Teguh Dalam Ahimsa, Maka Himsa (Kekerasan) Tidak Dapat Bertahan

YOGA SUTRA PATANJALI, II.35

“Ahimsa Pratisthayam tat sannidhau vairatyaghah”

Berhadapan dengan seseorang yang teguh dalam Laku ahimsa atau sikap tanpa kekerasan, maka kekerasan tidak dapat bertahan. Pengertiannya adalah segala sikap penuh kekerasan akan runtuh atau berakhir dengan sendirinya

Semudah itukah?

Ya, semudah itu

Master selalu mengingatkan kita untuk menerangi ruangan segelap apapun, sebatang lilin pun sudah cukup. Kita tidak perlu mengisi setiap jengkal dengan lilin.

Berapa banyak lampu bohlam atau lampu apa saja yang anda butuhkan untuk menerangi  ruang kerja atau ruang tidur anda? Bahkan untuk menerangi aula atau Ballroom sekalipun, kita tidak perlu memenuhi setiap jengkal dengan lampu.

Sebagai kaum yang pernah dijajah, kita selalu mengeluhkan “keterlaluan” mereka yang kita sebut kaum penjajah. Padahal, silahkan anda mencari tahu berapa banyak orang belanda, portugis, inggis atau lainnya yang pernah tinggal dikepulauan kita saat kita masih dijajah – tidak lebih dari 100.000 orang, tapi mereka bisa menjajah puluhan juta penduduk kita di kepulauan yang luas ini.

Apa masuk akal?

Tidak. Seratus ribu orang tidak bisa, tidak mampu menjajah puluhan juta orang-jika mereka yang dijajah tidak bersikap negatif dan membiarkan diri mereka dijajah.

Kekerasan yang mereka lakukan terhadap kita disebabkan oleh sikap negatif kita sendiri – kepasrahan konyol yang membingungkan sekaligus melemahkan.

Setiap kali dijajah dengan cara apapun, kebiasaan kita adalah menyalahkan orang lain, menyalahkan orang yang menjajah, kemudian duduk manis berpangku tangan sambil menunggu seorang ksatria piningit atau ratu adil.

Kita tidak mau mengambil tanggungjawab dan menjadi satria piningit, menjadi ratu adil, maka bisa dijajah hingga ratusan tahun, tatanan kebangsaan yang sudah baguspun bisa seenaknya diubah dengan ideologi yang tidak cocok, siapakah yang bersalah? Kita sendiri

Kemudian muncullah beberapa batang lilin berupa soekarno, hatta, syahrir dan lainnya. Maka dalam kurun waktu yang tidak lama, bahkan boleh dikata relatif singkat, kita terbebas dari penjajahan.

Inilah maksud patanjali

Gelap kekerasan tidak bisa bertahan didepan cahaya Tanpa Kekerasan. Jika kita berpegang teguh pada ahimsa, maka himsa akan mundur secara teratur. Sikap negatif-entah kekerasan, sikap penuh kekerasan atau apa saja-adalah sisi gelap diri kita sendiri. Ketika kita menyalakan pelita tanpa kekerasan atau kebalikan dari sikap negatif yang telah menjadi sebab penderitaan kita, maka berakhirlah penderitaan. Yang tadi gelap menjadi terang berderang.

Tulisan ini dikutip ulang dari Buku Yoga Sutra Patanjali

Karya Bapak Anand Krishna

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di Apresiasi Buku, Bhadra Yoga Sanstha, Materi Pelajaran, Pendidikan agama Hindu dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s