Merajut Warisan, Menyambut Masa Depan: Ujian Praktik Seni Budaya Kelas XII SMAN 1 Bontang

NM. Adnyani

Bontang, 15 Februari 2025 – Seni adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Dengan semangat itu, peserta didik kelas XII SMAN 1 Bontang menghadirkan ujian praktik Seni Budaya yang spektakuler, mengusung tema “Legend of the Future, Legend of the Past – Welcome to Nusantara.”

Tema ini menggambarkan perjalanan waktu dalam kebudayaan Nusantara, di mana legenda masa lalu terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi masa depan. Setiap kisah yang dipentaskan tidak sekadar mengisahkan kejayaan yang telah berlalu, tetapi juga menanamkan nilai dan identitas budaya bagi mereka yang akan datang.

Menghidupkan Kisah, Menghidupkan Budaya

Mata pelajaran Seni Budaya yang diampu oleh Ibu Dra. Warih Witjitra Wening, M.Pd. menantang siswa untuk menghadirkan pertunjukan teater bertemakan budaya Nusantara. Sebanyak 251 peserta didik kelas XII tampil dalam pementasan yang menggali akar budaya dari berbagai daerah di Indonesia:

• XII A – Mandar (“I Tui Tuing dan Gadis Arang”)

• XII B – Dayak (“Legenda Danau Lipan”)

• XII C – Kutai Kartanegara (“Sumpah di Pocepak”)

• XII D – Sumatra Utara (“Batu Gantung”)

• XII E – Sunda (“Lutung Kasarung”)

• XII F – Melayu (“Putri Hijau”)

• XII G – Betawi (“Si Mirah dari Marunda”)

Setiap kisah tidak hanya menghadirkan alur cerita yang menarik, tetapi juga memperkenalkan kekayaan seni peran, tari, musik, serta kostum khas daerah masing-masing.

Menyulam Kebersamaan dalam Harmoni

Lebih dari sekadar ujian praktik, pementasan ini juga menjadi momentum kolaborasi antarangkatan. Para siswa kelas XII melibatkan adik-adik kelas X dan XI sebagai prajurit, penari, dan pemusik. Kehadiran mereka menambah warna dan kekayaan visual dalam setiap pertunjukan, sekaligus menciptakan ikatan yang kuat antara generasi di SMAN 1 Bontang.

Bersama, mereka belajar bahwa seni bukanlah ajang persaingan, tetapi ruang untuk saling mendukung, merangkul perbedaan, dan menumbuhkan rasa bangga akan budaya sendiri. Dalam persiapan yang berlangsung sejak 6 Januari 2025, mereka tidak hanya berlatih peran, tetapi juga membentuk panitia, merancang properti, dan memperkaya pemahaman mereka tentang budaya yang mereka bawakan.

Tujuan Kegiatan: Lebih dari Sekadar Ujian

Ujian praktik Seni Budaya ini bukan sekadar pemenuhan kurikulum, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih dalam:

1. Menanamkan kecintaan terhadap budaya Nusantara melalui seni teater.

2. Melatih kerja sama dan gotong royong antar siswa lintas angkatan.

3. Mengembangkan kreativitas dan keberanian berekspresi di atas panggung.

4. Mengenalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam legenda daerah kepada generasi muda.

Tim Penilai Eksternal: Objektivitas dan Apresiasi

Untuk menjaga kualitas dan memberikan evaluasi yang objektif, ujian praktik ini menghadirkan tim penilai dari eksternal, yang terdiri dari:

✅ Praktisi seni dan teater lokal

✅ Budayawan daerah

✅ Alumni SMAN 1 Bontang yang berkecimpung di dunia seni

Kehadiran mereka tidak hanya memberikan penilaian yang lebih profesional, tetapi juga membuka wawasan para siswa tentang bagaimana seni dapat menjadi bagian dari kehidupan yang lebih luas.

Malam Puncak: Panggung Spektakuler di Gedung Serba Guna PKT Bontang

Pementasan digelar pada 15 Februari 2025 pukul 19.00 hingga selesai di Gedung Serba Guna Koperasi Karyawan PKT Bontang. Malam itu, panggung bukan hanya sekadar tempat para siswa menampilkan keterampilan mereka, tetapi juga menjadi saksi bagaimana seni menghidupkan jiwa, membangun kebersamaan, dan menuturkan kisah-kisah yang tak boleh dilupakan.

Sorot lampu, alunan musik, dan ketukan langkah para pemain membentuk simfoni yang menggetarkan hati. Orang tua, guru, serta para tamu undangan larut dalam setiap adegan, menyaksikan bagaimana anak-anak mereka bukan hanya menjadi pelajar, tetapi juga penjaga warisan budaya bangsa.

Di akhir pertunjukan, tepuk tangan panjang mengiringi senyum lega para peserta didik. Mereka telah menjalani perjalanan panjang, menghidupkan legenda, dan kini mereka sendiri menjadi bagian dari legenda baru.

Ujian praktik ini bukan sekadar tugas sekolah—ini adalah perjalanan rasa, perjalanan makna, dan langkah kecil menuju masa depan yang tetap berpijak pada akar budaya. Legenda masa lalu telah mereka ceritakan, kini mereka siap menulis legenda baru untuk masa depan.

Perjalanan Sunyi: Bertapa dalam Kehidupan

NM. Adnyani

Hidup semakin sunyi. Aku menyadarinya pelan-pelan, seperti embun yang mengendap di pagi buta—hadir tanpa suara, tapi meninggalkan jejak dingin di kulit. Dalam perjalanan sunyi ini, aku mengerti bahwa tak ada seorang pun yang bisa berjalan untukku. Mereka mungkin menemaniku sejenak, tapi langkah-langkah ini tetaplah milikku sendiri.

Lalu, apa yang sebenarnya kukejar selama ini? Pengalaman? Penantian? Perhatian? Atau sesuatu yang bahkan tak bisa kunamai?

Aku telah menatap kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik hiruk-pikuk pencarian. Kebenaran yang tak selalu nyaman, yang tak selalu menyembuhkan seketika. Dan meski mataku telah terbuka, hatiku masih murung.

Aku pernah merasakan derai air mata di dalam diri. Tapi mata fisikku tidak menangis.

Tangisan itu tidak berwujud, tapi aku bisa mendengarnya. Jeritan yang menggema tanpa suara, menggambarkan betapa proses memahami kesunyian ini terasa menyayat.

Apa itu ketabahan?

Apakah ini tanda bahwa aku sedang menjadi lebih kuat? Atau justru aku sedang belajar menerima kelemahan yang selama ini kusembunyikan?

Mungkin ini adalah proses bertapa.

Bertapa bukan berarti pergi ke tempat jauh dan meninggalkan dunia, tetapi menghadapi keheningan di dalam diri sendiri. Duduk bersama kesunyian, merasakan kesepiannya, lalu mendengarkan bisikannya.

Bisa jadi, kesunyian ini bukan hukuman, melainkan jalan. Jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang siapa aku sebenarnya. Jalan menuju kebebasan dari segala yang semula kupikir penting, tapi ternyata hanya bayangan.

Aku belum tahu kapan perjalanan ini akan selesai. Tapi untuk saat ini, aku akan diam sejenak, bernapas dalam-dalam, dan menerima sunyi sebagai bagian dari diriku.

Menggali Kearifan Lokal: Program Guru Tamu Mengenalkan Tameng Dayak di SMAN 1 Bontang

Guru Tamu memaparkan tentang warna yang ada dalam Tameng Dayak

Bontang, Kalimantan Timur – “Saya tidak pernah menyangka bahwa tameng Dayak memiliki filosofi yang begitu dalam. Kegiatan ini benar-benar membuka wawasan saya tentang budaya lokal,” ujar Rihana, salah satu siswa kelas X yang mengikuti kegiatan ini. Pernyataan ini mencerminkan antusiasme siswa SMAN 1 Bontang terhadap Program Guru Tamu yang diadakan pada 13 Februari 2025. Kegiatan ini menghadirkan Bapak Martinus Ng, seorang Purnawirawan TNI sekaligus praktisi Dewan Adat Dayak Kota Bontang, yang memperkenalkan tameng Dayak, salah satu warisan budaya khas Kalimantan yang kaya akan makna dan filosofi.

Kegiatan ini dipandu oleh Ibu Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas sekaligus Ketua Program P5, yang berperan sebagai moderator dan fasilitator diskusi. Dalam sesi pemaparan, Bapak Martinus Ng menjelaskan filosofi dan nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tameng Dayak. Selain itu, beliau juga menguraikan makna motif dan warna yang terdapat pada tameng tersebut, serta fungsi utamanya dalam kehidupan masyarakat Dayak, baik sebagai perlindungan diri maupun bagian dari perlengkapan tarian tradisional.

Selain membahas tameng Dayak, Bapak Martinus Ng juga memperkenalkan Topi Seraung Dayak, sebuah kerajinan tangan khas yang memiliki nilai simbolis tinggi dalam budaya Dayak. Para siswa terlihat antusias dalam menyimak penjelasan dan berpartisipasi dalam sesi diskusi yang interaktif.

Penyerahan Piagam Penghargaan

Tujuan dan Manfaat Kegiatan

Program Guru Tamu ini bertujuan untuk:

  1. Melestarikan budaya asli di tengah arus globalisasi – Siswa diharapkan mampu menjaga nilai-nilai lokal di tengah pengaruh budaya luar.
  2. Mengakomodasi unsur budaya luar tanpa kehilangan identitas – Membantu siswa memahami bagaimana menerima pengaruh baru tanpa menghilangkan jati diri budaya lokal.
  3. Mengintegrasikan budaya asing ke dalam budaya Indonesia – Mendorong pemahaman tentang bagaimana budaya luar dapat diselaraskan dengan nilai-nilai lokal.
  4. Menyaring pengaruh budaya asing – Membangun kesadaran siswa dalam memilah pengaruh luar agar tetap mempertahankan aspek positif.
  5. Menjadi landasan bagi perkembangan budaya di masyarakat – Mendorong siswa untuk turut serta dalam inovasi budaya yang tetap berpijak pada kearifan lokal.

Program Guru Tamu ini diawali dengan pemaparan materi oleh Bapak Martinus Ng yang berlangsung dengan jelas dan interaktif. Para siswa terlihat antusias mengikuti materi, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam sesi diskusi. “Saya sangat kagum dengan bagaimana budaya Dayak bisa tetap lestari hingga kini. Ini menjadi motivasi bagi saya untuk lebih menghargai budaya Indonesia,” kata Husein, salah satu peserta diskusi.

Sebagai bentuk evaluasi dan refleksi dari kegiatan ini, setiap siswa diminta membuat resume serta refleksi diri mengenai materi yang telah dipaparkan. Resume ini bertujuan untuk menguji pemahaman siswa, sementara refleksi diri membantu mereka dalam menginternalisasi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya Dayak.

Kegiatan ini juga didokumentasikan oleh anggota ekstrakurikuler jurnalistik kelas X, sehingga dapat dipublikasikan sebagai bagian dari laporan sekolah serta menjadi referensi pembelajaran di masa mendatang.

Secara keseluruhan, Program Guru Tamu ini berlangsung dengan sukses dan memberikan manfaat besar bagi siswa SMAN 1 Bontang. Selain memperkaya wawasan mereka tentang kekayaan budaya Indonesia, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. Diharapkan melalui program ini, para siswa tidak hanya memahami warisan budaya, tetapi juga memiliki semangat untuk turut serta dalam menjaga dan melestarikannya bagi generasi mendatang.

Kontributor Naskah: Rihana – Ekskul Pers & Jurnalistik SMAN 1 Bontang

Guru Tamu di SMAN 1 Bontang: Mengenal Ketahanan Energi dan Potensi Metanol sebagai Bahan Bakar Alternatif

NM. Adnyani

Bontang, 12 Februari 2025 – Program Guru Tamu di SMAN 1 Bontang kembali menghadirkan narasumber dari dunia profesional untuk berbagi wawasan dengan siswa. Kali ini, topik yang diangkat adalah Ketahanan Energi, yang dibawakan oleh Ir. Soni Hartanto, S.T., IPM, ASEAN Eng., Manager Departemen General Affair and External Relation dari PT. Kaltim Methanol Industri (KMI) yang berlokasi di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Kegiatan ini berlangsung di Aula SMAN 1 Bontang dan diikuti oleh 252 siswa kelas X dari tujuh kelas (X-A hingga X-G).

Penyerahan Sertifikat Penghargaan

Tujuan dan Manfaat Kegiatan

Program Guru Tamu merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bertujuan untuk:

• Memberikan wawasan kepada siswa mengenai ketahanan energi dan pengembangan sumber energi alternatif.

• Menghubungkan siswa dengan para profesional agar memahami aplikasi ilmu di dunia kerja.

• Mendorong siswa untuk memiliki pemikiran kritis, inovatif, dan peduli terhadap isu-isu energi yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, siswa mendapatkan manfaat berupa:

• Pemahaman lebih dalam tentang metanol sebagai bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan biosolar.

• Wawasan tentang berbagai kegunaan metanol dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam produksi lem dan busa kursi.

• Inspirasi untuk lebih peduli terhadap pengembangan energi ramah lingkungan dan potensi industri energi di masa depan.

Pemaparan Materi oleh Narasumber

Dalam sesi pemaparannya, Ir. Soni Hartanto menjelaskan bagaimana PT. KMI memproduksi metanol dan peranannya dalam industri energi. Ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam pemanfaatan sumber daya energi alternatif untuk menghadapi tantangan energi global.

Pelaksanaan dan Dokumentasi Kegiatan

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga didukung oleh:

• Koordinator Projek Kelas X dan para fasilitator, yang membimbing diskusi dan interaksi siswa dengan narasumber.

• Anggota ekstrakurikuler jurnalistik kelas X, yang bertugas mendokumentasikan kegiatan agar dapat dipublikasikan sebagai bagian dari laporan sekolah.

Menurut Ibu Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas sekaligus Ketua Program P5, program Guru Tamu adalah upaya nyata sekolah dalam menghubungkan dunia pendidikan dengan industri. “Kami ingin siswa mendapatkan wawasan langsung dari para profesional, sehingga mereka bisa lebih memahami tantangan dan peluang di dunia kerja. Kegiatan ini juga melatih siswa untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap ilmu yang mereka pelajari,” ujarnya.

Output Kegiatan: Resume dan Refleksi Diri

Sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran, setiap siswa diminta untuk:

• Membuat resume dari materi yang telah disampaikan oleh narasumber.

• Menulis refleksi diri tentang wawasan yang mereka dapatkan dan bagaimana materi ini dapat diterapkan dalam kehidupan mereka.

Melalui program ini, diharapkan siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu menganalisis dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ke depan, program Guru Tamu akan terus menghadirkan berbagai narasumber dari beragam bidang untuk memperkaya wawasan siswa dan membangun koneksi antara dunia pendidikan dan industri.

SMAN 1 Bontang – Berkarakter, Berprestasi, Menguasai IPTEK dan Berbudaya Lingkungan

Kontributor Naskah: Sunny – Ekskul Pers Dan Jurnalistik SMAN 1 Bontang

Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP): Strategi Sukses Masuk Perguruan Tinggi Negeri bagi Siswa Kurikulum Merdeka

NM.Adnyani

Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) adalah salah satu jalur Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) yang memungkinkan peserta didik masuk perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), dan politeknik negeri tanpa tes tertulis.

SNBP seleksinya berbasis rekam jejak akademik dan prestasi lain yang diperoleh siswa selama tiga tahun di SMA. Jalur ini memberi kesempatan bagi siswa yang memiliki konsistensi akademik untuk diterima lebih awal tanpa melalui ujian UTBK-SNBT.

Kuota SNBP di SMAN 1 Bontang

Pada tahun ini, SMAN 1 Bontang mendapatkan kuota SNBP sebesar 40% dari total siswa kelas XII, yaitu 101 peserta didik. Kuota ini dialokasikan kepada siswa di 7 rombongan belajar (rombel) dengan mata pelajaran pilihan yang beragam, sesuai dengan sistem Kurikulum Merdeka yang tidak lagi membagi siswa ke dalam jurusan IPA, IPS, atau Bahasa.

Kurikulum Merdeka dan Pengaruhnya terhadap SNBP

Sejak diterapkannya Kurikulum Merdeka, sistem peminatan jurusan tidak lagi berlaku. Sebagai gantinya, setiap siswa memilih mata pelajaran sesuai minat dan bakat mereka, yang kemudian menjadi dasar dalam menentukan kesesuaian program studi di perguruan tinggi.

Karena tidak ada pembagian jurusan, perguruan tinggi kini menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menentukan linieritas mata pelajaran untuk SNBP. Linieritas tetap penting, tetapi lebih fleksibel dibandingkan sistem sebelumnya.

Strategi Memilih Program Studi dan Universitas di SNBP

Pemilihan program studi (prodi) dan universitas dalam SNBP tetap harus dilakukan dengan strategi yang matang, mengingat persaingan yang cukup ketat. Berikut beberapa langkah penting yang harus diperhatikan:

Memahami Linieritas di Era Kurikulum Merdeka

Meski tidak ada jurusan IPA, IPS, atau Bahasa, siswa tetap harus memastikan bahwa mata pelajaran yang mereka ambil di SMA relevan dengan program studi yang dipilih di perguruan tinggi.

Sebagai contoh:

• Siswa yang mengambil Biologi, Kimia, dan Matematika → Dapat memilih prodi seperti Kedokteran, Farmasi, Teknik Biomedis, Ilmu Gizi.

• Siswa yang mengambil Ekonomi, Sosiologi, dan Matematika → Cocok untuk prodi Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, Ilmu Administrasi.

• Siswa yang mengambil Sastra Indonesia, Sejarah, dan Antropologi → Bisa memilih Ilmu Komunikasi, Sastra, Hubungan Internasional, Pariwisata.

Setiap perguruan tinggi memiliki kebijakan berbeda dalam menentukan linieritas program studi. Oleh karena itu, siswa perlu mengecek langsung di laman resmi universitas yang dituju.

Memeriksa Daya Tampung dan Persaingan di Program Studi

Setiap program studi di perguruan tinggi memiliki kapasitas atau daya tampung terbatas. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk mempertimbangkan faktor berikut:

• Jumlah kursi yang tersedia di program studi yang diminati.

• Jumlah peminat tahun sebelumnya, untuk memperkirakan tingkat persaingan.

• Passing grade atau rata-rata nilai siswa yang diterima, jika tersedia.

Semakin tinggi peminat suatu prodi dibandingkan daya tampungnya, semakin ketat persaingan untuk masuk.

Menganalisis Nilai Rapor dan Konsistensi Akademik

Dalam SNBP, nilai rapor menjadi faktor utama penilaian. Siswa dengan nilai yang stabil atau meningkat di mata pelajaran relevan memiliki peluang lebih besar untuk diterima.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

✅ Konsistensi nilai sejak kelas X hingga XII.

✅ Performa akademik yang baik dalam mata pelajaran pilihan yang relevan.

✅ Keterlibatan dalam kegiatan akademik, seperti lomba atau proyek penelitian.

Siswa dengan grafik nilai menurun berisiko memiliki peluang lebih kecil dibandingkan siswa dengan nilai yang stabil atau meningkat.

Memeriksa Persyaratan Tambahan dari Universitas

Beberapa universitas memiliki aturan tambahan dalam seleksi SNBP, seperti:

• Portofolio untuk program studi Seni, Desain, Musik, dan Olahraga.

• Minimal nilai tertentu untuk mata pelajaran tertentu di beberapa PTN favorit.

• Kuota daerah untuk beberapa universitas, yang lebih memprioritaskan siswa dari wilayah tertentu.

Siswa perlu mengecek syarat spesifik di universitas yang mereka incar untuk memastikan mereka memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Memilih Kombinasi Program Studi dengan Bijak

Dalam SNBP, setiap peserta dapat memilih maksimal dua program studi di universitas berbeda atau di universitas yang sama.

Tips dalam memilih kombinasi program studi:

✔ Jika memilih dua prodi, usahakan dari rumpun yang sama atau berdekatan agar tetap linier.

✔ Pilih prodi dengan peluang yang lebih besar jika nilai akademik tidak terlalu tinggi.

✔ Cek daya tampung dan jumlah peminat di tahun sebelumnya untuk mempertimbangkan persaingan.

Keuntungan SNBP:

✅ Tanpa Tes Tulis – Hanya berdasarkan prestasi akademik dan non-akademik.

✅ Dapat Diterima Lebih Awal – Pengumuman SNBP lebih dulu daripada SNBT.

✅ Mengutamakan Konsistensi Akademik – Cocok bagi siswa yang memiliki nilai stabil.

Tantangan SNBP:

❌ Kuota Terbatas – Hanya sebagian siswa terbaik yang bisa mengikuti SNBP.

❌ Persaingan Ketat di Prodi Favorit – Beberapa program studi memiliki jumlah peminat yang sangat tinggi.

❌ Terbatas oleh Linieritas Mata Pelajaran – Tidak semua siswa bisa bebas memilih program studi yang mereka inginkan.

Agar sukses dalam SNBP, siswa SMAN 1 Bontang perlu:

✅ Meneliti linieritas prodi dengan mata pelajaran yang diambil.

✅ Memeriksa daya tampung dan tingkat persaingan di universitas tujuan.

✅ Menjaga nilai akademik agar tetap stabil atau meningkat.

✅ Mencari informasi detail tentang syarat tambahan di universitas yang diincar.

Ketentuan Saat Berlatih Yoga


Ketentuan selama berlatih Yoga ini di rujuk dari Common Yoga Protocol International Day Of Yoga 21st June, Ministry of Ayur Veda, Yoga and Naturopathy, Unani, Siddha and Homoeopathy (AYUSH) New Delhi, 2014 yang diterjemahkan dan dikembangkan berdasarkan pengalaman oleh penulis.

  1. Sesi latihan diawali dengan berdoa untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga pikiran menjadi tenang.
  2. ⁠Yoga dilakukan dengan pelan, dalam kondisi rileks dengan kesadaran penuh terhadap nafas dan pergerakan tubuh. Jangan menahan nafas kecuali jika secara khusus disebutkan dalam latihan āsanas tertentu. Bernafaslah selalu melalui hidung.
  3. ⁠Jangan menekan tubuh terlalu keras atau menghentakkan tubuh pada beberapa titik dalam beberapa waktu. Lakukanlah latihan berdasarkan kapasitas tubuh anda masing – masing.
  4. ⁠Diperlukan beberapa kali berlatih untuk mendapatkan manfaat yang baik dan maksimal, untuk itu berlatih secara terus menerus dan rutin adalah hal yang sangat penting dan mendasar. Sesi latihan ditutup dengan bermeditasi atau duduk hening dan atau dengan mengucapkan doa permohonan perdamaian.

Hal – Hal Penting Sebelum Berlatih Yoga

Ketentuan sebelum berlatih yoga ini di rujuk dari Common Yoga Protocol International Day Of Yoga 21st June, Ministry of Ayur Veda, Yoga and Naturopathy, Unani, Siddha and Homoeopathy (AYUSH) New Delhi, 2014 yang diterjemahkan dan dikembangkan berdasarkan pengalaman oleh penulis.

  1. Shauca: sebuah prasyarat yang penting bagi praktisi yoga, yaitu kebersihan diri sendiri, kebersihan pakaian dan juga ketenangan pikiran, body and mind, sangat baik apabila anda mandi sebelum berlatih yoga.
  2. ⁠Praktisi Yoga sebaiknya berlatih dalam keadaan atau suāsana yang tenang dan tubuh serta pikiran yang rileks.
  3. ⁠Praktisi yoga sebaiknya berlatih yoga dalam keadaan perut yang kosong (tidak terlalu penuh dan tidak terlalu lapar). Jika badan terasa kurang fit, minumlah segelas air hangat yang dicampur dengan madu sebelum berlatih yoga.
  4. ⁠Jarak makan dan berlatih yoga adalah 3 jam setelah makan berat dan 2 jam setelah makan ringan.
  5. ⁠Kandung kemih dan usus sebaiknya dalam keadaan kosong sebelum berlatih yoga. Usahakan buanglah air kecil sebelum berlatih yoga.
  6. ⁠Gunakan matras yoga selama berlatih untuk menjaga kenyamanan dan kebersihan selama berlatih yoga. Pilihlah matras yoga yang berbahan dasar alami.
  7. ⁠Latihan yoga dilakukan tanpa alas kaki agar memberi sirkulasi udara yang cukup pada kaki serta melancarkan jalannya energi ke seluruh tubuh (Probo, Vega. 2014. CNN Indonesia)
  8. ⁠Gunakan pakaian yang nyaman dan berbahan dasar katun agar memudahkan gerak tubuh.
  9. ⁠Yoga tidak dilakukan dalam keadaan kelelahan, sakit, terburu–buru atau dalam kondisi stres (ketegangan) berat.
  10. ⁠Dalam kasus atau masalah penyakit kronis, atau masalah jantung, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau yoga terapis sebelum mulai berlatih yoga.
  11. ⁠Berkonsultasilah kepada Guru yoga sebelum mempraktikkan yoga jika anda sedang dalam masa kehamilan dan menstruasi

Meningkatkan Kualitas Dokumentasi: Webinar Fotografi untuk Jurnalis Sekolah

Hari ini, dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional, aku mengadakan webinar fotografi dengan fokus pada dokumentasi kegiatan. Webinar ini diikuti oleh seluruh anggota ekstrakurikuler jurnalistik yang memiliki peran penting dalam mendokumentasikan berbagai aktivitas sekolah.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh temuan dari hasil dokumentasi tim jurnalistik yang selama ini belum memenuhi standar yang diharapkan. Meskipun jumlah foto yang diambil cukup banyak, kualitasnya masih kurang optimal—banyak yang tidak menggambarkan keseluruhan kegiatan dengan baik. Hal ini menyebabkan dokumentasi tidak dapat digunakan secara maksimal, baik untuk publikasi maupun arsip sekolah.

Materi

Melihat permasalahan ini, aku merasa perlu memberikan pemahaman lebih mendalam kepada para jurnalis muda agar mereka dapat menghasilkan dokumentasi kegiatan yang lebih baik dan sesuai standar jurnalistik.

Webinar ini bertujuan untuk:

1. Meningkatkan pemahaman tentang dokumentasi kegiatan – Peserta diberikan wawasan mengenai prinsip-prinsip dasar dalam mendokumentasikan sebuah acara agar hasilnya lebih representatif.

2. Mengenalkan teknik dasar fotografi – Materi mencakup aspek teknis seperti komposisi, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, dan momen penting yang harus diabadikan dalam suatu kegiatan.

3. Melatih keterampilan praktik langsung – Dengan pemahaman yang lebih baik, peserta diharapkan dapat menerapkan teknik yang diajarkan untuk menghasilkan dokumentasi yang lebih berkualitas.

4. Mendorong profesionalisme dalam jurnalistik sekolah – Dokumentasi yang baik bukan hanya sekadar mengambil gambar, tetapi juga menyampaikan cerita dari sebuah kegiatan.

Contoh ilustrasi dokumentasi yang efektif

Selama sesi berlangsung, aku menyampaikan materi tentang pentingnya dokumentasi dalam setiap kegiatan. Aku juga menjelaskan bagaimana foto yang baik tidak hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas dan kesesuaiannya dengan konteks acara yang didokumentasikan.

Photo yang menggambarkan anak ekskul lagi kerja

Dengan adanya webinar ini, aku berharap para anggota jurnalistik dapat lebih memahami pentingnya dokumentasi yang baik dan mampu menerapkan ilmu yang telah dipelajari dalam setiap kegiatan sekolah. Dokumentasi yang berkualitas tidak hanya akan menjadi arsip yang berharga, tetapi juga dapat meningkatkan citra sekolah dan memperkuat peran jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Semoga semangat belajar dan meningkatkan keterampilan ini terus menyala dalam diri mereka!

Nyala Api Semangat Belajar: Kisah di Malam Kamis

We Listen, We Don’t Judges

Menjelaskan tokoh tokoh

Kamis, 6 Februari 2025, adalah hari yang padat bagiku. Aku dijadwalkan mengajar kelas bahasa Sanskerta dengan materi Bhagavad Gita pada pukul 19.00 WITA. Namun, di jam yang sama, aku masih berada di Pura Buana Agung Bontang, mendampingi latihan Tari Gantar untuk persiapan piodalan.

Latihan tari berakhir pukul 19.39 WITA, jauh melewati jadwal kelas yang seharusnya sudah dimulai. Aku pun segera menghubungi murid-muridku, menanyakan apakah mereka masih ingin belajar malam itu atau tidak. Dalam hati, aku siap jika mereka memilih untuk menunda kelas—bagaimanapun, keterlambatan ini bukan hal yang ideal bagi proses belajar. Namun, jawaban mereka membuatku terenyuh.

“Siap belajar, Bu!”

Tanpa ragu, aku bergegas menuju mobil, menyalakan aplikasi Zoom dari ponsel, dan mulai mengajar.

Di kelas virtual malam itu, hanya dua murid yang hadir—satu dari Palangkaraya dan satu lagi dari NTB. Mungkin bagi sebagian orang, ini tampak seperti kelas kecil yang tidak berarti. Namun bagiku, mereka adalah bukti nyata bahwa ilmu selalu menemukan jalannya kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari.

Sebenarnya, sejak awal, kelas ini diikuti oleh belasan murid. Namun, satu per satu mereka menghilang, tidak lagi hadir dalam pertemuan-pertemuan berikutnya. Hanya dua orang ini yang tetap bertahan, yang tetap berkomitmen untuk belajar, meskipun mungkin teman-teman mereka sudah memilih jalan lain.

Karena mereka semangat, akupun ikut semangat. Aku mengajar dari dalam mobil, tanpa pencahayaan yang memadai, tetapi tetap berusaha memberikan yang terbaik. Aku menggunakan dua ponsel yang tersedia—satu untuk suara dan satu lagi untuk share screen.

Mungkin aku terdengar berlebihan, tapi aku tidak punya pilihan lain. Di luar, di wantilan, masih banyak orang yang ramai berkumpul. Mengajar di gedung itu bukanlah opsi yang memungkinkan. Maka, meski dalam keterbatasan, aku tetap melanjutkan kelas.

Aku bangga melihat mereka. Di tengah banyaknya anak yang lebih memilih meninggalkan pelajaran, mereka tetap bertahan. Mereka menyimak, berdiskusi, dan menyerap ilmu dengan penuh semangat. Bahkan, sesi yang seharusnya berakhir pukul 20.00 WITA akhirnya melampaui batas waktu—kami baru menyudahi kelas pada pukul 20.30 WITA.

Malam itu, aku kembali diingatkan bahwa jumlah bukanlah ukuran utama dalam mengajar. Yang lebih berharga adalah semangat dan dedikasi mereka yang tetap bertahan dalam proses belajar, meskipun banyak tantangan menghadang.

Api semangat belajar yang menyala dalam diri mereka adalah cahaya harapan bagi pendidikan. Dan selama nyala itu ada, aku akan terus mengajar.

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis