Seorang Yogī bagaikan Pelita yang Tidak “Berkedip”

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yathā dīpo nivāta-stho nengate sopamā smrtā

yogino yata-cittasya yuñjato yogam ātmanah

Bhagavad Gītā, 6.19

“Seperti pelita yang di letakkkan di suatu tempat Tanpa angin – tidak berkedip; pun demikian dengan diri seorang Yogī yang sudah terkendali berkat Meditasi.”

Kita mesti Selalu ingat bahwa “manah” dalam bahasa Sansekerta merujuk pada segala sesuatu yang diekspresikan oleh otak manusia. Sehingga terjemahan Umum mind, dalam pengertian “pikiran” saja, bukanlah terjemahan yang tepat. Tepatnya adalah “gugusan pikiran dan perasaan” atau “lapisan kesadaran mental dan emosional”.

Namun dalam ayat ini, istilah yang digunakan – yang disebut tidak “berkedip” adalah “citta” – biasa di terjemahkan sebagai subconscious atau unconscious mind – pikiran bawah Sadar.

“CITTA” – seperti yang telah kita bahas secara panjang lebar dalam “Neo Spiritual Hypnotherapy” (diterbitkan oleh Gramedia) – Bukan subconscious atau unconscious mind. Gugusan pikiran serta perasaan tidak bisa dibagi dalam kotak-kotak terpisah; Kesadaran atau Sadar, belum Sadar, tampak Sadar. Pembagian itu hanyalah asumsi kita.

Citta adalah kesadaran yang lebih dalam – ketika gugusan pikiran serta perasaan atau manah tertembus, maka Kita mengakses citta. Citta adalah benih-benih pikiran dan perasaan – manah adalah kristalisasi citta. Dalam ayat ini di jelaskan bahwa “citta” seorang Yogī tidak pernah “berkedip” – tidak pernah terganggu, sehingga manah atau gugusan pikiran serta perasaan (mind) yang Ada di permukaan pun tidak terganggu.

WALAU INI PENTING, MANAH BISA “TAMPAK” SIBUK… misalnya, ketika menghadapi suatu tantangan berat, mau-Tak-mau manah atau gugusan pikiran serta perasaan mesti secara aktif memikirkan cara untuk menghadapi tantangan tersebut. Manah sedang aktif-aktifnya. Namun, ketenangan “batin” kita atau citta – (untuk mempermudah pemahaman kita dan sebelum memperoleh istilah yang lebih tepat lagi, untuk sementara Waktu kita menerjemahkan citta sebagai batin) – Tidak terganggu!

Jadi, sekali lagi…

MANAH AKTIF – CITTA ATAU BATIN TETAP TENANG. Krsna adalah sosok yang berada dalam keadaan ini. Ia berada di tengah medan perang. Bukan angin biasa lagi. Sesungguhnya Ia sedang berada di tengah angin ribut. Arjuna pun Sama. Tapi Krsna tidak terganggu, sedang kan Arjuna terganggu.

Risiko Arjuna adalah “kalah” dan/atau mati, gugur di medan perang. Risiko Krsna melebihi Risiko Arjuna. Bukan saja risiko mati, gugur di medan perang. Jika pun Ia Selamat, Ia akan menghadapi kubu Kaurawa, yang tetap berkuasa di Anak benua Hindia, tempat kerajaannya – Dvārakā atau Dvāravatī – adalah salah satu negara-Bagian. Bayangkan, Krsna yang berpihak pada Pāndava itu akan diperlakukan seperti Apa? Yang jelas, Ia akan dianggap tidak setia, pembangkang, pengkhianat…

Dari sudut pandang manusia, risiko Krsna tidak kurang dari risiko Arjuna. Tapi keadaan batin mereka berbeda! Krsna adalah seorang Yogī, Yogīrāja – Raja Para Yogī. Arjuna masih belum.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 14/01/2018 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 261-262

Setelah Mind Terkendali, ber-Yoga menjadi Mudah

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yadā viniyatam cittam ātmany evāvatisthate

nihsprhah sarva-kamebhyo yukta ity ucyate tadā

Bhagavad Gītā, 6.18

“Ketika gugusan pikiran dan perasaan (mind) telah terkendali atas kemauan diri (disciplined), terpusatkan atau diarahkan sepenuhnya pada diri sendiri, Aku Yang Sejati, atau Jiwa – maka seorang pelaku Yoga terbebaskan dari segala keinginan atau nafsu rendahan.”

Persis seperti orang yang sudah terbiasa makan makanan sehat, di tempat yang higienis – tidak akan mencari makanan yang tidak sehat di pinggir jalan. Ia telah memahami arti kesehatan. Maka Ia akan mengabaikan godaan-godaan dari luar untuk mencoba jajanan yang tidak higienis. Ia tidak tergoda.

KONDISI INI TERJADI SENDIRI setelah kita memahami betul arti Yoga; ketika kita melakoni Yoga sebagai pola hidup; ketika kesadaran kita terpusatkan pada diri, dalam pengertian kita mengurusi diri sebelum berpretensi, atau berpura-pura seolah bisa melayani orang lain. Saat itu, pengendalian diri pun menjadi mudah.

Saat ini, kita belum mengurusi diri, belum mengendalikan diri, pun tidak melayani orang lain, tapi sibuk “mengurusi mereka”. Ini Bukan Yoga, walau kita membuang waktu berjam – jam di studio-studio mewah untuk berlatih, apa yang di sebut “Yoga” – sesungguhnya kita belum Apa-Apa, setidaknya kita belum ber-Yoga!

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 12/01/2018-MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 260-261

Yoga yang Tidak DiPaksakan dan Dilakoni Sebagai Gaya Hidup

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yuktāhāra-vihārasya yukta-cestasya karmasu

yukta-svapnāvabodhasya yogo bhavati duhkha-hā

Bhagavad Gītā, 6.17

“Yoga, yang dapat mengakhiri Segala duka, hanyalah tercapai oleh seseorang yang teratur hidupnya – teratur pola makannya; teratur pekerjaannya; dan teratur Waktu jaga serta istirahatnya”.

Lagi-lagi Krsna mengingatkan bahwa yukta atau “disiplin-diri” adalah – upaya atas kemauan, kehendak diri. Segala peraturan diri yang disebutnya adalah atas upaya sendiri Tanpa Ada paksaan dari siapa pun.

KITA MENCARI SEORANG PEMANDU. Bergabung dengan salah satu padepokan – kemudian memaksa diri untuk mengikuti segala peraturan. Percayalah kita tidak akan bertahan lama. Kemudian, ketika meninggalkan padepokan dan pemandu – semata untuk menutupi rasa malu kita pun mencari-cari kesalahan sang pemandu; peraturan di padepokan; dan kelemahan-kelemahan para santri, teman seperguruan – semuanya mulai kita persoalkan. Kita membutuhkan alasan untuk menutupi kelemahan diri. Padahal, semua itu tidak perlu terjadi, tidak perlu kita lakukan, Jika kita “memahami betul” kebutuhan-diri. Jika kita betul-betul “membutuhkan” laku spiritual untuk pengembangan diri, maka kita akan melakukannya dengan suka cita, dengan senang hati, Tanpa paksaan.

KITA SERING BERTEMU DENGAN PARA PETAPA SELIBAT – Mereka begitu murung, wajah mereka keras. Karena mereka memaksa diri untuk menjadi selibat.

Sebaliknya, kita pun pasti pernah ketemu dengan beberapa petapa, Samnyāsī, monk, bhiksu yang begitu girang, ceria. Di usia 70an Tahun pun, mereka masih seperti seorang remaja. Bagi mereka laku spiritual, janji selibat, disiplin-diri – semuanya adalah atas kesadaran-diri, Bukan Karena paksaan.

Aturlah hidup anda, karena pengaturan itulah hidup – pengaturan dalam pengertian moderasi – Bukan paksaan, Bukan ekstrem-ekstreman. Aturlah pola Makan, pola Kerja, pola tidur anda sedemikian rupa sehingga tidak menjadi beban.

SESEORANG YANG HIDUPNYA TIDAK TERATUR – seorang tahanan yang sudah terbiasa bangun setelah jam 9 pagi disuruh bangun jam 7.30 untuk mengikuti upacara bendera. Ia berontak, “ini akan merusak ritme biologis saya. Saya tidak pernah bangun sebelum jam 9 pagi.” Maka, Ada yang perlu mengingatkan dia, “Bung, kita di penjara – dan di sini Ada peraturan-peraturan yang mesti diikuti. Ini Bukan rumahmu.”

Terikat dengan pola tidur yang Salah, kemudian menyebutnya “ritme biologis badan” adalah Sama-Sama menyengsarakan, sebagaimana bangun pagi yang dipaksakan.

KRSNA MEMBERI JAMINAN, sebuah kepastian, bahwasannya Yoga dapat mengakhiri Segala duka, segala penderitaan, kekhawatiran, kegelisahan – semuanya – tetapi Yoga yang seperti Apa? Yoga yang,

PERTAMA: TIDAK DIPAKSAKAN.

KEDUA: DILAKONI SEBAGAI GAYA HIDUP – Bukan Sebagai olah raga yang saat ini banyak di lakukan di kota-Kota besar, di studio-studio, bahkan di pusat-pusat olahraga di tengah mall, dimana asap rokok dan aroma masakan dari food court adalah pengganti Dupa untuk Aromatherapy yang dapat menenangkan syaraf-syaraf otak. Apa bisa?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 11/01/2018-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 259-260

Be Moderate, Be Natural – itulah Yoga.

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

nāty-aśnatas’tu yogo’sti na caikāntam anaśnatah

na cāti-Svapna-śīlasya jāgrato naiva cārjuna

Bhagavad Gītā, 6.16

“Arjuna, Yoga bukanlah untuk mereka yang Makan secara berlebihan, dan Bukan juga bagi mereka yang memaksa diri untuk berpuasa; Bukan untuk mereka yang tidur terlalu lama; dan, Bukan pula mereka yang memaksa diri untuk tetap berada dalam keadaan jaga.”

Intinya adalah moderasi. Siddhārtha yang menjadi kering, kurus, karena memaksa diri untuk berpuasa – diingatkan oleh keberadaan bahwa alat musik sitār – semacam gitar – hanyalah mengeluarkan suara yang diinginkan, Jika tali senarnya tidak terlalu ketat, dan tidak terlalu longgar.

DISIPLIN DALAM YOGA BUKANLAH UNTUK DIPAKSAKAN. Bahkan, sesuatu yang dipaksakan menjadi peraturan, hukum, Bukan disiplin lagi. Dalam pengertian Yoga, disiplin adalah bersifat swa-disiplin, self-discipline, mendisiplinkan diri.

Ketika kita memaksa diri – mengikuti tradisi, hukum adat, kepercayaan turun-temurun – untuk berpuasa atau melakukan ritus lainnya, Maka pikiran kita bukannya terkendali, malah menjadi liar. Padahal, tujuan disiplin-diri adalah pengendalian pikiran.

MEMAKSA DIRI UNTUK MELAKUKAN SESUATU membuat gugusan pikiran dan Perasaan- mind – memberontak. Orang yang memaksa diri untuk berpuasa, walau tidak diakuinya, hanyalah memikirkan Makan sepanjang hari. Orang yang dipaksa melakukan Japa, hanyalah jari-jarinya yang sibuk dengan biji Japamala, ganitri – hatinya entah dimana!

Disuruh, dipaksa, atau memaksa diri begadang dan melakukan latihan tertentu, tidak membantu pula. Apa pun yang kita lakukan, mestilah atas kemauan sendiri, atas keinginan diri, atas kehendak diri. Bukan Karena disuruh, dipaksa. Puasa, Japa, semuanya berguna dan bermanfaat, asal kita melakukannya atas kesadaran-diri, Bukan Sebagai kewajiban yang dipaksakan.

KITA MESTI MENCINTAI APA YANG KITA LAKUKAN. Landasan bagi Yoga, bagi laku atau pelatihan Yoga pun persis sama. Kita mesti mencintainya. Dan untuk itu, jagalah moderasi. Jangan ekstrem-ekstreman.

Hola mengikuti saran seorang motivator dan memaksa diri untuk mengucapkan “I Love You” kepada istrinya – secara teratur 3 kali sehari. Persis seperti Makan obat. Pasalnya, Ia ingin mempertahankan perkawinannya yang sudah mulai retak. Setelah beberapa hari demikian, tante Holi, istri Hola, mulai curiga, “Ada apa dengan suamiku? Dulu tidak seperti itu!”

Maka Ia pun menegurnya, “Hola kau sinting, I Love You, I Love You – tiga kali sehari – kau pikir kau dapat meracuniku dengan pembasmi virus perceraian?”

Intinya,

BE NATURAL! Jangan memaksa diri untuk melakukan sesuatu. Jangan mempertahankan suatu keadaan, Jika perubahan sudah menjadi takdir!

Be moderate, be natural – itulah Yoga.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 10/01/2018-MA

ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 258-259

Melakoni Meditasi untuk mencapai Nirvāna

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

praśāntātmā vigata-bhīr brahmacāri-vrate sthitah

manah samyamya mac-citto yukta āsīta mat-parah

Bhagavad Gīta, 6.14

“Demikian, dengan tekad yang bulat untuk mempertahankan kesucian diri atau brahmacārya serta membuang jauh rasa takut; dengan pikiran terkendali dan terpusatkan pada-Ku, hendaknya seorang Yogī duduk Tenang, larut dalam kesadaran-Ku.”

Menjadi seorang brahmacāri bukanlah berarti “menghindari seks” semata, tetapi tidak tergoda oleh hawa-nafsu, oleh pemicu-pemicu di luar-diri.

BRAHMACĀRYA ADALAH PENGUNGKAPAN KESUCIAN DIRI. Mereka yang Selalu bertahan pada definisi brahmacāri sebagai orang yang tidak melakukan kegiatan seksual – perlu diingatkan bahwa Arjuna sudah beristri, lalu bagaimana dengan Krsna sendiri? Krsna pun Sama. Apakah mereka tidak boleh melakukan Meditasi?

Untuk Apa Krsna mengajarkan, Jika Meditasi memang Bukan untuk Arjuna yang sudah berkeluarga? Bagaimana pula Krsna bisa mengajarkan sesuatu yang tidak dipraktekkannya sendiri?

Banyak kisah lucu dari mereka yang terbiasa menggunakan berbagai dalih untuk “membuktikan” bila:

MEDITASI BUKANLAH UNTUK MEREKA – “Brahmacārya adalah masa bujang, Jadi Meditasi cocok untuk masa itu. Kalau sudah berkeluarga sudah tidak cocok lagi.”

Ada kubu lain lagi – kubu para bujang, “aku tidak boleh Meditasi, Karena tidak mampu mengendalikan nafsu seks. Aku belum brahmacārī.”

KALAU MEMANG TIDAK MAU MEDITASI, YA SUDAH. Krsna tidak menyumpahi kita. Kita sendiri bertanggungjawab sepenuhnya atas setiap keputusan dan perbuatan kita. Tidak perlu mencari pembenaran. Make it simple. “Aku tidak atau belum siap melakoni Meditasi”. Titik.

Silahkan menjalani hidup Tanpa kewaspadaan, tanpa kejernihan pandangan serta pikiran – silahkan tersandung, Baru ingat Meditasi! Tidak Ada salahnya juga, Jika kita memang ingin menjalani duka-derita dunia – 3D – Baru melakukan Meditasi. Kita boleh pilih sendiri – hidup dalam kebingungan seperti Arjuna “saat ini” – atau hidup berkesadaran seperti Arjuna “sesaat lagi”?

Kita lanjutkan pada sloka berikutnya:

yuñjann evam sadātmānam yogī niyata-mānasah

śāntim nirvāna-paramām mat-samsthām adhigacchati

Bhagavad Gītā, 6.15

“Demikian, dengan seluruh gugusan pikiran serta perasaannya terpusatkan pada-Ku, seorang Yogī yang telah berhasil mengendalikan pikirannya, mencapai kedamaian sejati – Nirvāna tertinggi – yang bersumber dari-Ku juga”.

Nirvāna adalah suatu keadaan pikiran yang sudah tidak liar lagi, perasaan atau emosi pun tidak berjungkat-jungkit lagi. Nirvāna adalah “pemadaman api pikiran serta perasaan”. Tiada lagi gejolak di dalam diri.

NIRVĀNA ADALAH KEBEBASAN MUTLAK – MOKSA. Nirvāna adalah kedamaian Sejati yang merupakan “rasa terdalam” – Bukan rasa “emosi”. Dan, rasa terdalam itu bersumber Dari Ia Hyang adalah Wujud Kebahagiaan Sejati – Sang Jiwa Agung.

“Pemusatan pikiran pada-Ku” adalah pemusatan diri pada diri – pada Sumber Kebahagiaan Sejati yang Ada di dalam diri. Kedamaian Sejati “Nirvāna” pun bukanlah suatu yang asing dan Ada di lapisan langit tertinggi.

NIRVĀNA ADALAH KEADAAN ALAMI “SETIAP DIRI” – keadaan Alami anda dan saya, keadaan tanpa keterikatan, tidak Ada belenggu, tidak Ada perbudakan. Nirvāna adalah kebebasan Jiwa. Sementara itu, dunia luar adalah kebalikannya….

DUNIA LUAR ADALAH SAMSĀRA – Alam pengulangan yang menyengsarakan. Betapa bodohnya kita yang terjebak dalam roda pengulangan samsāra! Sudah tergilas sekali di bawah rodanya, tetap tidak sadar. Tetap tidak menyingkir, dan menghindari penggilasan diri di bawah rodanya terus- menerus – inilah Samsāra.

Inilah pemusatan pada dunia: “pasanganku dulu kurang ajar, maka kuceraikan saja; pasanganku Sekarang betul-betul hebat!” Tidak lama kemudian, Tante Shakila yang menyatakan demikian kita jumpai di Rumah Sakit Jiwa. Kenapa bisa? Ya, bisa, so pasti jo! Ternyata pasangan baru pun “hanya bertahan Baru” selama beberapa Minggu. Baru, sebaru apa pun, bisa menjadi lama dalam sekejap. Ya Hola, ya Bola – Sama saja. Pengulangan pengalaman sebelumnya! Tante Shakila tidak tahan lagi, Maka Jadi gila!

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 08/01/2017

ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 256-258

Duduk dalam postur tertentu untuk Memusatkan Kesadaran pada “Satu Titik”

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

samam kāya-śiro-grīvam dhārayann acalam sthirah

sampreksya nāsikāgram svam diśaś cānavalokayan

Bhagavad Gītā, 6.13

“Duduk Tenang Tanpa gerakan, dengan menpertahankan badan, kepala, dan Leher tegak, lurus; dengan Kesadaran sepenuhnya terpusatkan pada ujung hidung, Tanpa memandang ke arah lain.”

Tidak ada dua definisi tentang “duduk tenang, tegak, lurus” – namun, dalam hal “pemusatan Kesadaran pada ujung hidung” – Ada dua definisi:

Definisi pertama: adalah memusatkan kesadaran pada ujung hidung diantara lubang hidung – Bagian bawah – sehingga ketika kita melakukan hal itu, mata kita akan tampak jereng!

Definisi kedua adalah memusatkan kesadaran pada ujung atas dari hidung – yakni antara kedua alis mata. Jika melakukan hal itu dengan mata terbuka, maka bola mata kita hampir tidak terlihat lagi. Hanya Bagian Putih yang terlihat.

Masih ada kemungkinan lain lagi yaitu, seperti dalam kemungkinan kedua – memusatkan kesadaran pada ujung atas – antara kedua alis mata – namun dengan mata tertutup – sehingga tidak menyeramkan seperti Jika dilakukan dengan mata terbuka.

Saya sudah membaca sekian banyak literatur, masing-masing “memperkarakan” soal mata dan ujung hidung – hingga ayat ini terlupakan, yaitu:

Pemusatan kesadaran – silahkan memilih mana yang lebih cocok bagi Anda – yang penting kesadaran kita “terpusatkan pada suatu titik”.

kita bisa menggunakan gambar – entah gambar titik, lukisan atau foto Sadguru kita. bisa juga menggunakan foto atau lukisan apa saja yang kita sukai – silahkan memusatkan kesadaran pada “suatu titik” itu. Silahkan menerjemahkan “titik” sesuai dengan kepercayaan, keyakinan kita masing-masing

bagi sebagian orang – bahkan bagi mayoritas – barangkali lebih mudah memusatkan kesadaran lewat Japa, atau pengulangan Mantra atau sebutan bagi Hyang Maha Agung. jika itu menjadi pilihan, maka silahkan juga. tidak menjadi soal.

kembali pada………

DUDUK TEGAK LURUS…. ini penting untuk mempertahankan kelancaran aliran energi dalam tubuh. tulang punggung adalah pilar utama tubuh manusia. sesungguhnya bukan bagi tubuh saja – tapi bagi semangat hidup. silahkan mencobanya, dalam waktu 21 hari saja, anda akan menjadi lebih percaya diri.

tentang cara duduk – mereka yang sudah terbiasa melakukan āsana-āsana Yoga, bisa memilih antara duduk bersila – dalam segala variannya, Padmāsana, ardha-Padmāsana, Sukhāsana, atau duduk di atas kedua tumit – Vajrāsana. Bahkan, jika anda tidak terbiasa atau tidak bisa duduk bersila – silahkan duduk di atas kursi. carilah kursi yang agak tegak sandarannya, seperti kursi meja makan – tidak menjadi soal juga. Perhatikan esensi dari ayat ini, daging dari buah pemberian Krsna ini – buanglah kulitnya.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Samarinda, 06/01/2018-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 256

Ātma Viśuddhaye: Pembersihan Diri dengan Memusatkan Kesadaran pada “Diri”

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā,

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

tatraikāgram manah krtvā yata-cittendriya-kriyah

upaviśyāsane yuñjyād yogam ātma-viśuddhaye

Bhagavad Gītā, 6.12

“Demikian, duduk di tempat itu, dengan memusatkan seluruh Kesadaran pada suatu titik (= diri sendiri); mengendalikan gugusan pikiran serta Perasaan dan seluruh kegiatan indra, hendaknya seseorang mengupayakan Pembersihan (cleansing) diri lewat Yoga”.

Ātma-viśuddhaye, Cleansing atau Pembersihan diri dari segala macam kotoran- itulah inti dari seluruh praktek spiritual. Yoga tidak menambahkan sesuatu pada diri kita – sebagaimana proses Pembersihan emas yang Baru dikeluarkan dari tambang tidak menambahkan sesuatu pada Logam Mulia tersebut.

Proses Pembersihan hanyalah membersihkan emas dari segala macam kotoran yang melekat padanya. Diri Yang di bersihkan pun demikian.

Hasilnya adalah kilauan yang sesungguhnya sudah di milikinya pula. Kilauan itu, Baru muncul Sekarang Karena Ia sudah dibersihkan dari kotoran yang melekat padanya. Kotoran yang dimaksud ialah pikiran, Perasaan, keinginan, khayalan, obsesi, dan segala sesuatu yang bersifat liar dan membebani Jiwa.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Samarinda, 05/01/2018-MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 254

Pentingnya “Alas Duduk” dan Ruang Khusus Sebagai tempat Ber-Sādhana

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

śucau deśe pratisthāpya sthiram āsanam ātmanah

nāty-ucchritam nāti-nīcam cailājina-kuśottaram

Bhagavad Gītā, 6.11

“Duduk tegak di tempat yang bersih-suci, dengan menggunakan alas rumput kuśa atau alang-alang, kulit rusa, dan kain (ditumpuk yang satu di atas yang lain; alang-alang, kulit rusa dan kain) – tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.”

Disini Krsna menjelaskan teknik. Menerjemahkan ayat ini secara filosofis malah akan mengaburkan maknanya.

Alang-alang bekerja Sebagai Cushion, supaya agak empuk dan nyaman. Jika Anda ingin menerjemahkan dalam bahasa modern, atau mengaplikasikannya dalam “masa kini”, Maka alas berlapis tiga ini bisa diganti dengan cushion yang terbuat dari bahan alami seperti sabut kelapa atau kapas (non-sintetis). Dan, Sarung Cushion yang terbuat dari katun, wol, Sutra, atau serat alami lainnya.

Cushion yang tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu rendah- maksudnya bahwa cushion ini mesti nyaman, comfortable untuk digunakan.

Jangan cepat-cepat memutuskan untuk berburu rusa lalu mengulitinya untuk dijadikan karpet, tidak perlu.

Duduk tegak – ini penting. Cushion pun dibutuhkan untuk memfasilitasi duduk tegak. Dan, di tempat yang di sucikan. Hal ini untuk menjaga energi di tempat, di dalam ruangan tersebut. Sebab itu, selama memungkinkan, adalah sangat penting bahwa di setiap Rumah memiliki kamar Khusus untuk Meditasi, sembahyang, berdoa, dan laku spiritual lainnya.

Namun, jika tidak memungkinkan – maka, Salah satu sudut di ruang tidur pun bisa di “Suci”-kan, dalam pengertian digunakan secara eksklusif untuk Meditasi atau latihan spiritual lainnya. Bukan untuk kegiatan-kegiatan lain.

Setiap kita melakoni praktek-praktek yang dapat mengantar kita ke alam Meditasi – energi tempat itu akan kembali pada pola asalnya. Energi di tempat itu menjadi lembut, namun tetap dinamis. Kemudian energi yang sudah berubah pola itu tidak hanya menunjang laku spiritual, tetapi juga keseharian hidup.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 04/01/2018-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 253-254

Kembali Ke Pusat “Diri”: Menggunakan segala sesuatu seperlunya Tanpa Rasa Kepemilikan

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yogī yuñjīta satatam ātmānam rahasi sthitah

ekākī yata-cittātmā nirāśīr aparigrahah

Bhagavad Gītā, 6.10

“Hendaknya seorang Yogī senantiasa memusatkan kesadarannya pada “diri” sendiri; menguasai pikiran serta perasaannya; bebas dari segala keinginan, tidak mengharapkan sesuatu apa pun; bebas pula dari (rasa) kepemilikan.”

Ayat ini termasuk Salah satu yang sering disalahterjemahkan. “satatam ātmānam rahasi sthitah ekākī” sering diterjemahkan Sebagai “hidup menyendiri di tempat yang sunyi, sepi.”

Arti sesungguhnya adalah:

Berfokus pada… Satatam = Selalu; Ātmānam = Sang Diri (Jiwa Individu atau Jivātmā); Rahasi = Rahasia; Stitah = Berada; Ekākī = Sendiri.

Tidak Ada anjuran untuk Meninggalkan keramaian dunia dan masuk hutan, menyepi disana. Walau itu pun merupakan suatu pilihan, dan tidak Ada yang Salah pula dengan pilihan itu.

Tempat rahasia itu adalah Hati-Psikis – Pusat Kesadaran di antara kedua puting – tempat Sang Jiwa bersemayam. Itulah Pusat Jiwa, Hati-Nurani, Sanubari.

Ayat ini mengajak kita untuk:

“Kembali Ke Pusat Diri” – mengalihkan fokus Dari luar ke dalam diri. Ayat ini menjelaskan cara untuk melakoni Meditasi 24/7 – 24 jam sehari dan 7 hari setiap Minggu – berarti, setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Kemudian nirāśīr dan aparigrahah – biasa di terjemahkan “Tanpa keinginan” dan “bebas dari keserakahan” atau “Tanpa kepemilikan”. Nirāśīr, memang sulit diterjemahkan. Ini menyangkut sikap mental. Memang terjemahan terdekatnya adalah “Tanpa keinginan dan/atau harapan”, walau Hal itu tidak sepenuhnya menjelaskan makna Dari kata nirāśīr.

Nirāśīr berarti, “Tanpa adanya percikan-percikan yang dapat menimbulkan keinginan”. Ketika anda bertemu dengan seorang pria tampan atau Wanita cantik – Maka “keinginan”, gairah, atau nafsu tidak serta-merta muncul seketika begitu saja. Awalnya adalah percikan-percikan Perasaan nano-nano yang muncul. Ada “dag-dig-dug” yang bahkan tidak dapat dibahasakan; Apa makna “dag-dig-dug”?

Sementara itu,

Aparigrahah berarti “tidak mendambakan sesuatu yang Bukan menjadi miliknya”. Lalu, apa yang menjadi milik “Diri” kita yang sejati?

Ego, yang ingin memiliki – sesungguhnya tidak bisa memiliki sesuatu apa pun. Apa saja yang dianggap sebagai miliknya, akan tertinggal semua disini.

Sementara itu, “Diri” yang Sejati Sadar akan kesejatian dirinya, dan kesejatian setiap diri, dan termasuk kesejatian setiap benda. Semua adalah percikan Ilahi yang Sama, maka apa yang mesti dimiliki?

Semuanya tersedia bagi Jiwa untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tidak perlu dimiliki. Jadi dalam konteks ayat ini, terjemahan yang lebih cocok ialah “bebas Sri rasa kepemilikan”.

Rasa kepemilikan membuat kita kecewa dan berduka. Saat mesti meninggalkan semuanya, kita merasa kehilangan apa yang sebelumnya kita Anggap Sebagai milik kita. Supaya tidak kecewa, kita mesti membebaskan diri dari rasa kepemilikan. Manfaatkan dunia, dunia benda, kebendaan – manfaatkan semua Tanpa rasa kepemilikan.

Lagi-lagi – Jika ayat ini mau diterjemahkan sebagai anjuran untuk mencari tempat yang sunyi dan sepi, jauh dari keramaian – silahkan. Namun, tempat rahasia yang dimaksud bisa juga Salah satu kamar di Rumah kita – yang dijadikan Sebagai tempat Meditasi, pemujaan, sembahyang, berdiam diri untuk berbagai sādhanā atau laku spiritual lainnya

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 03/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 252-253

Manusia ber-buddhi: Manusia Yang “Tidak Reaktif”

Marilah kita Berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

suhrn-mitrāry-udāsīnamadhyastha-dvesya-bandhusu

sādhusv api ca pāpesu sama-buddhir viśisyate

Bhagavad Gītā, 6.9

“Seseorang yang memandang Sama kawan dan lawan; Mereka yang berempati padanya, maupun yang bersikap netral (tidak bermitra, tidak pula bermusuhan); berhubungan keluarga maupun tidak; Para bijak dan para pendusta – dialah Manusia Utama yang ber-buddhi, berintelegensia.”

Lahir dengan badan manusia saja tidak serta merta membuat kita menjadi manusiawi.

Manusia ideal atau manusia utama adalah Ia yang bersikap manusiawi. Dan, hanyalah manusia yang memiliki kemampuan untuk bersikap “tidak reaktif”, yang dapat disebut Manusia ber-buddhi, berintelegensia. Anjing disayangi menjadi setia – dipukul akan lari, menggonggong, atau, bahkan menyerang kembali! Adalah manusia yang walau digonggongi, dan dipukul, bisa memilih untuk tidak menyerang kembali. Ia bisa memaafkan. Ia bisa bersikap Sama terhadap kawan dan lawan. Cintanya mengalir bebas bagi semua…

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 01/01/2018-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 251-252

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis