Tangki Cinta

NM. Adnyani

Mengapa Kita Sering Merasa Kurang Dicintai? Konsep Tangki Cinta (Love Tank) diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman dalam bukunya The 5 Love Languages. Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki “tangki cinta” yang harus diisi agar merasa aman, bahagia, dan dicintai. Jika love tank ini kosong, seseorang bisa merasa tidak dihargai, tidak diinginkan, atau bahkan terjebak dalam pola hubungan yang tidak sehat.

Menariknya, ada hubungan erat antara kemelekatan (attachment) dan tangki cinta (love tank): Jika seseorang memiliki secure attachment, ia lebih mungkin merasa love tank-nya penuh. Ia bisa menikmati hubungan tanpa rasa takut kehilangan atau kurang dicintai. Sedangkan jika seseorang memiliki anxious attachment, ia sering merasa love tank-nya kosong, selalu mencari perhatian dan validasi. Sementara Jika seseorang memiliki avoidant attachment, ia mungkin menutup diri dari cinta, merasa tidak perlu mengisi atau menerima love tank dari orang lain. Terlebih lagi Jika seseorang memiliki disorganized attachment, ia mengalami ketidakpastian dalam mengisi dan menerima cinta, membuat hubungan terasa naik-turun secara emosional.

Lalu, bagaimana cara mengatasi pola ini agar kita tidak terus-menerus merasa kurang dicintai? Salah satu solusi untuk mengatasi pola kemelekatan yang tidak sehat adalah belajar mengisi love tank kita sendiri. Artinya, kita tidak hanya bergantung pada orang lain untuk merasa bahagia, tetapi juga menemukan sumber cinta dari dalam diri kita sendiri. Beberapa cara untuk melakukannya. Pertama, Membangun kesadaran diri (self-awareness) dengan cara mengenali pola kemelekatan kita dan memahami bagaimana hal itu memengaruhi hubungan. Kedua, berlatih penerimaan diri (self-acceptance), yaitu dengan cara Mencintai diri sendiri tanpa menunggu validasi dari orang lain. Ketiga, Mengembangkan cinta tanpa pamrih (selfless love) dengan cara memberi cinta bukan untuk mendapatkan balasan, tetapi karena kita sudah penuh dengan cinta itu sendiri. Keempat, menjalani hubungan dengan mindfulness yaitu Menghargai kehadiran orang lain tanpa terobsesi untuk “memiliki” atau “mengendalikan” mereka.

Ketika kita belajar untuk memberi tanpa mengharapkan balasan, kita mulai memahami bahwa cinta sejati tidak selalu tentang soul bonding yang mengikat, tetapi tentang membebaskan jiwa—baik jiwa kita maupun jiwa orang yang kita cintai. Pada akhirnya, apakah kita ingin terus mencari cinta di luar diri kita, atau mulai mengisi love tank dari dalam dan berbagi cinta dengan lebih bebas?

Jika cinta adalah sesuatu yang harus dimiliki dan dikendalikan, maka kita akan terus hidup dalam ketakutan akan kehilangan. Tetapi jika cinta adalah sesuatu yang kita bagikan dengan tulus, tanpa pamrih, dan tanpa ego, maka cinta itu akan tumbuh dan mengisi hidup kita bahkan tanpa harus terikat pada siapa pun.

Cinta sejati bukanlah soal memiliki, melainkan soal memberi dengan penuh kesadaran. Dan ketika kita memahami ini, kita akan menemukan bahwa tangki cinta kita tidak pernah benar-benar kosong—karena sumber cinta yang sejati selalu ada di dalam diri kita sendiri.

– Renungan diri –

Kemelekatan

NM. Adnyani

Dalam perjalanan hidup, kita sering merasa terhubung secara mendalam dengan seseorang, seolah-olah ada ikatan yang lebih dari sekadar hubungan biasa. Ada yang menyebutnya sebagai soul connection, sementara yang lain merasa hubungan ini adalah bagian dari takdir. Namun, apakah hubungan seperti ini benar-benar sehat? Apakah ini cinta sejati atau hanya bentuk attachment (kemelekatan) yang tidak kita sadari? Bagaimana Attachment Theory (Teori Kemelekatan) memengaruhi cara kita mencintai.

“Mengikatkan jiwa” (soul bonding) bisa memiliki makna yang luas, tergantung dari sudut pandang kita. Jika hanya dibangun di alam fisik, hubungan itu cenderung sementara, bergantung pada kondisi eksternal. Jika dibangun di lapisan mental dan spiritual, hubungan tersebut lebih mendalam, didasarkan pada pemahaman dan resonansi batin. Namun, ada satu bentuk hubungan yang bahkan lebih tinggi: hubungan yang didasarkan pada ketulusan dan cinta tanpa pamrih (selfless love).

Ketika hubungan dijalin tanpa ego (ego-free connection), tanpa keinginan untuk memiliki (non-possessive love), dan tanpa rasa takut kehilangan (fearless love), maka hubungan itu bisa disebut sebagai hubungan yang sejati. Cinta yang tulus tidak mengikat dengan belenggu kepemilikan, tetapi justru membebaskan. Namun, di sisi lain, kita juga sering mendengar istilah kemelekatan (attachment)—sebuah kondisi di mana kita begitu terikat pada seseorang atau sesuatu hingga kita merasa sulit melepaskan. Inilah yang sering kali menjadi akar dari penderitaan dalam hubungan.

Dalam psikologi, Teori Kemelekatan (Attachment Theory) menjelaskan bagaimana manusia membentuk hubungan emosional sejak kecil, dan bagaimana pola tersebut terus berlanjut hingga dewasa. Ada empat jenis kemelekatan (attachment styles) yang umumnya ditemukan dalam hubungan manusia: Kemelekatan Aman (Secure Attachment) yaitu Seseorang merasa nyaman dalam hubungan, tidak takut kehilangan, dan mampu memberi serta menerima cinta dengan seimbang; Kemelekatan Cemas (Anxious Attachment) Dimana Seseorang selalu merasa takut ditinggalkan, sering mencari validasi, dan merasa love tank-nya (tangki cintanya) tidak pernah cukup penuh. Berikutnya Kemelekatan Menghindar (Avoidant Attachment) yaitu Seseorang cenderung menjaga jarak dalam hubungan, menghindari keterikatan emosional, dan merasa lebih nyaman sendiri; dan Kemelekatan Tidak Teratur (Disorganized Attachment) yaitu Seseorang mengalami ketidakpastian dalam hubungan: terkadang mendekat, terkadang menjauh, sering kali karena trauma atau luka emosional di masa lalu.

Jika kita memiliki pola kemelekatan yang tidak sehat, kita bisa mengalami ketergantungan emosional (emotional dependency) yang berlebihan atau, sebaliknya, ketakutan untuk terlalu dekat dengan orang lain (fear of intimacy). Dalam kondisi ini, hubungan bisa terasa berat dan penuh dengan kecemasan. Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah kita terjebak dalam kemelekatan yang tidak sehat? Salah satu indikatornya adalah bagaimana kita merasa ketika love tank kita kosong.

Nah love tank akan aku bahas secara khusus. Untuk kemelekatan aku tulis sampai di sini dulu, setelah Nanti aku belajar lagi dan memiliki pemahaman baru, aku akan menuliskannya kembali

Rindu yang Tak Bertepi

NM. Adnyani

Kali ini aku setuju denganmu,

Siapa pun akan rapuh jika berhadapan dengan rindu

Pada kekasih hatinya.

Aku juga setuju denganmu,

Bahwa cintaku dan rinduku

Bermuara dalam cinta sejati.

Hati yang hanya milikmu,

Denyut jantung yang selalu mendoakanmu,

Rindu yang tak berkesudahan,

Indah dalam jiwa,

Merekah dalam senyuman.

Kekasihku…

Datanglah…

Siramlah jiwaku dengan sentuhanmu,

Seperti hujan pertama yang membasuh bumi yang dahaga,

Seperti embun pagi yang menyejukkan dedaunan yang letih.

Hadirmu adalah cahaya di fajar yang redup,

Nyanyian lembut di hening malam,

Aku merindu seperti bunga menanti matahari,

Seperti ombak yang selalu ingin mencium pasir pantai.

Seperti bulan yang setia menunggu malam,

Seperti sungai yang merindu lautan,

Cintaku padamu tak mengenal surut,

Ia abadi dalam aliran waktu.

Dekaplah aku dalam hangat kasihmu,

Biarkan rinduku luluh dalam pelukmu,

Karena tanpamu, aku hanyalah bayang-bayang,

Tersesat di lorong waktu yang tak berujung.

Jika rindu adalah nyala,

Maka aku adalah lilin yang rela terbakar olehnya,

Menjadi cahaya yang takkan padam,

Demi menerangi jalanmu kembali kepadaku

Makan Setelah Bekerja: Sebuah Pelajaran dari Ashram untuk Kehidupan

NM. Adnyani

Dulu, ketika saya tinggal di sebuah ashram, saya belajar bahwa sebelum memperoleh sarapan pagi, terlebih dahulu harus melakukan sebuah pekerjaan. Entah itu menyapu, merapikan tempat tidur, puja pagi, mencuci, atau tugas lain yang bisa dikerjakan.

Kami menjalani kebiasaan ini dengan penuh semangat. Setiap orang memiliki perannya masing-masing, termasuk mereka yang bertugas memasak. Tidak ada yang mengeluh meskipun jam makan terkadang terlambat. Kami dididik dengan konsep karma phala—bahwa apa yang kita terima harus diawali dengan usaha. Makanan yang masuk ke tubuh adalah hasil dari kerja, bukan sesuatu yang datang begitu saja tanpa usaha.

Selama beberapa bulan, kebiasaan ini tertanam dalam diri saya. Ketika berumah tangga, saya tetap menerapkannya. Saya bekerja terlebih dahulu sebelum akhirnya sarapan pagi. Ternyata, selain menjadi latihan disiplin dan tanggung jawab, kebiasaan ini juga sangat sesuai dengan kebutuhan biologis tubuh. Setelah sistem pencernaan beristirahat panjang sepanjang malam, tubuh memang sebaiknya dibawa beraktivitas terlebih dahulu sebelum menerima makanan.

Namun, ketika saya mengamati kebiasaan anak-anak masa kini, saya melihat perbedaan yang cukup mencolok. Banyak dari mereka yang langsung pergi ke dapur untuk makan setelah bangun tidur, tanpa melakukan aktivitas apa pun sebelumnya. Kebiasaan ini, tanpa disadari, membentuk pola pikir bahwa pemenuhan kebutuhan diri lebih utama dibandingkan dengan pelayanan atau usaha.

Dari segi kesehatan, pola ini juga kurang ideal. Sistem pencernaan yang masih dalam kondisi istirahat langsung dibebani dengan makanan. Akibatnya, tubuh tidak diberi kesempatan untuk beradaptasi secara alami sebelum menerima asupan pertama di pagi hari. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa generasi saat ini lebih rentan terhadap berbagai penyakit dibandingkan generasi sebelumnya.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pola hidup yang sederhana namun penuh kesadaran dapat membentuk karakter dan kesehatan yang lebih baik. Sebuah pelajaran dari ashram yang tetap relevan hingga kini.

—Prema—

Setiap Masalah Adalah Hadiah: Cara Kita Merespons Menentukan Pertumbuhan Kita

NM.Adnyani

Hujan turun deras di luar, membuat udara di dalam kedai kopi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Prema duduk di sudut ruangan, menatap kosong ke dalam cangkir kopinya yang mengepul. Hari itu, dunia seakan runtuh di hadapannya. Ia baru saja kehilangan kekasihnya—sesuatu yang selama ini ia banggakan, sesuatu yang memberinya rasa aman.

“Kenapa ini terjadi padaku?” gumamnya, suara lirih nyaris tenggelam dalam riuhnya suara hujan.

Dari meja sebelah, seorang pria tua melipat korannya dan menyesap teh hangatnya sebelum berkata, “Kamu tahu, setiap masalah itu adalah hadiah.”

Prema menoleh, alisnya berkerut. “Hadiah?” tanyanya skeptis.

Pria itu tersenyum. “Ya. Masalah adalah cara hidup mengajarkan kita sesuatu. Sayangnya, banyak orang melihatnya sebagai kutukan atau hukuman. Padahal, jika kita mau memperhatikannya dengan lebih dalam, di balik setiap kesulitan selalu ada peluang untuk bertumbuh.”

Prema terdiam. Kata-kata itu terasa asing, tapi juga masuk akal.

Pria tua itu melanjutkan, “Kamu pikir aku tidak pernah mengalami masalah? Dulu, aku seorang pengusaha sukses, tapi kemudian bisnis yang aku bangun selama bertahun-tahun hancur dalam sekejap. Aku kehilangan hampir segalanya—uang, reputasi, bahkan hampir kehilangan keluargaku.”

Prema menelan ludah. Ia tak menyangka pria di depannya, yang tampak begitu tenang dan penuh kebijaksanaan, pernah mengalami kejatuhan seperti itu.

“Saat itu aku bisa saja meratap dan menyalahkan keadaan,” lanjut pria itu. “Tapi aku memilih melihatnya dari sudut pandang lain. Aku mulai bertanya, ‘Apa yang bisa kupelajari dari ini? Apa yang bisa kulakukan sekarang?’ Dan dari situlah aku menemukan jalan baru. Jika saat itu aku hanya mengeluh dan menyerah, aku mungkin tidak akan pernah sampai di titik ini.”

Prema masih diam. Dalam pikirannya, ia mulai menghubungkan kisah pria itu dengan hidupnya sendiri. Selama ini, ia selalu percaya bahwa hidup seharusnya berjalan sesuai rencana. Tapi kenyataannya, hidup sering kali memiliki jalannya sendiri.

“Sebenarnya, cara kita merespons masalah menunjukkan sejauh mana kita memahami bagaimana dunia bekerja,” lanjut pria tua itu. “Ada yang memilih untuk menghindar, berharap masalah akan hilang dengan sendirinya. Ada yang melawan dengan penuh amarah, seolah-olah dunia sedang berkonspirasi melawan mereka. Tapi ada juga yang memilih menerima dan memanfaatkan masalah sebagai sarana untuk bertumbuh.”

Prema menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin. Kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya.

“Mungkin kamu belum bisa melihatnya sekarang,” kata pria tua itu sambil tersenyum, “tapi percayalah, ini bukan akhir. Kadang, hidup menjatuhkan kita bukan untuk menghancurkan, tapi untuk membangun sesuatu yang lebih kuat dalam diri kita.”

Hujan di luar mulai reda. Prema menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Mungkin benar. Mungkin masalah ini bukanlah akhir.

Mungkin, ini adalah hadiah yang belum ia pahami sepenuhnya.

Ayah, aku rindu

Menghapus Kata ‘Toxic’ dari Pikiran: Sebuah Refleksi

NM.Adnyani

Dulu, aku tidak benar-benar memahami apa itu toxic relationship—baik dalam keluarga, pertemanan, maupun pasangan. Seiring waktu, aku mulai mengenali pola-pola yang merugikan, energi yang melelahkan, serta hubungan yang lebih banyak menyakiti daripada memberi makna. Aku menyadari bahwa lingkungan yang toxic hanya akan menghambat pertumbuhan, dan karena itu, aku mulai berusaha menghindari orang-orang yang membawa dampak negatif dalam hidupku.

Namun, sesuatu yang tidak kusadari terjadi dalam proses ini. Aku merasa lebih cuek, bahkan terkadang tampak arogan. Ada perasaan superioritas yang muncul, seolah-olah aku telah terbebas dari sesuatu yang menjebak, sementara orang lain masih terperangkap dalam pusaran toxic mereka sendiri. Aku takut kembali ke dalam lingkungan yang toxic, takut bertemu pasangan yang toxic, takut berhadapan dengan pertemanan yang tidak sehat. Perlahan, ketakutan ini menjelma menjadi pola pikir yang membatasi diriku sendiri. Aku menjadi pengecut—bukan hanya karena aku menjauhi yang toxic, tetapi karena aku membiarkan diriku dikendalikan oleh rasa takut itu sendiri.

Dalam perenungan panjang, aku sampai pada satu kesadaran: Aku perlu menghapus kata toxic dari pikiranku. Kata ini bukan lagi sekadar label bagi orang lain, tetapi juga telah menjadi belenggu yang membatasi pemahamanku terhadap mereka. Jika kita menganggap sesuatu sebagai toxic, maka respons pertama yang muncul adalah menjauh, bukan memahami. Padahal, bukankah segala sesuatu yang toxic itu seperti penyakit? Dan jika itu penyakit, mengapa kita harus serta-merta menghindari mereka yang sakit? Bukankah seharusnya kita berempati, mendoakan, dan membantu mereka agar bisa sembuh dari luka dan kebingungan yang mereka alami?

Mungkin orang-orang yang disebut toxic ini mengalami defisiensi dalam kebijaksanaan (wisdom), kecerdasan (intelligence), spiritualitas (divinity), atau pengetahuan. Mungkin mereka tenggelam dalam kebodohan yang tidak mereka sadari. Jika demikian, bukankah tugas kita bukan sekadar menjauh, tetapi juga memahami, mengarahkan, atau setidaknya tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita?

Aku menyadari bahwa toxicity tidak ada bedanya dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Jika aku bisa keluar dari lingkaran KDRT, maka aku pasti bisa keluar dari belenggu pemikiran tentang toxicity. Tidak dengan cara melarikan diri selamanya, tetapi dengan keberanian untuk menghadapi dan menyikapinya dengan bijaksana. Aku tidak ingin lagi hidup dalam ketakutan, apalagi membiarkan konsep toxic menjadi tembok yang membatasi pemahamanku terhadap sesama.

Kini, aku memilih jalan lain—bukan sekadar menghindari, tetapi memahami. Bukan sekadar menjauh, tetapi juga memberikan ruang bagi empati dan kesadaran. Harapanku dengan cara itu, aku benar-benar merasa bebas.

Aku juga mencoba membuat langkah langkah sederhana untuk membantu Siapapun yang aku temui mengalami toxicity. Pertama, Mendengarkan dengan Empati Sebelum menilai atau menghindari seseorang, cobalah untuk mendengarkan mereka dengan hati yang terbuka. Sering kali, orang-orang yang dianggap toxic memiliki luka batin yang belum mereka selesaikan. Dengan mendengar tanpa menghakimi, kita memberi mereka ruang untuk menyadari perasaan mereka sendiri. Pemahaman mendengarkan dengan empati Ini, aku dapatkan dari Pendidikan Guru Penggerak. Kedua, Menjadi Cermin Kesadaran Sering kali, mereka yang toxic tidak menyadari pola negatif dalam diri mereka. Dengan menunjukkan perilaku yang sehat, tegas, dan penuh kesadaran, kita dapat menjadi contoh bagaimana berinteraksi secara lebih sehat dan berdaya. Langkah ini aku dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Menawarkan Perspektif Baru Alih-alih langsung mengkritik atau menghindari mereka, kita bisa mencoba menawarkan sudut pandang lain. Keempat, Menjaga Batasan Diri dengan Tegas Membantu seseorang bukan berarti membiarkan diri kita terluka. Kita tetap perlu menetapkan batasan yang jelas, misalnya dengan mengatakan, “Aku peduli padamu, tetapi aku tidak bisa membiarkan diriku terseret dalam emosi negatif ini.” Tips Ini aku dapatkan dalam sebuah hubungan dengan seseorang. Kelima, Mendoakan dan Mengirimkan Energi Positif Jika tidak memungkinkan untuk membantu secara langsung, kita tetap bisa mendoakan mereka atau mengirimkan niat baik agar mereka mendapatkan kesadaran dan kebijaksanaan yang mereka butuhkan. Keenan, Mengarahkan ke Sumber Bantuan Profesional Jika seseorang yang kita kenal benar-benar terjebak dalam pola destruktif yang serius, mengarahkan mereka ke psikolog, konselor, atau mentor spiritual bisa menjadi langkah yang sangat berarti.

Membantu seseorang keluar dari toxicity bukan tentang mengubah mereka secara paksa, tetapi tentang menciptakan lingkungan yang memungkinkan perubahan terjadi. Dengan kesabaran, kasih sayang, dan kesadaran diri, kita bisa berkontribusi dalam menyembuhkan bukan hanya diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita.

Kesaksian Bisu Si Kayu Batu

Arif Supriyadi

Aku, di masa itu, biasa orang menjulukiku “Si Kayu Batu” Ukuran tubuh dan kekokohanku lah pencetus nama itu. Berkat besar dan menjulangnya tinggiku, nelayan dan para awak kapal di masa awal tumbuhnya perkampungan Bontang menjadikanku sebagai penanda arah perjalanan mereka di lautan. Mudah memang melihatku dari kejauhan, yang mengisyaratkan bahwa mereka telah mendekati pesisir Bontang yang sungguh kaya akan sumber daya ikan. Aku tidak mengada-ngada tentang kekayaan laut ini. Coba bayangkan, nelayan Bontang saat itu seringkali mendapati belat (sejenis perangkap ikan terbuat dari rangkaian kayu yang dipasang di jalur migrasi ikan) mereka jebol karena tidak sanggup menampung banyaknya ikan yang terjebak masuk. Saking melimpahnya ikan-ikan di pinggiran laut Bontang kala itu, berbekal serok saja sudah cukup untuk menangkapi ikan. Pun demikian, nama sejumlah wilayah pesisir di perkampungan Bontang juga menggambarkan limpahan kekayaan ini. Selambai contohnya, wilayah perkampungan ini sering disambangi seorang Nelayan Mandar bernama “Si Lambai” yang selalu panen ikan hasil menjaring di sebuah teluk kecil yang berada di sana. Nama “Si Lambai” akhirnya diabadikan sebagai nama perkampungan di sekitar tempat Nelayan Mandar itu menjaring ikan.

Sejujurnya, Aku merasa betul-betul beruntung memiliki tubuh yang besar dan tinggi, sehingga bukan hanya bisa melihat Pesisir Bontang yang kaya akan ikan, tetapi juga menyaksikan kenangan kekayaan daratan Bontang masa lalu. Aku menyebut daratan Bontang saat itu sebagai etalase koleksi kekayaan yang luar biasa. Di sisi utara penglihatanku misalnya, Aku biasa menyaksikan orang-orang di sana beraktivitas menghanyutkan batang-batang kayu besar (log) ke tengah lautan. Entah dibawa ke mana kayu-kayu itu. Ribuan log ini pula yang nampak hilir mudik menghidupi perkampungan kecil di sana. Menariknya, karena log-log itu dimiliki seorang Tuan Jepang yang seringkali datang ke lokasi penghanyutan, perkampungan itu kemudian dinamai warga setempat sebagai Loktuan, sebuah plesetan dari kata “log milik tuan”.

Dari utara yang bergelimang kayu, Aku sering mengalihkan pandanganku ke arah barat. Di titik mata angin ini terhampar luas ribuan pohon aren dengan tinggi sedang dan berbuah matang. Bau manis getah aren kerap menggoda arah penglihatanku ke sana. Warga yang hidup di sekitar hamparan pohon aren biasa menyadap air aren untuk dijadikan gula sebagai pekerjaan yang mereka lakoni sehari-hari. Nampaknya, harum manis getah aren menginspirasi warga penyadap aren menamai lokasi mereka tinggal sebagai Perkampungan Gunung Sari. Nama yang pantas, pikirku hingga sekarang.

Dari pesisir timur yang berlimpah ikan, dari utara yang kaya akan kayu, serta dari barat yang manis oleh mengalirnya getah aren, saatnya bercerita tentang wilayah selatan Bontang tempat di mana Aku bertumbuh. Wilayah ini, sesungguhnya cukup bergantung padaku. Di mana di bawah bayang-bayangku yang teduh, nelayan membuat permukiman kecil yang lambat laun perkampungan itu disebut seperti namaku: Kampung Kayu Batu. Dari kampung ini pula, bertumbuh pemukiman-pemukiman pesisir di wilayah Selatan Bontang yang di masa itu saling terpisah oleh lebatnya hutan. Rimbun hutan di sekitarku bukannyatanpa cerita. Hutan ini sungguh diberkahi Tuhan dengan gelimang buah-buahan yang melimpah. Lebih-lebih pada musim buah, para pemetik buah sampai kewalahan mengambil ribuan wanyi, dopar, elai, juga jambu yang berjatuhan. Saking banyaknya, buah-buahan itu akhirnya dibiarkan berserak begitu saja. Oleh warga Suku Mamuju yang biasa hilir mudik di dalam areal hutan, wilayah itu dijuluki Mara’bas yang memiliki arti “berguguran”. Mara’bas ini pula yang kemudian menjadi cikal bakal penyebutan Berbas sebagai salah satu tempat tumbuhnya buah-buahan yang berlimpah ini.

Cerita tentang gelimang ikan di lautan, limpahan kayu di Loktuan, legit aren di Gunung Sari serta lebat buah di Berbas nyatanya tidak berlangsung lama. Bontang yang terus tumbuh dan berkembang mendesak alam hingga berujung pada pengrusakan. Di laut, nelayan yang tak puas dengan hanya menjaring dan memancing, mulai menggunakan alat-alat/bahan berbahaya untuk menangguk ikan sebanyak-banyaknya. Penggunaan bom, juga racun ikan perlahan mulai merusak karang dan ekosistem lautan. Ikan-ikan mulai berkurang dan kekayaan lautan itu kini tinggal kenangan. Nasib wilayah daratan tak begitu jauh berbeda, bertumbuhnya pemukiman di wilayah hutan terus menggerus pohon-pohon aren di Kampung Gunung Sari, Kayu juga makin habis di Loktuan hingga makin sempitnya luasan hutan buah di areal Berbas. Hingga tiba suatu hari, tubuhku yang besar dan kekar bergoyang oleh pukulan kampak para penebang kayu. Aku sungguh kaget, karena selama ini keberadaanku dianggap sakral dan keramat oleh penduduk yang selama ini bernaung di bawahku. Mungkin, keinginan mereka membangun pemukiman yang lebih luas terganggu oleh tubuh raksasaku. Hingga kemudian, robohlah Aku sebagai simbol keagungan alam Bontang di masa lampau. Sisa tubuhku turut dibakar bersamaan dengan hilangnya memori-memori Kekayaan Bontang di masa itu. Walau demikian, Aku masih merasa sangat beruntung karena warga setempat masih membiarkan namaku tercatat sebagai nama dusun tempat mereka tinggal. Ya, Dusun Kayu Batu.

Namun sayang seribu sayang, semua itu juga tak berlangsung lama. Di masa kepemimpinan seorang petinggi dusun, nama Kayu Batu diusulkan diubah menjadi nama lain. Sang petinggi dusun menganggap bahwa selama ini warga Dusun Kayu Batu cenderung berwatak keras kepala dan susah diajak bicara seperti personifikasi yang melekat pada namaku: kayu dan batu. Dengan perubahan nama, Beliau berharap adanya perubahan karakter pada warga lokal yang bermukim di sekitar Dusun Kayu Batu di masa itu. Hingga kemudian, usulan tersebut disetujui oleh petinggi kampung setempat dan mulailah daerah itu beralih nama menjadi Dusun Pelabuhan di bawah pemerintahan Kampung Tanjung Laut. Dengan perubahan nama ini, hilanglah sudah keberadaanku dalam khazanah pengetahuan warga Bontang saat ini. Nama besarku dulu, hanya diingat dan diketahui segelintir orang. Ya, hanya segelintir yang mengingatnya, seperti kesaksian bisuku akan kekayaan alam hutan juga kekayaan lautan Bontang yang luar biasa di masa lalu. Bagiku, Bontang adalah etalase keagungan Tuhan yang memberi wilayah ini beragam rejeki hingga sekarang. Karena itulah, Aku berpesan kepada generasi penerus Bontang agar menjaga dan terus memelihara Bontang, bukan hanya karena kekayaannya tetapi juga karena rasa memiliki Kita terhadap Kota yang luar biasa ini.

Kisah Cinta Aruna Daksina

NM. Adnyani

Aruna Daksina

Penafian: tulisan Ini terinspirasi dari Karya Tulis Bapak Arif Supriyadi yang berjudul ‘Kesaksian Bisu Kayu Batu’

Aku, yang kini hanya tersisa dalam ingatan segelintir orang, dahulu menjulang gagah sebagai penjaga batas antara daratan dan lautan. Orang-orang menyebutku Aruna Daksina—cahaya fajar di selatan. Namaku diberikan bukan tanpa alasan, sebab keberadaanku kala itu adalah penanda bagi para pelaut, simbol harapan bagi mereka yang pulang dari samudra, serta saksi bisu bagi kejayaan Bontang yang pernah begitu kaya akan kehidupan.

Dari puncakku yang menjulang, aku menyaksikan lautan yang dahulu begitu murah hati. Nelayan yang melaut di perairan Bontang pulang dengan kapal penuh muatan. Belat yang mereka pasang sering jebol, tak mampu menampung limpahan ikan yang berjejal masuk. Sungguh, kala itu lautan adalah ibu yang dermawan, memberi lebih dari yang diminta. Bahkan hanya dengan serok, nelayan bisa menangkap ikan dalam jumlah melimpah. Keberkahan ini bukan hanya milik para nelayan, tetapi juga terpahat dalam nama-nama tempat di sekitarku. Selambai, misalnya, berasal dari seorang nelayan Mandar bernama Si Lambai yang selalu menjaring ikan di teluk kecil itu. Nama yang sederhana, namun mengandung jejak sejarah yang dalam.

Namun, aku bukan hanya saksi bagi kemakmuran laut. Aku juga melihat bagaimana daratan Bontang menjadi etalase kekayaan yang tak kalah hebat. Di utara, aku melihat batang-batang kayu besar dihanyutkan ke lautan—kayu-kayu milik seorang tuan dari negeri seberang. Penduduk setempat pun menyebut tempat itu Loktuan, gabungan dari log dan tuan. Ke barat, hamparan pohon aren berdiri kokoh, getahnya harum semanis gula yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil warga Gunung Sari. Sedangkan ke selatan, tempat akarku menjejak tanah, berdirilah Kampung Kayu Batu, tempat para nelayan berteduh di bawah bayang-bayangku.

Musim berganti, peradaban berkembang, dan manusia mulai lupa pada harmoni yang pernah terjalin dengan alam. Para nelayan yang dahulu hanya menjaring dan memancing, kini mulai menggunakan Teknologi modern untuk menangkap ikan. Terumbu karang mulai tergerus, ekosistem laut terguncang, dan perlahan-lahan ikan-ikan menghilang. Tak lama berselang, daratan pun menghadapi nasib serupa. Hutan-hutan tempat aku dan sesamaku berdiri ditebang satu per satu. Kayu aren yang dahulu memberi kehidupan bagi Gunung Sari perlahan habis. Pohon-pohon besar di Loktuan tak lagi terlihat. Buah-buahan yang dahulu melimpah di Berbas, kini tak lagi jatuh berguguran, seperti kehilangan kemakmurannya.

Lalu tibalah hari yang tak pernah kuduga. Aku, Aruna Daksina, yang selama ini berdiri tegak sebagai simbol keagungan alam, akhirnya tumbang oleh tangan manusia. Kampak para penebang menghantam batangku yang kokoh. Aku tak mengira bahwa perlindungan yang selama ini kuberikan akan berakhir dengan pengkhianatan. Selama berabad-abad, mereka berteduh di bawah rantingku, menjadikanku penanda arah, bahkan menganggapku keramat. Namun kini, aku tak lebih dari seonggok kayu yang akan dilenyapkan. Sisa tubuhku dibakar, abu dan asapku mengepul ke langit, membawa serta kenangan tentang masa ketika Bontang adalah hamparan berkah.

Namun, meski ragaku telah tiada, namaku masih tersisa. Warga tetap mengenang tanah tempatku tumbuh sebagai Dusun Kayu Batu, sebuah penghormatan bagi keberadaanku. Sayangnya, penghormatan itu pun tak bertahan lama. Seorang petinggi dusun mengusulkan perubahan nama, berharap agar watak keras kepala yang ia yakini melekat pada warganya turut luruh bersama hilangnya nama lamaku. Dusun Kayu Batu pun dihapus, digantikan oleh nama baru: Pelabuhan.

Kini, hanya segelintir orang yang masih mengingatku. Aku, yang pernah menjadi mercusuar alami bagi para pelaut. Aku, yang pernah menjadi saksi bagi kemakmuran Bontang yang tiada tara. Namun, aku tidak menaruh dendam. Aku hanya ingin berpesan kepada mereka yang kini tinggal di tanah ini: Jagalah Bontang, bukan hanya karena kekayaan yang pernah ia miliki, tetapi karena tanah ini adalah bagian dari jiwa kalian. Jangan biarkan sejarahku hanya menjadi debu dalam ingatan, sebab tanpa ingatan, manusia akan kehilangan arah—seperti nelayan yang kehilangan bintang di langit malam.

Divine Masculine dan Divine Feminine

NM.Adnyani

Kisah Cinta Pārvatī dan Śiva: Kesetiaan, Kesabaran, dan Transformasi

Di antara banyak kisah cinta dalam mitologi Hindu, hubungan Śiva dan Pārvatī adalah salah satu yang paling mendalam. Namun, perjalanan mereka menuju pernikahan tidaklah mudah.

Pārvatī adalah reinkarnasi dari Sati, istri pertama Śiva yang mengorbankan diri karena penghinaan terhadap suaminya. Setelah kehilangan Sati, Śiva tenggelam dalam kesedihan dan memilih untuk hidup dalam tapa yang mendalam, menjauh dari dunia.

Namun, Pārvatī yang sejak lahir sudah ditakdirkan untuk menjadi pasangan Śiva, tidak menyerah. Dengan penuh kesabaran dan cinta, ia melakukan pertapaan panjang untuk membuktikan ketulusannya. Selama bertahun-tahun, ia menjalani disiplin spiritual yang keras, bertahan dari ujian dan godaan.

Di sisi lain, para dewa juga menginginkan persatuan mereka karena hanya anak dari Śiva dan Pārvatī yang dapat mengalahkan Asura Tarakasura. Oleh karena itu, Kama, dewa cinta, dikirim untuk membangunkan Śiva dari meditasinya dengan panah cintanya. Namun, alih-alih jatuh cinta, Śiva marah dan membakar Kama menjadi abu.

Melihat ketulusan Pārvatī, akhirnya Śiva menerima cintanya. Namun, sebelum menikah, ia menguji Pārvatī dalam berbagai cara untuk memastikan bahwa ia tidak hanya mencintai sosoknya, tetapi juga jalan hidupnya yang penuh dengan kesederhanaan dan spiritualitas. Setelah melewati semua ujian, Pārvatī akhirnya bersatu dengan Śiva dalam pernikahan ilahi, menjadi manifestasi sempurna dari keseimbangan Divine Masculine dan Divine Feminine.

Makna Kisah Ini dalam Pernikahan Ideal

Pārvatī tidak hanya menunggu atau menuntut cinta dari Śiva. Ia berusaha, bertumbuh, dan menunjukkan keteguhannya. Śiva pun tidak asal menerima, tetapi memastikan bahwa Pārvatī benar-benar siap untuk bersatu dengannya.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa cinta sejati tidak datang dengan instan. Ia membutuhkan kesabaran, ketulusan, kematangan, dan kesiapan diri sebelum dua jiwa benar-benar bisa bersatu dalam harmoni.

Lalu, bagaimana kita bisa membangun kapasitas untuk mencapai pernikahan yang seimbang seperti Śiva dan Pārvatī?

Memahami Energi Divine Masculine dan Divine Feminine

Dalam setiap individu, ada dua energi utama:

• Divine Masculine: kepemimpinan, keteguhan, keberanian, kestabilan, dan perlindungan. Ini adalah energi yang menghadirkan ketenangan dalam kehidupan.

• Divine Feminine: kelembutan, intuisi, kebijaksanaan, penerimaan, dan transformasi. Ini adalah energi yang membawa kehangatan, kasih sayang, dan inspirasi.

Pernikahan yang harmonis adalah ketika kedua energi ini hadir dan saling melengkapi—bukan mendominasi satu sama lain. Śiva tidak mengontrol Pārvatī, dan Pārvatī tidak mengorbankan dirinya untuk Śiva. Keduanya ada dalam hubungan yang setara dan penuh cinta.

Menyembuhkan Luka Batin Sebelum Memasuki Pernikahan

Hubungan yang sehat dimulai dari individu yang sehat. Jika kita membawa luka batin yang belum sembuh ke dalam pernikahan, luka itu akan terus muncul dalam bentuk konflik, ketakutan, atau ketidakseimbangan. Oleh karena itu, perjalanan menuju pernikahan ideal harus dimulai dengan penyembuhan diri—memahami pola trauma, berdamai dengan masa lalu, dan membangun kepercayaan diri.

Mengembangkan Kematangan Emosional dan Spiritual

Menjadi dewasa bukan hanya soal usia, tetapi juga tentang bagaimana kita mengelola emosi, mengambil tanggung jawab, dan memahami makna kehidupan. Śiva adalah simbol kesadaran tertinggi, sementara Pārvatī melambangkan keteguhan dalam pencarian spiritual. Untuk membangun hubungan yang kokoh, kita perlu mengembangkan kedewasaan emosional dan spiritual, baik melalui meditasi dan refleksi

Membangun Hubungan yang Setara dan Saling Melengkapi

Pernikahan yang harmonis bukan tentang siapa yang lebih dominan, tetapi tentang bagaimana dua individu bisa bekerja sama sebagai tim. Laki-laki yang telah membangkitkan Divine Masculine-nya tidak akan merasa terancam oleh perempuan yang kuat, dan perempuan yang telah membangkitkan Divine Feminine-nya tidak akan merasa perlu mengendalikan segalanya. Keduanya saling mendukung, menghargai, dan tumbuh bersama.

Pernikahan bukan hanya tentang cinta romantis, tetapi juga tentang nilai-nilai yang dijalankan setiap hari. Śiva dan Pārvatī mengajarkan bahwa hubungan harus berlandaskan dharma—prinsip hidup yang benar. Ini berarti menjunjung kejujuran, kesetiaan, kesabaran, dan komitmen terhadap pertumbuhan bersama.

Pernikahan ideal bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi, tetapi hasil dari proses panjang membangun kapasitas diri. Ini adalah perjalanan dimana dua individu yang sudah matang bertemu dan saling menguatkan, bukan saling mengisi kekosongan atau menyembuhkan luka satu sama lain.

Seperti halnya Śiva dan Pārvatī yang melalui banyak ujian sebelum bersatu, pernikahan sejati juga membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan kebijaksanaan. Jika kita ingin memiliki pernikahan yang ideal, maka kita harus lebih dulu menjadi pribadi yang ideal.

Semoga refleksi ini menjadi pengingat untukku dan juga untuk siapa saja yang sedang berproses dalam menemukan atau membangun hubungan yang lebih bermakna.

Menelusuri Sejarah Bontang: Dari Kitab Saway hingga Penelitian Terkini

NM. Adnyani

Sumber: Dokumentasi Ekskul Pers dan Jurnalistik

Bontang, 26 Februari 2025 – Aula SMAN 1 Bontang dipenuhi antusiasme dari 252 siswa kelas X yang mengikuti program Guru Tamu bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Sejarah Bontang”. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran Ko-kurikuler Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang bertujuan untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.

Sosok yang dinanti akhirnya hadir—Arif Supriyadi, S.STP, seorang Guru Tamu dari BKPSDM Kota Bontang. Didampingi oleh Ibu Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd. sebagai moderator sekaligus fasilitator diskusi, Arif Supriyadi tampil memukau, membawa para siswa “berpetualang” menembus lorong waktu untuk mengungkap asal-usul nama Bontang.

“Kita bukan hanya berjalan-jalan dalam segi ruang, tetapi juga dalam segi waktu,” ujar Arif Supriyadi membuka sesinya.

Pernyataan tersebut langsung memantik rasa penasaran siswa dan membuat mereka semakin bersemangat menyimak pemaparan sejarah Bontang.

Mengenal 4 Versi Asal-Usul Nama Bontang

Dalam pemaparannya, Arif Supriyadi menjelaskan bahwa ada empat versi asal-usul nama Bontang, namun yang paling populer adalah versi “Bolang Datang”.

Versi ini merujuk pada sebutan untuk pendatang yang mengenakan ikat kepala dari kain panjang yang menjulang tinggi, yang dikenal sebagai Bolang. Istilah ini tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga tercatat dalam Kitab Saway (1350 M), yang menjadi salah satu sumber tertulis tertua mengenai sejarah daerah ini.

Selain versi Bolang Datang, ada tiga versi lain mengenai asal-usul nama Bontang yang masih dapat dikaji lebih lanjut, menunjukkan bahwa sejarah kota ini memiliki dimensi yang kompleks dan menarik untuk ditelusuri.

Untuk membuat suasana semakin hidup, Arif Supriyadi menyelipkan kuis interaktif tentang nama-nama wilayah di Bontang. Para siswa berlomba-lomba menjawab pertanyaan dengan penuh semangat. Siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan hadiah yang di bawakan oleh Bapak Arif Supriyadi

Arif Supriyadi tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mengungkap sejarah di balik nama-nama wilayah tersebut, menjelaskan bagaimana nama-nama itu terbentuk dan berkembang dari masa ke masa.

Mengenal “Kesaksian Bisu Si Kayu Batu”

Setelah sesi kuis yang meriah, perhatian para siswa diarahkan pada sebuah karya tulis berjudul “Kesaksian Bisu Si Kayu Batu”, hasil karya Arif Supriyadi sendiri. Karya ini mengisahkan tentang sebuah pohon besar di Kota Bontang yang menjadi saksi bisu atas kekayaan alam kota ini di masa lalu.

Penjelasan tentang pohon bersejarah ini membuat para siswa terkesima. Mereka menyadari bahwa sejarah tidak hanya bisa dipelajari dari buku atau cerita, tetapi juga dari alam sekitar mereka.

Menanamkan Rasa Cinta terhadap Sejarah Lokal

Di penghujung sesi, Arif Supriyadi menyampaikan pesan inspiratif kepada generasi muda Bontang. Ia mengajak para siswa untuk lebih mencintai daerahnya, menggali potensi lokal, serta melestarikan sejarah dan budaya Bontang agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Kegiatan Ini diharapkan dapat:

✅ Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap Kota Bontang di kalangan generasi muda.

✅ Menjadi sarana edukasi efektif untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada para siswa.

✅ Mendorong semangat penelitian sejarah di kalangan pelajar agar semakin banyak yang tertarik menggali sejarah daerahnya.

Generasi muda Bontang tidak hanya menjadi penikmat sejarah, tetapi juga menjadi penjaga dan pelestari warisan daerahnya.

Kontributor Naskah: Rihana – Ekskul Pers dan Jurnalistik SMAN 1 Bontang is

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis