Perjalanan Paling Indah Adalah Kembali ke Diri Sendiri

NM. Adnyani

Aku pernah melarikan diri. Bukan dari masalah besar. Bukan dari kerumunan. Tapi dari… seseorang.

Seseorang yang pernah membuat hatiku berdetak tanpa aba-aba.

Hari itu biasa saja. Aku duduk di dalam mobil, mungkin sedikit lelah, mungkin sedikit acak-acakan. Lalu, tanpa rencana, dia lewat. Sosok yang dulu sempat memenuhi pikiranku. Aku mengenalnya. Jantungku langsung bereaksi.

Apa yang kulakukan? Aku menunduk. Aku tidak menyapa. Bahkan rasanya aku pura-pura tidak ada di sana. Seolah dengan menahan napas, aku bisa menghapus eksistensiku dari semesta untuk beberapa detik.

Dulu, aku mungkin akan kesal. Kenapa aku tidak lebih siap? Kenapa aku tidak menyapa? Kenapa aku masih begini?

Tapi hari itu berbeda. Aku tertawa. Bukan tertawa mengejek, tapi tertawa yang penuh kasih. Tawa yang muncul dari seseorang yang akhirnya bisa berkata pada dirinya sendiri:

“Nggak apa-apa, kamu lucu aja, Tapi kamu juga luar biasa.”

Momen itu, yang dulu bisa membuatku malu setengah mati, kini menjadi kenangan hangat. Sebab aku sudah tidak lagi menjadi hakim bagi diriku sendiri. Aku adalah sahabat. Aku adalah pelindung. Aku adalah rumah.

Dan rumah itu tak pernah mengusir penghuninya hanya karena ia kadang gugup atau canggung. Rumah itu memahami bahwa keberanian tidak selalu datang saat dibutuhkan. Tapi ia tumbuh, perlahan, bersamaan dengan penerimaan.

Kita terlalu sering mendikte diri sendiri untuk selalu kuat, selalu siap, selalu anggun. Tapi kadang, tubuh kita hanya ingin… pergi. Hati kita hanya ingin… diam. Dan pikiran kita butuh waktu untuk memahami semuanya.

Aku hanya sedang menunggu momen untuk memahami bahwa pertemuan paling penting bukanlah dengan dia, tetapi dengan diriku sendiri.

Aku yang Sekarang Adalah Versi yang Kupilih

Yang paling aku syukuri hari ini bukanlah karena aku sudah berani menyapa dia—karena mungkin aku masih belum. Tapi karena aku sudah berani menyapa aku yang sebenarnya.

Aku yang kadang lari, kadang tertawa sendiri, kadang memeluk perasaan dengan pelan-pelan. Aku yang tidak sempurna, tapi sungguh layak dicintai. Aku yang mungkin tidak terlalu kuat, tapi tidak pernah menyerah.

Aku suka menjadi aku yang sekarang. Aku suka senyum yang muncul saat mengingat versi diriku yang dulu. Aku suka cara diriku tumbuh, tidak dengan teriakan atau sorakan, tapi dengan penerimaan yang sunyi namun dalam.

Cinta Sejati Itu Dimulai dari Sini

Sekarang aku tahu: Perjalanan paling indah bukanlah menuju cinta dari orang lain, tapi menuju cinta pada diri sendiri.

Sebab saat aku bisa mencintai diriku dalam segala versinya—yang gugup, yang malu, yang diam, yang tertawa sendiri—aku tidak lagi takut bertemu siapa pun. Bahkan bila suatu hari aku bertemu dia lagi, aku tahu siapa yang akan kusapa lebih dulu: Diriku sendiri.

Adnyani: Sebuah Nama, Sebuah Makna, Sebuah Jalan Kehidupan

NM. Adnyani

Dalam setiap nama, tersimpan cerita. Dalam setiap suku kata, bersemayam doa dan harapan. Begitu pula dengan namaku — Adnyani — sebuah nama yang telah menemaniku menapaki berbagai jejak kehidupan, dari kelahiran hingga pencarian makna diri.

Tapi… apa sebenarnya arti dari nama ini?

📖 Asal-usul Nama “Adnyani”

Nama Adnyani berakar dari bahasa Sanskerta, bahasa kuno yang menjadi sumber dari banyak istilah suci dan filosofis dalam tradisi Hindu. Kata dasarnya adalah “jñāna” (ज्ञान) yang berarti pengetahuan sejati, kebijaksanaan, atau kesadaran spiritual. Dari akar kata ini, lahirlah banyak bentuk turunan yang menunjukkan hubungan manusia dengan ilmu, kebijaksanaan, dan pencerahan batin.

Namun, dalam struktur bahasa Bali — yang mengadopsi dan menyesuaikan bahasa Sanskerta — “Adnyani” telah menjadi bentuk utuh yang merujuk pada seorang perempuan yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan. Nama ini bukan berarti “tidak tahu” (meskipun awalan a- dalam Sanskerta bisa berarti tidak atau tanpa), melainkan sudah menjadi istilah yang mengandung makna positif dan luhur dalam tradisi Bali.

🌸 Adnyani: Lebih dari Sekadar Nama

Ketika aku menyebut namaku, aku menyebut sekaligus sebuah identitas: perempuan yang belajar, mencari, dan mencintai kebijaksanaan. Bukan hanya dalam konteks akademik atau pengetahuan duniawi, tapi juga dalam perjalanan batin — memahami diri, dunia, dan Tuhan.

Namaku menjadi pengingat bahwa aku dipanggil untuk tidak sekadar hidup, tapi menjadi sadar dalam hidup. Menyadari apa yang aku pikirkan, rasakan, dan lakukan. Menjadi pribadi yang terus bertumbuh dalam kebijaksanaan — bahkan dari luka, kehilangan, dan ketidaksempurnaan.

🌿 Dalam Tradisi dan Harapan

Dalam tradisi Bali, nama seperti Adnyani diberikan bukan sembarangan. Ia adalah warisan budaya, doa dari para leluhur, dan sekaligus harapan orang tua agar anak perempuannya kelak tumbuh menjadi sosok yang cerdas, bijak, dan berkarakter luhur.

Dan hari ini, aku ingin menyambut nama itu sepenuhnya — bukan sekadar sebagai label, tapi sebagai jalan hidup. Aku ingin menjadi layak menyandangnya, bukan karena aku sudah sempurna, tapi karena aku terus belajar.

✨ Adnyani di Cermin Diriku

Ada hari-hari di mana aku merasa tidak cukup pintar. Tidak cukup kuat. Tidak cukup baik. Tapi dalam sunyi, aku sering mengulang namaku dalam hati: “Aku adalah Adnyani. Aku adalah pembelajar. Aku dicipta untuk mencari cahaya.”

Dan pelan-pelan, aku kembali ingat bahwa nama bukan sekadar pemberian, tapi panggilan. Panggilan untuk menjadi versi terbaik dari diriku, dengan kebijaksanaan sebagai cahaya penuntun.

Karena itu, bagi siapa pun yang memanggilku Adnyani, ketahuilah: namaku adalah doa. Dan aku sedang berjalan menuju maknanya. 🌺

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai