.

Dulu, di saat-saat seperti ini, ada dorongan dalam dirinya untuk menghubungi seseorang yang bisa mengisi celah sepinya. Karena ia ingin ada seseorang, meski hanya di layar ponsel. Itu caranya menghindari kenyataan bahwa ia sendiri.

Tetapi kali ini berbeda. Ketika dokter bedah berkata bahwa jantungku berdetak stabil di angka 50, aku terkejut. Aku hampir bertanya ulang, seolah tak percaya bahwa tubuhnya bisa seimbang seperti itu. Seumur hidup, aku selalu merasa gelisah, selalu merasa dikejar-kejar oleh kesendirian. Namun tubuhku berkata lain—jantung tetap tenang, meski aku sendiri. Refleksi itu datang tiba-tiba. Mungkin selama ini pikirannya yang menolak sepi, tetapi tubuh sudah lebih dulu menerimanya.

Ia mulai mengingat bagaimana dulu setiap detik kesendirian terasa seperti beban. Saat pulang kerja dan mendapati rumah kosong, aku akan segera mencari seseorang untuk diajak berbicara, meski hanya basa-basi. Saat sakit, aku ingin ada seseorang yang sekadar duduk di sampingku. Saat menjalani operasi sebelumnya, aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang—kehadiran orang lain, perhatian, atau sekadar pesan singkat yang menunjukkan bahwa seseorang memikirkanku.

Tetapi sekarang, aku hanya diam. Aku tidak menghubungi siapa pun. Tidak ada pesan yang ku kirim, tidak ada panggilan yang ku buat. Sebagai gantinya, aku memilih menonton drama di ponselku, membiarkan diriku terhanyut dalam cerita yang tidak menuntut apa-apa.

Lalu, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya terjadi—aku bermimpi saat dibius total. Tiga kali operasi, dan baru kali ini aku bermimpi. Aku tidak mengingat detailnya, hanya kesan yang tertinggal. Kuat, mendalam, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh alam bawah sadar.

Ketika aku terbangun, tidak ada ketakutan, tidak ada kesepian yang menghimpit. Hanya perasaan baru yang perlahan mengakar: aku menerima ini. Aku menerima sepi.

Bukan karena aku menyerah, tetapi karena aku akhirnya memahami bahwa sepi bukan musuh. Sepi adalah ruang yang selama ini aku hindari, tetapi di sanalah aku akhirnya bertemu dengan diri sendiri.

Aku menyadari sesuatu yang lebih besar—kesendirian bisa menjadi kebebasan.

Bebas dari perasaan menuntut orang lain untuk selalu ada. Bebas dari perasaan takut menghadapi diri sendiri. Bebas dari keterikatan pada sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan.

Aku tidak tahu apa langkah berikutnya, dan itu tidak masalah. Yang aku tahu, hari ini aku telah berubah. Dan perubahan itu adalah kebebasan.

Dharma Sādhana: Pekan Religi Siswa Hindu Tingkat SMA

NM. Adnyani

Saat mentari pagi menyapu langit Bontang, sekelompok siswa Hindu dari berbagai sekolah berkumpul di Pura Buana Agung. Ada yang datang dari SMA Vidatra, SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3. Mereka datang dengan semangat, membawa tas berisi kitab suci, japa mala, serta harapan untuk lebih mendekatkan diri pada ajaran dharma.

Inilah Dharma Sādhana, pekan religi yang sudah menjadi tradisi tahunan bagi para siswa Hindu. Namun, tahun ini terasa lebih istimewa. Untuk pertama kalinya, kami mendapatkan dukungan dana dari SMA Vidatra, sekolah yang sangat menjunjung tinggi keberagaman agama. Walaupun jumlah siswa Hindu di sana hanya dua orang, mereka tetap memberikan ruang bagi kami semua untuk belajar dan bertumbuh bersama.

Tema kegiatan tahun ini adalah “Atra sthitau yatno’bhyāsaḥ”, yang berarti Di sinilah usaha dan latihan yang berkelanjutan dibutuhkan. Sebuah kalimat yang begitu sederhana, namun sarat makna.

Dalam kehidupan modern yang penuh distraksi, konsistensi dalam sādhana—latihan spiritual—bukanlah hal yang mudah. Membaca śloka Bhagavad Gītā, bermeditasi, Latihan Yoga, atau berjapa sering kali dilakukan hanya saat ada dorongan eksternal, bukan sebagai kebiasaan yang melekat dalam diri. Oleh karena itu, pekan religi ini bertujuan menanamkan kebiasaan baik tersebut, bukan sebagai ritual musiman, tetapi sebagai jalan hidup.

Hari pertama dimulai dengan sesi pemahaman kitab suci. Kami membahas pokok-pokok ajaran Āyurveda, Yoga Sūtra Patañjali, Widhi Tattwa serta konsep Vairāgya (pelepasan) dan Abhyāsa (latihan berulang). Diskusi mengalir hangat, meskipun sebagian besar peserta awalnya masih ragu untuk berbicara.

Namun, suasana berubah saat sesi praktik dimulai. Ketika suara sloka Bhagavad Gītā menggema, mata-mata yang semula mengantuk berubah penuh perhatian. Seorang siswa dari SMAN 1, Ni Putu Dyah, mengaku ini pertama kalinya ia benar-benar memahami makna di balik śloka yang sering ia lafalkan.

“Saya baru menyadari bahwa śloka-śloka ini bukan sekadar bacaan, tetapi panduan hidup,” katanya dengan mata berbinar.

Hari kedua menjadi titik balik bagi banyak peserta. Setelah sesi Pūjā Tri Sandhyā di pagi hari, kami diajak untuk melakukan Japa Nāma Smaraṇam—pengulangan nama suci Tuhan—dilanjutkan dengan meditasi atman.

Tidak ada suara. Hanya tarikan dan hembusan napas yang terdengar. Waktu seolah melambat.

Beberapa peserta awalnya gelisah. Duduk diam dalam keheningan selama 30 menit bukan hal yang mudah. Namun, seiring berjalannya waktu, ketenangan mulai menyelimuti ruangan.

Kadek Dyah Novita Ayu, salah satu peserta dari SMAN 3, berkata setelah sesi meditasi, “Saya tidak pernah merasa setenang ini sebelumnya. Rasanya seperti menemukan ruang sunyi di dalam diri sendiri.”

Kesadaran itu yang ingin kami bangun: bahwa keheningan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan ruang untuk bertemu dengan diri sendiri.

Selain kajian dan praktik spiritual, pekan religi ini juga diisi dengan kegiatan kreatif. Peserta diajak membuat Kwangen, salah satu perlengkapan upacara Hindu yang melambangkan ketulusan dalam sembahyang.

Tangan-tangan kecil yang belum terbiasa merangkai janur berusaha mengikuti instruksi. Beberapa terlihat frustrasi, tetapi tak sedikit yang menikmati prosesnya.

Di sesi lain, ada sesi menulis aksara Devanāgarī. Menggoreskan huruf-huruf suci ini di atas kertas memberikan pengalaman unik bagi para peserta. Mereka tidak sekadar belajar menulis, tetapi juga memahami makna di balik aksara yang digunakan dalam kitab suci Hindu.

Ketika pekan religi ini berakhir, ada rasa haru yang menyelimuti. Tiga hari terasa begitu singkat, namun meninggalkan kesan yang mendalam.

Bagi sebagian besar siswa, ini bukan sekadar kegiatan tahunan. Ini adalah perjalanan untuk mengenal diri, menemukan makna, dan memahami bahwa spiritualitas bukan sesuatu yang jauh di luar sana—ia ada dalam keseharian, dalam kebiasaan kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

Mungkin, tidak semua dari mereka akan langsung menerapkan sādhana dalam kehidupan sehari-hari. Namun, setidaknya, benih telah ditanam. Benih kesadaran bahwa latihan spiritual bukanlah kewajiban, tetapi kebutuhan.

Sebagaimana tema yang kami usung: Atra sthitau yatno’bhyāsaḥ. Di sinilah, di jalan ini, latihan dan usaha berkelanjutan menjadi kunci.

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis