Note: Hayalan atau mimpi?

Hayalan atau mimpi?
Aku ingin hidup di sebuah rumah seorang diri, sendiri. Setiap hari aku ingin sibuk dengan diriku sendiri. Aku ingin sibuk mengendalikan pikiran2ku sendiri. Aku ingin bersentuhan dengan dunia di luar diriku hanya melalui alat2 yg tak bicara, aku ingin menulis dan meletakkan fokusku pada tulisan2ku,
Aku bukan anti sosial, tapi aku menyukai kesunyian. Emosiku lebih stabil. Aku sering kali membuktikannya. Setiap kali ada komunikasi basa basi, di kemudian hari selalu ada ujung pangkalnya.
Diusiaku 45 tahun, aku ingin mewujudkan mimpiku itu, pergi keliling dunia seorang diri. Self servis…
Masih ada 17 tahun tersisa dari umurku sekarang. Dlm 17 tahun itu tentu saja banyak kejadian yang akan mengaburkan aku dari mimpiku itu.
Tahun ini, dibanding tahun2 sebelumnya adalah puncak dari kegalauan. Aku sedang hamil anak kedua, anak pertamaku diusia 3 tahun. Ayah dan ibuku masih lengkap. Ayah dan ibu mertuaku masih lengkap juga. Hutang2 kepemilikan duniawi mencapai angka yang fantastis. Setiap hari tanganku sibuk dengan kegiatan memenuhi kebutuhan dasar anak2ku. Konflik psikis dg suamiku. Dan banyak lagi masalah lainnya. Aku tidak realistis. Hidupku penuh dg harapan2 dan cinta yang palsu. Aku mengharapkan segala sesuatu ideal. Aku mengharapkan bisa mencintai suami, tapi aku tak bisa mencintainya. Aku lebih baik tak mencintainya. Mungkin aku hanya menyesuaikan diri hidup dengannya. Biarlah ku cari cinta yang kuinginkan itu.
Dengan tidak mencintainya spt cinta hayalanku, aku ingin kerikatan terhadapnya tdk menyebabkan karma baru. Dengan begitu, aku sendiri akan lebih mudah untuk mencintai diriku.
Saat ini, hal2 lainnya juga turut hadir memberi pelajaran. Aku merasa bahwa hidupku harus kuat. Tanpa perlu merengek utk diantar ke dokter dan lainnya. Sebab telah kubuktikan sendiri bahwa ia yang secara ideal kuharapkan hadir menemaniku ke dokter tapi selalu tak bisa, dan anehnya selalu bisa utk org lain. Sepertinya aku bukan mengandung anaknya. Anak ini seperti anak maria yang tak memiliki ayah. Aku siap menjadi maria utk zaman ini. Ingatkan ibu nak, bahwa hanya kita berdua.

Yogasala Pertama Di Bontang

Satnam, Puji Tuhan, kehidupan kami kini semakin bahagia karena dipenuhi berkah dan rasa syukur. Aku memang menggeluti yoga sejak tahun 2004 dan mulai hidup sebagai praktisi Yoga. Kesukaanku pada Yoga mengantarkanku para kesempatan2 untuk berbagi dan melayani orang lain yang juga memiliki keinginan yang sama untuk mempelajari dan mempraktekkan Yoga.
Selama di kampus, aku sudah menjadi instruktur Yoga pada unit kegiatan Mahasiswa (UKM) Yoga, kemudian aku terus berbagi pengetahuan tentang yoga sampai tahun 2011. Kemudian pada nov 2011 aku memindahkan fokus pengajaranku dari anak2 sekolah menjadi ibu2 seperti beberapa teman Guru dan juga Perawat Rumah sakit maupun Ibu rumah tangga. Awalnya aku mengajar dari rumah ke rumah. Tapi kini tidak lagi demikian. Setelah aku menempati rumah baruku dengan ukuran ruang yang cukup untuk mengajar beberapa member Yoga, aku memutuskan mengajar di rumah saja dan menyiapkan alat2 penunjang seperti Matras. Member Yoga dari kategori ibu2 hanya berjumlah 4 orang. Meski demikian aku tidak berhenti mengajar untuk anak2 sekolah. Di sekolah dimana aku mengajar dan bekerja, aku memiliki wadah khusus yaitu ekstrakurikuler Yoga. Aku memang menginginkan kelas yoga dg peserta yang sedikit, sehingga lebih fokus dan manfaatnya dapat di terima dg baik.
Sebelumnya aku tidak pernah memberi nama untuk tempat yang kupakai untuk mengajar Yoga, tapi kemudian, kehadiran Guruji Indra Udayana ke Bontang dalam rangka menjadi Narasumber dalam workshop “Bermuda dan Bercahaya” yang di laksanakan oleh PERADAH Kota Bontang, memberi inspirasi untuk memberi nama tempat itu menjadi Yogasala dan sekaligus meresmikan Yogasala pertama di Bontang pada Sabtu, 9 Februari 2013.
Dengan demikian, rumahku ku dedikasikan untuk menjadi tempat berbagi pengetahuan.

Rumahku, Ashramku

Setiap orang menginginkan menjadi ratu dan raja di rumahnya. Maksudnya, dalam pengertian sang pengatur Rumah tangga. Tanggung jawab setiap bagian dr anggota keluarga di rumah itu, mesti memahami dan melaksanakan kewajibannya masih2 dan saling menghargai satu sama lain. Contoh saya perihal makanan yg harus di sajikan di meja makan setiap harinya.
Aku sebagai istri maupun ibu bagi anakku, aku memiliki prinsip yang kuat agar anak dan suamiku tdk suka jajan diluar. Namun demikian tidak berarti aku mengusahakan agar anak dan suamiku selalu berselera makan di rumah dg masakan yg disiapkan di rumah. Pengaturannya adalah makanan yang disiapkan di rumah adalah makanan vegetarian. Sangat tdk disarankan masak daging. Seingat aku, sejak awal menikah, aku memang tdk pernah memasak daging merah. Biasanya hanya ayam atau ikan. Itupun dlm waktu yang sangat jarang. Aku memang menyiapkan daftar menu di buku dan aku pajang di dapur, sehingga bude yg membantuku sudah mengetahui pada hari ini atau esok akan masak apa. Awalnya ayam di makan hanya sekali seminggu, yaitu pada hari Rabu. Minggu berikutnya menu di ganti lagi, ikan hanya dimakan pada hari sabtu, minggu berikutnya, tanpa ayam dan ikan. Sepanjang minggu kita akan makan dengan makanan vegetarian. Selain itu, memang masakan dimasak dg cara sederhana, tdk terlalu banyak bumbu dan juga tdk pedas.
Semua itu aku lakukan utk menjaga perilaku dan kebiasaan agar tdk memiliki kebiasaan yang buruk. Sebab, segala pikiran2 kita datang dari apa yang kita makan, lalu pikiran2 kita akan menentukan kata2 kita dan kata2 akan menentukan perilaku. Perilaku kita akan menjadi kebiasaan2 dan kebiasaan2 kita akan menjadi sifat. Lalu sifat kita akan menentukan masa depan kita.
Mengapa rumahku adalah ashram bagiku. Karena prinsip2 hidup di dalam ashram (padepokan) mulai di terapkan secara perlahan2. Hal ini adalah sesuatu keniscayaan akan menghasilkan sesuatu yg baik pula.

Memaknai Kembali Dasa Sila Sutasoma

NASKAH MIMBAR AGAMA HINDU

PENGISI ACARA                               : PEMBIMBING MASYARAKAT HINDU KANWIL KEMENTERIAN AGAMA

  PROVINSI KALIMANTAN  TIMUR

HARI/TANGGAL                                : 3 JANUARI 2013

JUDUL                                    : DHASA SHILA SUTASOMA

WAKTU                                                : 15.30 – 16.00

DIBAWAKAN OLEH          : NI MADE ADNYANI, S.Ag

Mengapa ingin mengangkat tema Sutasoma?

Kitab Sutasoma adalah salah satu kitab warisan leluhur Bangsa Indonesia.Diammbildari gabungan katanya, sutasoma berasal dari kata suta dan soma.Suta berarti putra dan soma berarti bulan.Putra bulan/ putrayang menyejukkan seperti rembulan dengan cahaya yang teduh, cahaya yang menerangi kegelapan. Kitab sutasoma ini adalah karya sang Empu (sang pengayom) bernama Tantular. Kemungkinan nama ini penuh dengan makna, bukan sekedar nama seorang anak manusia. Tan-Tular, tak tertular.Artinya seseorang yang tidak mudah tertular atau tak mudah untuk dipengaruhi.Memiliki pengetahuan tentang jati dirinya.

Kitab sutasoma ini menggunakan bahasa jawa Kuno yang merupakan kumpulan nasehat yang diberikan oleh sang Empu kepada Gajah Mada dan kepada kita semua. Gajah mada bukanlah sekedar sebuah nama seorang maha patih, melainkan gelar bagi seseorang yang sedang mabuk, gajah dan mada. Gajah yang mabuk.Dapat kita bayangkan bagaimana kekuatan seekor gajah yang sedang mabuk? Ia dapat menghabisi dan mencabut pohon besar dan mengacaukan hutan  yang menjadi tempat tinggalnya.

Semboyan yang paling popular dari maha karya Empu Tantular ini adalah “Bhineka Tunggal Ika” yang mestinya tidak dapat dipisahkan dengan kalimat berikutnya yaitu “Tan Hana Dharma Mangrwa”.Bhineka tunggal Ika berasal dari bahasa jawa kuno yaitu Bhin + eka +tunggal + ika.Bhin berarti berbeda, eka, tunggal dan ika semuanya berarti satu.Satu kata diulang sebanyak 3 kali. Berbeda – beda tetapi esensinya satu. Appearing is many, essence is one

Negara kita yang multi kultur (multi agama, ras, suku) tetap disatukan oleh Bhineka tunggal ika. Itulah mengapa founding father, Bapak Bangsa kita menggunakan sandi sutasoma ini sebagai semboyan Negara.

Dalam perjalanan bangsa ini, banyak terjadi konflik yang berbau SARA, jiwa sutasom kita memudar.Jati diri bangsa Indonesia yang mencintai perbedaan mulai memudar.Karena itu, kita perlu memaknainya kembali, apalagi ini adalah awal tahun 2013. Selama setahun kedepan kita akan membekali diri dengan semangat bhineka tunggal ika. Jiwa kita akan terbakar dan melebur dengan jiwa Empu Tantular.

 

 

Apa itu Dasa Sila?

Dasa adalah sepuluh dan sila adalah sikap/ etika/ perilaku

Dasa sila adalah sepuluh pedoman perilaku, guideline.Pedoman bukanlah aturan. Karena aturan bersifat baku dan kaku sehingga banyak yang mengakalinya. Sebagai contohnya adalah mencuci pakaian, kita tidak perlu membuat aturaan baku untuk mencuci pakaian dengan “apa dan bagaimana”. Pedoman hanya menuliskan pakaianmu harus bersih.Apa dan bagaimana kau akan membersihkan pakaianmu silahkan berinovasi, gunakan teknologi ataupun detergen terbaik yang engkau bisa gunakan.

Apa saja Dasa sila sutasoma itu?

Berikut 10 pedoman perilaku dalam kakawin sutasoma:

Dasa sila ini di bagi kedalm 4 kalimat kunci yaitu Demokrasi untuk sila 1, keadilan untuk sila ke-2, kemakmuran dan kesejahteraan untuk silake 3 dan ke 4, keagamaan untuk sila ke 5 – 9 dan kemanusiaan untuk sila ke 10.

  1. Aja Sira Anlarani Hati Nin Won
    Jangan Menyakiti Perasaan Orang (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain)
  2. Ajaamidanda Tan Sabenere
    janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil
  3. Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira
    Janganlah menjarah harta rakyatmu
  4. Aja Tan Asih In daridra
    Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung
  5. Luluta Rin Pandita
    Mengabdilah pada mereka yang sadar
  6. Aja Sira Katunkul Ing Kagunan, Amujya Nabhaktya
    Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu
  7. Aja Memateni Yen Tan Sabenere
    Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan
  8. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati,
    Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati,
  9. Sampuraha Rin Tiwas
    dan bersabar dalam keadaan susah
  10. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana
    (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih

Bagaimana Memaknainya Kembali?

  1. 1.      Aja Sira Anlarani Hati Nin Won

Jangan menyakiti perasaan orang

Tidak menyakiti perasaan orang sekaligus tidak mengacaukan pikiran orang lain adalah pedoman pertama yang dibut oleh sang Empu. Ini adalah prinsip ahimsa dalam khasanah nusantara. Ahimsa tidak saja berarti non killing, tetapi juga tidak menyakiti perasaan dan mengacaukan pikiran orang lain. Dalam kehidupan sehari hari butir ini dapat bermakna :

  1. Tidak menipu pelanggan bagi para pedagang dan pengusaha
  2. Tidak membodohi rakyat bagi para politisi dan wakil rakyat
  3. Tidak menyesatkan umat bagi para pendeta
  4. Tidak bekerja sembarangan bagi kaum pekerja
  5. Tidak menjual pendidikan bagi para pendidik
  6. Tidak mengorbankan kuliah bagi para pelajar dan mahasiswa demi kepentingan partai politik

Daftar tersebut dapat diperpanjang, sesuai dengan profesi yang kita lakoni dalam kehidupan sehari – hari.

 

 

 

 

  1. 2.      Ajaamindanda tan sabenere

Jangan menjatuhkan hukuman yang tidak adil.

Butir ini menyangkut tentang keadilan, hokum atau danda.Hukuman diberikan setelah seseorang diberi peringatan terlebih dahulu tentang tindakan yang salah dan sudah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri tetapi tetap tidak berubah.

Asas keadilan pada butir ini menuntut kita untuk bersikap adil terhadap nurani kita, terhadap diri sendiri, terhadap suara hati kita.

  1. 3.      Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira

Janganlah menjarah harta rakyatmu

Diri kita, kita semua adalah pemimpin.Pemimpin untuk diri kita sendiri.Memimpin diri agar terhindar dari sifat rakus/lobha. Membangun kesejahteraan dan kemakmuran duniawi tidak dapat dilakukan dengan menjarah harta milik orang lain.

Negara harus menarik pajak masyarakat dengan cara yang adil dan tidak membebani. Sebagaimana Canakya mengajarkan kepada kita melalui keteladanan matahari. Melalui Asta Bratha, Canakya mencontohkan bagaimana matahari menyerap air laut tanpa air laut merasa kesulitan, kesusahan ataupun kekurangan. Air laut menguap tanpa di rasakan oleh laut.Setelah menjadi awan lalu turunlah hujan dan hujan dinikmati oleh seluruh isi bumi, tanaman, hewan dan manusia.

Sementara realita kehidupan, banyak oknum pemerintah memanfaatkan “lahan basah” sebagai pengelola Negara untuk memperkaya diri sendiri.

  1. 4.      Aja tan asih in daridra

Jangan menunda kebaikan (kasih) pada yang kurang beruntung

Daridra bukanlah berarti miskin.Daridra berarti “kurang beruntung”.Seorang miskin jelas kurang beruntung, dia seorang daridra.Namun orang kaya yang tidak sehatpun kurang beruntung.

Sungguh sangat beruntung kita hidup hari ini dalam keadaan sehat, lengkap dan penuh limpahan kasih Hyang Widhi. Oleh karenanya kitatidak lupa berbagi kebahagiaan, keceriaan ataupun kebaikan kepada ia yang kurang beruntung.

  1. 5.      Luluta rin Pandita

Mengabdilah pada Mereka yang Sadar

Pandita tidak diterjemahkan sebagai seseorang yang bergelar pendeta.Ataupun seorang cendikiawan.Ia adalah seseorang yang telah menemukan panda atau dirinya. Tunduklah pada mereka yang telah “sadar”, Ia yang telah menemukan dirinya/jati dirinya.

Contoh dan ikutilah mereka yang telah sadar akan jati dirinya sebagai manusia. Jati dirinya sebagai anak bangsa, jati dirinya sebagai manusia Indonesia.

Rangkullah setiap orang, jangan bersifat apriori terhadap siapapun, karena seorang bandit seperti Ratnakar pun bisa berubah menjadi seorang Valmiki, seorang pujangga besar yang menyusun Ramayana

Seorang pandita tidaklah selalu seorang sulinggih.Seorang penyair yang punya kepeduliansosial tinggi adalah seorang pandita, pendidik yang “waras”, usahawan yang bermoral juga adalah seorang pandita.

  1. Aja Sira Katunkul Ing Kagunan, Amujya Nabhaktya
    Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu

Angkuh, Iri,Dengki dan Sombong (AIDS) adalah penyakit mental yang sangat ganas menyerang manusia. Ia bekerja sangat lambat namun pasti. Seseorang yang AIDS pada mental, masih dapat disebuhkan hanya jika ia mau dan berupaya untuk sadar.

Para wakil rakyat kita yang sangat “gila” terhadap kedudukan, ia lupa untuk merakyat. Ketika sebelum dipilih ia akan sangat merakyat, namun ketik terpilih, ia sangat eklusif. Hanya beberapa orang saja yang dapat menemuinya.Pengabdiannya pada rakyat yang memilihnya, terlupakan oleh penyakit AIDSnya.

 

  1. Aja Memateni Yen Tan Sabenere
    Janganla h menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan

Yang berhak memberikan hukuman mati adalah pengadilan dan Negara.Itupun demi kedilan itu sendiri.Lembaga lain apalagi perseorangan, tidak dapat memberikan hukuman mati.

  1. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati,
    Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati,

Tantular juga mengingatkan kita tentang kematian, bahwa takada yang kekal di dunia ini.Kematian adalah suatu keniscayaan.Kelahiran kita adalah sesuatu yang sudah terjadi, namun kematian adalah sesuatu “yang akan terjadi”.Karena itu, kita mesti mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Persiapan itu bukanlah untuk memiliki senjata yang lengkap dan canggih untuk melawan Dewa kematian saat Roh kita dijemput,  tetapi untuk melawan rasa takut. Rasa takut kita tidak akan menunda datangnya kematian itu sendiri. Karena itu Tantular mengatakan sangat utama jika kita tidak takut mati.

Dalam kitab upanisad diuraikan bagaimana kita dapat melawan rasa takut terhadap kematian.Mrtyum jaya mantram adalah mantram yang paling ampuh untuk mengikis rasa takut dalam menghadapi kematian.Mrtyu berarti mati dan jaya berarti menang.Mrtyu jaya berarti menang melawan kematian. Hal ini bukan berarti kita tidak akan mati dan hidup abadi. Badan kita akan mati tapi jiwa kita tak pernah mati.

Tetapi kemudian, jangan mencari mati. Kematian tak perlu dicari, ia akan datang manakala “kontrak” dengan badan ini sudah habis.

Mari kita mencoba meyakinkan keluarga kita bahwa setiap saat maut akan menjemput. Dan itu adalah kepastiannya. Bekerjalah utuk kepentingan orang lain, bukan sekedar kepentingan diri sendiri. Demikian mengisi kehidupan.Tidak takut mati tidak kemudian kita tak berbuat sesuatu apapun.

 

  1. Sampuraha Rin Tiwas
    dan bersabar dalam keadaan susah

Persis seperti musim, suka dan dukha silih berganti, ini adalah dua sisi yang tak dapat dipisahkan.Selama kita hidup dan berbadan. Suka dan dukha akan datang silih berganti. Janganlah menyalahkan siapa – siapa atas kesusahan yang kita alami.Bersabarlah dalam keadaan susah, bersabarbukan berarti duduk diam dan tidak melakukan apa-apa serta bermalas-malasan. Bersabar adalah intropeksi diri dan kemudian tetap semangat

 

  1. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana
    (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih

Setiap dari kita harus memiliki jiwa yang besar untuk menghadapi hal-hal kecil maupun besar.Pendidik harus memiliki jiwa yang besar dan luas terhadap anak2 didiknya.Ia mesti tidak mudah tersinggung juga tidak pilih kasih.

Tidak pilih kasih berarti tidak mengasihi ataupun membantu berdasarkan klan, suku, agama dan lainnya. Tidak pilih kasih berarti memilih berdasarkan kemampuan, kualitas, kelayakan, dan kompetensinya.

 

 

My Enemy

Beberapa hari terakhir aku lebih sering merenung, lebih sering berbicara pada diri sendiri, lebih sering bertanya pada diri sendiri, ternyata ada ribuan pertanyaan yang belum dijawab oleh sang hati. jika pikiran selalu memiliki jawaban atas seluruh pertanyaan, tapi tidak demikian dengan hati. pikiran selalu naif untuk jujur tapi hati tak pernah keliru. jika hati mulai keliru maka kita pasti kehilangan langkah dan berada dalam kegelapan. kegelapan muncul dari rasa takut yang berlebihan.

ada sebuah kalimat yang muncul dari diri sendiri”my enemy is my self”

musuhku adalah diriku sendiri, musuh tidak berada jauh dari diriku, semua ada di dalam diri. Irihati, cemburu, penghakiman, penghianatan dan berbagai sifat buruk datang dari diriku sendiri, semua itu bermuara pada 1 kata yaitu rasa takut. takut orang lain lebih sukses dari diriku maka aku irihati, takut orang lain lebih beruntung dari diriku maka aku akan cemburu, takut orang lain melihat kelemahanku maka aku menghakimi. ohhh, inilah badan manusia. badan yang penuh dengan berkah sekaligus bahaya. pengaburan pandangan terhadap diri sendiri akan menutupi suara hati.

ketakutan membatasi ruang gerakku, ketakutan akan kegelapan, ketakutan akan kelemahan, ketakutan akan ketidakmampuan, ketakutan akan kematian. ternyata masalahku hanya ada pada rasa takut. pengungkapan ini juga merupakan cermin ketakutan. namun ketakutan adalah ciri hidup. kita ada disini, di dunia ini juga disebabkan oleh rasa takut.

kejujuran mengakui rasa takut ini awalnya juga penuh dengan ketakutan, takut mengakui diri memiliki musuh di dalam diri. musuh tidak datang dari luar, musuh datang dari dalam. apa yang ada di luar adalah cermin dari apa yang ada di dalam.

pada akhirnya, pencarian harus dilakukan ke dalam dan bukan keluar diri.

With Love

Kaliorang Dengan Segala Potensinya. Sebuah Catatan Perjalanan Mudik

Mudik adalah kebiasaan orang Indonesia sejak lama. Pulang untuk melihat kembali kampung halaman, kenangan masa lalu, masa kecil akan mengingatkan kita bagaimana kita bisa ada disini sekarang. Setiap hari kita adalah pencetak sejarah bagi diri kita sendiri. Hadir ke masa lalu tdk selalu buruk, hadir ke masa lalu membuat kita menjadi pribadi yang pandai bersyukur dan lembab…
Di bln september ini, tepatnya tanggal 10 – 12 september aku memutuskan mudik utk keperluan acara keluarga. Aku berbahagia mendpt kesempatan ini, sejak lama sekali aku ingin plg tapi belum ada kesempatan. Perjalanan ditempuh dlm waktu 7 jam melewati sangatta, Bengalon, Gunung Sekrat dan beberapa tempat lainnya. Perjalanan ini sungguh panjang. Aku tiba di sore hari sekitar pukul 5 sore. Aku segera bersujud pada ibuku, setelah itu aku menyibukkan diri untuk mengambil gambar rumah masa kecilku ini. Maklumlah aku plg setahun sekali. Itu krn jarak tempuh yang sangat jauh dan keterbatasan waktuku. Setelah cukup utk mengambil beberapa gambar maka aku segera membersihkan diri dan dinner. Seusai itu, waktuku kuhabiskan untuk berkumpul bersama keluarga, saudara2ku juga datang. Malam harinya, spt kunjunganku di waktu yang lalu, anakku sakit, entah krn masuk angin, mabuk atau stress, yang jelas Ia diare, demam tinggi dan meler. Sebentar ia menangis, sebentar bermain. Jadilah kita semalaman begadang nungguin dia. Heemm… Malam yang melelahkan. 
Pada hari kedua, aktifitas pagiku tdk berubah spt sewaktu di rumah, Yoga pagii lalu sarapan dan kemudian membersihkan diri. Setelah itu aku berkunjung ke rumah adikku di wilayah Transmigrasi baru. Aku tdk ikut dalam rute suamiku untuk menjelajahi lahan milik mertua maupun milik PHDI, krn medannya terlalu berat, aku memutuskan mengubah rute kunjunganku. Bhadrika yang mulai agak sehat dari sakitnya semalam, kutinggalkan di rumah bersama Ibuku, neneknya.
Perubahan rute itu ku alihkan ke rumah kakakku. Disana aku hanya sebentar, sempat berfoto ria saja. Tdk ada pembicaraan khusus krn aku sudah banyak ngobrol di malam sebelumnya. Kakakku dg kondisi kehamilannya yang nemasuki usia 4 bln, memutuskan utk tinggal dirumah dan tdk ikut suaminya ke kebun.
selanjutnya kuputuskan plg ke rumah utk melihat kondisi Bhadrika. Hemmm, ternyata ia bermain dan baik2 saja. Lalu aku merayunya utk pergi tidur siang krn waktu sudah agak siang. Dan akhirnya iapun tertidur. Mengisi Waktu tidur anakku ku gunakan utk mengunjugi KTM Kota Terpadu Mandiri yang tersedat pembangunannya. Aku juga bersemangat mengunjungi pembangunan jalan menuju pelabuhan bual2. Pelabuhan besar utk kapal2 pengangkut kelapa sawit. Kelapa sawit menjadi fokus perkebunan di daerah ini.
setelah menghabiskan waktu untuk berfoto dan memandangi tanah kalimantan yang luas dan berbukit ini aku merasa terhanyut dalam besarnya kuasa Tuhan. Serta rasa syukurku mendapat kesempatan hidup di tanah nusantara ini. Sepanjang jalan menuju rumah, aku masih terkagum2.
Sesampai dirumah, aku masih tetap bersemangat utk mengetahui lebih jauh tentang potensi daerah ini, walau terus bersemangat,  ku upayakan mengistirahatkan badanku, hingga akupun tertidur. satu jam kemudian aku terbangun lalu menikmati makan siang bersama keluarga. Sungguh menyenangkan
Pada sore hari kuhabiskan waktu utk mengunjungi nenekku yang sudah sepuh. Usianya hampir 80 tahun. 
Nenekku sangat menginspirasi. Ia menghabiskan seluruh waktunya dengan mencintai dirinya sendiri, ia terhanyut dalam keheningan dirinya sendiri. Ia mengisi waktunya dengan membuat anyaman dari bambu yang disebut Kukusan (wadah untuk mengukus). Ia menyiapkan sendiri. Meskipun matanya tdk dpt melihat dengan jelas sesuatu yang tipis atau kecil, tapi tangannya memiliki mata, tangannya bekerja dg sangat lihai. Ia membelah bambu2 itu dg tangannya yang mulai keriput. Ia tdk ada banyak bicara. Ia selalu diam. Diamnya bukan kemarahan atau beban, diamnya adalah kebahagiaan. Aku lihat senyumnya masih tampak bugar dan manis. Ia selalu ceria. Ia tdk terbebani dg dirinya. Ia bebas. Ia bahagia. Kondisinya sehat meskipun ia berjalan dengan dibantu oleh tongkatnya. Aku sungguh bangga, sangat sedikit org tua yang berbahagia dimasa tuanya. Meskipun masa mudanya mungkin bagi kita tidak cemerlang, ia bercerai dari suaminya, dan ia mengasuh anaknya seorang diri. Baginya, hal2 seperti itu tidak pernah membebaninya. Itulah obrolan singkatku dg nenek yg sangat menginspirasi. Ia bicara hanya jika perlu bicara. Hidupnya tidak penuh dengan tuntutan-tuntutan. Aku bahagia melihatmu nenek. Bhadrika anakku belum pernah bertemu buyutnya, karena itu nenek sangat menginginkannya bertemu. Secara sengaja aku tidak membawanya kesana karena kondisinya yang belum pulih dari demamnya. Namun karena nenek memintanya, aku tidak menolak untuk memenuhi keinginan nenek bertemu dengan buyutnya. Kuputuskan untuk menelfon adikku di rumah untuk memandikan anakku dan membawanya ke rumah nenek, sementara aku menunggu disana. Pertemuan itu sungguh mengharukan. Seperti kebiasaan/tradisi orang bali kebanyakan, pertemuan itu tidak dapat langsung bertemu atau tersentuh, ada tradisi “meperas” (permohonan) berupa memberikan sangu dalam bentuk uang kepada  buyutnya, anakku. Dalam bahasa orang bali, buyut disebut dengan Kumpi. Anakku dengan semangat memanggil Kumpinya dan kemudian malu2. Aku bersyukur krn Bhadrika masih mau berfoto dengan buyutnya. Dan ini adalah anugrah istimewa.
Setelah menghabiskan waktu bermain bersama anakku dan nenekku, aku kembali pulang utk mempersiapkan diri mengikuti upacara “agnihotra” yang memang disiapkan untuk kami. Aku mengikutinya dengan semangat. Aku juga tdk mengira jika anakkupun demikian semangat, mempersembahkan beberapa butir beras kuning ataupun biji2an lain ke dalam api pemujaan. Sungguh acara yang hikmat. hari mulai larut dan waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, aku sangat kelelahan karena aktifitasku sepanjang hari. Aku tertidur tanpa Bhadrika. Ia asik bermain bersama tantenya.
Pada pagii harinya, aku bangun lebih awal, aku segera bergegas untuk membersihkan diri dan kemudian pergi puja. Kesempatan seperti ini mungkin sangat jarang kunikmati sehingga aku tidak menyia-nyiakan sedikitpun waktu itu. Puja pagii dan kemudian Yoga memang adalah aktifitas rutinku dirumah, namun terasa sangat berbeda dengan di rumah masa kecilku itu. Sesungguhnya semangatku itu diinspirasi oleh ayahku. Secara diam2 aku memperhatikan sikap dan caranya bekerja. Ia sungguh sangat efektif. Ia adalah inspirasiku untuk menjadi efektif. Ia bangun lebih pagii dariku, aku melihatnya sudah selesai puja dan sedang berlatih Yoga. Dalam bekerja, ayahku tidak pernah mengulur waktu, ia terfokus dan ia adalah contoh orang efektif bagiku. Terimakasih telah memberi contoh ayah. Love You so Much.
Aku juga sangat bersyukur terlahir di keluarga ini, ayah dan ibuku adalah inspirasi spiritualku. Ayahku memang seorang “pemangku” atau pendeta tahap awal. Sehingga aku dapat melihat bagaimana ia bersikap dan bekerja. Itulah ayahku yang selalu tampak awet muda meskipun usianya lebih dari setengah abad.
Kembali pada aktifitasku. Hari itu adalah hari terakhir aku disana, perasaanku bercampur aduk. Maklumlah aku jarang sekali bisa pulang. Terhitung sejak aku pulang terakhir, sudah 8 bulan aku baru pulang lagi. Setelah latihan Yoga, aku sarapan dengan anak dan suamiku. Lalu segera aku dan anakku mandi lalu mempersiapkan diri untuk sembahyang di Pura Jagatnatha. Pura itu terletak di puncak Gunung Banteng. ku akhiri cerita perjalananku dengan pemujaan di Pura itu. Dan bersiap berangkat kembali ke Bontang…
Inilah catatan perjalananku.
Terimakasih atas segala Berkah Tuhan Yang Maha Pemberi, Engkau Memberiku orang tua yang sempurna bagiku.
Salam Rahayu. Have a nice Thursday…

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis