Arti Sebuah Buku

Buku adalah teman bicara yang tidak mendahuluimu.

Teman bicara yang tidak memanggilmu ketika kamu bekerja.

Teman bicara yang tidak memaksamu berdandan ketika menghadapinya.

Teman kencan yang tidak menyanjungmu.

Kawan yang tidak membosankan.

Penasehat yang tidak mencari-cari kesalahan…”

Guru Stotram

om ajnana-timirandhasya

jnananjana-salakaya

caksur unmilitam yena

tasmai sri-gurave namah

“I was born in the darkest ignorance, and my spiritual master opened my eyes with the torch of knowledge. I offer my respectful obeisances unto him.”

Sikap Rendah Hati

Seseorang yang mempelajari apapun, dari golongan apapun, siwaistik, tantrika, vaisnawa atau apapun juga, maka ia perlu belajar rendah hati. Sikap rendah hati merupakan suatu nilai-nilai universal yang dipedomani. Berikut sebuah pupuh yang memiliki makna sangat dalam:

Eda ngaden awak bisa depang anake ngadanin, Geginane buka nyampat anak sai tumbuh luhu, ilang luhu boke katah, wyadin ririh enu liu pelajahin

Pupuh Ginada Basur

Terjemahan:

Jangan mengira diri pintar. Biarlah orang lain yang menilainya. Seperti halnya menyapu, selalu ada sampah. Hilang sampahnya, masih tersisa debunya. Meskipun ahli dalam bidang tertentu ataupun berpendidikan tinggi dan lain sebagainya, masih banyak ilmu yang perlu di pelajari.

Mabuk alkohol merugikan diri sendiri, tetapi mabuk pengetahuan menimbulkan sikap angkuh. Apalagi mabuk spiritual, ini bisa lebih berbahaya karena bisa sangat menipu.

Ektrimitas perlu di batasi. Terlalu ektrem dengan sesuatu juga dapat mengacaukan keseimbangannya.

Engkau Akan Menjadi Seperti Apa Yang Ada dalam Pikiranmu.

Salah satu bait Sutra dalam Tantra Sastra menyebutkan bahwa:

Yad Bhavam Tat Bhavati

Terjemahan:

Engkau Akan Menjadi seperti Apa yang ada dalam Pikiranmu.

Merujuk pada sutra ini, maka kondisi apapun yang kita alami sesungguhnya bersumber dari dalam diri. Ketika kondisi di dalam diri diliputi kebahagiaan, maka semua yang kita lihat adalah kebahagiaan. Sebaliknya, jika kesedihan yang kita rasakan, semua yang kita lihat adalah kesedihan. Karena itu, munculkan dan alami kebahagiaan dari dalam diri terlebih dahulu sebelum membahagiakan orang lain. Inilah rahasia ajaran Tantra.

Kebahagiaan adalah esensi terdalam dari diri manusia. Cara-cara mencapai Kebahagiaan pula yang diajarkan dalam setiap ajaran suci dari berbagai tradisi.

Mahatma Gandhi juga menulis hal yang sama dengan bahasa yang sedikit berbeda, Engkau ada dimana pikiranmu ada dan bukan dimana badanmu berada.

Pengetahuan ini adalah anak tangga untuk memasuki kedalaman diri…

di Kutip dari Buku Tantra

1 April 2019

Wejangan Anand Krishna: Shraddha, Memandu Roh Leluhur Yang Belum dan Yang Sudah Lahir Kembali

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Arjuna, kau dan Aku telah melewati banyak  masa kehidupan. Aku mengingat semuanya – sementara kau tidak mengingatnya, wahai Parantapa (Arjuna Penakluk Musuh).” Bhagavad Gita 4:5

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Aku adalah Jiwa yang kekal, Isvara, Penguasa Tunggal makhluk-makhluk seantero alam. Sesungguhnya Aku Tak (perlu) Terlahirkan, namun atas kehendak-Ku dan dengan kekuatan Maya-Ku sendiri, kekuatan yang menyebabkan Hyang Tunggal tampak Banyak, Aku mewujud.” Bhagavad Gita 4:6

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita sudah pernah lahir berulang-ulang. Orang-orang yang sudah mencapai kesadaran seperti Krishna, mengingat semuanya ini. Buddha pernah mengatakan, dalam salah satu ajarannya, kalau seseorang sudah mengingat masa lalunya, ini adalah kelahirannya yang terakhir. Dia tidak perlu lahir lagi. Dia akan menyatu dengan alam semesta. Dia akan mencapai nirvana.

Tetapi konsep dalam Bhagavad Gita adalah orang seperti itu pun, walaupun sudah sampai ke moksha, sudah mencapai nirvana, orang yang sudah mengingat masa lalu, sudah tidak perlu lahir lagi, diapun…

Lihat pos aslinya 1.040 kata lagi

Wejangan Anand Krishna: Mirror Neuron Menggandakan Kebaikan Atau Kejahatan Kita

Mirror Neuron

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

“Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan  sejati tanpa kedamaian?” Bhagavad Gita 2:66

https://bhagavadgita.or.id/

 

Satu per satu, hierarkinya di situ. Dijelaskan oleh Krishna. Jadi bukan bahagialah dirimu, tenanglah, sabar, sabarlah. Nggak. Kenapa kau tidak bisa tenang. Satu per satu inilah yang disebut perennial psikologi. Dua-duanya, psikologi dan filsafat perennial yang sudah ada sejak ribuan tahun dan sekarang masih relevan. 3.000 tahun sebelum zaman modern ini, jadi sudah 5.000 tahun yang lalu. Percakapan ini terjadi antara Krishna dan Arjuna. Dan apa pun yang Dia katakan, sampai sekarang pun masih relevan.

Para psikolog yang mempelajari, para filosuf yang mempelajari, semua mereka menyadari bahwa apa yang dikatakan itu, kita pun belum sampai ke situ. Kita tahu kalau nggak sabar nggak bagus. Nggak damai nggak bagus. Tapi bagaimana kedamaian itu bisa…

Lihat pos aslinya 786 kata lagi

Wejangan Anand Krishna: Waspada Bila Selalu Mengingat Objek Yang Memikat

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

Review sedikit sloka sebelumnya.

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kuntī), indra yang terangsang, menjadi liar, bergejolak, dan dapat menghanyutkan gugusan pikiran dan perasaan (mind) para bijak yang sedang berupaya meraih kesadaran diri atau pencerahan…” Bhagavad Gita 2:60

https://bhagavadgita.or.id/

 

Indra yang tidak terkendali, pencecapan, penglihatan, pendengaran, semua organ-organ ini, kalau indra persepsi tidak terkendali, maka pikiran bisa menjadi liar. Seluruh hidup kita bisa upside down. Bisa amburadul karena tidak terkendalikan. Malah kita sudah terkendalikan oleh mind kita yang sudah liar, indra kita yang sudah liar juga. Demikian kata-kata Krishna ini jelas sekali dan sangat keras sekali: Bahkan dapat menghanyutkan mind para bijak yang sedang berupaya untuk meraih kesadaran diri.

Jadi bukan hanya orang awam. Bukan cuma orang biasa. Orang yang sedang berupaya untuk meraih kesadaran diri, mereka pun bisa terhanyutkan. Ini penting untuk kita perhatikan. Di situ kita butuhkan apa yang disebut satsang atau pergaulan yang baik.

“Setelah mengendalikan seluruh indra…

Lihat pos aslinya 419 kata lagi

Wejangan Anand Krishna: Salah Sedikit Bisa Fatal, Yoga Membuat Terampil dan Efisien

Terampil dan efisien

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

“Ia yang telah meraih kesadaran, ia yang hidup berkesadaran dalam keseimbangan diri, sesungguhnya telah terbebaskan dari konsekuensi baik-buruk atas segala perbuatannya di dunia ini. Sebab itu, lakonilah Yoga. Yoga adalah yang membuat seorang pelaku menjadi terampil, dan efisien, dalam segala pekerjaannya.” Bhagavad Gita 2:50

https://bhagavadgita.or.id/

Bagaimana kita bisa bebas dari penyesalan, bebas dari segala macam kekahawatiran? Satu-satunya cara adalah ketika kita berbuat, apa pun yang kita perbuat, dengan penuh ketrampilan dan efisien. Inilah definisi dari Yoga. Istilah yang digunakan dalam bahasa Sanskrit adalah kaushalyam, selalu trampil. Kita sering ngeles, sudah berbuat salah tapi langsung ngeles. Kita sigap untuk memberikan pembenaran atas segala kesalahan kita.

Kalau kita berada dalam satu situasi, bekerja dalam suatu perusahaan multinasional misalnya, ada yang kerja di sini dengan perusahaan asing? Nggak bisa ngeles. Sedikitpun pembenaran hire or fire. Langsung shake hand mulai besok nggak usah bekerja lagi. Inilah Yoga, inilah Hindu Samskriti, inilah budaya Hindu. Trampil…

Lihat pos aslinya 1.025 kata lagi

Wejangan Anand Krishna: Jangan Berdagang, Bernegosiasi Dengan Tuhan

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

“Bagi mereka yang dungu, wahai Pārtha (Putra Pṛthā – sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna), apa yang tersurat dalam Veda, dalam kitab-kitab suci, adalah segala-galanya.” Bhagavad Gita 2:42

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini suatu sloka yang sangat membingungkan banyak orang. Kita tidak lagi menggunakan viveka, menggunakan kesadaran, menggunakan buddhi, tapi mengikuti segala sesuatu letterlijk, apa yang tersurat, apa yang tertulis. Banyak orang ketika kita bicara sesuatu mereka mengatakan, “tapi di Lontar ada……..”

Lontar-lontar kita, kitab-kitab kita itu segala macam berita juga ada. Lalu apakah kita harus mengikuti semua berita itu? Ada seorang penjahat melakukan kejahatan, koran memberitakan, terus apakah kita harus mengikuti tindakan kriminal itu? Saya berikan contoh di mahabharata, ada cerita tentang Yudistira yang disebut Dharmaraja, Raja Dharma main dadu, judi, kalah. Terus karena seorang Dharmaraja, seorang Yudistira pernah main judi, apakah kita garus membenarkan judi itu?

Kitab-Kitab Suci dalam tradisi Hindu tidak memberikan harus begini harus begitu. Kitab-Kitab Suci kita…

Lihat pos aslinya 886 kata lagi

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis